Percayakah kau akan dunia yang lain; selain di mana kita berada? Di mana setiap 'kau' yang lain memiliki memori dan kisah yang berbeda?

x0x0x

Disclaimer: Harvest Moon doesn't belong to me.

Ayaka Aoi presents: Meant to be Together.

Warning! AU, maybe OOC and some typo(s), fast-plotted,based main character's POV, etc.

Inspired from Amnesia anime.

x0x0x

Chapter 2: What Happened?

x0x0x

"Uhh…."

Kurasakan hangatnya sinar mentari menyinari sekujur tubuhku. Aku menggeliat dan kemudian terduduk di tempat tidur. Kusampingkan selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Kuusap dan kukerjap-kerjapkan kedua mataku, berusaha untuk mengembalikan seluruh kesadaranku.

Aku mengedarkan pandanganku ke lingkungan sekitarku. Sebuah kamar yang cukup luas, berdinding kayu dan terdapat beberapa furnitur di sini. Seperti sebuah televisi, telepon, kulkas, cermin, lemari, dapur dan juga kamar mandi. Tak lupa juga sebuah meja makan dengan sepasang kursi dan tiga buah sofa dan meja tepat di depan televisi.

H-Hey, ini di mana?

Aku mengusap-usap wajahku dengan kedua telapak tanganku. Sekali lagi aku menatap apa yang ada di sekitarku.

Aku tidak mengerti.

Aku tidak merasakan perbedaan, atau pun menyadari perbedaan yang ada.

Simply, blank.

Aku tidak bisa menyebutnya berbeda atau sama, karena aku tidak ada apa pun yang kurasakan.

Tempat ini… di mana aku berada?

Mengapa aku ada di sini?

.

.

Atau, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah,

siapa aku?

Di manakah asalku?

Apa aku memang seharusnya berada di sini?

Aku… tidak… tahu.

x0x0x

Aku menarik gagang pintu yang dingin, dan melangkahkan kaki keluar dari kamar ini. Aku langsung mendapati sebuah lahan yang cukup luas, yang terdapat sebuah pohon, sebuah kolam, kotak kayu, berpetak-petak tanah kosong, dan beberapa bangunan di sekitarnya.

Seekor anjing langsung menghampiriku, menjilati ujung sepatu yang kukenakan.

"Woof!"

Kemudian ia berlari-lari mengelilingi petak-petak tanah kosong yang ada. Aku hanya menatapnya bertingkah seperti itu.

Tanah ini cukup luas… Apa aku seorang petani? Kalau begitu, apa seharusnya aku melakukan apa yang biasa petani lakukan?

Aku membalikkan badanku, berniat untuk kembali ke dalam kamar, mencari alat yang mungkin berguna untuk kugunakan dalam melakukan hal–yang mungkin adalah–pekerjaanku, sebelum terdengar suara seseorang yang membatalkanku melangkahkan kakiku.

"Hey, Claire. Maaf aku agak terlambat tahun ini."

Aku tersentak dan reflek, langsung membalikkan tubuhku. Seseorang berkaus putih oblong dengan kemeja cokelat yang tidak dikancing, juga mengenakan bandana ungu, berdiri tepat di hadapanku.

Siapa… dia?

"Yah, aku seharusnya datang menemuimu kemarin, di akhir Spring. Karena beberapa alasan, salah satunya bawaanku yang memang lebih banyak dari biasanya membuatku tidak sempat datang kemari."

Akhir Spring?

"Well, bagaimana setahun ini? Aku sangat berharap aku ada di kota ini setiap bulannya, tetapi bisnisku tidak memungkinkan aku untuk tinggal di sini seperti yang kumau. Hanya saat Summer,"

Dia menjeda kalimatnya sejenak-

"aku tahu kau pasti sangat rindu padaku. Teleponmu setiap hari adalah penyemangatku untuk berharap Summer cepat datang,"

-dan meraih tangan kiriku, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Napasnya yang hangat menerpa pipiku.

"I'm always lookin' forward for today, d'beginnin' of Summer. Meet ya' again, baby."

Tangan kirinya yang bebas menyentuh bagian bawah daguku. Ia semakin mendekatkan wajahnya.

A-Apa yang akan dia lakukan?

"I miss ya more than ya"

Kata-katanya terpenggal saat aku langsung mendorongnya, menjauhkan diriku darinya. Ia tampak kaget dan melepaskan tanganku. Kedua matanya membulat, sebelum ia menundukkan kepalanya.

"Ah, ma-maaf. Tidak seharusnya aku seperti ini. Uh… berbulan-bulan aku tidak bertemu denganmu, jadi… maaf, aku lepas kendali. Kau… tidak apa-apa?"

Aku menarik napas panjang. Bersyukur tidak terjadi sesuatu yang aneh. "Um, tak apa…."

"Oh ya," Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku, "datanglah ke kafeku kalau kau ada waktu. I'll serve anythin' ya want. I'll waitin' for ya, baby~"

Ah, kafe? Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus jujur? Apa aku harus tetap tutup mulut?

