Disclaimer: Vocaloid/ Utauloid/ Fansloid ©Yamaha Crypton Furure Media.

Story by Fumyrain


"Sudahlah, Lenka. Tidak usah dipikirkan," ujar Kaiko pada Lenka yang terlihat murung begitu mereka duduk di bangku kelas mereka.

"Nggak ku pikirkan, kok. Cuma…." Lenka menggantung akhir kalimatnya. Dia tersadar bahwa tidak ada kata yang patut dia ucapkan untuk menggambarkan perasaannya.

"Nah, kepikiran kan?" Kaiko menggerutu sebal. "Orang seperti dia tidak usah dipikirkan."

"Lagi pula apa-apaan responnya tadi?! Menyebalkan sekali," lanjutnya.

"Sudahlah Kaiko. Aku nggak apa-apa kok." Lenka tersenyum namun kedua alisnya berkerut.

"Hump!" Kaiko mendengus. Lenka tidak menjawab dan akhirnya obrolan mereka berakhir disitu.

Tidak lama guru datang. Pelajaran segera dimulai, dan Lenka berusaha terlihat bahwa dia baik-baik saja. Setidaknya sampai empat jam mendatang.


Rinto yang sedang duduk dibangku perpustakaan terlihat serius dengan smartphonenya. Ia melihat-lihat berita di internet apakah polisi sudah menemukan mayat yang Rinto tinggalkan di dekat sungai kemarin malam.

Namun dari senyum yang terpampang diwajahnya, sepertinya kau bisa tau jawaban apa yang tertera.

Polisi sudah menemukan mayat tersebut.

Dilihat dari mayat yang kehilangan kepala dan jantung pasti membuat orang yang pertama kali menemukannya menjadi ketakutan. Lalu berita menjadi tersebar dengan cepat. Namun sepertinya polisi masih belum mengetahui siapa pelakunya.

Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit lalu. Dan ketika istirahat, perpustakaan adalah yang paling dihindari –entah apa alasannya—

Rinto terlawa pelan. Kali ini tawa yang di perdengarkan seperti sedang mengejek.

Sesulit itukah?

Sesulit itukah sampai polisi tidak bisa menemukan siapa pelakunya?

Tentu saja, Rinto melakukan pembunuhan dengan perhitungan dan strategi yang matang. Bahkan sebelum para mafia menyewanya untuk membunuh.

Namun perhitungan Rinto tidak sedetail sampai menggunakan baju pelindung atau mencuci mayat dengan deterjen dan pemutih untuk menghilangkan jejak.

Tapi mereka masih tidak bisa menemukannya?

"Aha-ha-ha." Rinto sekuat tenaga menahan tawanya. Dinding perpustakaan tidak kedap suara dan pintu mempunyai celah yang cukup untuk memantulkan suara walaupun hanya sedikit.

Ah, dia lapar. Rinto tidak tau kalau menahan tawa itu bisa membuatnya merasa lapar juga.

Rinto beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju kantin dilantai satu. Sepanjang jalan ada saja siswi yang genit menyapa Rinto dijalan, namun dengan santainya Rinto membalas sapaan mereka.

Di kantin Rinto hanya membeli minuman dan sate seafood biasa. Hari ini dia begitu lelah. Sebisa mungkin dia menghindari kontak dengan teman-temannya untuk sekedar beristirahat dan kembali menuju perpustakaan –satu-satunya tempat yang damai dan tenang—

Ketika hendak menaiki tangga, lagi-lagi seseorang memanggilnya.

"Kagamine-san." Dia Megurine Luka, wali kelas Rinto.

"Ya, Luka-sensei?"

"Kamu nih, sensei tungguin dari tadi gak datang-datang. Memangnya kamu gak dibilangin sama Mikuo?"

Rinto mengerutkan kening. "Enggak tuh, Sei."

"Ya ampun, benar-benar."

"Memangnya ada apa, Sei?" tanya Rinto.

"Tolong bantu pindahkan dokumen yang ada diruang guru. Kamu lama banget datangnya sampai Sensei minta tolong anak kelas satu," gerutu Luka.

Kalau begitu kenapa tadi tidak minta bantuan Mikuo saja?

"Ya sudah, kamu bantu dia dulu. Sensei ada keperluan sebentar," pamit Luka. "Maaf merepotkan ya, Rinto."

"Iya, gak apa-apa kok, Sei."

Sepeninggal Luka, Rinto langsung menuju keruang guru yang ada diujung gedung SMA berbatasan dengan lorong gedung SMP.

"Permisi." Rinto membuka pintu ruang guru perlahan. Ruang guru kosong. Tidak ada guru dan hanya terisa satu murid yang sedang mengepak-ngepak dokumen di belakang.

"Permisi, boleh aku membantu?" ujar Rinto.

Murid yang tadinya sibuk kini mengalihkan pandangannya dan menatap sosok yang tadi bersuara.

"Heeh, Rinto-senpai?" ujar gadis itu.

"Ah, kamu!" seru Rinto.

Lenka menjadi salah tingkah. Dia mengerjapkan mata dan menundukkan kepalanya. Lalu kembali mengepak-ngepak dokumen kedalam kardus dengan terburu-buru. Rinto asik menghabiskan minumannya walau juga sedikit terburu-buru.

Setelah minumannya habis, Rinto berjalan ke arah tempat sampah dan membuang plastiknya. Dari suara langkahnya, Lenka tau Rinto pergi menjauh. Entah mengapa, jantung Lenka yang berdetak cepat mulai kembali ke ritme normal. Namun ketika Rinto kembali mendekat jantung Lenka kembali berdetak cepat.

Rinto menyodorkan plasik berisi sate seafood ke arah Lenka. "Mau?"

Lenka bertambah salah tingkah. "Eh-eh, nggak usah Rinto-senpai. Aku nggak lapar."

