Winter

Disclamer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rate : T maybe

Genre : Romance, Humor

Pair : MinaKushi always

Warning : OOC, OC, AU, typo(s), gaje, abal-abal.

Don't like? Don't read!

Happy reading, minna-san :)


Chapter 2 'If we change?'

UKS (Unit Kesehatan Sekolah)~

"Aww.." Minato meringis kesakitan akan luka yang sedang Kushina obati. Ia mendapat sebuah luka memar pada pipi sebelah kanannya, karena pukulan keras Kushina saat sesi gulat mereka. Dan dalam pergulatan tersebut Kushina lah pemenangnya dan Minato lah orang yang kalah.

"Ah .. gomen," Kushina hanya dapat memohon agar dimaafkan oleh Minato karena tempo pengobatannya pada luka Minato tidak bisa dikatakan 'perlahan'. "Habisnya, gue sudah memberi lo dua pilihan. Lo mau memilih Rumah Sakit atau Kuburan, dan lo malah memilih UKS,"

"Eh .. aww .. apa lo bisa memperlambat tempo pengobatan lo pada luka gue?"

"Eh .. gomen, gue memang tidak tahu cara pengobatan," Kushina hanya dapat menyengir pada Minato. Namun, Minato hanya menatap gadis itu dengan wajah datar sekaligus sebal.

"Lebih baik, lo tidak perlu mengobati luka gue!" spontan Minato berdiri dari duduknya di ranjang. Ia berjalan menuju pintu keluar UKS.

"Eh .. tu-tunggu dulu,"

GREP.

Sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan milik Minato. Tepatnya tangan itu merupakan tangan milik Kushina, yang menahan agar Minato tidak pergi.

"Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi dengan luka yang terpampang jelas pada pipi kananmu itu. Walaupun aku tak tahu cara pengobatan, aku akan berusaha mempelajari apa arti pengobatan itu-ttebane," dengan bahasa yang lantang dan penuh kasih sayang ia lontarkan pada cowok yang saat ini berada dihadapannya.

Safir dan violet bertemu, mereka saling menatap satu sama lain.

'Ah .. Kami-sama, iris violet'nya begitu lembut memandangku. Raut wajahnya begitu penuh perhatian dan kasih sayang. Apa yang terjadi padanya? Apa ia hilang kendali? Eh .. tu-tunggu, tadi ia berkata 'aku' dan 'kamu'. Apa yang terjadi dengan bahasa 'lo' dan 'gue' miliknya?' batin Minato.

Kushina berhenti memandang Minato. Kebetulan, disampingnya terdapat meja dan diatasnya terdapat sebuah kotak P3K. Ia melepas genggaman tangannya pada Minato dan membuka kotak P3K tersebut, mengambil sebuah kapas dan menyelupkannya pada sebuah obat cair.

Minato hanya memperhatikan apa yang sedang Kushina perbuat. Sekarang ia benar-benar seperti yang terhipnotis oleh iris violet gadis itu.

Dengan perlahan, Kushina mengoleskan kapas tersebut pada luka yang terdapat di bagian pipi kanan Minato.

"Bagaimana? Apa tempo pengobatanku sudah bisa dikatakan lambat?" Kushina bertanya beserta senyum yang ia lontarkan pada Minato.

Minato hanya menggangguk. Tersenyum pada Kushina.

.

.

.

.

.

Kediaman Namikaze~

"Tadaima!" Minato membuka pintu rumahnya dan melesat masuk kedalam.

"Okaeri! Mina-chan sudah pulang, ya?!" spontan Minato memanyunkan bibirnya ketika ia dipanggil dengan suffix 'chan' oleh kaa-sannya yang membalas salamnya. Minato mendekati kaa-sannya begitu pula dengan kaa-sannya. Dapat diberitahu, nama wanita itu, Shishui Namikaze.

"Mmm .. kau terlihat imut, saat kau memajukkan bibirmu seperti itu," Shishui merasa gemas terhadap tingkah laku putra semata wayangnya tersebut, hingga ia mencubit pipi Minato.

Sengaja atau tidak, ternyata Shishui mencubit pipi sebelah kanan Minato, yang membuat Minato meringis kesakitan, karena kaa-sannya mencubit bagian lukanya. "Ah .. ada apa dengan pipi sebelah kananmu, Minato? Terlihat sedikit memerah dan membengkak,"

Spontan Minato menutup bagian lukanya itu. "Ah .. tidak ada apa-apa kok, kaa-san. Eh .. Mina-chan ke kamar dulu, ya," Minato melesat pergi dari hadapan kaa-sannya.

