Jet Black © Betonkuatberkualitas
Park Jimin x Min Yongi
[MinYoon]
Pada saat masuk SMA, Jimin harus rela move on dari patah hatinya. Melihat putra sulung mereka yang makin hari makin seperti zombie, sang Ayah memutuskan untuk mengajak Jimin pergi ke shelter lainnya.
Tidak, bukan untuk mengadopsi malaikat lainnya, tetapi untuk menunjukkan kepada puteranya bahwa sepuluh tahun lebih hidup bersama Dante telah mengubah hidup anjing itu. Bahwa waktu yang telah dihabiskan bersama merupakan hal terindah yang Ayahnya yakini, pernah Dante alami. Jimin yang belum mau dan belum siap terpaksa menurur karena permintaan sang Ayah. Ogah-ogahan ia memakai pakaian serba hitam, masih berduka, istilahnya.
Shelter yang mereka kunjungi menampung tidak hanya anjing, tetapi juga kucing, bahkan Guniea Pig. Jimin tidak habis pikir, orang tidak waras mana yang membuang hewan lucu dan menggemaskan macam Guniea Pig?
Jimin datang sekali itu, melihat segala kegiatan yang dilakukan seorang voluntir. Jimin pernah berpikir untuk bergabung sebagai salah satu dari voluntir, tapi ia sadar. Jimin adalah pribadi yang mudah terikat dengan sekitarnya, apalagi dengan hewan. Jimin takut terlanjur sayang, yang kemudian tidak rela atau minimal patah hati lagi saat harus berpisah bila hewan-hewan di sana diadopsi. Bagus sih, sebenarnya, tapi Jimin jadi kesepian lagi. Karena itu, Jimin memilih untuk mengurungkan niatnya.
Tetapi, saat pemilik shelter menunjukkan bagian kandang kucing, Jimin tertarik pada seekor kucing serba hitam. Bulunya panjang, tidak seperti kucing domestik yang biasa ia temukan. Matanya kuning terang, dan sekarang sedang menutup rapat. Pemilik shelter bilang, dia kucing senior, individualis dan tidak mau berinteraksi dengan manusia. Waktu Jimin bertanya, pemilik shelter berkata bahwa umurnya sudah 12 tahun.
Jimin tertarik, sungguh. Tetapi tidak berani mengadopsi karena belum yakin apakah hatinya siap. Namun ia merasakan ada sesuatu di dalam kucing itu yang mirip dengan Dante. Jimin tidak tahu apa, tapi rasanya seperti menemukan Dante kembali, dalam wujud yang berbeda.
Ketika jam kunjung shelter berakhir, Jimin pun pulang. Dengan tangan hampa tanpa membawa kucing senior itu pulang. Tetapi apa yang terjadi keesokan harinya membuat keluarga Park terkejut. Jimin kembali ke shelter itu, tidak hanya sekali dua kali, hampir setiap hari selama satu minggu. Kadang membantu para voluntir, tapi lebih banyak menghabiskan waktu memandangi si kucing senior. Jimin tidak ragu unk mengoceh soal sekolah. Kadang membicarakan soal pelajaran. Bahkan soal cinta-cintaan antar temannya.
Hari-hari berlalu begitu cepat hingga akhirnya secara bulat Jimin memantapkan niat. Kucing senior itu dibawanya pulang. Dan untuk pertama kalinya sejak kucing itu menginjakkan kaki di shelter, ia mendengkur lembut atas usapan di leher yang Jimin berikan, membuat seluruh pengurus shelter secara literal bersorak gembira. Bagaimana tidak? Kucing itu sama sekali tidak membuka hati. Melirik saja tidak mau, dipegang saja lari. Walau ia cenderung diam, tenang dan penurut, tetapi kucing itu seolah sudah sakit hati dengan manusia yang mencampakannya.
Sang Ayah sebenarnya sedikit khawatir. Kucing itu sudah tua, bisa kapan saja pergi dari dunia. Tetapi jawaban Jimin membuat Ayahnya terenyuh.
"Dia berhak mendapat kesempatan kedua. Dia mempercayaiku, dan aku akan percaya padanya."
Kucing itu kini menjadi bagian dari keluarga Park. Tidak menjadi anggota keluaraga yang tertua tapi tidak juga menjadi yang termuda. Jimin memanggilnya Noa. Walau keluarganya lebih banyak memanggilnya "kakek".
Noa menunjukkan kasih sayangnya yang luar biasa pada keluarga Park, terutama Jimin. Noa tidak seperti kucing yang ia tahu. Noa lebih mirip anjing, kalau boleh Jimin bilang. Kucing jantan itu punya kebiasaan unik. Ia akan pergi ke kamar Jimin setiap pagi, naik ke kasur, kemudian menjilati sekujur tubuh Jimin dengan lidah kasarnya, sampai dia bangun.
