LESSON II: EVERY SALESMAN HAVE THEIR OWN WAY TO REACH THE SALES TARGET.
Disclaimer: Gintama is not mine! It's Sorachi-sensei masterpiece
.
.
.
[Sebuah Ruang Rapat, Kastil Edo]
"Laporan dari tim pengintai luar Orbit mengatakan sekitar 5 armada besar Amanto tak berlisensi sedang menuju ke Bumi. Negosiator terbunuh dalam mediasi, kita akan melakukan penyergapan sesegera mungkin."
Abuto sang Wakil Komandan Militer Edo menjelaskan situasi pada semua perwira angkatan perang kerajaan, mantan wakil kapten Bajak Laut Harusame itu mengemban tugas negara yang sudah dijalaninya sekitar 3-4 tahun di Bumi. Semua yang berada diruangan memperhatikan dengan seksama tak terkecuali sang Komandan, Kamui.
"Berdasarkan rapat internal sebelumnya, Komandan memberikan perintah untuk Divisi 3, 4, 6 dan 7 untuk segera bersiaga dan bersiap dalam penyergapan, Komandan akan langsung memimpin dibaris depan. Unit 1 dan 2 bersiaga di Bumi jika musuh bisa mencapai Bumi entah bagaimana caranya. Waktu keberangkatan 2 hari dari sekarang, siapkan diri kalian sebaik mungkin. Jika tidak ada pertanyaan, rapat selesai dan silahkan membubarkan diri kalian."
Semua perwira mengangguk dan rapat diakhiri, saat semua mulai meninggalkan ruangan dan menyisakan hanya Komandan dan Wakilnya, Abuto menatap sang mantan Kapten dengan tatapan menyedihkan, seakan bukan melihat sosok yang dikaguminya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Dan-cho, kau yakin akan turun tangan langsung hah?"
"Kyoku-cho Abuto, aku bukan Kapten lagi sekarang…"
"Hai-haik, maaf… Tapi bukankah aku sudah bilang kalau Hime seda-"
"Setidaknya itu hal yang harus kulakukan sekarang, dan ingat aku bukan seorang pengecut, apapun yang terjadi aku akan tetap melangkah kedepan. Jaa, mata ne…" jawab Kamui seraya berdiri dari kursinya dan bergerak keluar ruangan.
Abuto yang mendengar itu mendengus, ternyata sikap keras kepalanya tetap tidak berubah walaupun dia tahu kalau Sang Komandan itu sedang kasmaran pada seorang wanita. Sang wakil setia itu hanya bergumam pelan, "Hah~ untuk orang bodoh yang hanya tahu pertempuran, mungkin dia tidak sadar kalau sedang jatuh cinta…"
Udara musim gugur entah mengapa semakin merasuk dalam kulitnya, saat menatap keluar dia baru menyadari kalau matahari sudah bersiap mengakhiri hari diufuk langit sebelah Barat. Pekerjaannya sangat membuatnya terkadang melupakan waktu, disisi lain dia yang sudah terbiasa berkelana diluar angkasa diselimuti langit yang hitam tanpa ada siang dan malam membuatnya merasa waktu di Bumi sangat cepat sekali berlalu.
Terkurung dalam ruangan tertutup yang hanya diterangi lampu yang dapat dibilang redup dan layar-layar monitor besar yang selalu menyala 24 jam merupakan aktifitas rutin yang harus dijalaninya jika dia berada di Bumi. Terkadang dia bosan, dia merindukan medan perang, namun jika dia mengingat hal tentang itu, malah akan berbalik menyayat hatinya perlahan. Perasaan ini seperti pedang bermata dua untuknya.
Hanya memikirkan itu tidak akan membuatnya berkembang dan dia sadar akan hal itu, dia terus mengingat kata-kata yang membuatnya berada di kastil besar itu saat ini, untuk mengembalikan motivasinya.
"Kalau begitu kita hanya perlu membangun semuanya kembali, kita hanya perlu menambahkan sendiri kebahagiaan didalamnya, dan tentunya kita akan melindungi itu semua, benar?"
Ya, kata-kata yang diucapkan wanita yang telah mengubah hidupnya. Membuatnya tidak takut akan masa lalunya, membuatnya memiliki alasan untuk semua yang dia lakukan sebagai penebusan dosa yang telah dia perbuat. Seorang wanita bernama Tokugawa Soyo yang telah menemaninya selama 4 tahun belakangan.
Sembari mengingat hal-hal menyenangkan yang telah dia lalui bersama wanitanya, tak terasa kakinya terus melangkah dan telah sampai ke sebuah ruangan, tempat dia melepas lelah. Tempat yang bisa dikatakan "rumah" untuknya itu terletak dilantai paling puncak dari satu-satunya kastil termegah yang ada di Edo.
"Tadaima…" sapanya sembari membuka pintu ruangan itu.
"Ah, Anata, okaeri… Demo… Osoi-naa~!" terlihat seorang wanita menyambutnya dengan raut kesal plus menggembungkan pipinya manja. Tanpa berbalik, Soyo hanya menatapnya lewat cermin dimana dia merapikan rambutnya.
"Wah, kamu sudah siap yah? Gomen, gomen... aku tadi keluar sebentar dan~ Ta-da… Aku membawakan ini untukmu sayang…" Kamui menyodorkan sebuah bingkisan dengan senyum polos yang sudah ahli untuk melelehkan wanita, bahkan sang Tuan Puteri pun tak bisa kebal dari pancarannya.
Dalam hitungan detik, raut-ngambek-manja tadi langsung berubah menjadi raut ceria layaknya seorang anak yang baru dibelikan ayahnya mainan sepulang kerja. Soyo segera berlari kearah Kamui, mengabaikan tatanan rambutnya yang baru saja dia sisir dan kembali jatuh tergerai kebelakang pinggangnya. Diambilnya bingkisan tersebut, dan dibukanya, raut ceria ter-upgrade menjadi raut takjub.
"Whoaaaaa, i-ini kan…"
"Yup, itu cheong-sam dan hiasan rambut. Lebih baik kau mengenakan itu Soyo, sangat berbahaya jika orang tahu kau keluar istana, dan juga kepanglah rambutmu seperti rambutku dulu, yah?" tambahnya dengan senyum mematikan khasnya itu.
Cheong-sam yang diberikan Kamui tidak terlalu mencolok, hanya berwarna putih polos dengan sedikit ukiran merah keemasan dibagian bawahnya. Hiasan rambutnya bukan cepolan seperti yang dipakai Kagura, hanya hair-pin emas berbentuk bunga Lavender. Tentang kata "seperti rambutku yang dulu", Kamui memotong rambutnya menjadi lebih pendek semenjak memimpin angkatan militer Istana 3 tahun yang lalu.
Setelah memberikan bingkisan itu, Kamui segera melepas pakaiannya dan bergegas mandi. Soyo langsung memakai aksesoris pemberian lelaki tercintanya itu, begitu selesai dia hanya terdiam dan terpana didepan cermin oleh sosok bayangan dirinya sendiri. Kamui yang baru keluar dari kamar mandi pun ikut tercengang dibelakang Soyo.
"So-soyo… Kau cantik sekali…" Ucapnya, entah mengapa dia merasa walau mirip dengan penampilan ibunya, Kouka, tapi Soyo jauh lebih cantik dimatanya.
"Desu-yo~! Aku saja kaget melihatnya… Ne, ne… Arigatou Kamui.." sahut Soyo mengalihkan pandangannya kepada Kamui yang baru keluar dari kamar mandi. Kamui mendekat, tangan kanannya terbang menuju ubun-ubun Soyo.
"Begini, mungkin lebih baik…" Mata azure lelaki itu terlihat fokus saat mengubah poni belah tengah Soyo menjadi poni merata yang menutupi kening sang wanita. "Aku bahkan tidak bisa mengenalimu jika seperti ini, hahaha…"
"Huft, Kamui jahat! Cepat pakai bajumu… Ini sudah hampir jam 6 tau, nanti kita terlambat!" celotehnya lalu kembali membalikkan badan untuk menyelesaikan make-up diwajahnya.
