Disclaimer :

Detektif Conan = Gosho Aoyama, Dia Milikku = Yovie n Nuno.

Catatan Penulis :

Salam kangen buat Beados, conanlovers, Airin Aizawa, rin nara seasui, Divinne Oxalyth, mommiji aki, Lionel Sanchez Kazumi, , Uzura Norayuki, Nachie-chan dan ShinYi.

Beados : Senengnya udah ditungguin. Ntar kalau kukasih spoiler nggak seru jadi itu masih ra-ha-si-a.

conanlovers : Trims, aku nggak janji tapi akan kupertimbangkan. He he he.

Nachie-chan : Emang belum. Semoga semakin tambah chapter, semakin nyambung.

Chapter ini sepertinya agak berbahaya. Tapi aku akan tetap berusaha menjaga rating.

Selamat membaca dan berkomentar...


Dia Milikku

By Enji86

Bagian Dua

Bukankah belum pasti

Kamu juga kan jadi

Dengan dirinya

Dia yang menentukan

Apa yang kan terjadi

Tak usah mengaturku

Setelah mengambil baju dan selimut dari kamar Shinichi dan meletakkannya di kamar Heiji, Shiho kembali ke ruang tengah untuk mengambil wedang jahe dan bubur yang sudah dibuatnya. Lalu dia membantu Shinichi dan Heiji duduk supaya mereka bisa minum wedang jahe dan makan bubur yang sudah dibuatnya itu.

Ketika Shiho meminumkan wedang jahenya ke mulut Shinichi, baru minum seteguk Shinichi langsung ingin memuntahkannya tapi Shiho dengan cueknya terus memasukkan isi gelas tersebut ke dalam mulutnya sampai habis tanpa mempedulikan protesnya sehingga dia hampir tersedak. Shiho juga melakukannya pada Heiji sehingga mereka berdua mempunyai pikiran yang sama.

"Ini cewek benar-benar tega ya," pikir mereka berdua.

Pada awalnya, mereka berdua merasa tenggorokan mereka seperti terbakar setelah minum wedang jahe buatan Shiho tapi beberapa saat kemudian mereka bisa merasakan kalau tubuh mereka mulai menghangat. Pusing di kepala mereka pun juga mulai berkurang.

"Sekarang waktunya makan," ucap Shiho sambil mengambil mangkuk berisi bubur yang ada di atas meja.

"Nggak ah," ucap Shinichi.

"Aku juga nggak. Wedang jahe tadi membuatku nggak pengin makan apa-apa lagi," ucap Heiji.

"Eh, nggak bisa gitu. Pasien yang baik itu harus nurut apa kata dokter jadi kalau dokter nyuruh makan ya harus makan," ucap Shiho sambil menampilkan senyumnya yang paling manis sekaligus mengerikan.

Shinichi dan Heiji hanya bisa mengerang karena mereka tahu kalau Shiho sudah menampilkan senyumnya yang itu, berarti dia nggak mau dibantah.

Shiho naik ke tempat tidur lalu duduk diantara mereka berdua supaya dia bisa menyuapi mereka berdua. Untungnya tempat tidur itu cukup besar sehingga bisa muat tiga orang. Begitu Shiho naik ke tempat tidur, tubuh Shinichi dan Heiji menjadi tegang dan mereka merasa nggak enak sendiri karena mereka tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut. Tapi ketika mereka melihat Shiho yang kelihatannya biasa-biasa aja dengan keadaan ini, tubuh mereka pun rileks kembali.

"Aku konyol banget sih. Padahal aku udah tahu walaupun aku bugil di depan Shiho juga, dia pasti bakalan tetap seperti biasanya," ucap mereka berdua dalam hati, mengomeli diri mereka sendiri yang sempat merasa nggak enak hati ketika Shiho naik ke tempat tidur.

Setelah buburnya habis, Shiho turun dari tempat tidur lalu melepas jas lab putih yang dipakainya dan menyampirkannya di sandaran kursi yang ada di kamar Heiji sehingga sekarang dia cuma mengenakan T-shirt yang agak longgar kemudian kembali ke tepi tempat tidur Heiji sambil membawa balsem dan uang logam.

"Buat apa tuh balsem dan koin?" tanya Shinichi penasaran. Heiji juga melihat kedua benda yang ada di tangan Shiho dengan pandangan penasaran dan sedikit curiga.

