Babysitter? Created by manjeeh
Summary: Kim Jaejoong seorang remaja gadis penggila fashion yang baik namun keras kepala, dan AMAT SANGAT TIDAK MENYUKAI ANAK KECIL, dihukum karena kesalahan yang ia perbuat. Kedua orang tuanya menghukumnya dengan menyuruh dirinya menjadi babysitter dari cucu teman kedua orang tuanya. Awalnya ia tidak terima dengan hukuman yang ia terima dari kedua orang tuanya, namun seiring berjalannya waktu ia menikmati perannya sebagai babysitter.
Disclaimer: They own themself but this fanfiction pure mind.
Warning: This is GS, AU, OOC, Typo, EYD berantakan.
Don't like don't read.
-OOO-
Jaejoong menatap tidak percaya Appanya yang tengah menutup telinganya mendengar pekikannya. Tadi Appanya bilang jika pekerjaan yang tadi Appanya maksud adalah menjadi babysitter? Astaga, bukankah Appanya itu tahu jika mengurusi diri sendiri saja Jaejoong masih kewalahan, apalagi jika mengurusi kebutuhan orang lain, terlebih anak kecil? Astaga, Jaejoong sangat tidak menyukai anak kecil, menurut Jaejoong anak kecil merupakan perwujudan dari masalah besar yang sangat merepotkan dan harusnya dihilangkan. Kenapa Appanya menyuruhnya menjadi babysitter? Apa Appanya itu ingin memainkannya hah?
"Kenapa kau memekik seperti itu hah? Kau ingin membuat Appamu ini tuli?" Kangin menatap tajam Jaejoong yang masih shock dengan apa yang tadi ia dengar dari mulut appanya itu.
" .mau." Bukannya menanggapi protes Appanya, Jaejoong malah mengatakan hal yang membuat Kangin menatapnya garang. Padahal baru beberapa waktu lalu Kangin mendengar sesuatu yang menggemberikan yang keluar dari mulut puterinya itu.
"Kenapa?"
"Astaga Appa, bukankah Appa tahu jika mengurusi diriku sendiri saja, aku kerepotan. Bagaimana bisa aku mengurusi kebutuhan seseorang terlebih seorang anak kecil? Mendengar suaranya saja membuat kakiku lemas Appa."
"Tapi Jae, teman Appa rela membayar gaji yang sangat besar jika kau mau mengurusi kebutuhan cucunya. Lagipula hanya enam bulan sayang, kau tahu bukan jika teman Appa merupakan pengusaha-pengusaha besar yang sukses? Coba kau kalkulasikan gaji perbulanmu selama 6 bulan? Kau bisa membeli pakaian-pakaian konyol yang berada dalam majalah fashion langgananmu itu." Kangin terus mencoba membujuk putrinya itu dengan kata-kata sakral yang membuat putrinya berkeringat dingin.
Jaejoong tidak menanggapi perkataan Appanya, ia malah tengah menunduk sambil menggigiti kedua ibu jarinya bergantian, tanda bahwa ia tengah bingung memikirkan apa yang tadi Appanya katakan. Disatu sisi otak Jaejoong menyuruhnya menerima ajakan Appanya dan membenarkan perkataan Appanya, Jaejoong tentu tahu jika teman-teman Appanya merupakan pengusaha-pengusaha besar yang sukses, dan ia berani bertaruh jika ia menerima ajakan Appanya untuk bekerja pada teman Appanya itu, ia akan mendapat gaji yang sangat besar dan dapat membeli pakaian-pakaian lucu, perhiasan cantik, dan apapun yang ada didalam majalah fashion langganannya. Namun disisi lain otak Jaejoong menyuruhnya menolak ajakan Appanya. Meskipun gaji yang diberikan oleh teman Appanya itu besar, ia tidak ingin mengalami stress berkepanjangan karena mengurusi kebutuhan anak kecil yang menurutnya bagai bencana itu.
Kangin yang melihat anaknya tengah menggigiti kedua ibu jarinya itu menyimpulkan bahwa putrinya itu tengah dilanda rasa bingung mendengar penjelasannya tadi, sebenarnya Kangin tidak ingin anaknya itu disuruh memilih keputusan yang menurut Kangin lumayan berat bagi anak seusia Jaejoong, namun demi kebaikan Jaejoong, Kangin meruntuhkan egonya untuk mengasihani Jaejoong. Kangin lalu bangkit dari duduknya lalu menatap Jaejoong dalam.
"Baiklah kalau kau tetap pada keputusanmu, Appa tidak akan memaksa meskipun Appa sangat berharap kau mau menerima syarat yang Appa berikan. Kalau begitu selamat menikmati hukumanmu sayang." Kangin berkata dingin pada puteri semata wayangnya itu, lalu pergi meninggalkan Jaejoong sendirian diruang keluarga.
