Wuah...
Saya seneng banget fict saya bs diterima dengan baik...
Ok ga perlu banyak cingcong... Langsung saja...
Saya persembahkan Chapter 2
Selamat membaca...
Hope you like it...
Warning: Typo, abal, gaje, pendek, OOC, OC, Genre Gado-gado.
Disclimer: seperti kemrin, saya bakalan tetep nikahin Hinata-hime *buaghh*
'MIKIR'
"NGOMONG"
OUR DREAMS
CHAPTER 2
SOMETHING...?
Cerah...
Itulah kesan yang akan muncul di benakmu jika berada di Konoha sekarang. Suara kicau burung yang terdengar merdu, juga hangatnya cahaya mentari pagi, rasanya lebih dari cukup membuatmu bersemangat untuk memulai hari.
Tidak terkecuali bagi gadis ini, Hyuga Hinata. Rambut indigonya melambai halus diterpa angin semilir pagi, mata lavendernya menatap fokus ke depan. Pagi ini, serasa begitu damai.
Hinata tersenyum ketika menatap sang benda bulat orange yang juga seakan sedang tersenyum padanya. Seandainya sang 'orange' yang satunya lagi juga memberikan senyum selamat pagi, Hinata tersenyum membayangkannya, plus warna merah yang selalu muncul di wajahnya ketika menyinggung soal pujaan hatinya itu.
"Naruto-kun..." ucapnya. Ah... Benar juga, orange yang satunya lagi sedang ada misi. Pantas saja serasa ada yang kurang pagi ini.
Keributan ala Uzumaki Naruto.
Manis, gadis Hyuga ini benar-benar manis. Senyum tulus yang selalu menghiasi wajahnya, serta rona merah yang sudah menjadi cirri khasnya, semakin menambah kesempurnaan parasnya. Sedang asyiknya menikmati pagi, konsentrasi gadis Hyuga itu terpecah oleh sebuah ketukan dari luar. Telah kembali ke dunia nyata, Hinata merespon , "Siapa?". "Saya Hinata-sama" jawab seseorang di luar.
"Masuklah Ame-san"
Pintu terbuka perlahan, terlihatlah seorang wanita cantik, mungkin seumuran Kurenai. Wanita itu mengenakan clemek yang melapisi pakainnya, sepertinya dia seorang pelayan di mansion Hyuga ini.
"Pagi Hinata-sama" sapa pelayan bernama Ame itu.
"Pagi" jawab Hinata tanpa menghilangkan senyumnya, "Ada apa Ame-san" sambungnya.
"Sarapannya sudah siap" kata Ame.
"Ah... Iya terima kasih" gadis itu tersenyum ramah.
"Hinata-sama mau sarapannya di bawakan ke kamar?" tanya Ame. "Tidak perlu" jawabnya halus, "Lagi pula aku ingin sarapan sama-sama ayah"
"Baiklah, kalau beitu saya permisi dulu " Ame membungkuk hormat.
"Em... Ame-san..." kata Hinata sebelum Ame hilang di balik pintu. "Ya... Ada apa Hinata-sama?".
"Bagaimana keadaan Hanabi-chan?" tanya Hinata.
"Hanabi-sama baik-baik saja. Hanya Hanabi-sama belum bangun. Mungkin karena misi kemarin" jelas Ame.
"Benar juga" Hinata tersenyum, "Tak terasa, Hanabi-chan sudah jadi kunoichi yang hebat", Hinata bangga pada adik kandungnya itu. Kemarin Hanabi baru saja menyelesaikan Misi kelas A. Karena itu, dia masih terlelap di kamarnya akibat kelelahan.
"Iya... Hanabi-sama sudah tumbuh jadi lebih dewasa" Ame juga ikut bangga pada gadis kecil yang sudah dianggapnya seperti anak kandung, sama seperti Hinata.
"Hinata-sama juga..."
"Eh..." Hinata heran saat mendengar kalimat Ame tersebut. "Hinata-sama juga telah menjadi kunoichi yang hebat" Ame mengatakannya dengan tulus dan penuh rasa bangga.
"A.. Apa iya...?" Hinata sedikit blushing. "Tentu..." jawab Ame, "Manis lagi".
