A Man Detective

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: T

Genre: Romance

Pair: MinaKushi

Don't like don't read!

Enjoy it, guys!

Chapter 2

Seiring berjalannya waktu Kushina masih menyimpan perasaannya terhadap Minato. Perasaan cintanya pada Minato. Ia selalu selalu manahan amarahnya yang bercampur rasa sakit hati bila melihat Minato digoda dan dicumbu perempuan lain selain dirinya. Tapi satu hal yang membuat ia merasa sedikit tenang, ia tahu kalau Minato selalu menolak perempuan – perempuan yang memberikan cintanya pada Minato.

Minato pov

"Woy, Kushina! Jangan melamun terus! Sekarang masih pagi." ujarku membuyarkan lamunan Kushina sambil memukul pundaknya. Entah kenapa akhir – akhir ini aku terlalu sering melihat Kushina sedang melamun. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Lalu aku pergi menuruni tangga hendak pergi ke dapur di lantai bawah, aku membuat kopi untuk ku minum dan sekalian aku membuatkan teh untuk Kushina. Selesai menyeduh kopi dan teh, aku langsung menemui Kushina yang sedang duduk – duduk di teras lantai 2. Ia terlihat sedang menikmati pemandangan yang sangat indah.

"Silakan diminum tehnya, Kushina!" ujarku sambil memberikan tehnya.

"Wah wah wah, terimakasih ya Minato, kau baik sekali." respon Kushina. Ia mengambilnya, tapi tidak langsung diminum, melainkan menaruhnya di meja. Ya mungkin karena masih panas.

"Ngomong – ngomong memangnya kau tidak berangkat kuliah hari ini?" tanyaku sekedar membuka pembicaraan.

"Oh my God! Aku lupa sekarang aku harus masuk kuliah. Kalau tidak, bisa – bisa aku mati ditelan sama guru yang super galak itu." jawab Kushina. Tak ku sangka Kushina yang sedari tadi bersantai – santai tiba – tiba terkejut seakan – akan ia seperti tersambar petir jumbo setelah mendengar pertanyaanku barusan. Lalu ia pergi meninggalkanku dan segera bersiap – siap masuk kuliah.

"Hei, kau mau kemana?" tanyaku.

"Ya aku mau siap – siap berangkat kuliah lah, masa mulung di jalanan." jawabnya sambil berlari menuju kamarnya dan menyiapkan alat – alat kuliahnya.

"Tapi bagaimana dengan teh mu?"

"Untukmu saja."

"Ya ampun, dasar cewek sialan, sudah capek – capek dibikinin teh, malah tidak diminum. Huh, dasar!" lirihku kesal.

Setengah jam kemudian Kushina datang menghampiriku yang sudah menghabiskan dua gelas minuman berbeda, teh dan kopi. Teh campur kopi dikocok dalam perut gimana rasanya yah? #Huek. Kushina kemudian memintaku untuk mengantarnya karena ia sudah hampir terlambat. Kebetulan, karena sekarang aku lagi tidak ada pekerjaan, langsung saja aku mengiyakan permintaannya. Sementara Kushina sedang bersiap, aku segera menyiapkan motorku tersayang.

"Ayo naik, Kushina!" ujarku. Kushina pun naik di motorku. Tanpa sadar aku menarik dan menuntun pelan dan lembut tangan Kushina untuk melingkar di pinggangku, seperti layaknya memakai ikat pinggang. Ku lihat Kushina dari kaca spion wajahnya merona merah malu – malu. Aku tersadar bahwa aku telah berlebihan terhadap Kushina.

"Eh ma-maaf ya Kushina, aku tidak sengaja melingkarkan tanganmu di pinggangku." aku terbata – bata untuk mengatakannya. Aku merasa wajahku blushing.

"Ti-tidak apa – apa, bisa aku maklumin kok." jawabnya.

Kami pun berangkat. Di tengah perjalanan Kushina berpegangan erat, bisa dibilang memeluk erat pinggangku, lalu kepalanya bersandar di pundakku. Ia benar – benar membuatku merinding sampai – sampai aku tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam mengendarai motorku.

"PRAAKK," aku menabrak motor berwarna merah milik seseorang. Orang itu tidak kuat menyeimbangkan motornya sehingga ia jatuh, sedangkan motorku tetap berdiri tegar karena aku dapat menyeimbangkan tubuh motorku yang besar. Kemudian aku secara diam – diam memundurkan motorku hendak pergi kabur, lalu aku menjalankan motor setengah ngebut sambil menyampingi motor orang tersebut.

