;wooden pencil
;romance, fantasy, yaoi, AU, ooc, typo(s), etc.
;chapter 2; stay here

#-#-#

Sesuatu yang berada dalam dirinya—yang tidak percaya dengan sihir—runtuh.

Hoshi benar-benar membuat segalanya menjadi nyata. Segalanya. (Pensil Hoshi, maksudnya.)

Tapi Jihoon tidak bisa memamerkan apa yang telah dibuat Hoshi, karena segalanya itu yang bisa menikmati hanyalah si pemilik pensil—dan si pemegang pensil di dunia manusia, yaitu Jihoon sendiri. Yang artinya adalah, orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya sama sekali tidak bisa melihat benda hasil goresan pensil ajaib itu.

Dan jika kau ingin sekali agar orang lain melihat hasil nyata dari gambar itu, maka itu tak akan menjadi nyata lagi—maka akan berubah jadi debu.

Pantas saja Seungcheol dan Jisoo tak bisa melihat burgernya, pikir Jihoon. Dan juga, pantas saja ia mendengar dentingan. Karena saat itu ia menulis not balok dengan pensil ajaib itu.

"Apa kau tak bisa membuat semua ini menjadi nyata? Sampai semua orang juga bisa menikmatinya?" tanya Jihoon.

"Aku 'kan bukan dewa penyihir." Bibir Hoshi mengerucut. "Segini saja harusnya kau sudah bersyukur. Toh kau bisa menikmati segala makanan dengan gratis."

Jihoon membenarkannya setengah hati. Iya, sih. Tapi apa daya, Jihoon 'kan manusia. Manusia jika diberi segunung emas, ia akan meminta gunung emas lainnya.

Sepanjang Selasa, mereka mengobrol tentang banyak hal. Jihoon jadi tahu beberapa hal tentang dunia sihir. Hoshi jadi tahu cara memasak beberapa makanan manusia.

("Telur naga kepala dua itu sangat enak lho! Kau harus mencobanya sekali-sekali," ujar Hoshi semangat. Walaupun Jihoon mengernyit dan kepalanya penuh pertanyaan tentang bagaimana besarnya telur naga itu, tapi ia tetap membalas, "Itu terdengar bagus.")

Jihoon keheranan kenapa ia bisa akrab sekali dengan orang asing—yang bahkan bukan orang biasa. Biasanya Jihoon merupakan tipe anak yang pemalu dan cenderung penyendiri. Tapi dengan Hoshi, ia jadi lebih cerewet. Mungkin karena Hoshi juga cerewet.

"Hoshi, kenapa matamu bentuknya aneh?"

"Ini tidak aneh, tahu. Jam di dunia kami sama dengan di duniamu ini. Lihat. Mataku berbentuk seperti jam ketika pukul 10:10. Seperti bentuk bibir yang sedang tersenyum, 'kan? Aw, ngilu." keluh Hoshi. Saat itu mereka sedang menikmati banana split dan setelahnya Jihoon merekomendasikan pasta gigi yang khusus untuk gigi sensitif.

Jihoon baru tahu fakta tentang pukul 10:10 dan ia—entahlah—menyukainya.

Hari Rabu ini berarti terhitung dua hari ia menghabiskan waktu dengan Hoshi. Kemarin, Seungcheol sama sekali tidak melihat gelagat aneh Jihoon. Malahan ia diam-diam bersyukur karena Jihoon dalam suasana hati yang terlihat baik, apalagi ketika ia meminta izin untuk menginap di rumah Junghan, dan Jihoon menyanggupinya dengan santai.

Seungcheol 'kan tidak tahu apa yang sedang disembunyikan Jihoon.

Dan Hoshi beruntung, malamnya bisa tidur di kasur Seungcheol yang selalu bersih. "Pakai sihir juga melelahkan, tahu." bela Hoshi saat Jihoon menemukannya sudah teler di atas kasur. Jihoon berbaik hati membuatkannya coklat hangat.

Entah kenapa Jihoon suka melihat mata Hoshi yang menyipit karena tersenyum manis saat menerima coklat hangat itu.

