Nuuuhhh... I'm feeling so weak, Imma so weak like a virgin fragile little girl... *puppy eyes, dikubur paksa*

Tapi alhamdulillah pada akhirnya ch. 2 keluar. *lady tears*

Makasih banget buat yuuki arakawa07, Baka-pon, DJ-san, sama Lavallium Ditto atas review-nya. Semoga aja di ch. 2 ini ga separah kemarin.

Sok atuh dibaca kalo penasaran, ga usah malu-malu gitu.


-Disclaimer-

VOCALOID Copyright by YAMAHA and CRYPTON

(while I'm still hoping for its software fall freely from the sky)

- Kalo ga suka ga usah dibaca-

-Kalo ga suka ngapain dibuka?-

-Yah, berhubung udah dibuka sok atuh dibaca, sayang itu kuota-

-Budayakan Read 'n Review guna perkembangan author-


Dua bulan telah berlalu sejak kedatangannya ke tempat ini. Sekilas semua nampak tetaplah sama, tetapi sesungguhnya telah banyak perubahan yang terjadi di sana, akibat kedatangannya, semenjak kedatangannya.

"Miku-chan, makan siang bersama di kantin, yuk. Yang lain juga ikut, loh," ajak seorang anak perempuan dari kalangan school idols pada Miku siang itu.

Miku mendongak menatap anak itu kemudian mengalihkan pandangannya pada Luka.

"Luka, kau mau makan bersama mereka?" tanyanya pada Luka sambil menunjuk-nunjuk anak yang mengajaknya makan siang dengan ibu jarinya.

Luka menggeleng pelan dengan wajah meminta maaf dan berkata, "Aku masih harus menyelesaikan catatan ini, kalau kutinggal sekarang tidak akan selesai. Kalau kau mau makan duluan, makanlah."

Sembari mengatakan hal itu ia tersenyum kecil. Miku menggaruk belakang kepalanya dan kembali menatap anak yang mengajaknya makan siang bersama.

"Karena Luka tidak bisa jadi aku tidak bisa juga."

Anak itu secara tak langsung mengeluarkan tatapan kesal pada Luka. Di dalam sana ada geraman yang mengatakan bahwa Luka akan melihat akibatnya. Luka mengetahui hal itu namun berusaha untuk tidak menggubrisnya. Anak itu pun berlalu. Miku tertawa.

"Ada apa?" tanya Luka heran.

"Kau tidak lihat ekspresi wajahnya tadi saat aku menolaknya? Seperti akuma!" jawab Miku sambil tetap tertawa.

Luka hanya menggeleng pelan dan kembali melanjutkan catatannya.

+ LAL +

"Luka, tolong bersihkan ruang kelas ini sampai tidak tersisa setitik debu pun, mengerti?"

"Baik."

Lelaki tua itu berlalu dan Luka menghela nafas panjang setelahnya.

"Piket kelas?" seseorang muncul dari belakangnya, Miku.

Luka kaget akan kemunculan Miku yang tiba-tiba dan hanya mengangguk pelan.

"Aku sudah memeriksa seluruh sudut kelas dan benar saja anak-anak itu sengaja mengotori kelas agar kau lama membersihkannya."

"Memang selalu begitu."

Luka menghela nafas panjang sekali lagi dan beranjak memasuki kelas. Miku sengaja tidak masuk terlebih dahulu untuk melihat lelucon apa lagi yang akan dilontarkan anak-anak di kelas itu pada Luka.

"Hei, lihat teman-teman. Hari ini nampaknya ada seseorang yang sangat spesial di antara kita yang akan melakukan piket kelas."

Luka hanya diam menanggapi awal permainan teman-temannya itu.

"Tinggalkan semua sampah kalian di kelas agar anak ini yang membersihkannya."

Luka masih diam.

"Baiklah, 'sampah', kami harap kau membersihkannya sampai bersih, atau kau lihat akibatnya nanti."

Sudah diancam juga Luka tetap tebal muka, ia tetap diam dan meninggalkan kerumunan dan kembali ke tempatnya. Benar saja yang dikatakan Miku, bahkan tempatnya ikut dikotori, tetapi hal itu memang sudah biasa, ia tak heran. Permen karet, atau apapun, suatu lelucon yang sudah biasa.

