Naruto by Masashi Kishimoto
Warning: OOC, Gaje, dll
EsCream presenting:
We Need A Girl
.
.
.
Chapter 2: HYUUGA HINATA
Sudah hampir dua jam pria itu mencari adik sepupunya yang diketahui pergi meninggalkan kediaman Hyuuga sejak pagi tadi. Pria bernama Neji Hyuuga tersebut sudah menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan Hinata. Byakugan sudah beberapa kali dicobanya, ia pun sudah bertanya pada seluruh penduduk Konoha. Namun tetap saja, sama sekali tidak ada kesaksian.
Neji terduduk di salah satu atap rumah warga. Ia kelelahan. Kepalanya mendongak ke langit. Cakrawala itu sudah bewarna jingga, sudah sore. Hampir mendekati waktu makan malam. Dan, Hinata masih belum juga ditemukan? Heck, bisa-bisa ia diusir oleh Hiashi dari kediaman Hyuuga malam ini juga.
Neji berdiri lemah tak lama kemudian. Ia hampir saja putus harapan. Tidak biasanya Hinata menghilang seperti ini. Ia gadis yang patuh dan selalu memberi kabar kalau ia ada urusan di tempat lain.
Menghela nafas, Neji berusaha mencari lebih banyak lagi informasi. Kali ini ia memutuskan untuk meminta bantuan beberapa temannya dan teman Hinata untuk mencari gadis Hyuuga itu. Neji sama sekali tidak menganggap Hinata sebagai suatu hal yang menyebalkan ataupun merepotkan. Ia justru sangat khawatir pada adik sepupunya itu. Semua itu karena ...
Oh tentu saja karena ia sangat, sangat menyayangi Hinata.
Dan ia tidak mau apapun yang buruk terjadi lagi pada adik sepupunya itu. Gadis itu baru saja mengalami putus cinta. Neji tau hal itu sangat menyakiti hati Hinata. Ia tidak ingin ada hal lain lagi yang dapat menyakiti gadis itu.
Ia sudah cukup resah saat mendengar Hinata menangis keras di kamarnya. Saat itu ayahnya tidak ada, jadi ia bebas melakukan apapun yang ia suka. Dan ia lupa kalau masih ada Neji, pria yang selalu diam-diam memperhatikannya. Gadis itu tidak menyadari kalau Neji mati-matian menahan rasa inginnya untuk masuk ke kamar Hinata, dan memeluknya untuk menenangkannya, berkata semua akan baik-baik saja. Hinata juga tidak tahu saat pria itu lalu melenggang pergi ketika mendengar dirinya tidak lagi menangis. Pria itu tidak tahu, kalau ada orang lain yang telah membuat adik sepupu tersayangnya itu tenang.
Mengingat kejadian kemarin malam, membuat Neji makin ingin untuk menemukan Hinata secepat mungkin. Hinata harus hadir malam ini, untuk menyambut ayahnya yang telah berhasil pulang selamat dari misi besar kelas S.
Neji bergerak lagi, lebih gesit dari sebelumnya. Perasaannya mengatakan kalau Hinata telah pergi dari Konoha. Dan dengan bermodalkan perasaan itu, ia pergi menuju kantor Hokage. Sekedar bertanya, juga melapor.
.
.
.
"Hyuuga-san? Maaf, tapi Godaime tidak ada di ruangan ..." ucap wanita berambut pendek itu lembut. Ia mengusap-ngusap kepala seekor babi dalam pelukannya sambil tersenyum minta maaf pada pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Namun Neji tidak mau mengerti. "Tapi ini penting."
"Memangnya ada apa?" tanya Shizune sambil mengerutkan kening. Wajah Neji tampak gusar sekali, membuat ia sedikit penasaran dan juga khawatir.
"Hinata Hyuuga ... hilang."
Ucapan yang langsung to the point itu membuat Shizune sedikit membelalakkan matanya. "A-Apa maksudmu? Bagaimana bisa?"
Neji menghela nafasnya. Menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Shizune-san. Dia belum pulang sejak siang tadi."
"Hah! Hyuuga-san mengagetkanku saja. Bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa Hinata hilang kalau begitu?" Shizune berkacak pinggang, Tonton dipegangnya hanya dengan sebelah tangan.