'Ada apa dengannya? Sepertinya di pipi sebelah kanannya terdapat luka. Luka karena apa? Eh .. tunggu, tadi ia menyebut dirinya 'Mina-chan', bukannya ia benci, jika dirinya disebut dengan suffix 'chan'?' batin Shishui.

.

.

.

Kamar Minato~

Minato menatap lukanya pada sebuah cermin. Luka'nya begitu memerah dan membengkak. "Pukulan apa yang ia berikan pada pipi kananku ini? Sampai-sampai ia membuat luka memar pada pipi sebelah kananku. Tetapi, luka'nya sedikit bersih sesudah ia mengobatiku," Minato bergumam sambil menatap wajahnya yang sedikit rusak di kaca. Rusak karena luka yang terpampang jelas di pipi sebelah kanannya. Jika fans-fans'nya tahu tentang keadaannya sekarang, bisa-bisa perioritasnya sebagai siswa paling tampan di KHS, bisa turun dengan drastis.

Cklek.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan terdapat seorang pria yang lebih tua darinya sedang menatap aneh pada Minato.

"Eh .. tou-san, ada perlu apa kemari?" ucap Minato pada pria yang ia sebut 'tou-san'.

"Mengapa kau bercermin seperti itu? Dan kenapa kau belum mengganti baju seragam sekolahmu?" tanya tou-sannya. Dapat diberitahu namanya Kazuto Namikaze.

Minato hanya menyengir lebar pada tou-sannya. Kazuto menghampiri putranya yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. Ia melihat tingkah Minato, yang menutupi pipi sebelah kanannya. Spontan, ia menyingkirkan tangan yang menutupi pipinya tersebut. Dan lukanya sekarang terlihat oleh tou-sannya.

"Ada apa dengan pipimu?"tanya Kazuto dengan nada bicara yang dingin membuat Minato bergidik ngeri, takut jika tou-sannya akan memarahinya karena luka tersebut.

"Pipi sebelah kananku terluka,"

"Mengapa bisa terluka? Kau pasti berkelahi dengan Kushina lagi 'kan!?" Minato terlihat kaget karena tou-sannya bisa tahu alasan mengapa ia mendapatkan luka memar tersebut.

"Mengapa tou-san bisa tahu?" pertanyaan Minato membuat senyum di bibir tou-sannya. Kazuto pun duduk di tepi ranjang sebelah Minato.

"Tadi, sebelum kau tiba dirumah, Kushina mengabari tou-san kalau kau terluka karenanya, ia meminta maaf pada tou-san. Ia menjelaskan alasannya kenapa ia menghajarmu. Akhirnya tou-san mengerti alasannya, dan tou-san memaafkannya. Katanya lukamu sudah diobati olehnya?" jelas Kazuto. Minato hanya mengangguk.

"Tou-san tidak marah, karena aku berkelahi?" Kazuto menggelenggkan kepalanya mendengar pertanyaan konyol dari putranya tersebut.

"Kalian itu bukan berkelahi, tapi hanya bermain. Lagi pula tou-san akan memaklumi jika kalian berkelahi. Karena tou-san tahu sifat Kushina," jelas Kazuto.

"Mengapa tou-san bisa tahu sifat Kushina?" Kazuto hanya menghela napas berat akan pertanyaan dari Minato ini.

"Minato, kau ini pikun, ya?! Kau dan Kushina itu 'kan sudah berteman dari kau masih duduk di bangku TK. Sangat pasti tou-san tahu sifat asli Kushina, tou-san juga 'kan berteman dengan orangtua gadis itu," Minato hanya menyengir setelah mendengar penjelasan dari tou-sannya.

"Minato," Kazuto memanggil.

"Ya, tou-san, ada apa?" sahut Minato

"Ada yang ingin tou-san bicarakan ...,"

.

.

.

Kamar Kushina~

Bagaimana keadaannya sekarang? Membaik atau semakin memburuk?

Apa ia terkena marah orangtuanya, karena luka tersebut?

Apa ia akan dihukum, karena luka itu?

Apa besok aku akan terkena marah orangtuanya disekolah, karena luka itu?

Apa besok tidak akan masuk sekolah, karena luka'nya belum sembuh?