Jaejoong masih terus merenungi apa yang Appanya tadi katakan, tanpa sadar airmatanya keluar begitu saja dari kedua matanya. Kenapa Appanya begitu kejam padanya? Apakah hanya karena kesalahannya membeli beberapa pakaian mahal membuatnya dihukum seperti ini? Sepertinya teman-temannya yang lain tidak pernah dihukum sepertinya meskipun mereka berbelanja lebih lebih daripada Jaejoong, tapi kenapa ia malah dihukum begini? Memikirkan teman-temannya yang tidak pernah dihukum sepertinya membuat isakan keluar dari bibir milik gadis berusia 20 tahun itu.
Tanpa Jaejoong sadari, sedari tadi ternyata Kangin memperhatikan gerak gerik Jaejoong setelah Kangin keluar dari ruang keluarga. Hatinya begitu sakit melihat puteri satu-satunya yang begitu ia sayangi dan cintai sepenuh hati menangis karena keputusannya. Kangin yakin pasti sekarang Jaejoong menganggapnya sebagai ayah yang sangat kejam karena sudah menyuruhnya melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Kangin merasa menjadi orang paling egois didunia karena memaksa puterinya mengikuti keinginannya, namun hati kecilnya terus mengatakan bahwa ia harus melakukan hal tersebut demi kebaikan Jaejoong. Ya, demi kebaikan puteri satu-satunya yang sangat ia cintai dan sangat berarti dihidupnya.
Suara isak tangis Jaejoong menghilang bersamaan dengan sosok Jaejoong yang tergeletak disofa ruang keluarga, pingsan. Kangin yang melihat puterinya tidak sadarkan diri itu panik dan langsung menghampiri Jaejoong. Kangin goyang-goyangkan badan Jaejoong namun tidak ada respon dari Jaejoong, sepertinya Jaejoong pingsan karena terlalu keras memikirkan hal yang tadi. Tanpa disuruh Kangin mengangkat dan memindahkan tubuh tak sadarkan diri Jaejoong kekamar Jaejoong yang ada dilantai dua rumah mereka. Setelah sampai dikamar Jaejoong, Kangin membaringkan tubuh Jaejoong dikasur.
"Mian ne sayang, karena Appa kau jadi seperti ini. Jangan benci Appa ne, ini semua Appa lakukan demi kebaikanmu sayang." Kangin mengecup kening Jaejoong, lalu pergi meninggalkan Jaejoong sendiri dikamarnya.
Setelah mendengar pintu kamarnya ditutup, Jaejoong membuka kedua matanya dan bangkit dari posisi tidurnya. Ia tadi hanya pura-pura pingsan karena tanpa sengaja tadi ia melihat Appanya ada dibalik dinding ruang keluarga rumah mereka. Jaejoong tersenyum senang mendengar perkataan Appanya tadi. Mana mungkin ia bisa membenci orang tua sebaik Appanya itu. Sebenarnya tadi setelah cukup berat berdebat dengan pikirannya, Jaejoong akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemauan Appanya untuk bekerja sebagai babysitter ditempat teman Appanya itu. Alasannya sangat sederhana, tentu karena ia tidak ingin lagi mengecewakan kedua orangnya yang begitu baik dan sayang padanya. Sudah cukup 20 tahun ia merepotkan kedua orang tuanya dan bermain-main dengan hidupnya. Sekarang yang ia ingin hanya membuat kedua orang tuanya senang dan bangga akan dirinya.
Jaejoong bangkit dari kasurnya dan berjalan ke meja belajar dikamarnya. Jaejoong membuka laptop putihnya dan memencet tombol on pada sisi laptopnya. Setelah menyala dan menampilkan wallpaper fotonya bersama kedua orang tuanya, Jaejoong mengklik Google dan mengetik keyword
'Cara Mengurus Anak Kecil Dengan Baik dan Benar.'
-OOO-
"Yun." Sosok wanita yang sudah tidak bisa dikatakan muda itu lagi terus memperhatikan anak semata wayangnya yang sedang membolak-balik dokumen yang berada ditangannya.
"Hm?" Balas sosok yang kita ketahui bernama Jung Yunho, tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang ada ditangannya, sepertinya dokumen tersebut lebih penting dibanding sosok yang telah melahirkannya itu.
"Apa sebegitu pentingnya dokumen tersebut hingga kau tidak mengalihkan pandanganmu sedikit saja pada Eomma, Yun?" Yunho mengalihkan pandangannya pada Eommanya yang tengah duduk dihadapannya dan menatapnya tajam. Yunho lalu meletakkan dokumen yang tadi digenggamnya keatas meja kerjanya, lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya dan menatap orang yang telah mengandungnya 9 bulan itu.
"Ah hehehe, mian Eomma ." Seohyun mendengus mendengar perkataan putra semata wayangnya itu.
"Jadi, ada apa Eomma jauh-jauh mendatangiku kekantor? Sepertinya bukan masalah yang ringan." Lanjut Yunho sebelum Seohyun menjawab perkataan anaknya yang sebelumnya. Seohyun menghela nafas, ini yang ia benci dari anaknya. Anaknya itu selalu to the point dan tidak suka bertele-tele.
"Kau benar Yun, ini masalah penting. Masalah Changmin." Yunho membulatkan matanya mendengar perkataan Eommanya yang menyebut nama putranya.
"Maksud Eomma?"
"Eomma diberitahu Appa jika kau baru saja dapat tender dari perusahaan tetangga, dan Ahra juga baru mendapatkan peran dalam drama baru yang akan ditayangkan. Jadi Eomma yakin sekali, kalian akan sangat sulit meluangkan waktu untuk Changmin. Semalam Appa dan Eomma sudah sepakat akan mencari seorang babysitter untuk mengurusi kebutuhan dan menemani Changmin saat kalian tengah sibuk." Seohyun menjelaskan maksud kedatangannya kekantor anaknya itu sejelas-jelasnya. Yunho mengangguk menyutujui perkataan Eommanya. Tadinya Yunho juga sempat berpikiran seperti yang Eommanya pikirkan, namun ketika ia mengingat dirumah ada seorang pembantu jadi untuk apa ia repot menyewa seorang babysitter untuk kebutuhan anaknya.
"Lalu bagaimana dengan pembantu dirumah? Bukankah Bibi Park sudah berpengalaman mengurusi rumah? Lagipula sepertinya mengurusi Changmin juga bukanlah hal yang sulit, Changmin anak yang mandiri Eomma jadi ia tidak mungkin terlalu merepotkan orang lain." Seohyun sudah menebak apa yang anaknya itu pikirkan, anaknya itu bukanlah seorang yang pemboros, ia pasti akan menekan pengeluaran jika tidak terlalu dibutuhkan.
"Pekerjaannya hanya mengurusi rumah Yun, bukan mengurusi Changmin. Lagipula Eomma tidak tega jika menyuruhnya mengurusi rumah dan Changmin juga, tidakkah kau sadar rumahmu begitu besar? Bibi Park sudah tidak muda lagi Yun, kekuatannya terbatas." Lagi, Yunho mengangguk membenarkan perkataan Eomma nya. Ia bahkan lupa jika pembantu dirumahnya yang sering ia panggil Bibi Park sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Pekerjaan yang menyita waktu membuatnya lupa akan hal-hal sepele macam itu.
"Lalu menurut Eomma harus bagaimana?"
"Menurut Eomma, kita harus carikan seorang babysitter untuk mengurusi kebutuhan Changmin, ya meskipun Changmin mandiri dan tidak suka merepotkan orang lain tetap saja umurnya masih 5 tahun. Changmin tidak akan bisa mengurusi semua kebutuhannya jika tidak dibantu orang lain." Yunho memikirkan perkataan Eommanya, Eommanya itu benar. Changmin tidak akan bisa mengurusi kebutuhan jika tidak dibantu orang dewasa.
"Hm, kalau begitu aku setuju." Seohyun tersenyum puas mendengar perkataan putera semata wayangnya.
"Mian merepotkan Eomma, bisakah Eomma saja yang carikan babysitter itu? Pekerjaanku dikantor tidak bisa ditinggalkan."
"Kalau masalah itu sudah dihandle oleh Appamu Yun, kita tinggal tunggu saja kabarnya." Yunho tersenyum mendengar perkataan ibunya. Orang tuanya itu selalu saja memikirkan dirinya dan keluarganya.
"Terima kasih Eomma, mian ne jika aku dan keluargaku selalu merepotkan Eomma dan Appa." Yunho bangun dari duduknya dan menghampiri Seohyun lalu memeluk orang yang telah membesarkannya itu dari belakang.
"Jangan dipikirkan Yun, ini semua demi Changmin."
"Kalian memang orang tua terbaik. Aku sayang kalian." Yunho mengeratkan pelukannya. Seohyun hanya tersenyum mendapat perlakuan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari puteranya.
"Ne Yun, Eomma dan Appa juga sayang padamu. Oh ya, bolehkan Eomma menemui Changmin? Eomma kangen sekali padanya."
Yunho melepaskan pelukannya lalu menatap Eommanya.
"Tentu saja, kenapa bertanya? Eomma kan tinggal datang kerumah. Rumah kami selalu terbuka untuk Eomma. Lagipula Changmin pasti senang dikunjungi oleh Halmoninya." Seohyun tersenyum lagi mendengar perkataan anaknya, sekarang Seohyun yang memeluk Yunho erat.
"Ah kalau begitu Eomma kerumahmu ya." Setelah cukup lama memeluk Yunho, Seohyun melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari kantor puteranya. Namun sebelum keluar Seohyun berhenti dan berbalik menghadap Yunho.
"Oh ya Yun, jaga kesehatanmu ne. Jangan terlalu giat bekerja."
"Ne Eomma." Seohyun tersenyum lagi setelah itu pergi meninggalkan ruang kerja Yunho.
-OOO-
"Nak Changmin, ayo makan malam." Entah sudah yang keberapa kali Bibi Park meminta Changmin untuk turun keruang makan untuk makan malam, karena sebentar lagi jam makan malam tiba.
"Nanti aja Jumma, Changmin mau tungguin Appa pulang supaya bisa makan sama Appa." Dan entah sudah keberapa kali juga Changmin menolak permintaan Bibi Park. Entah kenapa malam ini Changmin sangat ingin makan malam bersama Appanya. Makanya ia bersikeras menunggui Appanya pulang kerumah.
"Tapi sebentar lagi jam makan malam nak Changmin, mungkin Appa pulangnya larut malam, kalau nak Changmin terus tungguin Appa nanti nak Changmin bisa sakit karena belum makan."
"Changmin mau makan sama Appa!" Bentak Changmin, Bibi Park menghela nafas menghadapi ulah anak majikannya itu, ia harus ekstra bersabar jika sifat keras kepala Changmin muncul. Bibi Park menghela nafas lagi, kalau seperti ini, mau dibujuk seperti apapun Changmin pasti tidak akan menurut sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan berat hati Bibi Park harus memberi tahu Yunho jika Changmin tidak mau makan jika tidak ada dirinya. Akhirnya Bibi Park meninggalkan Changmin sendiri dikamarnya dan berjalan keruang keluarga tempat tersedianya telepon rumah. Bibi Park memencet nomor yang sudah ia hafal dan menaruh gagang telepon ditelinganya.
"Ada apa Ahjumma? Apa Changmin berulah?" Tak ada ucapan salam dari orang yang ditelepon Bibi Park saat sambungan telepon mereka terhubung.
"Ehm anu nak Yunho, sebenarnya nak Changmin tidak ingin makan malam jika tidak ditemani nak Yunho." Karena Yunho tak mengucapkan salam, akhirnya Bibi Park langsung menjelaskan maksudnya menelpon Yunho. Terdengar suara helaan nafas Yunho. Anaknya itu sebenarnya tidak terlalu merepotkan, tapi jika tiba saat datang sifat manjanya, anaknya itu akan sangat merepotkan. Padahal saat ini, Yunho tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Bisa Ahjumma berikan teleponnya pada Changmin? Aku ingin bicara padanya."
"Baik nak Yunho." Bibi Park meletakan gagang telepon tersebut dimeja, lalu berlalu kekamar Changmin untuk memberitahu jika Appanya ingin bicara padanya.
"Nak Changmin, Appa ingin bicara dengan nak Changmin ditelepon." Changmin lesu mendengar perkataan Bibi Park, sepertinya keinginannya untuk makan malam bersama Appanya tidak akan terlaksana lagi. Changmin lalu bangkit dari kasurnya dan berjalan ketempat telepon rumah berada sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
"Hallo Appa." Sapa Changmin.
"Hallo sayang, bisakah Changmin makan malam bersama Park Jumma? Appa sedang sibuk sayang, mungkin pulang larut malam." Mata Changmin berkaca-kaca mendengar penjelas Appanya.
"Tapi...Changmin ingin makan malam bersama Appa." Suara Changmin bergetar menahan tangis.
"Tapi Appa sedang sibuk sayang, Changmin makan malam bersama dengan Park Jumma saja ya. Oh ya tadi Halmoni bilang ke Appa kalau Halmoni mau ketemu sama Changmin, sebentar lagi pasti Halmoni sampai dirumah. Sudah ya sayang, Appa sedang sibuk." Setelah mengatakan itu Yunho mematikan sambungan teleponnya. Changmin hanya bisa menahan isak tangis karena keinginannya untuk makan malam bersama Appa nya tidak terlaksana. Changmin lalu berlari kekamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
'Pasti nak Yunho tidak bisa makan malam dirumah.' Batin Bibi Park.
Bibi Park yang melihat itu hanya bisa menghela napas entah untuk yang keberapa kalinya, sebenarnya ia kasihan melihat Changmin yang sepertinya diabaikan oleh kedua orang tuanya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Changmin. Bibi Park lalu berjalan kekamar Changmin, berusaha membujuk Changmin agar mau makan malam tanpa Appanya.
"Nak Changmin, ayo makan malam sama Park Jumma." Bujuk Bibi Park.
"Hiks." Tidak terdengar balasan dari dalam, yang terdengar hanya suara isak tangis dari dalam kamar Changmin.
"Nak Changmin." Lirih Bibi Park. Hatinya tidak tega mendengar tangis Changmin yang begitu memilukan. Diusianya yang masih dini, Changmin sudah diabaikan oleh orang tuanya yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tok Tok Tok.
Bibi Park berjalan menuju pintu utama karena mendengar suara ketukan. Lalu diperiksanya intercom didekat pintu itu untuk melihat siapa yang datang. Matanya kaget melihat Nyonya besar keluarga Jung berada diluar rumah sendirian. Dengan sigap dibukanya pintu utama rumah tersebut dan menunduk memberi hormat pada Seohyun.
"Annyeong Nyonya." Sapa Bibi Park.
"Annyeong Bibi Park." Balas Seohyun lalu Seohyun melangkah memasuki rumah puteranya itu dengan beberapa kantung plastik besar digenggamannya.
"Biar saya bantu Nyonya." Seohyun tersenyum karena perilaku Bibi Park yang sangat sopan. Dengan sigap Bibi Park membantu membawakan kantungan plastik itu.
"Changmin ada dimana Bibi Park?" Tanya Seohyun setelah menaruh kantungan plastik yang tadi dibawanya diruang makan. Bibi Park bingung harus menjawab apa, kalau ia menjawab Changmin ada dikamarnya sedang menangis pasti Seohyun akan menanyainya macam-macam. Bibi Park tentu tidak ingin memberitahu Seohyun kalau Changmin menangis dikamarnya karena tidak bisa makan malam bersama Yunho. Bibi Park yakin sekali jika Seohyun mengetahui hal tersebut, Yunho pasti akan diomelinya habis-habisan.
Cukup lama Bibi Park terdiam membuat Seohyun mengerutkan alis bingung karena Bibi Park tidak menjawab pertanyaannya.
"Bibi Park, Changmin ada dimana?" Tanya Seohyun sekali lagi.
"Changmin ada disini Halmoni." Seohyun tersenyum pada Changmin yang sedang berdiri didekat tangga dan sedang memeluk bonekanya. Lalu dihampirinya cucu satu-satunya itu. Ah sepertinya Changmin nya itu bertambah tinggi saja padahal belum terlalu lama Seohyun tidak bertemu dengan Changmin.
"Halmoni kangen sekali sama Changmin." Seohyun memeluk Changmin erat. Changmin hanya mengangguk lalu balas memeluk Halmoninya. Bibi Park yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum dan mengucap syukur karena Changmin datang disaat yang tepat dan menolongnya dari pertanyaan Seohyun tadi.
Setelah cukup lama memeluk Changmin, Seohyun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Changmin.
"Changmin sudah makan malam?" Changmin menggeleng menjawab pertanyaan Seohyun.
"Astaga, ini kan sudah waktunya makan malam. Kenapa Changmin belum makan? Ayo kita makan, tadi Halmoni mampir kesupermarket dan membelikan Changmin snack." Diseretnya Changmin kemeja makan, Bibi Park yang tahu kalau Changmin dan Seohyun akan makan malam segera menyiapkan semuanya diatas meja makan.
Setelah menyendok beberapa lauk kepiringnya Seohyun menghadap ke Changmin lagi.
"Changmin mau disuapi?" Changmin hanya mengangguk
Ah perasaan Bibi Park jadi senang karena akhirnya Changmin mau makan juga. Tapi Bibi Park merasa aneh, kenapa saat tadi ia yang membujuk Changmin untuk makan malam, Changmin tidak mau? Dan malah menangis didalam kamarnya dan tak mau keluar kamar karena tidak bisa makan malam bersama Appanya. Tapi setelah Halmoninya datang, Changmin malah keluar dari kamarnya sendiri dan mau makan. Sepertinya Changmin tidak ingin orang tuanya dicap buruk oleh Halmoninya kalau ketahuan menelantarkannya. Bibi Park tersenyum miris karena pemikirannya, diusianya yang masih 5 tahun Changmin sudah memikirkan kedua orang tuanya yang belum tentu memikirkannya. Anak baik yang malang, pikir Bibi Park.
Disuapan terakhir Changmin menghentikan Seohyun yang terus menyuapinya.
"Changmin kenyang Halmoni." Changmin meminum air putih digelasnya. Seohyun tersenyum puas melihat piring putih ditangannya yang hanya menyisakan satu suapan lagi. Cucunya itu makan banyak ketika disuapinya dan itu membuat hati Seohyun senang bukan main karena ia merasa menjadi seorang Ibu lagi yang sedang menyuapi anaknya.
"Oh ya Halmoni punya berita baik untuk Changmin."
"Berita baik apa Halmoni?" Tanya Changmin penasaran, suasana hatinya sudah membaik karena kedatangan Halmoninya.
"Halmoni akan mencarikan babysitter untuk Changmin." Changmin mengernyit mendengar kata babysitter. Ia tidak pernah mendengar itu sebelumnya, apa babysitter itu bisa dimakan? Pikirnya polos.
"Babysitter itu apa Halmoni? Apa bisa dimakan?" Tanya Changmin polos. Seohyun tersenyum geli mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut cucunya itu.
"Babysitter itu adalah orang yang akan mengurusi segala kebutuhan Changmin, seperti menemani Changmin bermain, menyuapi Changmin makan, memandikan Changmin dan menemani Changmin tidur. Jadi Changmin tidak merepotkan Bibi Park lagi karena Changmin akan mempunyai seorang babysitter." Jelas Seohyun, dan saat mengucapkan kata tidak perlu merepotkan Bibi Park lagi mata Seohyun menatap Bibi Park yang berdiri tidak jauh dari mereka lalu tersenyum.
Changmin lesu setelah dijelaskan arti babysitter oleh Seohyun, ia pikir babysitter itu adalah makanan yang bisa dimakan dan rasanya lezat. Kalau babysitter itu adalah orang yang akan menemaninya, ia tidak mau, tidak butuh. Changmin tidak butuh orang yang bernama babysitter itu untuk menemaninya, yang ia mau hanya orang tuanyalah yang menemainya, tidak lebih. Bahkan ia sebenarnya tidak mau ditemani oleh Bibi Park kalau bukan karena Bibi Park bekerja dirumahnya.
Seohyun yang melihat Changmin diam saja mengernyit keheranan. Seohyun pikir Changmin akan senang jika diberitahu kalau ia akan mempunyai seorang babysitter, tapi kenapa Changmin hanya diam saja?
"Changmin ngantuk Halmoni." Seohyun tersadar dari lamunannya, saat Changmin menarik-narik tangannya. Seohyun bangkit dari duduknya.
"Ayo Halmoni temani tidur." Changmin hanya mengangguk lalu tangannya ditarik Seohyun menuju kamarnya.
-OOOO-
-OOO-
Malam harinya, Jaejoong akhirnya selesai mencari data cara menjaga anak kecil dengan baik dan benar dari internet. Matanya menatap puas hasil cetakannya yang lebih dari 20 lembar itu. Ya, Jaejoong memprint data yang ditemukannya dari internet tadi. Yang harus ia lakukan selanjutnya adalah mempelajari data-data tersebut dan menerapkannya nanti saat ia sudah menjadi babysitter dirumah teman Appanya. Semoga ia tidak mengecewakan orang tuanya lagi.
'Semangat Kim Jaejoong.'
Matanya lalu melirik jam yang ada disamping kasur tidurnya. Pukul 7:30 malam, Jaejoong hampir melewatkan jam makan malam. Akhirnya setelah mematikan laptopnya, Jaejoong memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri lalu turun keruang makan untuk makan malam. Ternyata orang tuanya belum selesai makan malam rupanya. Jaejoong menarik kursi disamping Eommanya lalu menyendok lauk-pauk seadanya.
"Kau sudah bangun sayang?" Tanya Leeteuk. Jaejoong mengernyit mendengar pertanyaan Eommanya itu, sepertinya ia tidak tidur tadi. Jaejoong lalu melirik Appanya yang juga sedang menatapnya. Pasti Appanya itulah yang memberitahu Eommanya kalau ia tertidur, dasar.
"Iya Eomma." Balas Jaejoong. Jaejoong menyantap makan malamnya dalam diam dan cepat, karena kedua orang tuanya telah menyelesaikan makannya dan sekarang tengah memperhatikannya makan.
"Hmm Eomma dengar dari Appa, katanya kau menolak tawaran bekerja pada temannya ya sayang? Sayang sekali." Leeteuk membuka suara lagi setelah Jaejoong menyuap sendokan terakhirnya.
Uhuk uhuk uhuk.
Jaejoong tersedak suapan terakhir makan malamnya setelah mendengar perkataan Eommanya tadi, dengan cepat diambilnya gelas berisi air putih lalu diteguknya cepat. Jaejoong menatap Eommanya yang menatapnya khawatir, lalu Jaejoong beralih menatap Appanya yang juga menatapnya khawatir.
Jaejoong tidak habis pikir kenapa Appanya itu suka sekali mengarang cerita tidak jelas. Padahal kan ia belum menjawab apa-apa, tapi kenapa Appanya menyimpulkan kalau ia menolak tawaran itu.
Jaejoong mengelap air yang menempel dibibirnya dengan tisu yang tersedia diatas meja makan. Lalu metatap tajam Appanya, karena berani-beraninya mengarang bebas tentang keputusannya.
"Aku bahkan belum memutuskannya Eomma, Appa saja yang menganggap kalau aku menolaknya." Jaejoong menatap tajam Kangin yang sedang nyengir kuda.
"Lalu kau menerimanya atau tidak?" Tanya Kangin tidak sabar. Ditatapnya Jaejoong penuh harap, jantungnya berdetak lebih cepat menanti jawaban yang akan diberikan Jaejoong. Semoga jawaban Jaejoong akan membuatnya tidur nyenyak malam nanti.
Jaejoong nampak 'berpikir' tentang keputusannya. Kangin dan Leeteuk tampak tegang menanti jawaban Jaejoong.
"Kalau itu bisa membuat kalian bangga padaku. Ya, aku menerima tawaran yang Appa berikan." Jawab Jaejoong sambil tersenyum menatap kedua orang tuanya.
Kangin merasa sangat bahagia karena jawaban yang Jaejoong berikan, padahal ia pikir Jaejoong akan tetap menolak tawarannya setelah pingsan tadi. Tapi ternyata Jaejoong menerimanya. Ia sangat bahagia, apalagi mendengar alasan Jaejoong menerimanya untuk membuatnya dan Leeteuk bangga padanya. Kangin tampak terharu karena anaknya itu telah berubah menjadi sosok yang lebih baik, hingga tanpa sadar air mata keluar begitu saja dari matanya.
Leeteuk sendiri sudah menangis setelah mendengar perkataan puterinya tadi, anaknya itu rela menjadi babysitter demi membanggakannya dan Kangin. Sungguh bukan seperti Jaejoong yang ia kenal dulu, sepertinya 'hukuman' yang kemarin Kangin berikan berpengaruh besar pada sifat anaknya itu. Seharusnya dari dulu saja Kangin memberikan hukuman itu, pikir Leeteuk.
Jaejoong tampak bingung melihat kedua orang tuanya yang menangis, karena ia pikir mungkin Kangin dan Leeteuk akan bersorak dan meloncat-loncat kegirangan karena ia menerima tawaran itu. Tapi yang ia lihat malah kedua orang tuanya itu menangis setelah mendengar jawabannya. Apa ia salah bicara?
"Errr kenapa Appa dan Eomma menangis? Aku salah bicara ya?" Tanya Jaejoong bingung.
"Tidak sayang, kau tidak salah. Eomma dan Appa menangis karena terharu pada keputusan yang kau buat." Leeteuk mengelap air mata yang ada dimatanya lalu tersenyum pada Jaejoong.
"Ah aku kira aku salah bicara." Jaejoong menggaruk pipinya yang tidak gatal, karena gugup.
Kangin bangkit dari duduknya dan menghampiri puterinya lalu memeluknya erat.
"Appa bangga padamu sayang." Jaejoong tersenyum pada perkataan Kangin, lalu Jaejoong balas memeluk Kangin erat. Leeteuk yang menyaksikan adegan didepannya hanya bisa tersenyum bahagia. Beruntungnya ia mempunyai suami seperti Kangin yang penuh dengan rasa tanggung jawab dan puteri seperti Jaejoong yang sangat cantik dan baik hati ya meskipun dulu Jaejoong sempat merepotkan namun yang jelas puteri kecilnya itu telah berubah menjadi sosok yang lebih baik. Leeteuk rasa ia sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi didunia ini, selain berada didekat keluarganya.
-OOO-
Setelah acara makan malam, Kangin beranjak memasuki ruang kerjanya, dan menghubungi salah satu sahabatnya untuk memberitahu kabar membahagiakan yang tadi ia dapat dari puterinya.
"Annyeong Yonghwa." Sapa Kangin.
"Annyeong Kangin-ah."
"Aku ada kabar baik untukmu." Kangin langsung to the point maksudnya menelpon Yonghwa.
"Apa itu?" Tanya Yonghwa penasaran.
"Anakku menerima tawaran untuk menjadi babysitter cucumu."
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."
"Ne, awalnya ia menolak tawaran itu, tapi entah kenapa ia tadi bilang kalau ia menerima tawaran itu karena ingin membanggakanku dan Eommanya." Entah mengapa mengingat apa yang dikatakan Jaejoong tadi membuat Kangin kembali terharu dengan keputusan yang dibuat anaknya itu.
"Wah, anakmu sungguh membanggakan Kangin-ah, aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya." Kangin tersenyum senang mendengar perkataan Yonghwa, akhirnya ada juga yang Kangin bisa banggakan dari Jaejoong.
"Tentu saja, dia kan puteriku satu-satunya, hahaha. Oh ya Yonghwa, sepertinya puteriku baru bisa bekerja dirumah Yunho besok lusa, karena masih banyak yang harus kupersiapkan."
"Tidak perlu terburu-buru Kangin-ah."
"Tidak apa-apa Yonghwa, ini demi puteriku juga."
"Baiklah kalau seperti itu. Maaf merepotkanmu ne."
"Santai saja Yonghwa. Kalau begitu sudah ne, aku harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Annyeong." Kangin langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Yonghwa tanpa menunggu balasan Yonghwa. Setelah itu Kangin memikirkan apa saja yang perlu ia siapkan sebelum puteri satu-satunya itu mulai 'bekerja' dirumah Jung Yunho, putra Jung Yonghwa.
-OOO-
To Be Continue...XD
Balasan Review:
Jihee46: ini udah dilanjut ya chingu:) terimakasih udah mau mampir dan review:)
yunjae: cerai gak yaaaaaa?hmmm/plak/ deket gak yaaa?/plak/ hahahaha. Baca terus makanya biar tau hehehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Guest: Annyeong:) wah jangan panggil oppa, jadi enak deh/? Hehehe. Ne ne ne, silahkan baca. Semoga gak bosen ya sama cerita abal bin ajaib saya ini hehehe. Wah saya jadi senang kalau kamu suka cerita yang saya buat:) hehehe, jangankan kamu, saya aja yang buat cerita ini nahan batin banget pengen bunuh ahra/? Loh? hehehe. Yeay, tungguin aja makanya biar tau lebih pasti hehehe. Terimakasih ya udah mau mampir dan review:)
hima sakusa-chan: ada apa dengan changmin? Ada apanya apa? Hehehe. Something happend lah/? Loh? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
JungJaema: tadinya pengen saya nikahin sm chingu, tapi karena saya gak tau chingu siapa jadi saya nikahin sama Ahra aja deh/? /plakplakplak/ hehehe. Wah, bisa ngurusin Changmin gak ya si Jaejoong? Hmmm, saya aja gak yakin, loh? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
LylaAkariN: Ok hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
YunHolic: saya ngakak baca review chingu wkwkwk. Hayoooo Changmin anak Yunho bukan yaaa? Kasih tau gak yaaa? Hehehe. Wah, ada requestan nih hehehe. Entahlah chingu, saya kurang bisa mendapatkan feel kalo bikin fic yaoi. Tapi saya usahakan demi chingu deh yaaaa hehehe. Wah terimakasih terimakasih/bow/ Saya pikir cara tulisan saya terlalu maksa, tapi banyak yang suka, saya jadi enak kan? Loh? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
shim shia: waaaaah itu angka nol nya banyak banget ya chingu? Saya gak tau itu nominalnya berapa hehehe. Yah kalau saya ilangin nanti ceritanya gak seru dong? Hehehe tapi saya usahakan ya, loh? Hehehe. Wah, saya jadi enak nih kalau chingu nungguin fic saya hehehe. Memang ada YunJae moment ya? Saya baru tau, loh? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Miss key: Iya iya:))) hmmm kasih tau gak yaaah alasannya wkwkwwk. Nanti ada bagiannya kok sabar ya hehehe. Saya gak janji ending YunJae loh ya wkwkwk. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
nobinobi: mau tau? Pengen banget atau pengen aja? Hehehe. Seru dong, makanya ditungguin lanjutannya, biar tau wkwkwk. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Joongie: Ini udah dilanjut yaaaa:) kalo Jaejoong yang jadi eommanya Changmin, yang jadi babysitter Changmin siapa dong? Masa Ahra? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Cheii: wah kamu ngereview yang paling panjang. Selamat/kasihpopmie/ loh? Hehehe. Saya suka komentar kamuuuuuuuu, entah kenapa saya pas baca review dari kamu seneng banget hehehe. Wah terimakasih, saya juga turut senang kalau kamu suka sama fic buatan saya, hehehe. Masa sih gak berlebihan? Saya aja bacanya aneh gitu wkwkwk. Just waiting ne chingu? Hehehe. Thanks for coming and give your comment here:)
Andreychoi: pertanyaannya banyak juga ya hehehe. Baca aja makanya biar tau kelanjutannya:) hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Merry Jung: wah lucu apanya nih? Lucu positif atau negatif? Hehehe, terimakasih ne chingu/bow/ terimakasih juga udah mau mampir dan review:)
gdtop: jadi anak kandungnya siapa dong? Kamu mau jadi eommanya? Hehehe. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
AkemyYamato: AMIIIIIN, semoga endingnya Yunjae ne chingu/? hahahaha. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
Jung Min Ah: buseeeng galak banget chingu, kasian kan pintunya/? tau tuh cerein aja si ahra, kenapa mau sih sama dia/? loh hahahaha. Terimakasih udah mau mampir dan review:)
tarry24792: neeeeeee, tungguin ne makanya biar tau gimana Jaejoong berubah jadi babysitter/?:p terima kasih udah mau mampir dan review:)
Rheeyo: gwencana chingu, masa minta maaf kalo mau baca fic saya, baca aja kok mumpung saya gak lagi baik gak ngetarifin/? YEAAAAY, mmmmm kalo itu sih tanya aja sama Ahra& Yunhonya, kenapa mereka bisa nikah/? dan ahra benci banget sama chagmin nya/? hahaha terimakasih udah mau mampir dan review:)
Hafsahyunjae: udah dilanjut neeee, mian kelamaan. terimakasih udah mau mampir dan review:)
J-Twice: saya juga yjs chingu:"""""" hikseu/? hahahaha. kalo bingung pegangan aja chingu/? *plaked* hehehe. terimakasih udah mau mampir dan review:)
Guest: ini udah dilanjut yaaa:p terimakasih udah mau mampir dan review:)
mita changmin: eonnie?OMOOOOO/? padahal penname saya udah jelas banget tapi masih dipanggil eonnie:"""""" hikseu/? jangan panggil eonnie plssss hehehe. jejenya diapain ya? maunya chingu diapain? hahaha mmm saya gak janji mereka cerai ya:p tapi terimakasih udah mau mampir dan review:)
a/n: KYAAAAAAAAA/? Sekali lagi saya gak nyangka dapet review yang membeludak/? dari para reader semua hehehe. gak nyangka ya:"""""""""""' saya jadi terhura nih/?
maafkan ketelatan saya mengupdate fic ini, maklumlah kegiatan namja kan banyak, makanya saya harus pinter2 bagi waktu biar selesai semua/? hehehe. Udah ah saya gak mau banyak omong, yang jelas saya ngucapin much much much thanks buat yang mau repot2 baca fic saya:"""""""""""" Terimakasih guys, KALIAN LUAR BIASAAAAA/? hehhehe
I'm out,
sign
manjeeh
