23 page. Tolong dong teman-teman apresiasinya sedikit.
Bisa engk? Jangan sekedar like follow.
Atau gw discontinued? Sumpah gw mau biarin Exoyaa buang ini ga rela banget. Tapi kalo kalian gitu ya gimana?
BTW terimakasih yang sudah merespon, kecepatan gw dalam update tergantung ente-ente.
Lafyah~
.
.
.
My Appa – My Son
.
.
.
" Kau lihat! bahkan hanya kau yang berada di sini, hanya kau yang terjebak di tempat sialan ini. Aku sudah katakan pada mu untuk tidak 'pergi' hari ini, untuk berhenti. Tapi kau sama sekali tak mendengarkan ku! Jeweler To The Stars adalah hal terburuk Park Chanyeol, kau bodoh atau apa hah! Aku membenci mu. Hikss…Aku sungguh membenci mu… "
Wanita muda nan cantik yang tengah mengandung besar itu bertriak, menangis tak karuan dengan tangan kanannya yang terus menunjuk-nunjuk kearah kaca di hadapanya dengan raut kemarahan yang tak terbendung. Sementara sebelah tangan kirinya yang bergetar itu, ia gunakan untuk menggenggam gagang telephone dengan erat. Iris hitamnya terus menatap tajam wajah di balik kaca pembatas transparan di depannya, di dalam ruangan yang tak begitu luas tersebut. Sedangkan sang pria di balik kaca yang merupakan lawan bicara dari wanita itu hanya mampu tertunduk, diam dengan gusar sembari memegang kuat gagang telephone di tangan kirinya hingga buku-buku tangannya tampak memutih pucat.
Sadar di dalam kepalanya, jika semua kekacauan ini di mulai karenannya. Ia bungkam.
" Jika seperti ini aku harus bagaimana! Kau terkena denda yang tidak sedikit dan hukuman cell minimal 10tahun. Apa yang harus ku lakukan? Aku ingin kembali ke Korea lalu bagaimana dengan mu! Bagaimana dengan bayi ini jika ia lahir. Dua minggu lagi... dua minggu, tapi kau mengacaukan semuannya hikss… demi Tuhan, Katakan sesuatu aku harus bagaimana aaaaa! hikss…. "
Dia masih diam, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan untuk menenangkan wanita di hadapannya ini? Rasanya semua tertutup kabut hitam di dalam kepalanya, seperti tak mampu untuk berfikir dan menemukan ungkapan terbaik. Membisu tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun isi kepalanya terasa kacau ketika hanya teriakan dan tangisan pilu yang ia dengar, ketika hanya ada raut kecewa dan marah yang ia lihat.
" Maaf..Maaf"
Lirihnya di akhir.
.
.
.
Chanyeol berjalan perlahan menuju ke sisi ranjang di kamarnya. Ia mengambil duduk di tepi ranjangnya lalu menyentuh bingkai foto yang terletak di atas meja nakas. Pria itu mengusap foto di tangannya sambil memandanginya sejenak, mata bulat itu berembun samar. Namun bibir tebalnya mengulas senyum tipis.
" Annyeong... Bagaimana pagi mu?"
Chanyeol terus saja mengusap-usap permukaan foto yang menampakan visual seorang wanita mungil yang wajahnya nyaris menyerupai Sehun, putranya itu. Wanita dalam bingkai foto tersebut duduk di atas sebuah kursi tua berwarana coklat gelap. Mengenakan gaun putih tanpa lengan selutut dan tersenyum manis ke arah kamera, menunjukkan wajah orientalnya mata sipit tanpa double eyelid dan eye smile yang cantik serta bibir pink alami yang ia miliki.
" Apakah kau melihat ku dari atas sana? Melihat Sehun? Sehun sudah besar sekarang dan dia begitu mirip dengan mu sayang. Dia tampan. Sedih sekali kau tak bisa melihatnya dari dekat " Chanyeol masih mempertahankan senyumnya di tengah-tengah sebuah perasaan yang seperti akan tumpah.
" Kau selalu berada di sampingnya, mengawasinya menjaganya kan? Iya kan? Iya aku tau itu. Aku tau " Chanyeol berbicara dengan bingkai foto seseorang yang merupakan mendiang istrinya yang telah tiada tersebut layaknya berbicara dengan manusia nyata.
Chanyeol bahkan mengubah ekspresinya beberapa kali.
" Apa kau merindukan ku, seperti aku merinduka mu setiap hari? Merindukan Sehunie kita? Apa kau merasa senang? Apa kau bahagia eum? Kau pasti bahagia, aku tau kau bahagia di sana"
Ulasan senyum di sudut bibirnya tak pernah lekang walau kini rembesan bening mencul perlahan di sudut matanya.
Banyak hal di kepala Chanyeol yang ingin ia sampaikan dan ungkapkan pada sang istri. Chanyeol fikir terlalu banyak hingga terlalu sulit untuk mengatakannya, terlalu membingungkan untuk memulainya. Pada akhirnya Chanyeol hanya bisa sedikit berbicara dan banyak menangis ketika ia menatap foto itu. Selalu begitu dan seperti itu. Terlalu sesak ketika kau begitu merindukan sosoknya tapi kau hanya mampu menatap fotonya,mengenangnya atau hanya sekedar membayangkannya. Tanpa bisa menyentuhnya. Terlalu perih ketika kau berfiki bahwa dirimulah yang menyebabkan sosoknya tak lagi berada di sisimu, bahwa kaulah yang menyebabkan takdir itu datang.
Sudah selama ini dan semua masih terasa terlalu menyedihkan bagi Chanyeol.
" Kau tau, Sehun tumbuh dengan sangat baik selama ini "
Pria itu menarik nafasnya yang terasa sesak di ujung tulang hidungnya, mengangkat kepalanya ke atas lalu membuang nafasnya melalu mulut yang terbuka lebar. Chanyeol terisak tertahan.
" Dia mengaggumkan ku. Dia kuat ketika seluruh temannya menjauhinya dan mengatainya tak memiliki Umma. Dia membanggakan ku dengan segudang prestasinya di sekolah. Percayalah."
Kedua mata bulatnya menerawang jauh kebelakang ketika dulu hanya ada dirinya yang bersama Sehun kecil yang menangis dan tergelak. Saat hanya dirinya yang akan bertriak ketika Sehun mulai berulah dengan tidak meminum susunya atau sarapannya. Ketika hanya dirinya yang turun lalu menganggandeng tangan Sehun hingga ke depan pintu gerbang sekolahnya. Ketika hanya dirinya yang duduk di kursi penonton di barisan paling depan dengan tepuk tangan paling keras dan senyum paling lebar di antara penonton dan orang tua lain yang hadir dalam kompetisi pianis kala itu. Saat-saat Sehun memegang mic dengan sedikit bergetar dan berkata dengan lantang.
' Terimakasih semuanya aku sangat senang. Aku Park Sehun , aku tidak tau jika aku akan mendapat juara pertama. Dan… piala pertama ku ini akan aku berikan untuk Appa ku, Park Chanyeol. Appa yang paling hebat yang selalu menyayangi ku dan selalu menemani ku selama ini. Appa terimakasih sudah mengajari ku dan menemani ku berlatih. Aku sangat-sangat mencintai mu Appa. Untuk semuanya Terimakasih sekali lagi '
Dan semuanya masih jelas ketika setelahnya ia merentangkan tangan dengan lebar saat Sehun kecil berlari menuruni panggung dan melompat memeluknya di sertai tepukan riuh dari semuanya. Masih sangat jelas ketika dirinya membalas pelukan Sehun dengan begitu erat lalu mengelus anak rambut belakang Sehun dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
Chanyeol kembali menunduk ketika ia berkedip dan semua bayangan itu tersimpan lagi dan ia kembali ke detik ini.
