- Clover -


Ini bukan untuk menutupi kekuranganmu.

Tapi aku ingin memperindahmu,

Tsunayoshi...

•••


Dua pasang kaki tengah melangkah berdampingan di atas jalan yang memiliki tekstur unik. Lalu-lalang kendaraan di samping mereka menandakan bahwa keduanya tengah berada di kawasan perkotaan yang ramai. Saat ini Ieyasu sedang mengajak Tsuna pergi jalan-jalan sebelum mereka kembali ke rumah.

Ieyasu menoleh sejenak pada Tsuna. Tangan mungil itu tak pernah sekalipun melepas genggaman tangannya pada topi itu. Hal itu terus ia lakukan sejak ia menjemputnya.

"Tsunayoshi."

"Um?" ia mendongak. Tsuna menatap kakaknya dengan mata bulat besarnya. "Ada apa, Onii-chan?"

"Tanganmu," tunjuk Ieyasu. "Memangnya takut topinya terbang, ya?" tanya Ieyasu cukup penasaran. "Padahal anginnya tak terlalu kencang," tambahnya.

"Tidak," Tsuna menggeleng pelan. "Aku tak mau melepas topiku sampai tiba di rumah."

Ieyasu menggaruk kepalanya yang gatal di bawah teriknya matahari. "Tapi tak harus sampai kau pegangi seperti itu, kan?"

"Umh, tidak mau." Tsuna kukuh. Ia sedikit menunduk.

"Kalau kubelikan sesuatu, mau melepasnya?" bujuk Ieyasu.

Tsuna kembali menoleh. "Onii-chan mau membelikan apa?" tanya Tsuna yang mulai terpancing bujukan kakaknya.

"Es krim?" tawar Ieyasu.

"Kaa-san bilang akan membuat es serut lagi hari ini," kata Tsuna polos.

"Kali ini 3, bagaimana?" Ieyasu takkan menyerah.

"Be, benarkah...?" tanyanya berbinar. Jika tiga, Tsuna bisa menikmatinya dengan lebih puas. Menikmatinya bersama sang kakak tentunya.

"Um," Ieyasu mengangguk. "Mau?"

"Mau!" seru Tsuna dengan semangatnya. "Tapi kali ini yang besar, ya...?" pintanya.

"Apa? Yakin?" kata Ieyasu dengan nada curiga.

"Umh, yakin!" kata Tsuna dengan penuh keyakinan.

Ieyasu tertawa kecil. "Baiklah. Aku akan membelikanmu tiga es krim yang besar," kata Ieyasu seraya mengacungkan tiga jari pada Tsuna dengan tersenyum.

"Yeah!" sorak Tsuna gembira. Kedua tangannya terangkat tinggi.

"Itu baru adikku." Ieyasu mencubit gemas pipi Tsuna yang bulat.

Tsuna cemberut. Ia tak suka Ieyasu mencubitnya.

Ieyasu tak tahan lagi. Ia tertawa cukup keras di tengah keramaian kota. Kemudian berhenti dengan berdeham. "Apa?"

"Onii-chan sedang senang, ya?" tanya Tsuna dengan raut wajah penasaran.

"Ya... Begitulah," kata Ieyasu penuh misteri. "Nah, kita beli es krimnya di tempat biasa saja, ya?"

"Baik!"

Saat itu Tsuna menoleh pada sebuah toko kecil yang baru di buka. "Onii-chan, Onii-chan." Tsuna menarik-narik ujung kaos kakaknya.

"Ada apa?" Ieyasu menoleh.

"Itu," tunjuk Tsuna pada sebuah toko yang ada di sebelah kedai minuman.

Mata Ieyasu mengarah pada arah tunjukan tangan Tsuna. "Itu toko aksesoris, Tsunayoshi."

"Aksesoris?"

"Iya, itu toko yang menjual pernak-pernik khusus anak perempuan. Seperti jepit rambut." Ieyasu menoleh. "Mau mencobanya?"

"Eh?" Tsuna mengerjap. Mencoba? "Aku mau mencoba masuk ke sana!"

Sepertinya Tsuna tak memahami maksud dari Ieyasu. Tunggu, tapi sepertinya Ieyasu akan menemukan sesuatu yang bagus. "Kita masuk." Ieyasu meraih tangan Tsuna dan menariknya memasuki toko yang baru di buka itu.

