Sex Dreams
Original
By
Lady Ze
.
.
.
It's not my own story, it's just a remake from Fanfictionwith the same tittle
Perubahan menyesuaikan cerita dan tokoh
.
.
.
GS For Uke
.
.
.
HunHan
.
.
.
Aku menghela napas panjang berkali-kali, hari ini hari pertamaku berkerja sebagai sekretaris Tuan Oh, Oh Sehun, namja tampan, tegas, berkuasa yang berusia dua puluh delapan tahun. Namja berumur tiga tahun di atasku yang mampu membuatku bergairah hanya karena mendengar suaranya, memandangnya dari kejauhan, astaga...Oh Sehun, kau telah berkuasa penuh atas diriku, kau harus tahu itu.
Lift berbunyi tepat di lantai tiga puluh, ruangan kerja namja tampan itu. Ketegangan melingkupi diriku, dengan langkah sedikit kaku aku berjalan menyusuri lorong.
"Selamat pagi, Nona Do."
Sekretaris itu mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas ke arahku, matanya berjalan dari sepatu high heels-ku hingga puncak kepalaku. Aku hanya tersenyum kepadanya.
"Selamat pagi, Nona Xi. Penampilan anda lebih baik hari ini." katanya kepadaku, entah itu sebuah sindiran atau pujian, aku tidak peduli. Yang jelas aku harus berterima kasih kepada Baekhyun si cerewet yang menyuruhku memakai dress berwarna pink ini.
"Gomawo, saya anggap itu sebuah pujian untuk saya." kataku kemudian aku berdehem. "Jadi, dimana ruang kerja saya, Nona Do ?"
"Panggil Kyungsoo saja, kita telah menjadi teman kerja disini, bagaimana?"
"Oh, baik, Kyungsoo."
"Duduklah dulu, aku akan menelepon Tuan Oh perihal kedatanganmu." Oh, kini dia menggunakan bahasa non-formal kepadaku, oke, aku mengikutimu, Kyungsoo.
"Ya, Kyungsoo."
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Kyungsoo menutup gagang teleponnya.
"Nah, Luhan, kau disuruh masuk ke dalam."
"Oke, Kyungsoo."
Aku berdiri, merapikan sebentar pakaianku yang terlihat sedikit kusut. Berjalan menuju pintu berwarna hitam, mengetuknya, dan membukanya dengan pelan.
"Permisi, Tuan Oh."
"Silahkan masuk, Luhan." katanya memamerkan senyuman kepadaku. Sial! Menyilaukan!
"Ya." Aku berdiri tepat dihadapannya. Aku berharap wajahku tidak terlihat bodoh saat ini.
"Duduklah, Luhan. Tidak usah terlalu tegang, santai saja." ucapnya kepadaku.
Aku langsung duduk, merapatkan kedua pahaku, dan tanganku berada di atas pahaku. Tuan Oh dengan sebuah berkas yang cukup tebal duduk di depanku. "Ini adalah berkas yang harus kau baca, Luhan. Di dalamnya terdapat beberapa tugas-tugas yang harus kau kerjakan dan sebagainya." katanya sambil mendorong berkas yang ada di atas meja itu ke arahku. Hei! Apa baru saja Oh Sehun berbicara dengan bahasa santai-nya? Dimana kata-kata "saya" dan "anda"?
"Iya, Tuan. Saya akan membaca dan mempelajarinya. Saya akan berusaha dengan baik."
Dia kembali memamerkan senyumannya kepadaku. Kali ini dia memajukan badannya ke arahku. Dekat, hingga aku bisa mencium dengan jelas parfum yang ia pakai, parfum yang kusukai. "Panggil Sehun saja, Luhan. Ah, Sehun Oppa. Itu terdengar lebih manis."
Apa? Apa baru saja dia menggodaku? Jangan beritahu aku!
"A…apa?" tanyaku gugup.
Sehun semakin memajukan badannya, terlalu dekat, kali ini aku bisa merasakan hembusan napasnya menyentuh wajahku.
"Emm…" Aku mengerang ketika bibir hatinya menyentuh bibirku. Tidak ada pergerakan, ia hanya menempelkan bibirnya.
Aku bosan! Aku memberanikan diriku dengan menggerakkan bibirku, melumat bibir bawahnya. Dia membalas, melumat bibir atasku. Dan aku kembali memberanikan diri dengan memeluk lehernya, membiarkan tangannya menekan tengkuk leherku, membuat ciuman ini semakin dalam dan panas.
