Unconditional Love

DISCLAIMER : Masashi K. I do not own Naruto

WARNING : AU, OOC (?), Typo(s), Abal, I don't own that pic, etc.

.

.

.

.

.

.

.

Just enjoy the story ^.^

Don't Like? Don't Read. Simple kan? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2 – Shimura Sai

[Sakura]

Aku sempat mengira akan kesulitan beradaptasi dengan tempat tinggalku yang sekarang ini. Jauh dari tanah kelahiranku dan juga Kakak tercintaku. Tapi semua berjalan dengan lancar, sejauh ini tidak ada hal yang bisa aku keluhkan. Udara di Konoha itu sejuk, meski perkotaan tapi masih jauh dari kata polusi. Dan yang paling menyenangkan lagi tinggal di Konoha membuatku bisa merasakan perbedaan berbagai musim, mulai musim hujan, musim gugur, dan musim salju. Tetapi meski begitu aku tetap mencintai dan merindukan tanah kelahiranku, Suna. Meski disana aku hanya bisa melihat hamparan pasir disetiap mata memandang, udara yang cukup panas, aku tetap lebih senang tinggal di Suna.

Tanpa terasa sudah hampir 2 bulan aku tinggal di Konoha. Dan mulai menjalani serangkaian rutinitas seorang mahasiswi pada umumnya. Bergelung dengan banyak tugas dari para dosen, buatku sangat menyenangkan. Pengetahuanku dibidang kedokteran juga semakin bertambah. Sejak awal tujuanku kemari memang meraih impianku menjadi seorang dokter. Aku bahkan rela hidup di kota asing dan jauh dari Kakakku, hanya demi meraih impianku itu. Aku tak mau hanya membebani kakakku yang sudah cukup banyak masalah karena ketiadaan kedua orang tua kami 2 tahun lalu. Itu adalah masa-masa terberat yang kami lalui.

Aku masih mengingat dengan jelas kejadian 1 minggu pasca kematian orang tua kami. Ada 3 orang lelaki berbadan besar datang kerumah, mengatakan jika ayah dan ibuku terlibat perjanjian hutang dengan pria itu. Waktu melihat rincian perjanjiannya kakakku terkejut bukan main, ayahku meminjam uang dengan jumlah yang tidak sedikit dan juga bunga yang besar pada rentenir itu.

Pria itu menjelaskan perihal sebab peminjaman uang itu. Ternyata perusahaan ayah ada di ambang kehancuran, ada salah seorang rekan kerja ayah yang melarikan dana yang telah disepakati untuk sebuah proyek. Karena ayah selaku ketua dari proyek tersebut, mau tidak mau ayah harus bertanggung jawab terhadap dana yang sudah di investasikan oleh pihak lain.

Saat itu kakak hanya bisa meminta pada rentenir itu untuk memberikan waktu mencicil hutang ayah padanya. Awalnya kakaku mencicil hutang itu dengan uang tabungan yang ada, tapi karena jumlah yang amat besar itu masih belum cukup untuk melunasinya. Aku dan kakakku benar-benar tidak siap menghadapi ini semua. Kakak akhirnya merelakan kuliahnya berhenti ditengah jalan dan memutuskan untuk mencari pekerjaan. Saat itu aku juga ingin berhenti sekolah saja namun kakak melarangku, ia ingin aku tetap melanjutkan sekolah yang hanya tinggal satu tahun lagi. Dia tidak mau jika sampai harus mengorbankan pendidikanku juga.

Pernah suatu ketika, kakak terlambat membayar cicilan hutang pada rentenir itu. Pria bertubuh besar itu datang kerumah dengan wajah merah padam. Memaki kakakku yang terlambat membayar cicilan hutang itu. Kakakku hanya bisa meminta maaf dan meminta tenggang waktu lagi.

"Aku sudah cukup sabar menghadapimu, Sasori! Kau bukan terlambat 1 hari, tapi 1 minggu! Dan itu berpengaruh pada kinerja perusahaanku!" teriaknya pada kakakku.

Kakak yang sedari tadi menunduk, mendongak balas menatap "Lalu apa lagi yang bisa kuminta selain waktu? Aku sedang mencari pekerjaan tambahan agar bisa mencicil hutang itu."

"Jual apa saja yang kau punya!" sahutnya tak mau kalah.

"Lihatlah disekelilingmu! Kalau ada barang yang menurutmu berharga, kau boleh mengambilnya." Kata kakakku sembari menunjuk disekitarannya.