"Selamat datang!" Ternyata sang pemilik sendiri yang menyambut mereka. Terlihat karena hanya ada dia seorang di sana. "Silakan pilih benda yang kalian inginkan," katanya tersenyum ramah.

Ieyasu mengangguk pelan. Pemilik toko ini sangat ramah.

Tsuna tampak berbinar. Meskipun kecil, tapi toko itu dipenuhi warna yang sangat menarik. "Anak perempuan suka?"

"Tentu saja," Ieyasu terkikik pelan. "Lihat, di sini kita juga bisa membeli bahan yang belum jadi, Tsunayoshi," tunjuk Ieyasu.

"Wah! Itu boneka yang kemarin Sepira-sensei tunjukan!" Kaki kecilnya berlari ke arah deretan kerajinan tangan.

"Beruang?" Ieyasu mengambil satu kotak yang bergambar boneka beruang. "Kau mau?"

"Iya!" seru Tsuna.

Ieyasu berjongkok di hadapan Tsuna. "Tapi kau harus menjahitnya sendiri, Tsunayoshi."

"Tidak apa-apa," Tsuna tersenyum. "Kan ada Onii-chan." Tsuna tersenyum kian lebar.

Ini bukan pekerjaannya. Tapi kalau hanya menjahit... Ieyasu menatap Tsuna sejenak dan tersenyum. "Aku akan menjahitkannya untukmu, asalkan Tsunayoshi mau membuka topinya."

"Apa!?" Tsuna memegangi topinya kembali. "Aku malu, Onii-chan..." Tapi ia pun menginginkan boneka itu. "Umh..."

"Hmm...?" Ieyasu menunggu Tsuna mengatakan "Ya", ataupun mengangguk.

Tsuna menatap kakaknya sejenak. "Aku juga ingin digendong," rajuk Tsuna.

"Sampai rumah?"

Tsuna mengangguk. "Gendong aku setelah membeli es krim nanti, ya?"

"Baiklah." Ieyasu berdiri kembali. "Bonekanya yang ini atau mau yang mana?" Tanpa peringatan, ia menggendong Tsuna agar bisa memilih boneka yang ia inginkan.

"Yang ini!" tunjuknya pada kotak yang bergambar beruang cokelat.

Setelah menyimpan kotak yang sebelumnya, Ieyasu mengambil kotak yang Tsuna tunjuk. Di dalam kotak itu sudah berisi alat menjahit, seperti jarum dan benang. Kemudian kain dan bahan lainnya untuk membuat boneka tersebut. Tak ketinggalan buku panduan untuk membuatnya.

"Tsunayoshi, aku tak janji akan cepat menyelesaikannya," kata Ieyasu seraya menurunkan Tsuna dari gendongannya.

"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu," Tsuna tersenyum lebar.

"Iya, iya." Ieyasu mengedarkan pandangannya. Kemudian ia menemukan deretan jepit rambut dengab berbagai bentuk, warna, dan ukuran. "Ikut aku."

Tsuna mengikuti kakaknya dengan patuh. Ia tak tahu kakaknya akan membeli apa. Ia mendongak dan memerhatikan air muka sang kakak yang tampak tengah serius memilih.

"Ah!" Ieyasu mengambil satu jepit rambut yang berukuran kecil. Pasti cocok. "Tsunayoshi, buka topimu."

"Eh!? Ta, tapi..." Tsuna mundur satu langkah.

"Buka," titah Ieyasu.

"Umh..."

"Tsunayoshi," Ieyasu memberikan nada peringatan pada Tsuna.

Tsuna membuka topinya dengan ragu. Sekilas, kepalanya terlihat baik-baik saja. Namun jika diperhatikan lebih teliti lagi, ada yang janggal dengan poni Tsuna. Ia menunduk. Takut ada yang melihatnya.

"Jangan bergerak, Tsunayoshi." Ieyasu menjumput poni kiri Tsuna dan menjepitnya dengan sebuah jepit rambut berbentuk daun semanggi.

"Um?" Tsuna memiringkan kepalanya dan menatap Ieyasu dengan tatapan polos.

"Cocok," gumam Ieyasu. Tsuna terlihat lebih manis.

Wajah Tsuna merona. "A, aku pastu jelek!"

