Jam di tangan Sasuke menunjukkan pukul 9 malam saat ia masuk ke dalam lift dari basement tempat memarkir kendaraan untuk naik ke lantai 23. Sasuke berpapasan dengan gadis berambut pink yang tinggal dua lantai dibawahnya, ia tidak pernah tahu siapa nama gadis itu meskipun mereka sering bertemu di dalam lift yang sempit. Dengan menjinjing tas berisi kamera dan tripod di tangan kiri, ia berjalan menyusuri koridor menuju apartemen nomor 232. Belum sampai di depan pintu, ia disapa oleh Tuan Yamada, seorang pria tua yang tinggal sendirian di samping apartemennya, terkadang anak perempuannya yang sudah menikah datang bersama cucu Tuan Yamada setiap dua minggu. Sasuke selalu tahu karena cucu Tuan Yamada adalah setan cilik pembawa kegaduhan, bahkan suara teriakannya sampai terdengar di kamar Sasuke.
"Oh, Sasuke, baru pulang kerja?" Tanya pria itu ramah, sambil menepuk-nepuk pundak Sasuke dengan kerasnya. Sasuke mengangguk mengiyakan.
"Ah, rupanya kau telah memutuskan untuk memiliki teman sekamar ya? Ehm, Itu bagus untukmu, lagipula sewa apartemen ini sedikit mahal, jika bukan anakku yang membayar uang sewa, pensiunan sepertiku tidak mampu membayarnya." Sekali lagi Tuan Yamada menepuk-nepuk bahu Sasuke sebelum ia masuk ke dalam apartemennya.
Sasuke memandang pintu yang tertutup dengan penuh pertanyaan. Bagaimana bisa Tuan Yamada tahu bahwa sudah beberapa minggu ini Si Robot Pirang—Naruto—itu tinggal di apartemennya? Bukankah Sasuke sudah melarangnya keluar tanpa izin? Sasuke tetap berjalan sambil menimbang beberapa kemungkinan yang terjadi, bagaimana Tuan Yamada bisa menyadari keberadaan Naruto di apartemennya. Namun semua pertanyaan itu segera terjawab ketika Sasuke sampai di depan pintunya.
Sasuke bersumpah demi siapapun penghuni langit, ia akan menghajar Naruto saat ini juga.
.
Naruto, hahaha. Si Robot Pirang belum merasa bosan mendengar nama itu diucapkan berkali-kali oleh dirinya sendiri. Naruto, namanya adalah Naruto.
Sebelum ia dibeli oleh Sasuke—namun akhir-akhir ini Naruto mengetahui bahwa yang membelinya adalah Itachi, kakak Sasuke—tentu saja ia memiliki nama. Akan tetapi nama yang diberikan oleh toko tempatnya berasal tidaklah keren, hanya seperti sekumpulan tipe dan nomor seri. GX2027665TAC. Selain tidak keren, juga lebih susah diingat. Ia tidak ingin Sasuke kerepotan memanggilnya dengan 'GX2027665TAC'. Lagipula ia ingin menjadi manusia, maka dari itu ia butuh nama manusia.
Hari ini adalah hari ke-21 ia tinggal di apartemen Sasuke. Tidak ada yang berubah dari Sasuke sejak mereka pergi menonton pertunjukan lumba-lumba dua minggu yang lalu. Kecuali sekarang Naruto -sudah memiliki 4 macam pakaian—Sasuke membelikan untuknya—dan terkadang Sasuke membiarkan Naruto memasak untuknya. Namun Sasuke tetaplah menjadi Sasuke, tetap berwajah stoic dan irit bicara, kata-kata yang keluar darinya kebanyakan adalah sarkasme. Tapi tiga hari belakangan Sasuke selalu sibuk karena ia baru saja menerima project baru sebagai fotografer majalah—entahlah.
Tiga minggu mesin itu berada di apartemen Sasuke, menunggunya pulang kerja dan membuat makanan untuknya. Naruto selalu menemani Sasuke mengedit foto hingga larut malam dan membuatkannya kopi. Terkadang ia hanya memandang jendela seharian, melihat jalanan yang sibuk di bawah langit berpolusi. Naruto pikir hidup di kota besar seperti ini sedikit membosankan bagi manusia. Terutama dengan rutinitas yang padat dan tuntutan yang bermacam-macam, hal ini dapat mengakibatkan penuaan dini. Ia berpikir bahwa mungkin sekali-sekali Sasuke harus menyentuh alam.
