I Miss You
.
.
.
Author: Kim Aluna
Main pair: ChanBaek
Genre: Romance, a bit fluff
Length: Oneshoot
Rated: T
.
.
.
Disclaimer:
Chanbaek punya semua chanbaek shipper dan Tuhan YME. Ga bisa diganggu gugat.
.
.
.
Summary:
Hukuman yang menanti Baekhyun dan tanpa Chanyeol di sampingnya membuat Baekhyun sangat merindukan Giant-nya hingga rasanya semua yang dilakukannya tidak terasa benar.
.
.
.
Warning:
Typo, gaje, bikin mules gajelas, de es be de es be.
.
.
.
Author's Note:
HAI. Ini yang minta sequel Gangsta Byun waks. Saya sejujurnya ragu sih ya nulis ini. Haduh gataulah ya. Silahkan dibaca aja. Terima kasih~
.
.
.
Semenjak perkelahian Baekhyun dengan kakak kelas itu di depan kelas Jum'at lalu, Sabtu ini dia belum kontak sama sekali dengan Chanyeol. Entah kenapa rasanya rindu sekali dengan Giant kesayangannya itu. Padahal kemarin dia menghabiskan dua jam penuh menonton berdua di rumah baekhyun, berpelukan di bawah selimut hangat karena diluar hujan deras.
Baekhyun tau, cepat atau lambat semua guru akan membicarakan masalahnya dengan kakak kelasnya itu. Dan Baekhyun tidak takut. Toh, dia tidak salah, kan? Dia melontarkan kata-kata yang tidak pantas itu secara spontan saat dia terjatuh, dan kebetulan saja ada kakak kelas di depannya.
Baekhyun tau Chanyeol sedang ikut pertandingan basket sekarang. Bahkan turnamen basket diadakan hingga hari Senin. Dan itu artinya, dia tidak akan bertemu dengannya hingga hari itu.
Baekhyun menopang kepalanya di antara kedua tangkupan tangannya di atas meja kantin. Dia masih memakai seragam bela dirinya. Eskulnya belum selesai, masih ada dua jam lagi sebelum selesai dan sekarang sedang waktu istirahat.
"Yeol-ieeee~" gumam Baekhyun lirih dengan nada manja.
Tentu tidak ada yang menyangka seorang anak nakal seperti Baekhyun akan terjatuh juga pada pesona seorang Park Chanyeol, pemain basket inti di sekolah yang merupakan anak baik-baik, kalem, dan terkadang konyol.
Baekhyun yang bertingkah layaknya gangster, tiba-tiba saja waktu itu bisa tenang seketika ketika Chanyeol mengelus pundaknya dengan lembut. Seorang anak kelas 10-1 pun lolos dari hantaman bogem tangannya.
Dan sejak itulah, mereka mulai merasa saling membutuhkan.
"Ugh. Sial. Aku menjadi semakin merindukannya kan." Gerutu Baekhyun pelan lalu cepat-cepat menghabiskan minumannya dan berlari menuju lapangan, meneruskan latihan bela dirinya.
.
.
Senin. Sejujurnya Baekhyun tidak mau masuk hari ini. Ada upacara hari ini karena awal bulan. Dan biasanya upacara berlangsung dari pukul tujuh hingga setengah sembilan. Dan Baekhyun, tidak pernah bertahan di bawah matahari dengan hanya berdiam diri layaknya patung lebih dari lima belas menit. Karena kepalanya akan terasa berputar dan perutnya mual jika dia memaksakan.
Dan biasanya, Chanyeol akan dengan senang hati ikut berbaris di barisan belakang, di tempat yang dinaungi pohon rimbun bersama Baekhyun dengan alasan tubuhnya lebih tinggi dari yang lainnya.
Tapi minggu ini, sepertinya Baekhyun harus kesepian tanpa Chanyeol disisinya dalam upacara hari ini. Baekhyun menghela napas pendek. Kenapa rasanya berat sekali? Biasanya tidak seperti ini.
