-*Flower petals*-

Chapter 1

-Cloud POV-

"A-apa?!" Kataku kaget. Yuffie sudah menangis kencang. Dengan cepat, aku berlari keluar sekolah. Banyak orang di depan gerbang sekolah. Aku berlari dan menerobos kerumunan orang2 itu.

DEG

Disana Aerith sedang ditangani oleh tim paramedis. Tubuhnya yg penuh darah terbaring di jalanan yg keras dan dingin. Matanya tertutup rapat. Dari mulutnya keluar darah. Tim paramedis berusaha memberikan pertolongan pertama. Kumohon biarkan dia hidup!

"….Clo….. Cloud….."

Semua orang kaget termasuk diriku. Aerith membuka matanya sedikit dan melihat ke arahku. Aku langsung berlari melewati Police line. Tidak peduli aku bakalan diomelin ataupun apalah, yg penting aku harus berada di dekat Aerith!

"Aerith!" Panggilku sambil berusaha untuk mendekap tubuhnya. Lemah. Tubuhnya terasa sangat lemah dan dingin.

"Syu-syukurlah kau tidak ap….." Dia pingsan.

"Aerith! Aerith!" kugoncangkan tubuhnya sambil memanggil namanya dgn harapan dia akan membuka matanya sekali lagi, tapi nihil. Tim paramedis mendorongku ke belakang dan membawanya ke ambulan. Tanpa pikir panjang, aku berlari menuju parkiran motor. Kebetulan sekali aku membawa motorku hari ini.

~Slum Hospital~

"Cloud!" Panggil Tifa dari kejauhan. Ada yg lainnya juga mengikuti Tifa dari belakang. "Bagaimana kondisi Aerith?"

Aku menggeleng. Mereka hanya terdiam. Suasana sunyi yg meliputi rumah sakit itu benar2 menusuk. Semuanya merasakan ketakutan yg dalam. Semoga sesuatu yg buruk tdk terjadi pada Aerith.

-Normal POV-

Seseorang berambut hitam spike dgn baret di mukanya berlari menuju slum hospital. Mukanya terlihat sangat khawatir. Nafasnya terengah2 dan matanya ketakutan. Saat di rumah sakit, dia melihat Cloud dan teman2nya sedang duduk. Dia pun langsung lari kesana.

"Zack…" Kata Vincent saat dia tidak sengaja melihat Zack jalan menuju mereka.

"Ba-bagaimana keadaannya?" Tanyanya panik. Vincent hanya menggeleng. Begitu pula yg lainnya. Matanya teralih kepada Cloud yg sedang duduk di sebelah Yuffie.

PLAK!

Sebuah tamparan melayang menuju pipi Cloud. Cloud terjatuh dari tempat duduknya dan menghantam lantai. Darah keluar dari ujung bibir Cloud.

"APA YG TELAH KAU LAKUKAN, HAH?!" Katanya sambil menarik kerah baju Cloud. Cloud hanya diam membisu sebab dia tahu kalau kejadian ini terjadi karena dia. Zack menamparnya lagi. Cloud hanya bisa pasrah.

"Zack! Hentikan!" Kata Yuffie tetapi tidak didengar olehnya.

"Cukup, Zack! Ini rumah sakit!" Reno, Rude dan Vincent menahannya agar tidak menampari Cloud lagi.

"Pikirkan Aerith yg ada di dalam sana, Zack…" Sambung Tifa. Zack akhirnya tenang. Cloud pun bisa bernafas lega karena dia sudah tidak harus menerima tamparan maut itu. Cloud berdiri dan membersihkan darah yg ada di bibirnya.

"Permisi. Siapa yg merupakan keluarga dari pasien?" Seorang dokter pria keluar dari kamar yg ditempati Aerith. Zack langsung menghamprir dokter itu.

"Bagaimana keadaan adik saya?" Katanya.