+ LAL +

Luka masih membersihkan coretan-coretan di papan tulis. Spidol permanen memang bukan hal yang mudah, meskipun sudah berkali-kali ia gosok dengan sangat kuat. Miku berjalan masuk dengan membawa dua bungkus roti dan beberapa minuman ringan.

"Luka, istirahatlah dulu sejenak."

Luka menoleh, kemudian ia berhenti menggosok-gosok papan tulis dan duduk di hadapan Miku.

"Ini, makan dan minumlah," ucap Miku seraya memberikan roti yang satu dan menunjuk-nunjuk minuman di sebelahnya sambil tertawa kecil.

"Terima kasih, Miku," jawab Luka dengan menyunggingkan sebuah senyum penuh rasa berterima kasih.

Miku balas tersenyum dan membelai kepala Luka dengan lembut. Mereka kemudian memakan roti-roti yang dibawa Miku dan meminum susu kotaknya. Kaleng-kaleng minuman ringan dibiarkan tetap tertutup rapat, salah satu dari kaleng-kaleng itu akan dipakai untuk membersihkan coretan-coretan menyulitkan yang dibuat anak-anak biadab itu. Sambil beristirahat sejenak mereka juga membicarakan banyak hal, beberapa kali tertawa bersama, atau sekedar tertawa kecil sambil menggoda satu sama lain.

"Hei, Luka, kau tak pernah mau cerita mengapa kau selalu saja dijadikan lelucon oleh anak-anak di kelas ini. Aku selalu ingin mendengarnya, kau tahu? Aku merasa risih tak mengetahui apapun."

Luka terdiam. Wajahnya sedikit memerah. Tak pernah ada orang yang memperhatikannya sedemikian rupa, bahkan keluarganya sekalipun. Hanya Miku. Ya, hanya Miku seorang. Tetapi ia tak enak hati jika menceritakan semuanya pada Miku. Dengan begitu pasti ia akan merasa sudah menggantungkan segala yang telah dipikulknya sendiri selama ini pada Miku, dan secara otomatis Miku akan semakin tergeret dalam masalah-masalah lainnya.

"Aku… tidak bisa menceritakannya. Aku tidak ingin kau kesulitan hanya karenaku…"

Miku kembali khawatir. Ia menggenggam tangan Luka erat. Ia beranjak dari kursinya dan merunduk di hadapan Luka. Karena Luka menunduk maka ia menatap kedua bola mata berwarna biru lautan yang tenang itu dari bawah sana.

"Luka, siapa aku di matamu?"

Luka terkejut mendengar pertanyaan yang Miku lontarkan padanya. Kontan wajahnya memerah kembali dan ia mulai salah tingkah.

"Hei, ayolah, jawab saja."

Luka melirik ke arah Miku. Wajahnya juga memerah.

"T-tentu saja kau adalah sahabatku, hal itu tidak perlu kau pertanyakan."

"Jika memang aku sahabatmu, ceritakanlah. Kau tak perlu takut aku kesulitan atau apa, Luka."

Luka mengalihkan tatapannya masih sambil menunduk. Matanya kini terarah menerobos keluar jendela. Ia memilah kata demi kata yang tepat, berusaha meminimalisir kenyataan bahwa ia memang adalah sosok yang ditindas. Namun sayang Miku tak urung percaya akan kata-katanya. Miku menginginkan kejujurannya. Sepanjang sore itu iapun menceritakan seluruhnya pada Miku, seluruhnya.

"Semata-mata hanya karena aku lebih memilih untuk diam dibandingkan dengan banyak bertingkah seperti mereka. Aku tak pernah melawan meskipun mereka seringkali mengerjaiku, baik itu dalam taraf sepele atau serius. Mungkin hal itulah yang membuat mereka puas, dan tak berhenti mempermainkanku."

"Mereka mengancam jka aku berani melapor pada guru atau orang lain. Mereka mengancam, lantaran mereka berwenang di sini. Mereka akan membuatku benar-benar dipermalukan oleh semua orang dan akan membuatku mundur dari tempat ini. Maka dari itu aku terus diam."

