CHAP 2:

PUBLIC SERVICE

DUAAR...

"Apa kau tak bisa masuk lewat pintu? Kau menghancurkan tembok kamarku," kata seorang pemuda yang baru saja selesai mengecat tembok kamarnya.

"Cukup basa-basinya, Gaara. Rycea activate!" pemuda ini mengeluarkan semacam aura berwarna biru di tubuhnya, matanya menatap sinis ke arah targetnya.

"Aku sudah tahu kau akan datang membunuhku. Aric activate!" pemuda yang bernama Gaara ini tak mau kalah. Aura berwarna merah menyelimuti tubuhnya.

Belum sempat Gaara melemparkan fuineath-nya, pemuda dengan surai cokelatnya ini lebih dulu memulai serangannya, dia menggerakan tangannya untuk membentuk fuineath-nya menjadi jarum-jarum kecil, lalu menembakkannya kearah Gaara. "Hahahaha... Die! Die! Die!" pemuda ini terus tertawa disusul oleh serangannya secara terus-menerus.

Bugh...

Gaara akhirnya terjatuh. Gaara merasakan dadanya seperti di tusuk, dia tak sanggup membalas serangan beruntun yang diterimanya, pemuda itu tak membiarkan sedikitpun Gaara untuk menyerang. Fuineath merahnya semakin memudar.

Tak lama kemudian, fuineath dari pemuda itu mengekang tubuh Gaara dengan sangat kuat. "Heh? Hanya itu yang kau bisa? Kau bahkan belum.. eh, tidak melukai tubuhku. Tch, lemah!" pemuda ini kemudian berjalan mendekati Gaara dengan seringainya, lalu meregangkan fuineath yang mengekang tubuh Gaara. "Ah... bagaimana kalau aku-"

"Jangan! Uhuk... kumohon jangan," Gaara tampaknya tahu apa yang akan pemuda ini katakan.

Sementara itu, pemuda ini terus melangkah perlahan mendekati Gaara yang sedang tak berdaya. Gaara hanya mampu mundur sedikit demi sedikit kebelakang, memegangi dadanya yang sudah penuh dengan darah. "Ne, Gaara-kun..," pemuda ini berhenti lalu jongkok dihadapan Gaara. "Kau terlalu lama di Bumi, itu membuatmu lemah, kan? Sebaiknya kau pergi dari dunia ini," pemuda itu lagi-lagi memperlihatkan seringainya. "Kata-kata terakhir?"

Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Gaara, sedangkan tangannya yang mengeluarkan cahaya dari fuineath-nya sudah siap membunuh Gaara kapan saja. Gaara gemetar. Ia akui, fuineath yang ia miliki benar-benar lemah. Semenjak dia tinggal dibumi, ia jarang bahkan tidak pernah lagi melatih fuineath miliknya. Jadi, ia sudah pasti takkan sanggup membunuh pemuda ini.

"Huh... waktu habis!" pemuda itu menusuk kepala Gaara dengan sangat keras. Gaara pasrah. Bahkan, ia pun tak meringis sama sekali. Darah membanjiri kepalanya.

Kemudian, pemuda itu berdiri sembari mengelap tangannya yang di penuhi darah itu. "Hei... kalian berdua!" kata pemuda itu pada dua prajurit yang sedari tadi dibelakangnya. "Taruh kertas itu di sampingnya, jangan lupa mengambil sample darahnya, itu yang penting."

Kedua prajurit itu dengan sigap melakukan apa yang tuannya perintahkan. "Baik, Neji-sama," salah satu prajurit pun meletakkan selembar kertas besar di samping tubuh Gaara yang tengah sekarat. Sedangkan yang lain, berusaha mengambil sample darah dari Gaara yang masih sedikit bisa untuk menarik nafasnya. Sama sekali tak ada penolakan dari pemuda berambut merah ini.

Tak lama kemudian, mereka pun pergi meninggalkan Gaara. Gaara kemudian menatap kertas disampingnya.

'HARUNO SAKURA'

"Gomennasai."

WHEN YOUR LOVE is ALREADY USELESS HERE

By: dayrALD 3

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning: typo(s), OOC, AU, alur membingungkan, cerita jelek atau kurang jelas, membosankan, mainstream, EYD berantakan, etc.

Don't Like Don't Read ^_^

"Tetaplah diam sepanjang perjalanan," ucap sasuke.

"Hufft..." gumamku sambil memutar bola mataku.