"Nona Luhan?!" Sehun menegurku sedikit memekik.
"Ah! Mi…mianhe." Aku terloncat dari tempat dudukku. Oh Tuhan! Apa baru saja aku membayangkan berciuman dengan Oh Sehun?
"Apa yang sedang berkelana dipikiranmu eoh?" tanyanya tanpa ekspresi. Aku tahu, aku baru saja membuat kesalahan.
"Ti…tidak, maafkan aku, Tuan Oh."
"Stop! Panggil aku Sehun Oppa. Aku sudah memberitahumu. Dan tidak usah terlalu kaku bila bicara denganku, Luhan."
"Kenapa?" Pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulutku. Harusnya aku menurut saja, tapi ini terlalu aneh. Kyungsoo saja, sekretaris lamanya masih memanggilnya Tuan Oh, sedangkan aku, baru beberapa menit duduk di ruangannya sudah disuruh memanggilnya Oppa? Apa tidak terlalu aneh? Dan apa katanya? Lebih manis? Yang benar saja!
"Tidak apa-apa,Minseok biasa memanggilku seperti itu. Sudah tidak usah dibahas lagi. Kembali ke ruanganmu sekarang dan baca berkas yang kuberikan tadi, mengerti?"
"I...iya." jawabku gugup.
…..
Sudah hampir satu jam aku membaca berkas ini. Terlalu banyak yang harus kukerjakan, aku kira aku hanya menemaninya meeting di luar perusahaan saja. Ternyata tidak! Dan yang benar saja, setiap jam istirahat aku harus mengantarkan makan siang untuknya. Bukankah itu seharusnya tugas Kyungsoo?
Suara telepon menghentikan aktivitas membacaku. Aku mengangkat gagang teleponnya.
"Selamat pagi. Hotel Hilton dengan Luhan. Ada yang bisa saya bantu?" kataku dengan suara yang kubuat selembut mungkin.
"Luhan, ke ruanganku sekarang."
"Y...ya." jawabku gugup. Aku terlalu gugup mendengar suaranya yang terdengar seperti mendesah.
Aku langsung menuju ke ruangannya. Sedikit kuperhatikan penampilanku, rambutku yang tadi terurai kini kugulung ke atas. Tidak apa-apa, dia tidak mungkin protes.
"Permisi, Tuan…ah, maksudku Sehun Oppa. Ada apa memanggilku?" tanyaku membetulkan kalimatku.
"Kemarilah, Luhan."
Aku melangkahkan kakiku untuk masuk lebih dalam menuju meja kerjanya yang…rapi? Sesuatu yang langka untuk seorang pimpinan.
"Ya?"
"Tolong bawa map ini ke Hotel Hilton yang berada di Mapo-gu, lalu temui Kim Jongin. Suruh dia tanda tangan disini." katanya tanpa ekspresi dengan jari telunjuknya yang menunjuk sebuah ruang kosong dengan nama Kim Jongin di bawahnya. Jari yang panjang, lentik dan…apa rasanya bila jari itu bermain-main ditubuhku?
"Mengerti?" tanyanya lagi membuyarkan lamunanku.
"Ya, aku mengerti, Sehun Oppa."
"Oke, pergilah sekarang."
"Sekarang?"
"Ya, tunggu apa lagi?" tanyanya masih tanpa ekspresi.
"A…aku tidak punya kendaraan." lirihku.
"Oh, kau bisa meminta supir mengantarmu. Nah, cepatlah pergi."
"Ya." Aku langsung menggenggam map berwarna biru itu. Membungkukkan badanku kepadanya, lalu aku berbalik untuk keluar dari ruangannya.
"Hei, Luhan!" Aku menoleh ketika dia memanggil namaku.
"Ya?"
"Sebaiknya jangan menggulung rambutmu. Aku tidak suka melihat tatomu."
Tubuhku langsung terasa lemas. Saat ini juga aku melepas ikat rambutku. Menyisirnya dengan tanganku. Ah, aku merasa sudah ditolak secara tidak langsung.
"Sudah, Sehun Oppa. Maafkan aku." Aku pun keluar dari ruangannya sambil menahan malu. Sial!
…..