"Ame-san terlalu berlebihan" Hinata semakin tersipu. "Saya serius Hinata-sama. Saya yakin banyak laki-laki yang jatuh hati pada anda" Jawab Ame. "Ame-san..." rengek Hinata, wajahnya sudah semerah tomat.
Ame hanya tertawa kecil melihat tingkah Hinata. "Benar Hinata-sama, anda ini sangat berbakat hampir dalam segala hal. Baik sebagai kunoichi atau seorang wanita. Sudah begitu anda juga sangat manis. Siapa yang tidak menginginkan calon istri sebaik anda"
Hinata sempat teringat kata-kata Naruto tentang istri yang baik pada dirinya. Mau tak mau, itu semakin membuat wajah Hinata merebus. Ame sendiri tahu betul bagaimana sifat Hinata. Kalau dia meneruskan penilaiannya, bisa-bisa Hinata tepar di tempat.
"Tapi..." kata ame menggantung, mengalihkan perhatian Hinata.
"Hinata-sama harus lebih percaya diri"
Hinata diam sejenak, memikirkan kata-kata Ame barusan. Dan Hinata tak bisa membantahnya. Dia memang sejak dulu merasa tidak percaya diri, lemah dan tidak berguna. Hinata tau itu.
Dia selalu merasa gagal dan cuma bisa menangis, menjadikan lututnya sebagai tempat peraduan saat dia menumpahkan seluruh kesedihannya.
Hinata selalu merasa tidak berguna.
Tidak seperti Sakura yang seorang ninja medis hebat, dia masih kalah jauh. Atau dibandingkan Neji yang sangat kuat, Hinata merasa tidak ada apa-apanya. Neji bahkan dengan sangat mudah melumpuhkannya waktu ujian chounin tiga tahun lalu. Seharusnya Neji lah yang pantas menjadi penerus klan Hyuga, bukan dirinya.
"Tapi saya percaya, Hinata-sama pasti bisa"
"Eh..." Hinata sontak mengangkat wajahnya.
Ame ternyum...
"Tidak ada yang pernah menyangka Hinata-sama akan menyatakan cinta di tengah pertarungan kan?"
Perkataan Ame itu tentu saja membuat Hinata semakin ber-blushing ria. Wajahnya yang memang sudah memerah, kini telah sampai pada batas kemerahannya. Dan satu-satunya hal yang bisa Hinata lakukan adalah menundukan kepala untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya itu.
Ame sendiri tak bisa menahan dirinya agar tidak terkikik geli melihat tingkah Hinata. Ame memang senang menggoda Hinata, dan salah satu 'jurus' ampuhnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan si bocah orange.
Ame adalah orang kepercayaan Hinata, dia sama dekatnya dengan Kurenai. Karena itu, Hinata tak ragu untuk mencurahkan segala uneg-unegnya pada sang pelayan. Meski, kadang-kadang Hinata menyesal juga. Karena tidak jarang Ame menggoda Hinata dengan curahan hati Hinata itu.
"Hinata-sama tidak perlu malu," kata Ame lembut, meminta sang hairess agar kembali menatapnya.
"Bukankah itu artinya sebuah kemajuan...?"
"Hinata-sama yang dulu cuma bisa memperhatikannya dari kejauhan, sekarang telah menyatakan cintanya" Ame memang senang menggoda Hinata, tapi bagi Ame itu semua ia lakukan demi senyum Hinata. Hinata pun akhirnya tersenyum juga, meski rona itu belum Hilang.
"Lalu...?" tanya Ame. Hinata sempat bingung mendengar pertanyaan menggantung Ame.
"Maksud saya, hubungan Hinata-sama dengan Naruto-san?"
Mendengar pertanyaan Ame, Hinata hanya menunduk sedih. Ame bisa melihat perubahan raut wajah Hinata yang menjadi murung dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaannya. Mau tak mau Ame jadi tak enak hati. Dia menyesal menanyakan hal itu lagi padanya. Karena ini bukan pertama kalinya Ame menanyakan hal yang sama, dan akhirnya juga selalu seperti ini. Ame mendekati Hinata, berniat meminta maaf.
"Maafkan saya Hinata-sama"
Hinata diam sesaat. Ame jadi khawatir, "Hinata-sama...?"
Hinata akhirnya bereaksi. Dia menggeleng pelan, pertanda bahwa dia tak menyalahkan Ame. Malah, Hinata mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Tidak apa-apa" katanya.