"Oh ini, kedua benda ini untuk mengobati masuk angin," jawab Shiho.

"Gimana caranya?" tanya Heiji.

"Ntar kalian juga bisa lihat sendiri," jawab Shiho kemudian mengalihkan pandangannya ke Shinichi sambil tersenyum. "Nah Kudo-kun, kamu dapat giliran pertama ya, soalnya dari dulu kamu kan kelinci percobaanku yang tersayang."

Kengerian langsung menyelimuti Shinichi dan Heiji. Kalau Shiho bilang mereka adalah kelinci percobaan berarti ini pertama kalinya dia mencoba metode pengobatan gaje itu.

"Kenapa nggak pakai obat yang biasa aja sih?" tanya Shinichi sambil memohon.

"Iya, yang biasa aja ya, Shiho," ucap Heiji ikut-ikutan memohon.

"Kalau pakai obat biasa, sembuhnya bakalan lama padahal besok aku ada acara baksos (bakti sosial) sama anak-anak Klub Sukarela jadi aku nggak bisa ngurusin kalian besok. Kalau pakai metode ini, katanya bisa sembuh dalam semalam aja," ucap Shiho.

"Oh, kalau itu, aku bisa nelpon Ran buat ngurusin kami besok, gimana?" tawar Shinichi.

"Iya sih, tapi tetep aja aku pengin nyoba metode ini jadi aku akan tetap melakukannya, kalian tahu sendiri kan, aku orangnya kayak gimana," ucap Shiho.

Shinichi dan Heiji akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga mereka masih bisa membuka mata besok pagi. Tentu saja itu sangat berlebihan, tapi apa boleh buat, Shiho terlalu mengerikan sih.

Shiho meminta Shinichi maju sedikit dari tempatnya duduk sebelumnya sehingga Shiho bisa duduk di belakangnya dan memulai pengobatannya. Sebelum bergerak maju, Shinichi terlebih dulu melingkarkan selimutnya dengan erat di pinggangnya soalnya dia lagi telanjang.

Heiji bertambah cemas ketika melihat punggung Shinichi yang diolesi balsem dan digosok uang logam berubah warna menjadi merah. Apalagi semakin lama digosok warnanya semakin merah. Tapi Heiji juga heran karena Shinichi dari tadi tidak bersuara sedikitpun dan hanya duduk dalam diam.

"Wah, warnanya merah banget nih. Kata kakak kelasku yang mengajariku metode ini, kalau merahnya tua kayak gini berarti anginnya banyak. Katanya ini metode tradisional dari negaranya untuk mengobati masuk angin dan sangat manjur," ucap Shiho seolah-olah bisa merasakan kecemasan Heiji dan berusaha menenangkannya.

Setelah menggambar garis-garis merah yang simetris di punggung Shinichi dengan uang logam dan balsem, Shiho bergerak ke hadapan Shinichi dan mulai menggambar garis-garis merah lagi di leher bagian samping Shinichi. Setelah selesai dengan leher Shinichi, Shiho bergerak menuju Heiji dan Shinichi langsung berbaring di tempat tidur dan menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik selimut. Baru kali ini dia seintim ini dengan seorang cewek. Memang dia pernah saling menggosok punggung dengan Ran dan mereka berdua saat itu telanjang bulat tapi itu tidak bisa masuk hitungan soalnya saat itu dia masih jadi Conan sehingga suasana dan rasanya jauh berbeda.

Heiji masih saja merasa cemas walaupun Shiho sudah memberi penjelasan padanya. Namun begitu Shiho yang sudah menempatkan dirinya di belakang punggungnya menyentuh bahunya dengan tangannya yang halus dan hangat, Heiji langsung mati rasa. Walaupun Shiho sudah mulai menggambar garis-garis merah di punggungnya, yang bisa Heiji rasakan hanyalah jari-jari Shiho di bahunya yang kemudian bergerak turun menelusuri punggungnya. Heiji merasa kulitnya seolah terbakar setelah disentuh oleh Shiho dan dia merasa sangat kecewa ketika Shiho berhenti menyentuh punggungnya karena Shiho sudah menyelesaikan pekerjaannya di punggungnya.