Gantian Neji yang mengernyitkan dahinya. "Bagaimana bisa? Hinata selalu pulang tepat waktu, Shizune-san. Kalau ia akan pergi ia akan bilang padaku, atau tidak, pada pelayan rumah." Neji menjelaskan. Namun Shizune masih belum sepenuhnya percaya.
"Seorang Ninja tidak mungkin tersesat, Hyuuga-san ..."
"Aku bilang Hinata menghilang. Bukan tersesat."
"Hyuuga-san, dengarkan aku. Kalau Hinata-san menghilang, berarti dia kehilangan arah untuk kembali ke Konoha, bukan begitu? Aku yakin dia bisa dengan mudah menemukan jalan pulang dengan Byakugan-nya. Mungkin saja ia sedang misi, kau tak perlu khawatir," ucap Shizune.
"Misi, ya? Kapan Tsunade-sama memberinya misi kalau begitu?" tanya Neji, mengangkat sebelah alisnya dengan penasaran. Nada sarkatis dalam suaranya membuat Shizune berang sendiri.
"Mungkin ... Pagi tadi, sekitar jam sepuluh ..."
"Hinata meninggalkan kediaman Hyuuga pukul sepuluh, beralasan akan ke tempat latihan tim tujuh," gumam Neji sambil berpikir keras. "Apa ia berbohong padaku?"
Shizune mengangkat bahu, "Rasanya tidak mungkin seorang heiress sepertinya akan berbohong hanya karena sebuah misi."
"Tsk. Kalau begitu Hinata benar-benar hilang?" Suara Neji terdengar agak marah. Ia menatap Shizune yang tengah menatapnya khawatir. "B-Belum tentu, Hyuuga-san, tenanglah sedikit."
Shizune memaksakan senyumnya untuk menenangkan Hyuuga Neji. Ia tahu pria itu sangat khawatir tentang kondisi adik sepupunya, begitupun juga dia. Ia takut kalau memang dugaan Neji benar, Hyuuga Hinata menghilang. Apa yang akan terjadi? Apa kejadiannya akan sama seperti kejadian Uchiha Sasuke?
Neji menahan kesal. 'Lalu?"
"Mungkin, kita bisa menge-check buku misi Godaime-sama?"
Neji terdiam. Apa ini akan memakan waktunya? Tapi ia akhirnya mengangguk.
"Ikut aku."
.
.
.
Ruangan Godaime-sama dibuka dengan mudah oleh Shizune. Ia punya kunci cadangan yang dipercayakan Tsunade untuknya. Kini wanita itu sedang membolak-balikkan lembaran buku misi milik Hokage, bersama dengan Neji.
"Ini misi yang kemarin ... Untuk Inuzuka Kiba. Kemarin memang Kiba datang ke mari."
"Oh, lalu?"
"Misi untuk pagi ini ... Err," ucap Shizune agak ragu, membalikkan lagi lembaran buku yang tebal itu. "Tidak ada ..."
"Nah." Neji memainkan suaranya. "Ia benar-benar menghilang."
"Kau harus melapor setelah kasus ini sudah lebih dari 24 jam, Hyuuga-san."
"Bagaimana kalau Hinata sudah disiksa, bahkan dibunuh?!" geram Neji.
"Jangan berpikir terlalu jauh, Hyuuga-san!" pekik Shizune. "Bisa jadi Hinata sudah pulang sekarang. Makanya itu kubilang: kau tidak bisa menyimpulkan kehilangan seseorang seenak jidat, sesuai peraturan, harus sudah lebih dari 24 jam."
Neji diam mendengar ceramah singkat milik Shizune. Ia kemudian mendesah, kenapa bisa ia begitu heboh?
"Pulanglah dulu, Hyuuga-san ... Aku akan beritahu Godaime-sama nanti kalau beliau sudah pulang."
"Apa yang akan kauberitahu?"
"Neji melapor kalau Hyuuga Hinata menghilang."
"Kenapa begitu?"
"Biar aku bisa tertawa nantinya kalau Hinata benar-benar ada di kediaman Hyuuga ... Aku akan berkata pada Godaime-sama ... 'Lalu ternyata Hinata ada di rumah, benar-benar tragis.'"