" Selama ini aku selalu berusaha melakukan hal-hal apa saja yang selalu ingin kau lakukan ketika Sehun lahir, seperti yang kau katakan pada ku ketika mengandung Sehun dulu dan aku mengingat hampir semuannya. Aku merawatnya dengan tangan ku sendiri. Tak pernah meninggalkannya. Mengganti pakaiannya tiga kali sehari sampai ia bisa merangkak lalu berjalan. Membuatkannya susu 2x sehari, pagi saat akan berangkat sekolah dan malam hari sebelum ia tidur. Menungguinya saat ia menginjak kindergarten hingga di tingkat tiga middle school. Membantunya mengerjakan tugas rumahan sekolahnya. Mengajarinya untuk mencuci muka, kaki, tangan dan menggosok gigi sebelum tidur, dan dia tetap melakukannya hingga sekarang. Memasak untuknya dan tak membiarkannya memakan sembarangan makanan. Membawakan bekal untuknya juga, tapi untuk yang satu ini aku sudah tak pernah melakukannya lagi. Sejak menginjak kelas atas, Sehun sudah tidak mau lagi aku membawakan bekal untuknya 'seperti bocah-bocah kindergarten saja. Benar-benar tidak manly sama sekali' katanya. Ahh aku tidak mengerti, ada apa dengan anak jaman sekarang. Aku bahkan membawa bekal ke kantor sampai sekarang "
Chanyeol terus berbicara, tersenyum dan tertawa kecil. Sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari sii cantik dalam bingkai itu.
" Yeobo, terimakasih untuk hal paling berharga dalam hidupku. Terimakasih telah membiarkan Sehun untuk ku. Terimakasih telah mempercayakan Sehun pada ku. Terimakasih untuk malaikat ku. Gomawo, jeongmal gomawo "
Chanyeol mengusap sedikit tumpukan bening di sudut matanya yang membuat pandangannya semakin mengabur. Ia megangkat lengannya dan melirik jam di arlojinya sejenak.
" Hmmm… sepertinya Sehun sudah menunggu ku. Aku harus segera pergi, kalau tidak bisa-bisa dia marah pada ku karena membuatnya terlambat di hari pertamanya. Asal tau saja, selain memiliki wajah sangat mirip dengan mu namun tampan seperti ku, dia akan sama mengerikannya dengan mu jika sedang kesal" Chanyeol sedikit terkikik di akhir kalimatnya.
" Ya sudah aku tinggal nee... Dan karena besok adalah akhir bulan, maka seperti biasa aku dan Sehun akan mengunjungi mu. Kira-kira kau ingin aku membawakan bunga apa untuk mu besok sayang? Apa kau mau Red Camellia, Crysanthemum, Gladiola, Grabera, Iris, Cattleya atau apa? ahh kita tanyakan pada urie Sehunie saja. Ya sudah ya. Saranghae "
Chanyeol lalu mencium dan memeluk lama sang foto yang berada dalam genggamannya. Membenamkan di dadanya sejenak, terasa panas ketika bulir-bulir bening mengalir lirih dari mata bulatnya. Chanyeol melepas pelukannya pada bingkai foto tersebut dan menatapnya sekilas, perlahan bibirnya menampakkan senyumnya. Ya, Chanyeol merindukan wanita berbingkai yang telah pergi meninggalkannya lima belas tahun yang lalu itu. Wanita paling di cintainya setelah ibunya. Wanita yang harus pergi terlebih dahulu tanpa sempat melihat atau sekedar mendengar suara tangis buah hati mereka.
Istrinya.
" Hahhh! "
Canyeol menghela nafas pelan dan menaruh foto itu kembali pada tempatnya. Membersihkan wajahya dengan tissue dan sedikit membenarkan letak dasinya lalu beranjak dari duduknya menyusul Sehun.
.
.
.
Mobil Chanyeol bergerak perlahanmenuju sekolah Sehun. Mengantar dan mejemput Sehun ke sekolah merupakan agenda haria wajib yang tak boleh terlewatkan bagi Chanyeol. Kecuali, jika ia diharuskan mengadakan pertemuan bisnis luar kota atau luar negri, dan itu juga tak akan pernah lebih dari 1 atau 2 minggu. Chanyeol tak pernah bisa meninggalkan Sehun sendiri, membuatnya untuk terlalu banyak memakan makanan cepat saji dan membiarkan Sehun menaiki bus umum untuk pergi kesekolah. Begitupun Sehun, ia tak suka jika harus di tinggal terlalu lama oleh Ayahnya. Jika Chanyeol harus pergi lebih dari dua minggu lamanya di pastikan ia akan memboyong Sehun serta, dan Sehun tentu saja senang. Meskipun ia pergi karena urusan pekerjaan Ayahnya ia pikir itu bukanlah sebuah masalah 'itung-itung liburan' katanya. Masalah sekolah, Chanyeol ataupun Sehun sendiri tak perah khawatir jika Sehun akan tertinggal pelajaran di sekolahnya dan izin dari pihak sekolah bukanlah masalah besar bagi Sehun.
Ya.
Selain populer karena tampang Ulzzangnya, Sehun juga masuk sebagai salah satu dari jajaran siswa teladan yang berprestasi di bidang akademik dan non akademik di sekolahnya, hanya dengan mempelajari buku pelajaran yang ia punya dan sedikit bertanya pada sang Ayah Sehun dengan cepat dapat menguasai materi di pelajaran tersebut tanpa ada masalah yang terlalu berarti atau Sehun akan menemui guru mata pelajaran-nya dan sedikit melakukan pembelajaran secara privat dan semua masalah selesai. Lalu untuk masalah izin, jika yang bertindak adalah Ayahnya maka semua akan baik-baik saja.
Walau terkadang Chanyeol sedikit tidak enak dengan kepala sekolah karena terkadang Sehun libur terlalu lama. Tetapi semua tetap akan baik—baik saja.
Selain mengantar dan menjemput Sehun di sekolahnya, Chanyeol juga terbiasa memasak untuk Sehun dan mengurus keperluan mereka bersama. Seperti, mencuci pakaian, berbelanja kebutuhan bulanan di supermarket, membersihkan apartment dan hal-hal lainnya yang biasa sebuah keluarga lakukan. Dan biasanya mereka melakukannya dengan cara membagi tugas masing-masing. Sebenarnya, mudah saja bagi Chanyeol untuk menyewa supir, maid pribadi atau memberikan Sehun motor, mobil pribadi. Namun Chanyeol enggan untuk melakukannya, karena ia fikir jika ia melakukan itu semua intensitas kebersamaan di antara dirinya dan Sehun perlahan-lahan akan berkurang dan Chanyeol tak mau juga tak suka itu. Hal itu pula yang membuat Chanyeol lebih memilih tinggal di Apartemen di banding membeli rumah.
Sesibuk apapun Chanyeol selelah apapun ia, Chanyeol akan tetap meluangkan waktunya untuk Sehun. Sebisa mungkin Chanyeol akan berusaha menjadikan dirinya sosok Ayah dan Ibu di saat bersamaan, di saat Sehun membutuhkan kedua sosok itu untuk berada disisinya.
Chanyeol tak ingin Sehun sedikitpun luput dari perhatiannya. Chanyeol mengerti itu sulit, Chanyeol sangat tau. Mengingat posisi Chanyeol adalah sebagai atasan di perusahaannya dengan sejuta berkas dan pertemuan di belakang punggunya. Tapi ia sama sekali tak merasa beban, justru Chanyeol begitu menikmati segala hal yang ia jalani selama ini. Juga hanya dengan inilah Chanyeol merasa dapat menebus kesalahannya di massa lalu. Andai saja dulu ia mau mendengar sang istri mungkin semua tak akan seperti ini, Sehun masih dapat merasakan hangat pelukan dari seorang Ibu. Dan dirinya masih dapat merasakan seperti apa menjadi seorang suami juga seorang Ayah dan hidup bahagia bersama. Jadi, apapun itu bagaimanapun itu, sesulit apapun itu asal demi Sehun, Chanyeol akan pastikan selalu melakukannya.
.
.
.
" Wae Appa? " Sehun membenarkan seat beltnya sambil tertunduk tak acuh.
" Appa menangis? Appa merindukan umma ? " Ucap Sehun tanpa basa-basi sesaat setelahnya.