Naruto tidak pernah melewatkan tayangan terbaru di channel National Geographic. Ia melihat berbagai macam hal alami di dunia yang disajikan dalam beberapa menit video dokumentasi. Meskipun ia bisa mencari informasinya di google, tetap saja menonton video lebih menyenangkan baginya.
Hari ini sudah kesekian kalinya Sasuke pulang di atas jam makan malam. Nasi dan sup krim yang ia buatkan untuk Sasuke sudah mulai dingin (bahkan Sasuke tidak makan makanan yang ia masak kemarin malam), dan Naruto yakin Sasuke akan begadang lagi untuk mengedit foto.
Ia sudah cukup melihat jendela seharian. Drama korea di televisi yang biasa ditontonnya sudah memasuki dua episode terakhir,dan Naruto sudah streaming untuk melihat cuplikan akhir cerita yang tersebar di internet. Maka ia pun berjalan-jalan mengelilingi apartemen Sasuke sambil membawa kain (siapa tahu ada yang perlu dibersihkan) hingga sampailah dia di depan ruangan yang selalu tertutup.
Kalau tidak salah, Sasuke menyebutnya Red Room.
Naruto memutar knob pintu dan mendorongnya, Red Room ternyata sama seperti yang ia pikirkan, benar-benar merah. Tidak ada cahaya sedikitpun yang masuk ke dalam ruangan ini kecuali lampu redup yang menggantung di tengah ruangan. Naruto melihat banyak foto-foto digantung, serta alat-alat lain yang ia tidak tahu apa fungsinya (dia harus segera mencarinya di google). Ia meneliti semua foto yang digantung mulai dari ujung hingga ke ujug, sesuai dugaannya, tidak ada foto dirinya atau foto keluarganya.
Drap. Drap. Drap.
Sasuke sudah kembali. Naruto mendengar suara pintu dibuka dengan kasar, dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Tak lama kemudian sosok raven Sasuke muncul di ambang pintu.
"Apa yang kau lakukan di sini, dobe?" Suara Sasuke terdengar marah, namun tidak ada perubahan signifikan pada wajahnya. Si Robot hendak menjawab, namun Sasuke segera melontarkan satu pertanyaan lainnya. "—dan apa yang kau lakukan pada plakat namaku di depan?"
Ups, apakah Sasuke marah karena ia telah mengukir nama "Naruto" pada plakat nama di depan? Bukankah jika Naruto tinggal di apartemen ini, maka ia harus mengukir namanya, berjaga-jaga untuk memudahkan bila seseorang mencarinya. Tapi, melihat reaksi Sasuke, sepertinya ia telah melakukan kesalahan besar.
.
Steel's Heart
(part 2 : Perfect Human)
Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Happy SasuNaru day!
Zettai Kareshi!AU
Summary: Naruto longed to be a human. Sasuke, on the other hand, has lived almost his entire life lika a robot. Together, they learn to be human.
.
Langit ibu kota dini hari gelap pekat, tidak satupun bintang terlihat, mungkin karena tertutup polusi. Sekarang jam 01.26, Itachi baru saja sampai dari bandara setelah terbang 10 jam dari San Fransisco, hal ini membuat kepalanya sakit. Ia tidak terlalu suka berlama-lama di pesawat, namun pekerjaan mengharuskan untuk menjalaninya.
Seperti biasa ia tidak ingin langsung pergi ke rumah setelah pulang dari perjalanan bisnis. Itachi selalu mampir ke apartemen adiknya untuk beristirahat, mungkin kali ini ia akan mengambil cuti karena hampir 3 hari ia tidak bisa tidur. Lagipula ia merasa kangen pada adiknya setelah tiga minggu tidak bertemu. Itachi sudah memerintahkan Kakashi untuk memulangkan barang-barangnya, dan ia segera memanggil taksi untuk melaju ke apartemen Sasuke.
Suasana gedung apartemen sudah sepi, hampir tidak ada orang lagi yang berkeliaran kecuali resepsionis di depan dan beberapa office boy yang sedang bersih-bersih. Ia memasukkan kedua tangan di saku celana sambil menunggu lift membawanya ke lantai 23, setelah itu menyusuri koridor dan berhenti di pintu 232. Itachi hendak memasukan password untuk membuka pintu, tapi tangannya terhenti ketika melihat ada yang berbeda dengan plakat nama di depan apartemen adiknya. Ada nama 'Naruto' diukir dengan rapi di bawah tulisan Uchiha Sasuke. Itachi menaikkan alis.