Aku melangkah masuk ke Hotel Hilton di Mapo-gu ini. Ini pertama kalinya aku ke hotel ini. Gedungnya sama besarnya dengan Hotel Hilton tempatku berkerja di Gangnam-gu.
"Permisi, saya Xi Luhan. Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Kim Jongin?" tanyaku kepada seorang resepsionis.
"Ya, apa anda sudah membuat janji, Nona Xi?"
Oh, apakah Kim Jongin adalah orang penting disini? "Saya belum membuat janji. Saya hanya disuruh oleh Tuan Oh Sehun untuk meminta tanda tangan Tuan Kim Jongin."
"Oh, Tuan Oh. Silahkan anda ke lantai tiga puluh, Nona Xi. Saya akan memberitahu sekretarisnya."
"Ya, terima kasih." jawabku masih penuh dengan kebingungan. Yang bisa kutebak saat ini adalah Kim Jongin seorang Direktur hotel ini. Apa dia tampan juga, eoh?
Lift yang membawaku sudah sampai di lantai tiga puluh. Aku berjalan menelusuri lorong yang hampir sama dengan lorong ruangan Oh Sehun. Hanya saja aku tidak merasa gugup berjalan disini.
"Permisi, saya Luhan." kataku kepada seorang sekretaris berambut hitam.
"Ya, silahkan masuk, Nona Xi. Saya sudah ditelepon oleh resepsionis tadi."
"Terima kasih."
Aku menuju sebuah pintu bertuliskan Direktur, mengetuknya tiga kali, lalu membuka handle pintunya. Aku mengerutkan kening ketika melihat seorang namja yang masih sangat muda, mungkin masih berusia dua puluh tahun, duduk di kursi yang seharusnya milik seorang direktur.
"Permisi, apa Tuan Kim Jongin ada?" tanyaku kepadanya. Mungkin saja namja ini adalah anaknya yang sedang bermain-main disini.
Dia tersenyum lebar kepadaku. Lalu dia berjalan menghampiriku. "Ada yang bisa saya bantu?"
Hei! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan anak kecil seperti dia. "Saya mencari Tuan Kim Jongin, bukan anda anak muda." kataku dengan ketus.
Dia malah tertawa. "Bagaimana bila saya bilang, kalau saya adalah Kim Jongin, hm?"
Aku membelalakkan mataku. Apa katanya? "Be…benarkah?" tanyaku gugup karena aku merasa bersalah.
"Ya, tentu saja. Apa saya perlu mengeluarkan identitas agar anda percaya, nona cantik?"
Pipiku merona ketika dia mengatakan aku cantik. Andai saja Sehun yang mengatakannya, aku tidak akan ragu untuk menciumnya saat itu juga. "Ti…tidak, saya percaya. Maafkan saya telah lancang, Tuan Kim."
"Tidak apa-apa. Silahkan duduk, nona…"
"Luhan. Nama saya Xi Luhan." kataku.
"Ya, Nona Xi. Silahkan duduk. Apa anda sekretaris baru Sehun hyung?"
"Ya, saya hanya menggantikan Kim Minseok selama dua minggu." jelasku.
"Oh, begitu. Lalu ada perlu apa mencari saya?"
"Ah, ini Tuan Kim. Tuan Oh meminta tanda tangan anda disini." kataku sambil memberikan map biru yang sejak tadi kugenggam.
Tanpa berbicara, dia menandatanganinya. "Sudah selesai." ucapnya.
"Terima kasih, Tuan Kim. Maafkan kelancangan saya tadi." kataku.
"Tidak apa-apa. Orang lain juga sering seperti itu kepada saya."
"Benarkah?"
"Ya, mereka mengira saya adalah anak direktur hotel ini."
Tepat sekali! Itu yang kupikirkan tadi!
"Kalau boleh tahu, berapa umur anda?" Maafkan aku harus menanyakan umurmu, aku terlalu penasaran untuk ini.
"Dua puluh satu tahun."
"Dua puluh satu?!" seruku tanpa sadar.
"Ya, tidak usah kaget, nona cantik. Tapi saya menyukai ekspresi terkejut anda tadi, terlihat sangat manis."
Oh, apa dia sedang merayuku?
"Ma..maaf. Baiklah, saya permisi dulu. Terima kasih, Tuan Kim." Aku berdiri dari dudukku. Aku membungkukkan badanku. Walaupun dia lebih muda dariku, tetap saja jabatannya di atasku.