"GYAAH .. aku tak dapat memikirkannya! Bagaimana dengan nasibku-ttebane?" Kushina mendengus kesal setelah memikirkan barisan pertanyaan yang sejak tadi ia pikirkan. Gadis itu berbaring tengkurap diatas ranjang sembari membenamkan kepalanya dibawah bantal. "Aku tahu aku salah, aku yang membuatnya seperti itu-ttebane,"

Beberapa menit berlalu, Kushina merasa sulit untuk bernapas, karena kepala yang berada dibawah bantal dan tentunya pasokan udara sangat langka ditemukan. Akhirnya ia bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkon. Ia duduk di teras balkon dengan keadaan melamun.

"Kushi-chan, sedang apa kau disini?" suara wanita yang begitu familiar bagi Kushina, bertanya padanya. Wanita itu berada dihadapannya sedang mengangkat jemuran.

"Eh .. ada kaa-san. Kaa-san sendiri ngapain berada di balkonku?" wanita yang Kushina panggil 'kaa-san' hanya dapat menghela napas berat mendengar pertanyaan dari Kushina. Dapat diberitahu namanya Mito Uzumaki.

"Kamar kaa-san dan kamarmu bersebelahan 'kan?!" tanya Mito. Kushina hanya menggangguk.

"Apa kau tidak sadar, balkon kita 'kan menyatu," Kushina menengok kesebelah kanan, tepat disana kamar kaa-sannya dan balkon mereka memang menyatu. Ia hanya dapat menyengir mendapat bahwa dirinya sudah sedikit pikun.

"Terus kenapa kaa-san menjemur pakaian di balkon ku?" tanya gadis itu pada Mito.

"Tempat jemuran di balkon kaa-san sudah penuh, jadi kaa-san memakai balkonmu. Tak apa 'kan?!" Kushina hanya ber'oh'ria mendengar penjelasan dari kaa-sannya.

Mito kembali melanjutkan kegiatannya.

"Lagi pula, kaa-san lihat kau sepertinya sedang galau. Benar?" tanya Mito tanpa mengalihkan kegiatan mengangkat jemurannya. Kushina menggangguk. "Galau kenapa?" kali ini tidak ada respon dari Kushina. Wajah gadis itu menjadi memelas.

Setelah merasa selesai mengangkat pakaian, akhirnya ia menaruh pakaian keringnya di meja yang terletak didekat sana. Mito hanya ikut duduk disebelah anaknya. "Kamu galau kenapa, Kushi-chan?" tanya Mito pada putri semata wayangnya tersebut sembari mengelus pelan kepala putrinya.

"Minato-ttebane," Spontan Mito menyeringgai setelah mendengar nama 'Minato' yang keluar dari mulut anaknya.

"Ada apa dengan Minato?"

"Aku yang salah,"

"Hah?" Mito keheranan.

"Aku menghajarnya tadi disekolah, hingga ia mendapat luka memar pada pipi sebelah kanannya. Itu salahku," Mito tertawa kecil mendengar penjelasan dari anaknya yang satu ini.

"Kaa-san tahu, pasti saat itu kau sedang emosi, iya 'kan?" Kushina menggangguk. "Tidak perlu khawatir, kaa-san tahu kalian hanya bermain saja, tidak lebih,"

"Aku harus khawatir, karena ia ter-" perkataan Kushina terhenti setelah kaa-sannya menempelkan jari telunjuknya di bibir Kushina.

"Kaa-san tahu sifat asli kalian, sifat kalian itu sangat bertolak belakang. Dari kecil kalian memang tidak pernah akur, seperti anjing dan kucing," Kushina menggembungkan pipinya setelah dikatai seperti hewan oleh kaa-sannya.

"Jadi, kaa-san menyamaiku pada hewan?"

"Tidak juga, tapi ini memang kenyataan, Kushi-chan,"

.

.

.

KHS (Konohagakuen High School)~

Angin pagi berhembus cukup kencang pagi ini, tapi entah kenapa gadis bersurai merah itu justru tetap bertahan di balkon kelasnya di lantai dua. Ia memang memakai mantel hangat, namun bahan mantel tersebut sudah sedikit tipis, otomatis hawa dingin tetap menusuk kulitnya. Ditambah pagi ini, salju semakin deras turun. Ia menatap dari lantai dua siswa-siswa yang beralu- lalang memasuki kelas mereka masing-masing. Melamun adalah kegiatan yang dilakukannya pagi ini.

