Zoro memiringkan kepalanya sedikit. Dahinya mengerinyit seolah olah sedang berpikir keras. ' tenda, kabel, beberapa unit camera jenis MD 10.000, tripod, mixer ' ia mengabsen semua barang barang yang ada didalam mobil yang akan membawa mereka menuju Arabasta.
" Kita akan membuat camp di pinggir daerah Arabasta untuk mempermudah saluran informasi " celetuk Robin.
Bukannya mengerti, Zoro malah semakin bingung. Terlihat jelas dari kerutan keningnya yang semakin bertambah. " Setahu ku OP adalah stasiun TV terbesar di Dunia. Bukankah kantor cabang OP sudah tersebar dimana mana ?"
" OP memang stasiun TV swasta terbesar di dunia. Kantor pusatnya berada di Grand Line. Kantor cabangnya pun sudah tersebar di penjuru Dunia. East Blue, Sabaondy, Whiskey Peak, Tequila wolf. Tapi ada beberapa daerah yang tidak bisa kami masuki seenaknya. Kami menyebutnya blind spot." Jawab Robin. Tangannya dengan cekatan bergerak di atas kertas. Mengecek barang barang yang dibawa satu per satu.
" Biar Aku tebak, Negara itu Arabasta, kan ?" tebak Zoro, tampak paham dengan ucapan Robin. Keningnya tak lagi berkerut bingung.
" Begitulah,…." Jawab Robin acuh. " Namun begitu,undang undang perlindungan pers tetap berlaku. " sambung Robin lagi. Ia tetap sibuk dengan kegiatan yang ia lakoni sedari tadi.
" Hancock, seluruh persiapan sudah beres. Ini daftar barang barang yang Kami bawa. " Robin menghampiri Hancock yang berdiri di depan pintu, mengawasi Mereka.
Jari jari panjang nan lentik milik Hancock mengambil kertas dari tangan Robin dan membolak baliknya cukup cepat. Ia lalu mengangguk dan masuk ke dalam. Tapi Ia kemudian berbalik, menatap Robin yang masih di posisinya. " jangan sampai gagal, Nico Robin,…." Kata Hancocok memperingatkan. Ialu masuk ke kantor.
' Arogan sekali,..' pikir Zoro ketika tak lagi mendengar suara ketukkan hak sepatu Hancock yang beradu dengan ubin kantor.
Zoro merasa ada yang aneh saat memasuki mobil. Keningnya yang memang suadah berkerut, bertambah lagi kerutannya saat melihat dua orang yang tak Ia kenal masuk ke mobil yang sama dengan ia dan Robin.
Salah seorang laki laki berambut afuro hitam memandang Zoro lewat kaca spion yang ada di dalam mobil. " Hei, Kau pasti cameraman baru itu, kan ?" sapanya. " yohohoho…. Aku Brook, Kita satu profesi. Dan Dia – " ia menunjuk sorang laki laki yang duduk di depan kemudi. " – Franky, Pj McR "
" Yo….. " sapa laki laki yang bernama Franky pada zoro. Ia tersenyum lebar, memamerkan giginya yang tersusun rapi.
The dark past
Disclaimer : Eiichiro Oda
Zoro terus menguap selama perjalanan menuju Arabasta. Jendela yang terbuka lebar menyebabkan angin sepoi sepoi masuk, terus terang saja membuatnya sangat ingin tidur. Ia sudah akan tidur 30 menit yang lalu, jika tidak ditanyai hal yang macam macam oleh Franky maupun Brook. Robin? Jangan ditanya. Ia malah asyik membolak balik halaman buku di sebelahnya.
" Tidurlah – " kata Robin. Ia mengalihkan pandangannya dari buku sejenak, lalu menatap Zoro. "- Kita akan sampai kira kira satu setengah jam lagi. Dan Kau sudah menguap 104 kali dalam 30 menit terakhir." Katanya lagi.
Zoro memejamkan matanya pelan pelan. ' Akhirnya ' batinnya. Ia kemudian bersandar di kursi, mencari posisi nyaman untuk tidur. " Tak Ku sangka Kau menghitung " katanya sebelum ia benar benar tertidur.
Robin hanya mengangkat bahunya sebagai balasan yang tentu saja tak tampak oleh Zoro.
# # # #
" Akhirnya kau datang juga, Robin…" teriak Nami girang begitu melihat Robin menampakkan batang hidungnya di kamar rawat Ussop.
" Maaf, tadi Kami ke Rainbase terlebih dahulu untuk membangun tenda. Sekarang Brook dan Franky sedang mempersiapkan equipment penunjang produksi di sana. " Robin mesuk ke ruang rawat itu. Ia kemudian menyerahkan kantong plastik bewarna putih pada Nami.
" Apa ini ? " tanya Nami. Ia kemudian membuka kantong plastik itu.
" Break-lunch dari Sanji. Ia bilang dimasak dengan penuh cinta " jawab Robin, bermaksud menggoda Nami.