"Lagi pula..."
"Aku masih bisa menunggu kok..."
Jawaban itu, jawaban yang selalu Ame dengar dari Hinata ketika bicara soal hubungannya dengan Naruto.
Tapi tetap saja, jawaban itu selalu berhasil membuat Ame terkejut.
"Aku... Selalu percaya Naruto-kun" Hinata tersenyum dengan mata yang telah berbentuk segaris. Tulus, Ame menemukan ketulusan disana.
'Gadis ini kurang baik apa lagi?' pikir Ame. Tak bisa dipungkiri, dia kesal juga pada Naruto yang sampai sekarang masih menggantung perasaan Hinata. Padahal Hinata sudah mengungkapkan perasaannya. Ame sendiri juga sependapat dengan orang-orang yang menganggap Naruto itu bodoh karena tak menyadari perasaan Hinata. Tapi bagi Ame sekarang, kata bodoh jadi terasa kurang untuk menggambarkan Naruto. Coba bayangkan? Si Naruto itu bahkan belum bicara sedikit pun setelah pernyataan cinta Hinata. Begitu pikir Ame.
Tapi melihat bagaimana Hinata menghadapi kebodohan Naruto, Ame jadi luluh juga. Ame selalu berusaha berfikir optimis kalau Naruto tak akan mengecewakan Hinata. Karena, Naruto adalah orang yang membuat Hinata jatuh hati.
Bagi Ame, membuat gadis seperti Hinata jatuh cinta itu sulit. Hinata memang baik pada semua orang, tapi justru itulah letak kesulitannya. Tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya, tapi toh semua sama dimata sang gadis Hyuga. Bukan Hinata sok jual mahal, tapi hati Hinata yang terlalu baik membuatnya sulit menemukan cinta sejatinya.
Dan cuma Uzumaki Naruto seorang mampu memecahkan keraguan Hinata akan cinta sejatinya. Ame sendiri sempat bingung, padahal Naruto jauh kalah tampan dibanding sasuke, atau tidak jenius seperti Shikamaru. Tapi malah Narutolah cinta sejati Hinata. Tapi setelah bicara dengan Hinata tentang Naruto, Ame akhirnya tak ragu lagi dengan Naruto. Karena Ame mengerti Hinata, dan Narutolah membuat Hinata mengerti dirinya sendiri.
Di Naruto Hinata menemukan dirinya, dirinya yang selalu gagal. Tapi ada perbedaan disana.
Hinata selalu saja menyerah dan putus asa sedangkan Naruto tidak.
Padahal Hinata dilahirkan dikalangan keluarga terhormat, tapi Naruto bahkan hidup tanpa keluarga sejak kecil.
Hinata selalu dihormati sedangkan Naruto sebaliknya, dihina, dikucilkan, bahkan disiksa.
Tapi toh Naruto tak pernah menyerah dan putus asa. Dia tetap saja berjuang.
Itu semualah yang membuat Hinata berfikir, 'kehidupanku lebih beruntung dari Naruto-kun. Jadi aku tak boleh menyerah'.
Tapi menjadi lebih baik itu memang sulit. Gagal, tidak hanya sekali Hinata Alami. Tapi Naruto selalu membuatnya bangkit. Kata-kata Naruto adalah penyemangat bagi Hinata. Bahkan cukup dengan melihat Naruto saja sudah cukup untuk membuat Hinata kembali berdiri. Sampai sekarang.
Dari mata, turun ke Hati.
Yah... Pepatah ini berlaku pada Hinata. Melihat bagaimana tegarnya Naruto, bagaimana kerasnya perjuangan Naruto akhirnya menumbuhkan rasa di hati Hinata. Jauh dari perasaan kasihan, cinta Hinata adalah karena Naruto membuat hidupnya lebih berarti.
Darinya, Hinata mengerti arti kata berjuang dan pantang menyerah.
Yang paling penting, dari Naruto, Hinata mengerti arti hidup yang sebenarnya.
Perlahan senyum mulai menghampiri Ame. Melihat Hinata mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dulu Ame layani bersama sang ibu ketika Ame seumuran Hinata. Wanita yang telah menurunkan paras sempurna serta sifat penuh kasih sayang pada Hinata.
