Playing With Fire

By

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

Chapter 2 : Second Day

.

.

.

.

.

.

.

Daniel memeluk tubuhnya sendiri setelah mendapatkan pesan dari Jisung jika Daniel tidak memiliki jadwal apapun selama dua minggu kedepan karena Daniel harus berlatih koreo dance untuk album barunya dan berarti Jisung juga tidak harus terus bersamanya.

Semalam ia tidur dengan nyenyak tanpa merasa takut akan apapun, akan sasaeng fans yang menjebol apartementnya, akan mimpi buruk yang terkadang menghantuinya, akan lelahnya menjadi seorang public figure. Semalam ia merasa ada seseorang yang menjaganya dan terus berada disampingnya.

Daniel melangkah kedepan untuk membuka pintu balkon apartement super mewahnya tersebut dan ia mengernyit bingung ketika pintu balkon itu tidak terkunci sama sekali. Ia merasa aneh, kemarin ia yakin tidak membuka-bukanya karena ia jarang berada di apartementnya.

Daniel menggelengkan kepalanya. Mungkin memang ia sendiri yang membuka pintu balkon dan lupa menutupnya.

Sosok yang sudah banyak memenangkan penghargaan di kategori penyanyi pria itu sedikit ragu apakah ia harus keluar, ia takut ada fans-fansnya walaupun ini memang masih terlalu pagi.

Daniel menggelengkan kepalanya dan dengan segera keluar kearah balkon kamarnya. Ia butuh udara segar.

Daniel memejamkan matanya dan merasakan udara pagi yang begitu segar. Senyum manis langsung tercetak dibibir pink Daniel ketika ia menghirup udara pagi yang menyegarkan. Ia terdiam dalam posisi itu selama hampir sepuluh menit.

"Jika aku adalah sasaengfansmu aku mungkin sudah menculikmu dan tidak akan membiarkan dunia melihat batapa manisnya senyumanmu itu."

Daniel langsung membuka matanya mendengar suara tersebut dan dia terkejut bukan main ketika Seongwoo ada disamping balkon kamarnya dan memandangnya dengan intens. "Seongwoo-hyung, sejak kapan kau disitu?"

"Sepuluh menit yang lalu."

Kedua pipi chuby Daniel merona mendengarnya. Apa Pria tampan itu memandanginya selama sepuluh menit? Kang Daniel kau begitu memalukan.

"Apa Hyung sudah sarapan?" tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.

"Belum. Aku memiliki banyak bahan makanan tapi aku lupa kalau aku tidak bisa memasak."

Mulut Daniel terbuka mendengarnya. "Kau sudah berumur 30th dan kau tidak bisa memasak?"

Seongwoo hanya mengangkat bahunya acuh.

"Lalu apa kau sering membeli makanan junk food?" Daniel memandangi tubuh tegap Seongwoo. Well melihat tubuh tegap itu tidak mungkin Seongwoo memakan junk food.

"Aku memiliki teman dan biasanya dia yang memasak untukku."

Daniel menatap tidak percaya Seongwoo. "Buka pintumu. Aku akan membuat sarapan untukmu." Setelah mengatakannya Daniel langsung meninggalkan balkon.

Seongwoo tersenyum penuh arti melihat reaksi Daniel. Dia memang sengaja membeli banyak bahan makanan walaupun ia tidak bisa memasak karena ia berencana untuk Daniel membuatkannya makanan.

.

.

Daniel memandangi isi apartement Seongwoo yang berbeda dengan miliknya namun sama-sama mewah dan luas.

"Dapurnya ada disana." Seongwoo menunjuk kearah dapur.

Daniel langsung melesat memasuki dapur Seongwoo dan membuka kulkas. Daniel kembali menganga melihat betapa lengkapnya isi kulkas sosok tampan itu. "Apa jadinya jika tidak ada aku, Hyung? Kau pasti membuang semua ini. Benar-benar pemborosan."

Seongwoo hanya mengangkat bahunya dan menikmati pemandangan dimana Daniel dengan cekatan mengeluarkan beberapa bahan makanan dan mulai membuat sarapan.

"Aku akan membuat sarapan untuk kita berdua."

Seongwoo mengangkat satu alisnya. "Aku pikir hanya untukku saja."

