Annyeong readers! kemarin kemarin author ada baca review dan kayaknya semuanya bilang masih kurang dapat feel-nya sama penggunaan bahasa author agak aneh ya *sigh. Sebelumnya author mau minta maaf dulu karena ini juga pertama kali author nulis fanfic dalam Bahasa Indonesia, dan author juga akan berusaha supaya chapter chapter selanjutnya lebih baik lagi! Once again, thanks for all the love and support * nah I only receive 8 reviews anyway
.
.
.
Pagi ini, Park Jimin bangun pagi dan bersiap siap untuk pergi ke kafe tempat ia bekerja. Karena kemarin malam terlalu banyak berpikir tentang Min Yoongi, tidur Jimin jadi tidak nyenyak dan masih sangat mengantuk pagi ini. Saking ngantuknya, Jimin tidak sengaja menggosok gigi menggunakan sabun cuci mukanya. "Ughh.. kok bau pasta gigi hari ini beda sih..." gumam Jimin, sambil mencuci muka.
Sesudah selesai bersiap siap, Jimin mengganti baju tidurnya dengan seragam kerja, dan bergegas keluar. Perkiraan cuaca menulis bahwa hari ini akan mendung, tetapi nyatanya matahari bersinar terik, dan Jimin sudah berkeringatan saat ia sampai ke kafe.
"Loh? Jimin? Kok pagi banget hari ini? Baru jam setengah tujuh. Bukannya kamu biasanya datang jam tujuh?" tanya Kim Seokjin, pemilik kafe tempat Jimin bekerja yang masih muda dan sangat ramah.
Jimin hanya tersenyum dan mengangguk pelan, tetapi arah matanya tidak pernah terlepas dari pintu depan kafe yang masih tertutup.
"Kau datang cepat untuk menunggu anak kecil itu?" tanya Seokjin.
"Mo? Kau jangan sebut Kookie anak kecil dong! Nanti kalau kedengaran kookie dia bakal marah! Kookie sudah kelas 3 SMA tahun ini, sudah bukan anak kecil lagi!" jawab Jimin sambil mengerucutkan bibirnya.
Seokjin hanya bisa menggeleng geleng kepala melihat sikap Jimin. Anak yang disebut kookie itu adalah salah satu pelanggan setia kafe mereka. Sejak hari pertama Jimin melihatnya, Jimin langsung "jatuh hati" kepada anak itu. Seokjin masih ingat hari hari saat Jimin baru bekerja, hal pertama yang ia tanyakan selalu "dimana kookie! Aku mau mencari kookie!"
Seokjin tidak sempat berpikir panjang karena bel pintu depan kafe mereka berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang. Belum sempat ia menoleh untuk melihat siapa yang datang, Park Jimin sudah "terbang" kearah pintu depan. "Nah, aku sudah bisa menebak siapa yang datang" pikir Seokjin.
"WELCOME! Ah~ Jungkookie~ sudah dua hari kita gak ketemu, hyung kangen sekali dengan kookie~" teriak Jimin seraya menghampiri Jungkook, menyambut tas ranselnya dan segera meletakkannya di kursi terdekat. "Kookie-ah~ hari ini minum green tea juga? Kookie pagi sekali hari ini, mau pergi ke sekolah lebih pagi ya? Ah, Jeon Jungkookie kita memang murid yang baik kkk" kata Jimin lagi, tidak mempedulikan tatapan bingung dari pelanggan pelanggan lain yang ada di dalam kafe.
"Jimin, kau berisik sekali." ucap Jungkook dengan dingin sambil mengeluarkan buku pelajarannya.
"Apa? Kau panggil aku Jimin?! Kookie-ah, kamu tidak boleh begitu! Aku ini lebih tua dua tahun darimu! Lain kali kamu harus panggil aku hyung! Arasseo?"
"Yah terserahlah, Jimin... hyung. Sudah puas sekarang?"
"Nah! Ini baru anak yang baik! Aku tahu kalau kookie anak yang baik!" Jimin tersenyum puas, lalu berbalik ke dapur untuk mempersiapkan green tea kesukaan Jungkook.
Saat Jimin datang ke meja Jungkook membawa green tea kesukaannya, Jungkook sedang serius belajar dan tidak memerhatikan Jimin. Jimin pun duduk sambil menopang dagu di sebelah Jungkook, menatap muka Jungkook sambil berpikir. "AHH! Kookie lucu sekali! Mata kookie imut, gaya rambut kookie imut, bibir kookie juga imut! Ah, kenapa Jungkookie sempurna sekali! Eomma! Kenapa Jungkookie bukan adikku QAQ Aku juga ingin punya seorang adik seperti Jungkookie!"
"Kookie-ah.." panggil Jimin pelan pelan, takut mengganggu Jungkook.
"Green teanya sudah dingin! Tapi ngomong ngomong kenapa Kookie kenapa minum green tea terus setiap hari?" tanya Jimin penasaran.
"Kebiasaan." jawab Jungkook singkat.
"Kebiasaan? Jadi, tidak banyak orang yang tahu tentang kebiasaan Jungkookie?" Jimin bertanya lagi sambil mendekatkan mukanya ke arah muka Jungkook.
"Yah, kira kira begitulah. Eomma dan appa tidak pernah memperhatikanku." Jawab Jungkook, bingung mengapa Jimin langsung tertawa lebar mendengar jawabannya. Jungkook tidak tahu, Jimin tertawa lebar karena merasa ia telah lebih memahami Jeon Jungkook-ie kesayangannya.
Selain itu, Jeon Jungkook juga tidak tahu kalau ia adalah satu satunya orang yang bisa membuat Jimin tertawa senang setelah Min Yoongi pergi.
.
.
.
Author Note's
Tbh, author sendiri juga nggak tahu apakah chapter ini lebih baik daripada yang sebelumnya (tolong jangan bilang lebih buruk QAQ), tapi author akan coba baca lebih banyak ff lain lagi untuk meningkatkan feeling author dalam menulis. So, ceritanya Yoonmin udah putus karena Yoongi pergi tanpa pamit dan Jungkook adalah kenalan Jimin di kafe tempat Jimin kerja. Taetae akan muncul*sebenarnya uda pernah muncul sih di chapter sebelumnya* di chapter berikut. Jadi, untuk beberapa chapter kedepan author bakal fokus ke Vmin dan Jikook dulu.
Enjoy reading! If you got any questions or any comment about the story, please feel free to write it in reviews anywayy I really hope to be friends with you guys.
Last but not least, HAPPY BIRTHDAY to our fluff of sunshine and our hope JUNG HOSEOK!
Yayy it's J-Hope day today!
See ya in next chapter!
