Mungkin Junhui benar, hidup Mingyu terlalu monoton. Tapi semenjak ia melihat Wonwoo di suatu café siang itu, ia yakin bahwa hidupnya akan jauh lebih menarik mulai saat ini.


"Gyu, kau ada acara tidak malam ini?"

Junhui bertanya random siang itu dengan mata masih terfokus pada berkas di tangannya.

"Gyu?"

Junhui kembali bersuara saat orang yang ia tanya tak kunjung menjawab. Junhui mengangkat kepalanya, memandang seorang laki-laki berkemeja putih dengan sebuah kacamata bertengger di wajahnya. Junhui mendengus sebal, dengan suara lebih keras kembali mencoba mengalihkan perhatian laki-laki di seberang ruangan.

"Kim Mingyu-ssi?"

Mingyu mengangkat kepalanya enggan, dengan pandangan bertanya memandang Junhui yang kini tampak memutar matanya jengah.

"Kau tahu, tingkat konsentrasimu pada layar komputer sudah mulai mengkhawatirkan."

Junhui bicara santai sambil berjalan ke arah Mingyu dengan setumpuk berkas di kedua tangannya.

"Sudah kuperiksa, tinggal ditandatangani."

Mingyu mengangguk, dengan segera kembali membaca sekilas berkas-berkas yang Junhui berikan kemudian membubuhkan tandatangan di atas kertas-kertas itu.

"Kau ada acara malam nanti?"

Junhui kembali bertanya, pertanyaan yang sama.

"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan nanti malam."

Mingyu menjawab seadanya, matanya masih terus fokus pada beberapa kertas penuh tulisan di hadapannya. Junhui mengambil nafas pelan, dengan lembut menyentuh bahu kanan Mingyu.

"Kau tahu Gyu, kau tidak harus bekerja sepanjang waktu seperti ini. Kau harus bersenang-senang setidaknya sekali dalam seminggu."

Junhui bicara dengan pandangan tak lepas dari laki-laki di hadapannya. Mereka berteman, bisa dikatakan akrab. Sekalipun posisi mereka dalam pekerjaan adalah sebagai atasan dan bawahan namun mereka berteman.

"Kalau kau mau mengajakku ke club atau semacamnya aku tidak tertarik. Pekerjaanku lebih penting ketimbang hanya pergi ke tempat berisik seperti itu."

Mingyu akhirnya bersuara, sejenak membalas tatapan yang Junhui berikan padanya sebelum kembali sibuk sendiri.

"Kalau begitu tidak perlu pergi ke club. Bagaimana kalau kita makan daging di luar? Sudah lama kita tidak makan bersama, aku traktir."

Junhui kembali mencoba membujuk sang sahabat. Mingyu terlalu gila kerja dan Junhui khawatir dengan mental sang sahabat jika ia terlalu masuk dalam pekerjaannya.

"Tidak."

Mingyu menjawab singkat, sekarang secara penuh memusatkan perhatiannya pada Junhui.

"Aku baik-baik saja, aku tidak stress dan aku menikmati semua ini. Mungkin banyak orang berpikir bahwa aku terlalu gila kerja dan aku yakin kau juga berpikiran seperti itu. Tapi aku baik-baik saja, aku juga bersenang-senang. Dengan caraku sendiri."

Mingyu tersenyum simpul, mencoba meyakinkan Junhui bahwa ia baik. Ia menikmati kesendiriannya, kesibukkannya karena mengurus bertumpuk-tumpuk kertas yang tampak tak pernah habis tiap harinya. Ia suka bekerja karena itu memang sudah passionnya.

"Tapi tetap saja, harusnya kau keluar sekali-kali. Melihat dunia, bukan hanya duduk diam dalam ruanganmu sampai berjam-jam. Cobalah berkencan atau paling tidak temuilah seseorang."

Junhui berhenti sejenak, tatapannya beralih pada sebuah metronome berwarna coklat tua di atas meja kerja Mingyu.

"Hidupmu terlalu teratur, seperti metronome ini."