Aku menganggukkan kepala tanpa kusadari. Selang beberapa detik kemudian aku menyadari perbuatan yang baru saja kulakukan. Lelaki itu tersenyum dan kemudian pergi menjauhiku seraya melambaikan tangannya.

Aku menatapnya bagian belakang tubuhnya yang menjauh, hingga hilang di ujung jalan. Aku menatap tanah berumput yang kupijak.

Jadi, namaku Claire…

x0x0x

Aku baru saja menyelesaikan 'pekerjaan'ku. Memberi makan 'ternak-ternakku', dan juga memanen hasil produksi mereka. Dan aku telah memasukkan beberapa hasil ternak ke dalam sebuah kotak kayu di depan rumah yang bertuliskan 'Shipping Bin'. Dilihat dari keterangan yang ada dalam papan keterangan yang ada tepat di sampingnya, kotak itu adalah tempat di mana produk-produk akan diambil dan dijual ke kota. Berarti aku hanya perlu memasukkan hasil ternak ke dalam kotak itu supaya aku mendapatkan penghasilan, ya 'kan?

Aku mengusap dahiku yang basah karena keringat. Pekerjaan seperti ini memang cukup berat; meski pun seharusnya aku tidak selelah ini jika aku memang petani.

Aku menarik gagang pintu kulkas di hadapanku, dan mengeluarkan sebotol minum yang ada di dalamnya. Meneguknya hingga tak kusadari tidak setetes pun yang tersisa.

Kulangkahkan kakiku ke arah lemari yang berada di sebelah kanan kulkas. Kuarahkan jariku ke sebuah buku. Berniat untuk membacanya, mungkin saja dapat memberi informasi yang berguna untukku.

Tiba-tiba mataku menangkap sebuah objek. Sebuah pigura di mana terdapat foto; sosokku dengan lelaki yang menemuiku tadi pagi. Berlatarkan pantai berpasir putih dengan dermaga dan sebuah kapal yang sedang berlabuh di belakangnya.

Itu… aku? Dengan lelaki yang tadi? Apa hubunganku dengannya?


"Oh ya, datanglah ke kafeku kalau kau ada waktu. I'll serve anythin' ya want. I'll waitin' for ya, baby~"


Ah, ya. Mungkin mendatanginya bukanlah ide yang buruk. Siapa tahu aku akan mendapati sesuatu yang bermanfaat jika aku mengunjunginya. Dengan begitu aku bisa saja mendapat petunjuk tentang tempat ini,

.

..

dan juga tentangku sendiri.

Aku membuka buku yang kupilih, tertulis di sampul depannya; 'Denah Mineral Town, Lokasi dan Penjelasannya.'

Aku membaca halaman demi halaman secara ringkas, mencari tahu tentang kafe yang disebutkan lelaki tadi.


Seaside Café.

Owner: Kai. Hanya datang saat Summer, dan pergi ke kota lain saat Summer berakhir, dan datang kembali di Summer tahun selanjutnya.

Jadwal: Buka setiap Summer di hari kerja, jam 11 AM - 1 PM, 5 PM - 7 PM.

Lokasi: Pantai Mineral Town.


Pantai… Mineral Town?

Aku membuka halaman sebelumnya, kupikir aku telah melewati halaman di mana terdapat penjelasan tentang Pantai Mineral Town.

Ah, di sebelah timur Mineral Town.

Telunjuk kananku menyusuri peta yang terdapat di halaman itu.

Kalau dari sini, berarti aku harus mengambil jalan lurus hingga pertigaan, ambil timur. Lurus terus mengikuti jalan yang ada, melewati sebuah pertigaan hingga jalan berbelok ke arah utara. Sampai di Square, ambil jalan ke timur, dan aku akan langsung sampai di pantai. Hmm, di sana ada Seaside Café, Rumah Zack–siapa dia?–dan sebuah dermaga.

Okay, it's decided, then!

x0x0x

Siapa lelaki itu?

Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang terbentang sepanjang aku bisa melihatnya. Kuingat-ingat arah yang harus kuambil, terus kuulang-ulang di dalam kepalaku. Jangan sampai aku tersesat, akan tampak sangat mencurigakan, pasti.

Lurus, timur. Utara, timur.

Lurus, timur. Utara, timur.

.

Lurus, timur. Utara, timur.

.

.

"Hey, kau tak apa-apa?"

.

"Claire?" Suara seseorang yang datang dari arah selatan menyadarkanku. Tampak seorang laki-laki berkacamata yang sedang memberi pakan ayam-ayam yang ada di hadapannya.

"Ah? Oh, ya…"

"Mau pergi ke mana?" tanyanya.

Siapa dia?

Apa yang harus kukatakan?

Apa yang harus kulakukan?

"Oh ya, kau pasti mau mengunjunginya. Aku tidak punya hak untuk melarang." Ia menarik napas panjang.

"Berhati-hatilah. Serigala berbulu domba mungkin memang sulit untuk dilacak, tetapi serigala asli seperti dia.. memikirkannya saja aku tidak sudi," ucapnya panjang lebar,

"dan seharusnya kau beristirahat sekarang ini. Kau kemarin kelelahan 'kan? Saat aku ke supermarket aku melihatmu keluar dari klinik. Kau terlihat pucat sekali, untung kau tidak sendirian. Syukurlah kau dibantu–"

"Riiiicccckkk! Kemana kau?" Terdengar suara wanita yang melengking dari dalam bangunan kayu yang berada di timur lelaki itu. Saat pintu terbuka keluarlah seorang gadis yang mengenakan pakaian terusan berwarna merah. Gadis yang cantik dengan rambut merah muda.

"Kau lupa, ya? Pakan ayam 'kan sudah hampir habis!" ucapnya merengut. Bibirnya menciut layaknya bocah–ya, gadis itu tampak sekali seperti anak kecil yang tanpa dosa. Sedangkan lelaki yang diajaknya berbicara hanya menggaruk-garuk kepalanya.

Oh, jadi nama dia adalah Rick

"Eh, hai Claire! Maaf pagi-pagi seperti ini kau harus melihat permasalahan keluarga kami~" kata gadis itu saat melihatku yang berdiri di luar pagar. Rick hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Geez, kau berlebihan. Baiklah aku pergi ke supermarket dulu." Rick memberikan bungkus pakan yang dipegangnya kepada gadis itu. "Jangan dihabiskan sebelum aku kembali, Popuri." Ia pun beranjak.

Dan dia adalah Popuri…

"Aku duluan ya, Claire," pamitnya seraya berlalu. Popuri melambai-lambaikan tangannya ke arah Rick yang memunggunginya.

"Oh ya, err.. Popuri, aku permisi dulu ya. Aku ada perlu lain," pamitku pada Popuri setelah tubuh Rick menghilang di pertigaan jalan setapak kota ini. Popuri hanya menatapku sesaat dan kemudian mengangguk.

x0x0x

Aku terus melangkahkan kaki melewati beberapa bangunan di kanan-kiri jalan. Aku bersyukur tidak ada seorang pun yang hingga kini menyadari adanya 'kesalahan' pada diriku. Aku bergegas menuju Mineral Beach, tentunya untuk berkunjung ke Seaside Café.

Aku melirik jam yang melingkari pergelangan tanganku.

09.30 AM

Ah, sekarang baru pukul 09.30 AM, kafenya 'kan buka pukul 11 AM? Apa aku kembali saja dulu ya? Atau aku

BRUK

"Ouch…" ringisku pelan, reflek saat aku menabrak seseorang, karena aku tidak menyadari ada orang lain di depanku. Ya, kuakui ini salahku berjalan sambil menunduk.

"Ah–Maaf, Claire."

Aku dapat melihat sosok itu mengulurkan tangannya, dan suaranya yang lembut menawarkan bantuan. Aku menengadahkan kepalaku, bermaksud untuk melihat siapa–oh well, walau pun aku tahu wajahnya seperti apa, aku tidak akan tahu siapa dia–yang kutabrak secara tidak sengaja. Yang kudapat hanyalah siluet hitamnya yang menghadap padaku, membelakangi arah datangnya cahaya, menyilaukan. Aku refleks menundukkan kepalaku yang terasa agak pusing, memegangnya dan mataku yang sedikit perih,

"Kau… tidak apa-apa Claire? Kau terlihat sedikit pucat…"

dan sekarang aku dapat merasakan sosok itu berlutut. Meraih puncak kepalaku, mengusapnya.

Uh, pusingnya sudah agak hilang….

Aku mengangkat kepalaku, dan aku langsung menahan napas saat mendapati wajah lelaki itu sangat dekat, dekat sekali, menatapku dengan tatapan khawatir. Suhu tubuhnya memancar sampai ke pipiku.

Wajahku memanas….

x0x0x

To Be Continued

x0x0x

Yeay, akhirnya update! Setelah menghadapi UN yang you-know-it's-so-kampret-man-20-paket-btw-i-don't- care-even-it's-50-paket, akhirnya saya mempublish chapter 2 yang berisi hanya 1.564 kata. Well, better than not at all. 8D *smacked

Uh… tentang Kai… entah saya dapet inspirasi dari mana untuk karakternya. Kayaknya dari Ren Jinguji XD err.. dan kalau bicara tentang Ren, chapter berikutnya bisa dipastikan fluffynessnya bertambah… tambah perv mungkin? XD *kicked

Gomen ne, readers. Saya mau nanya lagi, untuk ending lebih baik sama siapa Claire ini saya jodohkan? Kalau Kai sudah tidak mungkin, dan sudah ada dua calon, Trent dan Gray. Maksud saya tiga, sama Cliff juga XD Well, walau pun bukan Cliff juga tak apa, saya mau recycle fiksi lama saya yang pairingnya Claire/Cliff XD

Well, review please, ladies and gentlemen? ;)

x0x0x

BabySuLayDo: Iya, bisa dibilang AU. Sedikit XD Gray 'kan maksudnya? Oke, Gray count in! Makasih kak reviewnya~

SweetyNime: Makasih :3 soal yang manggil-manggil Claire? Nanti ya di chapter depan, kepanjangan kalo di sini XD Makasih yaa reviewnya!