Title: ROOM [2-2] [END]

Author: Myka Reien

Main Cast: KaiSoo

Slight: ChanBaek, KrisHo, ChenMin, HunHan, TaoXing (beberapa gak muncul & cuma numpang nama)

Genre: Rate T, GS

Note: No bash, no flame, no peanut please~^^ Let's be a good reader and good shipper~^^

HAPPY READING 뿅~뿅~

.

.

.

ROOM

[2-2]

[END]

.

.

.

Hari ini adalah hari ketujuh Kyungsoo menginap di rumah Baekhyun. Sebenarnya sudah waktunya dia harus kembali ke rumahnya sendiri, bukan karena Kai memintanya pulang tapi karena Chanyeol sudah pulang dan sepertinya Kyungsoo harus segera hengkang sebelum dituduh mengganggu 'pertemuan' akhir pekan pasangan itu. Karena Chanyeol bekerja di luar kota, di Busan, dan baru bisa kembali ke Seoul setiap hari Sabtu, pantaslah jika akhir pekan merupakan waktu yang sakral bagi Baekhyun dan suaminya, menepikan Kyungsoo dengan masalah pertengkarannya yang belum selesai.

Dan hari ini pun Kyungsoo kesepian. Baekhyun pergi ke pasar sejak pagi tadi lalu Chaehyun asyik bermain dengan Appa-nya di depan televisi, tidak mengacuhkan Kyungsoo yang duduk di sofa yang hanya bisa memandang mereka dengan rasa iri menyelusup di hatinya.

Dengan mulut manyun Kyungsoo memperhatikan bagaimana Chanyeol bicara, menggoda, dan membuat anaknya tertawa. Juga bagaimana Chaehyun merespon setiap sikap Appa-nya seolah dia mengerti semuanya. Padahal usia bayi itu baru setahun dan dia hanya melihat Chanyeol 2 hari dalam seminggu, namun tidak terlihat jika dia merasa asing pada Chanyeol. Seolah Chaehyun sudah hapal pada wajah Appa-nya itu.

"Kyungsoo-ya, apa kau lapar?" tegur Chanyeol yang menyadari Kyungsoo tidak bersuara sejak tadi, sejak Baekhyun pergi keluar.

"Ne? Ah, tidak, aku tidak lapar." Kyungsoo menggelengkan kepala.

"Lalu kenapa kau diam saja? Akan aku buatkan sesuatu kalau kau lapar," ujar Chanyeol sambil meletakkan Chaehyun di pangkuannya.

Kyungsoo kembali menggeleng. "Aku baik-baik saja."

"Apa kau masih belum berbaikan dengan Kai?" tanya Chanyeol membuat Kyungsoo mendesis.

Entah kenapa semua orang sekarang tahu masalah pertengkarannya dengan Kai seolah mereka berdua adalah selebritis. Walau Kyungsoo mengerti itu hanya simbol dari perhatian dan kecemasan teman-temannya, namun mendengar pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang berbeda cukup membuat dia malu juga.

Kyungsoo hanya menyunggingkan senyuman tipis menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Tenanglah, Kai pasti sudah tidak marah lagi padamu. Malah sebaliknya, mungkin saja dia sedang merindukanmu sekarang. Hanya saja dia gengsi untuk minta maaf lebih dulu. Bocah itu sejak dulu memang begitu. Tabiatnya sedikit kasar, meski sebenarnya dia cukup pemalu. Dia tidak berani menemuimu karena berpikir kau masih marah padanya," jelas Chanyeol yang pernah menjadi sunbae Kai waktu SMA.

Kyungsoo kembali tersenyum dan mengangguk. Tentu dia sudah tahu sifat Kai yang satu itu. Kai memang hampir tidak pernah mengucapkan kata 'maaf', 'terima kasih', maupun 'cinta' dari mulutnya. Dia pemalu, dia terbiasa mengatakannya melalui sikap. Kai tidak pandai mengucapkan isi hatinya, namun dia selalu bisa menyampaikannya dengan cara lain. Itulah sisi manis Kai yang tidak banyak diketahui orang dan menjadi salah satu magnet Kyungsoo untuk tetap mencintai namja berekspresi flat tersebut.

"Huweee...!" mendadak Chaehyun menangis, membuat Kyungsoo terkejut dan Chanyeol gelagapan.

"Ya, ya, ya, ya, kenapa kau tiba-tiba menangis, huh?" tanya Chanyeol panik sambil berdiri dan menggendong Chaehyun, mengelus-elus punggungnya supaya bayi itu tenang dan berhenti menangis. Tapi Chaehyun masih belum berhenti menangis dan malah makin menjerit keras.

"Berikan padaku, biarkan aku menggendongnya," pinta Kyungsoo.

"Andwe." Chanyeol menolak. "Baekhyun bilang kau tidak boleh menggendong Chaehyun apapun yang terjadi," sambungnya.

"Chaehyun-ah, ada apa? Kenapa kau menangis, huh? Kau lapar? Apa kau mau Umma? Iya? Kau mau bertemu Umma? Tunggulah sebentar lagi, Umma akan segera pulang, ne?" Chanyeol mencoba membujuk anaknya sambil berjalan menimang-nimang bayi itu. Chaehyun masih belum mau berhenti menangis.

"Kyungsoo-ya, aku mau keluar sebentar membawa Chaehyun melihat-lihat anjing tetangga, kali saja dia mau berhenti menangis. Kau tidak apa-apa 'kan sendirian?" tanya Chanyeol pada Kyungsoo yang masih berdiri cemas di dekat sofa.

"Ne, tidak apa-apa," jawab Kyungsoo sambil mengangguk.

"Aku akan segera kembali," ujar Chanyeol sebelum menutup pintu apartemen. Tangisan Chaehyun masih terdengar samar dari balik pintu apartemen, namun beberapa saat kemudian tangisan itu menghilang. Kyungsoo menghela napas lega mendengar Chaehyun yang sudah tidak menangis lagi.

Jiitt, Kyungsoo meringis sambil memegang perutnya saat tiba-tiba dia merasa nyeri luar biasa di perutnya. Perlahan yeoja mungil itu mendudukan tubuh di sofa, bersandar dan mencoba untuk serileks mungkin. Namun rasa sakit di baby tummy-nya masih belum menghilang.

Wajah Kyungsoo memucat dan keningnya mulai berkeringat. Tangannya mencengkeram bantalan sofa hingga kuku jarinya memutih menahan sakit. Rasanya dinding rahimnya mengeras dan menjadi sangat kaku. Kram perut. Napas Kyungsoo terengah-engah, pandangan matanya mulai kabur saking dia tidak kuat menahan rasa nyeri yang berasal dari dalam perutnya.

Ada apa, aegi-ya? Ada apa denganmu? Batin Kyungsoo payah. Meski dia masih berusaha keras untuk menahan rasa sakit yang merajalela di tubuhnya, namun sebisa mungkin dia tidak panik dan bergerak ceroboh.

Kyungsoo mencoba untuk bernapas dengan teratur. Menghirup udara dari hidungnya dan mengeluarkannya perlahan dari mulutnya. Dia tetap berusaha untuk tenang. Akhirnya, setelah beberapa menit rasa sakit itu berkurang. Kyungsoo menghembuskan napas lega. Diusapnya perutnya dengan lembut. Dia menutup mata, mencoba merasakan gerakan janin kecilnya di dalam sana, mencoba menerka kegelisahan yang dia rasakan, hingga entah kenapa tiba-tiba saja pikirannya hinggap di satu orang. Kai.

RO_OM

Bengkel sangat ramai siang itu. Orang-orang nampak duduk berjejer di ruang tunggu menanti antrian mobil mereka selesai diservis. Tak jauh beda dengan suasana ruang tunggu yang ramai oleh obrolan dan suara tv, tempat servis juga terdengar ramai tapi oleh suara mesin mobil, suku cadang, dan suara alat pembersih sementara kebanyakan para mekanis yang sibuk bekerja siang itu malah menutup mulut mereka, berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Di antara para mekanis tersebut terlihat Kai, yang juga tidak menghentikan gerakannya sedikit pun. Sepasang tangannya terus bergerak lincah, menemukan pekerjaan dengan mudah dan berpindah cepat dari satu tugas ke tugas yang lain. Meskipun wajahnya menampakkan keletihan tapi sepertinya tidak terlihat sedikit pun jika dia ingin beristirahat, sebab rekan-rekannya yang lain juga sama-sama sibuk dan tidak ada yang bersantai-santai.

"Kim Jongin, neo gwaenchana?" tegur salah seorang mekanis yang bekerja satu tim dengan Kai. Kai menoleh untuk memandang wajah temannya sesaat lalu dia mengangguk.

"Gwaenchana, wae?" balasnya heran.

"Wajahmu pucat, kau sakit?" tanya namja itu lagi, ada sirat khawatir di raut mukanya.

Kai mendekati kaca spion dan mengamati wajahnya sendiri yang terlihat kucel, kotor oleh debu, noda oli, dan keringat.

"Jinjja?" namja berkulit tan itu kembali balik bertanya membuat temannya mendesis keras.

"Kau pucat dan banyak sekali berkeringat. Kau pasti demam. Kau tidak merasakannya?" entah kenapa teman Kai jadi merasa kesal sendiri.