Tangan Junhui menyentuh benda itu pelan.

"Aku pergi dulu, kalau kau berubah pikiran hubungi saja aku. See you bro."

Lalu Junhui pergi, menghilang tanpa suara di balik pintu ruangan Mingyu. Migyu terdiam setelahnya, apa hidupnya sedatar itu?

XX

"Jadi status kalian saat ini adalah…"

"Kekasih. Sepasang kekasih."

Junhui menjawab mantap, tangannya dengan erat menggegam milik Minghao yang kini tampak menunduk malu-malu karena jawaban yang Junhui berikan pada Mingyu. Mingyu mengerutkan dahinya bingung.

"Kekasih? Tapi bukankah kalian-"

"Apa?"

Junhui memotong perkataan Mingyu begitu saja.

"Dulu Minghao memang Sugar Babyku, tapi sekarang kami sepasang kekasih. Karena itu aku mengenalkanmu padanya secara resmi seperti ini. Dia benar-benar milikku sekarang."

Junhui makin mengeratkan genggamannya pada Minghao, menatap sayang pada laki-laki berwajah polos di sampingnya. Minghaopun sama, dengan wajah agak merona ia balas menatap Junhui tak kalah sayang. Mingyu terdiam, tanpa sadar ikut tersenyum melihat interaksi di antara keduanya.

"Aku turut bahagia kalau begitu."

Mingyu bicara kalem, dengan gerakan pelan menyesap minuman di hadapannya.

"Aku harap kau bersabar menghadapi tingkah sahabatku ini Minghao-ssi, dia agak liar 'kan kau tahu."

Minghao hanya mengangguk pelan mengiyakan, balas memandang Mingyu dengan pandangan 'aku-tahu-itu.'

"Ya, aku baru resmi memilikinya dan kau sudah berniat menjadi peretak hubungan kami begitu?

Mingyu hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.

"Jangan bersikap berlebihan Jun, setidaknya kau harus menjaga wibawa di depan kekasihmu."

Mingyu membalas santai, tak memperdulikan tatapan membunuh yang Junhui layangkan padanya.

"Urus saja hidupmu sendiri, setidaknya aku sudah punya seseorang dan kau belum."

Mingyu mendengus malas, bosan akan topik mengenai tak-punya-pasangan yang selalu Junhui gunakan sebagai senjata saat mereka berdua tengah berdebat.

"Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, cobalah untuk berkencan sekali-kali. Biar kutanya, kapan terakhir kau keluar bersama seseorang? Kapan kau pergi ke klub untuk sekedar menghilangkan penat bekerja?"

Junhui bertanya serius. Ia mulai khawatir dengan kisah percintaan Mingyu yang dirasanya mulai tampak datar dan terlalu membosankan. Mingyu tampan dan Junhui yakin sekalipun hanya dengan satu seringai tipis di wajahnya Mingyu dapat membuat siapapun di luar terpesona oleh kharismanya. Mingyu hanya diam, terlihat sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan yang tengah Junhui coba bangun di antara keduanya. Junhui menghela nafas lelah, ia bahkan mulai lupa dengan keberadaan Minghao karena terlalu fokus pada laki-laki lajang di hadapannya.

"Begini saja."

Junhui mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat rapi kedua tangannya menempel dada.

"Kapan terakhir kali kau berdebar karena seseorang?"

Mingyu mengerutkan dahinya kurang paham. Berdebar?

"Kapan terakhir kali kau merasakan jantungmu berdebar tidak normal saat matamu bersitatap dengan milik seseorang?"

Kerutan pada dahi Mingyu makin dalam.

"Biar kuperjelas lagi Kim Mingyu. Kapan terakhir kali kau merasa begitu bergairah?"

Minghao tersedak minumannya sediri saat telinganya menangkap perkataan frontal yang Junhui ajukan pada Mingyu. Diam-diam Minghao merona, ia tidak akan pernah terbiasa dengan semua perkataan tanpa tudung aling-aling Junhui.

"Jadi…apa maksud semua obrolanmu ini kalau aku boleh tahu, Wen Junhui?"