#-#-#

Sebelum waktunya habis, Jihoon harus memikirkan sesuatu dimana Hoshi akan benar-benar bisa membantunya. Ia bukan seseorang yang bodoh, maka ia harus bisa memanfaatkan keberadaan Hoshi yang hanya sebentar ini. Jihoon tidak kejam! Hanya saja, berlaku seperti itu rasanya perlu.

"Aku tidak ingin memakai pensil itu lagi," ujar Jihoon tiba-tiba. Itu hari Kamis. Hoshi mengerling. Ia masih semangat walaupun hari Rabu kemarin kemana-mana 'menemani' Jihoon membeli baju-baju—dengan gratis. Jihoon menggambar uang. Hoshi tentu saja membantu dengan sihir agar uang itu terlihat.

"Jadi, aku bisa pulang ke dunia sihir sekarang?"

Jihoon tidak terima. "Bukan! Aku akan tetap menyimpan pensil itu sampai beberapa hari untuk mencegahmu pergi. Tapi aku tidak mau hanya mengandalkan pensil itu karena sihirnya sangat terbatas."

Hoshi tidak jadi sesenang tadi. Bibirnya dibuat kerucut, tapi ia tetap melanjutkan makan sup krimnya—mungkin ia akan menggendut setelah kembali ke dunia sihir.

Dalam hati, ia juga membenarkan ucapan Jihoon. Sebuah pensil, jika dibanding dengan benda-benda di dunia sihir, memang memiliki kekuatan yang terbatas. "Lalu kau mau apa?"

"Aku ingin menggunakan sihirmu,"

Hoshi mengangkat alis.

(Tiba-tiba matanya terlihat agak lebih besar.)

"Maksudnya?"

"Ya, sihirmu 'kan pasti lebih hebat dari pensil ini."

"Itu benar." sahut Hoshi tanpa sadar. Sedetik kemudian ia menyesal telah menjawab dengan kalimat itu karena Jihoon terlihat berbinar-binar.

"Mungkin kau bisa melakukan sesuatu untukku?" tawar Jihoon.

"Aku sudah melakukan banyak sesuatu untukmu selama dua hari ini." kata Hoshi. Ia jadi kelihatan murni manusia ketika menghela nafas seperti itu.

"Ayolah…"

Jihoon menunjukkan puppy-eyes-nya yang mematikan secara cuma-cuma—sesuatu yang bahkan tak ia berikan pada Seungcheol. Hoshi segera memalingkan wajah. Walaupun Hoshi suka berakting imut, tapi ia tidak kuat kalau melihat orang lain melakukan hal yang sama.

(Bukan apa-apa tapi karena ia merasa tersaingi.)

"Ya, ya, ya, ya, Lee Jihoon, apa yang kau mau?"

"Aku ingin dua tiket ke taman bermain." jawab Jihoon langsung. Hoshi tertawa keras-keras mendengarnya.

"Itu gampang sekali!" Ia masih tertawa. "Untuk siapa? Seungcheol? Atau pacarmu?"

Jihoon memberengut. "Asal kau tahu, aku tidak tertarik pacaran. Dan lagi, Seungcheol milik Jeonghan."

"Oh, kukira anak imut sepertimu sudah punya pacar," balas Hoshi. Jihoon agak-agak merasa malu karena secara tidak langsung Hoshi menyebutnya imut. Tapi ia menggelengkan kepala dan berdeham.

"Aku ingin kau menemaniku ke taman bermain."

Hoshi berhenti makan. Netranya menelisik Jihoon agak lama. "Maksudmu apa? Aku 'kan terbang dan tidak perlu pakai tiket. Siapa juga yang bisa melihatku."

"Maka dari itu, aku minta dua tiket. Agar kau ketahuan saat masuk!"

"Maksudmu apa sih?"

Dasar Hoshi bodoh.

(Atau Jihoon saja yang terlalu berbelit-belit.)

"Yah, aku memintamu untuk menjadi manusia biasa dan menemaniku ke taman bermain dengan cara biasa," Jihoon menatap ke arah lain. Ia tidak biasa meminta orang untuk menemaninya. "'Kan aneh kalau aku kelihatan mengobrol denganmu yang tidak kelihatan."