"Aku menyesal sempat mempercayai orang lain…"

Luka berhenti berbicara. Tubuhnya gemetar. Ia menggigit bibirnya. Miku menatapnya khawatir.

"Mengapa…?" tanyanya hati-hati.

Luka meremas lutunya, berusaha menguatkan diri untuk mengeluarkan kata-kata yang tersumbat di tenggorokannya.

"Ia… ia menyebarkannya… menyebarkan semua yang aku ceritakan padanya… dan membiarkanku begitu saja ketika…"

Luka kembali diam. Kini wajahnya terlihat begitu pucat. Ada segenggam rasa takut tak terperai yang kini menyelimutinya.

"Mereka mengerjaimu di toilet, menyirammu habis-habisan sambil memaki dan membentakmu, bahkan mencelupkan wajahmu ke dalam kloset…?" Miku bertanya separuh berbisik.

Luka terperangah.

"Bagaimana kau tahu…?"

Miku menghela nafas panjang, memejamkan wajahnya sekilas, lalu menatap kedua mata Luka lekat-lekat.

"Hal itu begitu umum terjadi. Sangat menjijikkan, aku tahu itu. Kau bahkan dipaksa untuk menguik seperti babi sampai mereka puas..."

Luka kini benar-benar diam sepenuhnya. Semua yang Miku katakan, semua itu memang pernah ia rasakan. Semua rangkaian kejadian di toilet yang ia rasakan dulu muncul samar-samar. Samar-samar. Dan terputus begitu saja. Karena ia tak kuat. Ia tak mampu mengingat semua hal menjijikkan itu kembali. Ia ingat saat ia diseret masuk ke salah satu bilik toilet dan diguyur dengan air bekas mengepel lantai dan sebuah tangan menjambaknya dan terdengar suara-suara yang mulai mencaci maki dirinya, sambil ada pula yang meludahinya. Namun ia hanya diam, menahan semua perasaannya dalam-dalam, dan ia sadar bahwa hal itu yang membuat mereka semakin gila. Orang yang menjambaknya kemudian membenturkan wajahnya ke dalam kloset di bilik itu dan seorang lainnya mengatainya dilanjutkan dengan menekan tombol flush sehingga kepalanya seperti sedang dicuci… dengan cara yang sangat kotor. Ia megap-megap dan memaksa kepalanya bangkit, terbatuk-batuk, muntah. Mereka semakin senang. Di antaranya ada yang menyuruhnya menguik, dan mengatakan akan melepaskannya jika ia menurut. Ia hanya ingin mereka pergi, ia tak kuasa dengan ini semua. Iapun mulai menguik. Hinaan seperti "Dasar babi busuk," atau "Babi keparat," terus berputar mengarah padanya. Yang terakhir ia ingat adalah ia mengalami pendarahan pada hidungnya dan ia berhenti menguik. Ia membuka kedua matanya dan mereka telah pergi meninggalkannya. Ya, dan sekarang ia berhenti mengingat semua itu, cukup sampai di sana saja. Ya, cukup. Ia kini mual, terjatuh dari kursinya, namun Miku segera menangkapnya dan mendekapnya erat.

"Luka…" bisiknya pelan.

Tapi rasa mual itu tak mau pergi, dan hal yang terakhir ia ingat adalah suara Miku yang begitu dalam memanggil dirinya.

+ LAL +

Luka membuka kedua matanya. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. Kepalanya terasa begitu berat, seperti ada yang menimpanya. Namun samar-samar ia mendengar dentingan piano mengalun tak jauh darinya. Ia berusaha bangkit, dan menyadari bahwa ia sedang berada di tempat yang sama sekali tak ia kenali. Sebuah kamar besar berdindingkan warna hijau yang begitu lembut dan di samping tempatnya berdiri sekarang ini adalah sebuah jendela ganda besar ala jendela-jendela kastil seperti pada cerita Rapunzel, atau lainnya. Beberapa benda-benda lainnya terlihat normal, dan yang lainnya adalah kasur besar tempat ia terbaring sampai saat ia membuka kedua matanya beberapa saat lalu. Ia berjalan meninggalkan tempat itu dan kini yang ia saksikan adalah sebuah lorong besar yang begitu luas. Ia tak tahu mesti berjalan ke mana. Namun dentingan piano yang ia dengar kini menuntunnya melangkah.