"Tidak." Ieyasu menggendong Tsuna kembali. Mengarahkannya pada cermin yang disediakan di setiap sudut ruangan. "Lihat."

"Eh?" Tsuna menatap pantulan wajahnya di cermin. "Itu... A, aku...?" tanya Tsuna dengan wajah horor.

"Bagaimana? Manis, kan?" kata Ieyasu menahan tawa.

Tsuna cemberut seketika. "Tidak. Aku bukan anak perempuan, Onii-chan..." Ia mencoba untuk melepas jepit rambut itu.

"Jangan dilepas," Ieyasu menahannya. "Ini pantas untukmu," katanya kukuh. "Perhatikan cermin."

Dalam pantulan cermin itu Tsuna masih cemberut. Sedang dalam pantulan itu Ieyasu terus tersenyum.

"Ini bukan untuk menutupi kekuranganmu. Tapi aku ingin memperindahmu, Tsunayoshi..."

"Memperindah?" Tsuna menoleh pada Ieyasu.

"Um. Kau akan lebih percaya diri, kan?"

"Onii-chan, nanti mereka..." Tsuna mulai ketakutan memikirkan teman-temannya.

"Tidak akan," kata Ieyasu mantap.

Ieyasu yakin mereka takkan mengganggu adiknya lagi. Karena pagi tadi ia telah memberi sedikit "Ceramah" pada anak-anak nakal itu. Terbukti tak ada laporan dari Sepira tentang Tsuna yang diganggu.

"Kita pulang sekarang." Tsuna ia turunkan kembali. Dan topi TK milik Tsuna diambil alihnya. Ia mengenakannya tanpa malu.

"Iya!"

"Kami ambil ini." Ieyasu menyerahkan kotak itu pada pemilik toko. "Dan ini," tunjuknya pada jepit rambut yang menempel di rambut Tsuna.

"Baiklah." Pemilik toko tersenyum melihat dua bersaudara itu. Manis dan akur.

Setelah membayar barang yang mereka beli, mereka pun segera meninggalkan toko itu.

"Lain kali mampir lagi, ya!" seru sang pemilik toko.

"Iya!" Tsuna melambai pada pemilik toko itu penuh semangat. "Nee, Onii-chan."

"Ya?"

"Kenapa mereka memerhatikanku?" tanya Tsuna aneh. Setelah keluar toko, banyak orang yang melihat ke arahnya.

"Itu karena mereka belum pernah melihatmu, Tsunayoshi," kata Ieyasu asal.

"Yang benar?"

"Benar." Ieyasu menepuk kepala Tsuna pelan. Ia termasuk kakak yang penyabar.

Mereka berjalan pulang. Tsuna tampak senang dengan apa yang baru saja kakaknya belikan. Sedang Ieyasu berjalan santai. Ia sudah terbiasa dengan tatapan mereka padanya. Yah, Ieyasu memang cukup berbeda dari tampilan fisiknya.

Tak lupa keduanya berkunjung sebentar ke toko langganan mereka untuk membeli es krim. Tsuna sendiri yang memilih es krim yang ia inginkan. Setelah itu mereka pulang. Dan sesuai janji, Ieyasu menggendong Tsuna sampai rumah.

"Nee, nee... Onii-chan."

"Ya?"

"Aku berat tidak?"

"Tidak."

"Nee, nee... Onii-chan."

"Ya?"

"Nanti makan es krim denganku lagi, ya?"

"Iya."

"Nee, nee... Onii-chan."

"Ya?"

"Onii-chan kakakku yang terbaik sedunia!"

"Wah, aku tersanjung mendengarnya," Ieyasu tertawa pelan.

"Itu benar, Onii-chan!"

Sepanjang perjalanan, Tsuna terus berceloteh tentang ini dan itu. Dengan sabar, Ieyasu menanggapi semua celotehan adiknya. Baginya itu menyenangkan. Yah, sangat menyenangkan.

•••

"Kaa-san!"

"Ara... Kalian sudah pulang," sambut Nana yang sedang mengangkat jemuran.

"Tadaima." Ieyasu berjongkok dan menurunkan Tsuna yang sudah tak sabar ingin turun.

"Okaeri," Nana tersenyum. "Aa..." Nana melihat sesuatu yang berbeda.