Hening. Sasuke benar-benar terdiam sepanjang perjalanan. Aku pun harus terdiam tidak jelas seperti ini. Kecepatan dari motor sasuke yang benar-benar membuatku ingin berteriak. Beberapa kali Sasuke harus belok tiba-tiba, nyawaku mungkin melayang saat itu juga. Tapi, aku harus tetap diam. Sepertinya, orang ini akan lebih menakutkan jika aku mengganggunya.

Ciiittttt...

Sasuke mengerem motornya secara tiba-tiba. "Kyaaaaaaaaaa..." akhirnya aku berteriak, tak peduli Sasuke akan memberikan tatapan mematikannya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi jika aku tak menggenggam erat jaket Sasuke ini. Aku berusaha mengatur nafasku. Oh, jantungku berdegup sangat cepat. "Ada apa, Sasuke?"

"Ssshhh, diam, baka!" Sasuke dengan perlahan turun dari motornya, berjalan dengan sangat hati-hati.

Aku juga ikut turun lalu berdiri di tempat, sambil terus mengumpati si sasuke dalam hati. Aku hanya bisa memperhatikan Sasuke. Aku tidak mengerti apa-apa. Apa yang akan Sasuke lakukan, aku tidak tahu.

"Huh... kali ini banyak," ucap Sasuke tiba-tiba yang membuatku semakin bingung.

"Etto... banyak apa?" Nah, sekarang apa lagi. Aku bahkan tak melihat apapun.

"Kau bisa menggunakan senjata?" Sasuke berbalik melihatku.

Aku tersentak mendengar pertanyaan aneh sasuke (lagi). "A-ano... a-apa maksudmu?"

"Jawab saja!" Sasuke memencet suatu tombol di dua batang besi yang tadi ia keluarkan. Kedua besi itu berubah menjadi pedang yang panjang ketika tombolnya di tekan.

"Eh... Aku hanya bisa menggunakan pistol dan sedikit mahir dalam menggunakan pisau, kalau p-pedang aku tak bisa. Nilai militer dan perang ku cukup rendah di bagian pedang."

"Pisau... pistol," Sasuke mengambil sesuatu dari balik jaketnya. "Tangkap!"

Tiba-tiba sebuah pistol dan pisau melayang di depanku. Aku memandangi kedua benda itu setelah berhasil ku tangkap. Sasuke gila, apa yang ia lakukan? Apa yang harus aku bunuh dengan ini?

"Bantu aku membasmi sedikit hama disini," Sasuke menebas 'sesuatu' yang tak kasat mata dengan pedangnya.

Suara seperti besi jatuh terdengar setelah Sasuke menebas 'sesuatu' itu. Perlahan, 'sesuatu yang tak kasat mata itu terlihat.

"Robot?" Aku sontak kaget, ternyata itu robot. Jadi, aku harus membunuh robot-robot tak terlihat ini? Ok. Eh tapi..

"Ne, Sasuke!" Sasuke berbalik ke arahku. "Kau menyuruhku membunuh mereka. Tapi bagaimana? Aku tak melihat mereka,"

"Oh, hn" dia melemparkan semacam gelang berwarna hitam padaku.

Aku memakainya. Gelang itu menyala "system all green,"

Pelan-pelan, aku dapat melihat robot- robot itu di depanku. Benar, mereka berjumlah sangat banyak. Mereka menyerang kami dengan shootgun di tangan mereka. "Hohoho... aku harus membunuh mereka. Yosh!" aku berlari dan menembakkan pistol kearah mereka. Satu per satu dari robot itupun jatuh.

Dor..

Dor..

Dor..

Satu robot, dua robot, tiga, empat, banyak sekali. Aku sudah membunuh banyak sekali robot disini, tapi mereka terlihat tidak berkurang sama sekali. ". "Ya ampun, aku harus bagaimana?" aku berlari kembali sambil terus menembakkan peluru.

Dor.. dor

"Pistol ku!" pistolku terjatuh, salah satu dari mereka menembaknya. Satu-satunya yang kumiliki sekarang adalah pisau ini. "Yosh!" aku berlari kemudian menyerang mereka dengan pisau kecilku ini.

Tiba-tiba..

"Aarghhh"

Aku berbalik kearah Sasuke. "Sasuke!" aku langsung berlari ke tempat Sasuke. Sasuke terluka. "Sasuke... kau harus duduk disini, lenganmu terluka," Sasuke terus memegangi lengannya. "Kau tak usah melakukan apa-apa, biar aku yang membunuh me-"

"Baka! Mereka terlalu banyak." Sasuke bangkit lalu mengangkat kedua pedangnya.

Buagh...

Sasuke terjatuh. Aku yang mendorongnya. "Baka! Kau terluka," aku tersenyum sinis padanya.

"Tch..." Sasuke mendecih lalu memalingkan wajahnya.

Aku tersenyum sinis lagi lalu berlari menyerang mereka yang jumlahnya entah berapa banyak.

Aku mematahkan lengan salah satu dari robot itu lalu mengambil shootgun-nya. "Uh, shootgun-nya lebih keren dari yang pernah kubuat," mataku memandangi shootgun keren itu, sambil menghindari tembakan dari robot-robot lainnya. "Kita lihat bagaimana cara kerjanya," aku membidik robot-robot itu dengan shootgun ini. Shoot gun ini mengeluarkan cahaya biru. Lalu,

BUARRR!

Meledak. Aku baru pertama kali memegang senjata mengerikan seperti ini. Yah, aku kan pebisnis, jadi yang beginian merupakan pengalaman pertama.

Hampir semua robot itu hancur berkeping-keping di udara. Tapi, tadi ledakan yang robot itu hasilkan tidak besar sepertiku. Hufft, mungkin aku memencetnya terlalu keras.

Sasuke memperhatikanku terus. Heh... mungkin ia tak percaya melihat kekuatan terbesar dari shootgun aneh ini. "Sasuke... aku bisa, kan? Dakara, daijoubu ne,"

"Haruno-san dibelakangmu!" teriak Sasuke.

Aku berbalik kebelakang. Belum sempat aku menembaknya, robot itu telah menembak tanganku. Gelangnya Sasuke pun ikut rusak.

"Aarrgghh!" Aku jatuh terduduk sambil menggenggam pergelangan tanganku, darahnya terlalu banyak. "Aku tak bisa melihat apa-apa, hehehe," aku nyengir paksa sambil menggaruk kepalaku. Sasuke menepuk jidatnya lalu mendengus pelan.

"Kalau begitu, kau akan mati. Matilah!" ucap Sasuke yang sukses membuatku makin kesal dengan dirinya. Sasuke kemudian berdiri dan mundur selangkah dengan senyum sinisnya. Apa benar dia akan membiarkan ku disini sendiri?

BAAMMMM...

Ledakan lagi. Kali ini bukan aku yang meledakkannya. Seluruh warga tokyo panik dan berlari menyelamatkan diri. Ledakan itu membuat semua robot mati. Tapi, aku tak terluka sama sekali, hebat!

Sebuah helikopter dengan tulisan 'Public Service' terbang dan diam diatas kepalaku, Sasuke sepertinya sudah tahu helikopter ini akan datang. Lalu, seorang wanita melompat turun dan berdiri di depanku lalu mengulurkan tangannya.

"Berdirilah," ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.

Aku menggenggam tangan perempuan itu lalu berdiri. "Kawaii," ucapku dengan terus mempehatikan wajah perempuan itu.

"Eh?" warna merah padam menghiasi pipi perempuan ini. Uh, kawaii! "Sepertinya, kau terluka, ikut aku," kata perempuan ini sambil menarik tanganku, lalu mengikatkan sebuah tali di pinggangku. Tali tersebut kemudian menarikku ke atas menuju helikopter itu. Perempuan itu menggantungkan dirinya dengan memegang ujung tali itu.

"Aku bagaimana? Aku juga terluka!" kata seseorang dari bawah.

"Oh, gomen Sasuke.." perempuan itu melihat kebawah sambil tersenyum jahil. "Gomen! Aku melupakanmu. Pergilah sendiri. Hehe,"

Sasuke mendecih kembali lalu bangkit menaiki motornya. Motor itupun membawa Sasuke dengan kecepatan turbonya, lagi.

Akhirnya, kami berdua sampai di helikopter itu. Tidak ada orang sama sekali. Memang helikopter ini hanya bisa memuat dua orang saja. Kasihan sekali Sasuke. Perempuan ini pun membalut pergelangan tanganku dengan perban yang ada di sebuah kotak P3K. Mungkin sebenarnya perempuan ini ingin menjemput Sasuke.

"A-ano.. tadi itu yang meledak apa? aku memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan perempuan ini.

"Oh... itu," perempuan itu berdiri dan duduk di bagian kemudi. Helikopter ini melaju dengan kecepatan normal. "Itu ciptaan Shikamaru. Belum ada namanya. Berfungsi untuk menonaktifkan mekanik-mekanik seperti robot tadi."

"Oh... pantas saja aku tak terluka sedikit pun," Aku pun duduk di jok samping jok bagian kemudi.

"Ehm, namaku Shion, aku adalah anggota Public service sama seperti Sasuke. Tapi aku bagian teknisi medis, aku jarang turun langsung ke lapangan," perempuan bernama Shion ini tersenyum, ia tetap fokus mengemudikan helikopter ini. "Tapi sekarang kepala dari Public Service menyuruhku untuk menolong Sasuke. Jadi, ini pengalaman pertama aku turun ke lapangan,"

Aku mengangguk, mengerti. Aku mengira Public Service itu semuanya ditugaskan menjaga seperti Sasuke. Sekarang aku jadi bingung tujuan utama dari Public Service ini apa.

"Kau pasti ingin tahu, kemana si Sasuke itu pergi, kan?" ucapnya kemudian.

"Iya,"

"Dia akan ke Kantor Pusat dari Public Service. Biasanya dia akan ke lab untuk check up,"

Aku sedikit terkejut mendengar pernyataan dari Shion. Check up?

"Hey.. ayo! Kita harus segera kesana sebelum aku melupakan diriku sendiri,"

Mungkin itu maksud sasuke waktu itu. Sasuke mungkin mengalami amnesia sementara, atau amnesia Minggu-an, atau amnesia akut, atau mungkin Sasuke mengidap penyakit Alzheimer. Oh, tidak!

"Namamu?" Shion berhasil membuyarkan lamunan negatifku tentang Sasuke.

"E-etto... Haruno Sakura. Hehehe," aduh, apa-apaan dengan tawaku itu. Memalukan.

"So desu ka. Kamu korban selanjutnya, kan?" ucapnya sambil tersenyum kecil. Kata-kata Shion ternyata menyakitkan. Biarpun, aku memang akan dibunuh. Tapi, Shion terlalu jujur soal itu.

"Hehehe, iya," kataku sambil tertawa yang sangat, sangat dipaksakan.

"Yoroshiku ne!"

Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

.

.

.

PUBLIC SERVICE CENTRE

"Sakura-san, ayo masuk!"

Shion mengagetkanku. Aku sibuk memandangi tampak luar dari kantor ini. Sangat besar dan menjulang tinggi. Bahkan hotel-hotel milikku tak setinggi ini.

Aku melangkahkan kakiku masuk mengikuti Shion dari belakang. Di dalam semua orang tampaknya memperhatikanku. Aku jadi grogi sendiri dilihati seperti itu. Apa yang aneh denganku sehingga harus dilihati seperti ini. Apalagi aku tidak mengenali siapapun disini, kecuali Shion dan... Sasuke.

"Hahaha! Itu sangat lucu Sasuke!"

"Diamlah,"

Di situlah Sasuke. Dia berdiri di bagian Reception dan sedang berbicara dengan seorang pemuda yang mungkin seumuran dengannya. Pemuda itu mengenakan kemeja putih dan jeans hitam sama seperti yang Sasuke pakai. Ia meletakkan jaket hitamnya di pangkuannya. Ia terlihat sedang meminum jus apel, mungkin.

"Dia kah klienmu Sasuke?" kata pemuda itu sambil menunjuk ke arah ku. Aku kaget dan langsung menghentikan langkahku. Shion pun berbalik dan menarikku menuju ke Ruang Reception itu.

Sesampainya disana, aku langsung mendapatkan hadiah deathglare dari Sasuke. Aku menundukkan kepalaku, dia mungkin marah karena aku meninggalkannya. Tapi itukan bukan salahku, Shion melupakannya dan kapasitas helikopter hanya dua orang, lagipula dia kan punya motor. Lalu, mataku beralih pada pemuda yang didekat sasuke. Sepertinya aku mengenalnya.

Pemuda itu tersenyum padaku. Aku turut membalas senyumannya. "Jadi kau menerima Sasuke, ya?" kata pemuda itu.

Aku ingat sekarang. Dia adalah orang yang datang padaku lebih dulu dari sasuke dengan tujuan yang sama. Dan aku menolaknya. Aku merasa bersalah. Aku takut dia mengira aku pilih-pilih, padahal Sasuke yang bermain curang. Hufft...

"Maaf, waktu itu aku menolak perlindungan dari Anda. Sebenarnya a-"

"Ya, ya... aku sudah mengetahuinya, Sasuke membuatmu menerimanya, kan?" pemuda itu kembali tersenyum padaku. Kalau dilihat, dia itu sangat manis, hehe. "Namaku Sai, silahkan duduk,"

"Oh, iya. A-arigatou," aku segera duduk di ruang tunggu dekat ruang Reception.

"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu. Aku ingin mempersiapkan check up-nya Sasuke, jaa!" Shion pun berlalu dari pandangan kami.