Empat siku-siku muncul di dahi Neji. Ia menggeram tertahan, "Aku pulang dulu kalau begitu, Shizune-san. Terima kasih atas bantuanmu."
Shizune tersenyum, "Baiklah. Semoga Hinata-san memang ada di rumah."
Neji berjalan melewati Shizune, keluar dari ruangan Hokage melalui balkon. Saat itu ia baru sadar kalau di luar sudah hujan deras. Dari belakang tiba-tiba muncullah Shizune yang membawa-bawa mantel.
"Kau mau pulang basah kuyup atau ada pilihan lain?" tanya Shizune, menyodorkan mantel itu dengan alis terangkat. Neji tersenyum tipis. "Terima kasih."
Sambil memakai mantel itu, ia berharap ucapan Shizune benar. Hinata memang sudah ada di rumah.
.
.
.
Malam tiba. Hujan semakin deras saja. Sekarang pukul tujuh, pas, dan suhu makin turun.
Di sebuah hutan yang memiliki udara paling dingin di Konoha-hi, terdapat sebuah rumah bertingkat dua yang lumayan besar. Rumah itu tampak gelap. Namun tidak terlalu gelap untuk tidak bisa dilihat.
Beberapa menit kemudian, muncul sebuah cahaya dari rumah itu. Seseorang pasti menyalakan lampunya, dan bayangannya dapat ditemukan di jendela besar yang menemani pintu depan.
Seketika rumah itu terang benderang. Meskipun diterpa badai, rumah itu tetap terlihat nyaman. Orang tadi sudah tidak kelihatan karena jendela besar itu barusan ditutup dengan tirai rapat-rapat.
Rumah itu mempunyai ruang tamu yang besar, namun pengap. Jendela yang ada hanya beberapa, paling banyak ada di dekat pintu masuk. Namun angin dari sana tak bisa mencapai ruang tamu - membuat siapapun yang berada di sana akan merasa kepanasan, apalagi dengan tidak adanya barang elektronik yang bisa menyejukkan.
Dan sekarang, itulah yang dirasakan oleh seorang gadis berambut panjang yang tengah terbaring pulas di atas sofa. Poninya basah, ia berkeringat banyak.
Sudah lebih dari tiga jam gadis itu berada di sana, dan sama sekali belum membuka matanya. Ia pingsan sore tadi, lalu dibawa pergi tanpa sepengetahuannya ke tempat ini. Markas Akatsuki.
Ya. Rumah ini adalah markas Akatsuki. Bekas dari sebuah keluarga yang dibantai habis-habisan oleh kelompok lain. Mereka tinggal di sini kira-kira satu setengah tahun yang lalu, menggantikan markas terakhir mereka yang hanya berupa gua itu.
Sejak perang dengan Konoha, Akatsuki telah menghentikan niat mereka untuk mencari Bijuu. Tujuan mereka hampir tidak jelas, bahkan organisasi mereka nyaris bubar.
Nyaris. Karena satu bulan yang lalu seorang dari mereka telah keluar; anggota-anggota lain juga merasa ingin hengkang dari organisasi tersebut, mereka pikir organisasi ini tidak berguna lagi.
Namun satu hal penting membuat mereka tetap bersama, meskipun Konan, anggota mereka yang keluar itu sudah tidak akan lagi berada dengan mereka. Satu hal penting itu adalah - mereka sudah berjanji tidak akan berpisah. Mereka tidak akan menyalahkan Konan yang melanggar janji, meskipun ...
Meskipun mereka sadar, ketidakberadaan Konan telah membuat mereka kacau. Hanya dalam waktu sebulan, mereka sudah memberantakkan Akatsuki. Tidak ada yang menyiapkan sarapan pagi. Jubah Akatsuki mereka tidak ada yang membersihkan. Konan memang bukan pembantu - namun hanya dirinya lah yang dapat mengerjakan semua tugas-tugas itu dengan baik. Ia bukan hanya Ratu Kertas, namun ia Ratu Segalanya.
