Annyeong~

Kacang Merah kembali lagi setelah menghilang sekian lama. Ada perubahan yang harusnya 1 couple 1 cerita,eh aku kepikiran buat digabungin aja deh biar ringkas. hehehe

Ini Neo spesial karena ga ada adegan-adegan rating tinggi di dalemnya. daaaan ada Minyul di sini, aduh lucu banget itu bayi kenapa jadi ikut terkenal gara-gara omnya artis. ckck XD

Thanks berat buat : siscaMinstalove, GaemGyu92, Iceu Doger, H-nifa, Guest, Sulli Otter, MutiaraaAP, maya han , farxiii, sweetkookie60

Kalo ga ada kalian mungkin cerita ini bakalan lebih lama lagi dilanjut.


Saranghaeyo! © Kacang Merah

Pair : Neo (Leo x female-N)

Warning : Ficlet(?), AU, agak ga nyambung gitu, OOC, dapat menyebabkan alis berkerut dan bibir mengerucut


.

.

.

Hakyeon sedang berdiri di depan lelaki yang duduk di pinggir ranjang dengan handuk di tangannya, mengusap cepat rambut hitam lelaki tersebut mencoba mengeringkannya.

"Hakyeonnie..."

"Wae?" Hakyeon menjawabnya dengan cepat, kedua tangannya terus bergerak melanjutkan aktifitasnya.

"Besok bagaimana?"

Kedua tangan dengan cat kuku berwarna merah itu berhenti bergerak. Gadis dengan kulit eksotis itu berpikir sebentar. Memangnya besok ada apa?

Merasa Hakyeon belum menangkap maksudnya, Taekwoon melanjutkan kalimatnya "Apa keinginanmu?"

"Aaa... Keinginanku. Aku hampir saja lupa." Hakyeon mengangguk-angguk seperti baru mengingat sesuatu. Tangannya kembali bergerak ke bagian belakang rambut Taekwoon.

"Aku mau menghabiskan waktu di sini saja asalkan berdua denganmu." Senyum cerah terpatri di wajah manisnya. Senyum yang telah menjerat Taekwoon sampai sekarang.

"Kau tidak bosan?" Suara Taekwoon yang lembut kembali terdengar.

Hakyeon menggelengkan kepalanya. "Sekalipun tersesat di pulau tidak berpenghuni. Asalkan berdua denganmu aku tidak akan bosan."

"Geurae." Dengan satu kata itu kemudian Taekwoon diam seribu bahasa. Apartemen berukuran sedang itu kembali hening.

Setelah yakin rambut Taekwoon sudah agak kering, Hakyeon meletakkan kembali handuk tebal itu pada tempatnya sebelum dia memeluk lelaki yang masih dalam posisi duduk itu dan mendorongnya ke belakang membuat mereka berdua jatuh ke ranjang dalam posisi tidur. Taekwoon yang agak kaget dengan tingkah kekanakan Hakyeon, menghela napas pelan yang dibalas Hakyeon dengan tawa kecil.

"Kau mau pergi ke suatu tempat, hm?" Hakyeon menyandarkan kepalanya di dada Taekwoon, dia bisa mendengar detak jantung Taekwoon dari posisinya. Menenangkan.

"Terserah. Aku akan mengikuti apapun maumu." Taekwoon menyusuri rambut indah Hakyeon yang terasa lembut di jemarinya.

"Oke. Aku akan menyebutkan satu persatu keinginanku. Dengarkan baik-baik, Taekwoonie."

Hakyeon bisa merasakan gerakan Taekwoon yang menganggukkan kepalanya. Gadis berambut panjang itu mengangkat tubuhnya yang berada di atas lelaki berkulit putih tersebut, memposisikan wajahnya tepat di samping wajah Taekwoon yang sedang berbaring sehingga bibirnya yang tanpa lipstik itu tepat di telinga kekasihnya.

"Pertama, kau harus mengatakan 'Aku mencintaimu, Hakyeon' setiap satu jam sekali. Kedua, aku mau kau yang memasak untukku. Ketiga, aku ingin nonton dvd horor dengan camilan dan susu pisang kesukaanku. Keempat, jika aku ingin memelukmu kapanpun dan di manapun kau tidak boleh menolak. Kelima, aku mau makan malam yang romantis untuk besok malam. Keenam-"

'Kring Kring Kring'

"Sebentar." Taekwoon bangkit dari posisi tidurnya. Dia sibuk mencari ponselnya yang berdering dan ternyata ada di bawah selimut yang ditindih oleh Hakyeon. Gadis manis yang merasa tidak diperhatikan itu menekuk bibirnya sebal. Bahkan dia belum selesai mengucapkan semua keinginannya, tapi Taekwoon lebih mementingkan telepon sialan itu.