" Eummm? " Chanyeol seketika menoleh dan tersenyum kecil, lalu menepuk sebelah pipi Sehun pelan. Lamunannya terhenti di sana. Ketika suara Sehun mulai menyadarkannya yang sejak masuk ke dalam mobil hanya diam tak mengeluarkan kata membuat munculnya keheningan di dalamnya.
" Besok kan akhir bulan Appa" Sehun menggeser sedikit duduknya untuk menghadap ke sebelah kiri, lalu tersenyum lucu menatap sang Ayah yang sedang menyetir. Mencoba menggeser suasana yang terasa tidak enak ini untuknya. Ketika Ayahnya diam dan terlihat sedih seperti ini, di saat seperti inilah Sehun merasa udara begitu menipis di rongga dadanya.
Sehun nenarik nafasnya pelan.
Sehun mengerti, ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini karena terkadang jika ia merindukan sosok Umma untuk ada di sampingnya ia akan bersikap sama persis seperti Ayahnya. Diam dan hanya diam sementara isi kepalanya entah apa. Setelahnya Ayahnya lah yang akan menghiburnya seperti yang ia lakukan saat ini.
Terkadang Sehun merasa semua begitu berat. Terkadang ketika ia rindu, itu akan terasa sulit untuknya. Terasa sesak sekali.
" Nee, besok kita mengunjungi Umma kan ?"
Respon Chanyeol membuat Sehun lega lantas mengangguk antusias. Hingga anggukan lucunya membuat Ayahnya gemas dan mengusak rambutnya beberapa kali dan cukup membuatnya berdecak keras.
" Sehunie…. menurutmu bunga apa yang cocok untuk kita bawa besok ? " Chanyeol menoleh sekilas ke arah sang anak selagi kedua tangannya memutar stir kearah kanan.
" umm… Apa yah? " Sehun menatap Chanyeol sejenak lalu duduk bersila dan menopang dagunya dengan telapak tangannya. Kedua matanya terus berkedi-kedip memandangi sang Ayah, ia berfikir. Sedangkan Chanyeol focus menyetir dan menunggu jawaban anaknya namun sesekali akan melirik ketika suara Sehun tak juga terdengar.
" Eemm… Appa! bagaimana dengan Carnation Pink.. ?" Sehun mengangkat satu telunjuknya dan berseru.
" Apa itu?" Tanya Chanyeol penuh minat.
" Ya itu adalah jenis bunga yang melambangkan kesetiaan atau keabadian. Karena aku fikir, aku dan Appa tak akan pernah melupakan Umma. Karena Umma selalu berada di sini, di hati kita. Dan…..juga Camellia Pink,bunga yang sangat cocok untuk mengungkapkan kerinduan kitadankarena sangat pass dengansuasana hati Appa yang sedang sangat merindukan Umma juga. Jadi, kita membawa dua jenis rangkaian bunga untuk Umma bulan ini, bagaimana? Appa setuju? "
Sehun mengangguk-angguk seolah Ayahnya pasti akan menyetujuinya.
Chanyeol dan Sehun memang memiliki kebiasaan unik setiap mengunjungi makam orang terkasih mereka itu, Chanyeol dan Sehun akan selalu mengganti jenis bunga yang akan mereka bawa setiap bulannya. Seperti membawakan bunga yang mengandung arti atau hal-hal yang baik, terkadang mereka memilih jenis bunga yang sesuai dengan susasana hati mereka. Bermaksud mengadu kepadanya, seperti bunga Camellia Pink, mereka ingin menunjukkan betapa mereka merindukan sosok itu untuk ada di samping mereka.
" Tentu saja Appa setuju, uughh anak Appa mengapa begitu pintar eummm…. " Chanyeol berbicara layaknya menggoda seorang bocah balita, membuat Sehun meberengut karena di perlakukan seperti itu.
" Aaa Jinjja! Appa!" Chanyeol terlonjak ketika Sehun bertriak dan menepis-nepis tangannya yang sedang mengusak rambut Sehun pehuh sayang. Membuat rambut yang sengaja Sehun tata acak-acakan secara teratur itu menjadi acak-acakan tak teratur(?)
" Appa! Kau mengancurkan hair style ku hari ini. Sungguh! " Sehun semakin sengit bersungut-sungut pada Ayahnya. Ayahnya benar-benar menyebalkan dengan senyuman lebarnya itu jika begini, Sehun mendengus.
Sementara Chanyeol hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu putranya yang akan hanya ia tunjukkan pada beberapa orang tertentu saja yang memang dekat dengannya ini. Bagi Chanyeol, Sehun memang memiliki sifat terkesan dingin dan angkuh dengan wajah 'bad boy' yang ia miliki dan tampang 'poker face' yang sering ia tunjukkan pada orang kebanyakan.
Jauh berbeda dengan dirinya, Chanyeol terkesan lebih idiot dan tampan di saat yang tepat dengan senyum 'ear to ear'nya. Ia selalu dapat membuat orang di sekelilingnya nyaman dan tidak canggung namun tetap menghormatinya.
Namun perbedan-perbedaan seperti itulah yang membuat aura berbeda dari pasangan Ayah dan anak dari keluarga Park itu terpancar alami dan mempesona siapa saja.
.
.
.
Chanyeol mengentikan mobilnya tepan di depan pintu gerbang HanSeoul Art High School. SMA seni paling elit bertaraf internasional yang berada tepat di pusat kota Seoul. Sekolah yang tak menerapkan enam belas jam dalam system waktu belajar seperti kebanyakan sekolah di Korea. Bersekolah di sini adalah impian Sehun sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Yang juga membuat Chanyeol sempat bingung mengapa anaknya begitu ngotot sekolah di sekolah elit seperti ini. Walau ia tau orangtuanya adalah orang yang tak mungkin kesulitan dalam hal biaya Sehun tak pernah meminta atau menggunakan segala sesuatu yang harus mahal bermerk atau elit, apa saja yang penting nyaman baginya. Karena Chanyeolpun tak pernah mengajari seperti itu.
Bukan hanya sekedar mereka yang dari kalangan jetset yang bisa masuk ke SMA seni ini, sekolah ini menetapkan standar yang tidak main-main untuk setiap calon siswanya. Selain akademik, prestasi dari skill individu sangat penting untuk sekolah ini. Karena sulitnya persyaratan masuk SMA HanSeoul, Sehun sampai rela belajar mati-matian setiap harinya, mengikuti bimbel dalam 3 tempat sekaligus dalam 1 minggu dan menjadikan ruang latihan dance di apartmennya serta buku sebagai makanan pokoknya setiap hari. Hingga Sehun pernah mendapat perawatan selama satu minggu di rumah sakit. Sehun drop karena terlalu kelelahan, hingga membuat Chanyeol nyaris gila melihat Sehun terbaring lemah dengan wajah semakin pucat di ruang rawat inap, dan saat itu juga Chanyeol bersungguh-sungguh akan meruntuhkan gedung HanSeoul jika Sehun tidak lolos dalam seleksi.
Mengerikan.
Tapi semua kerja keras Sehun terbayar dan niat Chanyeol untuk meruntuhkan gedung HanSeoul gagal, saat pihak HanSeoul menelfonnya dan mengatakan bahwa anaknya lulus dalam seleksi. Tak ayal, hal itu membuat Sehun senang bukan main dan Chanyeol sangat bangga. Kini Sehun telah resmi menjadi murid SMA HanSeoul dan mengambil dua jurusan, Dance dan Vokal khususnya untuk Rap.
Jika Sehun bisa jujur, sebenarnya bukan karena sekolah ini elit ataupun murid-murid jenius saja yang bisa bersekolah disini yang membuat dirinya sangat berambisi untuk dapat bersekolah di SMA HanSeoul. Melainkan karena adanya sosok seorang yang juga bersekolah disini, seorang yang sudah sangat lama menarik perhatian Sehun jauh sebelum ia memasuki JHS.
Sehun pikir ia hanya ingin terus dekat denganya tanpa berfikir untuk mengungkapkan perasaannya, setidaknya hanya untuk saat ini. Sehun hanya belum siap, belum mengerti bagaimana caranya memulai semuanya.