Junhui kembali memundurkan tubuhnya, menyenderkan punggungnya santai di sandaran kursi dengan tangan merangkul erat bahu Minghao.

"Selama ini kau hanya berkencan secara random, teman kencanmu kebanyakan tidak jelas. Kau hanya bertemu mereka sekali, keluar untuk pergi minum lalu setelahnya berakhir begitu saja. Kau tidak pernah terlibat dalam hubungan serius selama ini. Kau sudah hampir 26 tahun, tidakkah kau berpikir bahwa pada usiamu yang sekarang kau harus mulai mencari seseorang? Seseorang yang benar-benar seseorang?"

Mingyu membisu dengan pandangan lurus pada Junhui, ia diam dengan ekspresi tak terartikan.

"Kau juga punya pola hubungan yang sama denganku."

Mingyu menjawab setelah hening di antara ketiganya.

"Dulu, tapi tidak lagi. Aku sudah punya Minghao sekarang, aku yakin aku tidak akan pernah bersama yang lain lagi setelah ini."

Junhui menatap Minghao sekilas sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Mingyu.

"Akan aku pikirkan."

Mingyu berdiri dari duduknya, dengan langkah pelan mulai menjauh dari Junhui dan Minghao yang masih betah duduk berdua di meja mereka.

"Kau tidak berniat mengencani seorang Sugar Baby?"

Mingyu berhenti berjalan, dengan enggan memutar kepalanya menghadap Junhui.

"Kau bisa membayar seseorang untuk kau ajak kencan, sekedar bersenang-senang. Melepas bosan, uang bukan hal berat bukan untukmu? Kau bisa mencobanya, siapa tahu kau beruntung dan menemukan pasanganmu sepertiku."

Junhui tersenyum genit pada Minghao yang masih saja malu tiap kali Junhui menggodanya.

"Kita lihat saja nanti. Sampai bertemu di kantor besok."

Mingyu kembali berjalan menjauh dari mejanya, dengan sebuah seringaian tipis di wajah tampannya.

"Lagipula aku sudah punya seseorang."

XX

"Dunia ini sudah benar-benar gila."

Jihoon tiba-tiba datang menghampiri Wonwoo di taman belakang kampus saat itu dengan wajah bersungut-sungut. Wonwoo hanya diam memperhatikan Jihoon yang masih saja melanjutkan omelan tidak jelasnya, membuat Wonwoo bertanya-tanya apakah yang membuat Jihoon setidak jelas ini.

"Dia sudah gila."

Jihoon kembali bergumam, dengan wajah kesal meneguk asal jus jeruk milik Wonwoo yang tampak menganggur di depannya. Wonwoo memandang Jihoon datar, dengan sekali pukul berhasil membuat Jihoon mengaduh sambil memegangi pucuk kepalanya yang terkena pukulan sayang Wonwoo.

"Datang sambil menggerutu tidak jelas kemudian dengan seenaknya meminum minuman orang. Ada apa denganmu sebenarnya?"

Wonwoo bertanya pada akhirnya, tangan kanannya dengan sigap merebut botol dengan isi tinggal separuh dari tangan Jihoon. Jihoon hanya bisa merengut, dengan wajah cemberut mulai memusatkan perhatiannya pada Wonwoo.

"Jiyong menawariku! Bayangkan Woo dia berani-beraninya mengajakku!"

Jihoon bicara dengan berapi-api. Wajahnya sampai memerah, mungkin menahan emosi. Wonwoo semakin dibuat bingung karenanya.

"Dan bolehkah aku tahu kenapa kau bisa terlihat semarah ini? Memang apa yang Jiyong tawarkan padamu?"

Jihoon melebarkan matanya lucu, mencoba menatap Wonwoo sebisanya. Wonwoo ingin tertawa rasanya, Jihoon malah terlihat menggemaskan kalau ekspresinya seperti ini.

"Dia menawariku untuk menjadi Sugar Baby bagi teman Daddy-nya. Bayangkan Woo, DIA MENAWARIKU UNTUK MENJADI SIMPANAN AHJUSSI!"

