Naruto bukan milik saya, itu punya Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya meminjam beberapa untuk keperluan cerita dan plot.

Note: Gomen for Applebumb :( . gomen bwt yang nunggu lanjutannya(Emangnya siapa yang nunggu? ge er) kemarin tuh error terus deh FFn nya :( jadi baru bsa sekarang. hehe.

Hope u like this Chappie, the last chappie :)

.

.

TRANG!

Kedua pedang itu saling beradu, tercipta gerakan-gerakan memukau para pemainnya. Gerakan tangguh, kuat dan juga penuh perhitungan. Gerakan yang egois terpancar disana. Obsesi liar menjalari tubuhnya... ia terus menyerang, menerjang tanpa henti. Begitu pula yang diserang. Ia tidak mau mengalah. Semakin lama, semakin menarik. Peluh telah membasahi tubuh mereka. Sampai...

Sasuke-kun...

Salah satu dari mereka jatuh tersungkur, pedang ditangannya terpental. Ia jatuh, kalah. Berhasil ditaklukan. Hanya karena sebuah ilusi.

"Ada apa Sasuke? Tumben sekali," seseorang itu berkata.

Yang ditanya hanya terpaku. Sebegini besarkah efek gadis itu?

"Aku lelah," jawabnya datar, melangkah ke arah pintu, keluar dari ruangan khusus bermain anggar.

"Padahal, kemarin kau sudah cukup kuat. Dan sekarang? Menyerah?" Seseorang itu berkata lagi. perkataannya membuat hati Sasuke berapi.

TRANG!

Sasuke menyerangnya lagi, kali ini lebih ganas. Persetan dengan semua ilusi dan suara yang terngiang di telinganya, seorang Uchiha..lebih tepatnya, seorang Sasuke tak akan menyerah, apalagi terhadap Itachi.

.

.

"Ssst..Sakura..memangnya siapa namanya," Tanya Ino di sela pelajaran.

"Ino, kumohon, jangan sekarang ya." Sakura terus mengabati cara pengobatan yang sedang dilakukan nona Tsunade di hadapannya. Tak ingin berpaling pada Ino yang hanya penasaran dengan namanya.

"Bisikkan saja, Sakura," Ino berbisik lagi.

Tanpa menoleh, Sakura berbisik pelan. "Sasuke-kun," pelan sekali

"Apa? Tidak dengar, hoi Sakura,"

"Sasuke-kun!" Sakura sedikit meninggikan suaranya. Tapi sepertinya, nona Tsunade mendenngar semua itu. Dan ia benci jika ada orang yang memecah konsentrasi belajar di dalam kelas.

BRAK!

Nona Tsunade mengebrak mejanya. Dengan mata terbelalak dan alis yang hampir bertaut. Ia menatap Ino dan Sakura. "Sakura! Ino! Cepat keluar dari kelas!" teriaknya keras. Benar-benar menyeramkan jika seorang nona Tsunade marah seperti ini.

Ino memucat, Sakura tertunduk lesu.

.

"Ah, enak juga ya kalau kita tidak ikut pelajaran seperti ini, Sakura." Ino menoleh ke arah Sakura.

Sekarang mereka telah berjalan di koridor sekolah, keluar dari kelas. Sakura masih tertunduk, dan Ino tersenyum lebar. Bagi Ino, tak berpengaruh untuknya. Tapi bagi Sakura, itu sangat berpengaruh.

"Diam kau!" Sahutnya kasar.

Ino manyun, Sakura tetap seperti posisinya. Mereka menuju ke taman sekolah yang ada di belakang sekolah. Udara disana mungkin akan membuat hati Sakura terobati.

Kenapa aku mengakui semua itu kepada Ino, kalau saja—kalau saja aku tak cerita semua itu. Tidak akan seperti ini. Aku tidak akan di keluarkan.

Sasuke-kun.

Sakura...

Sakura menoleh, suara yang begitu familiar mengeluarkannya dari kemelut pikiran. Suara yang selama ini ia tunggu. Tapi tidak ada siapa pun disana,siapa pun. Hanya Ino, ya..mungkin hanya Ino.

.

Dua minggu berlalu tanpa ada kabar apapun.. tunggu—kabar? Memangnya dia siapa? Dan memangnya kau siapa?

Sasuke kira, gadis itu—Sakura akan kembali meminjam buku pada Itachi, tapi yang datang malah gadis yang membawa babi kecil bersamanya. Perasaan kecewa memamah hati Sasuke. Sejak saat itu, suara itu sering terngiang di telinga Sasuke. Begitu juga dia.

