II
PUTIH
.
.
.
.
.
Hal pertama yang dilihat Jung Daehyun begitu memasuki ruang bawah tanah tempat ia menyimpan peti mati pujaan hatinya, ialah pemandangan seorang gadis yang menghunus dadanya sendiri dengan sebilah pedang. Ia membelalakkan matanya melihat ujung pedang itu menembus punggung si gadis yang tadi pagi dibawanya pulang, darah membasahi mata pedang hingga ke bagian yang masih tertanam di dalam tubuhnya. Berlari ke seberang ruangan di mana gadis itu berada, Daehyun menangkapnya tepat sebelum tubuh gadis itu menghantam tanah. Pelan-pelan dicabutnya pedang yang menancap di jantung si gadis agar darahnya tidak menyembur ke segala arah. Ia menatap pedang berlumuran darah di tangannya, tersenyum miring, matanya berkilat penuh nafsu. Namun ia harus menahan dirinya untuk tidak menjilati darah yang menempel pada pedang karena darah itu sangat berharga.
Ia meletakkan kembali pedang itu di tempatnya semula, membaca sebuah mantra untuk memindahkan semua darah di pedang berukiran sulur daun mawar ke dalam cawan kaca di bawahnya. Setelah semua darah berpindah, cawan kaca itu terisi penuh dengan darah merah segar, sedangkan pedangnya kembali berkilau tertimpa cahaya dari nyala lilin. Senyum lebar terkembang di bibir tampan pria itu, sebentar lagi kekasihnya akan bangkit kembali.
Si cantik yang terbaring di dalam peti mati kaca itu bukanlah seorang perempuan muda yang telah mati. Yoo Youngjae, dia adalah kekasih Jung Daehyun sejak 1000 tahun yang lalu. Lelaki itu terkena kutukan yang membuatnya terlelap dalam waktu yang begitu lama. Kutukan yang tidak bisa dihapuskan hanya dengan sebuah ciuman, melainkan dengan darah perawan yang menusuk jantungnya sendiri dengan sebuah pedang. Sialnya, dengan cara itupun Youngjae tidak bisa terus hidup dan menemani kekasihnya sepanjang waktu. Karena itulah dari waktu ke waktu Jung Daehyun mencari mangsanya dan membuat mereka percaya dengan bualannya tentang ramalan kuno itu, bualan yang sudah dipakainya selama ratusan tahun untuk menjerat para gadis bodoh yang menelan bulat-bulat kebohongan yang dilontarkannya, untuk dikorbankan demi membangkitkan kembali kekasih tercintanya.
Daehyun membawa cawan kaca penuh darah itu ke peti mati kekasihnya. Dilihat dari sisi manapun, lelaki ini selalu cantik di matanya. Kulitnya seputih salju, bibirnya semerah darah, rambutnya sehitam malam. Selama berabad-abad tertidur, rambut pria ini tetap tumbuh memanjang, meskipun Daehyun memotongnya secara berkala, ia sengaja menyisakan rambut kekasihnya itu sepanjang bahu, membuat sang pemilik hatinya itu terlihat semakin cantik. Daehyun juga memakaikan padanya sebuah gaun yang seharusnya dipakainya pada hari pernikahan mereka. Kekasihnya yang cantik, setelah meminum darah ini ia akan membuka matanya, dan mereka akan kembali menghabiskan malam-malam penuh cinta... Sampai tiba saatnya Youngjae harus kembali terlelap, dan Daehyun akan kembali menunggu hingga tiba saatnya untuk kembali membangunkannya. Dan siklusnya akan selalu berulang. Lagi, dan lagi.
.
.
.
.
.
TBC
