Fight For Love II chapter 2

My friend be lost

Siang hari bersama teriknya sinar matahari di sebuah gedung tua terdapat para anggota Red Oni sedang berkumpul dan merundingkan sesuatu. Ketua mereka memerintahkan untuk membereskan seseorang hari ini juga.

Di sana ada empat orang peninggi gank Red Oni, mereka sedang duduk melingkar dan merencanakan sesuatu. Sementara anggota yang lain berdiri tak jauh dari mereka.

''kita akan membereskannya malam ini juga" ujar Deidara sambil menyandarkan jagutnya di ke dua tangannya. Dia adalah salah satu orang kepercayaan The Joker dan dialah yang telah menganiaya Naruto. "akan ku bereskan dia dengan tanganku sendiri"

''apa rencanamu Deidara?" tanya Sasori.

Sasori berasil melarikan diri dari penjara dan meminta perlindungan terhadap Deidara serta bergabung dengan Red Oni.

"kita gunakan ini" sahut Deidara

"tongkat basball?" tanya Sasori

"kenapa tidak memakai handgun saja, Deidara?'' tanya Suigetsu

"itu akan menjadi lebih mudah kan" tambah Jugo.

"jangan, jika kita memakai itu maka polisi akan mudah melacak kita, tentu ini akan merepotkan boss kita nantinya" jelas Deidara "pakai ini, dan kita lakukan malam ini juga."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Naruto... bagaimana perasaanmu sekarang?"

"aku baik bro. kau jangan kawatir" jawab Naruto

"maafkan aku Naruto, jika saja aku dan Shikamaru tak meninggalkanmu waktu itu. maka kau tak akan tersiksa seperti ini" Kazuya mengepalkan tangannya di hadapannya dan menatap ke luar jendela rumah sakit, sedangkan Naruto masih tetap berbaring dengan infusnya. "ini salahku"

"jangan menyalahkan diri sendiri brother. yang sudah terjadi biarlah berlalu" ujar Naruto

Kazuya malah terdiam

"aku akan segera sehat bro." Naruto tersenyum mencoba untuk menenangkan Kazuya.

tak lama kemudian Shikamaru datang menjenguk, "aku bawakan bunga cempaka Naruto agar ruanganmu tetap segar. dengan ini kau dan Sakura akan nyaman" lalu Shikamaru menaruh rangkaian bunga itu di meja yang berada di antara ranjang Naruto dan Sakura. "kasihan Sakura, sampai saat ini dia belum sadar"

"Kazuya, kau sudah dari tadi di sini?" tanya Shikamaru

"sepulang sekolah aku langsung ke sini" sahut Kazuya

"kau baik-baik saja... Kazuya..." Shikamaru merasakan keanehan dari Kazuya sepertinya sahabatnya itu sangat marah karena terus menatap keluar jendela sambil mengepalkan tangan.

"aku tak apa-apa" Kazuya mulai tenang, dia tak mau membuat temannya kawatir. "nanti malam ayo kita keluar"

"kau mau kemana?" tanya Shikamaru

"temani aku minum"

"baiklah"

tak lama kemudian Sakura akhirnya sadar "aku di mana? Naruto... Naruto! kau di mana"

"Sakura-chan, aku ada di sampingmu. Sakura tenanglah"

"dokter! dokter! temanku sudah siuman" panggil Shikamaru keras kemudian dia dan Kazuya langsung menghampiri Sakura "Naruto disampingmu Sakura"

"jangan banyak bergerak Sakura" tambah Kazuya

"Sakura-chan, kau akhirnya siuman"

"Naruto..." Sakura malah meneteskan airmatanya dan tak lama kemudian dokter bersama beberapa susternya tiba.

"kalian mohon tunggu di luar, kami akan memeriksa keadaan pasien"

Kazuya dan shikamaru menunggu gelisah, selang beberapa menit Dokter akhirnya keluar.

"bagaimana dok?" tanya Shikamaru

"teman kalian sudah ada kemajuan, dia akan segera sembuh karena lukanya tak separah suaminya" kemudian dokter itu meninggalkan mereka.

mendengar itu semua Shikamaru dan Kazuya akhirnya bisa bernafas lega.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"hey... Shikamaru... ini minum lagi" Kazuya menyodorkan satu kendi arak.

"baiklah... hey... pelayan kau tuangkan untukku" pelayan itu menuangkan araknya ke cangkir Shikamaru "hey... kau cantik juga ya... tapi tak secantik Ino. Hik ha.. ha... istriku cantik kan.. huk! Kazuya... Hik!"

pelayan itu hanya tersenyum lembut.