Sasuke melewati hari seperti biasa, tapi dengan hati yang tak biasa. Dulu, ia tak pernah merasa rindu terhadap seseorang. Setelah pertemuan itu, hati Sasuke serasa ketagihan. ketagihan mendengar suaranya, ketagihan melihat senyum dan rambut pink-nya, dan juga bola mata indahnya. Sasuke mengacak rambutnya di tengah kegalauan yang menimpanya. Naruto yang sedang asyik menyantap Ramennya, sedikit merasa aneh.

"Heu zazueke, Adua apua?" mulut Naruto dipenuhi Ramen.

Di tengah keriuhan kantin sekolah, bisa-bisanya Sasuke teringat hal itu. Apa benar gadis itu yang membuat Sasuke jadi seperti ini? Ya mungkin saja.

"Kalau mau bicara, telan dulu ramen yang ada di mulutmu! Aku tak mengerti bahasa alien!" Jawab Sasuke ketus.

Naruto menelan semua Ramen yang memenuhi mulutnya, lalu menenggak segelas air.

"Ada apa Sasuke? Kau terlihat cemas,"Naruto mengulangi perkatannya sambil mengelap mulutnya.

"Tidak ada apa pun," Sasuke menjawab sekenanya.

"Ayolah Sasuke, aku sudah berteman denganmu lama sekali bukan? Apa—"

Sasuke menatap Naruto, ia sudah bisa membaca apa yang akan di utarakan Naruto.

"Apa? Jangan berpikir macam-macam!" Ancam Sasuke sembari bangun dari duduknya. Hendak pergi meninggalkan keriuhan kantin yang semakin berkurang.

"Gadis itu bukan?" Naruto ikut bangun, menghampiri Sasuke yang sudah berjalan duluan. Meniliknya.

"Diamlah!" Sasuke jengkel dan mempercepat langkahnya.

"Aih, si Teme ini. Ternyata benar ya? kau jatuh cinta Sasuke," Naruto menepuk punggung Sasuke, bercanda.

"Siapa? Siapa yang jatuh cinta?" jawab Sasuke bohong. Bohong sekali, karena di hatinya yang paling dalam, nama Sakura Haruno tersimpan rapi disana.

"Ayolah Teme, mengaku saja!" Naruto semakin riang, tapi Sasuke mengacuhkannya dan malah mempercepat langkahnya. "Teme! Oi..Sasuke! tunggu aku!" Naruto nyengir lebar sambil menyusul Sasuke. "Oya Sasuke, bantu aku menyebar undangn Reuni ya dan—" Naruto mengoceh, Sasuke terbuai oleh pikirannya sendiri.

Mungkin kau benar, Naruto.

.

Kedua hati saling merindu, kedua jiwa saling memanggil. Lolongan kerinduan yang merabah, membuat keduanya semakin tersiksa.

Akankah kita bertemu lagi?

Akankah takdir menuntun kita tuk berjumpa?

.

.

Lagi, Sasuke terbangun dari tidurnya, di jam yang sama dengan pikiran yang sama seperti waktu itu. Kerinduan yang menggerogotinya semakin menebal, seperti kanker yang telah merabah ke seluruh tubuhnya, terutama hatinya.

Sakura... Sakura Haruno.

di lain sisi, seperti Sasuke, gadis itu pun mengaduh pada apa yang terjadi. Ya, rindu. Mereka adalah dua orang yang aneh, merindu tapi tak mau mencari, hanya mengharapkan iba dari sang takdir, mengharap takdir menggandeng mereka, dan menyatukannya.

Sasuke...Sasuke Uchiha

.

Berjalan di tengah keramain fetival musim panas, menikmati malam yang cerah dan bertabur bintang. Pesona sang ratu malam berhasil memperindah malam ini.

Kedua sahabat itu—Sasuke dan Naruto, membaur dengan yang lain. Menikmati tiap-tipa suguhan permainan maupun makanan yang ada di sana.

Naruto melambaikan tangannya ke arah segerumbul muda-mudi.

Ia menepuk pundak Sasuke, "Sudah lama sekali tidak berkumpul ya."

"Hm" Sasuke mengangguk.

"Hai Naruto, Sasuke, kalian datang!" Ucap seorang bermata belo dan berpakaian serba hijau.

"Ya, tentu saja, Lee," Naruto tersenyum. "Apakah semua sudah datang?" Tanya Naruto kepada anak yang dipanggil Lee itu.

Ia menaikkan bahunya, "Masih ada yang belum datang."

"Siapa saja? Tidakkah mereka mementingkan reuni ini?" Naruto sok sibuk, berjalan bersama Lee.

Meninggalkan Sasuke yang hanya berdiri disana.