Ketika Itachi membuka pintu setelah memasukkan password, ia disambut oleh kegelapan(tentu saja, Sasuke pasti sudah tidur sejak tadi). Tapi betapa kagetnya Itachi saat pandangannya bertemu dengan mata menyala di sudut ruang tengah, sepasang mata itu menatapnya intens tanpa berkedip. Itachi cepat-cepat menyalakan lampu dan mundur beberapa langkah.
Seseorang duduk di ruang tengah. Seseorang berambut pirang duduk di ruang tengah adiknya. Seseorang berambut pirang dengan mata menyala duduk di ruang tengah adiknya, dini hari. Uh, Itachi hampir saja terkena serangan jantung.
Ia baru saja akan bertanya "siapa kau?", tapi si pirang terlebih dulu mengangkat tangan dan menyapanya, "hai, apa kau adalah kakak Sasuke, Itachi? karena wajah kalian sedikit mirip."
Setelah berpikir keras barulah Itachi mengingat sesuatu. Ia memberikan hadiah robot kepada Sasuke atas rekomendasi Kakashi, mungkinkah ini wujudnya?
Itachi memperhatikannya mulai rambut hingga ujung kaki. Ia pasti mengiranya seorang manusia jika tidak melihat bagian kiri dadanya terbuka, sebuah kabel terjulur menancap ke steker.
Si pirang tersenyum sambil mengulurkan tangan, Itachi menyambutnya. "Maaf aku tidak bisa membuatkan minuman karena sedang ditengah-tengah charging. Tapi jika kau mau menunggu 10 menit sampai charging-ku selesai…"
"Tiidak masalah," ungkap Itachi, ia duduk di sofa sambill menekan tombol power remote televisi. "Kupikir aku ingin ngobrol denganmu dulu."
Sesuai apa yang dikatakan, sepuluh menit kemudian Si Robot Pirang mencabut kabel charger dan menyimpannya di dalam kotak besar. Sepertinya ia berasal dari kotak itu—batin Itachi melirik semua gerak-geriknya. Mesin itu menghilang sebentar di dapur dan kembali dengan secangkir teh di tangannya.
"Naruto, itu namamu?" Tanya Itachi sambil menerima cangkir berisi teh hangat dari Si Robot dan dibalas dengan anggukan singkat. "Sasuke yang memberi nama padamu?"
"Tidak, pada awalnya ia tidak mau memberiku nama, namun pada akhirnya kita sepakat menamaiku dengan nama naruto."
Itachi tertawa sambil menyeruput tehnya, "pft—dasar Sasuke, tidak pernah berubah."
"Bagaimana dengan Sasuke, apa ia memperlakukanmu dengan baik?"
Si pirang mengangguk, "hm, Sasuke adalah pekerja keras. Dia memiliki hati yang baik walaupun sedikit sulit membacanya."
"Sasuke tetaplah Sasuke," mata Itachi menerawang. "Laki-laki perfeksionis yang jarang berekspresi, keras kepala, mulutnya kotor penuh sarkasme. Saat sekolah dulu ia hanya memiliki satu teman dekat yang sama-sama minim ekspresi."
Entah mengapa Naruto sedikit mengiyakan ucapan Itachi. Walaupun semuanya tidak seratus persen benar.
"Dia tidak terlalu suka bicara, juga sedikit gegabah." Jeda, Itachi tersenyum. "Sasuke memiliki prinsip bahwa; kesan pertama menentukan kesan-kesan berikutnya. Tapi bagaimanapun juga dia tetaplah adikku, adikku yang gegabah. Sedikit banyak aku juga ikut andil membentuk 'Sasuke' yang seperti itu."
Mereka berdua terdiam, diam yang berbeda, karena Itachi terdiam sambil membayangkan masa lalunya dengan Sasuke, sedangkan Naruto terdiam karena mengamati Itachi. Walaupun mirip, lelaki itu sedikit berbedadengan Sasuke. Ia lebih banyak berekspresi dan jujur pada dirinya sendiri, tidak seperti Sasuke dengan tembok imajiner di sekelilingnya. Kata-kata yang keluar dari mulut Itachi lebih luwes dan bermacam-macam. Jadi sepertinya informasi tentang manusia yang ada pada memorinya tidak sepenuhnya salah, Naruto pikir.