"Tunggu sebentar!"
"Ya?"
"Apa aku boleh minta nomor ponselmu, Luhan Noona. Engh…aku ingin berteman denganmu." katanya tersipu malu. Wajahnya terlihat sangat manis.
"Bo…boleh." Aku pun memberinya kartu namaku. Tidak masalah bukan bila berteman saja.
"Terima kasih, Luhan Noona."
"Sama-sama, Tuan Kim." kataku tersenyum kepadanya.
"Panggil aku Jongin saja. Aku akan senang bila Noona memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin terikat dengan peraturan kantor yang harus menggunakan bahasa formal. Itu terlalu kuno."
Ya, aku setuju!
"Iya, Jongin. Sampai jumpa." Dan aku keluar dari ruangannya. Aku tidak tahu kenapa berkata sampai jumpa kepadanya. Apa yang kuharapkan?
"Haah…andai saja Sehun seperti Jongin…" gumamku.
…..
Di perjalan pulang, aku melirik jam tanganku. Setengah jam lagi waktunya istirahat. Artinya aku harus ke restoran hotel terlebih dahulu, mengambil makan siang Sehun dan mengantarkannya. Itu terlalu rumit, kenapa tidak menyuruh pelayan restoran saja? Apa Kim Minseok juga melakukan hal yang sama, eoh?
"Sudah sampai, Nona Xi."
"Terima kasih sudah mengantarkanku, ahjussi."
Aku berlari kecil menuju restoran kecil. Tinggal lima belas menit lagi. Aku tidak ingin dia mengomel karena aku telat mengantarkan makan siang.
"Permisi, saya ingin mengambil makan siang Tuan Oh." kataku kepada seorang pelayan.
"Sebentar, nona. Silahkan tunggu sebentar."
Aku mengangguk dengan pasti. Tidak berapa lama, pelayan tadi keluar dengan sebuah kotak bekal bertingkat dua.
"Ini, Nona Xi."
"Terima kasih." Aku langsung mengambil kotak bekal itu. Dan aku masih berlari kecil menuju lantai tiga puluh-nya Oh Sehun.
Ketika di lantai tiga puluh, aku menyempatkan melihat jam tanganku. Sisa lima menit lagi. Aku mempercepat langkahku menuju ruangannya dan langsung membuka pintunya.
Dia yang masih berada di meja kerjanya bingung melihatku dengan napas terengah-engah yang masih memegang map biru dengan tambahan kotak bekalnya.
"Maafkan aku, Oppa. Aku takut telat mengantar makan siangmu."
"Oh. Bagaimana? Apa kau sudah meminta tanda tangan Jongin?"
"Ya, ini map-nya. Aku tidak tahu kalau dia masih sangat muda." kataku lagi. Aku hanya berusaha mengubah suasana kaku ini menjadi lebih nyaman. Seperti aku dan Jongin tadi.
"Ya, dia sangat pintar. Apa kau tertarik, eoh?"
Omo! "Ti…tidak, aku hanya kaget saja ketika dia mengatakan umurnya."
'Dan aku hanya tertarik kepadamu, Sehun sayang.' tambahku dalam hati.
"Yasudah, kau bisa istirahat siang. Letakkan saja makan siangku di meja makan. Terima kasih."
Aku merengut kesal. Aku sudah susah payah agar tidak telat ke ruangannya. Dan dia hanya menanggapinya tanpa ekspresi.
"Baiklah."
…..
Aku sekarang berada di kantin khusus karyawan hotel ini. Bersama Baekhyun dan juga bersama namja memuakkan yang berlebihan, Park Chanyeol.
"Bagaimana pekerjaanmu, Hannie sayang?" tanya Baekhyun kepadaku.
"Tidak terlalu menarik, Baekhyun."
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Baekhyun lagi.
"Tidak ada. Hanya saja aku merasa berkerja dengan sebuah robot yang tidak berperasaan. Terlalu kaku, dingin, tidak memiliki ekspresi, haah…entahlah…Baekkie."
"Kyaa…kau memanggilku Baekki? Sama seperti Yeollie. Aku menyukainya, Hannie."
"Haah...jangan samakan aku dengan telinga lebar itu, huh." kataku mendengus kesal.