Dengan jutsu-nya yang unik, semuanya dapat ia lakukan dengan mudah. Betapa anggota Akatsuki merindukannya. Konan pergi hanya karena ia merasa kalau organisasi ini memang pantas bubar. Sekarang, bahkan Pein pun tak tahu ke mana ia pergi, mereka berharap Konan akan kembali, namun rasanya cukup tidak mungkin.
Lalu, beberapa hari yang lalu, saat semua anggota Akatsuki merasa frustasi karena tidak ada yang mengurus markas, Pein berhasil menemukan jalan keluar. Ia memerintahkan Deidara dan Tobi untuk mencari pengganti Konan.
Dan, dapatlah orang yang dicari. Hyuuga Hinata.
Gadis yang tengah tertidur di atas sofa. Terbaring tidak sadarkan diri.
Suara jam berdentang. Rumah itu cukup mewah untuk memiliki satu buah jam besar. Seseorang yang tadi menyalakan lampu, menghampiri gadis itu. Ia memakai topeng aneh berwarna oranye dan rambutnya acak-acakkan. Sudah jelas ia adalah seorang laki-laki.
Pria itu duduk di hadapan sofa dengan kaki bersila. Jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Hinata yang terkulai lemah di samping tubuhnya. Mendadak pria itu membuka suara, memecah keheningan di malam hari.
"Nee-chan, kapan kau bangun?" tanya Tobi, nama pria itu. Dari lubang yang terdapat di topengnya, bisa dilihat ia sedang menatap Hinata dengan tatapan sendu. Tentu saja ia masih merasa bersalah, ialah yang membuat gadis itu pingsan.
Keheningan melanda lagi. Meskipun di luar sana petir menyambar-nyambar, namun di dalam sini nyaris tidak kedengaran. Tentu saja karena ruang tamu ini punya jendela yang amat sedikit, juga terdapat karpet-karpet kedap suara.
Beberapa menit kemudian, sebuah suara pintu yang terbuka membuat Tobi mengalihkan pandangannya ke kanan. Ia mendapati Hidan, teman satu Akatsuki-nya, dengan tanpa baju atasan alias topless, berdiri di depan pintu kamarnya sambil menguap lebar. Tampaknya pria itu baru bangun tidur. Sejak sore tadi, Tobi sama sekali belum melihatnya.
"Hidan-senpai ..." gumam Tobi. Ia masih menggenggam tangan Hinata saat ia melihat Hidan berjalan mendekat. Pria itu mengucek-ngucek matanya. "Petirnya mengerikan. Aku sampai terbangun," keluhnya.
Kini Hidan berdiri di samping Tobi. Ia melihat tangan Tobi yang tidak kosong. Lagi-lagi ia mengeluarkan suara. "Tangan siapa itu?" Hidan menulusuri tangan itu, lalu matanya menangkap sesosok gadis yang tengah terbaring di atas sofa.
"Ini ..." Baru saja Tobi hendak menjelaskan, Hidan berusaha menyelanya. "Ini cewek pengganti Konan, kan?! Kau berhasil mendapatkannya?!"
Suara sumringah itu tertangkap jelas di telinga Tobi. Seulas senyum miring terpampang di wajahnya yang tersembunyi di balik topeng.
Sebenarnya ia tidak suka melihat Hidan yang menatap Hinata dengan pandangan tertarik. Ia tahu ia seharusnya tidak merasa begini, Hinata dibawa ke mari untuk menjadi pengganti Konan ... bukan untuk menjadi pasangan hidupnya.
Oh, apa yang ia pikirkan barusan? Aneh sekali!
Pria itu segera bangkit, melepaskan tangan Hinata perlahan. "Ya!" jawabnya dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Cantik, kan?!"
"Lebih cantik dari Konan," gumam pria itu. Tobi terkekeh-kekeh dibuatnya.
Petir menggelegar lagi, kali ini lebih keras dua kali lipat sehingga suaranya cukup jelas terdengar sampai di ruangan itu. Hidan mengumpat kasar. Tobi memalingkan wajahnya ke langit-langit. Di atas sana, tergantung sebuah lampu yang sedang bergoyang-goyang tertiup angin dari arah depan.
Mendekati jam delapan, hujan masih belum reda juga. Malah semakin deras.