"Hei, besok pertunjukkan acara musim dingin dimulai 'kan?!"

"Iya, aku akan bersama kekasihku,"

"Tentu,"

Gadis bersurai merah itu, hanya dapat mendengus sebal mendengar obrolan-obrolan siswi lain yang berada disebelahnya. Obrolan mereka membuat acara melamunnya terganggu.

Besok. Pertunjukkan musim dingin dimulai. Acara yang paling ia benci. Sungguh ia tidak bisa berkata apapun tentang kegiatan yang menurutnya menyebalkan itu. 'Semuanya ulah Durian jelek itu!' batinnya kesal. Ia tidak tahu akan berpasangan dengan siapa nanti saat kegiatan tersebut. Ken?. Ah, itu sangat tidak mungkin terjadi.

"Masih pagi, sudah melamun lagi, ya?" suara yang sangat familiar di telinga Kushina, berkata padanya. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan ia menepati Minato yang sekarang berada disampingnya.

Awalnya ia ingin membunuh cowok yang berada disebelahnya ini. Namun, setelah melihat luka yang masih sedikit terpampang di pipinya, spontan ia merubah niatnya. "Lukamu masih belum sembuh?" tanya gadis itu sambil memperhatikan luka tersebut. Minato hanya meletakkan tangannya pada luka tersebut. Tersenyum manis pada gadis itu. Spontan wajah gadis itu merona. 'Ah .. kenapa tiba-tiba ia tersenyum padaku? Sangat jarang ia melemparkan seyumnya itu. Dan, ah .. Kami-sama, kali ini aku merasakan wajahku panas. Apa yang terjadi?' batinnya.

"Kushina, ada apa dengan wajahmu?" Kushina tak sadar bahwa sedari tadi Minato memperhatikan wajahnya terutama garis meronanya. Kushina hanya memalingkan wajahnya dari hadapan Minato, berusaha menyembunyikan rona itu.

"Uh .. aku tidak apa-apa," sekali lagi seulas senyum tulus ia buat untuk Kushina. "Ah .. sudahlah, ayo masuk ke kelas. Diluar keadaan semakin dingin," ucap Kushina seraya mendorong Minato agar masuk ke dalam kelas bersamanya.

"Eh .. tunggu dulu, aku ingin bertanya. Kenapa gaya bicaramu sekarang terasa berbeda? Biasanya kau berkata 'gue' dan 'lo' tapi kenapa sekarang 'aku' dan 'kamu'?" Minato menyeringgai.

Kushina bingung menjawab pertanyaan Minato. Apa ia harus berkata frontal bahwa ia khawatir. Ah, ia merasa tidak perlu. Kalau ia berkata jujur, prerioritasnya sebagai Habanero Merah alias gadis menyeramkan akan terhapus, karena sekarang ia menjadi lembek. "Itu bukan urusanmu! Kau juga, kudengar bahasa bicaramu juga berbeda," Kushina balas menyeringgai pada Minato.

Rupanya mereka berdua tidak bisa menjawab pertanyaan mereka masing-masing. Secara, perubahan terjadi pada mereka berdua.

.

.

.

.

.

KRIING!

Akhirnya bel pulang berbunyi. Seperti biasa, anak-anak berebut untuk keluar melewati gerbang sekolah. Namun, masih ada anak-anak yang berada di sekolah, dikarenakan kegiatan Ekskul dan piket kelas.

Kelas 12-2~

"Minatooo! Kalau menyapu yang benar, dong. Lihat, bukannya menjadi bersih, kelas ini malah menjadi semakin kotor karena ulahmu!" si Habanero Merah berteriak pada si Durian jelek karena kerja sang Durian yang tidak sportif. Rupanya mereka sedang piket kelas.

"Ya sudah, kalau begitu, aku akan mengepel," saat Minato akan mengambil lap pel, spontan tangannya ditepis oleh Kushina.

"Jangan mengepel! Jika kau mengepel, bisa-bisa ruangan kelas ini menjadi banjir-ttebane,"

"Lalu, aku harus apa?"

"Lebih baik kau tidak perlu piket kelas!"

"Baiklah kalau itu maumu," Minato manyambar tasnya dan pergi keluar kelas meninggalkan Kushina sendiri didalam kelas.

Saat Minato baru saja melangkah keluar kelas,

"MINATOO! Jangan tinggalkan aku sendirian!" teriak Kushina ketakutan sendiri didalam kelas.