"KABUUUUR!" aku teriak sambil menjalankan motor dengan kecepatan tinggi. Aku tidak tau apa yang dikatakan orang itu setelah aku pergi. Dan aku tidak mau tau. Aku tidak peduli.

Kami telah sampai di tempat Kushina berkuliah. Kushina turun dari motorku lalu bertanya,

"Eh, Minato tadi kau hampir saja membuatku jantungan, untung saja kau cepat – cepat kabur dari orang itu, memangnya kenapa kau bisa sampai menabrak kendaraan orang lain sih?" tanya Kushina.

"Kalau kau mau tau, itu semua gara – gara kau!"

"Kok gara – gara aku sih?"

"Gara – gara kau yang menyenderkan dagumu di pundakku. Itu membuatku merinding, kau tahu? Itu juga yang menyebabkan aku tidak konsen mengendarai motor. Tapi jujur saja aku sangat menikmatinya. Kapan – kapan kita seperti ini lagi ya! Hehe!" jawabku menggoda Kushina.

"Hah, ternyata kau masih mesum juga seperti dulu. Dasar otak mesum!" bentak Kushina dengan setengah blushing di kedua pipinya. Lalu ia memasuki sekolahnya. Setelah itu aku langsung menarik gas, hendak pergi ke rumah Kushina, alias pulang.

setelah menjelang sore aku mendengar suara ketukan pintu. Langsung saja aku bukakan pintu. Dan ternyata Kushina sudah pulang. Ia terlihat sangat lelah, aku tidak tau sebabnya ia bisa begitu lelah karena apa.

"Oh, Kushina! Ternyata kau. Aku pikir siapa. Kenapa kau tidak menghubungiku kalau kau mau pulang, kan aku bisa menjemputmu? Supaya kita bisa berduaan, heh." tanyaku menggoda Kushina. Aku memang sangat suka menggodanya. Aku bukan bermaksud menggodanya, tapi aku suka dengan wajahnya yang merona merah. Entah mengapa aku bisa sangat menyukai wajahnya yang memerah, hanya waktu yang dapat menjawabnya.

"Ya tadinya aku mau menghubungimu, hanya saja aku sadar kalau aku sedari tadi memang tidak membawa handphone. Lalu aku melihat Mikoto sedang menunggu seseorang, tapi orang itu tidak datang – datang katanya. Lalu aku mengajak Mikoto untuk pulang bareng." jawab Kushina. Ku lihat wajahnya sedikit merona.

"Jalan? Tidak naik kendaraan?" tanyaku kaget.

"Iya, benar." jawab Kushina.

'Huh, pantas saja dia terlihat begitu sangat lelah.' batinku bilang.

"Ya sudah kau beristirahatlah dulu, kau terlihat sangat lelah hari ini." ujarku pada Kushina.

"Ya, baiklah."

Kushina pun tertidur pulas di ranjangnya. Aku diam – diam memperhatikan mimik wajahnya yang imut. Tetapi tiba – tiba aku melihat Kushina seperti sedang gelisah. Wajahnya menoleh ke kiri, kadang juga ke kanan. Dan badannya menyerong ke kanan dan juga ke kiri. Sifatnya yang terlihat gelisah membuatku mengkhawatirkannya.

"Kushina! Kau tidak apa – apa, Kushina?" tanyaku dengan rasa khawatir yang menyelimuti perasaanku. Ku dengar Kushina menyebut ayahnya, menyebut ibunya, dan juga menyebut kakaknya. Matanya pun mulai mengeluarkan cairan yang membasahi kedua pipinya.

"Kushina! Bangunlah, Kushina!" aku pun memegangi tangannya yang ramping, aku berusaha menahan gerakannya yang tak menentu. Akhirnya Kushina terbangun dari mimpinya yang amatlah buruk baginya. Tapi ia tetap tak menyadarkan diri, lalu ia menarikku lalu ia menyandarkan kepalanya di dadaku, tangannya memelukku erat – erat dan ia bilang bahwa ia tidak mau kehilangan ibunya, ayahnya, kakaknya, dan yang terakhir membuatku terkejut, ia bilang kalau ia tidak mau kehilangan aku.

'Kushina, apa kau mempunyai perasaan Khusus terhadapku?' tanyaku dalam hati.

