•≫≫≫≫≫≫⊕≪≪≪≪≪≪•
② Permulaan
Semua berawal dari sebuah kecupan yang diberikan oleh kekasihnya, Enma. Saat ini Tsuna hanya terus tersenyum dengan pikiran tentang Enma tentunya. Beberapa jam yang lalu, Enma mengantar Tsuna pulang. Tiba di depan rumah yang sepi, tiba-tiba Enma mengecupnya dan berlari pulang dengan tergesa-gesa tanpa mengatakan apa pun.
"Enma-kun..." Tsuna masih bisa merasakan bibir Enma dengan jelas. Rona merah pekat yang menghiasi kedua pipinya masih bertengger manis. Senyuman manis yang tak jelas asalnya pun terukir di bibirnya.
"Uh!" Tsuna menepuk kedua pipinya keras. "Sadarlah Tsuna. Sekarang waktunya kau memasak." Tsuna beranjak dari duduknya menuju dapur yang ada di lantai satu. Rumah berlantai dua ini hanya dihuni oleh satu orang yang masih bersekolah.
Sejak orang tuanya tiada, Tsuna menjadi pribadi yang mandiri walaupun masih tetap payah. "Hari ini buat apa ya...?" Tsuna sedang melihat-lihat isi kulkas. Kemampuan memasaknya sudah tak diragukan lagi.
"Baiklah. Aku akan buat Shabu-shabu." Bahan yang dibutuhkan sudah tersedia. Tsuna hanya tinggal mengolahnya. Tsuna segera membuat kaldu dan menunggunya hingga mendidih. Sementara itu, Tsuna memotong-motong sayuran dan kebanyakan jamur. Kaldu mendidih, Tsuna memasukkan potongan sayur tadi. Menunggu masakannya matang, Tsuna teringat kembali dengan mimpinya. Tsuna memegangi lehernya dan merinding hebat.
"Itu hanya mimpi," gumam Tsuna menyemangati. Kompor dimatikan. Hasil masakan sudah siap santap. Tsuna duduk manis. Bibirnya melengkung mengukir senyuman kecil. "Itadakimasu."
Baru Tsuna memegang sumpitnya, sesuatu menyentuh tengkuknya. Apa itu? Tsuna tak berani menoleh sedikit pun. Sumpit itu ditaruhnya kembali. Tsuna berdiri dan segera berlari ke kamarnya. "HIII!" Jeritan Tsuna bergema memenuhi ruangan.
Tiba di kamar, Tsuna mengunci pintu dan melompat ke atas ranjangnya. Menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. "Apa itu... Hantu...?" Tsuna takut dengan hal semacam itu.
"Penakut."
Suara itu... Tsuna mengenalinya. Ia menoleh ke asal suara dan menemukan sosok yang ada di dalam mimpinya semalam. Dan dia... Melayang!
"HIIIIIIIIII!"
Sosok itu, Giotto menutupi kedua telinganya dengan tangan. "Suaramu bisa membuatku tuli," protes Giotto.
"Ja, jangan bunuh aku..." pinta Tsuna sangat memohon. Dan ia hampir menangis karenanya.
Giotto menghela napas. Perlahan tubuhnya turun dan kakinya berpijak di lantai. "Siapa yang akan membunuhmu, Tsunayoshi?" tanya Giotto menahan tawa. "Apa aku sangat menakutkan?"
Dia ingin menertawakannya? Tsuna cemberut mendengarnya. "Lalu apa maumu? Kau ingin mengisap darahku lagi?"
Giotto tak langsung menjawabnya. Ia melangkah dan duduk di samping Tsuna yang semakin ketakutan. "Tidak," sahut Giotto pendek.
"Be... Benar?" tanya Tsuna ragu. Ia tak sepenuhnya percaya pada Vampir itu. Tunggu, kenapa penampilannya sekarang berbeda? Ke mana jubah hitam itu?
Masih jelas dalam ingatannya jika Vampir itu mengenakan jubah hitam yang menutupi tubuhnya. Dengan tambahan berupa rantai emas dan simbol aneh sebagai hiasannya. Sedang sekarang dia hanya berpakaian layaknya eksekutif muda. Setelan mahal dengan kemeja dari sutra dan sepatu buatan tangan. Apakah hidup Vampir sangat glamor?
