Rated semi-M for language and some scene. Nggak akan ada lemon, tapi saya sarankan yang baca ini paling nggak 15 tahunan lah. Happy Reading!
Lipstick
A Naruto Fanfic
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance / Drama / Angst
T / Semi-M Rated
Warning : AU dan OOC
Summary : Haruno Sakura, Yamanaka Ino, Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji. Siapa yang akan menang pada akhirnya? Dendam pada masa lalu atau kebohongan masa lalu? Warning! Haruno Sakura is back...!
Konoha Airport
Tak!Tak!Tak!Tak! Begitulah bunyi yang di timbulkan oleh sepatu seorang gadis cantik berambut soft pink. Ya, kalian tidak salah baca. Soft pink. Rambut gadis itu memang berwarna soft pink. Tidak wajar bukan? Tapi memang itulah kenyataannya. Anehnya, dengan warna rambutnya yang sangat tak biasa itu justru semakin menambah kecantikan yang di miliki gadis itu.
Dengan kulitnya yang halus dan seputih susu, bibirnya yang mungil dan pink alami, serta wajahnya yang mungil dengan bentuk oval membuat gadis itu semakin terlihat memukau. Apalagi ditambah dengan mata emeraldnya yang bulat dan bersinar cerah makin membuatnya tampak seperti boneka porselen yang cantik sekali. Tubuhnya yang mungil pasti membuat semua laki-laki normal ingin melindunginya. Pokoknya dia tipe gadis idaman lah!
Baiklah, kita kembali ke gadis pink itu. Sudah sekitar 30 menit gadis cantik itu menghentak-hentakkan kakinya dengan sangat tidak sabar. Rambut pink sepunggungnya ia sanggul asal. Wajahnya cemberut menandakan ia sedang kesal. Sesekali ia melongok keluar restoran fast food tempat ia duduk. Namun ia kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi lagi dengan kesal ketika tak menemukan apa yang di carinya.
Dan tampaknya apa yang dilakukan gadis itu cukup membuat pemuda tampan yang duduk di depannya merasa sangat terganggu. Sambil menghela nafas panjang, pemuda itu meletakkan buku yang sedari tadi dibacanya. Lama ia menatap gadis itu sebelum akhirnya berkata,
"Sakura, bisa tenang sedikit?"
Mendengar seseorang bicara padanya, sontak membuat gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pemuda di hadapannya. Sambil mengernyitkan dahinya bingung gadis itu menjawab,
"Tenang? Memangnya aku berbuat apa?" tanyanya innocent.
Mata silver Neji-nama pemuda itu-menatap malas Sakura. Setelah meminum sedikit minuman hangat dihadapannya, ia memilih untuk mengacuhkan pertanyaan yang dianggapnya bodoh dari gadis pink itu dan kembali membaca bukunya.
Sesaat suasana diantara mereka kembali hening, yah dengan pengecualian suara high heels coklat muda Sakura itu tentunya. Merasa bosan, Sakura lalu melirik ke arah Neji. Dilihatnya pemuda berambut coklat panjang itu masih sibuk dengan buku tebalnya.
Tak ingin diacuhkan, Sakura berusaha mengalihkan perhatian Neji dengan mengambil kacamata pemuda itu yang tentu saja langsung di hadiahi tatapan maut dari si empunya.
"Cocok nggak?" tanya Sakura cuek sambil memakai kacamata Neji.
Neji hanya memutar bola matanya bosan dan memilih melihat pemandangan luar ketimbang menjawab pertanyaan iseng Sakura. Sakura hanya terkikik pelan melihat reaksi Neji. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran fast food yang ramai tersebut.
Tiba-tiba sebuah seringaian kecil muncul di bibirnya yang mungil itu. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Sakura kemudian menatap Neji sebentar lalu berdiri dan memanggil nama pemuda itu.
"Neji-kun," panggil Sakura pelan.
Mendengar namanya di panggil, Neji langsung menghadapkan wajahnya ke sumber suara itu. Dan tiba-tiba…..CUP…ia langsung di hadiahi sebuah kecupan lembut dari Sakura. Sontak seluruh mata pengunjung restoran tertuju pada mereka. Ada yang kaget, ada yang malu, dan bahkan ada yang iri melihat aksi Sakura itu. Sementara Neji hanya diam saja, tak membalas ciuman Sakura itu. Ia sedikit bingung dengan aksi cium Sakura yang tiba-tiba itu.
Tapi, setelah melihat keadaan restoran yang langsung sunyi dan dipenuhi aura kecemburuan, ia pun mengerti. Perlahan ia memejamkan matanya dan membalas ciuman manis dari gadis pink itu. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menekan kepala Sakura ke arahnya.