Wonwoo kembali mengerutkan dahinya tak mengerti, hanya karena itu? Hanya karena masalah seperti ini Jihoon jadi semarah ini?

"Jangan memandangku seperti, ini bukan masalah sepele kau tahu. Ini menyangkut harga diriku! Dia pikir aku begitu kekurangan uang apa sampai harus menjadi simpanan seperti itu?!"

Jihoon kembali bicara dengan emosi meluap-luap. Wonwoo menggelengkan kepalanya maklum, wajar Jihoon marah. Dia paling anti pada segala hal berbau Sugar Baby seperti ini.

"Sudahlah, kau tinggal menolak tawarannya. Setelah itu selesai, kau tidak perlu sehisteris ini Hoon."

Jihoon masih saja cemberut, dengan wajah tidak terima mulai melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tetap saja. Aku benci, dia menawariku untuk menjadi seorang Sugar Baby seperti seorang sales menawarkan peralatan rumah tangga. Aku tahu banyak teman kita di kampus yang sudah 'terjerumus' dan menjadi simpanan para laki-laki ber uang itu, tapi tetap saja. Aku risih."

Wonwoo hanya bisa tersenyum, dengan gerakan pelan mengusap helaian lembut rambut Jihoon.

"Jangan marah-marah terus, kau akan cepat tua kalau memasang ekspresi merengut seperti itu. Lupakan saja. Kau ini, selalu saja bersikap berlebihan jika menyangkut hal-hal semacam ini. Kau harus mulai mengubah pola pikirmu Hoon, menjadi Sugar Baby aku rasa tidak seburuk itu. Mereka hanya dibayar untuk kencan biasa, makan, menonton film. Hanya hal itu-itu saja, bukan sesuatu macam seks seperti yang selama ini kau pikirkan."

Wonwoo bicara bijak, pandangan kembali terarah pada note di tangannya. Ia sampai melupakan tujuan awalnya kemari karena Jihoon. Ia harus menyelesaikan esainya segera.

"Tapi tetap saja mereka 'dibayar'. Orang-orang sejenis Jiyong akan selalu negatif bagiku, selalu."

Wonwoo hanya mengedikkan bahunya sekilas, mencoba tidak terlalu peduli dengan pemikiran Jihoon. Ia terus sibuk dengan kegiatannya, meninggalkan Jihoon yang kini tampak tenggelam lamunan.

"Kalau kau yang ada di posisiku…"

Jihoon tiba-tiba bersuara memecah keheningan di antara keduanya. Wonwoo mendongak pelan, memandang Jihoon yang kini juga balas memandangnya.

"Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menerima tawarannya?"

Wonwoo terdiam, tampak berpikir.

"Mungkin."

Wonwoo menjawab santai sambil meletakkan note dan pensil di tangannya ke atas rumput.

"Jika aku sedang terlilit hutang dan tidak ada jalan lain selainnya menjadi 'kekasih bayaran' laki-laki berdompet tebal diluar sana untuk melunasi hutangku. Kau hanya perlu pergi kencan biasa, apa yang harus dikhawatirkan?"

Jihoon membelalak tak percaya, dengab reflek memukul lengan atas Wonwoo penuh tenaga.

"Hei aku serius!"

Jihoon berteriak setelahnya dan Wonwoo hanya bisa meringis menahan perih yang terasa di kulitnya.

"Aku hanya bercanda Hoon! Yaampun kau tidak perlu memukulku sampai seperti ini. Kalau pukulanmu membekas bagaimana?!"

Wonwoo bertanya sewot, tangan kanannya sibuk mengusap-usap bekas pukulan Jihoon barusan. Jihoon memasang wajah bersalah, perlahan ikut mengusap-usap lengan Wonwoo dengan lembut.

"Aku reflek! Lagipula siapa suruh kau menjawab dengan jawaban mengerikan seperti itu? Aku tidak mau kalau kau sampai terjerumus seperti yang lain."

Wonwoo hanya bisa menahan panas di lengannya, Jihoon benar-benar mengerikan.