Tsuna bergeser dari duduknya menjauhi sang Vampir. "Kenapa diam? Apa yang kau rencanakan?" tanya Tsuna penuh curiga. Terlihat dari tatapan matanya yang disipitkan.
"Apa?" Giotto malah balik bertanya. "Tunggu sebentar. Ada yang harus kuluruskan di sini." Giotto mengubah posisi duduknya menghadap Tsuna. Ia menyilangkan tangannya seolah akan memberi ceramah.
"Eh?" Tsuna mengerjapkan matanya. Apanya yang harus diluruskan? Sudah jelas jika Giotto itu berbahaya dan tak bisa dipercaya. "Aku tak memercayaimu."
Giotto tersenyum tipis dan menepuk keras kepala Tsuna. "Aku bukan seorang Vampir."
Tsuna mengaduh karna tepukan dari Giotto. "Apa!?" Tsuna tak percaya. "Bukan Vampir? Lalu kenapa kau mengisap darahku?"
"Aku hanya mengambilnya sedikit sebagai tahap awal," kata Giotto mengangkat bahunya dengan santai.
"Tahap?" Baru pertama kalinya Tsuna dipaksa untuk berpikir jauh. "Aku tak mengerti..."
"Ya, tahap. Itu semacam upacara untuk mengikat perjanjian." Giotto menatap Tsuna serius. "Kau sudah terikat kontrak denganku," tegasnya.
Wajah Tsuna berubah horor seketika. Mulutnya menganga saking terkejutnya. "Halooo? Kau waras, kan?" Tsuna sangat tak percaya. Giotto hanya dianggapnya main-main saja.
"Apa aku terlihat main-main?" Giotto menatap Tsuna dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Hiii!" Tsuna tak bisa mengelak lagi. Dia serius! Tsuna mengangguk keras. Ia hanya bisa percaya untuk saat ini.
"Bagus." Giotto tersenyum puas. "Sekarang..." Giotto melepas jasnya. Membuka beberapa kancing kemeja dan menggulung tangan kemejanya sampai sikut.
Mau apa dia!? Tsuna tampak panik dan mengeratkan selimutnya.
Tak memedulikan Tsuna yang panik, Giotto kembali menyilangkan tangannya dengan jas yang berada dipangkuannya. "Apa kau sudah mendapatkan potongan puisi itu?"
"Potongan puisi? Apa itu?" tanya Tsuna penasaran.
"Puisi itu adalah kunci utama dalam kontrak yang kubuat. Tugasmu adalah mengumpulkan seluruh potongan puisi itu hingga membentuk bait puisi yang sempurna."
"Apa?"
"Kumpulkan saja." Giotto menyentil hidung Tsuna gemas. "Jika semua terkumpul, kau akan mengetahui segalanya tanpa kuberitahu sekalipun."
Tsuna cemberut memegangi hidungnya. "Iya, iya." Perasaannya mengatakan bahwa akan ada sebuah rahasia besar yang menantinya.
"Sebenarnya kita makhluk yang sejenis. Hanya saja kau dari Dunia Fana."
Setelah mengatakannya, Giotto menghilang dari hadapan Tsuna seperti tertiup angin. Tsuna yang menyaksikan merasa sangat frustasi. "Aku butuh kau, Paman!"
•≫≫≫≫≫≫⊕≪≪≪≪≪≪•
Tsuna masih membuka matanya padahal sudah tengah malam. Pembicaraannya dengan Giotto tadi malah menjadi beban pikiran. "Aku tak tahu apa pun. Aku tak mengerti... Kenapa aku mau melakukannya!?"
Sejak makan malam berakhir, Tsuna masih memikirkan tentang puisi yang dimaksud. Dari mana ia mendapatkannya? Tsuna dibuat bingung karenanya. Kenapa harus dicari sendiri jika Giotto tahu?
Pikiran Tsuna mengerang hebat di dalam sana. "Aku butuh obat tidur!" Tsuna memejamkan matanya erat. Memaksa tubuhnya untuk tertidur.
Merah untuk Darah.
Tsuna terbangun karna mendengar sesuatu. "Merah...? Untuk... Darah...?" Suara yang didengarnya bukan dari Giotto. Tsuna yakin itu. "Hiii!" Tsuna merinding seketika dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sejak Giotto muncul, hal aneh mulai bermunculan.