"hey... ambilkan arak lagi" Kazuya menambah porsi araknya "ha..ha... hukk! Shikamaru... kau payah. ayo kita minum sam..pai... mabukk... hukk."

meraka minum di kedai kecil pinggiran kota. mereka sudah mabuk berat dan mereka berdua hampir menghabiskan sampai tiga kendi arak.

"Shikamaru... makan daging ini.."

"daging apaan ini..." Shikamaru samar-samar melihat daging itu

"itu... hikk. itu kikil kambing... huk.."

"ha.. ha.. huk huk. kau memberiku kikil" lalu Shikamaru melemparnya ke belakang.

"maaf tuan-tuan kami akan segera tutup" seru pemilik kedai tersebut.

"oh.." Kazuya lalu mengeluarkan sejumlah uang dan menaruhnya di atas meja "ayo kita pergi Shikamaru"

"baiklah..." sahut shikamaru

"maaf tuan, uangnya terlalu banyak"

"kau ambil saja"

''terima kasih tuan, kami tunggu kunjungannya lagi" kemudian pemilik kedai itu bergegas menutup kedainya.

saat itu sudah tengah malam, Kazuya dan shikamaru berjalan sempoyongan entah kemana dan berhenti tepat di pertigaan.

"dimana... hikk! jalan pulang?" ucap Kazuya

"kesana ... Hukk! Kazuya... ini jalannya" Shikamaru berjalan meninggalkan Kazuya ke arah kiri. sempoyongan.

"bukan... hukk. huukk" Kazuya lalu menarik kerah baju Shikamaru "ke sini... baru benar" Kazuya menariknya ke arah kiri, ke arah Shikamaru tadi berjalan.

mereka berdua melangkah sempoyongan sambil tertawa-tawa dan bercanda. belum jauh meraka melangkah tiba-tiba dihadang oleh segrombolan orang.

"hei.. apa... hukk! yang kalian inginkan?" tanya Kazuya "satu.. dua.. tiga... ah! satu ... epat."

"hey... kau mabuk Kazuya. mereka ada 10" ucap Sikamaru sambil sedikit membungkuk dan kedua tangannya tergelanting bebas di tubuhnya.

sebenarnya orang-orang yang menghadang mereka hanya berlima.

"Deidara! dia mengajak temannya" ucap Sasori

"kau mau apa?" tanya Shikamaru sambil menunjuk sempoyongan ke arah Deidara.

"habisi dia!" printah Deidara sambil menunjuk Shikamaru

"Baik"

anak buah Deidara langsung menyerang Shika lalu mendadak dihadang oleh Kazuya dan memegangi tongkat salah satu dari mereka "kau jangan macam-macam dengan kami" suasana mendadak tegang dan serius.

"kau jangan ikut campur" mendadak kepala Kazuya dipukul keras dengan tongkat lalu langsung roboh begitu saja ke tanah. sebelum mata Kazuya tertutup total dia sempat melihat Shikamaru di pukul sadis oleh mereka dan sempat melihat kepala temannya di injak dan di hantam dengan tongkat.

"cukup!" seru Deidara "kita segera buang tubuh mereka". Deidara dan anak buahnya membuang tubuh mereka ke sungai untuk menghilangkan jejak.

keduanya terhanyud oleh derasnya arus sungai dan entah kemana air akan membawa tubuh mereka.

"kita sudah menghilangkan bukti dan tanda pengenal mereka telah kami hilangkan"

"bagus Sasori" ucap Deidara. "ayo tinggalkan tempat ini"

tidak, mereka tak menghilangkan jejak. saat kejadian, mereka disaksikan oleh pemilik kedai yang kebetulan lewat di tempat kejadian. karena takut pemilik kedai itu tak mampu untuk menolong dan saat itu tak ada orang yang bisa dimintai tolong.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

pyang!

Hinata memecahkan piring saat ia beres-beres di meja makan malam itu.

"kau kenapa Hinata?"

"perasaanku buruk bu"

"kau istirahatlah dulu, biar ibu yang melanjutkannya" printah mertuanya

"baiklah bu"

belum Hinata melangkah tiba-tiba salah satu pelayan menghampiri dengan tergesa-gesa. "Nyonya! Nyonya Besar!"

"ada apa Obito?"

"tuan muda... "

"ada apa dengan suamiku" Hinata sangat kawatir

"tuan muda Nyonya... orang itu... dia bilang kalau tuan muda dicelakai dan.. dan.." Obito mengusap airmatanya "dan jasatnya di buang ke sungai" lalu dia merunduk.