Selang beberapa menit, Sakura melepaskan ciumannya pada Neji. Ia kembali duduk dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa sama halnya dengan Neji, padahal pengunjung restoran lainnya masih menatap mereka dengan mulut terbuka lebar.
"Dasar iseng," komentar Neji.
Sakura hanya nyengir memamerkan gigi-giginya yang putih itu sambil melirik ke arah pengunjung lainnya-yang rata-rata anak muda-yang patah hati melihat aksinya tadi.
"Habis aku nggak suka cewek-cewek itu menatapmu seperti melihat seporsi steak yang sangaaaaaatttt lezat. Aku kan cemburu!" balas Sakura sambil pura-pura ngambek.
"Liar…..aku tahu kamu memang sengaja agar mereka cemburu kan? Berhentilah mempermainkan perasaan orang seperti itu. Dasar childish," ejek Neji.
"Uuuuhhh…..aku nggak childish! Lagian apa salahnya kalau aku menciummu? Kamu kan pacarku!" ucap Sakura sok manja.
Neji hanya menatap Sakura dengan pandangan-hentikan sandiwaramu yang memuakkan itu-. Sakura lalu mendengus keras dan menghempaskan tubuhnya ke kursi ketika melihat tatapan yang di berikan pacarnya itu .
"Huh! Kau nggak asyik!" ucap Sakura ketus, moodnya tiba-tiba berubah jelek.
Suasana pun kembali hening. Sakura dan Neji kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Neji kembali dengan bukunya sementara Sakura sibuk memainkan kuku-kukunya yang di poles dengan cat kuku berwarna peach. Sesekali Sakura memainkan iphone 4 miliknya, membalas sms dari teman-temannya.
Sekian lama saling diam, tiba-tiba Neji membuka mulutnya. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu pada Sakura. Namun, ia terlihat ragu apakah sebaiknya ia mengatakannya atau tidak. Setelah menimbang-nimbang, Neji pun memutuskan untuk bertanya.
"Sakura, apakah kau memberi tahu ayahmu tentang kepulanganmu?" tanya Neji.
Sakura menghentikan aktivitas memainkan ujung baby dollnya ketika mendengar pertanyaan Neji. Ia memandang Neji aneh seraya menjawab,
"Ha? Kau udah gila? Tentu aja nggak. That can ruin my plans, you know? I want it become a surprise to everyone. Gimana sih kamu masa gitu aja nggak ngerti!" sahutnya gemas.
"Lalu kau mau pulang kemana? Memangnya kamu nggak mau istirahat? Nggak jet lag apa?" tanya Neji lagi.
"Ya udah pasti ke rumahmu lah. Memangnya mau kemana lagi? Aku kan butuh tempat untuk istirahat dan bersiap-siap dan rumahmu lah tempat yang paling cocok," jawabnya enteng.
"Aku juga sudah meminta Temari-senpai dan Hinata-chan merahasiakan kepulangan kita ini. Hmmm...rasanya aku udah nggak sabar melihat wajah mereka saat melihatku nanti," lanjutnya lagi dengan sebuah seringaian setan.
"Hn. Sudah ku duga kau akan merepotkanku lagi. Bisa nggak sih kau nggak membuat rencana yang merepotkanku begitu?" komentar Neji mendengar ucapan Sakura.
"Hey! Kita udah membicarakannya bukan? And you said it's fine, remember?" protes Sakura.
"Hn. Ya, ya, ya...fine. You win. Percuma berdebat denganmu. Buang-buang tenaga saja," balas Neji mengalah.
"Of course! Kamu nggak akan bisa mengalahkanku soal adu mulut," ledek Sakura sambil menjulurkan lidahnya.
Neji mengalihkan wajahnya acuh mendengar ledekan Sakura itu. Namun, sesaat kemudian di tatapnya wajah pacarnya itu dengan pandangan yang...sulit diartikan. Di lihatnya sosok gadis cantik itu sekarang tampak begitu kuat dan tegar. Sungguh berbeda dengan 2 tahun lalu yang terlihat begitu rapuh dan hancur. Tapi, tetap saja ada satu hal yang Neji tahu pasti tak pernah berubah darinya sejak 2 tahun yang lalu.
Sejak 2 tahun yang lalu hingga sekarang, kebencian dan amarah yang begitu besar tak pernah hilang dari mata emeraldnya ketika membicarakan mereka. Ya, mereka...orang-orang yang telah membuat Sakura menjadi seperti sekarang. Menjadi seorang iblis yang menjelma menjadi sesosok malaikat.