" Bukankah Kalian berangkat pukul 6 ? kapan ia memberikannya pada mu?" tanya Nami. Tangannya bergerak mengeluarkan kotak bento (?) dari dalam kantong. " Itadakimasu,…" ia lalu menyuap nasi dan ikan dari dalam kotak bento. Mengabaikan godaan Robin.
" Ia menyetop Kami di depan gerbang " jawab Robin. Ia menyandarkan tubuhnya di meja kecil di samping kasur Ussop yang belum sadar. " Kapan Ia akan sadar, Nami?" tanya Robin pada Nami.
Nami memutar kursi yang ia duduki menghadap Robin. Tangannya yang memegang sumpit berhenti di udara. " Entahlah, Dokter bilang Ia baik baik saja. Tapi Mereka belum dapat memastikan kapan tepatnya Ia akan sadar." . " bagaimana dengan kelurganya?" tanya Nami kemudian pada Robin.
" Luffy sudah menghubungi Kaya, istri Ussop. OP tidak mungkin mengambil resiko membiarkan Kaya menjaga Ussop di sini. Jadi Ussop akan dipindahkan ke Grand Line Hospital. Biaya perawatan di tanggung perusahaan." Jawab Robin. Lalu hening.
" Bicara soal itu, dimana cameraman pengganti Ussop ? " tanya Nami memecah keheningan diantara Mereka. Lalu lanjut menyuap break- lunch nya.
" Benar juga. Dimana Dia ?" tanya Robin pada dirinya sendiri. " Aku keluar sebentar " kata Robin kemudian lalu beranjak pergi.
Nami mengedipkan matanya bingung. Meski begitu, ia tetap melanjutkan kembali menyuap makanannya.
# # # #
Robin berjalan mengitari Arabasta Hospital. Ia ingat betul, Zoro berjalan beriringan dengan dirinya. Namun setelah dipikir pikir kembali, kemungkinan mereka terpisah saat serombongan perawat berlari lari mendorong brankar. ' Disekitar UGD' batin Robin. Ia kemudian berjalan pelan di loby sekitar UGD . Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia melihat seseorang berjalan mengendap ngendap di itu tampak celingak celinguk kiri kanan, persis seorang pencuri. Robin lantas menghampiri orang itu, menepuk pundaknya. " Kau kenapa ? ' tanyanya saat melihat Zoro menutupi kepalanya dengan kain putih. " Apa itu sprei rumah sakit ?" tanyanya lagi.
Zoro kemudian meraih tangan Robin, menyeretnya menjauh. " sebaiknya Kita segera pergi dari sini." Ajaknya. Sementara matanya masih 'awas' memandang sekeliling.
# # # #
Robin menutup mulutnya, menahan tawa. Ia dan Zoro sedang berada di taman belakang rumah sakit kala itu. " Jangan pasang tampang seperti itu. Semua ini kan juga salah mu. Untuk apa Kau membawa tiga pedang ke rumah sakit ? justru aneh jika Kau tidak di kejar kejar pihak keamanan dengan penampilan seperti itu." Kata Robin dengan sura yang agak bergetar. Ternyata Mereka tidak terpisah saat di dekat UGD melainkan di pintu masuk rumah sakit. Zoro di cegat pihak keamanan karena membawa senjata tajam, sehingga disangka perusuh. Zoro yang kalang kabut bersembunyi di kamar penyimpanan ( yang baru belakangan ia ketahui) di dekat UGD.
" Itu Dia ….." teriak seorang laki laki yang memakai baju bewarna abu abu bertuliskan security. sekitar 4 orang laki laki berbadan kekar berlari ke arah mereka. Tiga diantaranya menghempaskan Zoro ke tanah, mengunci pergerakkannya.
Robin segera berdiri. " Kami kemari hanya untuk mengunjungi teman yang sedang sakit." Kata Robin memberi pembelaan. Tangannya merogoh kantong jaket dan mengeluarkan dua buah ID card dan memperlihatkannya pada laki laki yang memakai baju bewarna abu abu. " Aku jamin ia tidak akan melukai siapa pun. Dan sebagai jaminannya, ia akan menyerahkan ke tiga pedang itu. Benarkan, Zoro ?" tanya Robin dengan aura hitam pekat.
" iya…iya… baiklah" kata Zoro mengalah. Ia kemudian menyerahkan ketiga pedangnya. Tapi pihak security masih belum percaya. Jadi mereka menggeledah Zoro, dan tak menemukan apapun selain ketiga pedang yang diberikan Zoro tadi dengan berat hati.
" Ayo Kita pergi…." Ajak Robin setelah pihak security pergi. " Mereka akan mengembalikannya saat kita pulang nanti. " kata Robin meyakinkan Zoro yang cemberut.
# # # #
Robin dan Zoro akhirnya sampai di kamar rawat Ussop. Nami tampaknya sudah selesai dengan break lunch nya. Karena kotak bento yang di bawa Robin tadi, tampak tergeletak kosong diatas meja.