Tsuna segera berlari ke arah ibunya. "Kaa-san! Kaa-san! Onii-chan membelikanku semua ini!" kata Tsuna seraya menghambur Nana dengan pelukan.

"Wah, banyak sekali." Nana membalas pelukan putra kecilnya. "Pasti menyenangkan." Nana tak bisa menahan senyumannya.

"Um! Onii-chan membelikanku jepit rambut, es krim, dan Onii-chan akan membuatkanku boneka beruang!" kata Tsuna tanpa henti.

Nana tertawa mendengar celotehan Tsuna. "Es krim? Lagi?"

"Iya! Kali ini tiga dan lebih... besar!" Tsuna menggambarkannya dengan gerakan tangan.

Sementara Tsuna berceloteh, Ieyasu duduk di teras rumah. Ia beristirahat sejenak. Panas cukup menguras tenaganya. Melihat Tsuna yang tetap bersemangat, membuat Ieyasu menyunggingkan seulas senyuman kecil.

"Tapi, sebelumnya... Cuci kaki dan tangan kalian dulu, ya?" kata Nana.

"Baik, Kaa-san!" Tsuna berlari ke arah kakaknya dan menarik-narik tangan Ieyasu. "Ayo, Onii-chan."

"Iya, tunggu sebentar." Ieyasu melepas sepatunya tergesa-gesa karena ternyata Tsuna sudah mendahuluinya melepas sepatu. Dengan Tsuna yang menariknya, ia melangkah seperti orang malas menuju kamar mandi.

"Mereka..." Nana tersenyum dan kembali fokus pada kegiatannya saat ini. Mengangkat jemuran.

Di kamar mandi, mereka mencuci tangan dan kakinya bersama-sama. Tsuna berjingkrak kegirangan, sedang Ieyasu merasa ingin berendam di kolam es.

"Panasnya..." keluh Ieyasu.

"Kita mandi saja Onii-chan!"

"Mandi?" Ini masih terlalu siang untuknya. Serba salah. "Setelah makan es krim, kita berendam, mau?"

"Mau!" seru Tsuna penuh semangat.

Ieyasu menepuk pelan kepala Tsuna. "Ayo, kita harus ganti pakaian."

"Um," Tsuna mengangguk patuh.

Beruntungnya. Ieyasu memiliki adik yang penurut dan tak banyak tingkah. Tapi banyak maunya. Dan ia tak bisa menolak. Sama halnya dengan Tsuna yang tak bisa menolak permintaan orang lain.

Setelah selesai berganti pakaian, mereka kembali ke teras belakang rumah. Ternyata Nana sudah menyiapkan berbagai camilan yang menyejukkan.

"Wah!" Tsuna langsung mengambil posisi duduk dan menikmati es krimnya.

"Ini seperti pesta." Ieyasu duduk di samping kiri Tsuna.

Nana tersenyum seraya menyerut es dengan mesin es serut. "Anggap saja begitu. Hari ini Kaa-san sedang merasa sangat bahagia."

Ieyasu dan Tsuna saling bertatapan satu sama lain. Apa yang membuat ibu mereka seperti itu?

Nana tertawa pelan dan mengatakan alasannya. "Tadi, Iemitsu menelepon," jelasnya.

"Tou-san?" Tsuna menatap heran.

"Oh." Ieyasu bisa memperkirakan apa yang mereka bicarakan. Pasti tak jauh dari kata-kata romantis.

"Ara, jangan menatap Kaa-san seperti itu." Nana memegangi kedua pipinya dengan wajah merona.

Tsuna menatap kakak dan ibunya bergantian. "Ha?" Ia tak mengerti. Ia melanjutkan memakan es krimnya hingga habis.

"Tsunayoshi, jangan dipikirkan." Tsuna pasti masih belum mengerti. Ieyasu tertawa geli melihat respon Tsuna.

"Ah!" seru Tsuna tiba-tiba. Membuat ibu dan kakaknya menoleh. "Onii-chan!" Tsuna duduk di pangkuan kakaknya begitu saja. Seperti di hari-hari sebelumnya, ia selalu meminta kakaknya untuk memakan es krim bersama.

Ieyasu menghela napas. Lagi-lagi... "Tsunayoshi..." Mau tak mau. Ia tak bisa menolak permintaan Tsuna.