"Hey, sekarang mari kita bicara tentang dirimu." Kata-kata Itachi menarik perhatiannya. "Kulihat tadi kau bisa membuat teh, apa lagi yang bisa kau lakukan?"
"Aku bisa melakukan apa saja, memasak, bersih-bersih, aku juga bisa belajar untuk membuat skill tertentu." Jawabnya dengan bangga.
"Wow, tidak heran mereka menjualmu dengan harga yang mahal."
Naruto kemudian menunjukkan beberapa fitur yang dimilikinya pada Itachi selama beberapa waktu. Itachi mendengarkan dengan seksama sambil terkagum-kagum pada Naruto. Ia tidak menyangka bahwa benda seperti Naruto bisa diciptakan di dunia ini.
"Aku menyukaimu, Itachi," ujar Naruto dengan senyum lebar. "Karena kau lebih mirip dengan diskripsi manusia yang ada pada memoriku."
Itachi tidak menjawab, ia mengatupkan tangannya sembari mendengarkan robot itu berbicara.
"Aku dapat melihat peluang untuk belajar menjadi manusia sempurna jika aku bersama denganmu, tapi…" Naruto mendadak berhenti. CPU dalam tubuhnya memuar memori yang telah ia lalui selama tiga minggu bersama Sasuke. Tidak banyak, hanya sekelebatan memori klise, dimana Naruto menunggu Sasuke pulang kerja sepanjang hari, Sasuke sedang mengedit foto di ruang tengah, pemandangan dari jendela apartemen Sasuke, pertunjukan lumba-lumba, makan ramen, membeli baju, ketika Sasuke menemaninya ke taman untuk melihat serangga.
"Aku percaya kau menghadiahkanku kepada Sasuke karena suatu hal. Walaupun sepertinya aku akan lebih berkembang bersama dengan Itachi… Sasuke saja sudah cukup," jeda. "Aku akan menerima bagaimana cara Sasuke menjadikanku sebagai manusia."
"Tapi aku senang kau membeliku, Itachi." Ungkap SI Robot Pirang. "Dengan begitu aku bisa bertemu dengan Sasuke."
Itachi tertegun.
.
Sasuke membuka matanya pagi itu ketika merasakan pelukan erat dari seseorang. Ia mengumpat sambil mendendang si pelaku sekuat mungkin, dengan bantuan kedua tangan, segera ia turun dari ranjang empuknya dan mendarat di lantai yang dingin.
"Sasuke, jangan berisik aku masih tidur sebentar—" rengek si kakak sambil mencari-cari selimut untuk menutupi wajahnya.
"Brengsek, Itachi. Kau masih bisa tidur nyenyak setelah mengirimkan benda di luar sana, kupastikan kau membayarnya."
Itachi membalas dari balik selimut, "Ehm, emm, Sasuke bicaramu kasar sekali pada Nii-san-mu."
"Persetan, Uchiha."
"Kau lupa bahwa nama belakangmu juga Uchiha?"
Sasuke berteriak lagi. Itachi mengabaikannya. Sasuke mengumpat. Itachi menggodanya dengan kata 'I love you, too'. Sasuke geram. Itachi tertawa. Hingga pada akhirnya Sasuke menyeret kaki Itachi dari ranjang dan Itachi terjatuh dengan bunyi 'bugh' dan 'aduh' yang keras. Saat yang sama di dapur, Naruto berhenti mengaduk adonan pancake dan memandangi pintu kamar Sasuke yang tertutup sambil terheran-heran.
Setengah jam kemudian Sasuke keluar dari kamar menggunakan jubah mandi dengan rambut basah, disusul oleh Itachi yang masih mengantuk dengan benjol di dahi dan rambut berantakan. Itachi mengekor pada Sasuke menuju dapur dan langsung disambut oleh wangi pancake yang baru matang.
"Selamat pagi Sasuke, Itachi," sapa Naruto tersipu-sipu, wajahnya memerah.
Sasuke hanya melirik lalu membuka lemari es dan mengeluarkan susu kotak dan meminumnya langsung tanpa gelas.
"Pagi Naruto," Itachi duduk di kursi makan sambil mengendus sepiring pancake di hadapannya. "Kau yang membuat ini?"