Aku merasa gila! Tsuna terus merutuk dalam hati. Kedua kalinya Tsuna mencoba tertidur dan itu berhasil ternyata. Ia pergi ke alam mimpinya seperti biasa.
Lagi-lagi... "Ini mimpi?" Tsuna berada di ruangan berdinding putih kosong yang sama. Kakinya melangkah perlahan. Langkahnya terhenti ketika menyadari sesuatu menetes dari atas sana. "Apa ini?" Tsuna mengangkat satu tangannya sedada. Membuka telapak tangannya menunggu tetesan berikutnya. Kepalanya menengadah. Matanya melebar hebat. Di atas sana di dominasi warna merah pekat seperti darah.
Hampir menyerupai kolam darah. Namun posisinya terbalik dan tak tumpah anehnya. Tsuna menarik tangannya namun tetap menengadah. Biarpun warna itu menyeramkan, tapi sepertinya mengandung banyak makna.
Merah untuk Darah.
Suara itu terdengar lagi. Tsuna menunduk dan menutupi kedua telinganya erat. "Apa maksudmu!?" Tsuna benar-benar ingin keluar dari mimpinya.
"Tsunayoshi."
Tsuna tersadar. Ini suara Giotto. Tsuna mengedarkan pandangannya dan menemukan sebuah pintu yang tertutup. Tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya, tubuhnya bergerak sendiri. Ia berlari menuju pintu itu.
"Giotto?"
Tangannya meraih gagang pintu bermaksud untuk membukanya. "A, apa yang terjadi...?" Tsuna mundur seketika. Pegangan pintu itu menghilang dan berubah menjadi cermin berwarna merah.
Tsuna tak menemukan suaranya lagi. Hal ini sama seperti saat Giotto muncul dan menggigitnya. Apa akan terjadi lagi?
Tepat di depan mata kepalanya sendiri, bayangan pada cermin itu muncul. Sosok yang muncul adalah sosoknya sendiri. Bukankah itu wajar? Sebenarnya tidak. Karna cermin merah adalah cerminan dari sesuatu yang tak terlihat.
"Itu... Aku...?" Suaranya kembali. Tsuna memerhatikan sosok dirinya di dalam cermin. Sama. Tapi tatapan matanya kosong dan berwarna merah.
"Kenapa?"
Tsuna menempelkan telapak tangannya pada cermin itu. Namun tidak dengan bayangannya. "Kenapa...?"
Dengan keinginan kuat, Tsuna memaksa masuk. Tubuhnya menembus cermin merah itu. Hanya beberapa detik saat Tsuna bertatapan dengan bayangan itu. Kemudian yang terjadi adalah bayangan itu menghampirinya dan seolah merasuki tubuhnya.
"Merah untuk Darah." Tsuna mengatakannya tanpa keinginannya sendiri. Mulutnya tiba-tiba bergerak sendiri dan mengucapkannya.
•≫≫≫≫≫≫⊕≪≪≪≪≪≪•
"Eeeh!?"
Ini bohong kan? Tsuna terbangun di pagi hari sebelum jam bekernya berdering. "Aku tak percaya ini!" Tsuna segera berlari ke kamar mandi dan bersiap. Ini seperti rekor dalam hidupnya. Rekor bangun tak kesiangan.
"Mimpi semalam aneh sekali." Tsuna berceloteh di dapur seraya membuat sarapannya sendiri. Ia tampil dengan seragam lengkapnya. "Itu aku ya?" Tsuna masih tak percaya dengan mimpinya.
"Jadi kau sudah menemukan baris pertama?"
Suara itu membuat Tsuna menoleh dengan air mukanya yang horor. "Kenapa kau muncul tiba-tiba!?"
Giotto hanya mengangguk-angguk. Posisi tubuhnya sedang bersila di udara. Ya, dia melayang!
"Sedikitlah normal!" Tsuna menggigit roti bakarnya sangat ganas. "Bisa-bisa aku gila karena ini semua!"
"Ini normal," bantah Giotto. "Karna kau hanya makhluk dari dunia Fana, makanya menganggap semua ini aneh."
"Terserah." Tsuna menelan roti yang selesai dikunyahnya dan meneguk segelas susunya sampai habis. "Kenyangnya..."