Jimin sama sekali tidak keberatan. Toh kadang ketika hari Minggu datang dan Jimin ingin tidur lebih lama, Noa justru menyamankan diri di dekapan, mendengkur menenangkan sembari memejam mata. Dan Ibu serta adik laki-lakinya akan terkikik geli dari pintu karena pemandangan manis itu.
Jimin bahkan sering mengatakan bahwa bau Noa sangat mirip dengan bau anjing. Entah itu bau Dante atau bau anjinglainnya. Dan entah kenapa, Noa punya kebiasaan memandangi matahari terbenam lewat jendela dapur yang menghadap taman belakang keluarga Park, dimana pohon Cherry Blossom itu berdiri kokoh.
Ikatan antara mereka terus tumbuh sehingga Jimin dan Noa menjadi pasangan yang tidak dapat dipisahkan. Noa sebagai kucing juga suka jalan-jalan. Setelah dipasangi harness, taman dekat rumah akan menjadi spot favorit Noa untuk mengejar kupu-kupu. Ya, Jimin dan keluarga Park memberikan cinta yang membuat Noa menjadi muda kembali. Maka tidak ada alasan bagi Noa si Kucing Tua untuk tidak memberikan seutuhnya cinta yang tak harap kembali.
Memasuki semester dua, Jimin mulai melihat tanda-tanda penuaan kucing itu. Nafsu makannya menurun, tapi tidak drastis. Hanya yang biasanya makan satu hari tiga kali menjadi satu hari dua kali. Dan Noa lebih banyak diam di rumah, jarang mengejar hewan kecil semacan serangga atau mengejutkan burung lewat jendela.
Noa tidak lagi banyak aktif, menaiki tangga saja rasanya enggan. Membuat Jimin pada akhirnya harus kehilangan rutinitas dibangunkan kucing itu. Tetapi Noa masih menemani Jimin tiap sarapan, mendengarkan pemuda itu mengoceh karena dosen yang menyebalkan, bahkan menunggui di depan rumah sampai motor matic milik Jimin menghilang dari belokan gang.
Dan yang paling menyakitkan, Jimin jelas tahu ada perubahan cara bernapas Noa. Kucing itu terdengar sesak dan hidungnya jadi selalu berlendir. Jimin memeriksakannya ke dokter, dan dokter bilang, itu penyakit yang biasa diderita oleh seekor kucing senior.
Bagai mendapat sebuah bisikan Tuhan, Jimin berpindah tempat tidur. Yang awalnya di lantai dua, kini memilih tidur di sofa ruang keluarga. Beralaskan kasur tipis dan selimut tebal, Jimin menemani Noa selama tidurnya. Dan keluarga Park akan menemukan pemandangan dimana pemuda itu bergelung nyaman bersama si kucing senior.
Hari berganti menjadi bulan. Dan Jimin kini sudah semester tiga. Enam bulan lamanya Jimin tidur di ruang keluarga. Kadang, sang adik atau bahkan satu keluarga ikut bergabung. Sesekali sambil mengadakan acara movie marathon. Sebuah quality time yang bagi Noa si kucing menjadikannya peliharaan paling beruntung se dunia.
Dan tidak ada yang membuat hati Jimin patah untuk kedua kalinya ketika sang Ibu menelepon. Kala itu ia sudah hampir selesai kelas. Sekitar lima menit sebelum dosen mengakhiri. Ponselnya bergetar, beberapa missed call masuk, dan berakhir dengan sepatah pesan,
Jiminah, pulang dengan hati-hati. Jangan panik, jangan buru-buru. Tapi segera kemari karena Noa membutuhkanmu.
Maka Jimin tidak membuang waktu lagi ketika sang dosen pergi. Dipacunya motor matic kesayangan hingga batas kecepatan 80 km/jam. Tidak diindahkannya peringatan sang Ibu karena hatinya serasa remuk. Sesuatu jelas terjadi.
Dan begitu Jimin sampai di rumah, ruang keluarga sudah diisi oleh seluruh anggota keluarga, dan seorang dokter hewan langganan Jimin, dipanggil khsusus untuk memeriksa keadaan kucing yang sedang lemas.
Jimin duduk di samping sang dokter, dan dengan sigap, beliau menyerahkan Noa ke pangkuan Jimin dengan perlahan. Waktunya tidak banyak, mata Noa sesekali memejam, sesekali membuka, menatapi satu-satu anggota keluarga Park. Hingga satu jilatan terakhir di telapak Jimin, dan mata bulat kuning memesona itu pun menjadi kosong.
Bahu Jimin kembali bergetar. Rasa sakitnya sama seperti ditinggal Dante. Tapi kali ini, ada sepercik rasa lega. Mungkin Jimin lega karena pada akhirnya Noa tidak lagi kesakitan. Dan Jimin hanya mengangguk, menjawab mengiyakan ketika Ayah berkata bahwa Jimin sudah jadi owner yang baik, menjadikan Noa sebagai kucing nomor satu yang paling beruntung di dunia.