"Jangan khawatir. Lukanya tidak terlalu parah namun harus dijahit. Dia harus dirawat untuk beberapa hari untuk dimonitor keadaannya." Zack bernafas lega. Begitu juga yg lainnya termasuk Cloud.

"Boleh saya menemuinya?" Tanya Zack. Sang dokter mengganguk lalu Zack dengan cepat masuk ke kamar tsb.

Tifa, Yuffie dan yg lainnya pun mengikuti. Cloud sedikit takut untuk masuk.

'Ini semua salahku' kata2 itulah yg tergiang dalam pikiran Cloud. Walaupun begitu, dia berjalan pelan menuju pintu kamar no. 19 itu. Pelan2 tangannya berusaha untuk meraih gagang pintu.

CKLEK…..

Cloud kaget saat seseorang membuka pintu kamar itu. Yg membuka pintu kamar itu adalah orang yg paling memendam amarah dengannya. Zack.

"Pulang." Katanya dingin. Cloud tetap tidak beranjak dari posisinya. Dia masih bersikeras untuk bertemu Aerith.

"Semua ini salahmu. Pergi dan jangan sekali2 kau menampakan mukamu di depanku dan Aerith." Zack menutup pintu kamar tersebut dengan kencang. Baru pernah Cloud melihat Zack seperti itu. Zack adalah orang yg ceria dan ramah seperti adiknya. Dia dan Cloud sudah berteman lama - lama sebelum Cloud bertemu dengan Aerith. Sorot mata Cloud dari ketakutan berubah menjadi kesedihan. Dia berjalan lemas menuju parkiran dan pulang menuju rumahnya.

"Cloud, kau sudah pu-" Belum ibunya selesai ngomong, Cloud sudah langsung masuk kamar dan menguncinya. Diletakan tasnya yg berwarna hitam di meja belajarnya dan dia membuka kancing bajunya sehingga tubuhnya kelihatan lalu membanting diri ke kasur.

'Dasar bodoh…' pikirnya.

'Benar2 bodoh kau ini, Cloud. Bukankah kau sudah berjanji untuk melindunginya?' Cloud berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya. Dilihatnya tumpukan pekerjaan OSIS dia yg menggunung.

"Andai aku lebih memilih dia daripada setumpuk sampah2 ini!" Teriak Cloud sambil melempar pekerjaannya ke lantai. Dia melihat dirinya di cermin.

Sampah

Tidak berguna

Pembohong

Itulah yg dilihat Cloud dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga, dia menghajar kaca tersebut sampai pecah. Darah segar mengalir pada tangannya. Tetapi Cloud tidak merasa sakit karena sakit di hatinya lebih menyakitkan daripada luka itu. Pecahan2 kaca pelan2 jatuh. Cloud menghantam pecahan2 kaca tersebut karena pada kaca itu terpantul dirinya yg seperti sampah.

"Cloud! Cloud!" Panggil ibunya dari luar. "Ada apa, nak?"

Cloud menoleh ke arah pintu karena kaget. "Tidak apa2, ibu." Jawabnya. "hanya kaca di kamarku tiba2 pecah."

"Oh ya ampun! Biar ibu ambilkan sapu!" jawab ibunya lalu lari kebawah. Tidak mugkin dia bilang kalau dia yg memecahkan kaca tersebut. Dia tidak mau mengkhawatirkan ibunya. Dengan cepat dia mencari kain yg bisa menutupi luka pada tangannya.

Piiiiip…Piiiiiiiip…Piiiiiip…

Hp Cloud bunyi. Dengan malas, dia mengambil Hpnya dan mengangkat teleponnya.

"Halo?" Kata Cloud dengan nada yg malas dan ogah2an.

"Halo, Cloud? Ini benar Cloud kan?"

Mata Cloud terbuka lebar saat mendengar suara dari si penelepon. Suara yg paling ingin dia dengar saat ini…..

…..…..End of chapter 01 …