Kai hanya membalas dengan cengiran tanpa mengatakan sepatah kata pun. Memang pagi ini dia bangun dengan kepala terasa sakit. Tidak biasanya kepalanya pusing dan berdenyut seperti itu. Dan lagi badannya juga sedikit terasa aneh, dia kedinginan tapi begitu memakai pakaian tebal dia malah merasa kepanasan. Mungkin saja memang benar jika dia sedang demam, namun selama Kai masih merasa kuat untuk berdiri tidak ada alasan baginya untuk meliburkan diri.

"Mintalah ijin pada manager dan pulanglah lebih cepat. Kau butuh istirahat." Teman Kai memberi nasehat.

"Gomawo, tapi aku baik-baik saja. Aku tidak akan ambruk, tenang saja," ujar Kai lalu menyeringai.

"Dasar gila. Kau punya kesempatan membolos tapi kau tidak mau menggunakan," cibir namja itu, kembali membuat Kai terkikik.

"Mana bisa aku membolos kalau gajiku dihitung berdasarkan jam kerjaku. Ngawur!" balas Kai tidak mau kalah. Lalu obrolan mengenai Kai yang sakit berakhir sampai di situ.

. . .

Matahari sudah terbenam ketika dengan susah payah Kai berhasil sampai di depan pintu apartemennya. Namja itu memegang knop pintu tanpa bergerak sedikit pun. Keningnya menempel di daun pintu dengan napas terengah-engah. Kedua matanya yang tersembunyi di balik poni nampak berkedip payah dan keringat dingin sebesar biji jagung masih belum mau berhenti mengalir dari balik rambut coklatnya yang setengah basah.

Kai menempelkan kunci hologramnya dan nyaris jatuh terjerembab begitu pintu kamarnya terbuka. Namja tersebut berpegangan pada dinding, mencoba untuk tetap bisa berdiri dengan kedua kakinya. Pandangan mata Kai mulai membuyar, antara berwarna buram dan putih. Kepalanya yang berdenyut hebat sudah tidak dapat dia rasakan lagi saking terasa begitu menyakitkan.

Kai melepas sepatu dan berjalan sempoyongan menuju ruang tamu, ruangan terdekat yang bisa dia capai dari beranda. Namja tersebut berpegangan pada sandaran sofa, melepaskan tasnya, dan tetap di posisinya selama beberapa menit, mencoba untuk mengumpulkan kesadaran dan kekuatan. Setelah dirasa cukup kuat, Kai membalikkan haluan kakinya, kali ini dia menuju dapur.

Dengan tangan gemetar, namja itu membuka setiap laci rak dapur, mencari obat. Sambil menepikan kepalanya yang seperti ditusuk-tusuk jarum dan badannya yang terbakar panas, sebisa mungkin Kai memaksakan diri untuk tetap fokus dan berusaha menemukan apapun yang bisa meringankan penderitaannya sekarang.

Jatuh sakit di saat Kyungsoo tidak ada di sekitarnya untuk merawatnya adalah nerakanya neraka. Bersama gadis itu sukses membuat Kai manja dan terlalu bergantung padanya, sampai-sampai 1 minggu tanpa kehadirannya saja bisa membuat seorang Kim Jongin jatuh sakit karena menjalani hidup secara serampangan.

Bruk!

Tubuh Kai berada di ambang batas kekuatannya. Tanpa pertahanan, badan jangkung itu jatuh lemas hingga tergeletak begitu saja di atas lantai. Masih ada kesadaran Kai yang tersisa, terbukti dari kedua matanya yang masih berkedip dan jarinya yang masih bergerak-gerak mencoba merayapi pintu loker rak dapur paling bawah, berharap secara ajaib ada obat yang muncul dari sana. Napas Kai memburu layaknya orang selesai lari maraton sedangkan wajahnya pucat pasi dengan bibir nyaris putih karena dehidrasi dan sejak pagi tadi sudah berkeringat dingin begitu banyak.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Kai menarik pintu loker yang tergapai oleh tangannya yang lemah dan dingin seperti membeku. Ujung jari tangan dan kakinya merasa kedinginan, tapi tubuhnya merasa kepanasan. Pintu itu terbuka, tapi bukan obat yang ditemukan Kai, melainkan barang-barang yang tertata rapi memenuhi spasi loker. Alis Kai mengerut, dia menajamkan penglihatannya yang mulai separuh kehilangan fokus. Namja itu menyentuh benda-benda yang disusun teratur memenuhi loker dan mengambil satu dengan sekuat tenaga. Kai berusaha untuk bangkit dan mendudukkan badannya meski yang dia terima kemudian adalah rasa sakit akibat kepalanya yang berdenyut hebat.

Kai merintih menahan sakit, tapi itu tidak bertahan lama karena dia harus segera melihat benda di tangannya sebelum kesadarannya menipis lagi. Mata yang mulai blur, pusing yang membuat otaknya mendidih, dan ruangan yang tidak mau berhenti bergoyang, membuat Kai tidak bisa mempercayai visual yang tertangkap oleh retina matanya begitu melihat benda macam apa yang ada di tangannya sekarang. Itu kaset, sebuah kaset video game yang sangat dia kenal. Kaset yang menjadi salah satu barang koleksinya yang dulunya dia letakkan di kamar kecil di ujung koridor.

"...aku membuangnya."

Kembali, kalimat dingin Kyungsoo menggema di gendang telinga Kai. Namja tersebut termangu sebentar.

Kyungsoo bilang dia sudah membuangnya... batin Kai. Lalu kenapa benda ini di sini? Sambungnya.

Kai bermaksud untuk membuka loker itu lebih lebar dan memeriksa isinya lebih jauh tanpa ingat bagaimana kondisi tubuhnya sekarang. Bruk! Kai kembali ambruk. Rasa panas yang merembet cepat di dalam aliran darahnya dan pusing yang kembali bertahta di kepalanya membuat Kai tersadar sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas pertengkarannya dengan Kyungsoo. Menemukan obat jauh lebih penting dari apapun.

Tangan Kai terulur, mencoba menggunakan ukiran-ukiran rak dapur sebagai pegangan dan penyangga tubuhnya supaya bisa berdiri. Namun tak ada tenaga lagi yang tersisa. Namja itu tak bisa bergerak sedikit pun dari tempatnya terbaring. Di saat dia sudah tidak dapat menggerakkan tubuhnya lagi, hanya satu nama yang dia sebut di dalam hati. Nama yang dia harap akan datang dan muncul layaknya malaikat yang menyelamatkan nyawanya.

Kyungsoo-ya...

Kedua mata kelam Kai semakin terlihat kosong dan hilang fokus, hingga akhirnya terpejam rapat. Napasnya masih memburu dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi meski keringat masih juga merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Kai tak sadarkan diri...dan kritis.

RO_OM

Begitu taksi berhenti di depan bangunan gedung apartemen, segera Kyungsoo membuka pintu dan berlari masuk ke dalam gedung. Dia terus berlari terburu-buru tanpa ingat pada makhluk kecil di dalam dirinya yang ikut terguncang-guncang seirama langkah kakinya. Kyungsoo sampai di dalam lift. Tangan yeoja tersebut gemetar ketika menekan tombol sepuluh di dinding lift, kecemasan menguar kuat dari wajah mungilnya yang cantik. Dengan panik gadis itu menggigit-gigit kuku jari tangannya tanpa sadar.

Beberapa saat yang lalu dia menerima telpon dari Chen yang mengatakan kalau namja itu baru saja mengantar Kai pulang. Kai tidak bisa pulang sendiri karena dia sedang demam tinggi dan ternyata seharian dia sudah bekerja sambil menahan sakit itu. Chanyeol, Baekhyun, dan Chaehyun sedang pergi keluar untuk berbelanja kebutuhan si kecil bersama-sama, jadi tak ada yang tahu jika Kyungsoo sudah tidak ada di rumah mereka.

Pintu lift terbuka dan Kyungsoo kembali berlari tergesa menuju kamarnya yang berada di ujung koridor. Gadis itu merogoh saku mantelnya, mencoba menemukan kunci hologramnya. Kyungsoo semakin panik begitu dia tidak juga bisa menemukan kuncinya. Yeoja tersebut tidak kehabisan akal. Dia membuka tutup tombol password pintu dan menekan angka yang menunjukkan tanggal, bulan, dan tahun yang disepakati sebagai hari jadinya bersama Kai. Pip, pintu terbuka dan Kyungsoo langsung menerobos masuk tanpa menunggu apa-apa lagi.

"Kai-ya!" panggil Kyungsoo. Dia melepas sepatu sembarangan dan mengedarkan pandangan mencoba menemukan sosok berkulit tan yang selama ini memenuhi jeda di pikirannya.

"Kai!" Kyungsoo memanggil lagi. Yeoja tersebut menuju ruang tamu dan menemukan tas yang biasa dibawa Kai bekerja sudah berada di sofa. Kekasihnya sudah sampai di rumah tapi dimana dia? Rasa cemas Kyungsoo berubah kuadrat dua tanpa dikomando.

"Kai! Kim Jongin!" Kyungsoo memanggil nama kekasihnya seperti orang kesurupan. Gadis itu berlari menuju kamar tidur. Kosong. Dia membuka pintu kamar mandi. Kosong juga. Tidak mungkin Kai berada di kamar kecil paling ujung, jadi Kyungsoo tidak memeriksanya.