Pria itu mendenguskan napas kesal. Lalu tatapnnya berhenti pada satu objek, dia menyeringai.

"Ah! Aku rasa kau masih punya barang berharga dirumahmu Sasori. Bahkan bisa melunasi setidaknya setengah dari hutangmu itu. oh...mungkin bisa lunas sepenuhnya."

Kakakku mengernyit. Ia nampak berpikir. "Barang apa maksudmu?"

Pria itu meraih salah satu fotoku dan kakakku bersama. "Gadis ini, pasti bernilai tinggi. Dia masih perawan kan?" katanya terkekeh.

Kakakku murka seketika saat tahu 'barang' yang dimaksud rentenir itu adalah aku. Lelaki itu bermaksud menjualku, menjadikanku PSK. Kakakku langsung menyerang membabi buta, tidak memberikan jeda sedikitpun pada rentenir itu melawan. Hingga babak belur dan jatuh tersungkur.

"Dengar baik-baik! Kalau kau berani berpikir laknat seperti itu lagi soal adikku. Aku tidak segan membunuh seluruh keluargamu! Aku tak peduli sekalipun pada akhirnya aku harus mendekam dipenjara!"

Aku begidik ngeri saat mengingat kejadian itu. untung saja aku sempat menghentikan kakakku, kalau tidak mungkin saat ini ia benar-benar sudah mendekam dipenjara karena menghilangkan nyawa orang. Setelah kejadian itu, kami memutuskan pergi dari rumah dan mencari tempat tinggal lain agar rentenir itu tak datang untuk sementara waktu.

Sungguh anugerah Tuhan, aku dan kakakku bisa bertahan saat itu, hingga akhirnya tiba hari kelulusanku. Aku melonjak girang saat salah satu sensei-ku mengatakan jika aku mendapat kesempatan untuk mengikuti tes di Universitas Konoha karena aku lulus dengan nilai terbaik disekolah.

"Ah ya ampun! Kenapa Asuma-sensei itu memberikan kita tugas begitu banyak, padahal kita baru di semester awal." Keluh gadis berambut blonde, yang sedang duduk disebelahku.

Aku terkikik. "Yah inilah perjuangan kita sebelum menjadi seorang dokter, Ino."

Dia mempoutkan bibirnya mendengar kataku. Ino Yamanaka, teman pertamaku kuliah di Universitas Konoha. Ayahnya seorang dokter psikolog yang cukup terkenal di Konoha. Menurutku pribadi, Ino lebih cocok menjadi seorang model ketimbang menjadi seorang dokter. Dia dianugerahi wajah cantik bak Barbie, tubuh langsing, juga tinggi yang semampai.

Meski enggan, Ino tetap kembali melanjutkan mengerjakan makalah tentang penyakit dalam, begitu pula denganku. Aku merasa nyaman berteman dengan Ino, meski keluarganya kaya Ino tak memandang rendah pada orang lain yang tidak sekaya dirinya.

Aku menyesap ocha yang ada di meja belajarku. Smartphoneku berdering, aku cepat-cepat meraihnya dan melihat siapa yang menelepon. Aku tersenyum saat tahu siapa yang meneleponku. Akasuna Sasori, Kakak tercintaku.

"Ya niisan?"

'Sedang apa?' tanyanya dari seberang sana.

Aku memutar tempat dudukku, "Mengerjakan tugas dengan teman. Niisan apa kabar? Niisan makan dengan benar kan?" tanyaku sedikit khawatir.

'Oh...aku baik. Jangan pikirkan aku. Tetap belajar yang baik disana ya? Jangan lupa makan yang sehat juga vitamin harus tetap diminum.'

"Hm, tentu."

Hening menyelimuti mereka.

"Niisan, aku merindukanmu." Tanpa terasa air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku memang benar-benar merindukan kakakku, meski hampir setiap hari kita saling bertelepon. Aku masih sulit membiasakan diri tanpa kakakku itu.

'Aku tahu, aku juga merindukanmu imouto. Bersabarlah, kalau ada kesempatan bagus. Aku akan menyusulmu kesana, oke?'

