Hai semua apa kabar? maaf ya aku telat banget ngepost chapter 2 soalnya tugas lagi banyak banget mana ada PR tiap hari. Buat yang ngeriview makasih banyak ya aku sangat senang dengan komentar positif dari kalian... ok lanjuuuuut~

Tittle : Sparkling Secret

Disclaimer : Naruto © Masashi Khisimoto

Story : Keishouta

Pairing : NarutoXHinata, etc

Rate : T

Warning : Typo everywhere, Gaje, Super OOC, Bahasa Tidak Baku

Genre : Fantasy, Friendship, Romance

Selamat Membaca ^^~

"Jadi, bisa kamu jelaskan semua ini No-na Sa-ku-ra?" Tanya Hinata dengan tatapan tajam seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat. Dengan sedikit -bagi Sakura penuh- penekanan, Hinata menyebutkan nama Sakura dan mampu membuat wajah si pemilik nama menjadi horror ketakutan.

Mereka bertiga -Hinata, Naruto, Sakura- duduk rapi mengelilingi kotatsu di ruang tamu di apartemen Hinata dengan catatan Hinata telah berpakaian tetapi Naruto hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Ya iyalah, ini kan apartemen Hinata jadi sudah pasti Hinata memiliki lusinan baju yang bisa dia pakai sedangkan Naruto? Hinata sendiri bingung kenapa Naruto tidak mengenakan pakaian apapun dan gak bawa baju lagi. Apa dia ke sini benar-benar bertubuh polos? Gak takut disangka orang gila apa ya?

Sakura yang sedari tadi ditatap tajam menyelidik oleh Hinata hanya mampu menundukkan wajahnya sambil menggenggam celananya. "Se-sebenarnya aku seorang penyihir." Jawab Sakura pelan. Sakura sama sekali tidak berbohong tentang dirinya yang seorang penyihir hanya saja Hinata tetap tidak percaya apapun yang dia katakan.

Hinata menaikkan sebelah alisnya, jawaban yang sama sekali tidak logis. Berkali-kali gadis dengan surai pink ini bersikukuh menyebut kalau dirinya itu seorang penyihir. Helloooo ini tahun 2012 kali, mana mungkin Hinata percaya jika ada seseorang yang bisa menggerakkan benda atau menghilangkan benda menggunakan hal magis atau disebut penyihir. "Sakura? Bisa kau jujur padaku?"

"A-aku penyihir yang berasal dari negeri Konoha, untuk menjadi penyihir yang resmi aku wajib melakukan serangkaian test. Salah satunya test nya aku lulus SMA di dunia manusia ini."

Mendengar penjelasan dari Sakura, Hinata hanya mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya kemudian dia mendesah kesal karena sepertinya pembicaraan ini terkesan sia-sia. Sungguh anak ini mempunyai imajinasi yang tinggi!

"Kalau kamu penyihir apa buktinya?." Hinata sebenarnya malas meladeni Sakura yang menurutnya dari tadi berbicara gak karuan tapi Hinata butuh penjelasan. Kenapa Sakura dan Naruto bisa ada di kamarnya? Dan yang paling penting kemana anak kecil yang super imut berpipi chubby itu? Padahal Hinata belum puas mencubit pipi anak itu.

"Buktinya, anak kecil itu..." Naruto yang dari tadi diam tiba-tiba menimpali percakapan dua gadis itu, otomatis mereka menoleh ke arah Naruto. "Adalah aku.."

Sakura mengangguk-anggukan kepalanya sedangkan Hinata? Serasa tersambar petir setelah mendengar ucapan Naruto, Hinata seakan membeku ditempat. "Ti-tidak mungkin..." Ucap Hinata terbata-bata. Mana mungkin ada anak kecil berpenampilan imut, lucu, cute, pipi yang chubby dan kemerahan itu ternyata NARUTO?

"A-ano, sebenarnya..."

Sakura's Flashback

Sudah hampir sebulan lebih Sakura dan teman seperjuangannya, Gaara tinggal di dunia manusia. Dengan bantuan dari Anko, staf administrasi Negeri Konoha, mereka ditempatkan dirumah sederhana dan bisa bersekolah disalah satu SMA bergengsi di Tokyo. Meskipun sudah satu bulan tinggal di dunia manusia, Sakura masih saja suka kelepasan menggunakan sihirnya di tempat umum. Contohnya ketika Sakura membeli cupcakes almond kesukaannya, karena dia merasa jika satu kurang, Sakura mengunakan sihirnya sehingga cupcakes tersebut menjadi 2, 3 eh bahkan memenuhi rumahnya bahkan tumpahan sia-sia keluar rumah. Untungnya ada Gaara yang selalu bisa mengatasi kecerobohan Sakura yang sudah dalam tingkat akut. Padahal Gaara setiap hari bilang jika menggunakan sihir harus secara teliti dan hati-hati, mungkin saat ini tidak ada manusia yang melihat tapi lain kali? Gaara tidak bisa menjamin.

"Sakura, hari ini aku ada latihan sepak bola kalau kau mau pulang tidak apa-apa kok." Gaara selalu disibukkan jadwal latihan sepak bolanya sehingga Sakura dan Gaara yang notabenenya tinggal serumah jadi jarang pulang bersama. Padahal dulu ketika baru-baru tinggal di dunia manusia mereka selalu pulang bersama. Sebenarnya Sakura sedikit sedih karena hubungan persahabatannya dengan Gaara seakan merenggang tapi di satu sisi Sakura senang karena sahabatnya itu sekarang mempunyai banyak teman.

"Tidak apa-apa Gaara, aku juga akan mengerjakan tugas di perpustakaan kok."

"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Setelah berjalan beberapa langkah Gaara berhenti sebentar. "Ingat Sakura, jangan sampai ada manusia yang melihatmu menggunakan sihir. Kau tau kan apa konsekuensinya apabila ketahuan pihak Konoha jika itu terjadi?" Lagi-lagi Gaara memperingatkan Sakura. Mungkin Sakura sudah bosan mendengar hal tersebut beratus-ratus kali dari mulutnya, tapi ini demi kebaikan Sakura sendiri. Sebagai sahabat baik Sakura, Gaara juga ingin melihat teman dari masa kecilnya ini bisa lulus dan resmi menjadi penyihir yang di akui seluruh penjuru Negeri Konoha.

Keringat Sakura menetes mendengar peringatan dari Gaara. Dia sedikit gugup, dia tahu apa hukuman jika sihirnya terlihat oleh manusia. Peraturan Konoha pasal 25: 'Jika penyihir yang melakukan test di dunia manusia menggunakan sihirnya kemudian terlihat oleh manusia itu sendiri, baik disengaja ataupun tidak disengaja maka penyihir tersebut akan didiskualifikasi.' Tentu saja Sakura sangat hafal dengan peraturan tersebut. Bagaimanapun juga Sakura ingin lulus test ini agar bisa membawa nama baik keluarganya dan membuat orang tuanya bangga juga membuktikan pada penyihir di seluruh Konoha jika dirinya bukanlah penyihir yang ceroboh atau bodoh.

Setelah Gaara berpamitan dengan Sakura, si rambut pink merasa tenggorokannya kering karena teringat oleh pesan Gaara yang selalu membuatnya gugup. Sakura ingin sekali minum untuk memenuhi tenggorokannya yang kering. Sesampainya di depan mesin minuman Sakura menekan tombolnya.

"Ya-yah salah tekan deh. Aku kan inginnya orange juice kalengan, kenapa jadi cola! Ini mah bukannya rasa hausku yang akan hilang malah tenggorokanku akan sakit." Sakura berdecak kesal. Salahkan Gaara yang tiba-tiba mengingatkan hal -yang menurut Sakura- menyeramkan, dia jadi menekan tombol mesin minuman sambil melamun sehingga tangannya bergeser menekan tombol yang lain.

Sakura berjongkok di halaman belakang sekolah sambil memandangi kaleng cola. "Apa aku minum saja ya? Ah tapi aku gak suka minuman yang seperti ini." Sakura sedikit sweatdrop sambil memejamkan matanya karena dia ingat, terakhir kali minum cola suaranya menjadi hilang dan tenggorokkannya menjadi sakit.

Sesaat kemudian terbesit dalam pikirannya untuk menggunakan sihir. 'Apa aku rubah menjadi orange juice pakai sihir ya? Lagi pula disekitar sini tidak ada orang kan?' Batin Sakura sambil celingak-celinguk kekiri, kekanan, keatas (cuma ada burung yang terbang) bahkan kebawah (cuma ada satu semut yang terlihat lelah karena perjalanan jauhnya mungkin). Yosh! Tidak ada orang.

Sakura meletakkan kaleng cola di depannya, kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang bentuknya mirip Tab. "Electric Memo~." Kata Sakura dengan nada seperti Doraemon yang mengeluarkan benda dari kantung ajaibnya.

"Ini dia ketemu..." Setelah mengutak-atik benda yang disebutnya electric memo itu, Sakura menemukan apa yang dia cari. "Magic spellnya."

Sakura memejamkan matanya sambil mengucapkan kata-kata asing yang pasti manusia tidak mengerti apapun yang dia ucapkan. Tanpa Sakura sadari seseorang berambut pirang sedang berlari kearahnya, tidak kearahnya sih hanya numpang lewat saja.

"Ah, go-gomen." Tidak sengaja si blondie menendang kaleng cola yang di depan Sakura. Setelah menendang kaleng dengan gerakan slow motion seperti matrix, si pirang melangkahkan kakinya untuk melanjutkan lari-nya lagi tapi disaat yang bersamaan kedua tangan Sakura yang seperti mendorong menjulur kearahnya.

"Realize!"

Setelah mengucapkan kata-kata itu Sakura membuka kedua matanya. Mungkin sakin konsentrasinya sehingga dia tidak menyadari ada seseorang yang posenya seperti orang berlari tapi diam ditempat sambil menengok ke arahnya. Kedua mata mereka saling bertatapan, ada jeda beberapa detik.

Sapphire bertemu emerald

"Na-naruto?." Sakura sangat terkejut dengan kehadiran Naruto dan yang membuat Sakura lebih terkejut lagi tiba-tiba tubuh Naruto bersinar-sinar seperti dikelilingi glitter-glitter, Sakura biasa menyebutnya cahaya sihir.

Sosok Naruto pun berubah menjadi anak kecil yang menatap Sakura dengan wajah polosnya.

Sakura memandang Naruto dengan tatapan kosong. "Habis ini matilah aku." Kemudian Sakura jatuh menyamping pingsan ditempat dan Naruto kecil hanya memandangnya tidak mengerti kemudian dia mengucapkan...

"can tee." Kata Naruto pelan. Sakura mendudukkan badannya yang tergeletak dengan cepat, layaknya vampire yang bangkit dari peti matinya.

"Apa katamu!" Urat kekesalan Sakura muncul karena dia mendengar Naruto memanggilnya dengan sebutan 'tante'.

Sakura's Flashback end

"Sumpah cerita yang terakhir gak penting banget." Kata Hinata sambil melirik Sakura dengan gaya-gaya anime yang matanya disipitkan.

"Banget." Naruto menimpali dengan gaya yang sama persis dengan Hinata.

"Hehe." Sakura hanya terkekeh kaku. "Habis aku kan kesal dipanggil tante oleh om-om yang mempunyai wajah perv seperti dia." Sakura menunjuk-nunjuk Naruto sambil menimbulkan urat kekesalan didahinya yang lebar.

"Enak saja siapa yang om-om." Kata Naruto juga gak mau kalah. "Lagian yang mengucapkan tante itu aku yang masih kecil kan bukan aku yang sekarang."

"Kyaaa kyaaa."

"Gyaa gyaaa."

Terjadilah adu mulut antara Naruto dan Sakura. Hinata dapat melihat urat kekesalan ada dimana-mana (seperti yang di dalam manga) ada yang berasal dari tubuh mereka sendiri, bahkan lampu, ac dan tembok pun terlihat seperti mengeluarkan urat.

Hinata mengambil remote tv dan menyalahkan tv. Dia mengganti channel tv ke mode AV, membuat volumenya menjadi max dan mengganti channelnya kesaluran lain.

"+ '?`4*1'!,$:'-+%!.$'/,.:'/;6!,';/" TV itu mengeluarkan suara yang ribut dan sangat mengganggu sontak Naruto dan Sakura menghentikan acara adu mulutnya dan langsung duduk rapih di tempat masing-masing. Setelah melihat kedua orang dihadapannya libih tenang sedikit, Hinata segera mematikan tv nya.

"Su-suara apa itu tadi." Kata Naruto sambil merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan gemetaran.

"A-aku juga tidak tahu." Balas Sakura yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa kalian sudah tenang?" Hinata menatap mereka malas. Keduanya hanya menganggukkan kepalanya seperti murid TK yang menurut kepada sensei mereka.

"Jadi, kau dan Gaara adalah penyihir? dan gara-gara kecerobohanmu Naruto terkena sihirmu dan berubah menjadi anak kecil?" Tanya Hinata lagi, sebelumnya Hinata bukan tipe cewek yang suka mengorek rahasia dan suka ikut campur dalam urusan orang lain tapi ini kasus yang berbeda karena secara tidak langsung dirinya terlibat dalam peristiwa yang sama sekali tidak pernah dia duga atau percaya sebelumnya.

Sluuuurp

"Hmm." Sakura menganggukkan kepalanya. "Tapi aku tidak habis fikir kenapa Naruto yang terkena sihirku bisa kembali ke wujud semua."

Slurrrpp Slurrrpp

"Apa mungkin sihirmu sudah habis?" Tanya Hinata dan langsung mendapat tatapan horror dari Sakura.

Slurrrrp slurrrp slurrrrp

"Maksudmu aku tidak bisa menggunakan sihir lagi?"

Slurrrp slurrrp slurrrp

"Bukan begitu maksudku..."

Slurrrp slurrrrp slurrrp slurrrrp

"Naruto! Bisa diam tidak!?" Teriak Sakura dan Hinata bersamaan. Sudah habis kesabaran mereka berdua, disaat mereka berdua sedang berdiskusi tentang apa-yang-sedang-terjadi-saat ini eh dia malah enak-enakan makan ramen cup instant yang mereka berdua tidak tahu kapan Naruto membuatnya, pake berisik lagi makannya. Kan bikin jengkel!

"Ehehehe maaf, maaf." Naruto nyengir lebar sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

"Jadi apa kau melakukan sesuatu pada Naruto? Karena setahuku aku melakukan sihir yang sifatnya permanen." Memang Sakura melakukan sihir yang permanen karena dia benar-benar niat untuk mengubah cola menjadi orange juice tapi Sakura tidak tahu jika sihir mengubah suatu benda bisa berefek pada manusia.

Mendengar kalimat 'permanen' dari Sakura membuat Hinata dan Naruto bergidik ngeri. Apa selamanya Naruto akan terperangkap oleh sihir Sakura? Hinata dan Naruto berfikir keras tentang apa yang membuat Naruto bisa kembali seperti semula.

"Sebelum Naruto tidur, aku memberinya sebotol susu apa itu berpengaruh?" Sepertinya perkiraaan Hinata salah, karena sebelum ini Sakura juga sudah berkali-kali memberikan Naruto sebotol susu karena kejadian ini sudah berlangsung selama 2 hari karena itu Sakura terpaksa mengurus Naruto kecil dirumahnya. Untung saja saat itu Gaara sedang menginap dirumah temannya sehingga dia tidak tahu kejadian ini tetapi hari ini dia sudah pulang kerumah.

"Apa karena Hinata mencium pipiku?" Kata Naruto dan langsung mendapat death glare dari Hinata. 'mesum!' Itulah pikiran Hinata saat Naruto mengatakan hal tersebut. "Aku serius, sehabis Hinata mencium pipiku aku merasa ada perubahan dalam tubuhku tapi karena terlalu lelah aku jadi tidak bisa membuka mata."

"Ciuman dipipi ya? Sepertinya masuk akal." Sakura mengeluarkan electric memo dari ranselnya. Hinata yang penasaran menanyakan apa yang sedang Sakura pegang. Memang bentuknya seperti Tab tapi ini lebih tipis, bahkan setipis kaca juga dilayarnya keluar simbol-simbol aneh. "Ini adalah EM aka electric memo, disini terdapat banyak catatan magic spell untuk melakukan sihir." Hinata hanya membentuk huruf 'o' pada mulutnya.

"Oh, aku kira sihir itu seperti di film-film atau manga edisi cewek yang menggunakan tongkat diputar-putar dan mengucapkan mantera." ujar Naruto.

"Lah mana aku tahu. Selama ini aku diajari menggunakan sihir dengan cara konsentrasi pada suatu objek dan merapalkan beberapa kata sihir." Sakura masih sibuk mengutak-atik EM-nya, touch sana touch sini. "oh iya Hinata, bisakah Naruto tinggal disini untuk sementara waktu sampai aku bisa menemukan cara untuk menetralisirkan sihirku?" lanjutnya.

"Tentu saja..." Sakura berharap penuh dengan jawabannya. Hinata yang diam sebentar membuat Sakura dan Naruto memandangnya lekat-lekat. "Tidak."

Gubraaaak

Sakura dan Naruto terjatuh sambil sweatdrop, mereka kira Hinata akan menjawab boleh. "Ta-tapi Hinata, aku gak mungkin membawa Naruto kembali kerumah karena Gaara sudah pulang. Lagi pula nantinya Naruto akan berubah menjadi anak kecil lagi kok karena sihirku belum hilang sepenuhnya." Sakura menggenggam kedua tanggannya yang disejajarkan didada sambil memandang Hinata dengan kitten eyesnya.

"Itu benar Hinata-chan, tolong aku ya... Aku gak tau apa yang terjadi jika orang tua ku melihat putranya bisa berubah-ubah menjadi anak kecil begini." Naruto juga memasang kitten eyesnya.

"Bayangkan Hinata, akan ada anak kecil yang imut memenuhi harimu dengan senyuman lucunya, bahkan setiap pagi akan ada yang membangunkanmu dengan suara yang aaaah pastinya kawaii~" Damn! Sakura benar! Naruto mini mode itu kan cute seperti boneka sehingga Hinata luluh karena membayangkan anak itu akan mengisi hari-harinya dan mau tidak mau, sadar atau tidak sadar Hinata reflek bilang 'iya'. Susah juga menjadi orang yang gampang tertarik dengan hal-hal yang berbau cute ya, hahaha dasar Hinata.

"Ok aku pulang dulu ya, aku akan mengirim pakaian-pakaian Naruto jika sudah sampai rumah menggunakan sihirku."

"Tu-tunggu Sakura, bahaya kan jika perempuan berkeliaran dijalan tengah malah begini?" Hinata sedikit khawatir pada Sakura karena bagaimanapun Hinata tipe orang yang solidaritasnya tinggi. Inginnya sih Hinata mengantar Sakura sampai depan rumahnya tapi Hinata sendiri kan tidak boleh keluar lewat dari jam 9 malam. aduh bagaimana ini?

"Tenang saja aku kan penyihir." Sakura mengedipkan matanya. "Realize!" Setelah mengatakan itu tubuh Sakura dikelilingi cahaya kelap-kelip dan sosoknya menghilang.

"Te-ternyata benar-benar penyihir ya?" Hinata diam terpaku setelah melihat sosok Sakura yang menghilang seperti menggunakan sihir teleportasi yang pernah sekali dia liat di film-film. Tadinya Hinata berniat akan pingsan ditempat tapi dia teringat jika masih ada Naruto yang akan tinggal beberapa hari kedepan di apartemennya.

"Naruto_kun, kau bisa menggunakan kamar tamu yang disebelah sana."

ZZZZZZZzzzz

"Yah, dia tidur." Hinata sweatdrop melihat Naruto yang sudah tertidur pulas di kursi, baru ditinggal beberapa menit eh sudah ngorok begini. Hinata sedikit membetulkan selimut Naruto yang sedikit tersibak hingga ke bagian leher Naruto. "Oyasumi"

O_O O_O

Baru saja Hinata memejamkan matanya setelah semalam suntuk mengalami kejadian dimana dia bertemu penyihir dan korban penyihir. Tidak baru sih terbukti matahari telah terbit dan jam sudah menunjukkan jam 9 pagi eh malah ponselnya berbunyi terus menerus. Seingat Hinata dia tidak menyalahkan alarm pada ponselnya tapi kenapa bunyinya itu terus menerus. Ingin sekali rasanya Hinata membuangnya ke luar jendela.

"Moshi-moshi." Kata Hinata datar, ternyata bunyi yang terus-terusan itu karena ada seseorang yang menelponnya.

"Moshi-moshi, ohayou Hinata." Sepertinya Hinata sangat mengenal suara baritone yang diseberang sana, begitu melihat layar ponselnya Hinata langsung menatap malas.

"Ohayou Sasuke, ada apa?" Tanya Hinata to the point dengan suara yang pura-pura lembut. Sasuke mungkin berfikir Hinata sedang tersenyum menjawab telpon nya tapi nyatanya Hinata sedang meremas gulingnya yang tak berdosa karena kesal ada yang mengganggu sleeping beauty-nya.

"Aku berada di depan pintu apartemenmu, hari ini aku ingin mengajakmu jalan-jalan."

"Oh begitu, baiklah akan kubuka-kan APA?!" What in the world! Kenapa Uchiha yang satu ini suka berbuat seenaknya? Hinata yakin sebelum mengajaknya pergi dia pasti sudah izin terlebih dahulu pada Hiashi, ayahnya. Yang lebih parah seperti yang sudah-sudah jika ayahnya sudah mengijinkan, beliau bahkan meminjamkan kunci apartemen sehingga Sasuke bisa keluar masuk dengan bebasnya.

Panik

Ya Hinata yang panik sampai kepalanya berputar-putar pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak? Gara-gara kesalahan sihir Sakura, Naruto berubah menjadi anak kecil dan membuat Hinata kerepotan karena terpaksa Naruto harus tinggal di apartemennya sampai Sakura menemukan cara untuk menetralisirkan sihirnya. Apa kata Sasuke jika melihat Naruto ada disini? Masih mending jika hanya itu persoalannya nah ini, Naruto kan masih bertubuh polos a.k.a bertelanjang. Memang semalam sebelum pulang, Sakura bilang akan mengirimkan baju-baju Naruto menggunakan Sihirnya. Ya kalau Naruto sudah berpakaian nah jika belum? Semalam saja Naruto tidur dengan pulasnya diruang tamu tanpa menghiraukan panggilan Hinata. Ok tamatlah riwayat Hinata. Bisa-bisa jika hal ini sampai ketelinga ayahnya kalau Hinata memasukkan laki-laki ke apartemennya hilang sudah kepercayaan ayahnya pada Hinata untuk hidup sendiri. Hinata pasti dijebloskan kedalam rumah mewah perpenghuni 2 iblis betina yang hobinya mengganggu ketenangan hidup orang lain.

"Aku tidak mau hal itu terjadi!" Cepat-cepat Hinata keluar kamarnya dan ingin menyembunyikan Naruto yang semalam ketiduran diruang tamu. Masa bodo dengan berat atau tidaknya tubuh Naruto yang penting Hinata bisa melemparnya kedalam lemari dan menguncinya sebelum Sasuke melihat, tapi kepanikan Hinata hilang entah kemana dalam sekejap ketika melihat objek yang dia cari diruang tamu. Anak kecil yang kira-kira berumur 4 tahun, berpakaian kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna merah juga celana pendek hitam yang pas dengan ukuran tubuhnya yang kecil sedang makan sereal sambil nonton film kartun.

"Kyaaaaa Kawaiiiiii." Hinata segera memeluk Naruto kecil. Tiba-tiba disekeliling Hinata mencul bunga-bunga yang bertebaran karena betapa senangnya Hinata pagi-pagi dihidangkan dengan objek yang super duper imut.

Sasuke membuka pintu apartemen Hinata agak sedikit kaget, begitu membuka pintu dia disambut oleh bunga-bunga yang bertebaran memenuhi ruang tamu Hinata. Sasuke melihat Hinata yang memeluk seorang anak kecil. "Siapa dia?" Begitu Sasuke bertanya, Hinata langsung membalikkan wajahnya kearah Sasuke dengan senyuman yang -menurut Sasuke- sungguh menawan.

"Dia anak kenalanku yang dititipkan selama beberapa hari." Jawab Hinata. Hinata berdiri didepan Sasuke dengan gaya seperti gadis-gadis yang menyambut kekasihnya dengan malu-malu. "Sasuke kau tampan sekali hari ini." Hinata tidak bisa menyembunyikan moodnya yang sedang baik hingga mengeluarkan kata-kata yang cukup mustahil dari mulutnya. Sasuke sampai menyembunyikan wajahnya yang merah. Selama ini Sasuke sudah bosan mendengar orang-orang yang memujinya tapi, baru kali ini seumur hidupnya Hinata yang memuji ketampanan Sasuke. OH GOD!

"Sasuke-kun~ hari ini kita ketaman hiburan ya~" Hinata yang menggendong Naruto kecil kali ini memain-mainkan telunjuknya di dada Sasuke. Sasuke menelan ludahnya karena grogi setengah hidup dengan perlakuan Hinata. Apa ini artinya Hinata mulai mengakui pesona Uchiha dan sekarang menyukainya?

'Yess! Aku yakin Hinata mulai menyukaiku' Batin Sasuke narsis kegirangan. "A-apapun ya-yang Hinata inginkan pa-pasti akan a-aku ka-kabulkan." Tapi itu tidak menutupi betapa groginya Sasuke hingga dia berbicara terbata-bata.

"Kyaaa, makasih Sasuke-kun." Hinata mengedipkan sebelah matanya dan hampir membuat Sasuke noseebleeding di tempat. "Aku ganti pakaian dulu ya~" Hinata menyerahkan Naruto kecil pada Sasuke kemudian dia berlari sambil melompat-lompat kegirangan karena membayangkan betapa bahagianya jika bisa bermain ditaman hiburan bersama Naruto kecil yang lucu dan manis.

"Ga-gawat hampir saja aku mimisan, Hinata sungguh manis sekali." Sungguh bagi Sasuke sekarang dirinya terlihat sangat bodoh. Seorang Uchiha yang tidak bisa menyembunyikan groginya di depan orang yang dia suka. Setelah ini Sasuke harus mengutuk dirinya karena tidak bisa menahan sikap Ooc-nya.

"Maaamaa." Naruto kecil yang ada dipelukan Sasuke menggeliat kecil, tangannya berusaha menggapai Hinata yang berlari memasuki kamar. Setelah Hinata masuk kamar Naruto mendesah kecewa, kemudian dia melirik wajah Sasuke yang ada diatasnya dan memeluk Sasuke. "Papaaa."

Sasuke yang melihat Naruto yang menganggapnya Hinata sebagai ibunya, sekarang memanggil namanya dengan sebutan papa hanya tersenyum kecil. "Kau lucu sekali." Betapa beruntungnya Sasuke hari ini, sudah Hinata menjadi manja begini sekarang ada anak kecil yang menganggap Hinata dan Sasuke adalah orang tuanya.

O_O O_O

Sakura yang telah berpakaian rapih segera keluar dari kamarnya dan turun tangga menuju ruang tamu dirumahnya sambil bersiul-siul.

"Kau sudah siap Sakura? Kiba dan Shikamaru sudah menunggu diluar." Kata Gaara yang sedang memakai sepatunya.

"Okee, mari kita menuju taman hiburan!" Seru Sakura dengan senangnya.

Apakah yang akan terjadi di taman hiburan?

To Be Continue...

Mind to review? :D