Naruto mengangguk mengiyakan.
Itachi mengambil pisau dan garpu yang sudah disiapkan Naruto di samping piring pancake, setelah mengucapkan "selamat makan" Itachi melahap pancake buatan robot pirang yang kini duduk di samping adiknya dan sibuk menuangkan sirup ke atas pancake milik Sasuke.
Sambil menghabiskan pancakenya, ia terus memperhatikan si robot yang terus menerus bertanya apakah masakannya enak kepada Sasuke. Namun Sasuke tetaplah Sasuke, ia merespon semua pertanyaan Naruto dengan 'hn'.
Setelah menghabiskan sarapan, Sasuke segera bersiap-siap untuk pergi bekerja. Deadline semakin dekat, sedangkan pekerjaan masih banyak, mungkin ia akan lembur lagi bersama teman setimnya hari ini. Setelah berpakaian rapi dan mengambil laptop dan alat-alat fotografinya, ia menemui Itachi yang sedang menonton televisi di ruang tengah untuk berpamitan.
Itachi mengantarnya hingga pintu depan, ia merapikan mantel yang Sasuke kenakan sambil menepuk-nepuk kepala adiknya.
"Pulanglah sesekali," ujarnya hati-hati. "Ibu merindukanmu."
Sasuke melengos, tidak menjawab.
"Ayah juga merindukanmu."
Bulshit—Sasuke tertawa dalam hati. Bagaimana bisa pria tua yang gila bekerja itu memiliki rasa rindu pada anak yang tidak mau menyentuh perusahaan yang begitu dicintainya.
"Aku berangkat."
"Hati-hati."
Sasuke menutup pintu.
Itachi menemui Naruto yang kini duduk di ruang tengah.
"Naruto,"
"Ya, Itachi?"
"Aku bersyukur mengirimkanmu pada Sasuke." Senyum lega terukir di bibir Itachi saat itu, Naruto mengira ia sedang menerawang, tapi ia tak tahu apa yang Itachi pikirkan.
"Aku juga berpikir begitu."
"Tolong jaga adikku baik-baik, ya." Itachi menatap mata Naruto. Biru bertemu Hitam. Walaupun Naruto bukan manusia, pikirnya, tapi Itachi dapat berharap padanya.
.
Naruto melihat kupu-kupu. Warnanya hitam dengan corak kuning-oranye, ternyata serangga itu sangat kecil, akan tetapi jauh lebih indah apabila dilihat secara asli dibandingkan melihat gambar-gambarnya dari google. Kepakan sayapnya sangat cepat, tapi lembut disaat yang bersamaan. Naruto hampir lupa memerintahkan mulutnya untuk tidak terbuka.
Beberapa saat yang lalu ia melihat beberapa orang sedang memberi makan burung pada tangan mereka. Sebenarnya Naruto juga ingin melakukan itu, namun ia tidak memiliki makanan burung. Maka ia hanya bisa tersenyum melihat burung-burung itu hinggap di tangan manusia, lalu terbang kembali.
Ia sedang berada di taman berjarak 5 menit dari gedung apartemen Sasuke, sebenarnya ia merasa bersalah karena Sasuke selalu melarangnya untuk pergi keluar tanpa izin, tapi semua ini karena…
Satu jam setelah berangkat kerja, pintu apartemen diketuk oleh Tuan Yamada, lelaki tua yang tinggal di sebelah. Kakek itu datang sambil menggandeng cucunya yang masih berusia 5 tahun dengan tangan kanan, lalu membawa tas jinjing di tangan kiri. Setelah menjelaskan bahwa ada urusan mendadak, lelaki itu meninggalkan cucunya kepada Naruto beserta perlengkapannya di dalam tas sebelum Naruto bisa menolak.
Anak itu bernama Konohamaru. Entah apa arti nama itu, yang jelas tingkahnya seperti setan. Ia berlari kesana-kemari seperti nyamuk, berteriak dan bernyanyi-nyanyi lagu anak-anak, naik turun kursi dan mengacak-acak kamar Sasuke (tapi Naruto sudah memastikan Red Room terkunci dan bocah itu tidak bisa masuk, atau Sasuke benar-benar akan membuangnya ke rongsokan). Setelah ia merasa lelah dan tidak dapat menemukan tempat mana lagi yang bisa diacak-acak, kini ia merengek minta diantar ke taman bermain tak jauh dari tempat mereka tinggal.