'Benar-benar mirip ibunya'
"Yah... Begitu juga tidak apa-apa" kata Ame maklum atas sifat Hinata yang terlalu sabar.
"Lagi pula..."
"Naruto-san kan calon Hokage terhebat, pasti dia punya caranya sendiri" tukas Ame tersenyum. Pernyataan Ame di iakan Hinata lewat sebuah senyum.
'Aku yakin kau punya sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, Hokage orange'
"Nah... Hinata sama, sebaiknya anda segera sarapan, Nanti dingin lho"
"Iya... Em... Apa ayah juga sudah sarapan"
"Belum. Keliatanya Hiashi-sama masih diruangan beliau" jelas Ame, "Kebetulan saya memang hendak memberitahukan ini pada beliau"
"Tidak perlu, biar aku saja"
.
.
.
Hinata melangkah pelan melewati bagian mantion tempat tinggalnya. Langkah-langkah kecilnya menghasilkan bunyi bedebup pelan ketika kaki mulusnya yang tanpa alas itu bertemu dengan lantai yang terbuat dari kayu. Senyum masih nampak di wajahnya, seperti tak memperdulikan jarak cukup jauh yang harus ia tempuh.
Beberapa saat berjalan, Hinata akhirnya dapat melihat ruangan sang ayah. Mendekat perlahan, Hinata bersiap mengetuk pintu, tapi...
"...Ini tentang Hinata" gerakan gadis Hyuga itu terhenti ketika indra pendengarannya menangkap sebuah suara berat khas yang ia kenal.
"Ayah...?"
Mengetahui dirinya menjadi bahan pembicaraan membuat Hinata menunda tujuan awalnya datang kesana. Tidak sopan memang, tapi rasa penasarannya terlalu kuat. Akhirnya dengan ragu Hinata pun dengan pelan menempelkan satu telinganya ke pintu. Sebenarnya Hinata khawatir juga, takut ketahuan menguping. Tapi, rasa ingin tahu memang sulit dibendung. Kan Jarang-jarang ayahnya membicarakan tentang dirinya.
"Jadi anda akan tetap melakukannya, Hiashi-sama?" kata seseorang yang menjadi lawan bicara sang pemimpin klan Hyuga.
"Keputusan ku sudah bulat" jawab Hiashi pelan tapi penuh ketegasan.
"Apa tidak apa-apa dia yang melakukannya?" kata orang itu kurang yakin, keliatannya dia agak keberatan, "Tapi Hinata-sama..."
"Tidak apa-apa..."
"Lagi pula, sebagai calon Hokage aku yakin dia bisa melakukannya"
Perkataan Hiashi yang terakhir sukses mengejutkan Hinata "Calon Hokage...?, apa maksud ayah?"
"Siapa diluar!"
Suara itu berat itu kembali sukses mengejutkan Hinata. Tapi kali ini, Hinata sampai mundur satu langkah. Rupanya ucapan terakhir Hinata terdengar oleh Hiashi, dan membuat keberadaannya disadari oleh sang ayah.
Dengan ragu Hinata menggeser pintu yang menghalangi pandangan Hiashi akan dirinya. Saat pintu terbuka, Hinata tak berani menatap mata sang ayah.
"Kau menguping Hinata?" tanya Hiashi tak suka.
"Ma... Maafkan aku..." Hinata terbata.
"Sejak kapan kau di luar?" sepertinya tak semudah itu bagi Hiashi.
"Ba... Baru saja," Hinata gemetar. Meski tak melihat langsung, Hinata bisa merasakan tatap kemarahan dari ayahnya.
"Ma... Maafkan aku..." Hinata membungkuk untuk meminta maaf. Dia benar merasa bersalah karena telah menguping pembicaraan orang lain, terlebih orang itu adalah ayahnya sendiri.
"Kau tau kalau ayah tidak suka ada yang diam-diam mendengarkan pembicaraan orang lain kan?" Nada bicara Hiashi meninggi.
"Ma... Maaf" Hinata semakin gemetar. Inilah yang Hinata takutkan, menghadapi kemarahan sang ayah.
"Kenapa kau..." perkataan Hiashi terpotong oleh suara feminim dari luar.
"Permisi..."
Hinata dan satu orang lainnya ikut mengalihkan pandangannya.