Daniel langsung menatap Seongwoo dengan serius. "Kau harus membayarku dan bayarannya adalah sarapan gratis karena aku sudah memasak untukmu."

"Ya ya ya. Terserah kau saja."

.

.

Daniel menatap Seongwoo yang tengah mengunyah sarapan hasil buatannya.

"Bagaimana rasanya?" tanyanya penasaran.

Seongwoo menghentikan kunyahannya dan menatap Daniel.

"Tentu saja rasanya seperti rasa telur dadar, sosis bakar, pancake, roti dan jus biasanya."

Daniel menatap tajam pria tampan itu. "Apa yang Hyung harapkan ini hanya menu sarapan tentu saja rasanya seperti itu."

"Siapa yang duluan meminta pendapat?"

"Setidaknya kau memujiku?" ucap Daniel mulai merajuk sedangkan Seongwoo hanya memutar matanya.

.

"Mulai sekarang aku akan terus memasak untukmu. Jika kau lapar kau bisa memanggilku dan aku akan memasak untukmu." Ujar Daniel tengah mencuci piring.

"Bilang saja agar kau juga ikut makan." Ucap Seongwoo sambil membaca Koran.

Daniel meletakan piring yang ia cuci ketempat semula, ia mengeringkan tangannya dan berjalan mendekati Seongwoo. "Aku adalah seorang Idol, Hyung. Aku sibuk dan kadang lupa membeli bahan makanan dan karena kau memiliki banyakkk bahan makanan dan tidak bisa memasak jadi aku akan memasak untukmu dan aku juga ikut makan gratis."

"Hm."

Daniel memajukan bibirnya beberapa centi mendengar jawaban Seongwoo. Ia menatap jam di dinding yang menunjukan angka 8. Masih ada setengah jam lagi untuk jadwal latihan dancenya. Lagipula pelatih dance nya sendiri masih ada disampingnya.

Mata Daniel memandang kedepan dan ia dibuat terkejut ketika matanya menangkap sebuah foto. "Siapa dia?"

"Hm?"

"Anak kecil dalam foto itu." Daniel menunjuk foto tersebut dimana terdapat sosok anak kecil yang begitu manis dan usianya sekitar delapan tahun. Senyum anak kecil itu entah mengapa membuat Daniel merasa rindu.

"Itu Woojin. Dia putraku."

Nafas Daniel tercekat mendengar ucapan Seongwoo. Ia menatap sosok disampingnya yang masih focus membaca koran.

"Pu-putramu?"

"Ya."

"Kau sudah menikah?" Daniel bertanya dengan suara yang lirih.

"Belum. Aku dan Ibu Woojin belum menikah."

Belum berarti akan. Ucap Daniel dalam hati. "Kenapa belum?"

"Karena dia pergi."

"Pergi? Kenapa dia bisa pergi sedangkan ia memiliki putra semanis ini?" Daniel melangkah mendekati foto tersebut.

Seongwoo menurunkan korannya dan menatap Daniel yang menyentuh foto putranya. Putra mereka. "Aku yang membuatnya pergi dan aku berencana untuk membawanya kembali."

"Oh." Daniel menundukan kepalanya. "Sekarang dia ada dimana?"

Seongwoo menatap mata Daniel. Mata itu seakan mengatakan bahwa Daniel berarti segalanya untuknya. "Dimanapun dia, aku akan membawanya kembali."

Jantung Daniel seakan ditusuk oleh ratusan jarum dan diremas sangat kencang. "Aku harus pergi dan bersiap-siap."

"Kenapa terburu-buru? Koreografermu bahkan masih disini."

"Tentu saja aku harus datang lebih dulu dari koreografernya kan? Agar bisa memberikan kesan yang baik untuknya."

"Daniel, Aku ada didepanmu."

"Aku pergi."

"Kita akan berangkat bersama."

"Tidak usah. Aku akan naik taxi." Daniel segera berlari keluar dari apartement Seongwoo tanpa mempedulikan sosok itu memanggil namanya.

.

.

"Album ini berbeda dengan album-albummu sebelumnya bukan? Jadi tentunya dance nya juga amat sangat berbeda."

Keenam backdancer Daniel mengangguk mengerti mendengar ucapan koreografer baru mereka.

"Bisa langsung dimulai saja?" ucap Daniel dengan nada datar pada Seongwoo.