"Yeoboseyo?" Taekwoon berdiri di dekat jendela apartemennya agak jauh dari Hakyeon yang masih enggan bangkit dari ranjangnya.

Hakyeon membolak-balikkan tubuhnya di ranjang empuk berselimut biru itu. Ada aroma Taekwoon yang tertinggal di sana, membuatnya terlalu nyaman malas menyusul lelaki yang menelpon dengan suara lembut itu. Padahal dia ingin sekali tahu siapa yang mengganggu acara peluk-pelukannya dengan Taekwoon. Beberapa menit kemudian Taekwoon meletakkan ponselnya di atas meja sebelum kembali membaringkan dirinya di samping gadis berkulit eksotis yang menatapnya curiga.

"Siapa?"

"Noona-ku dan suaminya mau pergi ke luar kota. Dia mau menitipkan Minyul di sini."

"Kau jawab apa?"

"Tidak bisa."

"Minyuli? Aaah, kenapa kau tolak? Telepon balik! Katakan kalau kita bisa menjaganya."

"Menjaga bayi tidak semudah itu, Hakyeon."

"Kau meremehkanku? Bahkan aku punya delapan keponakan sekarang. Aku sudah sering berurusan dengan anak-anak. Ah, telepon noona-mu sekarang~"

"Minyuli baru belajar duduk, dia masih belum bisa disebut anak-anak. Lagipula kau akan sibuk seharian dan tidak bisa istirahat besok."

"Taekwoonie~ jebal~" Gadis manis itu memeluk lengan Taekwoon dan menggoyang-goyangkannya, kebiasaannya jika sedang merengek.

Taekwoon melepaskan pelukan Hakyeon pada lengannya sebelum berjalan ke arah ponselnya berada. Hakyeon tersenyum senang. Sudah lama dia tidak melihat keponakan kekasihnya itu, dan besok bayi itu akan berada di sampingnya seharian.

"Kau yakin? Aku akan menelepon sekarang." Taekwoon bertanya dari tempatnya berdiri.

Hakyeon mendudukkan dirinya di ranjang Taekwoon. Mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. Dia yakin sekali.

Taekwoon menekan ponsel layar sentuhnya sebelum suara lembutnya terdengar. "Yeoboseyo? Noona-"

Senyum Hakyeon semakin lebar sampai giginya terlihat.


OOO


.

.

Hakyeon terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dia mengecup pipi lelaki di sampingnya tiga kali membuatnya menggeliat. Kemudian kedua tangannya memeluk Taekwoon dengan erat membatasi pergerakannya sehingga membuat lelaki berkulit putih itu terbangun.

Taekwoon mengintip dari mata sipitnya, mencari biang kerok yang memeluknya erat sekali, saat menemukan gadis berambut hitam panjang di sampingnya, dia memutar tubuhnya membelakangi Hakyeon mencoba untuk melanjutkan tidurnya.

"Woonie, jam berapa Minyuli diantar ke sini?"

"-an -gi."

"Hah? Kau bilang apa?"

"Sembilan pagi."

"Oh. Aku sudah tidak sabar bertemu Minyuli. Dia sekarang berapa bulan?"

Tidak ada sahutan dari teman bicaranya.

"Taekwoonie?" Gadis itu mengintip wajah kekasihnya dari balik punggung tegap itu sebelum mendapati Taekwoon sudah kembali tertidur.

"Yah! Jung Taekwoon aku bicara padamu."

"Berhentilah bicara. Aku masih ngantuk."

"Bangun! Ini sudah siang. Cepat bangun! Masaklah sesuatu, aku lapar."

Taekwoon mau tidak mau membuka mata tipisnya, kemudian mendudukkan dirinya di ranjang mencoba mengumpulkan nyawanya. Daripada mendengar ocehan Hakyeon yang panjang lebih baik dia menurut saja. Lagipula hari ini dia harus menuruti semua kemauan Hakyeon.

"Mau makan apa?" Suara lembut Taekwoon yang masih parau karena bangun tidur terdengar.

Hakyeon ikut mendudukkan dirinya, dengan gerakan cepat dia memeluk sosok tegap itu menyandarkan kepalanya di bahu Taekwoon. "Apa saja asal bukan makanan instan. Taekwoonie, ngomong-ngomong punggungku masih sakit."

