The original story belongs to rawrchelle

Characters © Masashi Kishimoto

.

.

. . . . . . . . . . . . . . .

(deg. deg. deg.)

"Sasuke-kun?"

"…Sakura."

"Aku merindukanmu."

Segalanya terasa benar ketika aku bersamamu.

Tak bisakah kau merasakannya?

Tak bisakah kau merasakan sesuatu?

"…Hn."

"Asal kau tahu, jika kau sudah keluar, Naruto akan selalu berada di sekitarmu."

"Ucapkan itu pada dirimu sendiri dulu."

"…Apa?"

Aku menyelamatkan hidupmu.

Aku menyelamatkan jantungmu.

Aku menyelamatkan dirimu.

Mengapa kau tidak akan melakukan hal yang sama untukku?

"Berhenti melayang-layang di sekitarku seperti lalat."

"Tapi—tapi aku tidak—"

"Berhenti menjengukku setiap hari. Itu menyebalkan."

"Aku—maafkan aku." Maafkan aku.

Sasuke-kun. Sasuke-kun. Sasuke—

Aku sungguh menyesal.

(deg. deg.

deg.)

. . . . . . . . . . . . . . .

"Kau bilang pada Itachi-sama… kau akan mengambil semua yang cacat."

Sasuke sedang bekerja di mejanya, dan Sakura ada di sana bersama Sasuke, duduk di sofa dengan sebuah buku tebal di atas pangkuanya. Sasuke memakai kacamata; dengan bingkai hitam penuh. Ia pikir itu terlihat sangat cocok untuk pria itu.

"Ya, aku mengambil semua yang cacat."

"Apakah itu berarti bahwa… aku cacat?" Cacat karena tidak sempurna. Karena mempunyai kekurangan. Karena tidak cukup baik.

(dia tidak cukup baik.)

Sasuke hanya meliriknya sebentar, dari atas kacamatanya, sebelum kembali pada dokumennya. "Ya."

Sakura menelan ludah. "Oh." Kembali pada bukunya, tapi kata-kata dan diagram pada halaman itu tidak dapat terserap dalam pikirannya lagi.

(dia tida pernah cukup baik.)

Ada keheningan yang lama dalam ruangan itu; Sasuke sedang bekerja, ia sedang belajar. Terlepas dari kenyataan bahwa Sasuke jauh lebih ramah dari Itachi, atau anggota lainnya dari Akatsuki, itu tidak berarti bahwa ia bisa dengan bebasnya berbicara pada Sasuke seperti seorang teman.

Pria itu masih menjadi pemiliknya.

"Sakura." Sakura mendongak padanya, dan Sasuke melepaskan kacamata, mengurut pelipisnya. "Memang benar kalau cacat merupakan sesuatu yang tidak berjalan dengan benar. Tapi…"

Sakura menahan napasnya.

"…Itu juga berarti kau adalah manusia."

. . . . . . . . . . . . . . .

FADING AWAY

. . . . . . . . . . . . . . .

Pria itu menunjuk dirinya sendiri. "Aku Uzumaki Naruto!"

Sakura menekan bibirnya dengan pemikiran bahwa itu adalah sebuah senyuman. "Aku Sakura."

(pria itu sangat bersinar. berisik. bahagia. segala hal yang bukan dirinya.)

Naruto menyengir. "Oi, Sasuke, aku ajak dia keluar, oke? Kami akan kembali sebelum malam!"

Dan matanya melebar, karena diajak keluar berarti ia akan pergi keluar, dan pergi keluar berarti merasakan matahari di kulitnya, merasakan angin di rambutnya, melihat orang normal dan merasakan dunia—

Sasuke melotot pada si pirang. "Tidak."

Naruto merosotkan bahunya. "Ayolah, teme, semua akan baik-baik saja—aku akan bersamanya sepanjang waktu—"

"Itulah yang kuhawatirkan."