Sebuah pintu terbuka lagi, kali ini dari sana keluar seorang pria berambut pirang yang diketahui bernama Deidara. Lima detik setelah pria itu, muncul lagi satu orang dari lantai atas. Ia menuruni tangga dengan wajahnya yang datar. Sepasang kantung mata terlihat jelas di sana.
Tobi dan Hidan sontak menoleh saat menyadari kalau ketua Akatsuki itu berada bersama dengan mereka sekarang. Dari wajahnya yang terlihat kelelahan, mereka tahu kalau sang ketua belum tidur semenjak kemarin; pasti sibuk memikirkan Akatsuki dan ... Konan.
"Pein?" Hidan pertama kali buka suara. Deidara berjalan mendekat ke arah mereka berdua, Tobi dan Hidan; lalu berdiri di samping sofa tempat Hinata berbaring. Dan Pein, ketua mereka itu, berdiri sekitar satu meter di belakang sofa.
Pein menatap Tobi dan Deidara datar. Lalu beralih ke Hidan. Ia kemudian bertanya, "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Mereka bertiga diam, mencari-cari alasan yang tepat untuk diucapkan. Tak lama kemudian, Tobi telah menemukan apa yang harus ia katakan. Ia satu-satunya yang punya alibi - ugh, Hidan juga punya.
"Tobi sedang menjaga Hinata-nee-chan!" kata Tobi, yang kembali lagi pada sifat aslinya: menggunakan namanya sebagai kata ganti orang pertama, ia tetap menjaga nada ceria dalam suaranya. Seketika alis Pein naik, dan spontan bertanya, "Siapa itu Hinata?"
"Cewek ini namanya Hinata?" Hidan mendekat ke Tobi dalam gerakan yang tidak terlalu menarik perhatian, dan berbisik padanya. "Rasanya aku gak pernah dengar."
Tobi mendelik. "Hidan-senpai bodoh!" bisiknya balik.
Pein mengawasi mereka berdua, begitu juga dengan Deidara yang masih diam seribu bahasa. Hidan menggeram pada Tobi. Namun pada akhirnya ia memilih untuk memalingkan wajahnya dan berbicara pada sang Leader Akatsuki.
"Hinata itu ... cewek ini," ucap Hidan datar dan menunjuk ke sofa. Pein yang berada di bagian belakang sofa tentu tidak tahu apa yang berada di sana; ia malah mengira Hidan sedang memberitahunya kalau nama sofa itu adalah Hinata. Dalam kebingungan, ia hanya menaikkan alis.
Menyadari kalau Pein sama sekali tidak mengerti, Deidara mulai angkat bicara. "Err, Leader ... Dia ada di sini, un." Deidara turut menunjuk sofa.
Pein melangkah dalam diam, tangannya ia masukkan ke dalam kantong yang ada di jubah. Kini posisinya berada di samping Deidara, yakni di samping kiri sofa. Ia berusaha melihat apa yang ada di sofa tersebut. Helaian rambut ada di sana: panjang dan bewarna ungu kebiruan.
Dari rambut, pandangan Pein turun lagi ke wajah. Wajahnya putih, terlihat sangat lembut. Otak Pein mendadak membayangkan wajah itu dalam balutan darah. Oh, tidak - ia tidak sedang membayangkan.
Ia memang pernah lihat wajah itu berdarah.
Berdarah... karenanya.
Ia ingat sekarang - itu Hyuuga Hinata. Ia heran kenapa ia bisa mengenali wajah itu sebegitu cepat, sebegitu mudahnya. Wajah paling polos yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.
Hinata, gadis lemah yang mengganggu pertarungannya dengan Uzumaki Naruto, kini berada di markas Akatsuki untuk menjadi pengganti Konan.
Pein diam. Ia tak bisa berkomentar. Namun ia terus bertanya: Kenapa dia?
Hening di ruangan itu. Entah mengapa tiba-tiba suhu rendah di sana terasa menusuk kulit.
"Tobi, Deidara, kembalikan dia ke Konoha."
Pein berucap, dingin. Ia menatap Tobi dengan pandangan menusuk, "Ia terlalu lemah."
To Be Continued