"Jonginie, dimana kau?" mata Kyungsoo mulai berair. Jantungnya berdebar keras layaknya tambur dan dia tidak bisa berpikir jernih. Bayangan-bayangan buruk bermunculan di kepalanya membuat kecemasannya semakin berlipat ganda.

Kyungsoo berjalan menuju dapur dan yang tertangkap oleh mata bulatnya adalah sosok Kai yang terbaring tak bergerak di lantai. Kyungsoo terkesiap.

"KAI!" pekiknya histeris. Kyungsoo berlutut di sebelah Kai dan menggoyang-goyangkan bahu namja itu.

"Kai! Kai sadarlah. Kai," panggil Kyungsoo berharap masih ada kesadaran tersisa meski sedikit pada diri kekasihnya. Namun sepertinya nihil. Badan Kai sangat panas, ujung jarinya membeku, dan sekujur tubuhnya gemetar. Pakaiannya basah oleh keringat tapi itu tidak membuat suhu tubuhnya turun.

"Kai...!" air mata menggenang di kedua mutiara hitam Kyungsoo. Namun kemudian gadis itu tersadar, ini bukan waktunya menangis.

Kyungsoo mencoba menarik lengan panjang Kai dengan kepayahan, mendudukkan namja itu dan meletakkan lengannya di atas bahu sempit Kyungsoo. Yeoja tersebut lalu berusaha untuk berdiri, memaksa tubuh Kai juga berdiri. Perbedaan tinggi badan yang kontras membuat Kyungsoo kesulitan membawa tubuh Kai ke kamar. Dengan mengerahkan semua tenaganya, gadis mungil itu menyeret si jangkung hingga ke kamar dan menidurkannya di atas kasur. Kyungsoo menaikkan kaki Kai ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.

"Ahh..." Kyungsoo merintih ketika rasa sakit hinggap di perutnya. Gadis itu merosot turun dan terduduk di lantai, menahan nyeri yang terasa dari dalam rahimnya. Bayinya berontak, seolah tidak suka ibunya melakukan pekerjaan berat dan memaksakan diri seperti yang barusan dia lakukan.

Tahanlah sebentar, aegi-ya. Appa sedang sakit, Umma harus merawatnya. Tahanlah sebentar lagi, ne? Begitu ini selesai Umma akan istirahat dan kau bisa tidur. Bersabarlah sebentar, uri aegi-ya, bujuk Kyungsoo dalam hati. Ajaib, rasa sakit itu berangsur-angsur berkurang. Dan ketika Kyungsoo sudah tidak merasa sakit lagi, perlahan dia berdiri lalu berjalan tertatih keluar kamar, menuju dapur untuk mengambil alat kompres.

Beberapa saat kemudian Kyungsoo kembali lagi ke kamar dengan tangan kerepotan membawa baskom berisi air, alat kompres, dan handuk kecil kering. Yeoja itu meletakkan semua benda tersebut di atas lantai. Dia berpindah ke almari dan mengambil satu kemeja Kai yang bersih.

Kyungsoo melepas pakaian Kai yang basah oleh keringat dan menggantinya dengan kemeja yang baru dia ambil setelah lebih dulu menyeka badannya dengan handuk kering yang dia bawa. Kyungsoo meletakkan alat kompres berisi air biasa di bawah kepala Kai, lalu tangannya bergerak menyeka peluh yang masih belum mau berhenti mengucur di kening namja itu.

Kyungsoo menggigit bibir, ini bukan pertama kalinya dia melihat Kai sakit begini. Namja itu meskipun dari luar kelihatan kuat dan jagoan sebenarnya dia cukup sering terkena demam. Begitu gampangnya dia sakit, sampai-sampai Kyungsoo berpikir jika Kai bisa demam hanya karena dia badmood.

Tapi memang, sakitnya cuma sebatas demam saja dan itu paling bertahan hanya semalam. Biasanya, Kai sudah kembali ceria dan pecicilan begitu matahari terbit. Namun, meski cuma semalam, meski cuma beberapa jam, tetap saja melihat Kai tergolek lemah tanpa daya melawan suhu tubuhnya yang naik gila-gilaan seperti ini membuat dada Kyungsoo berdenyut perih.

Kyungsoo mengusap lembut kening Kai yang kembali berkeringat dengan handuk basah. Dia mencelupkan lagi handuk kecil itu ke baskom, memerasnya, dan meletakkannya di atas kening Kai. Jemari Kyungsoo bergerak merapikan rambut Kai yang berantakan dan basah, perlahan muncul senyuman kecil di bibirnya.

Gadis mungil itu mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke wajah Kai, mendaratkan permukaan bibirnya ke handuk yang menutupi kening kekasihnya lalu bergerak turun mengecup pucuk hidung Kai dan berakhir di bibirnya. Cukup lama Kyungsoo mencium bibir itu, terasa panas tapi tetap manis. Kyungsoo melepaskan ciumannya dan memandang wajah tampan Kai dari dekat, sekali lagi dia tersenyum.

"Kau tahu, Kai? Seharian ini uri aegi gelisah terus. Aku kram perut dua kali. Aku pikir terjadi sesuatu yang tidak beres dengannya, tapi sepertinya dia hanya mencemaskanmu. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang terjadi padamu, makanya dia memberiku sinyal. Uri aegi sangat menyayangimu, jadi cepatlah sembuh. Ne?" ujar Kyungsoo lantas bergerak mengusap sebelah pipi Kai yang masih panas. Cup, Kyungsoo kembali mengecup singkat bibir kekasihnya sebelum menarik diri dan berjalan keluar kamar. Kali ini dia mau mencari obat dan mengambil air minum.

Kamar hening tanpa suara selama beberapa saat sampai akhirnya...

"Eungg..." keluhan singkat keluar dari celah bibir Kai. Terlihat gerakan pelan tubuhnya.

Perlahan-lahan sepasang mata kelam itu terbuka, retinanya memandang langit-langit kamar berusaha fokus demi tahu dimana dia sekarang. Kai menoleh, mengedarkan pandangan dan butuh waktu cukup lama bagi otaknya untuk memahami dimana dan bagaimana keadaannya sekarang. Kai mengeluh lagi saat rasa pusing kembali menyerang kepalanya. Tangannya bergerak memegang kening dan langsung terbentur pada handuk basah yang bertengger manis di sana. Kai mengambil handuk itu dan yang langsung muncul di benaknya adalah pertanyaan 'siapa yang datang?'

Cklek, terdengar pintu dibuka oleh seseorang, Kai menyipitkan mata berusaha menangkap lebih jelas siluet tubuh yang bergerak mendekatinya. Retina matanya masih sulit untuk fokus, tapi telinganya sudah berfungsi cukup baik dan dia langsung bisa tahu itu siapa begitu sosok tersebut mengeluarkan suara.

"Eoh? Kau sudah sadar?" tanya Kyungsoo terkejut sekaligus senang saat melihat mata Kai yang menatap kosong padanya. Kekasihnya tidak menjawab, hanya mengedipkan sepasang mata kelamnya dengan pelan.

"Kau bisa bangun? Minumlah obat dulu baru tidur lagi. Apa kau ingin makan? Akan aku buatkan bubur kalau kau ingin makan," ujar Kyungsoo seraya meletakkan obat dan gelas berisi air putih di meja. Tangan yeoja itu bergerak hendak membantu Kai untuk bangkit duduk, namun dengan cepat Kai menepis tangan putihnya membuat Kyungsoo menatap terheran-heran padanya.

"Kenapa kau di sini?" desis Kai lemah, sorot matanya redup tapi dingin. Ditanya seperti itu, Kyungsoo hanya memutar mata salah tingkah.

"Chen Oppa menelponku..." suara Kyungsoo terdengar kecil. Kai mendesis mendengar jawaban itu, seharusnya dia tahu kalau Chen tidak akan menutup mulutnya begitu saja.

"Kita bahas ini lain kali saja, sekarang minum obatmu du..." kalimat Kyungsoo terputus karena tangan Kai kembali menolaknya, namja itu berusaha bangkit duduk dengan usahanya sendiri walau setiap gerakan yang dia lakukan membuat kepalanya berdenyut hebat.

Kyungsoo menyodorkan obat dan air minum, diterima Kai tanpa banyak bicara. Setelah menelan obat pahit itu, Kai kembali ambruk di atas bantal, tubuhnya lemas seolah semua tenaganya sudah terkuras habis. Namja itu kembali merintih, merasakan sakit yang menguasai setiap jengkal sel tubuhnya. Kyungsoo menaikkan selimut menutupi badan Kai yang masih terasa panas, mengelus pelan bahu kekasihnya dengan sorot mata khawatir.

"Pergilah..." bisik Kai dengan napas terengah. "Jangan dekat-dekat denganku...kau bisa tertular nanti..." sambungnya.

Kyungsoo tersenyum. "Tidak akan. Aku tidak pernah tertular setiap kali merawatmu kalau sedang sakit. Aku 'kan steel pig," guraunya.

"Omong kosong," balas Kai pendek. Mood-nya sedang tidak mau menanggapi guyonan macam apapun sekarang. Badannya sakit, kepalanya sakit, dan itu membuat perasaannya jadi berantakan. Kyungsoo hanya tersenyum mendengar kalimat ketus tersebut, dia tidak marah, dia sudah terbiasa mengalami ini.