Belum saatnya.
Mungkin,
.
.
.
" Appa aku terlambat, eottokhae! Appa harus bertanggung jawab " Sehun menatap gusar pintu gerbang jam besar yang tergantung di tembok di atas pintu gerbang sekolahnya. Ia mnarik-narik jas Ayahnya berharap Ayahnya mau turun dan ikut dengannya agar ia terbebas dari hukuman gurunya atau siapapun.
" Sehunnie… mianhae jka kau terlambat Appa pasti akan terlambat juga. Kau taukan, sebagai seorang atasan yang baik Appa harus memberi contoh yang baik pula pada karyawan-karyawannya. Jadi, lebih baik kita saling menyemangati saja ya? Dan mengurus masalah kita sebagaimana sangnamja selalu lakukan. Eotte? " Chanyeol mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi gagah yang aneh yang begitu menyebalkan di mata Sehun.
" Hsssr…" Helaan nafas salah satunya terdengar menggeram.
Sehun memutar kedua bola matanya malas, sungguh malas. Ayahnya sama seklai tak membantu.
Cuupppp!
" Aku menyayangi mu Appa!"
BBUUGGHHH! ! !
" Ya! Park Sehun ! "
Sehun mencium cepat pipi kanan Chanyeol lalu keluar membanting keras pintu mobil itu dan langsung berlari menuju gerbang sekolahnya, meninggalkan Chanyeol yang bertriak memanggilnya. Sehun fikir sudah tidak ada waktu lagi untuk mendengarkan celotehan ayahnya saat ini, hanya akan semakin membuang waktu dan membuatnya semakin terlambat juga.
Dan Chanyeol hanya bisa menggeleng lalu tersenyum lagi.
.
.
.
" Oh Neptunus, ini hari pertama ku dan aku dengan idiotnya terlambat dan ini sungguh gawat! Benar-benar gawat! Aku harus cepat, harus. Jika aku ketauan aku mati sekarang juga. Aku pasti mati "
Sehun berlari kesetanan sambil bergumam tak karuan. Ia terus berlari lurus menuju kearah lift sekolah yang akan ia gunakan untuk sampai di ruang kelasnya yang berada di lantai empat. Sehun terus berlari tanpa memperdulikan sekelilingnya sambil sesekali melirik jam tangan yang bertengger ditangan kirinya. Ia terus berkomat-kamit memohon perlindungan pada makhluk apa saja yang sekiranya dapat menolongnya. Semoga saja ia tak bertemu orang-orang yang akan membuat hidupnya kacau di hari pertamanya ini.
Sudah cukup Ayahnya saja. Sudah.
Sungguh.
Sehun tersenyum lega ketika ia melihat tanda elevator di dekat sebuah tangga di sudut bangunan, anak itu semakin mempercepat langkahnya. Namun ketika Sehun hampir sampai di ambang pintu lift,
Tiba-tiba…
BBRRUUKKKKKK! ! ! !
" Ouw bokong ku " Suara rintihan familiar terdengar jelas di kedua telinga Sehun yang tak tertutupi rambutnya.
Sehun tak sengaja menabrak seorang gadis mungil yang tak lebih tinggi darinya, terjatuh dengan tidak enaknya di ambang pintu lift tepat di hadapanya. Gadis tersebut jatuh dengan bokongnya terlebih dahulu menyentuh permukaan lantai. Hingga menimbulkan suara yang membuat ujung gigi ngilu.
Sehun menatap ragu kearah bawahnya, nafasnya tertahan. Ia mengenal suara ini sejak awal.
Sementara si gadis seketika mendongak untuk mencari tau siapa orang yang dengan lancang menabraknya di pagi hari yang cerah ini.
" Kkkkketuaa kedisiplinan! "
Sehun melotot horror saat mengetahui siapa orang yang baru saja ia tabrak. Sehun merasa berada di ambang hidup dan mati ketika teriakan itu menggema di ujung telinga.
" Kau tak akan selamat hari ini PARK SEHUN! "
.
.
.
" Kau tampak buruk dengan wajah seperti itu " Ucapan seorang laki-laki tan di sela kunyahannya membuat Sehun semakin mengurut tulang hidungnya.
Jam pelajaran baru saja usai sepuluh menit yang lalu. Kini Sehun tengah berada di kantin sekolah bersama sahabatnya, Wu Jongin atau kau bisa memanggilnya Kai. Tapi, Sehun lebih suka memanggilnya Jongin atau Kamjongiiee. Anak dari sahabat sekaligus rekan bisnis Ayahnya.
" Badan ku terasa begitu pegal semua! Molla! " Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengacak-acak rambutnya frustasi lalu menelungkupkan wajahnya di antara kedua lengannya di atas meja. Membuat Jongin menghentikan kunyahannya dan meletakkan kedua sumpitnya lalu menatap Sehun tidak enak.
" Ya! jangan katakan saat kau terlambat tadi, kau ketahuan Luhan Nuuna? Kali ini apa lagi? Melepas bendera namun dengan memanjat tiangnya lalu melipatnya? Berdiri dengan kedua kaki mu terlipat keatas dan satu tangan kiri mu memegang telinga kanan mu? Membersihkan toilet wanita? Membersihkan kolam sekolah? Menguras kolam renang dengan bak? Mengepel rooftop sekolah atau mencabut rumput liar dengan kedua tangan mu di lapangan sepak bola ? Huu! pantas saja kau datang tigapuluh menit setelah pelajaran di mulai " Jongin menyedot menumannya dan menatap miris kepada Sahabat satu-satunya itu.
Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Jongin melas lalu bertriak.
" Kau tau! aku tertangkap basah olehnya! Aku menabraknya! Dan lebih buruk dari itu semuaa! Kamjong-ah dia itu mengapa sangat mengerikan! Apa tidak puas dulu saat di Sekolah menengah pertama dia selalu menghukum ku. membully ku. Dan mengapa harus dia lagi yang menjadi ketua kedisiplinan di sekolah ini haaa! Apa tak ada gadis lain yang lebih mengerikan di banding rusa gila itu! Aaaa jinjja! Jinjja! "
Sehun menggebrak-gebrak meja membuat makannnya di atasnya bergetar. Dan Jongin mendelik. Menyadari lagi jika Sehun jadi begitu sangat ekspresiv setiap kali setelah di hukum sejak dulu sejak mereka di sekolah menengah dan itu aneh juga menjengkelkan bagi Jongin. Karena Sehun bukan tipe seorang yang perduli atau sudi membuang-buang waktu dengan marah-marah atau galau tak jelas seperti ini.
Ya hanya Luhan yang membuat Sehun begini. Hanya ketika mendapat hukuman dari Ketua Kedisiplan populer yang merupakan musuh bebuyutan Sehun itu.
Jongin tersenyum miring. Ia mengenal Sehun bagaimanapun itu.
" Aku ingin pindah sekolah!" Sehun mengerang tiba-tiba.
" Pindah saja sana!" Jongin mengguman sebal. Berlebihan sekali sahabatnya itu.
.
" Ya Sehun-ah!"
Jongin mencondongkan tubuhnya mendekati Sehun, membuat jarak antara hidungnya dan hidung mancung Sehun hanya beberapa senti sebelum tangan Sehun terangkat dan mendorong hidung pesek Jongin mundur menjauh dari hidungnya.
" Jika di fikir-fikir apa mungkin jangan-jangan kalian berdua itu berjodoh? Analisis ku seperti yang ku tau selama ini, kalian selalu ribut bak kucing dan tikus jika sedang bersama. Tapi, kalian akan berubah menjadi sosok yang tampak seperti seorang yang kehilangan pasangannya jika salah satu dari kalian tak muncul di hadapan mata masing-masing. Yah walau kalian selau berdalih. Dan kau akan menjadi sangat banyak bicara jika membahas tentangnya atau bertemu dengannya"
" Ya kau bi-"
" Satu lagi, Juga kalian itu selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak di sekolah dasar, secara tidak kalian sadari kalian itu selalu dipertemukan satu sama lain. Lihat, bahkan di hari pertama mu kau sudah di pertemukan dengannya, aku yakin pasti orang pertama yang kau lihat saat menginjakkan kaki di sekolah ini pagi tadi adalah Lu Nuuna. Mengaku!"