"Gak apa-apa, kok. Ini juga masih banyak. Yakin gak mau?"

"Iya, yakin."

"Cicip aja satu." Rinto masih tidak menyerah. Dia membuka plastik seafoodnya dan memberikan satu tusuk kepada Lenka.

"Un, arigato." Akhirnya, Lenka menyerah dan menerima satu tusuk seafood dari Rinto.

Lenka menundukkan kepala dan memakannya dengan perlahan. Entah mengapa, seafood yang biasanya terasa amis itu kini menjadi enak.

Rinto memakan satenya dengan cepat. Asal memasukkannya kedalam mulut dan membuang plastiknya ketempat sampah.

Dengan mulut masih penuh dengan daging seafood, Rinto segera kembali kesamping Lenka dan ikut berlutut.

"Ini semua udah selesai? Mau dibawa kemana?" tanya Rinto. Mulutnya yang masih penuh sate seafood membuat suaranya sedikit tidak jelas. Disisi lain, Lenka berusaha mati-matian untuk menahan tawanya.

"Udah selesai. Ini ditaruh di atas loker."

"Oke."

Rinto mulai mengangkat kardusnya satu persatu sedangkan Lenka kembali melanjutkan sisa pekerjaannya.

Huh, berat! seru Rinto membatin.

Satu kardus selesai. Namun masih ada empat kardus lagi. Totalnya lima jika ditambah dengan yang sedang Lenka kerjakan.

Ketika Lenka selesai dengan pekerjaannya, Rinto pun demikian. Lalu Rinto memindahkan satu kardus terakhir dari Lenka dan kini pekerjaan mereka selesai.

"Hah." Rinto menghela napas.

"Barat ya, Kak?"

"Iya." Rinto mengusap dahinya yang banjir keringat dengan lengan seragam, walau seragamnya tidak bisa menyerap keringat dengan baik.

"Ah, aku belum tau, namamu siapa? Lalu anak kelas berapa?"

"Lenka. Dari kelas 1-A." Jantung Lenka kembali berdetak kencang. Rinto-senpai… bertanya kelasku?! batin Lenka kesenangan.

"Ah…." Rinto mengangguk.

"…."

Atmosfer berubah panas. Mereka berdua merasa tidak nyaman. Dan Rinto terlalu lelah jika harus kembali ke kelas sekarang.

Melihat mimic wajah Lenka, Rinto tau Lenka memendam sesuatu.

"Ada yang mau kamu omongin?" tanya Rinto.

"Ah, tidak kok."

"Hm?" Rinto semakin menatap lekat kearah Lenka.

"Ah, ano…." Lenka salah tingkah. Dalam hati dia merasa tidak yakin.

"Katakan saja. Tidak apa-apa."

Lenka berusaha mengumpulkan keberaniannya. Lalu setelah Lenka merasa yakin dia bertanya dengan suara pelan, "Tadi pagi, apa maksud senpai dengan sudah tau kalau aku suka sama kakak?"

Jantung Lenka tidak karuan sekarang. Sedikit merasa bersalah. Apa sebaiknya tidak aku tanyakan tadi?

"Hehe." Rinto bangkit.

Ia mendekati Lenka yang bersandar di tembok. Lenka bertambah salah tingkah. Rinto tersenyum.

"Kamu mau tau?"

"Eeh, g-gak usah dijawab juga gak apa-apa."

Sungguh, apakah ini salah satu adegan dalam novel yang terjadi pada Lenka?

Senyum Rinto bertambah lebar. Dia semakin mendekati Lenka dan mendekatkan bibirnya ke telinga Lenka.

Oh my god-oh my god-oh my god!

Lenka menjerit dalam hati. Entah senang atau ketakutan.

"Sayang sekali…." Rinto menggantung kalimatnya. "Bel berbunyi sebentar lagi." Rinto menjauhkan wajahnya dari Lenka, menyisakan beberapa centi.

Rinto kembali tersenyum manis dan menatap Lenka. Tidak lama bel benar-benar berbunyi.

"Tuh kan."

Ekspresi wajah Lenka mengeras. Sedikit merasa kecewa.

"Haha, ke kelas duluan ya."

Lalu Rinto berlalu pergi.

Didalam ruang guru, Lenka berteriak dalam hati.

Apa-apaan ituu?!

Merasa diphp-in, Lenka cemberut. Namun mengingat wajah Rinto-senpai yang… uhh, Lenka menjadi tersenyum.

Ini, adalah memori berharga untuknya.


TBC


Fumy's Storieh

padahal niatnya buat hadiah ulang tahun kenapa malah gini ya X'D

maaf ch. ini ngebosenin. kalau aku tafsirkan sih, fic ini bisa sampe 16 ch. lebih (kayaknya) soalnya bakal banyak konflik yang dibahas disini. tapi aku bakal berusaha bikin yang singkat kok. biar gak bosen juga bacanya X'D

yah seperti yang kalian lihat, saya lagi-lagi ganti penname. gomen Kalau banyak dari kalian yang bingung. silahkan panggil saya labil. tapi saya lagi suka nama Fumy :v lagi pula itu juga singkatan dari Fujimura Inoue.

doakan saja biar jodoh sama penname yang ini dan gak bakal gonta-ganti lagi XD

sedikit balas review deh.

buat mbak Milky Holmes masama mbaaak. haha gomen, sudah kuganti kalimatnya kok. dan masalah tangan dikepal itu saya kalo ketawa biasanya ketawa sambil nutup mulut pakai telapak tangan atau dengan tangan dikepal. tapi kalau lagi gatau diri sih ketawa lebar kek orang gila:v

untuk yang lainnya, TERIMA KASIIIH. cuma itu yang bisa saya bilang. see yu next chap!