Kai memang selalu menggunakan kata-kata yang terbersit pertama kali di kepalanya tanpa pernah menyaring apa kata-kata itu pantas atau tidak untuk diucapkan. Dia tidak bisa mengelola mulutnya dengan baik. Tapi yang lebih penting, Kai masih saja bisa mengkhawatirkan Kyungsoo dan mencoba menjauhkannya hanya agar dia tidak tertular di saat namja tersebut berada di kondisi yang menuntut untuk dikhawatirkan.

Sekali lagi Kyungsoo tersenyum, mengagumi sifat Kai yang unik dan selalu punya cara tersendiri menyampaikan maksud baiknya, sifat yang selalu berhasil membuat Kyungsoo jatuh cinta lagi dan lagi kepadanya.

Kyungsoo memandang lekat wajah Kai yang hampir tertidur, mengakui dalam hati jika namja pilihan hatinya itu memang sangat tampan. Kyungsoo memegang ujung selimut Kai dan menaikkannya hingga ke batas leher kekasihnya, tak ada reaksi dari Kai menandakan jika dia sudah kembali tertidur.

Perlahan Kyungsoo naik ke tempat tidur dan berbaring tepat di sebelah Kai, memeluknya, meletakkan kepala dekat dengan kepala namja itu hingga dapat dia rasakan panas napas Kai di sebelahnya. Kyungsoo semakin mempererat pelukannya, bisa dia raba detakan jantung Kai dan tarikan napasnya yang mulai teratur. Yeoja itu menoleh ke samping, memandang pipi Kai yang berada tepat di dekatnya. Tanpa bisa menahan diri, Kyungsoo mengecup pipi tersebut dengan gemas. Lalu dengan tersipu dia menyembunyikan wajahnya sendiri di perpotongan leher kekasihnya, merasa malu akibat tindakannya barusan.

Kai memang tampan dan Kyungsoo mengakui itu. Ekspresi wajahnya yang manly, seksi, dan 'mengundang' memang sudah sangat terkenal di kalangan para gadis yang pernah datang ke bengkel tempatnya bekerja. Kyungsoo yang waktu itu baru saja wisuda dan pusing mencari pekerjaan, awalnya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada bahan obrolan teman-temannya yang selalu saja membahas soal namja berkulit tan yang menjadi mekanis di salah satu bengkel dekat apartemennya.

Sambil mempererat pelukannya di tubuh Kai, Kyungsoo menerawang, mengingat-ingat lagi moment saat pertama kali dia melihat namja itu yang langsung membuatnya jatuh cinta dan nekad melakukan pendekatan terlebih dulu. Saat itu musim panas, matahari bersinar terik membuat keringat mengucur deras meski badan tidak melakukan gerakan apapun.

Seorang diri Kyungsoo iseng datang ke bengkel dengan sepeda di tangannya. Dia tidak bermaksud untuk memperbaiki sepedanya di sana, karena memang sepedanya tidak rusak dan tidak ada yang perlu diperbaiki. Dia hanya mau mengintip sebentar orang yang selama seminggu terakhir menjadi topik hangat di tempat nongkrongnya. Dia penasaran dan ingin tahu bentuk orang yang begitu heboh digosipkan oleh teman-temannya tersebut.

Kyungsoo sampai di depan bengkel, tak jauh dari bengkel, dan tidak melihat siapa-siapa di sana. Gadis itu mendesah, sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat, semua mekanis sedang pergi makan siang dan bengkel sedang kosong.

Yeoja mungil tersebut membalik haluan sepedanya, bermaksud untuk pergi karena dia harus mengajar les jam 2 siang, namun suara teriakan anak-anak kecil menghentikan gerakannya dan Kyungsoo menoleh kembali ke belakang. Beberapa anak berdiri di depan bengkel sambil membawa sepeda. Anak-anak itu berteriak-teriak memanggil nama seseorang.

"Kkamjong Hyung! Kai Hyung! Jonginie Hyung!" seru mereka bersahut-sahutan.

"Ya! Berhenti menyebut semua namaku!" sebuah suara keras membalas panggilan-panggilan itu dari dalam bengkel. Kyungsoo terkejut mendengar teriakan kasar tersebut, sekejab dia merasa kesal. Dia yang menyukai anak-anak kecil, merasa tidak terima jika ada orang yang berteriak sekasar itu pada anak-anak.

Sesosok manusia yang didakwa melakukan insiden teriakan keras tadi nampak keluar dari ruangan terdalam bengkel dan berjalan mendekati bocah-bocah kecil yang menyambutnya dengan tawa riang, sama sekali tidak terlihat jika anak-anak itu takut padanya. Padahal baru saja mereka dibentak dengan keras.

"Mworago? Rusak lagi?" komentar namja berkulit tan eksotis itu begitu melihat salah satu sepeda anak-anak tersebut.

"Sebenarnya bagaimana caramu menaikinya, huh? Kenapa selalu saja rusak." Dia berbalik, mengambil peralatan mekaniknya, dan langsung memperbaiki tali rem yang putus.

"Kami balapan kemarin, karena terlalu kencang jadi remnya putus," cerita seorang anak.

"Remnya putus waktu balapan? Dan kau masih hidup? Kau tidak menabrak?" tanya namja itu tanpa menghentikan gerakan lincah tangannya.

Para bocah tersebut menggeleng. "'Kan masih ada rem belakang."

"Ah, benar. Kalian beruntung masih ada rem belakang, dulu aku pernah balapan dan semua remku blong. Tapi aku baik-baik saja."

"Oh, benarkah? Lalu Hyung berhenti pakai apa?" tanya seorang anak lain dengan penasaran.

"Aku baik-baik saja meskipun aku tercebur ke sungai," koreksi namja itu menuai gelak tawa riuh anak-anak di sekitarnya, dia sendiri juga ikut tertawa memperlihatkan eyes smile-nya yang menawan.

Namja beralis tegas tersebut nampak nyaman bercengkerama dengan anak-anak lucu yang mengelilinginya, membuat Kyungsoo tertegun di tempatnya berdiri dan mengevaluasi lagi informasi yang dia dengar dari teman-temannya. Namja berkulit tan yang punya wajah tampan tapi dingin, jarang tersenyum, sedikit bicara, dan seperti tidak mau diganggu. Kyungsoo menelengkan kepala, apa mungkin bukan orang ini, begitu pikirnya. Karena namja berkulit tan dan berwajah tampan yang sekarang dia lihat sama sekali berbeda dengan deskripsi dari teman-temannya.

Namja itu tidak terlihat dingin maupun jarang tersenyum. Malah sebaliknya, berada di tengah-tengah kerumunan anak kecil membuat dia terlihat sebagai pribadi yang hangat, terutama waktu dia mengobrol dan menjawab perkataan bocah-bocah itu dengan luwes, tanpa merasa rikuh sama sekali. Untuk beberapa sebab, Kyungsoo bisa merasakan adanya aura seorang ayah yang baik dari sosok namja itu. Tanpa Kyungsoo sadari, kedua pipinya sudah dipenuhi oleh rona merah.

Dengan hanya berbekal kesan pertama yang singkat tersebut, Kyungsoo memutuskan untuk melakukan pendekatan pada Kai dengan segala cara. Yeoja mungil itu membuang semua ego dan harga dirinya hanya untuk bisa dekat dengan Kai, mencoba membuat namja pendiam tersebut sadar mengenai rasa sukanya. Beberapa kali Kyungsoo merasa putus asa di tengah jalan karena ternyata, tanpa dia tahu, Kai adalah orang tidak sensitif yang punya saraf tepi sangat pendek. Namja itu masih belum menyadari maksud perlakuan Kyungsoo dan itu membuat Kyungsoo frustasi.

Setelah beberapa hari tidak datang ke bengkel karena sibuk mempersiapkan siswa les yang akan mengikuti lomba menyanyi, Kyungsoo akhirnya punya waktu untuk pergi menjalankan lagi misi pendekatannya. Di saat dia sudah siap untuk pergi, tanpa dia tahu ternyata Kai memperhatikan semua gerak-geriknya dan ketahuanlah niat asli rubah mungil itu.

Kyungsoo malu, sangat malu! Dia bahkan tidak berani keluar rumah selama beberapa hari karena tidak mau tiba-tiba bertemu dengan Kai. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika berhadapan dengan namja itu lagi. Kyungsoo tak berhenti menyalahkan kebodohannya sendiri.

Hingga suatu hari, setelah hampir seminggu lebih meratapi nasib, Kyungsoo akhirnya memberanikan diri untuk datang ke bengkel. Dia bersumpah dalam hati, ini akan menjadi terakhir kalinya dia menampakkan diri di depan Kai. Setelah minta maaf, dia akan langsung pergi dan tidak akan pernah kembali lagi apapun yang terjadi.

Tapi respon Kai yang berbeda dengan perkiraan Kyungsoo, membuat gadis itu speechless. Tak disangka, ternyata Kai tidak semarah yang dia kira dan malah sebaliknya, namja itu seolah sedang memberikan lampu hijau terhadap misi pendekatannya yang sudah dia nyatakan berakhir sejak Kai menangkap basah dirinya yang sedang melakukan sabotase pada sepedanya sendiri.