'Kasihan mereka. Mereka nggak tau apa yang akan menimpa mereka,' batin Neji miris.
Tak lama kemudian apa yang sepasang kekasih ini tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Supir pribadi keluarga Hyuuga yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Setengah berlari pria paruh baya itu menghampiri Sakura dan Neji.
"Maaf Nona, Tuan saya terlambat. Tadi ada kecelakaan yang cukup parah dijalan. Saya harus memutar arah karena jalannya di tutup. Sekali lagi saya minta maaf," ucap pria itu sambil membungkukkan badannya.
"It's fine. Tapi yang penting anda nggak terluka kan, pak?" balas Sakura ramah sembari memberikan senyumnya yang manis.
"Ah, untungnya tidak, Nona. Terima kasih atas perhatian anda. Mari saya bawakan kopernya,"
Belum sempat supir itu membawa koper Sakura, Neji sudah terlebih dulu menarik koper pacarnya itu.
"Tak usah. Koper perempuan ini sangat berat. Kau kan sedang capek karena lari-lari tadi jadi lebih baik aku saja yang bawa. Kau bawakan koperku saja. Lebih ringan," ucap Neji sebelum supirnya bertanya atas tindakannya.
"Ta-Tapi Tuan,"
Belum selesai supirnya berbicara, Neji sudah terlebih dulu melenggang pergi sambil menggandeng Sakura. Melihat supir Neji hanya terdiam, Sakura setengah berteriak berkata,
"Ayo, pak. Memangnya anda nggak mau pulang?"
Mendengar itu, sang supir bergegas mengikuti tuannya yang sudah tampak jauh di depan. Setelah mereka sampai ditempat parkir, Neji langsung memasukkan kopernya dan koper Sakura ke bagasi. Setelah membukakan pintu mobil untuk Sakura, Neji pun segera masuk ke dalam mobil.
Baru saja sang supir menyalakan mesin, Sakura tiba-tiba berkata,
"Ah iya! Kita jangan langsung pulang dulu. Kita ke salon dulu ya!" ujar Sakura sambil tersenyum lebar.
'Damn!' umpat Neji dalam hati.
'Drap drap drap drap drap.' bunyi langkah kaki itu terdengar menggema di lorong panjang Konoha International Junior High School. Bersamaan dengan suara langkah kaki itu terdengar teriakan-teriakan yang menyusul.
"Sakura berhenti! Aku mohon. Kamu harus mendengarkan penjelasanku," teriak seorang gadis cantik berambut pirang sambil terus berlari.
Sakura, gadis yang di panggil tadi terus berlari tanpa menoleh sedikit pun. Di pipinya yang putih tak henti-hentinya air mata mengalir.
"Sakura…aku mohon," panggil gadis pirang itu lagi, kali ini sembari terisak.
"Cukup! Cukup! Cukup! Aku nggak mau mendengarmu lagi! Aku nggak akan lagi membiarkanmu melemparkan kebohonganmu tepat di depan wajahku!" balas si pink sembari mempercepat larinya.
Setelah sekian lama memohon dan mengejar Sakura, gadis pirang itu pun berhasil menarik lengan si pink membuat mereka berdua kini saling memandang di bawah derasnya hujan.
Tatapan kebencian, kemarahan, dan kekecewaan dari Sakura di balas dengan tatapan sendu yang penuh penyesalan dari Ino, sang gadis pirang.
"Aku mohon…..maafkan aku," pinta Ino pada Sakura.
Dengan kasar Sakura menghempaskan tangan Ino yang memegangi lengannya, mencegahnya untuk kabur lagi.
"Diam! Diam! Nggak perlu lagi kamu jejali aku dengan kebohonganmu!" teriak Sakura.
Ino hanya bisa terisak kencang memegangi dadanya mendengar perkataan Sakura. Dalam hatinya kini ada perasaan menyesal yang sangat besar. Begitu melihat Sakura hendak pergi, segera gadis cantik itu berlutut memegang kaki Sakura.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku mohon. Aku nggak ingin kehilanganmu Sakura," pinta Ino.
Hati Sakura sudah tertutup dendam yang sangat besar sehingga ia tidak iba melihat sahabatnya itu, maksudnya mantan sahabatnya itu berlutut memohon ampun darinya. Dengan kasar ia menghempaskan Ino, sehingga Ino tersungkur di atas tanah yang becek itu.
"Tak usah basa-basi kau, bitch," hardik Sakura.
"Astaga, apa yang kau lakukan Sakura!"