Seongwoo menatap mata Daniel selama sekian detik namun ia dengan segera mengangguk. "Tentu saja. Kalian perhatikan gerakanku lebih dulu."

"Nde."

.

Seongwoo mengernyit melihat gerakan Daniel. Ini sudah tiga jam setelah dia mendemo kan koreonya dan Daniel masih belum sempurna melakukan gerakannya.

"Matikan musiknya." Perintah Seongwoo dan salah satu backdancer Daniel menghentikannya denga segera.

Seongwoo mendekati Daniel dan berdiri didepannya. "Ini sudah tiga jam dan kau masih belum sempurna melakukannya."

"Aku terbiasa menari dengan gaya B-Boy, ini pertamakalinya aku melakukan dance dengan lagu mellow ini." ucap Daniel tidak berani menatap mata Seongwoo.

"Dengan kata lain kau tidak bisa melakukannya?"

Daniel hanya diam. Ia tidak menjawab namun Seongwoo langsung mengerti.

"Kau Idol yang sudah lima tahun debut dan kau mengatakan tidak bisa? Memalukan sekali." Cemooh Seongwoo. "Bahkan para backdancermu lebih hebat darimu."

Daniel mencengkeram ujung bajunya dengan erat.

Vampire tampan itu menatap tangan Daniel. "Kenapa? Marah? Aku mengatakan yang sebenarnya."

Hening kini menyelimuti ruangan tersebut bahkan para backdancer Daniel hanya bisa diam.

"Lakukan lagi sampai kau bisa. Jangan berhenti sampai kau menguasai koreo ini dengan baik. Aku akan kembali."

Daniel menundukan kepalanya mendengar ucapan Seongwoo yang sudah keluar.

"Kami disini, Daniel. Kami akan membantumu. Kami yakin kau bisa, Daniel." Ucap salah satu backdancernya dan yang lainnyapun menganggu mengiyakan.

.

Dan sampai sore hari barulah Daniel bisa menguasai koreonya namun Seongwoo masih belum puas. "Kau menari tidak dari jiwamu. Lagu Beautiful ini memiliki makna yang dalam dan kau seharusnya bisa menggambarkan lagu ini pada tarianmu tapi tidak. Kau masih belum bisa menjiwainya."

"Apa maksudmu aku masih belum menjiwainya? Aku sudah sempurna melakukan koreo ini."

"Kau selalu melakukan B-Boy dan dalam dance B-Boy kau tidak perlu menggunakan penjiwaan asalkan kau menari dengan penuh energy kau akan berhasil melakukan B-Boy tapi tidak disini. Koreo dance dalam lagu ini seperti kau tengah berdansa dengan seseorang. Ketika kau berdansa dengan seserang tentunya kau membawa hatimu dalam dansa kalian."

.

.

Jam sudah menunjukan angka sepuluh malam dan keenam backdancer Daniel sudah berpamit pulang sedangkan Daniel dan Seongwoo masih berada di ruang latihan.

"Apa aku sudah berhasil?" tanya Daniel ketika ia menyelesaikan tarian untuk lagu Beautiful didepan Seongwoo.

"Belum." Ucap Seongwoo, ia lalu berdiri dan mendekati Daniel.

"Kau mau apa?"

"Apa kau pernah berdansa?"

Daniel menggeleng.

"Pantas saja kau masih belum sempurna menguasai koreo dance lagu ini." dan tanpa di duga Seongwoo menarik Daniel dalam pelukannya.

"Se-seongwoo-hyung."

"Sudah kubilang diawal jika koreo dance lagu ini seperti kau sedang berdansa dengan seseorang tapi bagaimana bisa kau akan menguasai koreonya jika kau sendiri tidak pernah berdansa dengan seseorang." Seongwoo membawa kedua tangan Daniel dibahunya. Ia sendiri memeluk pinggang Daniel. "Aku akan mengajarimu cara berdansa."

.

.

Hampir satu jam kedua insan itu berdansa didalam ruangan latihan. Tidak ada niatan diantara keduanya untuk menghentikan dansa mereka.

"Apa kau pernah berdansa dengan Ibu Woojin seperti ini?" tanya Daniel sambil memandang wajah Seongwoo yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya.

"Tidak pernah."

"Kenapa?"