"Ya! Nona Luhan! telingaku tidak bersalah! Jangan bawa-bawa dia! Dasar maniak!"
"Apa! Kau mengatakan aku maniak! Bukankah itu kau, Chanyeol! Dasar Playboy!"
"Ya! Hentikan!"
Aku dan Chanyeol sama-sama terdiam ketika Baekhyun berteriak cukup nyaring. Karyawan lain yang sedang makan siang pun menoleh ke arah kami.
"Dia yang salah, Baekkie sayang." ucap Chanyeol membela dirinya.
"Mwo? Kau yang salah! Telingamu memang lebar dan itu fakta. Terima saja-lah, Chanyeol!" Aku membela diriku juga.
"Astaga! Kalian berdua! Berhenti!" Untuk kedua kalinya Baekhyun berteriak. Wajahnya sampai memerah.
"Maaf." lirihku.
"Oke, Park Chanyeol, habiskan makananmu dan Luhan cepat ceritakan lagi tentang Tuan Oh. Kau tahu, aku sangat penasaran." ucapnya diakhiri dengan kekehan.
"Ya, Baekkie. Apa yang harus kuceritakan lagi? Bukankah tadi aku sudah mengatakan sifatnya, eoh?"
"Yah, tapi apa hanya itu saja?"
"Ah, aku baru ingat. Dia menyuruhku memanggil Sehun Oppa. Dan dia berbicara denganku seperti teman lama."
"Mwo? Benarkah?"
"Hum! Hanya itu saja sifat bagusnya, menurutku. Dibalik tubuh robotnya."
"Dan kau masih berharap bisa bercinta dengannya, huh? Kau tidak takut bila dia bercinta denganmu seperti robot, eoh?"
Aku menatap tajam kepada orang yang bertanya seperti itu. Lagi-lagi dia yang menyulut emosi-ku. "Ya! Itu tidak mungkin! Aku belum tahu hal itu karena aku belum pernah mencobanya, Chanyeol!"
Chanyeol hanya tertawa, membuatku semakin emosi. Ketika aku hendak bicara lagi, ponselku berbunyi. Sebuah nomor asing meneleponku.
"Halo?"
"Luhan Noona?"
Ternyata dia. Aku melirik ke arah Baekhyun dan Chanyeol yang terlihat penasaran dengan orang yang meneleponku. "Ya, ada apa?"
"Apa Noona sedang istirahat?"
"Iya, aku sedang makan siang dengan teman-temanku." jawabku dengan suara lembut. Dan sekali lagi aku melirik ke arah Baekhyun dan Chanyeol, mereka terlihat semakin penasaran.
"Oh, begitu? Jadi tidak apa-apa aku meneleponmu, Noona?"
"Tentu saja. Apa kau sudah makan siang, Jongin?"
Aku kaget ketika Baekhyun menggenggam tangan kiriku dengan kuat. "Jongin? Kim Jongin meneleponmu?!" katanya berbisik. Aku tidak menjawabnya. Aku langsung saja berdiri dan meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol.
"Luhan Noona? Ada apa? Apa aku menggaggumu dengan temanmu?"
"Aniya, aku sudah meninggalkan mereka. Aku sedang menuju ruanganku. Kau sudah makan siang?" tanyaku lagi. Sekedar berbasa-basi.
"Ya, aku tidak pernah telat untuk makan siang, Noona. Andai saja tadi kita makan siang berdua, itu pasti sangat menyenangkan."
"Hahaha...benarkah? Sayang sekali."
"Engh...bagaimana kalau makan malam berdua?"
"Makan malam?"
"Ne, malam ini. Apa kau mau, Noona?"
"Kapan?" Aku menghentikan langkahku. Aku tidak jadi masuk ke dalam lift. Aku menuju sebuah lorong yang mengarah ke toilet dan aku berdiri di lorong ini.
"Malam ini. Apa Noona bisa?"
"Eh? Cepat sekali?"
"Tidak apa-apa. Lebih cepat lebih baik, Noona. Jadi bagaimana?"
"Baiklah. Aku bisa, Jongin."
"Benarkah?! Aku akan menjemputmu!" Aku tertawa kecil mendengar suaranya yang terdengar ceria. Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru.
"Kau tahu alamatku?"
"Tentu saja! Ada di kartu namamu, Noona. Jam delapan malam, oke?"
"Ya, Jongin. Aku akan menunggumu."