"Yeah!" Tsuna segera membuka bungkus es krim yang baru. Tsuna mengacungkan es krim itu ke arah mulut kakaknya. Es krim dengan rasa cokelat-vanilla.

Tanpa menunggu lagi mereka menjilati es krim itu bersamaan. Kedua pasang mata mereka fokus pada es krim yang tengah mereka jilati. Kemudian, semakin lama mereka semakin berusaha untuk mendapatkan potongan besar. Gigit. Mereka menggigit sisi masing-masing. Gigit lagi dan jilat. Hingga mereka berlomba memakan satu es krim cokelat-vanilla itu.

•••

"Ara, gomen ne Ieyasu," kata Nana yang tengah mengelap meja makan.

"Tidak apa-apa. Aku senang membantu Kaa-san." Saat ini Ieyasu tengah mencuci piring bekas makan malam mereka.

"Wah, kau mengagumkan," puji Nana.

"Ah, tidak begitu, Kaa-san," kata Ieyasu merendah.

"Lalu, bagaimana dengan boneka yang akan kau buat itu?"

"Itu..." Ieyasu menoleh seraya mengeringkan tangannya. "Akan kubuat di liburan minggu depan."

"Kaa-san bisa membantu."

Ieyasu menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kaa-san. Aku sudah berjanji akan membuatkannya."

"Kalau begitu bersemangatlah, Ieyasu." Nana menyemangati putra sulungnya.

"Itu pasti, Kaa-san." Ieyasu tersenyum. Nana adalah ibu yang sangat luar biasa.

"Ah, Tsunayoshi pasti sudah menunggu." Ieyasu memeluk ibunya dan mengecup pipinya. "Oyasumi." Ia pun segera naik ke lantai dua, di mana Tsuna sedang menunggunya.

"Oyasumi." Jika sudah besar nanti, pasti yang menjadi orang pilihan putranya adalah orang yang beruntung, pikir Nana.

Saat Ieyasu memasuki kamar, Tsuna sudah menyiapkan Futon untuknya. Seperti biasa, selalu berdampingan dengan Futon-nya.

"Onii-chan." Tsuna duduk di atas Futon-nya dan sudah memakai piyama. Ia siap untuk pergi tidur.

"Arigatou, Tsunayoshi." Senang Tsuna sudah menyiapkan Futon untuknya. Ieyasu segera mengganti pakaiannya dengan piyama.

"Nee, nee... Onii-chan."

"Ya?"

"Sebentar lagi aku naik kelas."

"Hmm, lalu?"

"Aku ingin hadiah," pinta Tsuna langsung.

"Hadiah?" Ieyasu duduk di atas Futon-nya. "Tsunayoshi ingin apa?" tanyanya langsung.

"Umh..." Tsuna berpikir. "Apa ya..." gumamnya. "Tidak tahu, Onii-chan," ia menatap kakaknya.

"Kau ini," Ieyasu tertawa geli. "Kalau begitu hadiahnya dipikirkan lain kali saja. Sekarang kita tidur." Ieyasu menarik pelan kedua kaki Tsuna hingga tubuh kecil itu jatuh telentang pelan.

"Onii-chan," protes Tsuna.

"Hm?" Ieyasu menyelimutinya. Ia sendiri ikut berbaring. Tentunya di Futon-nya sendiri.

"Aku ingin cepat besar."

"Apa? Tidak biasanya," Ieyasu tersenyum tipis.

"Karena aku ingin bisa bersama Onii-chan terus," gumamnya. Tsuna menoleh.

"Eh?" Ieyasu mengerjapkan mata. "Bersamaku terus?"

"Um," Tsuna mengangguk pelan. "Aku ingin selalu ada di samping Onii-chan."

Mata yang masih bersih itu tak berbohong. Ieyasu beranjak untuk mengecup kening Tsuna. "Kita akan selalu bersama," bisiknya. Ia berbaring kembali. "Ayo kita tidur." Ia sudah bersiap dan memejamkan matanya.

"Sebentar."

Ieyasu menoleh. "Apa lagi?"

Tsuna tak mengatakan apa pun. Ia tiba-tiba saja menggenggam tangan kanan kakaknya. "Sampai pagi, ya?" katanya dengan senyuman.

Ieyasu membalas senyuman Tsuna. "Sampai pagi."

"Onii-chan."