Seongwoo tersenyum pahit. "Karena aku adalah bajingan."

Pemuda bergigi kelinci itu menatap tidak mengerti sosok tampan didepannya. "Kenapa kau menyebut dirimu bajingan?"

"Karena aku terlalu banyak menorehkan luka pada hatinya. Tapi semakin berjalan waktu aku sadar jika dia berarti segalanya untukku."

"Aku harap aku adalah dia." Gumam Daniel dan menyandarkan kepalanya dibahu tegap Seongwoo. Daniel mengira Seongwoo tidak mendengar gumamannya yang begitu kecil tapi Daniel tidak tahu Seongwoo adalah vampire dan vampire peka akan suara sekecil apapun.

"Daniel Oppa?"

Keduanya langsung menghentikan dansa mereka dan menatap kearah asal suara itu berasal dan disana berdirilah seorang gadis cantik memandang bingung keduanya.

Daniel langsung melepaskan pelukannya pada Seongwoo. Ekspresi terkejut tercetak jelas diwajah manisnya. "Je-jennie, sedang apa kau disini? Aku pikir kau sedang ada di Jepang dengan grupmu."

"Memberi Oppa kejutan. Aku dengar dari Jisung Oppa, Oppa akan berlatih koreo dance hari ini dan sebagai pacar yang baik aku tentunya harus memberikan Oppa semangat." Jelas Jennie pada pacarnya itu. "Oppa tidak merindukanku?"

Daniel langsung mendekati kekasih cantiknya itu dan langsung memeluk erat Jennie. "Tentu saja aku merindukanmu, Sayang."

Jennie tersenyum dalam pelukan Daniel namun matanya menatap tepat kearah Seongwoo. Matanya yang berwarna merah namun langsung kembali berwarna hitam.

Seongwoo terkejut melihat mata Jennie yang berwarna merah namun ekspresinya tetap dingin dan ia membalas tatapan Jennie dengan sama dinginnya. 'Vampire. Gadis itu seorang Vampire."

"Siapa dia, Daniel Oppa?" tanya Jennie ketika Daniel melepaskan pelukan mereka namun ia memeluk erat lengan Daniel. "Dan apa yang kalian berdua lakukan tadi?"

"Jennie perkenalkan dia Seongwoo-hyung, pelatih danceku untuk album ini. Seongwoo-hyung perkenalkan ini Kim Jennie. Kekasihku."

Seongwoo mengulurkan tangannya pada Jennie namun gadis itu tidak membalas uluran tangannya. Jennie malah menatap Daniel. "Oppa belum menjawab pertanyaan keduaku."

Daniel menatap Seongwoo dengan pandangan meminta maaf akan sikap Jennie. "Kita tadi berlatih koreo."

"Tapi aku seakan melihat kalian berdansa."

"Well, kau tahu kan kalau album ini tidak seperti albumku sebelumnya yang beat lagu Beautiful ini lebih ke melow jadi yah dance nya juga lebih anggun dan aku yang sering melakukan b-boy tampak kesusahan jadi Seongwoo-hyung membantuku dengan melakukan dansa sebagai permulaan." Jelas Daniel panjang lebar.

Pasalnya dua tahun berpacaran dengan Jennie membuat Daniel tahu watak gadis ini luar dalam dan Jennie itu pencemburu berat. Jennie tidak suka Daniel terlalu dekat dengan siapapun baik itu laki-laki maupun perempuan. "Tanyakan saja pada Seongwoo-hyung."

Jennie menatap mata Daniel dengan tajam. Mencari kebohongan disana. "Ok, Aku percaya."

Dalam hati Daniel menghela nafas lega.

"Kalau begitu, ayo kita kencan Oppa."

"Jennie, jika para paparazzi tahu hubungan kita maka akan berdampak pada karir kita."

Hubungan Daniel dan Jennie memang sembunyi-sembunyi dan hanya beberapa orang saja yang tahu akan hubungan mereka, seperti Manajer keduanya, member grup Jennie, staff agency dan Yoochun. Daniel sendiri masih tidak percaya bahwa hubungan keduanya sudah menginjak usia dua tahun.

"Bukan diluar Oppa tapi di apartementmu. Aku sangat merindukan, Oppa." Ujar Jennie dengan nada sensual.

"Satu jam lagi yah. Oppa harus berlatih koreo dance lagi."