"Ame-san...?" kata Hinata. Ia sedikit lega karena Ame datang tepat pada waktunya. Kalau saja Ame tidak datang, Hinata tak tahu harus menunduk berapa lama lagi untuk menghindari tatapan marah dari ayahnya.
"Ada apa..." tanya Hiashi.
"Anu... Team 8 diminta oleh Hokage-sama untuk berkumpul di gedung Hokage" jelas Ame.
"Kapan...?" tanya Hiashi lagi.
"Sekarang juga, Hiashi-sama"
Hiashi tampak diam sejenak, sepertinya dia agak kesal karena dia harus mengurungkan niat untuk menasehati - mengomeli- anaknya, Hinata. Menghela nafas, Hiashi pun akhirnya bersuara "Ya sudah, kau dengarkan, Hinata?"
"I... Iya"
"Pergilah..."
"Ba... Baik" Hinata membungkuk sesaat, kemudian berputar kearah Ame datang tadi.
'Hinata-sama tidak apa-apa' Hinata bisa tahu dari wajah khawatir pelayan cantik itu. Hinata tersenyum menjawab pertanyaan Ame juga sebagai tanda terima kasih sudah datang tepat waktu, sebelum akhirnya pergi.
.
.
.
"Hah... Orang itu kenapa sih?" keluh seorang remaja dengan dua tato merah layaknya dua buah taring di wajahnya.
"Sabar Kiba-kun" gadis di sampingnya mencoba menenangkan, "Pasti sensei sedang ada keperluan"
"Tapi ini sudah satu jam lebih Hinata" remaja bernama Kiba tadi masih mengeluh. Sedangkan anjingnya, Akamaru asik dengan kegiatannya sendiri, menyingkirkan kutu-kutu yang tak tau diri yang seenaknya berpesta diantara bulu-bulu halusnya.
Beberapa kali terdengar geraman kesal Akamaru karena tak seorangpun yang memangkas habis semak-semak disampingnya. Akamaru mengambil kesimpulan bahwa kutu-kutu yang menggerayangi bulu-bulu halusnya sekarang berasal dari semak-semak brengsek itu.
Tunggu...
Kutu?
Semak-semak?
Bukannya kutu hidup di tempat tidur atau...?
Lupakan!. Apapun itu,bagi Akamaru sesuatu yang membuatnya gatal adalah kutu. Titik!
Sementara itu, melupakan anjingnya, Kiba terus saja mengeluh. Shino yang juga ada disana memasang tampang datar meski ia sedikit terganggu oleh ocehan berisik Kiba.
"Hah... Bagaimana team 7 bisa bertahan dengan sensei seperti ini?" keluh Kiba lagi.
"Tenanglah Kiba!" Shino akhirnya angkat bicara, "Kakashi-sensei itu jounin hebat"
Yah, di sinilah team 8 sekarang. Setelah berkumpul di gedung Hokage, mereka mendapat misi langsung dari Hokage. Dan karena Kurenai sedang mengandung, sang Hokage memerintahkan Kakashi untuk mengisi kekosongan itu. Dan Kakashi meminta team 8 untuk menemuinya di gerbang Konoha. Tapi si penggemar Novel mesum itu malah belum datang-datang juga.
"Payah... Kalau begini kita terlambat memulai misi" Kiba masih tak terima karena di buat menunggu lama. Apa Kakashi tak tau kalau klan Inuzuka itu paling tidak suka menunggu.
"Sabar Kiba-kun, Kakashi-sensei sebentar lagi pas..." tiba-tiba saja Hinata merasakan sesuatu di dalam perutnya mengamuk, menyadarkannya akan rasa yang sejak tadi ia tahan.
Kruyuuk...
"Eh..." Kiba berhenti mengeluh, Akamaru berhenti berkutat denagn kutu-kutunya. Pasangan Inuzuka itu diam. Shino bahkan mengalihkan perhatiannya lalu berkata...
"Kau belum sarapan ya, Hinata?"
.
.
.
Menghela nafas, Hinata mencoba memulihkan percaya dirinya, tapi dia masih belum bisa menghilangkan rona merah di wajahnya akibat kejadian tadi. Gara-gara tidak sempat sarapan, pikirnya.
"Ini ramen spesialnya Hinata-chan" seorang koki sekaligus pelayan itu menyerahkan seporsi ramen pada Hinata.