Kyungsoo tidak mau menyia-nyiakan moment itu. Sepulang dari bengkel dia langsung membersihkan rumahnya dan memasak banyak makanan enak untuk menyambut Kai. Kyungsoo tidak mengharapkan hal lain selain makan malam yang hangat yang bisa mendekatkan mereka. Kyungsoo tidak berani memikirkan hal-hal yang lebih dari itu, meski kenyataannya Kai memang orang yang sulit untuk ditebak. Entah sadar atau tidak mendadak namja itu bilang kalau dia mencintai Kyungsoo.

Di antara suara tv yang berisik dan air hujan yang ramai membentur kaca jendela, Kai mengatakannya dengan sangat jelas menggunakan suaranya yang dalam dan pelan itu, membekukan Kyungsoo selama beberapa detik. Gadis itu masih belum bisa bergerak bahkan ketika Kai mendekatkan wajahnya dan bibirnya mendapatkan bibir Kyungsoo. Entah kerasukan setan darimana, Kyungsoo yang saat itu hanya dapat mengeja nama Kai di dalam kepalanya sama sekali tidak melakukan perlawanan bahkan ketika ciuman Kai menuntut lebih.

Tak banyak yang Kyungsoo ingat mengenai apa-apa yang dia lakukan semalaman. Dia hanya tahu dia sudah melakukan sesuatu yang penting dan tidak akan bisa diperbaiki dalam sejarah hidupnya manakala terbangun di pagi hari dan menemukan dirinya sedang berada di pelukan hangat Kai. Mereka berdua terbaring bersisian, berbagi tempat tidur, bantal, dan selimut yang sama. Air mata Kyungsoo merembes keluar tapi tak ada sedikit pun penyesalan di hatinya, setidaknya karena satu janji yang diucapkan Kai yang masih dia ingat hingga sekarang dan mungkin untuk selamanya.

"Aku mencintaimu, jadilah milikku, aku akan melindungimu..."

RO_OM

Kyungsoo mengeluh pelan, tangannya meraba-raba sekitar mencari selimut untuk menutupi badannya yang terasa dingin karena hembusan angin dari AC yang dinyalakan di titik minimum. Yeoja itu merapatkan selimut sampai ke batas lehernya dan membalikkan badan ke posisi berlawanan lalu kembali meringkuk nyaman seperti kepompong. Perlahan sepasang mata Kyungsoo terbuka, yang pertama dia lihat adalah cahaya putih dari celah-celah korden jendela di depannya. Kyungsoo mengerjab dan mengedarkan pandangan mencari jam. Jam 9 pagi.

Yeoja itu bangun dengan gerakan tiba-tiba, membuat perutnya tersentak kaget menciptakan rasa nyeri yang singkat. Kyungsoo memegang baby tummy-nya seraya meringis perlahan menahan sakit, matanya menatap ke sekeliling dan pandangannya jatuh di bantal di sebelahnya yang sudah kosong. Bahkan alat kompres dan baskom air juga sudah tidak ada. Kyungsoo memandang AC yang menyala, dia tidak ingat dia menyalakan benda itu sebelum pergi tidur.

Kyungsoo turun dari tempat tidur dan memakai sandal lalu berjalan pelan keluar kamar. Yeoja tersebut melongokkan kepala dan beringsut menuju dapur. Kosong. Kyungsoo merubah haluan kakinya ke ruang tamu. Kosong juga. Dimana gerangan sosok yang semalam terkapar tak sadarkan diri di sebelahnya itu? Mustahil 'kan dia sudah pergi kerja lagi.

"Kai-ya," panggil Kyungsoo takut-takut. Tak ada jawaban. "Kai," ulangnya.

Whuung~! Suara berisik tiba-tiba terdengar dan mengagetkan Kyungsoo. Dengan penasaran yeoja itu mendekati sumber suara yang berasal dari balik kamar kecil di ujung koridor yang tidak dia sadari jika pintunya sudah terbuka dari tadi. Kyungsoo melongokkan kepala ke dalam dan menemukan orang yang dia cari sedang sibuk mengarahkan moncong mesin penghisap debu ke lantai dan dinding di sekitarnya sambil sesekali terbatuk kecil karena debu halus yang berterbangan.

"Kai, apa yang kau lakukan?" tegur Kyungsoo heran. Kai yang tidak pernah bersih-bersih dan sekarang sedang memegang vacum cleaner, terlihat begitu canggung.

"Jangan ke sini! Berdebu!" seru Kai sambil mendorong Kyungsoo keluar dan menutup pintu.

"Ya! Kenapa kau malah menutup pintunya!?" bentak Kyungsoo kesal. Dia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan debu-debu berterbangan keluar meninggalkan Kai yang batuk-batuk dan bersin-bersin dengan mata memerah.

"Apa yang kau lakukan, huh?" Kyungsoo mengulangi lagi pertanyaannya sambil menutup hidung.

"Hapsihh!" mendadak yeoja mungil itu bersin, mengagetkan Kai.

"Aku 'kan sudah bilang jangan ke sini," gerutu Kai sambil melepaskan gagang vacum cleaner setelah lebih dulu mematikannya dan membawa badan Kyungsoo menjauhi kamar kecil itu.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kau membersihkan ruangan itu?" Kyungsoo bertanya pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Kai terdiam, tidak menjawab dan hanya menatap lurus manik mata bulat Kyungsoo.

"Wae?" tanya Kyungsoo tidak dapat meraba maksud dari tatapan mata kekasihnya.

Kai masih belum menjawab, hanya menggigit bibir bawahnya dengan erat sementara Kyungsoo juga tidak memaksanya untuk segera menjawab. Yeoja itu memberinya jeda untuk berpikir, memilah kata, dan mempersiapkan kalimatnya dengan lebih baik. Keheningan menguasai mereka.

"Mulai sekarang..." akhirnya suara terlepas dari kerongkongan Kai.

"Mulai sekarang, kalau kau marah padaku, bilang saja," ujar Kai. "Kalau kau marah dan tidak mau melihatku, katakan saja. Aku tidak akan muncul di depanmu dan kamar itu..." Kai menunjuk kamar kecil di ujung lorong yang baru saja dia bersihkan.

"Aku akan masuk ke kamar itu setiap kali kau marah dan tidak mau melihatku. Aku akan ada di sana, makan di sana, tidur di sana, dan tidak akan keluar sampai kau selesai marah. Jadi..." kalimat Kai menggantung. Dia meneruskan kata-katanya dengan lebih pelan seiring warna merah jambu yang muncul menghiasi kedua pipinya.

"...jangan pergi-pergi lagi."

Sepasang mata Kyungsoo melotot, otaknya merespon lambat perkataan Kai barusan, mencoba meyakinkan diri jika dia tidak salah dengar. Kai memintanya untuk tidak pergi dan kabur lagi ketika dia marah? Benarkah seperti itu yang dia dengar?

"Aku minta maaf karena sudah bicara kasar dan menuduhmu sembarangan," desis Kai sambil memainkan ujung apron yang menutupi badan jangkungnya, gesture yang biasa dia perlihatkan setiap kali dia merasa gugup ataupun malu.

"Aku sangat menyesal..." imbuhnya sambil menundukkan wajah, tidak berani memandang Kyungsoo, tidak mau Kyungsoo melihat wajahnya yang memerah.

"Aku tidak menghubungimu karena aku pikir kau masih marah. Aku tidak mau membuatmu semakin marah karena bertemu denganku, jadi..." Kai mendongakkan wajah, memandang wajah Kyungsoo yang masih lurus menatapnya.

"...maaf," desis Kai pendek, mengakhiri pengakuan dosanya.

Kyungsoo tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap lurus pada Kai yang semakin salah tingkah tidak tahu harus bagaimana lagi. Ekspresi emotionless dan tatapan mata bulat yang datar itu seperti sengaja menyiksa kekasihnya di detik-detik keheningan yang kembali memeluk mereka. Kyungsoo masih belum membuka suara bahkan setelah beberapa menit berlalu.

"K-kau istirahat saja, aku akan menyelesaikan ini!" Kai merobek kesunyian karena gugup dan segera berbalik hendak kembali ke kamar kecil itu, namun gerakannya terhenti manakala belakang kemejanya tertangkap dan ditarik oleh tangan Kyungsoo. Yeoja itu melingkarkan lengan ke pinggang Kai, memeluknya dengan erat, menempelkan tubuhnya dengan lembut ke punggung Kai.

"Aku sudah tidak marah lagi, jadi jangan masuk ke sana," bisik Kyungsoo.

Kai tertegun mendengar satu kalimat itu, tapi kemudian senyumannya merekah. Dia mengangguk, tangannya terangkat menggenggam tangan putih kekasihnya, tanpa dapat mengatakan sepatah kata pun selain kedua matanya yang bersinar cerah mewakili perasaan bahagia dan lega yang membuncah di dalam dadanya.

RO_OM

Suasana kamar sangat tenang, tak ada suara berisik yang berarti selain alunan indah musik klasik yang keluar dari speaker ponsel warna hitam yang tergeletak di atas meja. Padahal di luar jendela, hujan turun cukup deras menimbulkan suara titik air yang ramai membentur kaca, namun hal itu sama sekali tidak mengganggu Kai dan Kyungsoo yang tidur berpelukan di bawah selimut.