Jennie cemberut mendengarnya namun ia mengangguk. "Ok, Aku akan menunggu Oppa di apartement Oppa."

Daniel mengacak rambut Jennie dengan gemas. "Gadis pintar."

.

Setelah kepergian Jennie, Keduanya kembali melanjutkan dance mereka, lebih tepatnya Daniel karena Seongwoo hanya diam dan memandang Daniel.

"Gerakanmu salah. Ulang lagi dari awal." Ucap Seongwoo dengan dingin.

Daniel mengangguk dan memulai gerakannya dari awal.

"Jangan kaku, Daniel."

"Jangan tergesa-gesa."

"Salah."

"Sudah ku katakan bukan seperti itu."

"Apa seperti ini caramu melakukan dance? Apa yang tadi aku lakukan itu tidak kau perhatikan. Ulang dari awal!"

Daniel menundukan kepalanya mendengar ucapan-ucapan Seongwoo. Ia tidak mengerti mengapa Seongwoo langsung berubah sikap padanya. "Maafkan aku, Hyung."

"Aku tidak butuh ucapan maafmu. Cepat lakukan."

.

"Cukup untuk hari ini. Pulanglah dan temui pacarmu itu." ucap Seongwoo dengan dingin.

"Hyung, kau lupa kalau aku tidak punya mobil." Daniel masih kebingungan akan sikap Seongwoo.

"Kau seorang Idol. Belilah mobil."

"Aku tidak bisa menyetir."

"Maka belajarlah menyetir." Seongwoo keluar dari ruang latihan dan menutup pintunya dengan kencang.

.

Seongwoo tengah menyalakan mesin mobilnya ketika pintu mobilnya terbuka dan Daniel dengan santai duduk disampingnya.

"Apa yang kau lakukan?"

Daniel menatap Seongwoo dengan senyum polosnya. "Aku ikut denganmu, Hyung."

"Tidak. Keluar sana."

"Kita tinggal di satu gedung apartement bahkan kita bertetangga. Jadi lebih baik aku pulang denganmu saja."

"Aku bilang keluar." Ucap Seongwoo dengan dingin.

Daniel bahkan bisa merasakan bulu keduknya berdiri mendengar nada suara Seongwoo yang dingin. Ia mengigit bibirnya mencoba menahan tangisannya dan keluar dari mobil Seongwoo.

Seongwoo memejamkan matanya, ia menyesali perbuatanya.

.

"Daniel, masuklah."

Daniel diam tidak bergerak. Ia masih takut akan sikap Seongwoo.

"Apa kau tuli? Cepat masuk." Perintah Seongwoo.

Mendengar nada perintah dari sosok tampan didepannya membuat Daniel segera masuk kembali ke dalam mobil Seongwoo.

Seongwoo langsung menancap gasnya dan kini didalam mobil itu hanya diisi keheningan.

.

"Terimakasih, Seongwoo-hyung." Ucap Daniel dengan pelan dan menundukan kepalanya. Keduanya kini sudah sampai didepan pintu apartement masing-masing.

Seongwoo tidak membalas ucapan Daniel dan hanya masuk ke apartementnya.

Daniel menghela nafas dan masuk ke apartementnya sendiri yang bernomor 95.

"Selamat datang, Oppa!" teriak Jennie sambil memeluk Daniel yang baru satu langkah memasuki apartementnya. "Saat di Jepang aku sangattt merindukanmu, Oppa."

Daniel balas memeluk Jennie. Ia ciumi aroma tubuh kekasihnya itu.

"Oppa, kau baik-baik saja?" tanya Jennie khawatir.

"Aku baik-baik saja."

"Oppa lebih baik kau langsung tidur saja. Kau tampak kelelahan. Kita tunda saja kencan kita diatas ranjang."

Daniel tersenyum. Walaupun Jennie adalah gadis pencemburu namun gadis cantik ini selalu tahu akan dirinya dan Daniel sangat menyayangi Jennie.

"Tidak, jangan ditundah. Kau bahkan sudah memakai lingerie." Daniel menatap tubuh sexy Jennie yang sudah memakai lingerie berwarna merah muda. Daniel menggendong Jennie seperti seorang pengantin dan membawanya ke kamarnya. "Mari kita lakukan kencan kita diatas ranjang."