"Minato, aku tidak mau kehilanganmu. Aku sudah kehilangan semua keluargaku. Aku tidak mau kehilanganmu, Minato." kata Kushina , membuatku makin merasa ingin mengeluarkan semua isi hatiku kepadanya bahwa aku mencintainya. Lalu Kushina tersadar, tapi segera ia mendorongku dengan keras sehingga aku menubruk dinding tembok.

"Sedang apa kau di sini?" tanyanya sambil mengusap air matanya.

"A-apa kau tidak sadar? Kau sendiri yang menarikku dan memelukku, dan kau juga bilang kalau kau tidak mau kehilangan ibumu, ayahmu, kakakmu, dan..."

"Dan apa?"

"Dan aku." jawabku.

"Jangan bercanda!" ia bertanya dengan serius.

"Aku tidak bercanda. Aku serius. Sudahlah tak usah dibahas lagi! Sebanarnya kau mimpi apa tadi? Sepertinya mimpimu itu buruk, dan seperti memperlihatkan ulang kajadian kematian keluargamu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Oh kalau begitu aku minta maaf ya, Minato, karena aku sudah menuduhmu dan mendorongmu hingga kau terbentur tembok."

"Tidak apa – apa, tadi aku bertanya, ayo jawab!" ujarku.

"Ya baiklah. Seperti yang sudah kau duga, tadi aku mimpi buruk. Aku melihat ayahku dibunuh sesosok pria yang memakai topeng karena ayah melindungi ibuku. Saat ibu nyaris ditusuk dengan pedang, ayahku datang berlari cepat, lalu dipukulnya pria yang bertopeng itu sampai ia terjatuh dan pedangnya terlepas dari tangannya. Ayah mengambil pedang milik pria bertopeng itu, ayah mengangkat pedangnya hendak menusuk pria bertopeng itu. Tetapi sebelum ayah menusuk pria bertopeng itu seseorang datang dari belakang ayah dan menusuk ayah dengan pedang miliknya. Aku perhatikan orang yang menusuk ayah itu mempunyai rambut panjang dan bermata mirip seperti ular. Aku merinding ketakutan melihat orang itu. Lalu kakak datang dan memukul pria berambut panjang itu, pria itu terpental jauh. Kakak kemudian mendekati pria yang memakai topeng itu. Lalu kakak menarik kerah baju pria itu dan mengangkatnya sampai ia berdiri, pria itu memberontak dan memukul kepala kakak dengan tangan kanannya, tapi dengan cepat kakak menghindari pukulan pria itu. Entah kenapa kakak merintih kesakitan, ternyata saat kakak menghindari pukulan pria itu, tangan kiri pria itu menusuk perut kakak hingga mengeluarkan banyak darah. Aku tidak kuat melihatnya , Minato. Ibu yang merintih kesakitan karena sebelumnya ia dipukuli pria bertopeng itu berusaha bangkit menyelamatkan kakak, tapi yang terjadi ibu malah ditangkap dan mau dibawa entah kemana. Tapi ibu tidak ingin dibawa oleh orang – orang jahat seperti mereka, ia pun mengambil pedang mereka dan bunuh diri, tapi sebelumnya ibu melakukan perlawanan dan membunuh pria bertopeng itu, sementara pria berambut panjang itu mengindarinya lalu menusuk ibu dari belakang." Kushina menjelaskannya dengan penuh isakan tangis di setiap kalimatnya, air matanya pun ikut mengalir saat ia mengucapkan kata ibu, ayah, dan kakaknya. Benar – benar membuat suasana menjadi dingin sebentar.

Langsung saja aku mengusap air matanya yang terus mengaliri pipinya yang putih mulus. Aku berusaha menenangkannya pikirannya. Setelah Kushina merasa lebih baik, aku langsung bertanya,

"Apakah kau yakin dengan mimpimu itu?"

"Entahlah tapi mimpi itu terasa sangat nyata," jawabnya.

"Lalu sekarang kau mau melakukan apa?" tanyaku meyakinkannya untuk berbuat sesuatu yang lebih berguna dari pada terus menangisi kepergian keluarganya.

"Aku ingin mencari tahu apakah mimpi itu benar atau tidak!" jawabnya dingin.

"Oke, aku akan membantumu, Kushina." ucapku.

"Terimakasih, Minato."

Normal pov

Keesokan harinya, Kushina yang terbangun dari tidurnya bersiap mandi, kemudian menyiapkan sarapan untuk Minato dan dirinya.

"Selamat pagi, Kushina!" ucap Minato setelah bangun tidur. Sementara Kushina sedang menyiapkan makanan, Minato hendak pergi mandi.

"Selamat pagi juga, Minato!" ucap Kushina yang sedang menyiapkan makanan.

Setelah Minato selesai mandi, ia langsung menuju meja makan, tidak sabar untuk mencicipi makanan buatan Kushina yang lezat. Kushina yang sudah menunggu di meja makan menyambut Minato dengan ramah. Hah, suasana yang menyenangkan.

"Kau sudah lama menunggu?" tanya Minato.

"Tidak juga ah. Ayo kita makan!" ujar Kushina.

Sebelum makan mereka berdoa. Setelah itu mereka mencicipi makanan Kushina yang super mamamia lezatos.

"Hemm, seperti biasa, makananmu selalu enak, Kushina." Kushina hanya tersenyum manis mendengar pujian Minato yang masih belum tahu tentang perasaan Kushina kepadanya.

"Terimakasih, Minato."

Setelah makan Minato mengambil piring Kushina yang sudah selesai makan. Ia hendak mencuci piring. Ia tidak mau Kushina kelelahan. Benar – benar pria yang perhatian. Tidak juga sih, dia hanya perhatian pada Kushina seorang. Perempuan yang lainnya yang menginginkan dirinya sebagai kekasih dibiarkannya. Karena di mata Minato, perempuan yang dapat memikat hatinya hanyalah Kushina seorang. Ketika hendak menuju tempat cuci piring, minato tak sengaja menyenggol vas bunga. Minato menengok ke tempat vas bunga itu berada. Untunglah vas bunga itu hanya terjatuh di tempatnya. Kalau jatuh ke lantai bisa - bisa pecah, dan Minato nanti bisa mati berdiri karena Kushina. Ah, Minato melihat ada putih – putih terselip di bawah vas bunga itu. Ternyata sebuah amplop yang berisi surat wasiat. Minato tidak ingin membacanya karena ia berpikir bahwa ini adalah rumah Kushina, ia tahu bahwa itu Khusus untuk Kushina.

"Kushina! Mari kesini, ada sesuatu!" ucap Minato memanggl Kushina.

"Ya, ada apa, Minato?" tanya Kushina dengan wajah heran.

"Lihat itu, ada surat untukmu. Ayo baca, aku mau cuci piring dulu ya." ujarku pada Kushina sambil menunjukan surat itu pada Kushina.

Kushina pov

Aku langsung memngambil amplop itu, lalu aku mengambil kertas di dalam amplop itu, yang ku lihat adalah sebuah surat. Langsung saja aku baca isi surat itu.

Kushina sayang, ibu tahu kalau ini akan terjadi padamu. Ibu tahu kamu akan hidup sendirian sebatang kara tanpa keluarga yang menyayangimu.

"Ibu salah, sekarang aku tidak sendirian, ibu." lirih Kushina, lalu melanjutkan ceritanya.

Asal kamu ketahui, dari dulu, sebelum ibu menikah dengan ayahmu, ibu selalu di incar oleh seseorang yang suka memakai topeng yang bernama Madara. Ibu tidak tahu apa tujuannya mengincarku. Sebelum menikah ibu bilang pada ayahmu bahwa ibu mempunyai seorang musuh yang selalu mengincar ibu. Tapi ayahmu tetap berkeras kepala, karena ia sangat mencintai ibu, ia tidak peduli apa yang akan terjadi setelah kami menikah. Baginya nyawa ibu adalah nyawanya juga. Jadi ia tidak bisa hidup tanpa ibu, ia ingin sekali melindungi ibu dari orang yang mengincar ibu. Setelah kami menikah, ibu tidak pernah melihat pria yang bertopeng itu lagi untuk mengincar ibu. Sampai kakakmu lahir dan sampai kau telah berusia 14 tahun ibu sudah mulai lupa dengan pria bertopeng itu. Tapi saat kau mulai menginjak usia 16 tahun, pria bertopeng itu muncul dalam kehidupan ibu lagi. Tapi kali ini pria itu membawa temannya yang berambut panjang, dan bermata persis seperti ular, ibu tidak mengenal pria itu. Ibu sengaja tidak memberitahumu tentang ini, Kushina karena ibu sangat sayang sama kamu, ibu tidak ingin kamu terlibat dalam masalah ini, ibu tidak ingin kau mati, tetaplah hidup Kushina. Ibu harap kamu mendapatkan pasangan hidup seperti ayahmu yang selalu sayang pada ibu. Selamat menempuh hidupmu sendiri, Kushina. Maafkan ibu karena ibu tidak bisa mendampingimu di setiap hari – harimu yang berharga. Sekali lagi ibu minta maaf, Kushina. Ibu harap kau bisa memaafkan ibu. Ibu sayang kamu selamanya.

"Ternyata mimpiku kemarin benar – benar nyata. Pria bertopeng itu, dan pria yang bermata ular, mereka benar – benar ada, dan mereka yang membunuh keluargaku. Terima kasih ibu sudah memberikan aku hidup. Aku akan mendapatkan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku, ibu. Aku yakin dia sama seperti ayah yang selalu mencintai ibu. Tapi aku belum bisa mengatakannya, bu, bantulah aku untuk mengatakannya, ibu, karena hanya dialah yang dapat menarik hatiku. Dan ibu juga tidak usah merasa bersalah karena ibu tidak bisa mendampingiku, sebab aku sudah didampingi seseorang yang akan menjadi kekasihku, aku yakin itu. Aku sayang ibu juga selamanya. Dan aku juga sayang ayah dan kakak yang sudah membela ibu." lirih Kushina. Minato pun sudah selesai mencuci piring dan menemuiku yang tengah menangis.

"Kushina! Sampai kapan kau terus menangisi kepergian mereka? Bukankah aku pernah bilang kalau aku tidak ingin melihatmu menangis lagi setelah kejadian di makam keluargamu tujuh tahun yang lalu? Dimana Kushina yang dulu ku kenal? Kushina yang selalu tegar dan tegas?" ujar Minato. Aku tahu kalau ia ingin membuat aku bangkit lagi dari keterpurukanku selama ini.

"Maafkan aku, Minato," aku ingin mengusap air mataku, tapi tangan Minato menghentikan gerakanku. Pikiranku sempat kosong saat Minato memegang tanganku. Lalu ia mengangkat tangannya dan menghapus air mataku yang mengalir di pipiku. Ku rasakan tangan lembut nan hangat yang menyentuh pipiku.

"Kenapa kau menangis, memangnya apa isi surat itu? Sini biar ku baca!" aku langsung memberikan surat itu pada Minato.

"Whaatt! Jadi mimpimu kemarin benar – benar nyata?" tanya Minato terkejut.

"Iya. Aku juga tak kalah terkejutnya dibanding denganmu." jawab Kushina.

"Lalu kau berpikir kalau kau ingin menemuinya, benar?"

"Ya, kau benar. Kau memang hebat, Minato, kau dapat mengetahui pikiranku."

"Yaah, kalau begitu maumu, aku akan selalu mendampingimu, Kushina. Aku akan selalu melindungimu, ingat itu baik – baik." perkataan Minato sukses membuatku blushing. Aku berpikir ia memang mirip seperti ayah. Orang yang ingin melindungi ibu.

'Minato, apa kau juga mempunyai perasaan yang sama seperti perasaanku padamu?' tanya batinku.

"Ya baiklah, kapan kita mencarinya?" tanya Minato.

"Sekarang." jawabku singkat.

"Yah okelah, sekarang!"

"Ya sudah, ayo!"

"Ayo!"

"Ayo, pergi!" aku mulai, kesal.

"Yah ayo!"

"Ayo pergi! Kenapa kau masih di situ?" aku membentak Minato.

"Kau juga kenapa masih di sini?" tanyanya.

"Aku menunggumu bergerak, Minato!" aku memberi sedikit penekanan pada kata 'Minato'.

"Oh,kau menungguku? Pantas saja kau tidak bergerak. Aku sendiri menunggumu bergerak, baru aku juga bergerak pergi mengikutimu." jawab Minato.

"Oh, kalau begitu aku pergi ya." jawabku sambil pergi menyembunyikan wajahku yang sedikit memerah.

Kami pergi keluar bersama – sama. Minato yang seorang detektif sudah siap dengan peralatan seorang detektif. Minato keluar memakai kajet hitam. Di balik jaketnya terdapat banyak kantung untuk menyembunyikan semua peralatannya. Aku hanya membawa surat dari ibu. Aku memakai baju kaus putih dan dilapisi dengan jaket berwarna putih juga, aku memakai rok yang panjangnya sekitar dua senti di atas lutut. Aku juga memakai topi untuk menghalangi silaunya sinar matahari dari kepalaku. Sebenarnya aku memakai topi bukan karena itu, tapi aku ingin menampilkan penampilanku yang memang tomboy. Topi itu hanya menutupi rambutku di sekitar kepalaku, rambutku yang panjang ku biarkan tetap tergerai. Aku tidak ingin tampil cantik. Tapi entah kenapa dengan Minato.

"Wah, kau cantik sekali hari ini Kushina." ucap Minato. Aku heran kenapa Minato tetap memujiku, padahal aku tidak tampil cantik, malah aku tampil layaknya seorang pria.

"Yang benar saja, aku tidak berdandan tampil cantik kok, malahan dandananku seperti seorang pria yang memakai topi?" tanyaku sambil menunduk malu.

"Itulah hebatnya kau, kau perempuan yang tetap terlihat manis dan cantik, walaupun kau tidak berdandan. Biar ku beritahu ya, dari dulu aku sangat suka rambut merahmu yang tergerai itu. Apalagi sekarang kau memakai topi, dan membiarkan rambutmu tetap tergerai. Jadi biarkan rambutmu tergerai ya! Kau terlihat sangat cantik kalau seperti itu, aku menyukaimu, Kushina! ...Upss..." Minato mengucapkannya dengan tulus dan dari hatinya yang paling dalam, tapi di akhir kalimatnya ia merasa keceplosan dan langsung menutup mulutnya dengan cepat. Aku sangat terkejut saat Minato berkata bahwa ia menyukaiku, dan wajah merah meronaku pun tak dapat ku tahan lagi, jadi ku biarkan wajahku terlihat merah di hadapannya.

"Te-terimakasih, Minato! Kau juga terlihat tampan. Aku juga menyukaimu, Mina-. Upsss..." ucapanku terpotong saat aku baru sadar mengatakannya. Aku juga tak sadar bisa mengeluarkan kata itu. Ternyata aku juga keceplosan seperti dia. Ku perhatikan wajah Minato juga memerah.

"Baiklah ayo kita berangkat! Dari tadi kita hanya bicara saja, kapan berangkatnya?" tanyaku pada Minato. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Ahahaha! Iya kau benar, ayo kita pergi. Tujuan kita bukan menikmati penampilan sendiri, kan?"

"Hikhiks! Habisnya kau duluan sih!"

Normal pov

Kami berdua akhirnya pergi setelah berbincang – bincang tak jelas. Di tengah perjalanan, Minato meyakinkan Kushina apakah surat itu benar – benar dari ibunya. Kushina pun membuka kembali isi surat itu, ia memperhatikan tulisan itu dengan teliti. Itu memang benar tulisan ibunya. Tulisan ibu Kushina memang indah. Ibunya juga kalau berbicara suka mengulang kalimat seperti di surat itu yang 'Sekali lagi ibu minta maaf, Kushina.' Jadi itulah yang membuat Kushina yakin kalau ibunya yang menulis surat ini. Tidak lama kemudian ada seorang yang membawa barang seperti sedang pindahan rumah, yang seumuran dengan ayah Kushina menabrak Kushina. Barang – barangnya terjatuh. Lalu Kushina membantunya, tak sadar dompet Kushina jatuh. Orang yang ditabrak Kushina menyadari hal itu, lalu ia mengambil dompetnya Kushina, sebelum ia memberikannya pada Kushina, ia sempat membukanya.

'Wowow, ternyata anak ini adalah anak dari orang yang ku incar selama ini, pantas saja aku seperti mengenalnya, dia memang mirip dengan ibunya, hehe!' pria itu menyeringai, menampilkan senyum liciknya. Ternyata pria itulah yang bernama Madara. Tak lama kemudian setelah senyam – senyum sendiri seperti orang gila, pria itu mengembalikan dompet milik Kushina.

"Ini, nona! Dompet anda terjatuh tadi." kata pria yang bernama Madara itu, sambil memberi dompet Kushina.

"Oh, terimakasih ya, pak!" ucap Kushina sambil mengambil dompetnya dari tangan Madara yang kasar, bau, keriput, hitam, jelek, hidup lagi*dipentung Madara*.

Kushina yang tidak menyadari bahwa pria yang di depannya sekarang adalah pria yang sering memakai topeng yang ada dalam mimpinya, hanya saja pria itu sedang tidak memakai topengnya, sehingga Kushina dan Minato tidak mengetahuinya, kalau pria yang di depannya adalah pria yang sedang di carinya, sekaligus pria yang sudah membunuh keluarganya. Apa yang akan terjadi pada Kushina jika Madara sudah mulai menerornya? Tunggu chapter selanjutnya!

TO BE CONTINUE