"Hai-haik, kurasa tidak ada yang namanya terlambat jika kencan dimulai sejak berangkat bersama dari rumah sayang…"
Kedua insan yang sedang kasmaran itupun memenuhi ruangan dengan gelak tawa mereka, bersiap untuk sebuah malam yang indah untuk mereka kenang, malam dimana sepasang muda-mudi melepaskan gairah mudanya dalam sebuah kencan yang mereka sudah mereka tunggu sejak lama.
.
.
.
[Kabuki-cho]
05.30 P.M.
Kelahiran seorang anak perempuan di Keluarga Sakata, membuat sang bos yang mendiami kontrakan ber-plang Yorozuya Gin-chan itu lebih banyak menghabiskan waktunya di Yoshiwara dibanding kontrakan home-sweet-home-nya di Kabuki-cho tersebut, walau sang anak, Hikari sudah hampir berusia satu tahun, tapi kurangnya pengetahuan Tsukuyo mengharuskannya untuk didampingi Hinowa yang lebih terampil dalam mengurus anak kecil.
Kagura sang anak pungut Gintoki *plak* ditugaskan untuk tetap dirumah dan menerima pekerjaan yang datang ke Yorozuya, Gintoki hanya akan pulang jika menerima telepon tentang pekerjaan dari Kagura, Shinpachi terkadang datang menjenguk tapi karena kesibukan di-Dojo yang semakin ramai dia hanya bisa berkunjung beberapa jam dipagi hari.
Situasi ini tentu akan sangat dimanfaatkan oleh seorang do-S yang saat ini sudah berstatus sebagai pacar dari wanita rakus penghuni tempat itu. Dibanding bolos kerja *ups* melepas lelah ditaman Kabuki-cho seperti saat dia masih jomblo dulu, dia lebih memilih untuk memberikan kekacauan dirumah kontrakan pacarnya itu. Seperti saat ini…
"Neee~ China musume, aku bosan… Hibur aku sekarang!" celetuk Sougo menengadahkan wajah yang ditutup eye-mask merahnya kearah langit-langit.
"Damare, zeikin-dorobou! Kau sudah diijinkan melayani sang Ratu distrik Kabuki-cho ini sejak jam 2 tadi siang, dan kau masih merasa bosan hah? Ah~ aku tau, kau pasti lelah karena tidak bisa menang disetiap ronde yang kau mainkan melawanku, Kuso-gaki!" jawab wanita yang sekarang rambut vermillion-nya panjang dan hanya bercepol satu itu, berbaring dipundak Sadaharu dengan malas menatap televisi sambil menghisap sukonbu-nya
((Maaf, scene selanjutnya jangan terlalu dihayati yak, definisi bisa berbeda… :D))
"Hah? Tidak bisa menang? Kalau tidak salah siapa yang lebih banyak menjerit hah?"
"Itu kau Kuso-gaki, aku tidak menjerit, saat itu banyak nyamuk menggigitku!"
"Berarti kau itu seorang do-M, Buta-onna! Wanita mana yang digigit nyamuk teriaknya minta lagi."
"Hah??!! Kau pikir dengan o*ong-mu itu kau bisa membuat seorang Ratu Kabuki-cho takluk padamu? Jangan mimpi, mengalahkanku saja kau tidak akan bisa, cuih!"
"Sudahlah akui saja kau kalah, china…" balasnya tambah tidak semangat dengan obrolan itu.
"Tidak, aku menang!"
"Kau kalah…"
"Menang!"
"Kalah, kau wanita sampah…"
"Menang, kau lelaki bajingan…"
"Kalah"
"Urusai! Aku menang, konoyaro! Titik!!!"