"Terima kasih Ayame-san"
"Iya... Selamat menikmati" Ayame memjawab dengan senyum ramahnya.
Kini Hinata sedang duduk di Ichiraku ramen untuk sarapan. Hinata memisahkan dua bilahan sumpitnya, menangkupkan kedua telapak tangan dan berdoa.
"Ittidekimasu..."
Dengan perlahan Hinata menikmati helai demi helai mie ramennya. Kenyal, ditambah bumbu yang menyatu dengan mie juga bahan pelengkap lainnya membuatnya jadi terasa sangat nikmat. Oh ya... Jangan lupakan kuahnya tentunya.
"Hinata-chan belum sarapan ya?" tanya Ayame.
"Mm..." Hinata mengangguk, "Tadi buru-buru, jadi ga sempat"
"Buru-buru ya..?" kata koki cantuk itu, "Tapi kenapa ramen?" tanya Ame lagi.
"Eh..."
"Tumben sekali lho..."
Benar juga, Hinata sendiri tadi juga tanpa sadar memesan ramen. Padahal ada menu makanan lain yang lebih ringan untuk sarapan.
'Kenapa ya...?'
Perhatian Hinata kemudian tertuju pada sebuah potongan kamaboko dengan pusaran ditengahnya. Pelengkap ramen itu otomatis mengingatkannya pada seseorang.
"Naruto-kun..."
"Oh..." Ame ber'oh' ria. Hinata mendongak, menemukan Ayame yang tersenyum penuh arti padanya.
"A... Ada apa...?" Hinata merona menyadari maksud Ayame. Sepertinya Ayame tahu alasan Hinata memilih ramen sebagai sarapannya.
"PAGI..."
Suara cempreng nan norak itu mengalihkan perhatian dua orang wanita yang sedang berbincang itu.
"Wah... Panjang umur" seru Ayame, " Pagi Naruto"
"Na... Naruto-kun" Hinata agak terkejut atas kedatangan Naruto.
"Eh... Hinata-chan ya?" kata yang baru datang.
"Pa… Pagi Naruto-kun" penyakit Naruto syndrome Hinata kambuh.
"Pagi..." kata Naruto nyengir.
"Ayame nee, pesan ramen spesial ya..." pinta Naruto pada wanita di depannya.
"Segera datang..." kata Ame, kemudian dengan sigap mulai membuatkan pesanan pelanggan setia Ichiraku itu.
"Eh... Hinata?" kata Naruto.
Yang dipanggil menoleh dengan gugup. Kalau ada Naruto, Rona merah itu memang tidak mungkin hilang. "I... Iya, Naruto-kun?" sahut Hinata.
"Boleh duduk disitu kan?" tanya Naruto sambil menunjuk tempat duduk di sebelah Hinata.
"Di... Di sini?" Hinata tak percaya.
"Iya..." wajah ceria Naruto tak berubah. Seperti tak merasakan apapun, sedangkan gadis yang menjadi lawan bicaranya sudah mematung tak bergerak.
"Hinata...?" tanya Naruto heran.
Hinata tak merespon.
'Naruto-kun ingin duduk di sampingku?'
"Hinata...?" kata Naruto tiba-tiba menggerakan telapak tanggannya di depan wajah Hinata.
"I... Iya boleh..." jawab Hinata spontan.
Tindakan Naruto yang tiba-tiba sepertinya membuat Hinata repleks mengucapkan kata hatinya.
Hah... Membohongi diri sendiri itu tenyata memang sulit.
.
.
.
Keadaan hening menerpa Hinata dan Naruto sekarang. Kepergian Ayame untuk membantu ayahnya serta-merta membuat suasana menjadi canggung. Naruto yang biasanya berisik entah kenapa tiba-tiba jadi pendiam. Hinata apa lagi, dia yang memang sejak awal tidak -bisa- banyak bicara kalau dekat-dekat Naruto tentu saja sekarang cuma bisa diam menundukan wajahnya.
Ichiraku yang sedang sepi pengunjung semakin menambah kecanggungan diantara mereka.