Dan untuk pertama kalinya, Baekhyun mengikuti upacara dalam diam hari itu, di barisan paling depan.
.
.
Mungkin kelas 10-6 dirundung bingung hari ini. Baekhyun—gangster kelas mereka—tiba-tiba saja menjadi diam hari ini. Baek yang biasanya menjahili siapapun hingga menjerit, menyeletuk kepada guru yang sedang menjelaskan, mengoceh sepanjang hari tentang hal konyol dan tidak penting, tiba-tiba saja hari ini seperti orang kehilangan gairah hidup.
"Baek? Kau tidak apa-apa?" tanya seorang gadis—teman sekelasnya. Baekhyun mengangkat wajahnya dari lipatan tangannya, menatap gadis itu sebentar dan mengulas senyum kecil.
"Ya. Aku tidak apa-apa." Ucap Baekhyun pelan.
"A-ah, tap-tapi, aku terlihat tidak biasa hari ini." Gadis itu mengaruk tengkuknya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang malas saja. Terima kasih sudah bertanya." Ucap Baekhyun, teredam lipatan tangannya sendiri.
Gadis itu berjalan kikuk ke arah depan, dimana teman-teman sekelas Baekhyun langsung datang dan mengerubunginya, lantas mereka bingung akan dua hal, senyum kecil yang dilontarkan Baekhyun pada seorang gadis dan suara lirihnya.
.
.
Wali kelas Baekhyun tiba-tiba saja masuk ketika jam pelajaran kosong hari Senin itu. Dia masuk dengan aura-aura hitam yang menguar dari wajahnya. Oke ini berlebihan.
Guru itu duduk di kursi kebesarannya—dibelakang meja guru—lalu menyisir kelas dengan tatapan tajamnya yang khas.
"Mana Baekhyun?" Baekhyun mengangkat wajahnya lalu mengangkat tangan kanannya.
"Saya Pak." Jawab Baekhyun.
'Ah, pasti tentang hari Jum'at.' Gumam Baekhyun dalam hati.
"Saya tidak tahu ada apa dengan kelas ini. Tapi mengapa setiap minggu ada saja kasusnya huh? Terlambat masuk kelas dua jam, pulang saat jam pelajaran masih berlangsung tanpa izin, dan sekarang? Berkelahi dengan kakak kelas? Apa-apaan?" Dia berkata dengan tajam dan menusuk.
Baekhyun hanya memejamkan matanya jengah, malas dengan semua ini. Dia menenggelamkan wajahnya lagi diantara lipatan tangannya dan bergumam lirih, "Yeol-ieeeeeee~"
.
.
Selasa. Baek menghabiskan dirinya untuk bergelung didalam selimut sepanjang sore kemarin. Dan pagi ini, dia bangun dengan segar, walau semangatnya entah ada dimana ketika dia menginjakkan kakinya di gerbang sekolah.
Dia membuka pintu kelas dengan pelan dan masuk dengan tanpa semangat. Berjalan ke arah bangkunya di barisan tengah, dia menunduk, menolak apapun yang akan dilihatnya.
Ketika dia duduk, rengkuhan hangat dan nyaman khas Chanyeol-NYA, melingkupinya.
"Ada masalah, ByunBaek?" tanya Chanyeol lembut. Wajah Baekhyun seketika cerah, berbinar-binar dengan bahagia.
"Yeol-ieeee~" Gumam Baekhyun senang dengan nada manja yang ketara.
"Ah, kau sangat menggemaskan, Sayang." Kekeh Chanyeol.
"Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu." Baekhyun berbisik dengan manja.
"Kita hanya tidak bertemu tiga hari dan kau sudah sangat merindukanku? Ini hebat sekali." Gumam Chanyeol.
"Kau menyebalkan, Yeol. Kau tidak tau kalau aku dimarahi kemarin ya? Aku ketakutan dan ingin menangis." rajuk Baekhyun manja sambil semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh kekasih jangkungnya.
"Kau sangat tidak pintar berbohong, Sayang. Jadi hentikanlah." Chanyeol tertawa kecil. Baekhyun mengerucutkan bibirnya imut.
"Aku tahu kau kemarin tertidur saat wali kelas memarahimu, Sayang." Chanyeol terkekeh pelan. Baekhyun tersenyum lebar, menampakkan giginya dengan lucu.
"Aku ketahuan ya?" tanyanya sambil tertawa kecil. Kursi mereka yang berada di paling belakang membuat mereka bebas berbuat sesuka mereka, berangkulan, saling bertukar kata-kata manja, dan terkadang, tidur di kelas.
"Sangat-sangat-sangat ketahuan." Chanyeol mencubit gemas hidung Baekhyun. Tidak keras, hanya sentuhan pelan, dan Baekhyun mengeluarkan jeritan pelan khasnya yang mendramatisir.
"Jangan lakukan itu, Yeol-ieeee~" rajuk Baekhyun. Chanyeol terkekeh.
"Kau berlebihan, Sayang." Jawab Chanyeol, senang melihat kekasihnya merajuk seperti itu.
Hening mewarnai mereka selama beberapa detik. Bel masuk masih setengah jam lebih lagi, mereka masih punya banyak waktu luang. Baekhyun menyandarkan tubuhnya seluruhnya ke dada bidang Chanyeol, bangku mereka sudah saling berdempetan. Chanyeol mengelus lembut rambut Baekhyun.
"Hey, kemarin apa saja yang wali kelas bilang padamu?" tanya Chanyeol, nyaris datar. Baekhyun mendongak, menatap Chanyeol agak lama hingga Chanyeol menatapnya balik dengan senyum hangat dan mata teduhnya.
"Yeah, semacam mengapa aku sampai bisa berkelahi, bla bla bla, tidak baik, bla bla bla, kau harus sopan, bla bla bla dan hal yang tidak penting lainnya." Baekhyun menyenandungkan nada malas ketika mengucapkannya sambil memainkan jarinya di dada Chanyeol. Chanyeol tertawa kecil. Dia tahu pasti bahwa kekasih mungilnya benci dengan yang namanya dilarang oleh guru. Tapi sepertinya Chanyeol wajib memberitahunya hal-hal yang benar secara perlahan.
"Sayang, tidak semua ucapan guru tidak penting, kan? Hmm?" tanya Chanyeol.
"Iyasih. Tapi, Yeol, wali kelas kita itu menyebalkan!" bibir Baekhyun mengerucut lucu.
"Baiklah, baiklah. Bagaimana jika aku yang menasehatimu?" tawar Chanyeol. Baekhyun menyipitkan matanya.
"Apa maksudmu dengan ucapanmu itu, Park?"
"Sabtu sore, rumahku, menginap, bermalasan sepanjang hari." Chanyeol mengedipkan sebelah matanya. "Senin tanggal merah, Sayang. Jadi, bisakah aku menebus tiga hari kemarin dengan Sabtu nanti?"
Mata Baekhyun berbinar cerah, senyum terkembang dengan sendirinya.
"Bagaimana jika dari Jum'at sore?"
"Tidak masalah jika kau mau mendengarkan sedikit dari nasehatku nanti."
"Dan aku bisa menginap hingga Senin pagi?"
"Yeah. Senin pagi."
"Deal."
Dan kecupan lembut di bibir mereka adalah tanda terbentuknya janji akhir minggu nanti.
.
.
.
End
.
.
.
Serius. Saya. Nulis. Apa.
Eh eh eh eh jujur aja napa ini kaya bukan sequel ya? HAHAHAHAHAH
Membosankan pasti kan? QAQ
Yaudahlah ya wkwk
Anggap aja bukan apa-apa deh /loh/
Terima kasih sudah membaca
Review?