Setelah kata-kata puncak emosi dari Kagura terlontar membumbung tinggi hingga langit-langit rumah, terjadi keheningan beberapa saat. Walau sepasang kekasih absurd ini nampak tidak selaras, namun terkadang ada beberapa hal yang membuat mereka nampak serasi, seperti raungan perut kosong mereka.
Grruuukk… Gruuukkkkkk…
Sougo membuka eye-mask yang menutupi matanya dan melempar pandangan plus senyuman licik nan sadisnya kearah Kagura.
"Heeeeh, sepertinya ada yang kelaparan…" cetusnya tanpa menghiraukan perutnya yang juga berbunyi.
"U-u-urusai! Ba-ba-baka-chihuahua!" sahut Kagura sambil menenggelamkan wajahnya yang memerah kedalam bulu lebat Sadaharu, jika ini masih empat tahun yang lalu dia tidak akan peduli, tapi sekarang dia sudah lebih dewasa dan entah mengapa perut berbunyi didepan pacar itu rasa memalukannya jauh berkali-kali lipat.
"Ne… Kenapa kau tidak memasak saja china… Aku akan menunggu, toh aku ingin menyicipi apakah masakan itu layak untuk seorang calon istriku dimasa depan?" masih dengan nada mengejek andalannya.
"A-a-a-apa yang kau bicarakan Sadist! A-a-aku tidak pernah mau membiarkan masakanku dimakan oleh makhluk sadis sepertimu! Aku tidak rela!" masih memalingkan wajahnya dari si lelaki yang memiliki rambut warna pasir itu. Menghindari kalau wajahnya yang memerah itu bakal menjadi senjata yang memakan tuannya. Namun dalam hati sang wanita yang sangat terlihat malu dan malu-maluin itu berucap, "Aku kan tidak tahu kau suka makanan apa, kau tidak pernah cerita, aku juga tidak tahu apa masakanku enak dilidahmu, baka.."
"Ho… Yaudah sih… Aku punya ide, kalau kau mau mengakui kekalahanmu hari ini maka aku akan membawamu makan sepuasnya ditempat yang kau inginkan, bagaimana?"
Bukan Kagura jika tidak bereaksi saat mendengar hal berbau makanan tepat di telinganya. Apalagi itu adalah sebuah ajakan gratis, ulang… GRATIS dan sepuasnya! Tapi mengakui kekalahan juga bukan tipe-nya, akhirnya dia berdiri tegak dari gumpalan putih besar yang sedang terlelap didepan TV itu.
Dengan badan yang terlihat kaku, kedua tangan mengepal rapat menempel dikedua sisi badannya, wajahnya yang hampir semerah tomat, matanya yang berair dan mulutnya yang terkunci rapat seakan tak kuat menahan malunya dia mulai berbicara.
"J-Jaa… Kubiarkan kau menang hari ini Konoyaro… La-lagipula aku sengaja menjerit dan meminta lagi seperti itu agar bisa membuatmu merasa kalau kau sudah menang, ingat itu hanya euphoria sementara untukmu sebelum kau merasakan kekalahanmu nanti, jangan salah paham ya… Bukan berarti aku tertarik dengan ajakan makan malammu itu loh ya, Kuso-Gaki!"
Mendengar pernyataan tsundere dari sang pacar, Sougo merogoh sesuatu dari saku Hakama-nya (dia lagi libur kerja) dan berjalan kearah Kagura, kemudian…
Clakk… Clakk…
"Eh?" (Kagura)
Sepasang borgol melingkar dikedua pergelangan tangan Kagura kemudian Sougo mengalungkan kedua lengannya dipinggul Kagura dari arah belakang. Kagura yang terkejut tidak bisa melawan, lebih tepatnya sih tidak ingin melawan. Sougo menyingkap rambut Kagura yang menutupi telinga kanannya dengan menggunakan giginya kemudian berbisik.
"Kalau kau bilang begitu, berarti aku yang menang, dan kau harus mengikuti apa yang kusuruh Kagura"
Kagura bergidik antara geli dan merinding saat Sougo mengakhiri bisikan itu dengan meniupkan udara tipis dipermukaan lehernya yang ter-ekspos. Kemudian diangkatnya sang wanita yang menggeliat dalam pelukannya itu menuju kamar mandi.