"Hhhhhhmmmmmmmm." Hoshi kelihatan berpikir panjang. Sekalipun begitu, ia masih sempat mencomot biskuit coklat. "Jadi maksudmu, seperti… kencan?"

Jihoon melongo. Harusnya dunia sihir tidak mengenal kata 'kencan' karena sekarang, kata itu membuatnya malu setengah mati.

"Bukan kencan!"

"Lalu?" sahutan Hoshi terdengar sangat santai. Itu menyebalkan.

"Aku hanya memintamu menemaniku, bukan permintaan yang berat, 'kan?" Jihoon kelihatan penuh pengharapan walau ia memalingkan wajah. Hoshi jadi tidak tega. Apalagi setelah usaha Jihoon menggambar segala makanan yang bentuknya aneh-aneh.

"Baiklah, baik. Aku menyanggupinya." kata Hoshi cepat-cepat. Mata Jihoon yang menyipit itu benar-benar mengganggunya.

Jihoon lucu sekali saat ia tertawa senang. Hoshi jadi merasa seperti seorang ayah yang tersenyum bijak melihat anaknya. Ia kembali memakan biskuit coklat saat Jihoon berdiri dan berjalan ke kamar.

"Apa yang kau lakukan, Hoshi? Ayo, siap-siap!" kata Jihoon. Hoshi mendongak. Ternyata mereka berangkat sekarang. Padahal sudah sore.

"Siap-siap apa?"

"Yah… Kau harus berganti baju dengan yang lebih baik. Aku tidak mau kau datang ke taman bermain dengan celana olahraga seperti itu." kata Jihoon, berhenti di pintu kamarnya, lalu menatap Hoshi. "Mungkin Seungcheol punya pakaian bagus untukmu."

Mengingat Seungcheol sedang menginap di rumah Jeonghan, meminjam bajunya jelas bukan hal yang sulit.

Hoshi hanya menunggu di ruang tengah, tempat ia telungkup sembari membaca majalah dan memakan biskuit. Jihoon tidak butuh waktu lama untuk memilih baju karena outfit yang dibeli Seungcheol semua bagus. Ia kembali dengan celana jeans longgar, juga kaos lengan panjang, jaket musim dingin, syal, dan beanie dengan tulisan 'I love hip-hop'.

"Aku harus memakai ini?"

"Tentu saja. Lagipula kenapa sih kau memakai celana olahraga? Penyihir 'kan harusnya pakai jubah." ujar Jihoon.

"Wowowow, itu gaya pakaian yang kuno sekali. Hanya dewa-dewi penyihir yang sudah tua yang memakainya. Kami bebas memakai apa saja," jelas Hoshi.

"Sekarang gantilah di kamar Seungcheol dan berubahlah jadi manusia. Oh iya, tiketnya jangan lupa dibuat." kata Jihoon, menunjukkan ponselnya yang terdapat gambar tiket masuk taman bermain. Hoshi mengangguk, lalu Jihoon berjalan ke kamarnya dan menutup pintu.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah siap. Jihoon menilai-nilai penampilan Hoshi yang terlihat seperti anak tersesat yang kelewat mencintai hip-hop, apalagi dengan ekspresi bodohnya itu.

(Hoshi sudah berubah menjadi manusia dan tongkat kayunya tidak ada.)

"Kau butuh sepatu." celetuk Jihoon saat melihat kaki telanjang Hoshi yang putih pucat. "Sepertinya Seungcheol punya sepasang—tunggu," Jihoon mengernyit. Ia harus berhenti mengorbankan milik Seungcheol. Ia teringat akan sesuatu dan kembali ke kamarnya. Hoshi mengekor.

Kim Mingyu pernah, saat ulang tahun Jihoon, memberi kado untuknya. Kado itu berupa sepatu yang keren. Kaki Jihoon tentu masih tumbuh tapi panjangnya sekarang tidak pas untuk sepatu kebesaran itu. Jadi mungkin sepatu itu akan dipakai hari ini, oleh Hoshi.