Ketika Shiho bergerak ke hadapan Heiji dan mulai menggambar garis-garis merah di lehernya, perasaan Heiji menjadi semakin tak menentu. Dia mengamati wajah Shiho yang begitu dekat dengan wajahnya dan menemukan bahwa Shiho benar-benar cantik luar biasa. Matanya tajam dan penuh konsentrasi, hidungnya sempurna, pipinya mengundang untuk disentuh dan bibirnya kelihatan sangat seksi. Selain itu, terdapat butir-butir keringat di dahinya yang mulai bergerak turun ke bawah sehingga Shiho benar-benar terlihat hot di matanya saat ini. Semua ini juga masih ditambah dengan aroma stroberi dari tubuh Shiho yang juga sangat dekat dengan tubuhnya sehingga membuat Heiji semakin mabuk.

Untung saja Shiho sudah menarik diri dari Heiji, karena pekerjaannya sudah selesai, sebelum hormon Heiji menendang akal sehatnya dan mengambil alih tubuhnya. Sama seperti Shinichi, ini juga pertama kalinya Heiji seintim ini dengan seorang cewek. Heiji juga langsung berbaring dan menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut.

"Hei, jangan tidur dulu. Kalian kan belum pakai baju. Bisa sia-sia kerja kerasku barusan," ucap Shiho dengan sedikit kesal ketika melihat dua pasiennya sudah berbaring dan menutupi seluruh badannya, termasuk wajah, dengan selimut.

Mendengar ucapan Shiho, Shinichi dan Heiji membuka selimut mereka sampai dada dengan enggan. Mereka melihat Shiho berjalan menjauhi tempat tidur sebentar kemudian kembali dengan piyama, sweater dan baju dalam mereka masing-masing. Shiho membantu mereka berdua berpakaian kemudian mengucapkan selamat tidur dan melangkah keluar dari kamar Heiji dengan jas lab di tangannya.

"Sori ya, guys," gumam Shiho pelan setelah menutup pintu kamar Heiji. Kemudian dia bergegas melangkah menuju kamarnya.

Dia untukku

Bukan untukmu

Dia milikku

Bukan milikmu

Lihatlah nanti

Lihatlah saja

Biarkan aku

Mendekatinya

Keesokan harinya Heiji terbangun dan ketika dia menoleh, dia menemukan Shinichi yang juga mulai terbangun dari tidurnya.

"Pagi, Kudo," sapa Heiji ketika Shinichi menoleh ke arahnya.

"Pagi, Hattori," sahut Shinichi.

Kemudian mereka memandang jam dinding yang ada di kamar tersebut dan tertawa bersama karena jam tersebut menunjukkan jam satu siang.

"Sepertinya salam kita salah," ucap Shinichi sambil tertawa.

"Yeah, seharusnya kita saling mengucapkan selamat siang," ucap Heiji yang juga tertawa.

"Aku tidur nyenyak banget tadi malem. Badanku juga udah seger lagi sekarang," ucap Shinichi.

"Aku juga. Aku nggak nyangka metode pengobatan gaje yang dilakukan Shiho kemarin malem bener-bener manjur," ucap Heiji.

"Iya ya. Padahal aku kemarin udah mikir yang nggak-nggak. Yah, kayaknya kita harus mulai belajar percaya pada Shiho," ucap Shinichi.

"Sebenernya aku selalu percaya sama dia, cuma dia itu selalu penuh misteri dan nggak bisa ditebak sih, jadinya walaupun aku percaya, aku tetep aja ngerasa ngeri," ucap Heiji.

"Iya. Bener apa katamu barusan. Aku juga ngerasain hal yang sama," ucap Shinichi.

Lalu perut mereka keroncongan dengan kompak sehingga mereka bangkit dari tempat tidur dan melangkah keluar dari kamar Heiji menuju dapur. Mereka menemukan memo yang tertempel di pintu kulkas yang ditulis Shiho. Disitu ditulis kalau dia bakalan pulang malem dan kalau mereka berdua mau makan, makanannya ada di kulkas, tinggal dipanasin pakai microwave. Setelah sarapan sekaligus makan siang mereka jadi, mereka pergi ke ruang tengah untuk makan sambil nonton TV.

"Eh, tahu nggak. Entah kenapa rasanya aku nggak keberatan kalau aku harus masuk angin tiap hari jika Shiho yang ngerawat aku," ucap Heiji tiba-tiba sehingga membuat Shinichi menoleh ke arahnya dengan pandangan kaget.

"Hattori, kamu lagi demam ya," ucap Shinichi khawatir.