Naruto adalah Panitia pengurus Reuni SMP Konoha kali ini. Jadi wajar saja jika ia kelihatan begitu. Karena walaupun ia selalu riang dan tertawa, ia juga bisa diandalkan disaat begini. Reuni yang ia rencanakan dari dua minggu yang lalu, harus sukses dan lancar. Sasuke menjauh dari keramain teman-temannya, ia tidak terlalu akrab dengan mereka. Walaupun di sana ada Neji, Shikamaru, dan Kiba yang satu kelas dengannya selama tiga tahun, mereka semua sibuk menjadi panitia. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di festival. Menikmati keriuhan di tengah malam yang indah.

Sebelum ia melangkah, Naruto melihatnya dan memanggilnya.

"Oi...! Teme, mau kemana kau?"

"Aku jalan-jalan sebentar!" Balas Sasuke berteriak.

"Baiklah, setengah jam lagi kau balik kesini ya!" Naruto nyengir, seperti mengartikan jangan-sampai-kau-merusak-reuni-ini-dengan-kabur-entah-kemana.

Sasuke melengos. Ia tahu, ia mengerti, dan ia bukan anak kecil. Sasuke berjalan, dengan tatapan datar, dingin, tanpa ekspresi seperti biasanya. Tengok kanan, tengok kiri, selalu itu-itu saja yang disuguhkan(baginya). "Membosankan, selalu saja festival seperti ini," Sasuke bergumam.

BRUKK!

Untuk seorang yang tak hati-hati dan tak terbiasa di tengah keramaian, Sasuke sering kali menubruk orang. Kali ini, yang ia tubruk adalah...

Mata Jade gadis itu melebar, melihat seseorang yang telah menubruknya.

Mata obsidian Sasuke tak kalah melebar.

Mereka bertemu cara yang sama, di tengah keramain.

"Sa...Haruno?" Tanya Sasuke. Walaupun sudah pasti ia tahu benar bahwa seseorang yang ia tubruk adalah Sakura Haruno.

"Sasuke-kun? Kebetulan Sekali!" Ucap Sakura gembira.

"Sedang apa disini?" pertanyaan yang bodoh Sasuke, tentu saja ia sedang ke festival.

"Oh..aku..menemani sahabatku yang menemani pacarnya ke reuni," Lidah Sakura sedikit berbelit. Ya memang benar, ia ditarik Ino kesini untuk menemaninya ke acara reuni SMP Sai. Ia sempat mengeluh kenapa aku harus ikut. Tapi sekarang ia malah bersyukur untung sekali aku ikut.

Kerinduan yang menebal itu, kini telah luluh dan luntur. Seperti sel kanker yang telah di basmi oleh obat super kuat yang menjadikan tubuh itu sehat tiba-tiba. Mereka bertemu, bertatapan, spechless.

"Lalu, dimana mereka?" Sasuke berujar.

"Mereka sedang berada disana, di dekat permainan menangkap ikan dan beberapa stand makanan. Tempat reuni Sai," Ucap Sakura sambil menunjuk-nunjuk.

"Kenapa kau disini?"

Sakura terdiam. Kenapa cerewet sekali sih, cobalah untuk mengerti dimana keadaan. Apakah enak berdiri ditengah orang-orang yang tak kau kenal? Jadi, lebih baik aku jalan-jalan , tak adakah pertanyaan lain? Misalnya menanyakan kabarku.

" Aku hanya ingin berjalan-jalan saja kok," Sakura tersenyum. "Lalu, kau sendiri? Mm, Sasuke-kun, sebaiknya kita menepi, tidak enak di tengah jalan,"

"Ah ya, aku sama sepertimu."

Keduanya menepi, bersender di salah satu toko yang telah tutup dan dipenuhi stand-stand permainan.

"Apa kabar?" akhirnya, pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Sakura terlontar dari bibir Sasuke.

"Baik. Kau sendiri?"

Seakan tidak mendengar pertanyaan dari Sakura, Sasuke melampiaskan kerinduannya. "Sudah lama tidak bertemu ya?" walaupun halus, terdengar jelas sekali ada nada kerinduan yang tercipta disana.

"Eh?" Sakura terperanjat, tersenyum kecil dengan pipi yang bersemu merah. "Ya, sudah lama sekali," sambung Sakura.

"Aku menunggumu untuk meminjam buku pada kakak. Tapi yang datang, malah gadis yang membawa babi kecil bersamanya." Sasuke terkikik. Hei..hei..apa yang kau lakukan, kenapa kau bisa bicara seperti itu?