"Teme—"

"Naruto." Suara Sasuke terdengar dingin, dan Sakura spontan mundur. Ia tidak pernah mendorong Sasuke terlalu jauh sebelumnya, karena pria itu mengatur hidupnya. Ia tidak pernah melihat Sasuke seperti ini, karena ia selalu mendengarkannya. Sasuke yang ini menakutkan. "Dia ilegal. Dia tidak boleh ada."

(dia tidak ada. dia tidak ada. dia tidak ada.)

Si pirang terdiam lama, sebelum menghela dan menggosok belakang kepalanya. "Maaf, Sakura-chan," ucapnya malu-malu. "Tidak hari ini."

(sakura-chan?)

Wajah Sakura terlihat sedih. Ia pikir Sasuke menyadarinya, tapi ketika ia melirik pria itu, dia sudah kembali ke pekerjaannya.

. . . . . . . . . . . . . . .

"Apakah itu bunga?"

"Ya."

Sakura berpikir sebentar. "Bunga Daisy?"

"Ya."

"Boleh aku memetiknya?"

"Ya."

Sakura mentap bunga itu heran saat ia memetiknya dari tanah. Lalu ia menyelipkanya ke rambutnya seperti yang mereka lakukan di salah satu buku yang dibacanya.

"Apa aku cantik?"

Sasuke menghela. "Ya."

. . . . . . . . . . . . . . .

Matanya mengamati ruangan, dengan cepat menilai situasi. Selanjutnya ia mengikat rambutnya kembali menjadi ekor kuda, dan mulai bekerja.

Seorang pria dengan luka di dada akan ditanganinya terlebih dulu. Kemudian wanita dengan mata melebar dan ekspresi gila. Kemudian seseorang dengan lengan hancur.

(mereka semua cacat. mereka semua tidak berjalan dengan benar.

mereka semua manusia.)

Seorang pria dengan luka di dadanya tidak sadarkan diri karena kehilangan darah. Sakura tidak punya darah lebih untuk diberikan padanya—dan meskipun ia punya, ia tidak tahu apakah itu cocok, karena ia tidak tahu golongan darah pria itu. Ia tanpa sadar menggertakkan giginya saat dirinya mengikat perban dengan erat—

(lukanya sangat, sangat dalam. apa yang telah mereka lakukan pada pria ini?)

Matanya membelalak ketika darah menyembur ke arahnya. Tangannya berhenti bergerak, dan ia menatap pria itu.

Ia menatap pasiennya.

(karena pria itu adalah pasien, dia bukan sebuah percobaan, dan dia adalah manusia dan dia berarti—)

Perlahan, Sakura mengangkat tangan penuh darahnya dan menekannya pada leher pria itu. Tidak ada nadi. Ia hanya bisa menebak kalau jantung lemah pria itu tidak dapat menahan tekanan yang diberikan pada dadanya.

Pria itu mati.

Ia merasakan sesuatu yang mirip seperti ketakutan menyelimutinya, jadi ia segera berpindah ke pasien selanjutnya. Mata wanita itu melirik kesana-kemari, tidak pernah berhenti, dan ketika Sakura bertanya ada yang sakit, dan bagaimana perasaanya, wanita itu membuka mulutnya dan menjerit nyaring.

"Tolong, tenanglah," ucap Sakura, meletakan tangannya dengan lembut pada bahu wanita itu—tapi itu hanya memicu sesuatu, dan pasiennya menerpanya.

Sakura terbanting ke dinding, tangan kotor wanita itu mencekik lehernya. Ia tidak bisa bernapas, wanita itu masih berteriak-teriak, dan ia merasa seperti bahunya terkilir. Sakura berjuang melawan wanita itu, tapi ada sesuatu pada mata gelap itu; betapa cekungnya mata itu, sungguh terlihat tak bernyawa—Sakura kehilangan tenaganya saat melihat mata itu.

(itu adalah mata yang biasa dimilikinya.)

Ketika paru-parunya terasa seperti terbakar dan ia benar-benar, benar-benar membutuhkan udara, semuanya menjadi gelap.

. . . . . . . . . . . . . . .