"Kau tahu aku, aku tidak mungkin melakukan hal-hal semacam itu hanya demi uang."

Jihoon memasang wajah makin bersalah.

"Maaf, tidak sengaja."

Wonwoo menghembuskan nafas pelan, tersenyum simpul pada Jihoon kemudian.

"Tak apa. Omong-omong, Seungkwan kemana?"

Jihoon menggeleng kecil sebagai jawaban.

"Dia hilang dibawa pria campuran itu."

"Hah?"

Wonwoo bertanya tak mengerti. Jihoon hanya diam, terlihat enggan menjelaskan maksud perkataannya pada Wonwoo.

"Tadi kami berjalan bersama dari kantin menuju kemari sebelum si Hansol itu datang dan menyeret Seungkwan secara paksa entah kemana. Dia datang secara tiba-tiba saat aku dan Seungkwan sedang melintasi parkiran samping kampus. Seungkwan kelihatan terkejut dan menolak saat tangannya dipegang paksa oleh Hansol. Entahlah, aku kurang paham dengan apa yang terjadi di antara mereka. Tapi yang pasti, Hansol sedang dalam mood yang buruk menurutku. Wajahnya mengerikan."

Wonwoo mengangguk-anggukan kepalanya, mencoba memahami situasi yang baru Jihoon jelaskan padanya. Seungkwan sudah memutuskan untuk mengakhiri perjanjian dengan Hansol minggu lalu. Jadi kenapa laki-laki itu masih bersikap seperti itu pada Seungkwan? Apa ia tidak rela kalau Seungkwan pergi begitu saja?

"Hah sudah kuduga, Seungkwan tidak mungkin bisa lepas begitu saja dari laki-laki kaya arogan seperti Hansol. Laki-laki macam Hansol selalu seperti itu, tidak mau melepaskan sesuatu yang ia anggap miliknya. Memang harusnya dari awal Seungkwan tidak perlu melakukan perjanjian konyol itu dengan Hansol."

Jihoon bicara sok tahu, dengan santai meminum kembali jus Wonwoo yang tergeletak menganggur di dekatnya. Wonwoo hanya memandangnya biasa, matanya menerawang memikirkan sesuatu yang bahkan bagi dirinya sendiri terlalu rumit untuk bisa dijelaskan. Kenapa ia merasa bahwa sesuatu yang kurang menyenangkan akan menimpanya?

XX

"Hei Jun, bagaimana kau bertemu dengan Minghao?"

Jun menolehkan kepalanya pelan, dengan pandangan bertanya memandang Mingyu yang kini tengah melepas kacamata yang bertengger di wajahnya.

"Minghao?"

Junhui bermonolog, mengingat-ingat bagaimana pertemuan awalnya dengan Minghao 7 bulan lalu.

"Hanya pertemuan biasa, koper kami tidak sengaja tertukar saat di bandara dulu."

Junhui berjalan pelan ke arah sebuah sofa di pojok ruangan Mingyu, duduk dengan santai sambil terus mengecek beberapa lembar kertas di tangannya.

"Waktu itu aku berencana untuk menghabiskan masa libur dengan kedua orangtua, tapi saat sampai di bandara ternyata aku salah koper. Dan beruntungnya, koperku tertukar dengan milik Minghao. Jarang ada orang China yang bisa berbahasa Korea, karena itu aku antusias sekali saat bertemu dengannya."

Mingyu memasang ekspresi tertarik, dengan mata tak lepas dari Junhui Mingyu kembali berucap

"Lalu?"

Mingyu melonggarkan dasinya pelan, menumpu dagunya dengan kedua tangan. Junhui mengalihkan pandangannya pada Mingyu, mengangkat sebelah alisnya heran.

"Kenapa tiba-tiba kau jadi tertarik dengan kisah percintaanku seperti ini?"

Mingyu mengedikkan bahu pelan.

"Hanya penasaran."

Junhui menghembuskan nafas pelan, kadang ia tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Mingyu.