Sampailah ia di depan suatu ruangan besar, yang ia yakini sebagai ruang musik. Dengan sangat berhati-hati ia membuka pintunya, dan di sanalah ia melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah duduk dan memainkan sebuah lagu yang menjadi kesukaannya sejak pertama mendengarnya.

To the sky, the sea, someplace far

So that I may deliver at least one piece to you

The color of the ties we make

Di sudut sana Miku menyadari kehadiran Luka. Ia berhenti memainkan pianonya dan tersenyum lembut ke arahnya. Luka terperenjat, wajahnya memerah, lalu mendekati Miku.

"Butuh berapa lama bagimu untuk terbangun, hmm…?" tanya Miku dengan sebuah senyum khawatir di wajahnya.

Wajah Luka semakin memerah.

"Apa aku tertidur selama itu?"

Miku menekan tuts-tuts pianonya dan menjawab singkat, "Nah, mungkin saja."

Luka memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Miku bergeser sedikit, memberi ruang bagi sahabatnya untuk duduk.

"Kau mengangkutku sendiri?"

"Nah, mungkin."

"Bagaimana dengan sekolah?"

"Mereka diam saja."

"B-bagaimana mungkin?"

Miku kembali berhenti memainkan pianonya dan kini duduk menghadap Luka.

"Kau tiba-tiba saja pingsan, membuatku panik setengah mati, demi apapun. Aku segera menggendongmu tapi karena tak tahu di mana rumahmu jadi kubawa saja kau ke rumahku. Tak kusangka kau tak terbangun sampai saat kau muncul tadi. Saat sampai di sini aku langsung membaringkanmu di kamarku dan kembali ke sekolah, membersihkan kelas."

Luka kaget bukan main. Ia kini dipenuhi dengan perasaan bersalah.

"Aku… benar-benar merepotkan…" katanya lirih.

Miku membelai kepalanya lembut dan kembali bercerita.

"Kau begitu gigih sampai-sampai tinggal papan tulis saja yang belum bersih, itupun tinggal separuhnya. Aku menyiramkan minuman-minuman kaleng yang kubeli sebelumnya ke sana dan dengan sangat mudah menghapus semua coretan-coretan yang mereka tinggalkan. Setelah selesai aku kembali pulang dan menjagamu."

"Aku ini pahlawan, dengar itu," lanjutnya sambil terkekeh.

"Ya, aku berhutang padamu," balas Luka pelan.

"Hanya bercanda, Luka."

Ia menyandarkan Luka di bahunya, membiarkannya mengistirahatkan semua beban yang dipikulnya di bahunya. Luka bergeming, hanya menurut. Ia dapat merasakan kehangatan Miku sekarang. Bukan hanya itu. Harum tubuh Miku, serta hembusan nafas Miku, ia dapat merasakan semua itu bersamaan. Ia merasa dirinya berdebar. Tapi mengapa? Tidak mungkin jika karena Miku. Tidak, tetapi dia memang menikmati kedekatan ini, dan ia tahu persis debaran dalam dirinya karena hal ini, tetapi mengapa Miku? Apakah ia menyukai Miku? Tidak mungkin, ia hanya mengagumi Miku. Lagipula mereka sama-sama perempuan, tak mungkin bagi mereka untuk saling menyukai. Ia menghela nafas kecil dan memejamkan matanya. Sedangkan ia memejamkan matanya, Miku kembali memainkan pianonya dan mengulang lagu yang sama.

When the season is spinning, spinning

Please embrace the scattering ties

Strongly, strongly

So that they won't be lost

"Aku tahu lagu ini," kata Luka pelan.

"Hmm…?"

"APPEND," lanjutnya sambil memandangi not-not balok di kertas yang terletak di atas tuts-tuts piano Miku.

Miku terkejut.

"APPEND Dark, yah, benar…" ucapnya lagi, mengiyakkan.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Miku terkejut.