(deg. deg. deg.)

"Matahari terbenam terlihat indah dari sini, bukan?"

"Hn."

Jika aku bisa, aku akan mengikutimu kemanapun.

Jika aku bisa, aku akan melindungimu dari dirimu sendiri.

Jika aku bisa, aku akan menunjukkanmu apa itu cinta.

Jika aku bisa.

"Apa terkadang kau memikirkannya? Maksudku, Itachi."

"Hanya karena aku tidak menyuruhmu pergi bukan berarti aku menyukaimu."

"Aku… aku tahu."

(hah. hah. hah.)

Sasuke. Sasuke. Sasuke.

Sasuke-kun.

"Perasaanku tidak berubah, kau tahu."

"Dan jawabanku juga tidak berubah."

(hah. hah—)

Aku masih tidak tahu kau berterimakasih untuk apa.

Jika kau berterimakasih untuk cintaku, aku tidak pantas menerimanya.

Jika kau berterimakasih untuk bantuanku, aku tidak membantumu.

Aku begitu bodoh dan naïf untuk membantumu.

"Aku tahu."

"Kalau begitu berhenti bersikap seolah kau tidak—"

"Bukan seperti itu, Sasuke-kun." Tidak pernah seperti itu. "Hanya saja aku punya pemikiran bodoh…"

Jika kau berterimakasih karena aku ada di sini—

"… bahwa jika aku cukup menjadi diriku, kau akan…"

maka sama-sama.

"Kau akan balik mencintaiku."

(…hah.)

. . . . . . . . . . . . . . .

Mata hijau itu perlahan terbuka. "S…Sasuke-sama."

Sasuke menarik kursi ke sisi tempat tidur Sakura, dan membaca buku.

(walaupun sibuk, dia selalu ada.)

"Aku mengobati bahumu," ucapnya datar, "Tapi kau juga menderita cedera kepala ringan. Apakah itu sakit?"

Sakura menelan ludah, tapi tenggorokannya kering. "Sedikit." Suaranya serak.

(rasa sakit tidak menyakitkan jika kau sering merasakannya.)

"Hn." Sasuke menutup bukunya, dan menarik sesuatu dari ikat pinggangnya. Benda itu tidak asing—Sakura pernah melihatnya di beberapa kesempatan sebelum ia bertemu Sasuke. "Mulai sekarang, bawa ini bersamamu setiap saat." Sasuke meletakkannya di meja sebelah tempat tidur, dan meninggalkan ruangan.

Itu adalah sebuah senjata.

. . . . . . . . . . . . . . .

"Kau harus mencoba tersenyum."

Alis Sakura mengerut berkonsentrasi saat ia memaksa bibirnya tertarik ke atas. "Ini sulit. Aku tidak bisa."

"Itu sederhana. Cukup lakukan ini." ketika ia menatap Sasuke, senyum seram terlihat dibibir pria itu.

Yang segera memicu senyum miliknya sendiri, tapi tidak seperti Sasuke, senyum Sakura sampai ke mata.

. . . . . . . . . . . . . . .

Sakura tetap di kasur sepanjang sisa hari, terhanyut antara sadar dan tidak.

Ia tidak ingin membaca. Ia tidak ingin makan. Ia bahkan tidak ingin menatap penuh kerinduan keluar jendela, membayangkan angin menyentuh kulitnya.

Ia hanya ingin tidur.

Tidur, dan bermimpi.

Karena ia tahu bahwa ketika ia bermimpi, segalanya berakhir benar. Ketika ia bermimpi, ia memiliki sinar kehidupan dan teman-teman dan senyuman dan segala sesuatu yang tidak pernah dimilikinya—ia memiliki kebahagiaan dan ia memiliki kebebasan dan ia memiliki—

Ia memiliki pria itu.

Ia ingin tidur, karena bahkan sekarang, mimpinya lebih baik daripada kenyataan.

Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi ia tahu bahwa dia segalanya baginya.

Matahari sedang tenggelam ketika Sasuke datang untuk memeriksanya. Sakura menatap malas pada senjata di meja di samping tempat tidurnya, tak tersentuh sejak Sasuke meninggalkannya di sana untuknya. Matanya yang setengah mengantuk bertemu dengan mata Sasuke ketika pria itu membuka pintu. "Makan malam sudah siap satu jam yang lalu."

Sasuke pulang cukup awal untuk makan malam.

(dia tidak di sana untuk makan dengan sasuke. dia tidak mematuhinya.)

Matanya tertutup rapat ketika Sasuke berjalan ke arahnya. Sasuke akan memukulnya. Sasuke akan berteriak padanya seperti yang sering dilakukan Itachi, ketika ia membuat kesalahan. Sasuke akan menyebutnya tidak tahu terimakasih dan tidak berguna, karena untuk pertama kalinya dari sekian lama Sasuke menyediakan waktu untuknya, ia tidak di sana—

Kasur sedikit bergerak ketika Sasuke duduk di pinggirnya. "Apa kau merasa lebih baik?"

Ketidakpercayaan membanjirinya saat ia membuka mata hati-hati. "Ya," jawabnya lebih menenggelamkan diri ke dalam selimut.

"Apa kau lapar?"

Sakura meringkukkan dirinya sebagai bentuk perlindungan. "Ya." Sasuke tidak akan memberinya makan sekarang, karena ia sudah kehilangan kesempatannya.

(itachi selalu seperti itu. selalu.)

Sasuke menatap Sakura lama, sebelum tatapannya berpindah ke pistol. "Apa kau tahu cara menggunakannya?"

"Tidak," jawab Sakura cepat. "Maafkan aku—aku akan mempelajarinya besok, aku janji." Sasuke terdiam lagi untuk beberapa saat.

(sasuke selalu memilih kata-katanya dengan hati-hati. dengan perhatian.)

Desahan lolos dari bibir tipis Sasuke, dan dia berdiri, meninggalkan ruangan. Dia bahkan tidak repot-repot untuk menutup pintu di belakang Sakura. Sakura ditinggalkan dengan dingin, dan ia menarik selimutnya mengencangkannya di sekitar tubuhnya.

Ia mengecewakan Sasuke.

Sasuke kembali beberapa menit kemudian dengan sebuah nampan.

Ada makan di atas nampan. Mata Sakura sedikit melebar menyadarinya.

Itu makan malamnya.

"Duduklah," perintah Sasuke. Sakura bergegas melakukannya, karena Sasuke sudah menghabiskan waktu untuk memanaskan makan malamnya dan bahkan membawakannya untuknya, dan Sakura tidak bisa melakukan sesuatu yang akan mengecewakan Sasuke, karena Sasuke akan mengambil pistol di sebelahnya dan menembak Sakura saat itu juga dan di sana—"Aku tahu kau pengguna tangan kiri, dan bahumu masih sakit. Aku akan…" Sasuke diam sebentar. "Aku akan menyuapimu."

"Menyuapiku…?"

(seperti pasien. seperti anak kecil. seperti seseorang yang perlu diurus.

sasuke merawatnya.)

Itu hanya sup sederhana, tapi Sakura merasa itu makanan terenak yang pernah dirasanya.

. . . . . . . . . . . . . . .

"Sasuke-sama?"

"Ini sudah lewat tengah malam, Sakura. Kenapa kau masih bangun?"

Sakura merangkak ke sofa yang sering didudukinya ketika Sasuke sedang bekerja. "Aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa… bermimpi."

"Terkadang, mimpi bukan hal yang baik."

"Itu indah untukku." Bibirnya melengkung membentuk senyum kecil. "Mimpiku begitu… indah."

"Indah?"

"Mimpi membutaku merasa… bebas."

Ia tertidur di sofa.

Bebas.

. . . . . . . . . . . . . . .

Pistol itu selalu melekat di sisinya, di ikat pinggangnya. Sasuke menyuruhnya untuk berjaga-jaga jika salah satu pasien menyerangnya seperti wanita itu.