Baik, kali ini Giotto agak berpakaian rapi. Tapi hanya mengenakan vest saja. Tsuna memerhatikan Giotto dengan ekor matanya.
"Merah untuk Darah," kata Tsuna sedikit malas. Bisa dilihatnya dengan jelas jika Giotto menyeringai.
"Baris pertama." Giotto turun dan berdiri di lantai dengan elegannya. Membuat Tsuna memberinya tatapan aneh.
"Aku tak menyangka jika akan secepat ini. Kau memang orang pilihan, Tsunayoshi." Giotto menepuk keras kepala Tsuna. Ada rasa puas dan bangga di sana.
"Iya, iya." Tepukan Giotto sakit sekali. Apa dia tak sadar jika dia sudah dewasa? "Lalu?"
"Lalu?"
"Aku akan mendapatkan potongan puisi itu dari mimpiku?"
Giotto mengangguk. "Tapi hanya sebagian."
Benar juga. Tsuna mendapatkannya saat berusaha untuk tertidur. "Baiklah. Aku akan melakukannya sampai selesai." Ia tak mau berlama-lama dengan makhluk tak jelas macam Giotto.
Giotto tersenyum. "Sepertinya kekasihmu sudah datang."
"Eh!?"
"Sampai jumpa, Tsunayoshi."
Giotto menghilang lagi. Tapi yang terakhir itu... Dia mengecup pipiku...? Wajah Tsuna kontan memerah hebat.
"Giotto!"
Tsuna berlari dan memakai sepatunya. Tak lupa tasnya sudah ada di tangan. Saat membuka pintu, Enma sudah ada di sana. Berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Beruntung Tsuna tak menabraknya.
"Ohayou, Tsuna-kun."
"E, Enma-kun... Ohayou..."
Apa Enma mendengar teriakannya? Semoga saja tidak.
"Tsuna-kun, kau demam?" tanya Enma cemas.
Tsuna menggeleng cepat. "A, aku baik-baik saja," senyum.
"Begitu ya." Enma tersenyum tipis. Kekasihnya selalu terlihat manis di saat seperti apa pun. "Tsuna-kun," panggil Enma setengah berbisik.
"A, apa Enma-kun?" Tsuna mendekatkan wajahnya pada Enma.
Tanpa berkata apa pun, Enma mencium bibir Tsuna walau hanya sebentar. Enma tersenyum puas. "Ayo pergi." Enma menggenggam erat tangan Tsuna. Seolah tak ingin melepasnya.
Tsuna yang masih syok hanya pasrah. Itu ciuman... Ciuman! Astaga, wajah Tsuna akan terus memerah jika seperti ini.
Sepanjang perjalanan hingga sampai di kelas Tsuna terus saja menunduk. Ada rasa bahagia bercampur malu yang Tsuna rasakan. Enma terlalu tiba-tiba. Tapi itu sangat manis.
"Enma-kun, kita..." Bisikan Tsuna terhenti karna matanya menangkap sosok Giotto yang melayang-layang di luar jendela.
"Tsuna-kun?"
"HIII!"
Bukan jawaban yang didapatkan Enma. Melainkan jeritan khas Tsuna yang mengggema di ruang kelasnya. Bukan hanya Enma yang menutup telinganya, bahkan teman-temannya yang ada di kelas pun sama.
Menandakan betapa kuatnya jeritan seorang Sawada Tsunayoshi yang bertubuh kecil. Banyak orang yang takkan mengiranya.
•••••••o0o•••••••
-TBC-
Nah, nah... Hola~
Ini bukan cerita tentang Vampir ya xDv
Giotto memang punya kekuatan di luar batas kemampuan manusia. Tapi jarang diperlihatkan. Puisinya sendiri ada banyak sebenarnya. Tapi yang dimunculkan hanya sebagian yang pokoknya saja :3b
Untuk kalimat Tsuna yang, "Halooo, kau waras, kan?" Emang ada di manga-nya yang vol.1. Target 1 tentunya xD
Errr, Giotto membuat kontrak dengan Tsuna dengan tujuan yang akan diketahui di chapter lainnya #plak
Sampai jumpa di chap berikutnya, sankyuu!
Review please~
Ciao!