Mereka berbaring bersisian, menghadap ke arah yang sama. Kyungsoo tidur memiringkan tubuhnya dan dari belakang punggungnya, Kai memeluknya dengan erat. Dia menggunakan sebelah tangannya untuk menyangga kepala Kyungsoo dan yang sebelah lagi untuk mengelus-elus perut gadis itu yang sudah semakin tumbuh membesar. Rasa nyaman dirasakan Kyungsoo saat tangan Kai membelai-belai baby tummy-nya, membuat si mungil tersebut dapat memejamkan mata dan menikmati tidurnya tanpa merasakan gerakan-gerakan gelisah dari dalam tubuhnya.

"Kau seharusnya memberitahuku kalau kau tidak membuang benda-benda itu." suara Kai terdengar parau mengoyak keheningan. Mata Kyungsoo terbuka sedikit.

"Kau tidak memberiku kesempatan menjelaskannya," jawab yeoja itu mengingat lagi bagaimana awal tragedi pertengkaran mereka.

Kai yang baru pulang bekerja langsung terkejut saat tahu jika Kyungsoo sudah mengosongkan kamar kecil di ujung koridor yang dia gunakan sebagai gudang. Namja itu meledak sambil menuding ke arah kamar yang sudah bersih dan mengeluarkan semua kekesalannya dengan nada pelan. HARUS pelan! Meski semarah apapun dia sekarang, dia HARUS tetap bicara dengan pelan karena mengingat makhluk kecil di dalam tubuh Kyungsoo bisa mendengar semua perkataannya. Pertengkaran dan perdebatan pasangan itu berlangsung tenang(?) walaupun kata-kata tajam tetap terucap keluar, tapi setidaknya mereka masih bisa sama-sama menahan diri.

Entah karena kelelahan atau sedang badmood, Kai yang biasanya tenang dan rasional kali itu meledak tanpa main-main. Dia terus bicara, memuntahkan semua kalimat yang lewat di dalam kepalanya tanpa berpikir dua kali, sama sekali tidak memberikan jeda pada Kyungsoo untuk membalas apalagi menjelaskan.

Kata-kata Kai penuh dengan tuduhan seperti 'kenapa kau melakukan ini?', 'aku 'kan sudah bilang jangan sentuh benda-benda itu', 'kau tidak punya benda-benda yang berharga 'kan? Makanya kau bisa seenaknya membuang barang-barang yang menurutmu sampah', termasuk juga 'bisakah kau tidak ikut campur urusanku sekaliii saja? Kau tahu? Sifatmu yang seperti itu benar-benar membuatku lelah'.

Orang mana yang tidak akan mengerutkan kening mendengar tuduhan bertubi-tubi seperti itu, terlebih jika dia tidak diberi kesempatan bicara sama sekali untuk melakukan pembelaan. Kyungsoo merasa benar-benar tersudut dan dipaksa untuk duduk sebagai terdakwa dengan semua komplain sepihak dari Kai. Dia bermaksud untuk mengatakan jika dia tidak membuang benda-benda itu, dia hanya menyimpannya untuk sementara di tempat lain dan ingin mendiskusikan soal penataan ulangnya bersama dengan Kai.

Tapi karena namja tersebut sudah lebih dulu memarahinya tanpa mau mendengar kata-katanya, Kyungsoo pun ikut meradang dan entah bagaimana asalnya mendadak kalimat 'benar, aku membuangnya. Kau juga tidak pernah mempedulikannya 'kan? Jadi aku membuangnya' lepas begitu saja dari mulutnya, membuat wajah Kai semakin merah padam.

Mereka tidur terpisah malam itu. Kai di ruang tamu dan Kyungsoo di dalam kamar, menangis sendirian. Hingga pagi menjelang, tak ada satu pun dari keduanya yang membuka suara. Kyungsoo juga menghindari Kai, tidak mau memperlihatkan matanya yang sembab karena semalaman menangis, di hadapan Kai. Kai sendiri juga sepertinya tidak peduli. Sampai ketika Kai sudah memakai sepatu di beranda, suara Kyungsoo terdengar.

"Kita berpisah saja."

Dan jawaban singkat Kai membuat jantung Kyungsoo sakit seperti diremas-remas saat itu juga.

"Terserah." Lalu namja itu membuka pintu dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Kyungsoo kembali menitikkan air mata. Gadis itu menutup wajah dengan kedua tangannya, menangis seperti anak kecil.

Kyungsoo hanya bisa menghela napas panjang setiap mengingat satu moment absurd di sejarah hidupnya itu. Benar-benar kesalahpahaman paling kekanakan yang pernah dia alami dan saking memalukannya sampai membuatnya ingin mencari penghapus lalu men-delete-nya untuk selamanya.

Entah apa yang dipikirkan Kai mengenai kejadian itu, yang pasti mereka meyakinkan diri mereka sendiri untuk tidak mengulangi lagi hal memalukan seperti itu. Terlebih jika bayi mereka nanti lahir, jangan sampai mereka terlibat cekcok hanya karena salah paham yang tidak jelas.

Tubuh Kai bergerak, semakin rapat memeluk Kyungsoo membuat yeoja itu mengeluh karena merasa sedikit sesak. Kai melonggarkan lengannya tanpa diminta.

Drrt, drrt, mata Kai dan Kyungsoo sama-sama terbuka ketika suara getaran ponsel terdengar dari arah meja di sebelah tempat tidur. Kyungsoo mengulurkan tangannya, meraih ponsel hitam milik Kai terlebih dulu, tak ada notify apapun. Dia beralih mengambil ponselnya yang berwarna putih, yang tergeletak di sebelah ponsel Kai.

"Siapa?" tanya Kai mengantuk.

"Umma." Jawaban pendek Kyungsoo sukses membuat mata Kai terbuka lebar.

"Coba lihat." Dia merebut ponsel dari tangan kekasihnya dengan cepat.

[Umma] Kyungie-ya, bagaimana kabar cucu kami? Dia sehat 'kan? Dia baik-baik saja 'kan? Minggu depan Appa-mu dapat hari libur, kami akan pergi berkunjung ke rumahmu. Katakan itu juga pada Jongin. Oh, ya, kapan kalian akan menikah?

Kai mendesis pelan lalu mengembalikan ponsel itu ke tangan Kyungsoo yang dengan sigap langsung mengetik balasan untuk Umma-nya.

"Kenapa kau tidak mau cepat-cepat menikah? Pertanyaan Umma-mu yang seperti itu benar-benar sangat mengangguku. Yang disalahkan pasti aku. Padahal kau sendiri yang menolak menikah," omel Kai sembari kembali memeluk Kyungsoo.

"Aku tidak mau menikah dengan bentuk tubuh seperti ini. Menikah itu 'kan sekali seumur hidup, aku mau terlihat cantik, makanya kita menikah setelah anak ini lahir saja," pinta Kyungsoo.

"Tidak akan ada yang peduli bagaimana bentuk tubuhmu. Wajahmu yang over-cute ini saja sudah cukup untuk membuat orang-orang tercengang," debat Kai.

Kyungsoo mem-pout-kan bibirnya lucu. "Biar saja, pokoknya aku baru mau menikah setelah melahirkan. Baekhyun juga begitu 'kan? Dia menikah setelah melahirkan." Kyungsoo mencari teman.

"Ya, ya, ya! Sudah aku bilang jangan menggunakan Baekhyun Noona sebagai patokan jalan hidupmu. Kau bisa tersesat nanti, benar-benar tersesat," dengus Kai kesal.

"Katakan itu sekali lagi, aku akan merekamnya dan mengirimnya langsung ke Baekhyun," ancam Kyungsoo sambil mengarahkan speaker ponsel ke mulut Kai.

"Ya, apa yang kau lakukan?" Kai menjauhkan ponsel Kyungsoo.

"Aish, jinjja, hentikan!" namja itu menahan tangan kekasihnya yang dengan jahil masih mengarahkan ponsel ke wajahnya. Kyungsoo tertawa, menyukai moment dimana dia bisa mengerjai Kai seperti ini.

Ping!

Sebuah nada pendek dan singkat berhasil menghentikan gerakan mereka berdua, bersama-sama keduanya membaca kalimat singkat yang muncul di group page online chatting yang mereka ikuti.

[Chaehyun] Gossip line~~~START!^^

Nickname Baekhyun yang menggunakan nama anaknya langsung muncul mencari teman untuk menggosip...bukan, teman untuk membully dan dibully. Kyungsoo segera mengetik balasan.

[Kaisoo] Tak ada gosip! Tidur!

Ping! Dengan cepat balasan dari Baekhyun masuk.

[Chaehyun] Eciyeee~ yang baru baikan, tidak mau diganggu, ehem ehem LOL

[Kaisoo] DIAM!

Ping! Balasan Kyungsoo masuk bersamaan dengan nickname lain yang ikut bergabung, sepertinya Baekhyun memasukkan beberapa daftar kontak sekaligus untuk satu chat room.

[Kou_Shou] Apa ini, Baekhyun-ah?

[Chaehyun] Suho Unnie, anneyong^^ Kyungsoo baru saja baikan dan tidak mau diganggu! LOL

[Kou_Shou] Oh, benarkah? Baguslah kalau begitu^^

"Aish, jinjja! Kenapa mereka malah membicarakan aku," keluh Kyungsoo frustasi, sedangkan di belakangnya Kai hanya terkikik geli.

[Kaisoo] Ya! Berhenti membicarakan aku!