Semburat merah muncul di pipi Sakura. Tapi ia berusaha untuk mengontrolnya. Sasuke-kun aku juga berharap begitu, tapi nona Shizune mau meminjamnya sendiri pada Itachi Nii-san. Sakura terdiam, lidahnya terasa bisu. Keheningan berhasil menguasai keduanya. Walaupun riuh pikuk ada disekeliling mereka.

"Sa..Haruno," Ucap Sasuke, mengeluarkan mereka dari keheningan, mengembalikkan mereka pada kenyataan, bahwa mereka sedang ada di tengah hiruk pikuk festival.

"Panggil Sakura saja," Ucap sakura lembut, tersenyum.

"Ya, Sakura—" Sasuke melirik jam tangannya. Sudah setengah jam berlalu. Gawat, aku harus kembali.

"Sakura, bagaimana kalau kita kembali ke tempat reuni?"

"Eh? Ternyata kau ikut reuni itu juga?"

"Ya"

Mereka melangkah pergi, tidak ada pembicaraan di tengah perjalanan itu. Yang ada hanya kebisuan. Padahal hati mereka meraung, ingin sekali memeluk dan mengatakan aku rindu padamu. Tapi mereka tahu, mereka bukan apa-apa.

Naruto bertolak pinggang melihat Sasuke yang baru saja datang dengan...dengan... Naruto ternganga. Rambut pink? Mata emerald? Bukankah? Bukankah..itu adalah gadis yang diceritakan Sasuke tempo lalu? Kenapa bisa bersamanya?.

"Kenapa kau? Aku menepati janjiku kan?" Ujar Sasuke yang sudah tahu akan ekspresi Naruto yang melihatnya berjalan bersama Sakura.

Naruto menunjuk-nunjuk gadis yang ada di sebelah Sasuke.

"Ini Sakura, Sakura Haruno." Ucap Sasuke datar.

Sakura menyodorkan tangannya, di sertai Naruto yang meraih tangan Sakura. "Sakura." "Naruto."

"Selamat bergabung!" Ucap Naruto, tertawa lebar.

Ino melihat Sakura dari kejauhan, lalu mendekatinya yang sedang berbincang oleh Naruto.

"Hei! Sakura! Kemana saja kau?" Ino setengah teriak, mengagetkan Sakura.

"I..ino.." Sakura hanya tersenyum.

Sasuke terdiam, larut dalam pikirannya.

Acara pun akhirnya dimulai. Panitia yang telah memesan dua stand dan mendirikan panggung mengucapkan kata sambutan yang meriah. Acara demi acara telah berjalan dengan lancar. Sampai di penghujung acara, memperebutkan satu hadiah yang menarik. sebuah kalung berliontin kupu-kupu. Sasuke sama sekali tidak tertarik, pandangannya selalu tertuju pada dia. Ya, pada nona Sakura Haruno yang ikut bergembira bersama sahabatnya.

Sasuke menarik lengan Sakura. Mengeluarkannya dari keramaian. Memaksanya untuk mengikuti langkah Sasuke.

Tiba di suatu tempat yang sepi, seperti bukit kecil. Mempertontonkan sang ratu malam dengan cantiknya. Hembusan angin menyapa mereka.

"Sasuke-kun, ada apa?" Ucap Sakura tak mengerti.

Sasuke tidak menjawab. Segera membawa Sakura ke dadanya. Mendekapnya lembut.

"Aku merindukanmu, sangat."

Sakura terkejut, dan sedikit terperanjat atas apa yang baru ia dengar.

"Sa..Sasuke-kun,"

"Aku suka kamu, Sakura Haruno." Sebuah pernyataan tulus melesat di bibir Sasuke. Dari hati yang terdalam, dari hati yang telah terkoyak oleh rindu.

"Sa..Sasuke-kun,"

"Jangan hanya memanggil namaku, Sakura,"

"Sasuke-kun. Aku mencintaimu." Sakura membalas dekapan Sasuke, memeluknya se-erat mungkin.

Angin membelai lembut kulit mereka, memainkan rambut pasangan itu. Suara kembang api yang melesat membuat mereka melepaskan pelukannya, menyaksikan keindahan yang di suguhkan kembang api tersebut. Mereka saling menatap, dengan senyum yang tersungging di bibir mereka.

.

.

Sebuah pertemuan yang tidak terduga, telah membawa hati mereka.

Dan pada akhirnya, mereka dipersatukan oleh takdir.

.

.

FIN

.

.

wew, Sasuke nya OOC banget yah..hahaha, tapi bagaimana ya, ya gitu deh, saya tidak bisa berkata apa-apa for read :) And i will be happy if u wanna Review this chap :).

Mind to Review?