Aku terdiam cukup lama. Tak ada yang kulakukan ditempat ini.

"Uchiha Sasuke, Silahkan," kata Shion yang tiba-tiba saja muncul didekatku.

"Hei... sasuke sepertinya check up mu akan dimulai," kata Sai sambil mendorong Sasuke dengan sikunya.

Sasuke menghela nafas lalu lekas pergi mengikuti Shion didepannya. Kini diruang Reception hanya ada aku dan Sai.

"Ehm, aku ingin tahu, apakah Sasuke mengidap semacam penyakit, seperti Amnesia atau sejenisnya?" tanyaku pada Sai yang tengah asyik dengan jus yang ia minum.

"Sepertinya, tidak ada. Kau pasti ingin bertanya mengapa Sasuke itu pelupa, kan?" katanya dengan meyunggingkan senyum lalu mengaduk-aduk jusnya itu.

Aku mengangguk mantap. Sai pun memutar kursinya berhadapan denganku lalu menumpu tangannya di meja samping kanannya.

"Begini, Sasuke itu robot," kata Sai Sambil meminum Jus yang ada disampingnya.

Sasuke robot. Hanya menutup mulut yang bisa kulakukan saat mendengar penuturan dari Sai. Aku benar-benar tak percaya. Tapi, masuk akal juga, Sasuke terlihat tidak mempunyai emosi.

"Lebih tepatnya, setengah robot. Dia melakukan check up setiap minggu untuk memperbaiki dan mengisi memori Sasuke yang hilang dan yang lain," sambung Sai. Sekarang aku tambah tidak mengerti.

"Ehm, apa yang membuat sasuke seperti itu?"

"Kalau yang itu, lebih baik kau tanya Sasuke," jawab Sai.

Aku menghela nafas sangat panjang. Kemungkinan mendapatkan jawaban dari Sasuke sangat rendah. Mungkin dia akan memberikanku jawaban yang tidak jelas. Pertemuan pertamaku dengannya saja benar-benar tidak jelas.

Tak lama kemudian setelah keheningan antara aku dan Sai, Sasuke pun muncul bersama Shion.

"Untung kamu tidak rusak!" kata Shion disusul oleh tawanya.

"Tch.." Sasuke kemudian duduk disamping kananku. Ternyata benar, Sasuke adalah Robot.

"Maaf, ya aku harus pergi ke Shinjuku. Terjadi pemberontakan disana, jaa!" Sai berlari sambil mengenakan jaket hitamnya.

"Ehm, Shion-san! Sebenarnya Public Service itu apa?" tanyaku kepada Shion yang sedikit lagi meninggalkan kami, aku malas bertanya kepada Sasuke, dia orangnya tidak jelas. Shion pun berbalik lalu berjalan mendekatiku. Dia kemudian duduk disamping kiriku. Menghela nafasnya.

"Yah... Public Service sudah ada sejak perang antar penduduk Bumi dan Venus. Public Service bukan hanya ada di Jepang, seluruh dunia mempunyai Public Service. Sekarang Public Servic hanya dioperasikan untuk menangani kasus seperti pembunuhan berantai saat ini. Nah, aku sendiri sebenarnya berasal dari London yang dipindahtugaskan ke Jepang," jelasnya.

Aku mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari Shion.

.

.

.

...

"Onee-chan!"

Merasa dipanggil, perempuan ini membalikkan badannya ke belakangnya. Yang memanggilnya ternyata seorang anak perempuan yang usianya mungkin sekitar 10 tahun. Anak itu berlari sambil menjinjing gaunnya yang sedikit kepanjangan.

"Ada apa, Hanabi-chan?" kata perempuan ini sambil berlutut menyamakan tingginya dengan anak kecil bernama Hanabi itu.

"Ano... Apa benar Hinata-nee akan pergi ke planet lain?"

"Benar. Kau ingin ikut?" kata Hinata dengan tersenyum, mengelus rambut adiknya itu.

Hanabi mengangguk mantap. Melihat itu, Hinata kembali tersenyum lalu berdiri membelakangi adiknya. "Kalau begitu, berkemaslah. Besok kita berangkat. Jangan menjadi adik yang merepotkan disana." kata Hinata dengan mimik wajah yang sangat serius.

Hanabi kembali mengangguk dan berlari meninggalkan kakaknya. Hinata tersenyum lagi lalu mendesah pelan.

TBC


Thank's for reading!

Review?

.

.

.

Floral white: salam kenal juga! saya usahakan membuat fict ini menjadi lebih baik. Arigatou!