"Gara-gara kemarin?" Taekwoon mengusap punggung kekasihnya dengan lembut.

"Eum." Hakyeon mengangguk bersandar semakin nyaman karena gerakan tangan kekasihnya.

"Siapa suruh kau tidak sabaran?" Walaupun suaranya lembut tetapi seringai di bibirnya membuat Hakyeon sebal.

"Yah! Kau menyalahkanku? Kan kau duluan yang mulai. Kau juga yang mau lari dari tanggungjawab. Wonshik dan Jaehwan saja masih mau mengantar sampai apartemen, kau malah mau langsung pulang."

Taekwoon terkekeh pelan, pelan sekali sampai hampir tak terdengar. "Mianhae, Sayang." Dia mengangkat pakaian N di bagian punggungnya, mengecek kulit punggung Hakyeon yang katanya sakit.

"Memar ya?"

"Hm, sedikit. Aku ambilkan obat ya." Taekwoon melepas pelukan gadisnya, sibuk mencari sesuatu di laci dapur, sebelum kembali dengan obat berbentuk pasta di tangannya. Taekwoon dengan telaten mengoleskan pasta tersebut ke kulit Hakyeon yang kebiruan. Gadis itu mendesis pelan saat tangan Taekwoon menekan bagian yang sakit. Setelah selesai Taekwoon mengecup belakang leher Hakyeon sehingga pemiliknya menggeliat.

"Yang sakit punggungku, Sayang. Bukan leherku," kata Hakyeon sarkastik.

Seakan tidak mendengarnya, lelaki dengan tinggi di atas 180 sentimeter itu berlalu begitu saja ke arah dapur.

Tiga puluh menit setelah itu, Hakyeon yang sudah selesai mandi duduk manis di meja dapur menunggu Taekwoon selesai memasak. Taekwoon menghidangkan pancake kecoklatan di depan kekasihnya, kemudian dengan terampil menuangkan madu di atasnya. Hakyeon akui kemampuan memasak Taekwoon memang berada jauh di atasnya. Daripada disuruh memasak, Hakyeon lebih baik mentraktir Hongbin, Hyuk beserta kekasih mereka. Hakyeon tidak mau sampai meracuni adik-adiknya yang nakal itu.

Hakyeon bisa merasakan tekstur pancake yang lembut ditambah rasa manis madu yang meleleh di mulutnya. Hakyeon mengunyah makanannya perlahan. Apa sebaiknya dia menikahi Taekwoon secepatnya agar bisa makan makanan enak setiap hari? Pikiran aneh itu sekilas hinggap di kepalanya, membuat dia menertawakan dirinya sendiri. Taekwoon yang ingin memasukkan potongan pancake ke dalam mulutnya mengerutkan alisnya. Apa dia salah memasukkan bahan sampai Hakyeon jadi begitu? Hakyeon buru-buru mengeluarkan suaranya menanggapi ekspresi Taekwoon yang penuh tanda tanya itu.

"Enak sekali."

Taekwoon tersenyum kecil sebelum memasukkan makanan itu ke mulutnya. Sekarang dia yakin, dia tidak salah memasukkan bahan ke dalam pancakenya.

"Habiskan," kata Taekwoon kemudian.


OOO


.

.

.

"Ah, annyeonghaseyo, Eonni. Aigoo Minyuli." Hakyeon membungkuk saat mendapati Noona Taekwoon di depan pintu apartemen dan suaranya berubah gemas saat melihat bayi gemuk di gendongan wanita itu. Hakyeon pernah bertemu dengan ibu Minyul ini sebelumnya, dan di hari pertama mereka bertemu Minyul baru berumur seminggu.

"Annyeonghaseyo, Hakyeoni. Di mana Taekwoon? Kau sendirian?"

"Taekwoon sedang mandi. Mungkin sebentar lagi selesai."

"Noona, sudah sampai?" Suara lembut dari arah belakangnya membuat Hakyeon menoleh.

"Taekwoon, apa tidak apa-apa aku menitipkan Minyul? Tapi Hakyeon-"

"Aku yang memintanya kok, Eonni," jawab Hakyeon cepat.

"Jinjja?"

"Ne. Jangan khawatir aku sudah sering mengurus anak-anak kok."

"Tapi Minyuli akan membuatmu repot, Hakyeoni."

"Tidak apa-apa. Aku menyukai anak-anak."

Ibu muda itu melirik jam tangannya sebelum buru-buru berbicara, "Aku tidak bisa lama-lama. Suamiku menunggu di mobil, kami harus berangkat secepatnya. Maaf merepotkan kalian."