Lama kelamaan Hinata jadi tak nyaman juga. Bukan karena dia tak suka berdekatan dengan Naruto. Hanya saja, Naruto yang tidak banyak bicara membuatnya khawatir, bahkan ramennya sudag dingin padahal masih tersisa setengah. Hinata takut kalau-kalau Naruto merasa tidak nyaman bersebelahan dengannya, atau Naruto merasa bosan karena dia bukan teman bicara yang baik. Semua itu terus berputar-putar dikepala Hinata.
Hinata tidak ingin seperti itu. Dia tidak ingin Naruto membencinya. Meyakinkan hatinya, Hinata mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Tapi baru saja Hinata hendak membuka mulut...
"Hinata..."
"..." Hinata tentu saja heran. Dari tadi diam, sekarang Naruto malah tiba-tiba memulai pembicaraan.
"I... Iya Naruto-kun?"
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu Hinata" kata Naruto.
"Sesuatu...?" Hinata tidak bisa untuk tidak penasaran kali ini. Naruto ingin bicara sesuatu dengannya.
Naruto menarik nafas lalu menghembuskannya pelan. Kemudian Naruto menoleh kearah Hinata dan menatapnya lurus.
Di tatap tiba-tiba Hinata cuma bisa mematung. Entah kenapa Hinata merasa tatapan Naruto kali ini agak berbeda. Dan entah apa yang terjadi pada Hinata, tapi dia tak mampu mengalihkan pandangannya dari mata biru langit itu.
Dan saat Naruto kembali bersuara, adalah saat yang tak terduga.
"Ini tentang kata-kata mu ketika pertarungan melawan Pain dulu" Naruto memandang Hinata serius.
Mungkinkah ini adalah saat-saat yang telah lama Hinata nantikan.
"Sebenarnya aku..."
Saat dimana Naruto menjawab pernyataan cintanya.
TBC...
.
.
.
Gimana...?
Saya harap chapter ini ga terlalu mengecewakan.
Soal setting chap 2nya...
Ampun...
Jangan bantai saya karena pake muter balik waktunya dulu...
Gomen, saya buat chap 2 ini settingnya sebelum Hinata bermimpi buruk, jadi chap 1 kemaren bisa dibilang prologenya. Tp saya jamin chap depan udah kembali ke inti cerita fict ini.
Lalu saya juga minta maaf kalau chap ini terlalu banyak dialog dan minim diskripsi. Saya akui saya payah banget dan masih perlu banyak belajar.
OK… ini untuk balesan review...
ZephyrAmfoter: thanks dah review... Siapa yg bunuh? Nanti jg tahu*plaak*
haha... Review lg ea...
Crunk Riela-chan: gpp, Rie-chan review udh sangat ngebantu...
Hayate senichi"D: yep... Ni dah update... Thanks ya…
The portar Transmission-19: thanks dah review...
Mugiwara piretez: yo... Thanks... Ni dah dilanjutin...
Blubarry cake: thanks dah review, soal thypo saya coba minimalkan...
Dwi93jun Takahashi chan: suka Shika ea? Gomen ya... Thanks dah review...
Zora"NH"chan: gpp ko... Wah kmren puas banget pas nntn Indo ngebantai Malay 5-1, mari brdoa Indo bkln konsisten menangnya... Haha... Ko jd ngomgn bola, ckck thanks dah review...
Dani-no Baka: thanks bro... Horror? Masa? Iya jg sih, tp klu chap ini gmn... Review lg ea...
Namekaze-Tania-chan: salam kenal jg...^^, keren wah... Jd malu... Thanks ea...
Senjumiru05: thanks dah review...^^
aguz vidiz namikaze: hola freinds... Makasih ya... Yg koid selanjutnya...? Rahasia, hehe...
Ind: thanks ea... Ni dah update...
Rei-chan rizu: tangkiu^^
klu soal kaka sama hina-chan lg dmn, nnti jg ada... Yg jelas diluar konoha...
Muna-Hatake: arigatou dah review...
Scene NH, tuh ada to...^^
Sekali lagi saya mohon maaf jika chap ini mengecewakan. Saya janji chap depan akan berusaha lebih baik lagi.
Terima kasih banyak buat yang sudah bersedia membaca fict ini. Juga reviewer yang udah mau ngasih kritik, saran dan ngasih semangat, saya benar-benar terbantu.
Yang terakhir, jangan jera baca fict saya ya…
Mohon review lagi...
See ya...