Terdengar suara teriakan marah seorang pemuda. Dengan segera pemuda itu berlari ke arah Ino dan membantunya berdiri. Ino langsung memeluk dan menangis keras di dada pemuda tampan itu.
Pemuda itu, Sasuke balas memeluk Ino. Perlahan ia mengelus kepala Ino untuk menenangkan gadis itu. Sakura yang masih ada di sana begitu sakit menyaksikan adegan itu. Hatinya terasa di tusuk ribuan jarum, perih sekali. Air mata mulai mengalir lagi di kedua pipinya. Beruntung hujan yang deras menutupi tangisannya itu.
Dengan kasar ia menghapus air mata di kedua pipinya. Ia sudah tak sudi lagi menangis untuknya, untuk mereka. Ketika ia hendak pergi meninggalkan kedua pasangan Romeo-Juliet itu, sang Juliet-Ino- memanggil namanya lagi.
"Sakura…maaf…..maaf…aku….aku..."
Belum sempat Ino menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah terlebih dahulu menyelanya.
"Diam, pengkhianat! Nggak usah kau mengatakan maaf lagi dengan mulut busukmu itu. Karena mulai sekarang, seumur hidupku aku nggak akan pernah mempercayaimu lagi! Selama ini aku udah menganggapmu sahabatku yang tebaik! Tapi apa balasannya? Kamu malah merebut semuanya! Semua yang aku punya!" teriak Sakura meluapkan emosinya.
Perlahan ia berjalan mendekati Ino dan Sasuke, memandang wajah mereka yang sulit di artikan. Bibir mungilnya terkatup rapat, rahangnya mengeras seolah ia berusaha meredam amarahnya yang begitu besar. Tapi, sepertinya usahanya itu sia-sia saja. Pertahanan dirinya tidak sanggup manahan kemarahannya. Rasa bencinya sudah menutup rapat semua kebaikan yang sebenarnya ia miliki. Sambil menunjuk Ino tepat di wajahnya, Sakura berkata,
"Kamu...ternyata nggak lebih dari seorang perempuan yang hina! Perempuan nggak tahu diri yang suka merebut kebahagiaan orang lain. Kamu sama saja seperti ibu-"
PLAK! Kata-kata Sakura terpotong dengan sebuah tamparan keras di pipinya. Matanya terbelalak tak percaya mengetahui siapa yang menamparnya tadi.
"SASUKE-KUN!" jerit Ino kaget melihat Sasuke menampar Sakura.
Sasuke sendiri tampak sangat terkejut melihat perbuatannya. Ia memandang tangannya yang telah ia gunakan untuk menampar Sakura itu. Di pandangnya gadis yang telah di tamparnya itu. Terlihat Sakura hanya bisa menunduk. Bahunya bergetar hebat pertanda ia sedang menangis.
Perlahan Sasuke menghampiri Sakura. Di raihnya bahu gadis mungil itu. Namun belum sempat ia meminta maaf, Sakura sudah terlebih dulu mendorongnya menjauh. Sakura menatap tajam Ino dan Sasuke bergantian.
"Hahahaha…belum puas kamu menyakiti hatiku Sasuke? Sekarang kamu juga ingin menyakiti tubuhku? Kenapa kamu diam? Kenapa nggak tampar aku lagi!" pekik Sakura histeris.
"KENAPA KAMU NGGAK MEMBUNUHKU AJA SEKALIAN DARIPADA KAMU MENYIKSAKU SEPERTI INI? LEBIH BAIK KAMU BUNUH SAJA AKU SEKALIAN! AYO, BUNUH AKU SEKARANG JUGA!"
Ino dan Sasuke hanya bisa terdiam melihat gadis di hadapan mereka menangis histeris. Bibir mereka terkatup rapat. Suara mereka seolah hilang dibawa hujan. Sakura terus menangis keras, meluapkan semua rasa sakit hatinya. Berharap semua rasa sakitnya bisa terhapus hujan yang mengalir dengan derasnya.
Lama mereka terdiam, tangis Sakura mulai mereda. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya. Terlihat sebuah seringaian yang membuat wajah manis Sakura terasa begitu menakutkan bagi Ino dan Sasuke.
CTAR! Terdengar suara petir menggelegar seolah menjadi pengiring perkataan yang segera meluncur dari bibir mungil Sakura. Perkataan yang tak akan pernah disangka bisa keluar dari gadis semanis Sakura.
"Camkan ini baik-baik Sasuke, Ino. Kalian...akan menyesal udah memperlakukanku seperti ini..."
"Aku nggak akan melupakan ini...AKU BENCI KALIAN SEUMUR HIDUPKU!"