"Nggak. Aku nggak demam. Aku serius. Aku suka banget dengan sensasi yang kurasakan saat dia menyentuh kulitku, saat dia deket sama aku, rasanya tuh bener-bener misterius," ucap Heiji.

"Hattori, jangan bilang kamu suka sama Shiho," ucap Shinichi.

"Oh, jadi yang namanya suka sama cewek itu kayak gitu ya? Kalau gitu berarti aku emang suka sama dia," ucap Heiji.

Shinichi meletakkan piringnya di meja kemudian menatap wajah Heiji dengan serius.

"Hattori, dia itu tipe cewek yang sulit dan mengerikan jadi mending kamu buang jauh-jauh perasaan sukamu sama dia. Ntar kamu sendiri yang bakalan repot," ucap Shinichi.

"Iya sih. Tapi tetep aja dia itu sebenernya cewek yang baik dan berhati lembut. Udah gitu dia cerdas dan cantik. Dia juga ngertiin aku banget sejak aku mulai kenal sama dia. Kamu sendiri pasti tahu itu dari dulu, ya kan, Kudo?" ucap Heiji.

"Iya, aku tahu dia baik. Tapi tetep aja menurutku dia itu bukan tipe cewek yang cocok buatmu. Lagian, Toyama-san mau kamu kemanain kalau kamu jadian sama Shiho?" ucap Shinichi.

"Kazuha? Emang apa hubungannya masalah ini sama Kazuha?" tanya Heiji bingung.

"Lho, bukannya kalian saling suka tapi kamunya nggak sadar-sadar?" jawab Shinichi.

"Aku? Suka sama Kazuha? Ya nggak mungkin lah. Aku udah sama-sama dia dari kecil, dia itu udah kayak adik perempuanku sendiri soalnya aku kan anak tunggal. Ngebayangin aku jalan sama Kazuha sambil lovey dovey kayak orang pacaran aja udah bikin aku merinding," ucap Heiji sambil tertawa.

"Lha terus, kenapa kamu nggak rela kalau Kazuha deket-deket sama cowok lain?" tanya Shinichi lagi.

"Ya soalnya saat itu aku belum mau ditinggalin sama dia. Aku kan udah bilang dia itu udah kayak pengikutku yang selalu ikut aku kemana-mana. Dia itu orang yang paling deket sama aku setelah ortuku. Tapi setelah aku temenan sama kamu dan Shiho, aku sudah mulai bisa lepas dari dia. Bahkan kayaknya sekarang, aku sudah nggak keberatan kalau dia mau jalan sama cowok lain," ucap Heiji.

"Ya sudahlah, kalau kamu bilang gitu. Tapi kamu harus siap menanggung resikonya lho, kalau kamu sampai jadian sama Shiho. Kita kan nggak tahu dia itu tipe pacar seperti apa," ucap Shinichi.

"Tenang aja, Kudo. Aku nggak peduli pada apapun lagi asal Shiho jadi milikku dan aku percaya aku bakalan jadi cowok paling beruntung kalau Shiho jadi milikku," ucap Heiji dengan bersemangat.

Shinichi hanya diam saja mendengar ucapan Heiji. Jujur, sebenarnya dia merasakan sensasi yang sama seperti yang dirasakan Heiji tapi dia membuang rasa itu jauh-jauh karena dari dulu sampai sekarang dia selalu yakin kalau dia cinta sama Ran. Memang sampai sekarang dia belum juga nembak Ran soalnya nggak tahu kenapa dia jadi nggak bernafsu lagi nembak Ran setelah dia kembali jadi Shinichi, beda banget dengan pas dia jadi Conan dulu. Dia sudah merasa nyaman dengan hubungan mereka saat ini. Lagipula dia juga nggak khawatir Ran bakalan berpaling ke cowok lain. Orang waktu dia menghilang nggak jelas aja, Ran mau nungguin dia, apalagi kalau dia ada, Ran pasti nggak bakalan berpaling.

Pada hari-hari berikutnya, agenda harian Heiji pun dipenuhi dengan kegiatan PDKT ke Shiho, sementara Shiho sendiri kelihatannya tidak keberatan jika Heiji selalu beredar di sekitarnya. Shinichi yang melihat mereka berdua perlahan-lahan mulai merasa terganggu dengan kebersamaan mereka. Entah sampai kapan dia mampu bertahan.

Bersambung...