Jongin menyudahi analisisnya dengan balas menunjuk hidung Sehun.
" Analisis bodoh! bicara apa kau! Kita bahkan bersekolah di sekolah yang sama sejak di taman kanak-kanak! Kau bahkan mengompol di karpet di dalam kamar ku! Apa kau juga berpikir kita ini K-A-U dan A-K-U berjodoh?! Hapus pemikiran aneh mu itu. Kehilangan? Kehilangan kata mu? Justru aku akan sangat mensyukurinya jika hal itu terjadi. Tidak, orang pertama yang ku lihat adalah tukang kebun sekolah! Sok tau sekali kau dasar hitam. Singkirkan tangan mu! "
" Cihh ! coba lihat diri mu!" Jongin mengendikan bahu dan memilih tak acuh lalu melanjutkan kegiatan makannya dalam diam, sesekali ia akan melirik Sehun yang masih tampak gusar di hadapannya.
" hmm Sehun-ah "
"…."
" Ya Sehun-ah! " Jongin mengunyah cepat dan menelan paksa makanannya sehingga menampakkan raut muka yang sedikit meringis, setengah bertriak memanggil Sehun yang sibuk mengunyah makanannya tanpa menghiraukan panggilan darinya.
" Ahh waeyo! " Sehun balik bertriak, mengganggu sekali pikir Sehun.
" A-ah Eobsseoyo" Jongin menggeleng cepat dan tersenyum kikuk membalas teriakkan Sehun. Sedangkan Sehun dengan santainya melanjutkan makannya yang sempat tertunda tanpa menyadari raut wajah Jongin yang tampak ragu.
" Eeemmm Sehun-ahbagaimanakabarNuunamu " Ucapan tanpa jeda itu membuat Sehun seketika menghentikan kegiatan mengunyahnya lalu mentap Jongin dengan alis bertaut lalu tanpa mejawab apapun Sehun kembali mengunyah tak perduli.
" sepupu mu Hun! "
"….." Sehun masih makan tanpa ada niatan untuk menoleh.
" yang memiliki mata seperti tokoh-tokoh kartun kodok itu. Pororo pororo! "
"….."
" Berkulit putih, pendek dan bersekolah dan tinggal di jepang Sehun-ah "
"…."
Sehun akhirnya mendongak dan malah memberi tatapan bertanya seolah-olah tidak mengerti maksud dari ucapan Jongin. Sebenarnya memang Sehun tidak mengerti, yang ia tangkap dari ucapan Sehun hanya kata ' Nuuna mu ' dan Sehun langsung tau apa maksudnya.
" Ck! Itu yang menjemput mu bersama Appa mu 3 hari yang lalu. Yang kau ajak pergi bersama kita membeli sepatu untuk acara kelulusan kita 3 bulan yang lalu! "
"…."
" Kau melupakan saudara mu sendiri Park! "
"….." Sehun tetap bungkam tanpa membalas ucapan-ucapan Jongin. Dalam kepala ia tertawa terbahak saat mendapati ekspresi murka Jongin.
" Aaisshh neo jinjja! KYUNGSOOO NUUNA! ! ! " Jongin bergetar dalam teriakannya. Sehun ini benar-benar menyebalkan sekali.
Dan
1
2
3
"….. Bwahahahahahaha! " Bukannya menjawab atau menanggapi pertanyaan Jongin, Sehun dengan biadabnya malah tertawa sangat lebar di hadapan Jongin.
" Ya ! Mengapa tertawa" Jongin tersulut dan memerah padam.
Tak ada balasan, yang di tanya masih tertawa menyebalkan.
" Apa yang kau tertawakan "
" Hahhahahahahaha "
" Geumanhae ! hentikan tawa idiot mu itu "
" Hahahahaha kau juga hentikan expresi idiot mu itu! "
Jongin yang salah tingkah dan wajahnya sudah semakin memerah menahan malu di tertawakan Sehun, segera mengambil botol kecap di hadapannya seakan-akan ingin melempar Sehun dengan itu agar mau berhenti menertawakannya. Sesusungguhnya ia juga bingung mengapa ia harus malu dan salah tingkah seperti ini, padahal ia hanya menanyakan kabar seseorang saja.
Lalu apa yang salah dengan dirinya.
" Ppfffttttt geure geure. Ada apa kau tiba-tiba menannyakannya? Merindukannya? Tak biasannya kau menannyakan tentang seorang gadis pada orang lain, apa lagi hanya sekedar ka-ba-r! benar-benar bukan 'KAI' sekali " Sehun menekan ketika ia mengucapkan nama tenar Jongin di kalangan gadis-gadis.
" Ya! kau kan sepupunya, lalu aku harus bertanya pada siapa aku kan tak memiliki nomer ponselnya "
" Oh jadi kau menginginkan nomer ponselnya, dan beralibi dengan menannyakan kabarnya terlebih dulu pada ku, begitu? Kau bisa saja"
Sehun terlihat seperti setan di mata Jongin sekarang.
' Sial ini benar-benar memalukan ' pikir Jongin seraya menunduk dan menegak cola-nya secara asal. Berpura-pura tak mendengarkan Sehun
" Kamjong-ah "
"…."
" Jongin "
"…."
" Kai "
"….."
" WU KAMJONG HITAM ! ! ! "
" Aaiih wae wae! "
" Kau menyukai Nuuna ku? "
" Ani ! "
" Ahh jeongmalyo? "
" Nee! Aku hanya menannyakan kabarnya saja kenapa langsung berpendapat seperti itu "
" Tidak apa-apa. Tapi, apa sedikitpun kau tak tertarik padannya "
" Tidak tidak tidak ya tidak. Aku hanya bertanya! Ada apa dengan mu! "
" Aku kan hanya bertanya "
" Sudah ku bilang aku juga hanya bertanya! Memangnya tidak boleh ! Ya sudah kalau begitu " Jongin sedikit mengeraskan suarannya karena sebal dengan sikap Sehun yang seperti menggodannya terus menerus.
Ada apa sih dengan Sehun.
" Ku pikir kau tertarik padannya. Aku melihat dari cara mu menatapnya, dari cara mu memperlakukannya " Ungkap Sehun dramatis.
" Padahal kau baru mengenalnya dan bertemu dengannya beberapa kali tapi aku merasa kau sudah sangat nyaman berada di dekatnya. Terlihat bagaimana murungnya wajah mu saat kita harus berpisah, saat itu karena blok rumah mu dengan apartmen ku yang berbeda" Sehun berkedip-kedip polos membuat Jongin semakin ingin melemparkan kaleng cola-nya ke wajah tampan Sehun.
" Jangan berlebihan, aku hanya malas saja karena harus berjalan sendirian "
" Tidak, itu terlihat berbeda sekali. Sungguh kau tidak tertarik sama sekali padannya? "
"…"
" kau tau, Kyung Nuuna sedang dekat dengan Hyunsik Hyung saat ini. Kau pasti mengenalnya. Dia baik, pengertian dan sangat menyukai Kyung Nuuna sepertinya. Awalnya saat dia bertanya apakah Kyung Nuuna sudah memiliki kekasih apa belum, aku menjawab ' sudah '. Aku berfikir mungkin bisa membantu mu.
Sehun terus saja berbicara panjang lebar luas kali henti-hentinya mencoba memancing Jongin.
"….." Dan lagi-lagi Jongin memilih diam entah malas atau sudahh kehilangan kata-kata.
" Dan sekarang Hyunsik Hyung sedang meminta bantuan ku membuat rencana untuk menyatakan perasaanya pada Kyung Nuuna karena sebentar lagi Kyung Nuuna akan kembali ke Korea, melanjutkan sekolahnya lagi di sini. Aku ingin menolak sebenarnya, tapi ya sudahlah"
Sehun melirik Jongin yang mulai gusar di depannya, dan Sehun tertawa tanpa Jongin tau.