"Ya, kami bercakap-cakap setelahnya. Bertukar nomor telepon, saling mengirim pesan. Hanya seperti itu."

Junhui berjalan ke arah meja Mingyu dengan map dan sebuah pulpen di tangannya.

"Sudah kuperiksa. Tanda tangan disini."

Mingyu mengambil pulpen di tangan Junhui dan membubuhkan tanda tangannya mantap.

"Dan bagaimana bisa Minghao yang awalnya hanya Sugar Babymu sekarang menjadi kekasihmu? Apa kau diam-diam melibatkan perasaan saat kalian menjalin 'hubungan' dulu?"

Mingyu berujar biasa, terlalu biasa sampai-sampai jika Junhui tidak terlalu memperhatikan ia tidak akan menyadari nada penasaran dalam kalimat Mingyu. Junhui kembali mengangkat sebelah alisnya, heran dengan sikap aneh Mingyu hari ini.

"Kau ini sebenarnya kenapa? Apa kau sakit? Kenapa kau jadi banyak bertanya sekarang?"

"Aku hanya bertanya, jawab saja."

Junhui menyipitkan matanya curiga.

"Kami semakin dekat bahkan setelah kami sama-sama kembali ke Korea. Dia butuh tambahan uang untuk kuliahnya dan ia tak sampai hati untuk meminta kepada orangtuanya. Aku punya uang, jadi aku menawarkan diri padanya. Awalnya dia menolak, tapi kemudian menerima setelah dia tahu bahwa banyak teman di kampusnya yang menjadi Sugar Baby."

Mingyu menyerahkan map dan pulpen yang baru ia gunakan kembali pada Junhui, mengangguk singkat dan dengan seenaknya menyuruh Junhui keluar dari ruangannya.

"Aku mengerti sekarang, cepat keluar. Kembali bekerja."

Junhui memandang Mingyu sinis sebelum mengambil kedua benda di tangan Mingyu agak kasar.

"Dasar."

Kemudian dengan langkah agak cepat berjalan menuju pintu ruangan Mingyu.

"Kau berencana untuk mencari seseorang ya? Seorang Sugar Baby untuk menemanimu? Aku benar bukan?"

Junhui memandang menyelidik pada Mingyu yang kini bangkit dari kursinya, berjalan pelan sembari memandang kaca besar yang menyuguhkan pemandang kota Seoul dari ketinggian. Mingyu diam sebentar, kedua tangannya masuk ke saku celananya.

"Atau mungkin kau malah sudah menemukannya?"

Junhui kembali bertanya dan Mingyu hanya tersenyum misterius.

"Mungkin."

XX

Mingyu tidak pernah menyangka bahwa kunjungannya pada sebuah café sore itu akan banyak mempengaruhi pikirannya. Mingyu tidak benar-benar berniat mampir ke café itu sebenarnya, hanya kebetulan. Ia ingin minum kopi hangat di tengah cuaca yang dingin setelah ia selesai menemui koleganya di salah satu restoran di daerah itu dan tanpa sengaja matanya melihat sebuah café kecil yang tampak hangat di pinggir jalan yang ramai oleh para pejalan kaki.

Dan Mingyu benar-benar masuk kesana. Setelah memarkirkan mobil hitamnya Mingyu berjalan tegap ke dalam café.

"Selamat datang."

Mingyu terdiam sejenak, mendengar sebuah suara menyapa pendengarannya. Mingyu mengalihkan pandangan, berusaha mencari sumber suara yang baru saja menyapanya. Dan ia melihatnya, laki-laki dengan seragam abu-abu dengan wajah dingin namun tampak manis secara bersamaan. Mingyu terpaku, pandangannya sama sekali tidak lepas dari si empunya suara.

"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"

Sebuah suara yang lain menyadarkan Mingyu dari lamunannya. Seorang perempuan yang juga memakai seragam abu-abu kini berdiri di hadapannya, tersenyum ramah pada Mingyu.

"Ah iya, aku ingin kopi."

Mingyu merutuk dalam hati, jawaban macam apa itu? Tentu semua orang yang datang ke café kebanyakan menginginkan kopi bukan?