Pada awalnya Naruto menolak, karena itu tidak aman untuknya, dan ia juga tidak boleh keluar tanpa izin Sasuke. Akan tetapi Naruto tidak bisa terus berkata tidak ketika Konohamaru mulai menangis. Ia tidak memiliki skill merawat anak-anak, dan ia sama sekali tidak pernah bertemu anak kecil sebelumnya.
Maka disinilah mereka sekarang. Naruto mejaga Konohamaru yang sedang bermain ayunan sambil melihat barisan semut di tanah. Sesekali ia menghampiri Konohamaru yang hendak memukuli anak-anak lain kemudian berkata bahwa memukul adalah perbuatan yang buruk. Tapi sepertinya Konohamaru bukan tipe anak yang mau mendengar nasihat seperti itu.
Sementara bocah setan itu asyik dengan mainan di taman, Naruto kembali mengamati hewan-hewan di sekitarnya. Ia menangkup kupu-kupu yang sedang terbang diantara bunga lalu melepaskannya kembali. Naruto berpikir, bagaimana bisa seekor ulat yang buruk rupa hanya dengan bergelung di selimut pupanya bisa menumbuhkan sayap yang begitu indah. Ia berpikir, apakah manusia bisa melakukan hal yang sama.
Naruto mengalihkan pandangannya kepada bunga aster yang ada di setiap sudut taman. Ia hendak memetiknya setangkai, namun sebuah tepukan di punggungnya membuatnya menoleh. Ia bertemu pandang dengan Konohamaru yang menangis sambil memegangi lututnya yang berdarah.
"Oh tidak," Naruto panik. CPUnya memerintahkan untuk segera membawanya pulang dan mengobatinya di rumah. Dengan cekatan ia mengangkat badan Konohamaru dan berlari menuju apartemen Sasuke. Ia memencet lift dengan terburu-buru sambil memegang erat anak lelaki yang menangis di punggungnya. Namun ketika ia telah sampai di depan pintu apartemen Sasuke, ia baru menyadari bahwa ia tidak memiliki password pintu Sasuke. Namun anak lelaki di gendongannya semakin menangis menjadi-jadi.
Naruto segera kembali ke bawah menuju meja resepsionis, "Maaf, tapi bisakah kau merawat luka anak ini?" pintanya panik kepada seorang wanita yang sedang berjaga. Beruntunglah mereka memiliki kotak p3k, bahkan wanita penjaga meja resepsionis itu memberinya sebatang permen kaki agar Konohamaru tidak menangis lagi. Setelah semuanya selesai, Naruto berterima kasih kepada wanita itu dan menggandeng tangan kecil Konohamaru menuju lantai 23.
"Kenapa kau tidak membuka pintu?" protes bocah cilik itu sambil menjilat permen kaki.
Naruto bingung harus menjawab apa, "sayang sekali, Konohamaru, aku tidak tahu password untuk membuka pintu."
"Bagaimana bisa, bukankah kau dan Sasuke nii sudah hampir sebulan tinggal bersama?"
"Aku tidak pernah keluar rumah seizin Sasuke." Ungkapnya jujur. "Bagaimana kalau kita menunggu di dalam apartemen Tuan Yamada?"
"Ng, aku juga tidak tahu apa passwordnya."
Mereka berdua menghela napas bersamaan.
Naruto dan Konohamaru akhirnya duduk di depan pintu apartemen Sasuke, namun setelah permen kaki Konohamaru habis, bocah itu kembali merengek karena haus. Naruto ingin membelikannya air di supermarket tapi ia tidak memiliki uang, maka yang bisa ia lakukan hanya mengelus kepala Konohamaru sambil menyuruhnya berhenti menangis.
Entah berapa lama anak itu menangis, hingga akhirnya ia tertidur di pangkuan Naruto. Hari semakin sore, ia berharap baik Sasuke maupun Tuan Yamada segera pulang.
.
Tuan Yamada mengucapkan terima kasih berulang-ulang, kemudian pintu ditutup oleh Sasuke. Tanpa berkata-kata ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower. Naruto duduk diam di tempat biasa, namun kali ini ia berpikir. Apakah Sasuke marah karena ia telah keluar rumah tanpa izin?