"Lagi pula aku juga tidak rela dia bersama mu, kau terlalu ' Black Boy ' untuk gadis sepolos dan secantik Kyung Nuuna dan sepertinya Hyunsik Hyung seorang yang cukup baik, jadi aku ban- .. "
" Ahh Sehun-ah….. "
Sehun semakin menutup rapat mulutnya, menahan tawa.
.
.
.
" Nee Appa, aku masih berada di dalam kelas bersama Jongin. Masih membereskan buku. Waeyo? "
" Anio, hanya saja Appa akan sedikit terlambat menjemput mu Sehunie, kau ingin menunggu Appa di perpustakaan seperti biasa atau biar sekertaris Kang saja yang menjemput mu ? nanti kau akan ke kantor Appa menunggu Appa selesai meeting lalu kita pulang bersama, bagaimana ? "
" Bagaimana jika aku pulang bersama Jongin saja. Aku sedang malas berada di sekolah. Appa jemput saja aku di rumah Wu ahjusshi "
" Apa sopir Jongin sudah di sana? Kalau belum tetaplah di dalam kelas, akan Appa suruh sekertaris Kang untuk menjmput kalian sekarang "
" Tidak Appa, supir Jongin sudah berada di sini sedari tadi. "
" Baiklah kalau begitu. Appa kan menjemput mu di rumah Wu ahjusshi. Sampai nannti Sehunie, Appa menyayangi mu "
"nee Appa, nado "
Sehun menutup sambungan teleponnya kemudian menoleh kepada jongin yang masih sibuk dengan tumpukan buku-bukunya.
" Kau selesai? Kajja Kamjong-ah "
" Kajja "
Sehun dan Jongin berjalan secara beriringan di koridor sekolah yang sudah hampir sepi karena sebagian besar murid-murid di sana sudah pulang dan hanya ada sedikit siswa-siswi yang berlalulalang entah melakukan apa. Saat di tengah-tengah koridor Sehun melihat seluit seorang gadis dari kejauhan, berjalan dengan susah payah sambil membawa tumpukan kertas di dalam pelukannya. Gadis itu berjalan dengan hati-hati karena tumpukkan kertas itu hampir menutup seluruh akses penglihatannya diakibatkan tumpukannya yang terlalu tinggi. Gadis itu tampak enggan.
Sehun tersenyum kecil dan tertunduk. Luhan itu manis sekali wajahnya jika sedang sebal.
" YAAAA !" Sebuah teriakan keras memenuhi koridor.
Sehun dan Jongin yang mendengar suara gaduh lantas menoleh ke arah sumber. Di lihatnya tak jauh beberapa meter Luhan tengah berkacak pinggang sambil memaki-maki segerombolan siswa yang berlari menjauh. Sepertinya Luhan tertabrak oleh mereka, karena kertas-kertas yang tadi di peluknya dan tertumpuk rapi kini berceceran memenuhi lantai.
" Ada apa?" Jongin bersuara pelan dan Sehun hanya mengangkat kedua bahunya.
Sementara Luhan masih berdiri dengan emosi meluap-luap, melirik ke bawah dan semakin marah ketika melihat kertas-kertas yang di bawanya kini berterbangan ke segala arah.
" Tabrak saja! tabrak saja terus!" Luhan terus menggerutu dan mulai berjongkok, memunguti dan merapikan kertas-kertasnya dengan menghentak.
Tapp
Tappp
Gerakan tangan Luhan semakin melambat ketika suara langkah kaki berjalan semakin mendekatinya. Tangannya terus memunguti kertas-kertasnya namun sudut matanya terfokus pada gerakan sepatu yang mulai mendekat. Sampai langkah itu melewatinya arah pandangan Luhan masih terus mengikuti, hingga ia tak sanggup lagi dan mulai mengangkat kepalanya. Luhan merubah padangannya, ia menatap sengit dua punggung yang beriringan itu. Semakin memicing ketika matanya berfokus pada punggung jangkung yang tak sedikitpun memutar kepalanya untuk menatap Luhan.
Luhan berbisik marah.
Tsk! Park Sehun!
.
.
.
Saat ini Chanyeol bersama Kris tengah berada di dalam ruang kerja Chanyeol untuk menunggu jam meeting mereka yang akan di mulai lima belas menit lagi. Meeting kali ini memang di adakan di kantor Chanyeol, karena project yang akan mereka jalankan saling berhubungan satu sama lain dan memang project ini adalah project dari perusahaan Chanyeol.
" Aku akan ikut dengan mu nanti Hyung "
" Ikut? Untuk apa? Mampir? Tumben sekali kau mampir-mampir " Kris mendongak kaget sambil menyipitkan kedua matanya, tak percaya.
" Tidak, aku hanya harus menjemput Sehun. Dia sekarang berada di rumah mu Hyung" Chanyeol membolak-balik berkas di atas mejanya.
" Ah.. pasti bersama Jongin, biar aku yang mengantarnnya " Tawar Kris pelan.
" Tidak usah Hyung, aku akan menjemputnya sendiri kita berangkat bersama setelah meeting ini usai Ok."
" Baiklah.. " Kris menahan nafasnya sejenak lalu mengangguk. Bahkan pada Kris saja Chanyeol terlihat ragu.
Untuk beberapa saat dua pria dewasa penuh pesona itu terdiam, sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mengerjakan apa yang perlu di kerjakan sebelum Meeting mereka mulai.
" Chanyeol-ah " Kris bersuara, mengalihkan sekilas pandangannya dari tumpukan berkas-berkas di hadapannya.
Di balas dengungan pendek oleh Chanyeol.
" Kau semakin mengekang Sehun " Kris bersuara dengan keambiguannya yang membuat Chanyeol bingung karena perkataan Kris seperti sebuah pernyataan di kepalanya, namun samar-samar seperti pertanyaan di telingannya. Chanyeol menoleh.
" Maksud mu Hyung? Siapa yang mengekang Sehun? "
" Ya kau, memangnya siapa lagi? " Kris menunjuk Chanyeol dengan ujung dagunya.
Chanyeol menangkap maksud Kris, pria jangkung itu berdiri pelan lalu membalik tubuhnya menatap ke kaca lebar transparan di dalam ruangannya.
" Aku melindungi anak ku, bukan mengekangnya Hyung " Suara Chanyeol pelan.
Ada jeda singkat dan Kris manatap lamat punggung Chanyeol.
"….Kau lupa, sampai saat ini dia masih berusaha untuk merebut Sehun dari ku" Helaan berat serta merendahnya bahu tegap itu membuat Kris sedikit menatapnya prihatin.
"Aku rasa kau harus mulai membuka fikiran mu tentang ini, dia juga berhak atas Sehun Yeol" Kris masih duduk di kursinya.
" Dia bisa membicarakannya dengan ku secara baik-baik, bukan malah mencelakakan Sehun. Dan aku sudah pernah bilang pada mu Hyung, dia ingin mengambil Sehun sepenuhnya dari ku, bukan menuntut hak dirinya atas Sehun. Sehun itu anak ku hyung, darah daging ku yang ku miliki satu-satunya aku berhak penuh pada Sehun. " Ucapan itu terdengar pelan namun sarat akan tekanan. Chanyeol masih menatap lurus kedepan, kearah gedung-gedung tinggi serupa dengan bangunan di mana ia berdiri di dalamnya sekarang.
Pancaran matanya menerawang jauh entah kemana.
" Aku tau kau Ayahnya, aku mengerti perasaan mu. Kau cobalah berbicara lagi dari hati ke hati sebagai sesama seorang pria tua padanya. Kau harus memberikan pengertian padanya. Mungkin saja dia sama sekali tidak bermaksud akan mencelakai Sehun. Namun karena cara yang ia gunakan salah maka ia selalu berakhir dengan melukai Sehun seperti itu" Ada sedikit nada candaan di dalamnya, berharap suasana yang tiba-tiba terasa tidak enak bagi Kris ini sedikit melunak.
Seharusnya Kris tak memulai. Ia tau. Apapun mengenai Sehun, Chanyeol akan sangat menjadi keras kepala.