.

Seongwoo meneguk gelas berisi darah dalam sekali teguk. Ia menatap datar dinding apartementnya, walaupun dinding itu sangat tebal namun ia bisa mendengar dengan jelas desahan dan erangan kenikmatan dari Daniel dan Jennie.

Prangg.

Seongwoo menatap datar gelas ditangannya yang hancur berkeping-keping karena genggaman tangannya yang terlalu keras.

.

.

Ting Tong

Seongwoo menghentikan langkah kakinya menuju kamarnya ketika ia mendengar bel pintu apartementnya berbunyi. Dengan berat hati ia menuju pintu dan membukanya.

"Hai."

Seongwoo menatap datar gadis didepannya. "Mau apa kau?"

Bukannya menjawab gadis itu malah langsung masuk ke apartement Seongwoo. "Oh, kau punya persediaan darah? Boleh aku minta?"

"Tidak."

Namun gadis itu tidak mendengarkan ucapan Seongwoo. Ia segera mengambil gelas dan mengisinya dengan darah lalu meminumnya dalam sekali teguk. "Ahh, nikmatnyaa… Aku sudah beberapa bulan tidak minum darah karena terlalu sibuk dengan jadwalku sebagai Idol."

Seongwoo menyandarkan tubuhnya didepan dapur dan menatap dingin Jennie. "Mau apa kau kemari?"

Jennie tidak menjawab ia kembali menuangkan darah digelasnya dan kembali meminumnya. Setelah gelas kedua kembali habis, Jennie menjilati sudut bibirnya, membersihkan darah yang menempel.

Seongwoo bisa melihat dua gigi taring didalam mulut Jennie. "Kau Vampire, heh?"

"Ya." Ucap Jennie. Ia mendekati Seongwoo. "Begitu juga kau, bukan?"

Seongwoo tidak menjawab.

"Aku tahu siapa kau, Ong Seongwoo. Aku dengar banyak hal tentangmu dan salah satunya adalah kau mendapatkan kesempatan kedua untuk membuat Daniel jatuh cinta padamu. Benar begitu?" Tangan Jennie terangkat dan menyentuh pipi Seongwoo. "Sayangnya Daniel itu milikku dan aku tidak akan membiarkannya lepas dariku."

"Kau bukan Pureblood. Siapa kau?"

Jennie tersenyum penuh misteri mendapatkan pertanyaan itu.

"Kau tidak mengenalku tapi aku tahu kau pasti mengenal siapa orangtuaku." Jennie menjauhkan tubuhnya dari Seongwoo dan berjalan keluar namun dia menghentikan langkah kakinya didepan pintu. "Namaku Kim Jennie. Putri dari Ong Rain dan Kim Taehee. Senang bertemu denganmu, Kakak Tiri."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

30 January 2018

.

.

[So Yup Jennie BP muncul dan dia adalah pacar Daniel serta adik tiri Seongwoo, Mian buat Jennie agak OOC tapi saat liat dia Achan ngerasa Jennie itu dark dan cocok bgt jadi pihak ketiga OngNiel juga karena Achan nggak hafal nama-nama Idol grup cewek yang sekarang-sekarang ini.

Saat di Eternal Love Seongwoo tidur dengan Clara yang notabenya adalah adik Daniel kini Daniel yang pacaran sama Jennie yang notabenya adalah adik tiri Seongwoo. Btw Aslinya Jennie lahir January 96 dan Daniel December 96 tapi achan buat disini dia lebih muda dari Niel –padahal tentunya dia lebih tua karena usianya udah puluhan tahun. Ingat Rain ninggalin Seongwoo pas Seongwoo masih kecil dan Rain nikah sama kim taehee dan punya anak yaitu Jennie.

So yah seperti yang Achan bilang di author note di eternal love kalau ada beberapa pihak ketiga buat Ongniel. Satu yaitu Jennie dan ada satu lagi.

Btw Apartement OngNiel itu kaya Apartementnya Do Minjun dan Cheon Songyi di drama My Love From The Star. Apartement Niel bernomor 95 (dua angka terakhir thn lahirnya Ong) dan Apartement Ong bernomor 96 (dua angka terakhir thn lahirnya Niel)

Terimakasih buat yg review, favorite, follow and siders sekalian.]

.

.

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya