Apdet ah! Keburu seneng sendiri sama ceritanya *ditampolsampaikeluarangkasa*

Title: Vocaloid Story – Chapter 2: Dunia Luar

Summary: Liat aja di depan :P (ngapain nulis ini kalo gitu?)

Disclaimer: Cyrpton... Disney Pixar... blablabla... Yamaha, aku benar-benar mencintaimu karena tanpa kau Kyle milik saya dan VOCALOID tidak akan ada XDD

Warning: Komedi garing, makanya, silahkan tekan tombol 'Back' yang ada pada browser kalian masing-masing, untuk masa depan yang lebih cerah. Slight (crack?) pairing, HakuxAkaito. Maaf tata bahasa ancur, jadi gak ngerti deh.


Para VOCALOID melompat keluar dari jendela kamar. Ini adalah kali pertamanya mereka menginjakkan kaki mereka ke dunia luar, yang luas. Mereka bengong, memandang keluar.

NGUOOOONG NGUOOOOOONG (suara motor kebut)

BRUUUUUUMBRUM (suara gas mobil)

Kecrek keccrek (suara sepeda)

Gruduk gruduk (suara kereta bayi)

Tap tap (Suara langkah kaki)

Bengong.

"Um, Miku..." kata Haku dengan suara memelas.

"Ya?"

"Yakin nih, kita mau lanjut? Soalnya... dunia luar menakutkan."

Semuanya diam. Menatap langit biru luas... burung berterbangan dengan bebas. Mereka ingin bebas seperti mereka, namun di depan ada rintangan yang sangat berbahaya. Pikiran-pikiran negatif seperti bagaimana kalau tergilas mobil? Atau bagaimana kalau dikencingin anjing? Atau malah bagaimana kalau kita kebawa angin? Sungguh, ini benar-benar pilihan sulit untuk para Vocaloid, terutama bagi mereka yang sangat ingin bebas. "Kita... harus lanjut. Kita tidak ingin rusak begitu saja kan?" kata Miku, membulatkan tekad.

"Iya. Kita kan mahal." Kata Akaito bangga, mengingat harga action figure dimana-mana itu melebihi uang saku sang author yang biasa dikasih orangtua (ditampol), "Sayang kalo barang mahal dihancurkan begitu saja."

"...Tapi tujuan kita kemana?" tanya Luka, "Kita sama sekali tidak bertujuan."

Semuanya diam. Kemana mereka akan pergi? Tidak ada yang tahu. Yang terpenting adalah, menghindar dari panti asuhan anarkis tempat mereka akan disumbangkan. Teto langsung memecahkan keheningan, mencoba menyemangati teman-temannya itu, "Y-yang penting, kita kabur dulu. Baru cari tempat baru, oke?"

"Ya sudah deh. Ayo kita pergi... tapi hati-hati. Takut digilas mobil."

Para Vocaloids berjalan secara sembunyi-sembunyi, takut ketahuan manusia bahwa mereka bisa bergerak. Ketika lampu merah, mereka cepat-cepat lari menuju sebrang jalan. Suara knalpot mobil dan asapnya membuat nafas mereka berat, dan perjalanan mereka semakin sulit. Neru sampai duluan di sebrang, di susul oleh Gumi. Di belakang ada Haku, yang mulai kelelahan (kan bagi figurine nyebrang aja jauh). Kakinya tersandung oleh permen karet merah muda yang menempel erat di aspal. Kakinya menempel di permen karet itu dan Haku berusaha melepaskannya, namun sulit sekali. Ketika yang lain sudah sampai, Miku langsung berteriak, "Haku-san! Gawat, seseorang tolong dia!"

Akaito, yang hampir sampai ketika semuanya sudah sampai, berbalik ke belakang dan melihat Haku yang terlihat kesulitan dan khawatir. Pikiran negatif Haku mulai merajalela di otaknya, "ah... Aku akan rusak sebentar lagi... Lebih baik semua tinggalkan aku saja..."

Countdown di lampu lalu lintas menunjukkan angka 5. Mobil-mobil sudah bersiap untuk berjalan, suara gas motor terdengar kencang. Akaito berlari menuju Haku, Haku sudah pasrah dan siap mati (cieilah)

Empat... Akaito masih di jalan, berlari. Haku keringat dingin.

Tiga... Akaito sebentar lagi sampai! Haku keringat tambah dingin. Yang lain tegang.

Dua... Akaito lompat menuju Haku. Haku kaget. Yang lain menyemangati Akaito.

Satu! "HAKU!"

Tepat di hitungan ke satu, Akaito langsung memeluk Haku, berusaha melindunginya dari ban mobil. Ketika mobil pertama datang, pelukan Akaito semakin kencang. Haku blushes. Mereka berhasil melewati mobil itu lewan sela-sela ban. Sampai mobil ketiga, dan lampu menyala merah kembali, Akaito akhirnya berhasil menyelamatkan Haku dari mobil dan membantunya lepas dari permen karet (operasi penyelamatan yang konyol, kalau kalian nanya ke author). Akaito memberi tangannya pada Haku. Haku langsung menggenggam tangan itu dengan erat. Ia ketakutan. Akaito sadar, ia langsung bertanya, "Kau tak apa?"

Haku mengangguk. Mata berair.

"Sudahlah, ayo cepat. Semua menunggu."

Kedua figurine itu berlari menuju kawan-kawannya. Para perempuan langsung mengerubuni Haku, khawatir, dan mempertanyakan well-beingnya. Akaito sendiri dikerebuni para figurine cowok. Dipuji lah, digodain lah, dan sebagainya.

Setelah kejadian konyol itu, mereka berjalan sedikit dan menemukan sebuah toko yang hampir tutup. Bannernya menunjukan kalau toko itu adalah toko ofisial yang menjual barang-barang yang berbau anime dan manga, pokoknya surga otaku deh. Mereka berhasil menyelinap masuk, dan tepat setelah mereka masuk, sekumpulan kaki manusia keluar bersama-sama, mengunci pintu toko tersebut. Tokonya tutup, dan mereka akhirnya terperangkap disitu. Mereka beristirahat sejenak, sampai terdengar suara yang tidak asing di telinga mereka.

"Siapa kalian?" tanya gadis asing itu. Ruangan tersebut gelap, mereka tidak dapat melihat apapun. "Ini wilayah kekuasaanku, jangan masuk!"

Ia berjalan sedikit sampai wajahnya terlihat. Wajah itu, suara itu tidak asing lagi. Itu Miku! Miku Hatsune yang lain. Tapi sikapnya jauh berbeda. Siapa Miku itu sebenarnya?

"Aku, Miku Hatsune, putri nomor satu sedunia. Tidak mau kalian ada disini. Pergi!"

Mereka diusir. Tapi mereka tidak bisa pergi. Mereka terkepung. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kenapa Miku yang galak itu terus memandangi Kaito (nah lho)?

To Be Continued


Gila, pairingnya crack tho. Biarin lah, saya pribadi sih suka Akaito x Haku lol

Mau review? Saya peluk ntar X3 (ditendang)