(wanita itu yang sekarang sudah mati. sasuke membunuhnya.)

Lengannya berada dalam gendongan, menunggu bahunya terasa lebih baik. Bagian belakang kepalanya masih sedikit sakit, tapi ia cukup sehat untuk berjalan-jalan di sekitar rumah dan memeriksa pasien-pasien yang sedang menunggu untuk dibebaskan.

(dibebaskan ke dunia. ke tempat yang tidak akan pernah dikunjunginya.)

Ia tidak pernah tahu ke mana mereka pergi; ia akan memberi Sasuke nomor kamar dan tanggal yang penghuninya harus dibebaskan, dan malam itu, merekan akan menghilang. Sebelum ia pergi tidur, mereka ada di sana—dan ketika ia bangun, mereka sudah pergi.

Sasuke membawa mereka ke suatu tempat, dan ia ingin tahu ke mana.

Ia ingin pergi ke tempat yang sama seperti mereka.

Naruto berkunjung lagi. Naruto sering berkunjung—terutama di akhir pekan, ketika Sasuke tidak punya pekerjaan.

Naruto menyukai ramen, ia sudah menelitinya. Pria itu selalu membawa tiga ramen cup saat dia datang, jadi mereka punya itu untuk makan siang. Kemudian Naruto mengenalkan video game padanya, karena "Teme tidak akan membiarkannya keluar."

"Dia sangat pucat, Sasuke. Lihatlah dia! Dia benar-benar seperti vampir."

Sakura melirik lengannya. Sangat pucat.

(naruto begitu coklat. menandakan bahwa dia banyak berada di luar. banyak menikmati matahari. banyak tertawa. banyak tersenyum.)

"Sasuke-sama juga pucat," ujar Sakura.

Naruto tertawa. "Ya, karena teme menghindari matahari seperti wabah. Dia berpikir dirinya akan meleleh di bawah matahari, atau yang lainnya."

Sakura tersentak saat karakternya mati dalam game. Itu berarti selesai untuknya. Ia menemukan dirinya tidak pandai dengan game-game ini—di mana ia harus berjalan ke sekitar dan menembak segala hal yang datang padanya.

Cukup menakutkan saat harus memegang senjata dalam sebuah permainan—betapa menakutkannya jika harus memegang senjata asli dan menembaknya pada manusia sungguhan?

Sasuke, yang sedang duduk di sofa, menghela dan menutup bukunya. "Sakura." Sakura menoleh, siap menerima perintah apa pun.

(karena untuk sasuke, ia akan melakukannya. untuk pria yang sudah memperlakukannya seperti seorang pasien, seperti seorang manusia—ia akan melakukannya.)

"Apa kau ingin pergi keluar?"

Butuh beberapa saat untuk menyerap perkataannya, karena pergi keluar adalah konsep yang begitu asing bagi Sakura, sehingga tanpa sadar dirinya mengesampingkan kemungkinan itu akan terjadi. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan Naruto bahkan duduk terdiam sejenak.

"Tapi—aku ilegal…"

"Kita akan pergi ke halaman belakang," ucap Sasuke, melepaskan kacamatanya dan meletakkannya ke atas meja terdekat. "Tidak akan apa-apa selama aku ada di sana."

Ini pertama kalinya Sakura menampilkan senyum lebar dan dengan penuh kesadaran.

Dirinya hampir tersandung dalam kegembiraan untuk meinggalkan mansion. Naruto berlari bersamanya, memegang tangannya dan menariknya menuju apa yang ingin ia rasakan sejak selama yang bisa diingatnya—

Mereka duduk di halaman yang luas, bernapas di udara dan menemukan kumbang kecil dan memperhatikan Naruto yang mencoba menangkap beberapa belalang.

Dan matahari. Matahari begitu hangat di kulit pucatnya, dan ia tidak dapat benar-benar mendeskripsikannya—tapi jika angin terasa seperti kehidupan, maka—

Maka matahari terasa seperti cinta.

.

.

To be continued…