"Kalau begitu mari ikuti saya."

Mingyu mengangguk seadanya, matanya kembali melirik pada laki-laki bermata sipit yang tadi menyapanya. Orang itu…

XX

"Aku menemukannya."

Mingyu berujar tanpa aba-aba pada Junhui siang itu.

"Ha?"

Junhui menjawab bingung, Mingyu tiba-tiba muncul di ruangannya dan mengatakan hal-hal ambigu.

"Kau bicara apa sih?"

Junhui kembali bersuara, Mingyu benar-benar berubah aneh belakangan ini.

"Orang itu, aku menemukannya."

Junhui hanya bisa mengerutkan dahinya tak mengerti. Tatapan Mingyu berbeda, tatapan menginginkan yang begitu besar.

"Ma-"

"Tapi aku tidak yakin apa dia mau bersamaku atau tidak."

Mingyu terdiam, tampak sibuk dengan pikirannya. Dan Junhui baru bisa menangkap apa yang Mingyu maksud.

"Kau sudah menemukan seseorang yang tepat bagimu? Begitukah? Jadi benar kau mau cari Sugar Baby?"

Junhui bertanya antusias dan Mingyu hanya mengangguk mengiyakan.

"Kurasa begitu. Tapi ya, aku tidak yakin dia akan mengiyakan penawaranku."

"Kau harus bertanya langsung padanya!"

Mingyu memundurkan tubuhnya sampai punggung tegapnya menyentuh sandaran kursi.

"Santai saja bro. Tidak perlu sesemangat itu."

"Tentu aku harus! Apa kau tahu siapa namanya? Bagaimana wajahnya? Cantikkah? Apa dia manis? Bagaimana tubuhnya?"

Junhui bertanya semangat dengan wajah berseri. Jarang-jarang Mingyu terlihat menginginkan sesuatu seperti sekarang.

"Dia…manis. Dan dia laki-laki."

"Laki-laki?"

Junhui mengerutkan dahinya bingung.

"Ah jadi kau juga sama beloknya denganku? Aku pikir kau masih suka wanita berdada besar."

Mingyu melotot, Junhui bicara terlalu frontal.

"Aku berpikir begitu karena selama ini kau hanya pergi keluar dengan wanita. Kau mana pernah bersama laki-laki, jadi wajar kalau aku beranggapan kau masih lurus. Ternyata aku salah."

Junhui bicara cuek dengan wajah biasa. Ia kembali duduk di kursinya, dengan wajah serius mulai mengamati pria di hadapannya.

"Orang ini, orang yang tadi kau sebutkan. Seperti apa dia? Apa dia begitu menarik sampai kau seperti ini? Ini pertama kalinya aku melihatmu begitu menginginkan sesuatu."

Mingyu tersenyum,

"Entahlah, tapi aku benar-benar menginginkannya."

Junhui ikut tersenyum, dengan pelan menepuk bahu kiri Mingyu.

"Pergi dapatkan dia, tanyakan saja langsung. Kau tidak pernah tahu seperti apa keberuntunganmu. Lagipula…"

Junhui kembali tersenyum penuh arti.

"Aku yakin sekalipun orang itu menolak kau akan tetap melakukan segala cara agar dia berkata iya bukan? Ayolah, kau Kim Mingyu."

Mingyu hanya menyeringai, wajah laki-laki itu kembali terbayang di otaknya.

"Tentu, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Kau tahu aku."

Mingyu terdian sejenak.

"Dia milikku mulai sekarang."

XX

Dan Mingyu benar-benar melakukan apa yang ia katakan keesokan harinya. Ia kembali ke café itu, kali ini dengan tujuan pasti. Ia akan mendapat laki-laki itu, bagaimanapun caranya.

"Pesanannya Tuan?"

Mingyu mendongak dari tempat duduknya, memandang seorang laki-laki dengan mata bulat yang kini tengah tersenyum ramah padanya. Mingyu melirik sekilas pada name-tag yang tertempel di seragam pelayan itu. Choi Seungcheol.