Setelah berkata seperti itu, Sakura langsung berlari pergi meninggalkan dua orang yang telah menorehkan luka mendalam di hatinya. Ino dan Sasuke begitu terperanjat dengan perkataan Sakura dan ketika mereka sadar, Sakura sudah menghilang dari hadapan mereka.
"SAKURA…SAKURA…JANGAN PERGI," teriak Ino sambil berusaha mengejar Sakura.
"SAKURAAAAAAAAAA…"
"SAKURAAAA…"
Terdengar teriakan seorang gadis menggema disebuah kamar. Gadis itu terlonjak dari tempat tidurnya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya yang cantik terlihat sangat pucat. Deru nafasnya memburu. Jantungnya berdetak cepat. Menandakan bahwa ia merasa ketakutan.
'Hanya mimpi,' pikirnya.
"Hanya mimpi, Baka-Ino! Hanya mimpi. Itu sudah berlalu," ucapnya berusaha menenangkan dirinya sendiri.
'Tapi...kenapa aku memimpikan ini lagi? Apa...ini pertanda...buruk?' batin Ino takut.
Gadis pirang itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran buruknya tersebut. Namun, bayang-bayang kejadian 2 tahun lalu itu terus berputar dalam otaknya. Kejadian yang menyebabkan sahabat terbaiknya hilang tanpa kabar begitu saja seolah di telan bumi. Tanpa disadari oleh Ino, air mata telah mengalir di pipinya yang pucat. Ia terus menangis pilu sambil memegang dadanya dan menggumamkan nama yang sama. Sakura. Ya, nama itulah yang terus di gumamkan tanpa henti oleh Ino. Nama sahabatnya yang hilang.
Setelah sekian lama menangis, Ino merebahkan dirinya di tempat tidurnya lagi, mencoba mencari ketenangan. Namun, usahanya itu harus terganggu dengan dering telepon dari ponselnya. Dengan malas ia meraih blackberry-nya. Seulas senyum manis langsung menghiasi wajahnya yang semula terlihat kesal karena di ganggu ketika melihat siapa yang meneleponnya.
Segera ia menekan tombol answer dan berkata,
"Ya, Sasuke-kun?"
-TBC-
Huaaaaa….saya minta maaf. Ancur begini jadinya. Terima kasih buat CherryBlossom Sasuke, apple kiezu, dan Sky Melody yang udah sudi mereview prolog ancur saya. Berkat review kalianlah semangat saya buat mempublish(?) chap ini muncul. Tadinya saya udah pesimis dan hampir aja ngapus fic ini. Tapi nggak jadi karena kalian uda berbaik hati mau mereview. Thank ya! Langsung aja ya saya balas review kalian.
CherryBlossom Sasuke : iya ini cuma inspirasi kok. Anak? Di cerita ini mereka masih sma. Jadi mungkin nggak ada anak-anakan. Hehehehe. Thanks ya buat reviewnya. Review again, please.
apple kiezu : yap, bakal ada multi pairing. Hehehe gak apa-apa. Komen kamu uda sangat membuat saya senang kok. Ni udah muncul chap baru. Di baca dan review lagi, ya? Makasih
Sky Melody : Wah kalau IC saya gak biasa menjanjikan. Soalnya saya ini orangnya lebay, jadi ya mungkin susah mau tetep bikin karakternya IC. Tapi akan diusahakanlah. Dramanya saya lupa apa judulnya tapi drama korea kok, kalo nggak salah sih(?). Kalau soal pairing masih rahasia. Maaf ya. Thanks buat reviewnya, tolong review lagi ya.
Sweety Choco-berry : Kalo alasan kenapa bisa dendam kayaknya udah keliatan deh. Tapi untuk lebih jelasnya tunggu aja nanti pasti terbongkar kok. Thanks ya buat reviewnya, jgn lupa review lagi ya.
Violet7orange : Siiip ni udah dilanjutin. Thanks buat reviewnya. Review lagi dong!
Eliana Coil ga login : Okee...ni udah lanjut. Makasih ya reviewnya! Jgn lupa review lagi, ok?
Lavtesha : Wah seneng deh kalo kamu suka. Semi-M krn language dan some scene-lah. Ini uda update. Thank for review dan jgn lupa review lagi maaf ya saya nggak liat kalo kurang s. Kamu cermat bgt deh. Kalo kamu nggak ngerepotin, mau nggak kamu jadi beta reader saya? Hehehe kalo nggak mau juga nggak papa ko.
Yak sekian dulu note author. Review berupa kritik-saran yang membangun sangat saya tunggu. Many many thanks buat yang udah baca dan review. Bye!