"H-hanasee, jika tidak aku akan berteriak!" ronta Kagura.
"Hee~ Kau akan berteriak? Setelah berkali-kali merasakan ledakan dari Neo-Amstrong-Cyclone-Jet-Amstrong-ku apa orang akan percaya kalau aku adalah orang asing yang masuk untuk memperk*samu hah?"
Kagura hanya terdiam malu, matanya tertuju ketempat lain selain wajah Sougo.
"Tenang saja china, kujamin kau akan menikmatinya. Aku hanya tidak ingin makan malam dengan wanita dekil berbau amis seperti ikan mati lima hari." Ucap Sougo dengan nada datar mencoba menenangkan Kagura.
"Hn, Baka…" angguk lawan bicaranya dengan pelan, saat itu dia merasa kalau sudah benar-benar kalah.
Lampu dan lentera didalam distrik Kabuki-cho mulai menyala, sebuah distrik yang disebut sebagai Surga Kehidupan Malam. Kesampingkan carut marut dan kelamnya dunia itu, diantara lumpur yang sangat pekat terkadang didalamnya tersembunyi mutiara yang sangat berkilau. Sama halnya dengan kehidupan di Kabuki-cho, setiap hari setiap malam silih berganti orang yang datang, namun didalamnya juga terdapat beberapa kisah-kisah cinta yang sangat unik untuk diceritakan.
-LESSON II END-
To be Continue
.
.
.
Author Note:
Hora… Hora… Hora… Horaaaa!
Lesson II is up my friends… Yaaah cukup lelah saya menulis ini, habis kerja sampe jam 2 malam, nyambung bikin skrip chapter ini, jam 4 nonton bola, jam 6 ngetik nih chapter dan baru selesai jam 10 pagi.
I wanna sleep right now!
Haha, abaikan saja curhatan saya diatas. Rata-rata FF saya ditulis emang tengah malam, jadi ya maaf kalo hasilnya tidak memuaskan atau bahkan ada yg OOC, jadi plot-hole mungkin dll.
Nih chapter 50:50 plot untuk KamuSoyo vs OkiKagu, maaf kalo jadi ngebosenin karena harusnya ini hanya setengah dari skrip saya buat semalam, harusnya hanya pendahuluan. Saya juga kaget, kok pas dikembangin jadi paragraf banyak amat yak… Hedeh.
Untuk teman-teman yang sudah review saya ucapkan sangat terimakasih. Maaf tidak sempat membalas, atau bahkan menyebutkan nama anda satu-persatu di curhatan author ini, sedikit menjawab beberapa pertanyaan dari para reviewer:
1. Apakah ada double date antara KamuSoyo vs Okikagu? Silahkan tunggu chapter selanjutnya yah ahaha.
2. Apakah akan ada spin-off tentang Gintsu? Ada, hanya saja masih fokus pada FF ini dan FF satunya ttg donat dikasih mayonaise, jadi mohon sabar yah.
3. Kok Okikagu sering muncul tapi perjalanan mereka ga dibahas? Karena mereka center dari seri ini, saya akan membuat kisah mereka paling terakhir sebagai penutup dari seri ini. Harap lebih bersabar.
4. Apakah ada Spin-off ttg Zura (-janai Katsura-da) atau Sakamoto atau bla bla bla-? Urusai! Gue mau tidur dulu hari ini! Barangkali ada scene nyangkut dimimpi gue… Hahahaha
Sori yang terakhir becanda doang. Intinya terimakasih, sekali lagi review anda meringankan jalan otak saya membuat kisah-kisah ini. Terus berikan review, jangan sungkan untuk memberi saran atau kritik lewat kolom review atau PM, saya selalu menerimanya.
Mou-ichi-do, hontou-ni Arigato-Gozaimasu-ta
~Justaway-Madao