"Baiklah, nona cantik. Sampai jumpa! Aku harus menutup teleponnya sekarang."
"Jangan memanggilku seperti itu, Jongin. Baiklah, sampai jumpa!"
Sambungan telepon kami pun terputus. Aku kembali menuju lift. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri. Aku merasa senang. Sudah sangat lama aku tidak makan malam dengan seorang namja. Terakhir kalinya adalah bersama mantan kekasihku ketika aku masih sekolah.
Tapi...andai saja Oh Sehun yang mengajakku makan malam, aku pasti akan merasa sangat senang lagi.
…..
"Luhan, Tuan Oh mencarimu. Cepat ke ruangannya." kata Kyungsoo kepadaku.
"Oh, terima kasih." Aku segera menuju ruangannya.
Ketika di dalam ruangannya, aku melihat dia masih sibuk di meja kerjanya. Makan siang yang buru-buru kubawa tadi belum tersentuh sama sekali.
"Ada apa, Sehun Oppa?"
"Sudah selesai istirahatnya?"
"Ya, begitulah."
"Luhan, nanti malam kau ikut denganku. Seorang investor hotel ini mengajakku makan malam, dan aku membutuhkanmu. Karena ada kemungkinan beliau akan menambah sahamnya di hotel ini. Aku perlu kau untuk membawa berkas-berkas. Mengerti?"
Aku terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebarnya. Aku sudah berjanji akan malam kepada Jongin. Dan Sehun juga mengajakku. Ini adalah kesempatan langka bagiku, makan malam bersama Sehun walaupun ada orang lain. Tapi, sisi baikku tidak ingin membuat Jongin sedih.
But, bila kita berakhir dengan bercinta...aku pasti tidak akan menolakmu, Sehun sayang. Tapi aku tahu, itu tidak mungkin. Dan aku pasti akan berakhir di kamar mandi, sendiri...
Apa yang harus kulakukan?
"Ma...maaf, Sehun Oppa. Aku ada janji dengan temanku. Apa tidak bisa Kyungsoo saja yang menggantikanku?" Sisi baikku mengalahkan sisi jahatku yang egois. Aku memilih bersama Jongin. Karena memang dia yang mengajakku duluan.
Sehun memandangku dengan tajam. Tatapannya terlihat sangat tidak suka. Kemudian dia menghela napas kasar.
"Baiklah. Aku harap ini tidak akan terjadi lagi, Luhan. Kembali ke ruanganmu." suaranya terdengar sangat menakutkan.
Aku mengangguk gugup dan langsung menuju ruanganku. "Aku harap Oppa makan siang terlebih dahulu. Aku tidak ingin Oppa sakit." Bibirku agak bergetar ketika mengatakan hal itu, memang bukan tugasku untuk menyuruhnya makan. Hanya saja aku tidak ingin wajah tampannya berkurang karena sakit.
"Hm."
…..
"Luhan, bisa bicara sebentar?" tanya Kyungsoo ketika aku hendak masuk ke ruanganku. Aku pun berbalik dan menuju ruangannya.
"Ya, ada apa?"
"Tuan Oh baru saja meneleponku. Dia sepertinya sedang marah karena kau mementingkan urusan pribadi daripada pekerjaan."
Yang benar saja! "Iya, aku ada janji dengan temanku untuk makan malam bersama. Dia meneleponku sebelum aku masuk ke ruangan Sehun...ah, maksudku Tuan Oh. Aku tidak enak bila membatalkan janji kami. Dia pasti akan sedih sekali." jelasku kepada Kyungsoo.
Entah kenapa, aku sungguh tidak enak bila membatalkan janjiku kepada Jongin walaupun aku ingin sekali bersama Sehun.
"Apa benar dia temanmu? Bukan kekasihmu, eoh?" Kyungsoo dengan segenap rasa penasarannya bertanya kepadaku dengan nada menggoda.
"Bukan. Kau penasaran, eoh?" tanyaku balik menggodanya.
"Kau tahu saja, Luhan."
"Hmm...baiklah. Aku tidak ingin membuatmu mati penasaran. Sebenarnya aku akan malam dengan Kim Jongin, Direktur Hotel Hilton di Distrik Mapo-gu." jawabku dengan memamerkan senyuman lebarku.
"Kim Jongin?!"
.
.
.
.
T.B.C