Minato hanya menghela napas berat. Saat ia akan kembali ke dalam kelas, spontan Kushina sudah tiba didepannya. "Lho .. kau tidak akan membersihkan kelas?" Kushina tak peduli terhadap pertanyaan Minato. Ia malah lurus berjalan meninggalkan Minato. Untuk yang kedua kalinya, Durian itu menghela napas berat. Namun senyuman terukir di bibirnya."Maafkan aku Kushina. Aku sengaja membuat mood mu jelek," Rupanya Durian itu menjahili sang Habanero. Hanya untuk melihat wajah jelek Kushina.

.

.

.

Koridor sekolah~

'Uhh .. Minato menyebalkan. Baru saja tadi pagi aku berbuat baik padanya. Namun, ia tetap tidak berubah. Membuat mood baikku hilang-ttebane' batin Kushina berjalan diantara koridor sekolah, sambil memamerkan wajah sebalnya. Ia terus berjalan tak tentu arah. Sekarang pikirannya hanya menjauh dari Durian jelek itu.

Suasana koridor sudah lumayan sepi. Namun, masih ada siswa yang berlalu lalang. Seketika langkah gadis itu terhenti, karena ia melihat seseorang yang familiar dimatanya sedang berjalan didepannya.

"Ken?" seulas senyum ia buat dan berlari kecil mengejar Ken yang kini berjalan didepannya. Ia sudah cukup senang bertemu dengan kekasihnya dan berencana akan mengagetkannya dari belakang.

"Hai, Ken!"

DEG.

Seseorang memanggil nama kekasihya tersebut. Seorang gadis. Gadis itu bernama Kagumi Hasegawa, ia menghampiri Ken. Langkah Kushina terhenti karena melihat Ken bergandengan dengan gadis itu.

Iris violet'nya berkaca-kaca. Ia merasa tidak kuat untuk menahan agar air matanya tidak jatuh. Kali ini dadanya sesak melihat pemandangan tersebut. "Ken!" Panggilnya. Rupanya Ken menoleh dan terlihat kaget melihat Kushina yang sedari tadi berada di belakangnya. Ia melemparkan seyuman tulus pada kekasihnya.

"Lebih baik, mulai saat ini kita akhiri hubungan kita,"

.

.

.

Gadis itu berjalan. Bukan berjalan. Melainkan berlari. Ia berlari tak tentu arah untuk menjauh dari seseorang yang sekarang ia benci. Gadis itu menangis. Air mata terus berjatuhan dari pelupuk matanya. Moodnya kacau hari ini. Ia benar-benar butuh pelampiasan untuk mendengarkan keluh kesahnya ini. Langkahnya tiba-tiba terhenti setelah melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang berjalan didepannya. "Minato .." ia bergumam pelan menyebutkan nama orang itu. Ia berlari mengejar Minato.

BUGH.

Ia memeluk cowok itu dari belakang. Membuat kaget orang yang sedang ia peluk.

"Ah .. rupanya kau, Kushina," ucap Minato sambil menengadah ke belakang, melihat seseorang yang saat ini sedang memeluknya.

"Mina-to .." Minato tersentak mendengar perkataan Kushina yang terbata-bata. Ia tidak ingin tahu bahwa Kushina menangis. "Kushina, kau kenapa?" Minato melepaskan pelukan Kushina dan berbalik mengahadap gadis itu. Dugaannya benar, Kushina menangis."Kushina, apa yang terjadi padamu?" Minato bertanya seraya mengelus kepala gadis itu dan merapikan rambut Kushina yang saat ini berantakan. "Kushina, aku mohon jangan menangis,"

"Minato .."

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Minato berharap pertanyaannya kali ini dijawab oleh Kushina.

"Ken .. aku melihatnya bersama Kagumi," sekarang Minato tahu alasan Kushina menangis seperti ini. Gadis itu pasti sakit hati atas kelakuan kekasihnya.

.

.

Mereka berdua berada di taman, duduk di bangku taman. Tentunya suasana disana sudah sepi, rata-rata anak-anak sudah pulang. Ditaman hanya ada mereka berdua disana. Kushina yang melamun dan Minato yang sedang berfikir mencari obrolan agar suasana tidak se'sunyi ini. Dan yang lebih baik, air mata gadis itu sudah mereda dan dia juga merasa lega karena telah mencurahkan keluh kesahnya pada orang yang sekarang berada disebelahnya.