"Apa?" Ieyasu belum mengalihkan pandangannya.

"Hari ini aku senang sekali. Arigatou, Onii-chan," kata Tsuna terkikik pelan.

"Aku juga. Aku sangat senang."

"Onii-chan."

"Ya?"

"Aku sayang Onii-chan."

"Aku juga menyayangimu, Tsunayoshi."

"Onii-chan."

"Ya?"

Keduanya telah memejamkan mata.

"Jepitnya belum dilepas."

Ieyasu beranjak dan melepas jepit di rambut Tsuna. "Sudah."

"Arigatou," Tsuna tertawa kecil.

"Kenapa tertawa?" tanya Ieyasu heran.

"Onii-chan selalu baik padaku," kata Tsuna senang.

"Tentu saja. Aku kan kakakmu."

"Kakak terbaik yang pernah ada!" puji Tsuna.

"Ah, jangan begitu." Ieyasu tersipu malu mendengarnya.

"Wajah Onii-chan merah!"

"Tidak."

"Merah."

"Tidak."

"Merah."

"Tidak, Tsunayoshi."

"Onii-chan."

"Ya?"

"Oyasumi."

Akhirnya... Tsuna akan tidur juga. Ieyasu sedikit bernapas lega.

"Oyasumi."

"Onii-chan."

"Ya?"

"Jangan dilepas, ya? Ingat..."

"Iya. Jangan dilepas sampai pagi, kan?"

"Um!"

•••

Ieyasu menatap alat-alat jahitnya dalam diam. Ini pertama kalinya ia memegang semua benda itu. Ia menoleh pada Tsuna yang sudah tertidur pulas dan tersenyum tipis. Ia beralih pada buku panduan yang tengah ia buka. Ia akan mulai menjahit boneka beruang yang ia beli waktu itu.

Keningnya berkerut samar. Ieyasu membolak-balik halaman buku panduan itu. Terasa rumit di matanya. Kemudian ia mencoba membacanya dengan perlahan. Entah sudah berapa kali buku itu ia baca. Namun senyuman kecil langsung terukir. Ia sudah paham dengan apa yang harus ia lakukan. Sekarang, tanpa buku panduan pun, sepertinya bisa ia kerjakan.

Tetapi tetap tak menjamin akan cepat ia selesaikan. Ia tak bisa menjahit. Namun ia juga ingin mendapatkan hasil yang maksimal. Kerena itu, lama pun tak mengapa. Tsuna tetap akan menunggu bonekanya.

Dengan hati-hati Ieyasu mengerjakannya. Tanpa menimbulkan suara berisik yang akan membangunkan Tsuna nantinya. Ia berhenti sejenak dan kembali memerhatikan Tsuna yang sedang tidur. Sangat manis.

Meskipun sudah memasuki liburan musim panas, ia tak bisa seenaknya mengurangi jam tidur. Ia membereskan peralatannya dengan pelan dan menyimpannya di laci meja belajar. Ia kembali berbaring di Futon-nya.

Ieyasu sama sekali belum menjahitnya. Ia baru memotong bahan yang ada menjadi beberapa bagian. Ia berharap saat musim panas berakhir, ia bisa menyelesaikannya. Atau setidaknya sebelum Tsuna naik kelas.

Waktu siang akan ia gunakan untuk bermain dengan Tsuna. Diselingi belajar tentunya. Sore, seperti biasa. Membantu ibunya di dapur. Kemudian di waktu malam, akan ia gunakan untuk membuat boneka itu.

Ia rasa satu jam cukup. Ia pun harus berhati-hati. Tak ingin membuat Tsuna cemas dan malah menyalahkan dirinya sendiri. Ieyasu tak ingin hal itu terjadi. Ia harus membuat senyuman itu tetap selalu terukir di bibir mungil adiknya yang tersayang.

Ieyasu menyamping menghadap Tsuna. Dengan hati-hati ia memeluknya. Tubuhnya seperti boneka. Mungil. Jika sudah besar nanti... Ia tak tahu akan seperti apa adiknya itu. Inginnya tetap bertubuh mungil. Rasanya Tsuna tak cocok jika harus memiliki tubuh ideal.

"Oyasumi, " bisik Ieyasu.

•••

-TBC-


Thanks for reading minna-san!

Ciao!

[Ietsuna G. Ventisette]