" Aku sudah pernah membicarakan ini padanya. Tapi tetap, dia ingin Sehun sepenuhnya ada padanya, dan dia benar-benar tak memperdulikan omongan ku. Dia sungguh masih sangat membenci ku Hyung dan hey! Aku tidak setua itu Hyung" Chanyeol sedikit menggoyang kaca mata baca yang ia pakai dengan jari tengahnya. Tersenyum kecil lalu kembali terduduk.
" Apa sehun tau tentang ini? "
" Tidak, tentu saja. Aku rasa belum saatnya…."
Chanyeol merenggangkan otot di pundaknya, bersandar pada kursi kerjanya dan menjatuhkan pandangan pada langit-langit ruang kerjanya.
.
" Saya akan memberikan kesempatan untuk anda dekat dan mengenal Sehun sebagai cucu anda tapi tidak untuk membiarkannya ikut bersama anda ke Kanada. Bagaimanapun juga Sehun adalah anak kandung saya, hanya Sehun yang saya miliki hanya Sehun peninggalan'nya satu-satunya saya mohon anda mengerti Presdir Jung " Chanyeol menatap lekat pria baya di hadapannya yang hanya memberikan tatapan rendah padanya sambil menyesap kopinya dan duduk dengan menyilang kaki.
" Sehun juga satu-satunya penerus ku kelak. Ingat bagaimanapun juga kau yang menyebabkan anak ku pergi untuk selama-lamanya Park Chanyeol! Ku harap kau lebih tau diri. selama ini aku sudah berusaha sabar dan memberi mu waktu sampai belasan tahun namun nyatanya kau tetap keras kepala. Sehun akan tetap bersama ku. bagaimanapun caranya. Dan aku tak butuh izin dari mu "
Pria tua dengan senyum angkuh itu berdiri setelah menyesap kopinya lagi, ia membenarkan letak jasnya lalu berjalan arogan diikuti pria lain di belakangnya. Meninggalkan Chanyeol yang hanya menunduk bersama tangannya yang terkepal kuat.
.
" Andai saja dulu aku tak membawa Hyun Ah pergi. Andai dulu aku mendengarkan perkataanya. Andai dulu kami menikah secara baik-baik. Andai dulu aku adalah orang baik. Andai aku dapat memutar waktu dan mengubah semuanya Hyung. Andai- "
" Semua tak akan pernah berubah jika kau hanya ber andai-andai seperti itu. Lakukan sesuatu, buat segalanya menjadi baik. Jika kau berusaha dengan keras maka semua akan menjadi mungkin. Sebuah usaha tak akan pernah menghianati sebuah Hasil. Kau harusnya mengerti maksud ku " Kris berdiri lalu mendekati Chanyeol, menepuk pelan pundak pria yang sudah ia anggap sebagai sodara kandungnya itu dengan penuh dukungan. Membuat Chanyeol merasa tenang di buatnya.
" Aku akan berusaha "
" Chanyeol tersenyum kepada Kris seakan mengungkapkan rasa terimakasih lewat senyumannya. Kris dan Chanyeol memang sudah bersahabat sejak sebelum mereka memiliki keluarga dan kehidupannya masing-masing sperti saat ini. Kris sangat tau bagaimana Chanyeol begitupun sebaliknya. Hubungan mereka sudah seperti sodara sedarah dimana Chanyeol akan memapah Kris jika Kris terpuruk dan sebaliknya Kris pada Chanyeol. Kris juga yang selama ini merangkul Chanyeol di saat Chanyeol berada di massa-massa sulitnya terutama dulu saat Jung Hyun Ah, istri Chanyeol di nyatakan tewas dalam kecelakaan tunggal dan membuat Chanyeol jatuh dalam keterpurukannya dan nyaris di fonis mengalami gangguan pada kejiwaannyaa. Krislah yang selalu memberikan kata-kata penenang untuk Chanyeol, memberikan motivasi selalu mengingatkan jika masih ada Sehun yang membutuhkannya. Dan selalu berada di samping Chanyeol hingga sekarang. Hingga Chanyeol seperti ini.
" Omong-omong kau pernah bertemu dengannya ? "
" yaa "
" Kapan? "
" Dua taun yang lalu. Saat membicarakan tentang Sehun "
" Apa dia masih semenyeramkan dulu ? "
" Masih, malah semakin menyeramkan dengan rambut dan kumisnya yang blonde itu "
Kris mengernyit tak paham.
"Apa kata mu ?"
" Kumisnya itu Hyung! Warnanya bukan hitam"
" Aiishh! itu uban bodoh, bukan blonde "
" Bwahaahaha! ! ! ! ! ! "
Setelahnya hanya terdengar dua suara tawa yang berbeda, menggema dari dalam ruangan itu.
.
.
.
SSRREEKKKKKK! ! !
Sehun berjongkok angkuh kemudian merampas kertas-kertas yang berada di genggaman Luhan dengan cepat. Sigap mengambil kertas- kertas yang lain yang masih tercecer di lantai tanpa berucap apapun lalu merapikannya.
Di hadapannya Luhan membeku, dirinya terkejut karena Sehun yang datang tiba-tiba dengan mengambil posisi wajah tepat di hadapanya dengan jarak yang terlalu dekat untuknya. Tak sadar apa yang ia lakukan, Luhan hanya terus menatap wajah Sehun sambil berkedip-kedip sesekali. Mengapa terasa begitu gugup, batin Luhan lemah.
' tampan! ' teriakan dramatis di dalam kepala Luhan membuat gadis manis itu semakin linglung.
" Sunbae! Sunbae! " Sementara Sehun sejak tadi sibuk mengibas-ibaskan salah satu kertas itu di hadapan wajah Luhan, saat di lihatnya gadis manis seniornya ini malah asik dengan lamunannya. Bukannya menerima kertas yang ia sodorkan.
" Luhan Sunbae! "
Puk!
" Aw!"
Luhan tersadar ketika pipinya mendapat sebuah tepukan lembut. Ia menggeleng-geleng beberapa kali untuk mengenali situasi sekitarnya. Pandangan gadis itu tampak tak beraturan, ia melihat ke samping dan tak menemukan siapapun selain kertas-kertas yang tadi tercecer tak karuan kini sudah tertata dan tertumpuk rapi di hadapannya. Luhan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya sejenak lalu berdiri, ia berbalik dan mendapati punggung jangkung laki-laki dengan rambut blonde berjalan santai di ujung koridor semakin menjauh dari tempatnya kini.
Luhan berbalik lagi dan menunduk menatap kertas-kertas di bawahnya. Satu tangannya terangkat, menyentuh pipinya yang terasa nyeri dan semakin hangat.
Luhan bertriak memaki dirinya sendiri.
Ini memalukan.
.
.
.
Sehun berlari dan menyusul Jongin yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.
"Kamjong! "
" Dari mana saja kau "
" Ada yang tertinggal " Jongin hanya menaikan bahunya dan tak menjawab. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Jongin yang memasang earphone di telingnnya dan Sehun yang terus sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Hun, Park Ahjussi sepertinya semakin hari semakin overprotective saja pada mu ya, ada apa? "
Sehun mengangkat kepalany dan menatap Jongin lamat, seakan berfikir haruskan ia bercerita atau tidak.
" Wae?" Jongin terlihat semakin mengintimidasi Sehun pada tatapannya.
" Eumm itu…. apa kau ingat saat kita pergi untuk membeli sepatu bersama Kyungsoo Nuuna waktu itu? "
" Ya lalu? "
" Saat itu kita berpisah kan? " Suara Sehu sedikit mengecil.
" Eeuuumm.. lalu? " Jongin mengangguk dan melepas earphonennya demi mendengar jelas cerita sehun.
" Saat itu….
" Sekarang. Berhenti dan bawa anak laki-laki berambut coklat itu masuk kedalam mobil tanpa melukainya atau meyakitinya lalu pergi secepat mungkin. Jangan biarkan gadis itu bertriak atau menghalangi kalian"
Bibir itu terus memberi intruksi pada seseorang entah siapa, di sebrang telfonnya. Dengan penekanan di setiap kalimatnya, ia sepertinya cukup membuat lawan bicaranya patuh dan mengikuti intruksinya. Terbukti dari sudut bibir itu yang tampak terangkat begitu arogan.