Hakyeon menjulurkan kedua tangannya untuk mengambil Minyul dari pelukan ibunya, tetapi bayi berkulit putih itu menolaknya lantas merengek memeluk ibunya. Melihat itu Taekwoon mencoba menggendong Minyul, bayi itu mencondongkan badannya ke pelukan pamannya. Hakyeon yang merasa ditolak mengambil tas besar berisi keperluan Minyul dari tangan wanita itu.

Setelah berpamitan dan kembali menutup pintu apartemen Hakyeon meletakkan tas besar itu di atas meja dapur lalu mulai menempeli Taekwoon dengan bayi gemuk di gendongannya.

"Minyuli, imutnya. Aigoo~" Hakyeon mencubit pelan pipi putih Minyul yang bulat. Gemas sekali melihat bayi bermata sipit yang bersandar di dada Taekwoon. Persis seperti pamannya, bayi itu bahkan tidak bergeming sesering apapun Hakyeon memanggil namanya sambil mencolek-colek pipi mochinya. Sosok kecil itu hanya diam memandang Hakyeon dengan mata sipitnya.

"Yah! Taekwoonie, kenapa Minyuli mirip sekali denganmu? Sebenarnya kau ini pamannya atau ayahnya sih?"

Taekwoon tertawa kecil menanggapi omelan kekasihnya yang merasa tidak diacuhkan oleh keponakannya.

"Minyuli, sudah makan?" Taekwoon mengajak bicara bayi di gedongannya. Minyuli mendongak menatap wajah pamannya kemudian mengangguk pelan. Taekwoon tersenyum melihatnya, bayi ini seakan mengerti pertanyaannya.

"Minyuli sudah makan. Samchun bogosipheo? Bogosipheo?"

"Eum." Minyuli mengangguk lagi untuk kedua kalinya. Taekwoon kali ini tertawa kecil melihatnya. Laki-laki tinggi itu bertanya lagi setengah tertawa.

"Minyuli sudah mengerti ya? Hm?" Minyuli yang melihat pamannya tertawa, jadi ikut tertawa membuat kedua matanya yang sipit terlihat segaris.

"Kyaaak. Lucu sekali aku ingin memeluknya." Hakyeon meminta Minyuk dari pelukan Taekwoon. Dia kembali menjulurkan kedua tangannya.

"Minyuli, ayo main sama noona."

"Bukan 'noona', seharusnya Minyul memanggilmu 'imo'."

"Aku kan masih muda, Woonie," jawab Hakyeon tidak mau kalah.

"Tapi dia memanggilku 'Samchun', berarti kau bibinya, kan?"

"Yah, memangnya kita sudah resmi?" tantang Hakyeon kemudian. Tidak seperti sebelumnya kali ini Minyul pasrah saja saat gadis itu mengambilnya dari pelukan pamannya. "Ya, Minyuli? Noona ya?"

"Hakyeon."

Gadis yang masih mencoba menggoda bayi dalam pelukannya itu menyahut pelan. "Hm? Wae?"

"Haruskah aku meminta restu orangtuamu sekarang juga?"

'Buukk'

Satu pukulan mendarat di dada bidang Taekwoon.


OOO


.

.

.

Hakyeon yang sepertinya sudah sering berurusan dengan anak kecil terlihat bersemangat sekali. Dia bahkan tidak pernah melepaskan Minyul dari jarak pandangnya. Sepertinya bayi itu juga mulai suka dengan kehadiran Hakyeon. Mereka jarang sekali bisa bertemu, awalnya wajar saja kalau Minyul tidak mau digendong olehnya. Sekarang malah Taekwoon yang merasa terabaikan. Bayi laki-laki yang baru bisa merangkak itu selalu memandang Hakyeon dan mereka terlihat sedang berbicara dengan bahasa bayi. Minyul belum bisa berbicara dengan jelas, tapi Hakyeon seakan mengerti dengan semua yang dicelotehkannya.

Diambilnya ponsel dari atas meja, Taekwoon mengambil foto mereka dari tempatnya duduk. Hakyeon yang peka dengan suara shutter kamera menoleh ke arah Taekwoon.

"Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada."

"Kenapa tidak bilang kalau mau memotret? Ayo kita berfoto bertiga."

"Untuk apa?"

"Untuk apa katamu? Sudah lakukan saja."

Akhirnya Taekwoon meletakkan ponselnya di tempat yang pas menghadap sofa di ruang tv. Dia mengatur timer sebelum ikut duduk bersama Hakyeon dan Minyul di sofa ruang tv. Beberapa foto yang berhasil diambil, salah satunya terlihat Minyul yang duduk di pangkuan Hakyeon memandang ke arah wajah Taekwoon yang melingkarkan tangannya di pundak Hakyeon. Benar-benar seperti foto keluarga.

"Wah! bagus sekali, Taekwoonie. Aku harus memamerkannya pada Hyuk dan Hongbin nanti."

Taekwoon dan Hakyeon yang masih melihat hasil jepretan di ponsel Taekwoon lantas tercuri perhatiannya karena Minyul yang tiba-tiba merengek. Rengekan kecil itu lantas menjadi tangisan. Hakyeon berdiri dari posisinya sambil mencoba menenangkan bayi gemuk berkulit putih itu. Tangisan itu malah semakin keras, bahkan Hakyeon bisa melihat bayi itu meneteskan air matanya.

"Wae, Sayang? Minyuli kenapa?"

Taekwoon yang melihat itu melirik jam dinding di atas televisi yang menunjukkan tengah hari.

"Mungkin dia lapar. Akan kubuatkan bubur bayinya," kata lelaki bertubuh tegap itu sambil mencari sesuatu di tas besar milik Minyul. Kemudian tangannya dengan cekatan menambahkan air hangat pada mangkuk kecil bergambar pororo dan mengaduknya.

Hakyeon masih sibuk menimang-nimang bayi bermata sipit itu, Minyul sepertinya sudah sangat lapar. Dia menepuk-nepuk punggung bayi mungil itu saat Taekwoon mendekatinya dan mengarahkan sesendok bubur bayi ke mulut kecil Minyul. Berhasil mendapatkan apa yang dia mau, Minyul berhenti menangis. Dia menguyah makanan lunak itu dengan cepat.

"Aigoo, lapar sekali ya? Minyuli makanlah yang banyak. Kwiyeowo." Taekwoon berkata dengan nada suara yang lembut. Walaupun jarang bicara, Hakyeon selalu senang mendengarkan nada bicara kekasihnya yang tenang dan lembut itu. Seringkali Hakyeon memancing Taekwoon untuk bisa bicara lebih banyak dan lebih sering, tapi hasilnya Taekwoon malah melarikan diri.

"Aku mencintaimu, Hakyeon."

Hakyeon yang sedang serius memperhatikan paman dan keponakan yang sama-sama imut itu tiba-tiba terdiam. Yah, kenapa tiba-tiba...

"Keinginan pertamamu 'kan? Maaf, aku melupakannya di satu jam pertama." Taekwoon tersenyum sampai matanya yang tipis seperti Minyul seperti menghilang.

Seperti baru teringat sesuatu yang penting Hakyeon membulatkan matanya, kemudian tawanya yang renyah terdengar. Kekasihnya ini manis sekali, saat Hakyeon sudah melupakan keinginan yang kekanakan itu. Taekwoon justru mengingatnya dengan baik. Walaupun tidak terlihat seperti mendengarkan Hakyeon tetapi Taekwoon selalu saja mengingat poin-poin dari serentetan kalimat-kalimat panjang yang Hakyeon ceritakan.

"Yah! Kenapa baru ingat sekarang?! Katakan sekali lagi! Aku tidak dengar tadi." Hakyeon terdengar kesal tetapi senyumnya yang secerah matahari itu tidak mau pergi dari wajahnya.

"Tidak mau."

"Yah! Kau menolak permintaanku?"

Taekwoon kembali menyuapi Minyul di gendongan Hakyeon, berpura-pura tidak mendengar.

"Ck. Kau memang menyebalkan, Jung Taekwoon. Apa sulitnya mengatakannya sekali lagi?" Hakyeon memukuli pundak Taekwoon dengan satu tangannya.

'Cup'

Satu kecupan kecil di pipi Hakyeon, lalu lelaki tinggi itu berbisik di telinga Hakyeon seolah takut ada orang lain yang mendengar kata-kata selanjutnya.

"Saranghae, Hakyeoni."


OOO


.

.

.

"Apa kau tidak bisa jauh-jauh dari Minyuli lebih dari satu meter?"

"Kalau iya, memangnya kenapa?"

"Jangan menyentuhnya terus. Biarkan dia tidur."

"Ah, wae? Dia imut sekali aku tidak bisa menahan tanganku, Woonie! Ottoke?" Hakyeon gemas sendiri saat tangannya menyentuh pipi Minyul yang bulat dan lembut seperti mochi.

"Cha Hakyeon."

Gadis yang merasa namanya dipanggil mendekati Taekwoon yang sedang duduk di sofa menonton televisi. Ada rasa tidak rela meninggalkan makhluk mungil dan imut bernama Minyul di ranjang besar Taekwoon. Tetapi kekasih tampannya yang kesepian sepertinya membutuhkannya kali ini.

Hakyeon duduk di sebelah Taekwoon yang bersandar ke sofa, tapi kemudian dia membaringkan kepalanya di pangkuan Taekwoon. Wajahnya menghadap ke atas ke wajah tampan kekasihnya yang berkulit putih, sebelah kakinya naik ke sandaran sofa sehingga dress selututnya mengekspos kakinya yang ramping. Taekwoon masih terlihat serius menonton televisi di depannya, terlihat tidak peduli dengan gadis yang seenaknya menaruh kepala di pahanya.

"Aish Jinjja, kenapa memanggilku kalau kau hanya mendiamkanku begini?" Hakyeon cemberut. Apa tidak bisa Taekwoon lebih cerewet saat sedang bersamanya?

"Aku mencintaimu, Hakyeon. Aku lupa mengatakannya satu jam yang lalu."

"Ah sudahlah, kau bahkan tidak bisa menuruti permintaanku." Hakyeon bangkit dari pangkuan Taekwoon, mendudukan dirinya sejauh mungkin dari lelaki itu. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya yang kemerahan itu bersungut-sungut sebal.

Taekwoon menghela napas, memang dia yang selalu lupa. Tapi permintaan Hakyeon yang satu ini terlalu kekanakan sekali.

"Yeonni, mianhae. Kau boleh memukulku kalau satu jam berikutnya aku lupa lagi." Taekwoon mendekati Hakyeon yang berada di ujung sofa,

"Tidak, kau kan sudah gagal. Aku mau permintaanku yang 'boleh memelukmu di manapun dan kapanpun' dijadikan permintaan mutlak untuk selamanya."

"Jangan memelukku di tempat umum," kata Taekwoon kemudian setelah terdiam cukup lama.

"Kenapa? Kau tidak suka padaku?"

"Bukan."

"Kenapa, Woonie?"

Taekwoon terdiam lagi, wajahnya yang putih menjadi merah membayangkan bagaimana kekasihnya yang tidak tahu malu dan suka berlebihan mengekspresikan rasa cinta itu akan memeluknya di tempat umum dan itu akan menyita perhatian banyak orang. Sepertinya dia sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum menghela nafas panjang.

"Hufft...terserahlah, Hakyeon."

Hakyeon mengembangkan senyumnya yang cerah. Memang Taekwoonnya adalah laki-laki paling baik sedunia. Taekwoon menarik pinggang gadisnya yang ramping memaksa untuk duduk lebih dekat dengannya.

"Kau tidak mau memelukku sekarang?" Taekwoon melebarkan tangannya menawarkan sebuah pelukan yang langsung disambut hangat oleh Hakyeon. Gadis berambut hitam lurus itu menenggelamkan hidungnya di ceruk leher Taekwoon. Ada senyum manis yang belum hilang dari bibirnya. Di saat-saat seperti ini Hakyeon merasa bersyukur memiliki Taekwoon, walaupun lelaki pendiam itu irit bicara, tidak romantis dan sering mengabaikannya.

"Taekwoonie, kau memang yang paling baik sedunia."

Taekwoon menepuk-nepuk pelan punggung sempit gadis dalam pelukannya. Dia sangat menyayangi gadis ini lebih dari dirinya sendiri. Sifat cerewet, berlebihan, manja dan keras kepala Hakyeon terbayar dengan betapa menggemaskannya Hakyeon saat membujuknya, perhatiannya, apalagi pembawaannya yang sensual dan cute dalam waktu bersamaan benar-benar menjerat Taekwoon.

"Kau mau nonton film horor sekarang?"

"Aku mau...tapi tidak mungkin menonton film horor di saat Minyuli sedang tidur seperti itu 'kan? Kau tahu aku bisa teriak sangat keras saat ketakutan." Hakyeon menggigit bibirnya, kebiasaannya saat cemas.

"Maaf ya, kau jadi harus terlibat menjaga Minyuli." Taekwoon mencuri kecupan kecil di pipi kiri gadis dengan dress putih selutut itu.

"Aniya gwaenchana, Woonie. Lagipula itu kan juga termasuk permintaanku. Jangan menyalahkan siapapun, Sayang. Ini bukan salah Noona-mu, kau, apalagi Minyuli." Hakyeon membalas Taekwoon dengan mengecup pipi kiri lelaki itu.

"Hakyeon―" Taekwoon menyebut nama gadis itu dengan suara lembutnya sebelum

"Uwaaaa...mamaaa...uwaaaa."

Dua pasang manusia yang sedang berpelukan itu lantas terlonjak dari sofa, dengan langkah cepat menghampiri ranjang besar di kamar Taekwoon yang di atasnya duduk bayi yang menangis keras. Taekwoon menggendong bayi laki-laki itu mencoba menenangkannya, namun tangisannya malah semakin keras. Bayi gemuk itu memberontak dalam pelukan Taekwoon, kedua tangannya yang pendek mencoba meraih Hakyeon yang berdiri di belakang Taekwoon. Hakyeon yang peka langsung mengambil bayi itu dari pelukan Taekwoon, menepuk-nepuk dengan sayang punggung bayi yang mirip kekasihnya itu.

"Cup cup cup, Sayang. Kenapa menangis? Kau terbangun ya?" Hakyeon menimang-nimang Minyul sampai akhirnya dia berhenti menangis.

Taekwoon yang sejak tadi memperhatikan mereka jadi merasa terabaikan, kenapa Minyuli jadi lebih suka pada Hakyeon ketimbang dirinya, padahal yang punya hubungan darah dengan bayi itu kan dia. Apa bayi sekecil itu sudah mengerti wanita cantik? Hey, hanya dia yang boleh bermanja-manja di dada Hakyeon.

Loh, kenapa dia jadi punya pikiran kekanakan seperti ini?

"Yeonni, aku akan siapkan air hangat untuk Minyuli," kata lelaki tinggi itu saat melihat jam dindingnya yang menunjukkan angka lima.


OOO


.

.

.

Hakyeon membawa Minyul yang sudah berpakaian dan wangi ke pangkuan Taekwoon, lelaki yang sekarang statusnya sudah menjadi paman itu mencium pipi gembul keponakan satu-satunya.

"Minyuli, samchun poppo." Hakyeon menunjuk Taekwoon membuat Minyuli menoleh ke belakang. Taekwoon merendahkan wajahnya, memposisikan pipinya di dekat Minyul.

"Mmuah..." Bayi gemuk itu lantas mencium pipi Taekwoon diiringi suara yang lucu. Hakyeon dan Taekwoon mau tidak mau tertawa mendengarnya. Menggemaskan sekali.

"Imo poppo, imo poppo." Hakyeon ikut mendekatkan pipinya yang dikecup Minyul dengan suara 'mmuah' yang sama. Namun kali ini tidak hanya Hakyeon dan Taekwoon yang tertawa bayi mungil itu juga ikut tertawa sampai matanya hilang. Gigi susunya yang baru dua terlihat menyembul di balik gusi bawahnya.

"Kwiyeowo." Hakyeon lantas menghujani kedua pipi bayi laki-laki itu dengan ciuman gemas.

"Yeonni, kau berani mencium pria lain di hadapan kekasihmu sendiri?"

"Hahahaha apa-apaan kau, Jung Taekwoon." Gadis dengan surai hitam itu mendekati kekasihnya bermaksud ingin mengecup bibir lelaki tampan itu sebelum suara bel apartemen menghentikannya.

'Ting Tong'

Kedua orang dewasa dengan satu bayi di tangan sang lelaki membuka pintu apartemen, dan menemukan kedua orangtua Minyul berada di baliknya.

"Ah, annyeonghaseyo." Hakyeon langsung membungkuk mengucapkan salam pada ehm―calon kakak iparnya.

Taekwoon juga ikut membungkuk sebelum mengeluarkan pertanyaan pertama yang muncul di otaknya "Noona, kenapa pulang lebih cepat?" dia memberi jalan membiarkan sepasang suami istri itu masuk ke apartemennya.

"Urusan kami selesai lebih cepat, lagipula istriku sudah merindukan Minyuli," kata kakak ipar Taekwoon.

Kakak perempuan Taekwoon terpaku memandangi Hakyeon dan Taekwoon yang masih mematung di depan pintu apartemen. "Melihat kalian berdua menggendong Minyuli seperti itu, seperti keluarga sungguhan saja."

Semua orang dewasa di ruangan itu tertawa mendengar hal tersebut.

Lantas kakak perempuan Taekwoon menepuk pundak adik kandungnya, "Cepatlah menikah, Taekwoonie. Kau ini sedang menunggu apa lagi? Calon pengantinnya bahkan sudah ada di sampingmu."

Taekwoon yang memang dasarnya pemalu memerah wajahnya, tiba-tiba dia merasa suhu tubuhnya panas. Dia mengipasi tubuhnya sendiri dengan kaos lengan panjang yang dipakainya, menghela napas dengan keras untuk mengurangi rasa malunya. Hakyeon yang melihat kekasihnya seperti itu hanya ikut tertawa, senang juga rasanya melihat Taekwoon mendapat tembakan pertanyaan seperti itu. Toh, yang dikatakan calon kakak iparnya itu isi hatinya juga.

"Sudah, jangan suka mengganggu adikmu. Ayo kita pulang," kakak ipar Taekwoon mengambil Minyul dari gendongan Taekwoon.

"Kalau begitu kami pamit dulu ya, maaf sudah merepotkanmu, Hakyeon-ah." Sepasang suami istri itu berjalan ke arah pintu sedangkan Hakyeon dan Taekwoon berjalan berdampingan sampai pintu apartemen, mengantar tamu mereka.

Saat pintu apartemen ditutup, Hakyeon memeluk leher Taekwoon dengan sangat erat sehingga Taekwoon agak sedikit terhuyung ke belakang. Taekwoon tahu dia tidak bisa menolak karena perjanjian tadi yang sudah disepakatinya. Hakyeon tersenyum manis sekali karena Taekwoon memeluk pinggangnya, biasanya laki-laki itu akan melepaskan pelukan Hakyeon dan melarikan diri. Hakyeon berjinjit sedikit untuk bisa mengecup bibir kekasihnya―

'Ting tong'

Bel apartemen Taekwoon kembali berbunyi membuat Taekwoon melepas pelukannya pada pinggang Hakyeon, membuka pintu apartemennya. Hakyeon menghentakkan kakinya kesal. Siapa lagi kali ini?

"Noona?"

"Ah, maaf Taekwoon-ah. Tas yang berisi peralatan Minyul ketinggalan." Kemudian dia mendapati sosok Hakyeon yang masih berdiri di sana dan sedang berusaha mengatur ekspresi wajahnya dengan senyum yang terkesan dipaksakan. Peka dengan situasi yang terjadi, wanita yang lebih tua dari Taekwoon itu lantas hanya menunjukkan senyuman tidak enaknya pada sepasang kekasih itu.


OOO


.

.

.

Taekwoon menyalakan api pada tiga lilin aroma therapy yang tersusun di atas meja dapur, kemudian memadamkan lampu dan duduk di kursi. Di seberang meja seorang gadis cantik yang menggunakan mini dress berwarna merah menatapnya dengan pandangan berbinar. Tidak pernah menyangka bahwa Taekwoon benar-benar mengabulkan semua keinginannya hari ini termasuk makan malam romantis yang disiapkannya seorang diri, termasuk makanannya.

"Taekwoonie."

"Hm?"

Ada senyum yang tercipta di wajah cantiknya tanpa bisa dicegah, "Gomawo," lanjutnya dengan wajah yang terlihat bahagia.

"Kau menyukainya?" tanya Taekwoon dengan suaranya yang selembut permen kapas.

"Sangat." Hakyeon berdiri dari posisinya menghampiri Taekwoon yang duduk di seberang meja, lantas menggeser piring berisi 'rose spagetti'―masakan andalan Taekwoon―ke tengah meja sehingga dia bisa duduk di pinggir meja, di hadapan Taekwoon. Gadis dengan gaun merah yang mempertontonkan sebagian besar paha rampingnya itu menangkup wajah Taekwoon, memaksanya mendongak agar bisa berhadapan dengan wajahnya. Lantas mencium bibir tipis pria itu lama.

"Saranghae, Taekwoon."

Taekwoon tersenyum mendengarnya. "Aku juga mencintaimu."

"Ngomong-ngomong ada satu keinginanku yang belum kau dengar."

Lelaki yang masih duduk di kursinya itu menaikkan satu alisnya, "Apa itu?"

"Keinginanku yang keenam―" Hakyeon merendahkan tubuhnya memposisikan wajahnya di samping wajah Taekwoon sebelum berbisik, "―aku mau punya bayi yang mirip sepertimu."

.

.

.


THE END


Jangan lupa review ya, tolong dihargai ff yang sudah kalian baca. :)

kacang merah lagi butuh kritik nih supaya ff nya ngga ngebosenin, kalian ada masukan?

yuk, tulis di kolom review.