[Chaehyun] Kalau begitu beri kami topik lain^^

Kyungsoo menghentikan gerakan mengetiknya sesaat, mata bulatnya berputar mencari-cari topik yang kira-kira cocok untuk dibully di chat room, selain dirinya yang pasti. Karena Baekhyun menjadi sangat ganas jika sudah membully orang.

[Kaisoo] Luhan Unnie hamil lagi. Kau sudah dengar?

"Luhan Noona benar-benar hamil?" celetuk Kai.

Kyungsoo mengangguk singkat. "Suho Unnie sendiri yang mengatakannya."

"Daebak si Oh Sehun itu! Diam-diam dia perkasa juga," desis Kai membuat Kyungsoo mengulum senyum geli.

[Chaehyun] OMO! Benarkah!? Kyaaa~ aku tidak tahu! XD Luhan Unnie, chukkae!

[Chaehyun] Apa Luhan Unnie tidak online?

[Kaisoo] Sepertinya tidak

[Chaehyun] Ah, tidak seru -_- eh, Suho Unnie kemana ini?

[Kou_Shou] Aku di sini^^ aku bagian yang tertawa saja ya^^

[Chaehyun] Ah, Unnie tidak seru -_-

[Kaisoo] Benar -_-

[Se_Luna] SIAPA YANG MEMBICARAKAN AKU!? TEGANYA!

Satu kalimat penuh huruf bold caps lock yang tiba-tiba nongol itu cukup mengagetkan Kyungsoo dan berhasil membuatnya tertawa. Nickname Luhan yang menggabungkan nama dua anak perempuannya, Sena dan Luna, langsung disambut ganas oleh para beagle line.

[Chaehyun] Yey, Unnie comeback! Unnie, chukkae^^

[Kaisoo] Chukkae, Unnie^^ ❤❤

[Se_Luna] Diamlah, ucapan selamat kalian hanya membebaniku saja -_-

[Chaehyun] Unnie, semoga anak ketigamu perempuan lagi ya

[Se_Luna] YA!

[Chaehyun] Kyungsoo bilang dia mau bayi laki-laki, jadi harus ada tambahan anak perempuan biar kita bisa menjodohkan mereka nanti. LOL

[Kaisoo] Kai yang bilang begitu, aku sih laki-laki atau perempuan tidak masalah

[Chaehyun] Laki-laki saja, laki-laki. Biar Luhan Unnie yang menyediakan stok perempuannya

[Kaisoo] LMAO

[Se_Luna] YA! Kalian pikir aku ini KFC yang menerima pesanan!?

[Chaehyun] LMAO

[Minji] Ah, kalian mulai lagi -_- berhentilah mempermainkan orang

Sebuah nickname baru muncul menengahi perdebatan. Kyungsoo tahu nickname itu milik siapa, 'Minji' adalah nama untuk calon bayi Chen dan Minseok yang akan segera lahir.

[Kaisoo] Minseok Unnie anneyong~^^ sukses untuk melahirkannya nanti ya~ ah, aku sudah tidak sabar melihat bayinya, pasti dia secantik Unnie^^

[Minji] Gomawo, Kyungsoo-ya^^

[Se_Luna] Minseok-ah, bantu aku ㅠㅠ Mereka semua membullyku ㅠㅠ

[Chaehyun] Huwaaa, curang! Minta bantuan!

[Se_Luna] BIAR!

[Kou_Shou] Minseok Unnie, bagaimana kandunganmu? Apa ada keluhan?

[Chaehyun] Unnie! Jangan buka praktek di sini! Aaargh! X(

[Kaisoo] Benar! Jangan seenaknya bekerja di sini

[Se_Luna] Benar itu. Suho memang tidak sensitif

[Minji] LOL

[Kou_Shou] Kenapa kalian jadi menyalahkan aku? Aku 'kan cuma bertanya~ ㅠㅠ

[Chaehyun] Siapa yang belum bergabung?

[Kaisoo] Masih ada orang lain lagi?

[Chaehyun] Aku membuat daftar 6 orang. Kau, Suho Unnie, Luhan Unnie, Minseok Unnie, kurang siapa ya...?

[Kaisoo] Yixing Unnie?

[Chaehyun] Ah, benar. YIXING UNNIEEE~! XD join us juseyooo~!

[Se_Luna] Baekhyun-ah, kurangilah sifat hebohmu itu. Kau bukan ABG lagi, kau sudah punya anak

[Chaehyun] Setidaknya aku masih jauhhh lebih muda daripada Unnie. LOL

[Se_Luna] WHAT THE...!

[Kaisoo] LOOOL (y)

[Kou_Shou] Yixing tidak akan online

[Chaehyun] Waeyo, Unnie?

[Kaisoo] Eh? Waeyo?

[Se_Luna] Kenapa, Suho-ya?

[Minji] Eh? Memang berita itu serius?

[Chaehyun] Berita apa? Berita apa? Berita apa? Berita apa? Berita apa?! XD *beagle mode ON*

[Minji] Haissh, kau semangat sekali kalau soal gosip baru, Park Baekhyun

[Chaehyun] LOL OC

[Kaisoo] Yixing Unnie kenapa, Unnie?

[Minji] Aku dengar dia hamil

[Kaisoo] MWOOO!? (O_O)

[Chaehyun] WHAAAT!? SERIUS!? ANAK SIAPA!? OMG!

[Se_Luna] Benarkah? Anak siapa? Sejak kapan!?

[Minji] Suho yang lebih tahu^^;

[Kou_Shou] Tao

Kyungsoo membeku sesaat. Dia mengguncang-guncangkan bahu Kai yang sudah hampir tertidur, membuat namja itu membuka lagi matanya dengan malas.

"Yixing Unnie hamil," desis Kyungsoo.

"Eung? Eoh, benarkah? Itu kabar bagus," desis Kai tak peduli sambil merapatkan tubuh ke badan Kyungsoo, menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.

"Dan itu anak Tao." Tambahan kalimat Kyungsoo membuat mata Kai terbuka lebar, dia menatap wajah kekasihnya dengan pandangan shock.

"Bohong," desisnya.

Kyungsoo mengangguk, memperlihatkan layar ponselnya yang berisi percakapan yang sedang membicarakan hal itu sekarang.

"Tapi...tapi mereka bahkan tidak pernah akur..." suara Kai bergetar mengingat bagaimana dua orang temannya itu memang bagaikan kucing dan tikus sehari-harinya.

Yixing yang dewasa dan teratur, sementara Tao yang kekanakan dan sembrono. Sifat bertolak belakang mereka hampir mirip dengan Kai dan Kyungsoo, tapi Yixing dan Tao jauh lebih keras kepala dan tak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah. Itulah alasan kenapa mereka diberi julukan Taom dan Yerry. Karena yang mereka lakukan setiap kali melihat wajah satu sama lain adalah tidak lain dan tidak bukan hanyalah berdebat. Membayangkan keduanya duduk mengobrol dengan santai saja sangat sulit, apalagi sampai melewatkan malam bersama-sama di tempat tidur. Dan ini...bahkan sampai Yixing hamil! Keajaiban dunia ke delapan baru saja terjadi.

Kyungsoo memperlihatkan layar ponselnya pada Kai sekali lagi, memberikan jawaban yang dibutuhkan oleh Kai. Dalam sekejab namja itu membulatkan mulutnya.

"Ada juga takdir yang seperti itu," desisnya.

Kyungsoo tersenyum. "Kalau memang sudah jodoh, mau bagaimana lagi." Dia menaikkan kedua bahunya dibalas senyuman lembut oleh Kai.

Kai kembali memeluk tubuh Kyungsoo dan menenggelamkan wajahnya di balik rambut panjang yeoja itu.

"Ah, Kai, jangan dekat-dekat. Kau membuatku merinding," keluh Kyungsoo hampir seperti mendesah merasakan tiupan napas Kai di belakang lehernya.

"Jangan mendesah seperti itu, kau benar-benar tahu cara 'mengundangku'," ujar Kai nakal tanpa merubah posisi tidurnya.

"Ahhh, jangan bicara...napasmu...siapa yang mengundangmu? Kau sendiri yang...ack!" Kyungsoo memekik saat bibir Kai mendaratkan hisapan seduktif di kulit leher belakangnya. Yeoja itu berbalik, duduk, dan memukul kepala Kai sampai kekasihnya tersebut terlonjak.

"Aku sedang tidak ingin melakukannya! Jadi hentikan!" ketus Kyungsoo gusar.

"Ah, wae~!?" Kai merajuk sambil mengusap-usap kepalanya yang kena pukul.

"Aku sedang sibuk, kita lakukan lain kali saja." Kyungsoo kembali berbaring dan fokus ke chat room di ponselnya.

"YA! Kenapa kau selalu seperti ini setiap kali sudah chatting-an? Mereka hanya di dunia maya. Aku di sini! Dan aku pacarmu!" protes Kai.

Kyungsoo membalikkan tubuhnya, menatap Kai dengan datar. "Lalu apa yang harus aku lakukan setiap kali kau sudah sibuk menonton bola dan bermain game dengan teman-temanmu tanpa mempedulikan aku dan teman-temanku? Kami ada di sana dan kami yeoja kalian," serangnya balik.

Mulut Kai mengatup rapat. Bola matanya berputar, lalu dia menunduk. Dengan gerakan pelan namja itu lebih memilih berbaring dan kembali memeluk Kyungsoo tanpa mengatakan apa-apa lagi, sementara Kyungsoo sudah mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel. Kembali membaurkan diri dengan kehebohan yang terjadi di sana.