Robin menghampiri Nami yang sedang berbicara dengan seorang laki laki berjas putih. " Robin, ini Dokter Hiluluk. Beliaulah yang akan menangani pemindahan Ussop hari ini. Luffy sedang mengurus administrasinya. Dan ia meminta kita untuk langsung ke camp setelah ini. " kata Nami. Ia lalu mengangguk ketika Dokter Hiluluk pamit pergi, dari ruang rawat Ussop.
Zoro, Nami, dan Robin kemudian duduk di sofa ruang rawat yang serba putih itu. " Jadi siapa namamu…? " tanya Nami pada Zoro, mengabaikan kesibukkan disekitar mereka.
" Roronoa Zoro "
" Aku Nami, selamat bergabung " sambut Nami tersenyum manis pada Zoro.
# # # #
" Nah, Aku pergi dulu. Semoga berhasil, crew " pamit Luffy kepada ke tiga orang nakamanya. Ia lalu naik ke mobil ambulance yang berisikan beberapa orang perawat dengan dirinya serta Ussop, tentu saja.
Setelah mengambil pedang Zoro yang di simpan oleh pihak keamanan Arabasta Hospital, Nami, Zoro dan Robin kemudian beranjak ke pelataran parkir diiringi tatapan mencela beberapa orang pihak keamanan. Bahkan terdengar bisik bisik seperti ' untung saja mereka wartawan' atau ' awas saja jika mereka berbuat kekacauan di sini' . Namun ke tiganya menebalkan telinga mendengar ocehan ocehan itu.
" Kau membawa mobil ? " tanya Nami ketika melihat Robin memencet remot kecil.
Robin berjalan menuju mobil sedan bewarna silver, setelah alarm mobil itu berbunyi ." Tidak secara teknis. Aku menyewa mobil ini untuk 6 jam saja. Dan Mereka akan menjemput mobil ini kira kira- " Robin mengangkat tangan kanannya yang dilingkari jam tangan bewarna hitam " – 30 menit lagi" kemudian Mereka masuk ke dalam mobil dengan Robin sebagai pemegang kemudi. Zoro mengikuti, lalu duduk di jok belakang.
"Apa tidak masalah, jika kita berkeliaran tanpa ID card begini ?" tanya Nami yang sedang memasang savety belt di sebelah Robin.
" Tak apa. Kita sudah mempunyai surat surat yang diperlukan. ID card juga. Setidaknya Kita akan baik baik saja sampai ke Rainbase " kata Robin. Ia menghidupkan mesin mobil dan menginjak padal gas lalu meninggalkan parkiran.
# # # #
" Dari beberapa Narasumber yang sempat Aku wawancarai sebelum Ussop cedera, entah mengapa Aku mendapat kesan bahwa Mereka menutupi sesuatu." Kata Nami. Malam itu seluruh crew OP TV yang berada di Arabasta duduk melingkar di dalam tenda.
" Karena itulah Kita kesulitan membuka cabang di Arabasta, Nami. Wilayah ini termasuk wilayah yang 'cukup aman'. Sekali pun ada kasus, tak seorang pun yang akan membuka mulut, bahkan sampai kasus tersebut selesai. " kata Robin. Ia memangku sebuah laptop bewarna hitam. Tangannya bergerak lincah menggeser mouse kesana kemari. " Coba dengar, " Ia menginterupsi kegiatan rekan rekannya. " Rabu, dini hari, Parlemen dikejutkan dengan kabar kematian salah seorang Rekan Mereka, Sir Arlong. Sir Arlong ditemukan tewas bersimbah darah di atas kasurnya dengan sebilah pisau yang menancap di dada kiri. Menurut Chrocodile, saksi mata sekaligus pelayan di kediaman korban, tak satupun orang ataupun benda yang mencurigakan tampak di sekitar rumah. Dan sampai saat berita ini diturunkan, polisi masih belum dapat memastikan siapa pelaku dan motif membunuhan terhadap korban.-" Robin memberi jeda sejenak. " – Di posting lima menit yang lalu. " katanya mengakhiri kabar yang ia baca.
" Sepertinya kasus ini tidak hanya melibatkan aparat pemerintah Arabasta, tetapi juga orang luar. "komentar Franky.
Robin segera membereskan barang barangnya yang berserakan lalu berdiri. " Kenshin san segera ambil barang barang yang dibutuhkan, Kita harus bergegas ! " perintahnya pada Zoro, sementara ia sendiri membongkar salah satu tas dan mengeluarkan microfont dari dalamnya. " ok crew, segera bersiap siap hubungi stasiun tv pusat. Kita akan menurunkan berita ini kira kira satu jam lagi. Dan Kau, Kenshin san, jangan membawa senjata tajam. Move… move…move…! " perintah Robin. Setelah berkata demikian, Robin dan Zoro berlari ke TKP menembus pekat malam.
TBC
NB :
Author lagi sibuk bikin PW untuk ujian praktek. Ngetik chap ini aja mesti curi curi waktu sambil bikin story line (abaikancurcolgajelasini).
Yosh, akhir kata Review ?