Kediaman Sasuke bisa memiliki banyak arti, karena dalam menyikapi kejadian apapun Sasuke memang selalu diam.
Sasuke datang hampir dua jam kemudian, sangat terkejut melihat Naruto duduk di depan pintu dengan Konohamaru yang masih tertidur di pangkuannya. Sasuke memerintahkan Naruto untuk memindahkan bocah itu ke dalam kamar. Namun ketika ia membuka pintu ia lebih terkejut lagi melihat kondisi rumahnya yang sangat… berantakan.
Tanpa suara Sasuke segera membereskan kekacauan mulai dari dapur (tentu saja setelah memastikan Red Room-nya aman), Naruto ikut membantu setelah melakukan apa yang Sasuke perintahkan. Mereka berdua diam saat bekerja, selama dua jam, hingga akhirnya Tuan Yamada menekan bel dan mengambil kembali cucu yang ia titipkan. Kemudian Sasuke langsung masuk ke kamar mandi dan disinilah Naruto sekarang, sedang berpikir.
Ia harus minta maaf kepada Sasuke, harus.
Si Robot Pirang masuk ke dalam kamar Sasuke dengan mengendap-endap, syukurlah Sasuke belum keluar dari kamar mandi. Ia akan menyiapkan beberapa kalimat yang sekiranya akan ia katakan kepada pemuda itu. Tak sampai 5menit,Sasuke keluar hanya dengan selembar handuk melilit di pinggangnya.
Bola mata Sasuke melirik Si Pirang yang kini berdiri di samping ranjang, tanpa berkata apa-apa ia melewati robot itu menuju lemari pakaian dan memilih-milih baju ganti.
"Maafkan aku Sasuke," ujar Naruto perlahan. "Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba Tuan Yamada menitipkan Konohamaru kepadaku, lalu Konohamaru terus menangis apabila aku tidak mau menemaninya pergi ke taman. Tapi aku sangat menyesal…"
Sasuke sibuk berpakaian.
"Aku menyesal Sasuke, aku mengerti mengapa kau sangat marah."
"Aku tidak marah."
"Apa?" Naruto bertanya, memastikan sistem pendengarannya tidak rusak.
" Aku. Tidak. Marah." Ulang Sasuke.
"Kau tidak marah?"
"Jangan buat aku mengulanginya berkali-kali, bodoh."
"Ma—Maaf, aku hanya…" Naruto bingung bagaimana harus mendiskripsikan perasaannya sekarang. Ia merasa lebih ringan, seolah job pada CPU-nya telah dieksekusi pada saat yang bersamaan.
"Aku seharusnya memberitahumu password pintunya, dan aku tidak seharusnya melarangmu untuk keluar."
Naruto segera tertawa dan berkata "tidak masalah kok".
Malam itu Sasuke bekerja di kamarnya sambil mendengarkan cerita Naruto tentang pengalamannya di taman. Bagaimana ia menangkap kupu-kupu, melihat barisan semut, dan mendiskripsikan burung dara yang diberi makan oleh orang-orang. Sasuke tidak terlalu mempermasalahkan ocehan Si Pirang, selama ia masih bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Namun Naruto menyadari sesuatu, ada perubahan pada sorot mata Sasuke saat ini dibandingkan dengan Sasuke yang dulu, terasa lebih hangat.
Naruto merasakannya, bagaimana Sasuke bersikap padanya saat mereka pertama kali bertemu dengan Sasuke yang sekarang. Naruto tidak tahu apa namanya, namun ia sangat menyukai Sasuke yang ini.
Pukul 2 dini hari Sasuke menutup laptopnya dan menguap. Ia menyimpan laptopnya di atas meja di samping ranjang. Segera saja Naruto mengucapkan selamat malam. Tapi saat ia akan pergi ke ruang tengah, Sasuke mencegahnya.
"Mulai malam ini kau tidak perlu menunggu di luar." Kata Sasuke singkat, sebelum ia menarik selimut dan mematikan lampu.
Naruto pun tersenyum, ia tak beranjak dari kursi di samping tempat tidur. Malam itu ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Sepanjang malam Naruto menatap wajah Sasuke yang tertidur. Malam itu Naruto berpikir tentang kupu-kupu, tentang burung, barisan semut, dan Sasuke. Sasuke, Sasuke, dan Sasuke.
To be Continued
part terakhir sepertinya bakal telat diupload ;_;