"apa?" piring yang dipegang ibu Kazuya terlepas dan pecah. Hinata langsung sock dan terduduk lemas di lantai, dia menangis histeris. airmatanya tak henti-hentinya mengalir dan saat itu ayah Kazuya masih di luar negri.

Ibu Kazuya stres dan terduduk lemas di di kursi sambil memegang kepalanya "kau panggil orang itu" kemudian Obito segera memanggil pemilik kedai itu.

tak lama kemudian Obito membawa orang itu menghadap "ini orangnya nyonya"

"kau.. kau jangan bercanda kalau anakku telah mati. apa maumu, apakah uang?" ibu Kazuya terbawa emosi. sementara Hinata masih tetap menangis dan Obito merunduk sambil menyembunyikan airmatanya.

"nyonya aku melihatnya sendiri, mereka dibunuh oleh sekelompok orang dan jasatnya di buang ke sungai" jelas pemilik kedai itu.

"mereka?" lalu Ibu Kazuya menatapnya serius "berarti ada orang lain lagi?"

"benar nyonya, teman tuan muda yang berkuncir itu juga di celakai" jelasnya lagi

ibu Kazuya makin sock, dia tak sanggup harus memberi tau tetangganya dengan cara apa. "kau pulanglah dulu, dan bersiaplah untuk menjadi saksi".

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam itu juga di markas Deidara.

''Deidara! ada orang yang menyaksikan kita" ucap Jugo tergesa-gesa

"ah!" Deidara membanting korsinya "siapa dia?"

"pemilik kedai itu"

"sial! kita bereskan dia sekarang juga" perinatah Deidara

Deidara dan Jugo langsung melesat ke kedai orang itu. saat ini keberuntungan berada di pihak Deidara, di pertengahan perjalanan dia langsung menghentikan mobilnya, dia melihat pemilik kedai itu sedang berjalan kaki setelah dari kediaman Kazuya. kebetulan jalanan saat itu sepi. dengan sigap Deidara dan Jugo turun dari mobil lalu segera membunuh orang itu dengan cepat kemudian bergegas masuk mobil kembali dan pergi.

tehnik membunuh dari Deidara : saat itu Jugo memegang tangan pemilik kedai dengan erat membuatnya tak bisa bergerak. sementara Deidara menyumbat pemilik kedai itu dengan tanganya lalu menyayat lehernya hanya hitungan detik. mereka cukup pintar, mereka menggunakan sarung tangan saat membunuh jadi mereka tak meninggalkan bukti sedikitpun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

kringggg!

tlp rumah keluarga Nara berdering malam itu juga kemudian Ibu Shikamaru mengangkatnya yang kebetulan saat itu berada di samping tlp. "halo.."

Yoshino mendadak roboh setelah mendengar kabar lewat tlp. Shikaku yang saat itu berada dengannya langsung menghampirinya "kau kenapa?"

"Shikamaru.."

"kenapa anak kita?" tanya Shikaku lagi

"anak kita sudah meninggal" saat itu Yoshino sangat sock setelah mendengar berita itu dari Ibu Kazuya. Shikaku juga ikut sock dan stres berat, dia memegang kepala dengan kedua tangannya dan enggan bicara. Kediaman Nara mendadak sunyi, sementara Ino masih berada di rumah sakit menjaga Naruto dan Sakura.

ayah Kazuya yang diminta segera pulang oleh istrinya langsung kembali dari London dengan pesawat pribadinya. setibanya di rumah dia langsung menghampiri istrinya "Noi, kenapa anak kita?"

"anak kita telah di bunuh"

Reyment langsung terlutut lemas di lantai setelah mendengar berita itu dari istrinya, "aku telah gagal menjaga anak satu-satunya tuan Kiryu" Reyment merunduk sedih sementara Noi masih terduduk lemas di kursi dan Hinata masih saja tetap menangis.

Kediaman Kazuya dan Nara malam itu diliputi kesedihan dan kesunyian tak ada seorangpun yang enggak bicara, mereka mengalami sock yang berat.

Malam itu tak ada satupun yang tidur sampai matahari terbit dan menyongsong pagi.

"sebaiknya kita selidiki apa yang sebenarnya terjadi. kita minta bantuan Minato untuk menyelidikinya" Shikaku memecah keheningan "dan kita segera ke kediaman Kazuya untuk merundingkan hal ini" Shikaku mengajak istrinya.

To be continued