Luka bangkit dari sandarannya pada bahu Miku dan ikut menempatkan jemari-jemari tangannya di piano hitam besar itu. Ia mulai menekan beberapa tuts, memastikan apakah ia sudah berada pada nada yang benar atau belum. Saat ia mendapatkan keyakinannya, sambil menutup matanya ia mulai bermain sambil menyenandungkan barisan-barisan lirik lagu tersebut.

Unable to move from the weight of the embraced words,

I fell into a warm dream

When I woke, it was after I lost you

I tie it – the appearance that I embraced

The color of orange softly scatters

It hurt so much, it's strongly engraved in my heart

Flutter, flutter, flutter

To the sky, the sea, someplace far

So that I may deliver at least one piece to you

The color of the ties we make

Flutter away, flutter away

Miku terperangah. Ia tak percaya Luka dapat memainkan lagu itu dengan mata tertutup. Apalagi Luka tak pernah mengatakan kalau ia menyukai permainan musik. Luka sendiri berhenti dan membuka kembali matanya, lalu tersenyum.

"APPEND Dark. Hirari, Hirari."

Miku kemudian tertawa pelan, lalu mengangguk.

"Aku sangat mengaguminya. Sayang sekali ia mundur dari industri musik begitu saja."

Miku terdiam.

"Ada yang mengatakan kalau ia berhenti lantaran ingin melanjutkan pendidikannya, namun adapula yang mengatakan kalau ia berhenti karena memiliki masalah yang tak dapat ditolerir, kau tahulah, narkoba atau mungkin lainnya."

Miku menundukkan kepalanya.

"Tapi aku yakin akan satu hal."

Miku mendongak sedikit.

"Apapun alasannya, aku yakin, APPEND berhenti karena memang itu pilihannya. Jalan yang ia yakini."

Miku semakin terperangah mendengar kata-kata Luka. Luka memandangnya sekilas, tersenyum, lalu menekan-nekan tuts pianonya sembarang.

"APPEND pasti sangat senang mendengarmu berkata demikian," kata Miku lembut.

Luka menatapnya, dan ia mendapati di sana Miku tersenyum, dengan air mata berlinang membasahi kedua pipinya. Ia kaget, dan segera menyeka air mata Miku.

"K-kenapa kau menangis? A-aku salah bicara ya?" tanyanya panik.

Miku menggeleng dan menghapus air matanya.

"Lagu ini merupakan lagu APPEND yang terakhir, benar?" tanyanya pada Luka.

Luka mengangguk pelan, masih panik.

"Lagu ini muncul begitu saja, dengan membawa masuk nama APPEND Dark ke dalamnya. Namun APPEND tak pernah mengerti mengapa ia menulis lagu itu sedemikian rupa. Dan ia juga tak tahu pada siapa lagu itu ia dedikasikan."

"Lalu ia mengundurkan diri. Ia tak lagi memiliki minatnya pada industri musik. Ia kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Ia mengalami intimidasi yang sama… persis seperti yang kau alami."

"A-apa…?"

Miku meraih kertas bertuliskan not-not lagu Hirari, Hirari tersebut dan merobeknya menjadi potongan-potongan kecil. Lalu ia melemparkan seluruh potongan-potongannya ke langit, memandangi potongan-potongan itu jatuh dengan tatapan nestapa. Luka semakin bingung dengan tingkah laku Miku.

"Kau bercanda," sahutnya.

"Itulah adanya," balas Miku.

Dalam ruangan itu, saat potongan-potongan kertas berharga itu berjatuhan, di balik itu semua Miku berkata lirih…

"Karena aku adalah APPEND…"

Someday, the passing memory will be born in a scattering moment

Even though it knows it's decaying

Flutter, flutter, flutter

I can't deliver my heart twice

But so that I can deliver the last part to you

Like a gently falling rain

Flutter away… Flutter away…

+ LaL +


What on earth am I doing, well I feel like the drunken Masashi Kishimoto drew Obito as Tobi, lalala...

Efek mabok dan ga konsen, ga ngerti kenapa jadi APPEND dibawa-bawa.

Jadiiihhh...

Bagaimanakah kelanjutannya?

Apakah maksud Miku dengan mengatakan bahwa dirinya adalah APPEND?

Masa lalu apakah yang Miku bicarakan?

Lalu bagaimana nasib not balok yang tak berdosa itu!?

Tunggu tanggal mainnya!