" Lakukan dengan cepat. Ingat jangan membuatnya terluka seperti yang sudah-sudah atau kau yang berakhir!"
PIP!
Ia menutup saluran telfonnya sepihak lalu memandang lurus ke sebuah mobil hitam yang mulai bergerak mendekati dua remaja yang tengah tertawa lepas dan berjalan beriringan di pinggiran trotoar di antara gang-gang dan toko yang tutup.
.
" Park Sehun berhenti kau!"
Gadis bermata bulat itu mendelik tajam pada adik sepupunya yang terlihat begitu bahagia menertawainya sejak tadi. Entah apa yang di fikirkan oleh anak laki-laki ini hingga begitu senang melihat orang lain tertindas begini.
" Bwahahahaha! Wajah Nuuna memerah!"
" Hentikan tawa mu! !" Kyungsoo, gadis bermata bulat itu memukuli dan mendorong lengan Sehun hingga tubuh tinggi itu terhuyung ke samping dan menuruni trotoar beberapa kali namun tetap saja adiknya itu tertawa semakin keras dan membuat luapan emosinya semakin naik.
" Nuuna lihat bagaimana tadi Jongin sangat enggan ketika ia akan melangkah mundur untuk berpisah dengan kita. Kau lihat Nuuna? Dia terus memandang mu dan itu benar-benar lucu. Sementara Nuuna… Kalian berdua benar-benar…bwahahaha!"
" Sehun-aaa~ Kau….!"
Kyungsoo baru akan mendorong Sehun lebih keras terhenti seketika, saat ia melihat sebuah mobil hitam melaju kencang mendekati mereka.
DAN
CKIITTT! ! !
" SEHUN! ! ! !"
Hingga ia sadar jika mobil itu sudah pasti akan mencelakai salah satu di antara mereka. Kyungsoo yang memang sudah mencengkeram lengan Sehun tanpa memandang apapun lagi langsung menarik tubuh Sehun mendekat ke arahnya dan memutar posisi mereka.
BRUUMMM ! ! !
Kyungsoo melirik ketika mobil itu menjauh dengan deruman bising di belakangnya.
DUUGGH! !
Mereka terjatuh dan saling menindih dengan tubuh Kyungsoo di atas tubuh Sehun yang tampak kesakitan.
" Sehun! Sehuna!" Kyungsoo menepuk-nepuk pipi Sehun ketika adiknya itu hanya terus mendesah dan meringis.
" Gwaenchanna?"
" Nuuna…" Lirih Sehun dan Kyungsoo segera bangkit dan membantu Sehun bangun lalu membawanya untuk duduk.
" Lengan mu Sehun…!" Kyungsoo terbelalak ketika mendapati darah mengalir di sebelah lengan Sehun dan mengenai lengan coatnya, goresan memanjang di sana membuat Kyungsoo meringis tertahan.
" Nuuna.. " Suara Sehun bergetar dan lirih. Ia tak mau melihat luka itu dan terus menatap Kyungsoo dengan raut yang tak Kyungsoo mengerti. Tangannya bergetar dalam genggaman gadis itu.
Ini terjadi lagi.
" Gwaenchanna… Gwaenchanna" Kyungsoo segera merengkuh tubuh Sehun dan membawanya kedalam pelukannya.
Kyungsoo tau dan ia ikut sedih ini terjadi lagi. Kyungsoo merasakan getaran di tubuh Sehun dan ia semakin mengeratkan pelukanya.
.
" Sebenarnya aku juga tidak tau itu di sengaja atau tidak. Sejak itu Appa semakin protective pada ku" Sehun hanya menunduk dan Jongin langsung merangkul tubuh tegap Sehun. Ini juga menyedihkan untuknya.
" Lebih berhati-hatilah" Jongin menepuk punggung Sehun beberapa kali di balas tatapan datar dan sebuah anggukan oleh Sehun.
" Dan…. Kyungsoo Nunna memeluk mu?"
" Haiissshh!"
.
.
.
" Jongin-ah kau duluan saja masuk. Aku ingin ke kedai patbingsu di seberang jalan, di depan sana "
" Ayo, bersama saja. Biar tidak bolak-balik. Aku juga takut kau di culik. Apa yang harus ku katakan pada Park ahjussi nanti? "
Jongin mencoba menggoda Sehun dengan mimik wajah yang benar-benar menggelikan di mata Sehun, rasanya ingin sekali ia melempari Jongin dengan kedua sepatunya. Namun Sehun terlalu sayang dengan sepatunya jika melakukan hal itu, karena hari ini Sehun sedang memakai sepatu yang baru saja di belikan oleh Chanyeol di LA satu minggu yang lalu. Bagaimana jika sepatunya lecet, bagaimana jika sepatunya yang berwarna merah menyala ini menjadi hitam kelam saat setelah ia melemparnya ke wajah Jongin, sungguh Sehun tidak rela dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada sepasang sepatu kesayanganny itu.
Dan yang terpenting jangan anggap semua pemikiran konyol Sehun tentang Jongin dan sepasang sepatunya adalah hal serius, bisa saja itu adalah efek dari kejadiaan beberapa saat lalu yang di alami Sehun. Membuatnya kehilangan sebagian kalsium otaknya.
Kalsium?
" Ck, jangan berlebihan. Kau membuat ku ingin muntah dengan expresi seperti itu. Kau tunggu saja di mobil. Kau mau ngomong-ngomong? "
" haha.. Aniyo ya sudahlah palli Hun "
" Nee tunggulah " Sehun lantas berjalan santai melewati gerbang sekolahnya, menuju kedai patbingsu di seberang jalan tak jauh dari sekitaran sekolahnya .
Saat lampu untuk pejalan kaki mulai menyala Sehun segera bersiap untuk melangkah menyebrang jalan bersama penyebrang lain. Belum sempat Sehun melangkah mendadak ia di kejutkan dengan seseorang yang menabraknya dari arah samping, membuat Sehun yang ketika itu sedang lengah dan hanya focus pada jalan ambruk seketika, pundaknya membentur tiang pejalan kaki cukup keras dan memunculkan sedikit memar di sana. Sedang seorang wanita pelaku penabrakan yang panik, tanpa pikir panjang langsung menyeret Sehun ketempat yang agak sepi dan membantunya untuk duduk.
" Hey! Kau tak apa? Maaf tadi aku benar-benar terburu-buru sehingga tak memperhatikan langkah ku. Maafkan aku ya "
Gadis itu membungkuk meminta maaf kepada Sehun sembari mebenarkan letak topi hitamnya beberapa kali. Namun Sehun hanya diam menatap dingin wanita tersebut tanpa minat membalas, ia terus menggenggam lengannya.
" Kau baik kan? Kau terluka? Biar ku-"
Sehun menahan tangan gadis itu ketika akan menyentuh pundaknya lalu sedikit menjauh masih dengan ekspresi dinginnya. Wanita itu mundur satu langkah.
' Apa aku menabraknya terlalu keras? Great! bagus sekali kau menambah masalah mu hari ini'
" Aku baik-baik saja "
Tiba- tiba Sehun berdiri dan berucap singkat sambil membersihkan sedikit seragamnya di beberapa bagaian, kemudian pergi begitu saja tanpa menoleh. Meninggalkan seorang wanita yang terbengong menatap kepergian Sehun yang hampir hilang dari pandanganya dan meninggalkan wanita tersebut dengan segala pikiran-pikirannya.
' bocah itu wajahnya datar sekali. Terserah… terserah sajalah yang terpenting dia tidak meminta ganti rugi atau apapun itu pada ku. oke setelah ini aku harus kemana? '
Wanita itu sedikit berjongkok dan menumpu kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya dan menghela nafasnya yang terasa melelahkan.
" Byun Baekhyun! "
Merasa ada yang menyebut namanya, sontak gadis itu menoleh dan seketika bola matanya membulat.
' aku benar-benar tamat hari ini '
.
.
.
Conti…...