"Kopi hitam, dengan sedikit gula."

Laki-laki itu menunduk sekilas sebelum berjalan cepat meninggalkan Mingyu sendirian. Mingyu memutar pandangan ke sekeliling café. Laki-laki itu tidak ada dimana-mana. Apakah Mingyu harus pergi ke kasir untuk sekedar menanyakan dimana laki-laki itu berada?

Mingyu berhenti menatap sekeliling saat ia merasakan ponsel di saku jasnya bergetar. Diambilnya benda persegi itu kemudian Mingyu melihat ke layar ponselnya, seuah pesan dari Junhui.

"Pesanan anda Tuan, silahkan dinikmati."

Dan Mingyu mendongak, ia agak termangu sebentar begitu mata gelapnya bersitatap dengan dua mata tajam milik seseorang yang kini tengah tersenyum kecil di hadapannya. Mingyu membisu, merasakan dadanya berdetak lumayan kencang. Ia tidak tahu kenapa, tapi dorongan untuk mendominasi laki-laki di hadapannya ini muncul begitu saja. Ia menginginkan laki-laki ini, sangat. Ia menginginkannya, sekarang juga.

"Ada lagi yang ingin anda pesan?"

Mingyu masih saja terdiam, kata-kata yang telah ia siapkan langsung lenyap begitu saja saat ia akhirnya bisa berada dalam jarak sedekat ini dengannya.

Wonwoo-pun sama diamnya, ia terlihat bingung dengan tingkah yang Mingyu tujukkan padanya.

"Tuan-"

"Maukah kau jadi Sugar Baby-ku?"

Mingyu bertanya pada akhirnya, dengan wajah serius matanya sama sekali tak lepas dari mata kelam milik Wonwoo. Wonwoo tersentak kecil, terkejut mendengar pertanyaan yang Mingyu lontarkan padanya. Mingyu terus saja menatapnya, tatapannya berubah dalam dan Wonwoo tidak tahu arti tatapan itu. Mingyu melirik sekilas pada name-tag Wonwoo.

"…Jeon Wonwoo?"

Mingyu bertanya, kali ini dengan sebelah tangan yang tanpa keduanya sadari mulai tertaut dengan eratnya.

"Would you?"

Anggap saja Mingyu gila, mungkin memang benar ia tidak waras. Tapi saat tangannya bersentuhan dengan milik Wonwoo, saling menggenggam seperti sekarang, Mingyu yakin ia tidak akan pernah menyesali semua ini. Jeon Wonwoo akan menjadi miliknya, pasti.

.

.

.


TBC


(-) Jadi untuk chap kemarin, aku ceritakan dari pas Wonwoo udah mau nerima Mingyu baru aku menjelaskan ttg bagaimana mereka ketemu, apa yang terjadi pada Wonu dsb. Dari masa sekarang baru aku flashback ke belakang. Mungkin ada beberapa dari kalian yang bingung sama urutan scene-nya. Entahlah, dari dulu aku selalu lemah kalau masalah flashback begini ;-;

(-) M bukan berarti ada adegan ranjang dan hal-hal berjenis sama ya, aku kasih rated M karena menurutku jalan cerita ini udah nggak pantes lagi dikasih embel-embel T. Apalagi Mingyunya juga udah om-om(?) gitu kan, 26 broh. Bayangkan seberapa dewasanya Mingyu dalam balutan jas dan kemeja kece. Hmm

(-) Aku sedang mencoba menulis sesuatu yang jujur aja baru buatku. Apa ya, disini aku bener-bener pengen menunjukkan sisi lainnya Mingyu. Bukan Mingyu yang childish atau semacamnya, aku pengen buat Mingyu jadi seseorang yang punya banyak sisi menawan yang bakal bikin Wonwoo terkejut juga terpesona hanya dengan tatapan mata atau sekedar kontak fisik sederhana (halah). Intinya, aku serius saat bilang bahwa fic ini nggak cocok kalau di kategorikan remaja.

Well, see you.

Selamat hari Senin!