Bukan Salahmu © Betonkuatberkualitas
Jung Hoseok x Park Jimin
Physicians! Hoseok x Patient! Jimin
[HopeMin]
Kamar tidur itu kini tampak berantakan. Seprai lepas dari kasurnya, bantal tergeletak di lantai dengan isi dakron yang teburai keluar. Sementara di beberapa tempat, barang pecah belah yang dulunya adalah asbak, vas bunga, gelas, bahkan cermin, pecah berantakan. Siapapun yang masuk ke dalam kamar itu mungkin akan berteriak terkejut karena isinya benar-benar hampir hancur.
Dan di tengah ruangan itu, Jimin duduk, meremas kedua lengannya sendiri erat-erat, seolah berusaha membenamkan dirinya dalam pelukan mematikan. Jimin tidak peduli lagi dengan rasa sakit dan perih pada kedua buku-buku tangannya yang sobek, bekas memukul cermin.
Kedua bola matanya basah, wajahnya kusut, nafasnya memburu. Sesekali ia menggeram marah, masih diselingi deguk akibat tangis.
'Ddrrrt ddrrt'
Ponsel pintar yang tergeletak dengan layar retak itu bergetar, menampilkan caller id "Hoseok hyung" dan sejumlah angka berderet di bawahnya. Jimin menoleh, tangan berlumur darahnya berusaha menggapai ponsel hitamnya yang berjarak tidak seberapa jauh.
Pandangannya kosong, tapi tidak ragu untuk menjawab panggilan itu.
"Yeoboseyo." Ucap Jimin lirih.
"Buka pintunya, Jiminie, ini hyung."
Jimin menggeleng, seolah Hoseok di seberang dapat melihatnya.
"Tidak, hyung.. Jangan..." Bisik Jimin parau.
"Jiminie, ini hyung. Tidak apa-apa." Kali ini Hoseok bicara dengan nada lembut yang meyakinkan.
"Pelan-pelan, ayo berdiri. Hati-hati, jangan sampai menginjak pecahan beling." Hoseok tahu Jimin mendengarkan, ia menuntun pemuda itu melalui suaranya.
Secara ajaib, Jimin menurut. Ia berdiri, berjalan gontai, walau abai dengan beberapa pecahan barang menancap di telapak kakinya. Mana peduli dia? Jimin sudah mati rasa.
'Cklek'
Hoseok mendesah lega saat wajah kusut berkantung mata gelap itu muncul. Hoseok tidak menunggu lama lagi untuk segera masuk. Pemuda itu menghela nafas berat saat melihat betapa kacaunya kamar tidur Jimin.
"Jiminie..." Panggilnya lembut.
Jimin menunduk, membiarkan poninya menutup hingga ke mata. Bahunya lalu bergetar kecil, dan deguk menyakitkan itu terdengar kembali.
"Maaf, hyung... Maaf..." Racaunya.
Salah satu tangan Jimin mencengkram tangan lainnya, menancapkan kuku yang sengaja tidak Jimin potong beberapa minggu, menggoresnya hingga terbentuk luka baru lainnya. Hoseok bertindak cepat, mencekal kedua pergelangan Jimin, beringsut membawa pemuda yang lebih kecil dalam pelukan sebelum ia dapat menyakiti dirinya lebih jauh lagi.
"Ssh.. Tidak apa-apa Jiminie.. Tidak apa-apa.. Maaf datangku terlambat.. Maaf.."
Jimin menggeleng di sela pelukann mereka,
"Salahku, hyung. Ini salahkuー"
"Bukan. Jiminie tidak salah. Jiminie anak baik karena sudah menghubungi hyung." Hoseok memotong.
Ya, Jimin tidak salah. Bukan salah Jimin yang tidak langsung menelepon Hoseok saat serangan cemasnya datang. Bukan salah Jimin yang tidak menahan diri untuk merusak segala perabotan. Bukan salah Jimin yang menuruti pikiran jahatnya untuk menggores lengannyaー
Hoseok buru-buru mendudukkan Jimin ke kasur, lalu dengan cepat mengambil kotak P3K yang selalu ia simpan di laci. Tentu, selain cakaran dari kuku Jimin, ada luka yang lebih lebar lagi terpampang jelas.