[Chaehyun] OMFG! Jinjjayo!? For real!? Yixing Unnie dan Tao!? Bagaimana bisa!?

[Se_Luna] ...

[Kou_Shou] Baekhyunie bicara kasar lagi -_-

[Chaehyun] Mianheyo, Unnie~ kelepasan^^ *giggle*

[Minji] Itu yang aku ingin tahu. Bagaimana bisa? Suho belum bercerita padaku soal itu. Suho-ya, bagaimana ceritanya si kucing dan si tikus itu bisa membuat bayi? LOL

[Kou_Shou] Ah, ini bukan sesuatu yang boleh disebarluaskan ㅠㅠ

[Chaehyun] Katakan, Unnie! Katakan! Katakan! Katakan! Katakan! X3

[Minji] LOL uri beagle leader langsung semangat^^

[Chaehyun] Tentu saja! Hal seperti ini tidak boleh disia-siakan! XD

[Kou_Shou] Yixing bercerita padaku sambil menangis. Dia bilang dia tidur, ah tidak, menurutnya Tao-lah yang menidurinya saat mereka sama-sama mabuk di dalam bar

[Chaehyun] YAAA! ONE DIRECT STRIKE! LOOOL

[Minji] Gol tunggal^^ dan langsung jadi pemain cadangan^^

[Chaehyun] Eh, tapi, apa itu? 'meniduri' ? Kesannya hanya Tao yang salah. Padahal 'kan kalau kondisi mabuk, dua-duanya sama-sama pelaku dan sama-sama korban. LOL

[Minji] Orang yang berpengalaman angkat bicara^^

[Chaehyun] Ah, Unnie, jangan sebut aku seperti itu, aku bukan tanpa alasan melakukannya -_-

[Minji] Tapi kau juga bukan 'tidak sengaja melakukannya' 'kan? LOL

[Chaehyun] Minseok Unnie jadi menakutkan kalau sudah membully orang ㅠㅠ

[Kou_Shou] Kenapa chat room jadi membicarakan hal tabu begini? -_- Ya, jaga ucapan kalian, ingat anak kalian

[Chaehyun] Aku tidak sedang hamil. Aku aman~!^^

[Minji] Baekhyun memang membawa pengaruh buruk -_-

[Chaehyun] Ah, wae~? Kenapa tiba-tiba aku yang...?!

[Kaisoo] Mungkin itulah yang disebut jodoh^^

[Kaisoo] Suho Unnie, bagaimana rencanamu soal adik si kembar?

[Kou_Shou] YA! KENAPA KAU BAWA-BAWA ITU KE SINI!?

[Chaehyun] Huwaaa! Suho Unnie akhirnya program kehamilan juga!^^

[Minji] Aku lanjutkan saja ikut beagle line^^ Suho-ya, akhirnya kau mau memberi adik juga pada si kembar, LOL

[Kou_Shou] Ah, terserahlah kalian

[Chaehyun] Yeyeye yeyeye! Anak-anak akan bertambah^^ ayo buat band waktu mereka besar nanti^^

[Kaisoo] Terus buat konser di bulan, LOL

[Kou_Shou] Ya, Kyungsoo...kenapa kau ikut-ikutan!?

[Kaisoo] ^_^

[Se_Luna] Benarkah Yixing hamil anak Tao?

[Chaehyun] Ya, Unnie~! Kami sudah ganti topik! -_-

[Se_Luna] Aku masih shock ini! Mian~

[Minji] Apa mereka akan segera menikah atau menunggu melahirkan dulu?

[Kou_Shou] Akan lebih baik kalau mereka segera menikah. Kalau menunggu Yixing melahirkan, yang ada malah mereka tidak jadi menikah

[Chaehyun] Benar itu. Sepertinya sifat mereka berdua memang sangat sulit ditengahi

[Kaisoo] Akan ada pesta pernikahan? *smirk*

[Chaehyun] Makan besarrr! Yeeey! \(^O^)/

[Kaisoo] Hanwoo! Hanwoo! Hanwoo! XD

[Chaehyun] Jokbal! Jokbal! Jokbal! XD

[Kou_Shou] Kalian benar-benar keterlaluan -_-

[Se_Luna] Suho-ya, benarkah Yixing dan Tao melakukannya?

[Kou_Shou] Itu benar, Unnie ㅠㅠ kenapa kau masih belum percaya juga ㅠㅠ

[Minji] Uri Luhanie memang sangat polos ya^^;

Drrt, drrt, terdengar suara getaran dari atas meja. Kyungsoo mengambil ponsel Kai dan kembali membangunkan namja itu.

"Kau dapat sms," ujar Kyungsoo. Setelah Kai menerima ponsel yang dia sodorkan, yeoja mungil itu kembali asyik di dunia mayanya yang sebesar layar hape.

Kai membaca pesan pendek di inbox-nya lalu tersenyum.

[Chanyeol] YA! SIAPAPUN! HENTIKAN SEGERA YEOJA-YEOJA ITU, JEBALLL! AKU HAMPIR GILA DI SINI! AAARGHH!

Drrt, drrt, belum sempat Kai mengetik pesan balasan, beberapa pesan lain masuk bersamaan.

[Chen] Kai, buang ponsel Kyungsoo segera! Cepat! Chanyeol Hyung, buang ponsel Baekhyun! Sehun-ah, buang ponsel Luhan Noona! Haisshh! Kenapa selalu saja begini!?

[Sehun] Hyung, aku tidak bisa tidur ㅠㅠ jebal, suruh yeoja-mu menghentikan chatting-an mereka ㅠㅠ

Kai menahan tawa membaca semua sms frustasi yang masuk ke inbox-nya tersebut. Ini adalah salah satu kebiasaan para namja yang tidak diketahui para yeoja. Ketika yeoja-yeoja itu sudah sibuk ber-chatting ria, yang bisa dilakukan para namja yang terabaikan adalah bertukar pesan berisi keluhan-keluhan penuh rasa frustasi. Kai yakin Chanyeol, Chen, dan Sehun pasti mengirimkan pesan yang sama seperti itu ke nomor satu dengan yang lain.

Kai mengetikkan kalimat singkat dan mengirimkannya sekaligus ke tiga nomor tersebut lalu meletakkan ponselnya sembarangan di atas kasur.

[Kai] Biarkan saja. Kalau mereka lelah mereka akan berhenti sendiri

Drrt, drrt, suara ramai terdengar dari ponsel Kai. Itu pasti pesan balasan dari teman-temannya yang langsung melontarkan protes yang pastinya sangat asdfghjkl saking stress-nya. Kai mengulum senyum, tidak ingin mempedulikan keluhan-keluhan teman-temannya dan kembali menempelkan badan ke tubuh hangat Kyungsoo.

Kai memejamkan mata, menepis seluruh kekesalan di hatinya, mendengarkan suara-suara di sekitarnya dan menganggapnya sebagai lagu ninabobok yang merdu. Suara hujan yang masih turun dengan deras, musik klasik yang mengalun dari speaker ponselnya, dan suara pipet ponsel layar sentuh Kyungsoo yang diselingi oleh suara tawa kecil yeoja itu membaca isi chatting yang menurutnya lucu.

Kai semakin merapatkan tubuh ke punggung Kyungsoo, menyempurnakan lagu ninaboboknya dengan suara teratur detak jantung Kyungsoo dan detak jantung kecil lain di dalam tubuhnya. Kai tersenyum, merasakan kenyamanan. Tangannya bergerak membelai perut Kyungsoo tanpa disadari oleh kekasihnya. Dengan mata kembali terpejam dan kesadaran yang mulai menipis, Kai mencari-cari nama yang kira-kira bagus untuk calon bayinya nanti. Sambil tetap terhanyut di batas sadar dan tidak, Kai berbisik dalam hati.

'Kim Kyung Jong'...?

-END-


Yehett~ akhirnya selesai juga^^ mian ya karena chapter 2 ini panjang (banget) lagi XD

Kemarin 'kan author udah bilang kalau teks aslinya ada sekitar 14k lebih dan setelah perang batin diputusin jadi two shot aja, coba kalau one shot udah pasti kalian mabok bacanya. LOL

Author gak nyangka kalau ternyata ROOM dapet respon yang bagus, thank you so much~ *deep bow* padahal awalnya cuma iseng-iseng posting karena ide di title multichapter-nya lagi buntu. Tapi dapet respon yang di luar expectation jadi ... WOW! XD

THANK YOU SO MUCH, READERS~~~❤❤❤ XOXO~❤

Nah, wanna review again?^^


CHAPTER 3 ADALAH SEQUEL "ROOM"


Buat yang gak punya akun di FFN & pengen review-nya dibales, bisa mention author lewat twitter / ask . fm (lihat di profil)^^ boleh juga kalo mau gangguin author, kepo tanya2 kapan update, berdemo, protes, apalagi ngasih es krim gratis & cookies (?) author is VERY WELCOME~!

FYI: I always share about the update in twitter, so just check my twitter to know about fast update and more^^

Hamsahamnida~ *bow*


Special thanks for Raspberry Mint who told me a lot about silent readers and made me see them in different way now. Those SR should be very thankful to you because you did save their image in front of me and now I see them as different people. I am very thankful to you too because you opened my eyes and give me positive suggestion. Thank you, dear^^❤