"Ini,"

Hoshi mengambil dan memakainya. "Pas!"

Jihoon bisa mendengar dirinya sendiri menghela nafas lega. "Kalau begitu tunggu apa? Ayo."

(Jihoon dan Hoshi sempat membuat keributan di lorong apartemen karena ternyata di dalam sepatu itu ada kecoa.)

#-#-#

Mengejutkannya, di malam dingin begini, taman bermain tetap buka. Malahan tampak bersinar-sinar karena lampu yang dipasang melingkar pada berbagai wahananya. Sepanjang perjalanan tadi, Hoshi tak henti-hentinya berdecak kagum. Ia baru mengerti bagaimana rasanya menunggu bis, naik bis, memandang segalanya sesuai tinggimu, dan apapun.

(Jihoon jadi percaya kalau selama hidupnya, Hoshi terus melayang dan melayang dan tak pernah menapakkan kaki di tanah.)

Hoshi dan Jihoon memberikan tiket mereka kepada penjaga loket yang sepertinya sudah mengantuk itu.

Setelahnya, mereka berjalan-jalan, kesana kemari. Mengabaikan bahwa ini sudah kelewat dari petang dan wajarnya mereka adalah istirahat. Membeli gulali dan permen apel yang mengingatkan pada masa kecil Jihoon, lalu membeli bando kuping kucing yang lucu dan dipasang di atas beanie Hoshi.

Jihoon jelas tidak mau memakai bando semacam itu.

Mereka naik wahana apapun. Berteriak-teriak. Melepaskan segalanya, dan Jihoon tak pernah merasa sehidup ini. Ide untuk menulis lagu meledak di kepalanya. Rasa yang membahagiakan. Jisoo pasti senang mendengarnya.

Hoshi itu menyenangkan! Ia kelewat cerewet dan tidak mau diam, menarik Jihoon kemana-mana dan anehnya, lelaki yang lebih kecil menurut saja. Hoshi lari-lari dan penyihir itu berkata bahwa ia ternyata suka berlari.

"Benda itu seru sekali!" kata Hoshi sembari menunjuk roller-coaster yang baru saja mereka naiki. Jihoon berpendapat sama. Sedikit tidak yakin apakah keseruan itu murni dari wahana ataukah ada pengaruh dari Hoshi juga.

(Gawat. Jihoon mulai memikirkannya.)

Hoshi masih menariknya kesana kemari. Tapi daripada sinar-sinar lampu itu, Jihoon jadi lebih memerhatikan Hoshi yang berada di depannya.

(Apa ini? Jihoon tidak mau mengakuinya.)

Ia segera membuang muka, tapi masih menurut saat Hoshi menyuruhnya memakan es krim yang baru saja dibelikan Hoshi, entah pakai uang dari mana.

"Makan seperti ini bisa membuat flu." keluh Jihoon, mengingat tubuhnya yang gampang sakit.

"Aku akan membuatmu tidak terkena flu!" kata Hoshi semangat. Jadi, mereka memesan patbingsoo—es krim dengan ukuran besar yang punya puncak seperti gunung—dan memakannya bersama, mengabaikan tatapan aneh dari para pelayan.

Setelah es krim raksasa itu habis, Hoshi kembali menariknya. Jihoon sampai takut kalau perutnya tidak terima dan berakhir mual. Tapi itu tidak terjadi saat Hoshi mengajaknya ke photo-booth dan mereka mengambil beberapa foto jenaka. Jihoon menempel foto yang terkecil ke baterai ponselnya.

"Aku lelah,"

Jihoon duduk di salah satu bangku. Menatap jam tangannya. Sudah jam sembilan, mungkin sebentar lagi taman ini akan tutup. Ia menatap Hoshi yang masih membaca label di permen coklat yang ia beli. "Ayo, pulang,"

Hoshi menatapnya balik. "Sekarang?"

Jihoon tidak menjawab karena ponselnya berbunyi. Seungcheol meneleponnya. Jihoon mengangkatnya dan ternyata Seungcheol hanya mengabari kalau ia akan menginap selama beberapa hari lagi di rumah Jeonghan, dan mengingatkan Jihoon agar tidak lupa makan.

"Seungcheolkah?" tanya Hoshi.

"Hmmm," Jihoon menjawabnya sembari mematikan layar ponselnya dan memasukkannya lagi ke saku.

"Ya sudah, ayo pulang." kata Hoshi. Jihoon menyetujuinya dengan segera.

Tapi di perjalanan pulang pun Hoshi masih semangat. Ia melihat kedai kue ikan dan berkata pada Jihoon kalau mereka harus membawa pulang beberapa karena Hoshi lapar.

#-#-#

Mereka berdua langsung tidur di kasur masing-masing setelah sampai apartemen—Hoshi masih tidur di kasur Seungcheol.

Tapi menjelang subuh, Jihoon terbangun.

Ide tentang lagu baru masih meledak-ledak di kepalanya jadi ia memutuskan untuk menulis melodinya (kali ini tidak dengan pensil ajaib). Setelah membuat susu hangat, ia mulai bekerja. Dua atau tiga melodi dasar lagu dibuatnya dengan cepat. Ketika ia sadar dari kerjanya, matahari sudah menyapa dari balik jendela.

"Jihoooon!"

Hoshi memanggilnya. Jihoon hampir terlonjak dari kursi tapi ia dengan segera membenahi perilakunya.

"Apa?"

Hoshi terdiam di kasur. "Kakiku sakit sekali."

Ia sudah kembali jadi Hoshi biasanya dengan tongkat kayu dan hoodie abu-abu. Pakaian Seungcheol dibiarkan tergeletak di lantai.

"Kaki?"

"Sebelah sini," Hoshi menunjuk betisnya. Jihoon langsung paham.

"Itu pegal karena kau tiba-tiba melakukan suatu pekerjaan tanpa pemanasan," jelas Jihoon sembari memunguti pakaian Seungcheol. "Kau kan tidak pernah lari-lari, lalu sekalinya lari, begini jadinya."

"Apa kau juga merasakan hal yang sama?" tanya Hoshi.

"Tidak. Aku termasuk sering lari-lari." jawab Jihoon, ia keluar kamar sembari menenteng pakaian tadi, hendak memasukkannya ke mesin cuci.

Ini hari Jumat. Jihoon mendesah berat, seperti mengeluh. Berarti besok adalah hari terakhirnya bersama Hoshi. Bagaimana Jihoon akan menghadapinya? Juga bagaimana ia akan menjalani hari ini? Apa yang harus ia minta dari Hoshi? Mengingat betisnya yang sakit membuat Jihoon agak kecewa.

Ia membuatkan Hoshi sebuah omelette sederhana. Walaupun ia tak bisa diandalkan dalam menggambar, tapi ia lumayan bisa memasak.

"Hoshi, apa kau tahu pantai?"

"Tahu! Itu adalah tempat yang menakjubkan di dunia sihir. Tapi aku belum pernah pergi ke pantainya manusia. Bagus?" tanya Hoshi sebelum memasukkan beberapa potong omelette langsung ke mulutnya.

"Oh, ya, bagus sekali," jawab Jihoon. "Kau mau ke sana?"

"Mau-mau saja," sahut Hoshi.

"Tapi betismu,"

"Oh! Tidak masalah, aku punya suatu penghangat yang bisa meredakannya. Masalah seperti ini juga kadang terjadi di dunia sihir, walaupun tidak di kaki."

Jihoon bersorak-sorai dalam hati. Mungkin ia telah menumbuhkan tim pemandu sorak personal dalam tubuhnya.

(Jihoon berusaha keras menahan ekspresinya agar tidak terlalu kelihatan senang.)

"Jadi, pantai mana yang bagus?" Hoshi bersuara lagi. Jihoon berpikir-pikir. Di Seoul banyak pantai yang bagus, dan ia tidak yakin harus datang ke yang mana.

"Astaga, aku lupa. Ini 'kan musim dingin. Berada di pantai pasti dingin sekali. Yang bagus adalah kalau kita menonton matahari terbenam." kata Jihoon. Ia mendudukkan dirinya di sofa, kecewanya bertambah.

Hoshi juga duduk di sofa. "Ya sudah, tidak apa-apa. Aku punya penilaian pribadi tentang pantai, kok. Bukan karena suhunya,"

Ya, mungkin itu bagi Hoshi. Tapi bagi Jihoon, suhunya tetap akan sedingin itu dan ia harus menggunakan pakaian tebal yang membuatnya seperti ulat dan susah bergerak. Ia berpikir ulang, tapi tak menemukan ide yang lebih baik.

"Di Jeju… Mungkin bagus. Tapi kita butuh dua tiket pesawat pulang pergi agar cepat."

"Kalau begitu gambarlah uang lagi. Tiket pesawat susah dimanipulasi." kata Hoshi.

Jihoon mau tak mau mengambil pensil kayu itu lagi dan menggambar sepuluhribu won pada berlembar-lembar kertas. (Ia sudah bisa menggambar wajah yang ada di uang itu dengan cukup baik. Juga Hoshi sekali lagi membantu dengan sedikit sihirnya agar uang itu bisa dilihat orang lain.)

Fakta bahwa mereka benar-benar akan ke Jeju membuat Jihoon setengah mati merasa senang.

#-#-#

Jihoon seharusnya tak usah membawa apa-apa untuk ke Jeju. Hoshi berkata ia bisa saja membeli semua baju di Jeju tanpa susah payah. Tapi Jihoon tidak suka aroma baju baru, jadi lebih baik ia membawa sendiri. Lagipula lebih hemat, dan lagi ia sudah membeli banyak baju di Seoul.

Hoshi kembali menjadi manusia dan ia kali ini meminjam hoodie dan sepatu Jihoon, jaket dan celana Seungcheol, juga beanie putih polos milik Jihoon. Jihoon memberinya beberapa plester penghangat yang wangi pada Hoshi untuk ditempelkan di betisnya.

"Terimakasih! Terasa lebih baik,"

Jihoon mengangguk-angguk saja sembari menguap. Ia masih merasa lelah, tapi ia tak mau kehilangan kesempatan ke Jeju. Mereka menyetop taksi dan segera berangkat ke bandara. Jihoon tak pernah naik pesawat sebelumnya, jadi ia mengurusi tiket dan perlengkapannya dengan gugup. Hoshi menunggu saja dengan ekspresi senyum-bodoh dan mata 10:10nya yang mengesankan.

(Jihoon membeli tiket kelas terbaik, tentu saja.)

"Sudah, kita tinggal menunggu," kata Jihoon beberapa menit setelahnya. Ia menghempaskan tubuh di kursi tunggu dengan mata terpejam.

Hoshi duduk di sebelahnya. "Kau mengantuk?"

Jihoon mengangguk. "Salahku, pagi-pagi sudah bangun untuk membuat lagu,"

"Tapi jika tidak dituang, kau akan kehilangan ide-idemu, 'kan? Tadi malam sepertinya kau gembira sekali. Apa ide sedang bagus-bagusnya?" tanya Hoshi. Jihoon mendengarnya mengetuk-ngetuk sepatu ke lantai.

Yang ditanya tidak menjawab, masih memejamkan mata. Jadi Hoshi memerhatikan!

"Ya… begitulah." jawab Jihoon, mengabaikan pemandu sorak yang berbunyi lagi, kali ini di perutnya. (Efeknya sama seperti kupu-kupu yang beterbangan.)

"Semangat, ya."

Ia dapat merasakan tangan menepuk-nepuk rambutnya. Jihoon mengernyit, tapi ia masih memejamkan mata. Derap kaki kuda terdengar dari jantungnya. Dan mungkin sekarang para pemandu sorak sudah melompat-lompat di perutnya. "…terimakasih."

Jihoon tak tertarik dengan pacaran, tapi Hoshi mulai membuat bagian kesepian dalam hatinya itu berwarna.

#-#-#

Jeju itu luar biasa.

(Pesawat yang tadi juga luar biasa. Jihoon tak dapat menahan dirinya untuk tidak terus-terusan melihat ke luar jendela. Lapisan awan yang kelihatan halus seperti kapas itu benar-benar menggodanya. Matanya tak berhenti berbinar sampai-sampai ia jadi seperti Hoshi—yang tertarik dengan daftar menu makanan di pesawat.)

Dan Jihoon tidak percaya bisa berada di Jeju. Apalagi secara mendadak dan dibantu sihir seperti ini.

Ia ingin sekali menghubungi Seungkwan—saudara jauhnya yang tinggal di Jeju—tapi pasti akan ada banyak pertanyaan. Apalagi Seungkwan sangat berisik, ia pasti memberitahu ibunya, dan ibunya akan memberitahu ibunya Jihoon, lalu ibu Jihoon akan meneleponnya, bertanya dengan apa ia ke Jeju, dengan siapa—

Ah, pasti repot. Padahal ia suka jalan-jalan dengan Seungkwan yang tidak tahu malu.

"Jadi, dimana pantainya?"

Hoshi menyadarkannya. Jihoon merasa ia perlu mencarinya di internet. Jadi setengah jam kemudian, mereka duduk di salah satu restoran sembari Jihoon mencatat informasi tentang pantai.

"Aku menemukannya. Namanya Pantai Jungmun."

Dan tempatnya sewilayah dengan rumah Seungkwan. Jihoon berdoa setengah mati semoga ia tak bertemu dengan Seungkwan.

"Oke. Kapan mau kesana?" tanya Hoshi yang sedang menikmati minumannya.

Jihoon merapatkan mantelnya. "Setelah kau menghabiskan minumanmu."

Hoshi saat itu juga meminumnya sampai habis. Jihoon tersenyum, lalu menuju tempat pembayaran dan membayarnya. Mereka menyetop taksi di depan restoran itu, lalu segera menuju pantai yang dituju.

"Aku rindu terbang." bisik Hoshi saat di taksi.

"Setelah kau kembali ke duniamu, kau bisa terbang sepuasnya. Kali ini, temani aku dulu," balas Jihoon, sepelan mungkin agar supir taksi tidak mendengar obrolan aneh mereka. Hoshi menatapnya, lalu merapat padanya, menaruh kepala di pundak kecil Jihoon.

"Aku akan menemani Jihoon yang bergerak dengan segala keinginannya," kata Hoshi, tertawa sedikit.

Jihoon menggigit bibir bawahnya diam-diam. Sial, pemandu sorak di perutnya menabuh drum.

(Hoshi tertidur karena perjalanan mereka lumayan panjang, dan baru kali itu, Jihoon rela tidak bergerak ketika ada orang yang merebahkan kepala ke pundaknya.)

Beberapa menit kemudian, mereka sampai. Jihoon mengubah tujuannya, menjadi ke hotel dulu dan mungkin berjalan-jalan membeli beberapa makanan. Kalau mereka ke pantai sekarang, hampir tidak ada yang bisa dinikmati kecuali udara dingin. Dan Jihoon tidak berpikir udara dingin adalah sebuah kenikmatan. Jadi mereka check-in di hotel dan begitu masuk, ia menyalakan pemanasnya dan melesak masuk ke dalam selimut yang hangat lalu tertidur sebentar, membiarkan Hoshi yang mengganti-ganti saluran televisi.

Siangnya, mereka mencari makan. Jihoon suka sekali belut panggang jadi mereka berhenti di restoran yang menjual belut. Ia juga memesan sup gurita, lalu Hoshi memesan sup seafood yang panasnya mengebul.

"Surga!"

Kata Jihoon ketika merasakan sup guritanya.

Hoshi sibuk mengurusi supnya tapi ia mengacungkan jari jempol pada Jihoon.

Mereka makan sampai dua jam lamanya, mengabaikan sore yang mulai datang. Pada akhirnya, mereka harus berlari-lari agar sampai ke hotel untuk mengambil jaket dan mantel yang lebih tebal lalu lari lagi ke pantai.

"Aku mual," keluh Jihoon.

Tapi Hoshi segera memegang sisi kepalanya dan memberi sentakan sihir yang membuat Jihoon merasa luar biasa.

"Bagaimana?" Hoshi tersenyum lebar, tahu bahwa sihirnya tak pernah gagal untuk Jihoon.

Jihoon membeku sebentar. "…lebih baik."

Ia mengabaikan rona yang muncul di pipinya, ketika Hoshi menatapnya sembari menyibakkan pasir padanya. Ia membalas dan ketika Hoshi mendekati air, Jihoon berteriak padanya agar tidak menyentuh air. Sebenarnya Jihoon ingin bilang kalau itu sangat dingin dan dapat membuat Hoshi sakit, tapi ia malu, jadi ia bilang ia tidak ingin sepatu dari Mingyu basah sehingga Hoshi tidak jadi mendekati air.

"Matahari terbenam sebentar lagi," kata Hoshi. "Ayo duduk di tempat yang bagus."

Ada dinding beton di sekitar tempat itu, dan Hoshi lalu Jihoon memanjatnya agar mendapat pemandangan yang lebih bagus. Mereka duduk di tepiannya, menikmati ombak yang terdengar berdebur indah. Langit mulai berwarna antara campuran oranye, jingga, dan sedikit violet, dan Hoshi tak berhenti memuji tempat di dunia manusia.

"Manusia itu luar biasa, tapi—"

Hoshi diam sebentar sementara Jihoon mengangguk. Pernyataan itu benar. Tapi?

"—tapi Jihoon yang terbaik!"

Jihoon melotot. Bukan tanda tak terima, tapi malu.

"Haaah?"

Hoshi meregangkan dua lengannya sambil menguap. "Iya. Ingat tidak, kau tidak takut padaku. Kau juga keras kepala menyimpan pensilku. Kau membuatku melakukan sesuatu yang bahkan dewa penyihir tak bisa melakukannya. Aku terusir ke sini tapi aku bahagia. Terimakasih, Jihoon!"

Dengan Hoshi yang bilang begitu, Jihoon jadi makin sadar bahwa waktu terus bergerak ke sebuah kenyataan dimana ia akan kembali sendirian tanpa sihir.

"Aku—"

"Aku awalnya tidak sadar, tapi sekarang aku suka Jihoon!" kata Hoshi sembari menarik Jihoon ke rangkulannya.

Hah.

"Kau gila?" kata-kata itu keluar dengan refleknya dari Jihoon.

Tapi Hoshi tak mendengarnya dan ia malah tertawa-tawa seperti tak ada masalah yang berarti. Jihoon merutuknya. Mereka mau berpisah tapi kenapa Hoshi berkata sesuatu yang seperti itu? Lagipula, maksudnya 'suka' apa? Ia suka bersama Jihoon, atau ia menyukai Jihoon?

"Bagaimana, kau suka aku tidak?" tanya Hoshi, tersenyum. Menatapkan pandangan pada Jihoon yang ada di rangkulannya.

(Jihoon harus memarahi pemandu sorak yang sekarang berjungkir-balik dengan menabuh drum di perutnya.)

Ia tidak menjawab apa-apa, tapi anggukan kecilnya jelas terasa.

"Yey!" Hoshi memeluknya, mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Jihoon yang memerah seperti udang rebus yang ada di supnya tadi.

Mereka tidak menjadi saksi atas matahari terbenam di pantai Jeju, tapi matahari terbenam itu menjadi saksi atas mereka.

#-#-#

tbc

[soal pantainya, jungmun itu bener-bener nama sebuah pantai di jeju. cuma buat tempatnya, saya ngarang 100 persen wkwkwk.]


aaarrgghh. soonhoon ini membunuh saya.
ahaha jadinya three-shot kayanya. dan part selanjutnya nggak sepanjang ini.
dan lagi-lagi saya masih tergila-gila sama seventeen wkwk.
setelah nyari di twitter, jadi kepikiran bikin meanie /gimana?wkwk
ahiya. terimakasih buat
Sonewbamin, DaeMinJae, Firda473, miss nofie, Ntaekookie, AmIAlive28, baskoro . alham, Naega Joy
buat reviewnya.
[yang lain mana? hehehehehehe.]
see you in the next chapter ;3