Panjangnya sekitar 8cm, menggores (yang Hoseok syukuri) tidak sampai ke nadi, tapi cukup dalam hingga darah masih mengucur keluar. Jimin hanya diam, memperhatikan Hoseok yang sibuk membersihkan luka, mengoles obat, dan memerban tangannya dengan pandangan kosong. Rasanya sama sekali tidak sakit. Atau baginya, tidak ada lagi rasa sakit yang bisa ia rasakan.
Kecuali yang tak kasat mata.
Entah kenapa rasa sakit yang itu jauh lebih terasa. Menyakitkan, menyesakkan. Padahal tidak ada wujudnya, tapi itu yang membuat Jimin jatuh kembali.
"Pusing?" Tanya Hoseok.
Jimin menggeleng bimbang, karena ia sendiri tidak tahu. Hoseok menghela nafas, mengusak pelan kepala Jimin. Pemuda itu berlutut di hadapan Jimin, menyatukan kedua tangan mungil itu dan menggenggamnya lembut.
"Kita ke kamar sebelah yuk?" Ajak Hoseok.
Jimin mengangguk lemah. Kini, badannya serasa lemas hingga Hoseok harus memapahnya. Hoseok bahkan tidak yakin kamar Jimin bisa ditinggali sekarang, maka dari itu, ia memilih untuk membawa Jimin ke kamar tamu di sebelah. Kamar sebelah tidak jauh beda tatanan perabotnya. Hanya, kamar tamu ini tidak se'ramai' kamar Jimin yang didekor dengan benda serba kuning favorit pemuda itu. Hoseok lalu memapah Jimin menuju kasur, pelan-pelan menidurkan laki-laki yang lebih muda dua tahun darinya itu.
"Hyung..." Panggil Jimin kecil, menarik lengan Hoseok yang tengah membalikkan badannya, entah sedang apa.
Hoseok menoleh ke belakang, lalu mengangguk paham. Maka setelah melepas kemeja merah kotak-kotaknya, menyisakan turtle neck hitam, Hoseok ikut merebahkan diri, menelusup ke balik selimut. Jimin, yang jauh lebih tenang kini menyamankan diri dalam pelukan Hoseok. Aroma citrus dari parfum yang digunakan Hoseok-lah sebabnya
"Hyungie.." Panggil Jimin lirih.
Hoseok hanya membalas dengan gumaman samar.
"Maaf. Karena membuat hyung meninggalkan Taehyung di tengah kencan." Bisik Jimin penuh rasa bersalah.
Hoseok menggeleng, menepuk-nepuk kembali punggung Jimin, perlahan menyeretnya dalam kantuk.
"Bodoh. Kau itu lebih penting dari apapun."
"Tapi hyung, aku hanya pasienmu. Kasihan Taehyung ditinggal begitu..."
Hoseok mendesis, mengisyaratkan pada Jimin untuk menutup bibir penuhnya. Hoseok tidak peduli, sebenarnya. Yang hatinya tahu, Jimin sudah punya posisinya sendiri.
'Cup'
"Aku akan lebih menyesal lagi kalau kehilangan Jiminie selamanya." Balas Hoseok mengecup sayang dahi Jimin.
Jimin berdebar, tentu saja. Senang saat Hoseok dengan gamblang menyebutkan bahwa ia adalah orang yang menjadi prioritas utamanya. Jimim tidak pernah merasa diprioritaskan sebegini tingginya. Bahkan, tidak dengan keluarga maupun orang terkasihnya, dulu.
"Hoseok hyung, hanya milikku.." Gumam Jimin.
Maka Hoseok memejam kasar. Lalu kembali membuka mata, menampakkan binar keyakinan seratus persen. Ia telah membulatkan keputusan.
"Ya. Hoseok hanya milik Jimin. Dan Jimin hanya milik Hoseok. Kita akan bersama selamanya. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, Jiminie." Balasnya pasti.
Lalu Hoseok merogoh saku, mengambil ponsel hitam keluaran terbarunya, mengetik pesan pada satu nama yang selama enam bulan ini sempat mengisi kekosongan hatinya.
'Mianhae, Taehyungah. Bukan salah Jimin, tapi salahku.' Batinnya