Aku mengangguk dan menggumamkan 'iya' mendengar jawaban kakakku. Setelah itu aku memutuskan hubungan telepon itu, Ino berjalan ke arahku memelukku dengan erat. Berusaha menenangkanku. Ino tahu segala cerita tentangku sebelum datang ke Konoha. Dan ia memahami perasaan rinduku itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

- oOo -

Hari ini aku kembali mendapat tugas membuat makalah tentang anatomi tubuh manusia, dan untuk memudahkan mendapat informasi yang lengkap aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Tugas kali ini berbeda, ini tugas individual jadi aku tidak lagi mengerjakannya dengan Ino.

Aku mengambil beberapa buku yang kuperlukan untuk membuat makalah. Kuedarkan pandanganku kesekitar, aku tak menyangka hari ini perpus begitu penuh. Mataku memicing melihat satu tempat duduk kosong, disebelah pemuda berkulit pucat itu.

"Eh...permisi, boleh aku duduk disini?" tanyaku menunjuk kursi kosong disebelahnya. Dia tampak sedikit terganggu dengan kedatanganku. Aku melihatnya mengangguk ragu.

"Terima kasih." Ucapku tersenyum.

Aku membaca buku yang tadi kubawa sambil sesekali melirik pemuda berkulit pucat disebelahku ini. Sejujurnya, aku tahu dia adalah teman sekelasku, namanya Shimura Sai. Hanya saja dia tak seperti mahasiswa lain yang berbaur satu sama lain. Dia selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Seperti sengaja menciptakan jarak dengan yang lain. Aku tak tahu apa penyebabnya. Menurut Ino, Sai itu anti-sosial, tapi entah mengapa aku tidak sependapat dengannya.

Aku mengernyit menyadari bahwa sedari tadi Sai sedang membuat sketsa gambar. Dia menggambar keadaan perpustakaan saat ini. Kuakui sketsanya sudah seperti pelukis profesional saja.

"Sketsamu bagus, Sai." Aku memuji dengan senyum diwajahku.

Dia sedikit tersentak mendengar pujianku, ia berusaha menutupi sketsa yang tadi ia buat.

"Uh...maaf aku tidak bermaksud mengganggumu. Hanya saja, bakatmu itu sangat disayangkan. Harusnya dengan bakat seperti itu, kau masuk fakultas kesenian." Ujarku panjang lebar.

Raut wajahnya yang tadi mengeras perlahan berubah melunak. Bahkan aku melihatnya membuat senyuman tipis diwajahnya. "Benarkah? Kau...berlebihan menilaiku." Sanggahnya.

Aku menggeleng cepat. "Sungguh, Sai. Tapi semua kembali pada keputusanmu yang pada akhirnya tetap memilih masuk fakultas kedokteran."

Sai menundukkan wajahnya, menatap sketsa-sketsanya, "Sebenarnya masuk fakultas kedokteran bukan mauku. Aku hanya tidak ingin mengecewakan ayahku."

Aku terkejut mendengar alasannya. Pantas saja Sai seperti menjaga jarak dengan yang lainnya. Dia juga tidak terlihat nyaman saat kuliah. Ternyata alasannya dia memang tak memiliki minat untuk masuk jurusan kedokteran, semua karena menghormati ayahnya semata.

Aku melihat ke arah luar jendela, hujan deras tengah mengguyur Konoha. Aku memeriksa tasku mencari payung. Aku merutuk dalam hati, aku lupa saat sarapan pagi tertinggal di meja makan. Aku mendesah, sepertinya aku tak punya pilihan lain selain menerjang hujan. Karena kalau tidak, Bos tempatku kerja part time bisa marah kalau sampai aku terlambat.

PUK!

Aku menghentikan langkahku yang tadinya akan menerjang hujan karena aku merasakan sebuah tepukan dibahuku. Aku menoleh dan mendapati Sai yang mencegahku.

"Sai?"

Dia terlihat membuka tasnya, mencari sesuatu didalamnya. Ternyata dia mengambil payung dan memberikannya padaku.

"Kau bisa sakit kalau menerjang hujan seperti itu. Bawa ini..." katanya sembari memberikan payung itu padaku.

"Tapi kau..."

Bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. "Tak apa. Sopir yang menjemputku selalu membawa payung."

Aku mengucapkan terima kasih padanya, lalu segera pergi ke tempat kerjaku sebelum aku benar-benar terlambat.

Arigatou Sai

.

.

.

.

.

.

.

.

.

- oOo -

To Be Continued

Author's Note:

Thanks buat yang udah review kemarin : Jamurlumutan462, Misshire, , k1ller, uchihaliaharuno.

Dan juga yang udah, fav maupun follow fic ini.