"Mmm .. Kushina, apa besok kau akan mengikuti kegiatan musim dingin?" tanya Minato memecah keheningan.

"Ya," jawab Kushina singkat.

"Kau berpasangan dengan siapa?"

"Aku tidak tahu,"

Minato sedikit kaget karena tahu bahwa Kushina belum memiliki pasangan untuk kegiatan besok. Dengan Ken? Itu tidak mungkin. Mereka baru saja mengakhiri hubungan mereka. "Syarat untuk mengikuti kegiatan besok 'kan, harus berpasangan,"

"Aku tahu. Kau pasti sedang mengejekku karena aku belum memiliki pasangan untuk kegiatan besok 'kan?! Mentang-mentang kau sudah mempunyai pasangan, iya 'kan?!"

"Tentu saja tidak," Kushina hanya dapat melongo mendengar ucapan Minato. "Kau tahu, aku belum mempunyai pasangan untuk kegiatan besok,"

"Kenapa kau belum mempunyai pasangan? Kenapa kau tidak memilih diantara fans-fans mu itu?" tanya Kushina. Ia sedikit kaget karena tahu bahwa Minato belum mempunyai pasangan untuk kegiatan besok.

"Aku sama sekali tidak tertarik kepada fans-fans ku," ujarnya dengan santai.

"Jadi, hanya kita berdua yang belum mempunyai pasangan untuk kegiatan besok?" Minato menggangguk atas pertanyaan dari Kushina. "Oh .. jadi, maksudmu sekarang ini, sedang memancingku untuk berpasangan denganmu dalam kegiatan besok, iya 'kan?!" Untuk yang kediua kalinya, Minato menggangguk atas pertanyaan dari Kushina.

"Jadi, mau tidak? Daripada kau tidak mempunyai pasangan, tidak mengikuti kegiatan besok, dan terkena denda," ujar Minato sedang memancing Kushina. Kushina melirik Minato sejenak dan berfikir akan ajakan Minato tersebut.

"Ya, boleh saja sih, tapi aku menerima ajakanmu karena terpaksa, ya," Minato terseyum akhirnya rencananya berhasil.

"Kalau begitu, besok bawa sepatu ski'mu untuk kegiatan besok," ucap Minato seraya berdiri dari bangku yang membuat Kushina sedikit kaget.

"Eh .. tu-tunggu dulu, aku tidak mempunyai sepatu ski dan aku juga tidak bisa menggunakannya,"

"Soal kau tidak mempunyai sepatu ski, kita akan beli sekarang, dan soal kau tidak bisa menggunakan sepatu tersebut, kita akan latihan besok," jelas Minato sambil menarik lengan Kushina berdiri.

"Eh .. besok akan berlatih dimana? Toh kegiatannya dimulai besok 'kan?!"

"Kegiatan dimulai pukul 10.00 pagi. Jadi kita masih mempunyai waktu untuk latihan 'kan?!" Kushina menggangguk atas penjelasan Minato.

Ah .. dan kini pipi gadis itu merona karena senyum yang Minato lemparkan untuknya. Begitu pula dengan Kushina yang membalas senyum cowok tersebut. "Kalau begitu, ayo antar aku membeli sepatu itu," sekarang Kushina menarik tangan Minato. Ya, mereka berlari.

Salju yang mereda dan juga hangatnya matahari terbenam menyemangati mereka. Warna matahari terbenam membuat rona di pipi gadis itu bertambah manis.

'Ah .. baru pertama kali, aku merasa jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Karenanya, ya, si Durian jelek,'


TBC

Hore .. bersambung.

Oh ya .. gomen Yuki update chap 2'nya supeeerr lamaaa. Yah .. minna-san pasti tahu 'kan tentang pengalaman buruk yang menimpa Yuki, karena lembaran-lembaran tugas yang menumpuk yang membuat Yuki jarang update.

Tolong salahkan lembar-lembar tugas dan jangan salahkan Yuki, karena lama update.

Balasan Review :

Yoshi Kagemura : Arigatou atas review dan punjiannya. Typo? Okeyy akan Yuki perbaiki lagi. Ini sudah lanjut chap 2.

Kino095 : Arigatou untuk review dan pujiannya. Akan Yuki perbaiki lagi typo'nya. Ini sudah lanjut chap 2.

Miku-chan : Arigatou Miku-chan. Ini sudah lanjut chap 2.

Balasan Review yang lain lewat PM.

Akhir kata ...

Review ... Please ...