"Wedding Dress"

Chapter 02

Naruto owned by Masashi Kishimoto

SasuSaku

AU

Kebahagiaanmu, atau kebahagiaan cintamu.

xoxoxoxox

Sakit.

Hanya itu yang ada di pikiran Sakura sekarang. Sakit. Nyeri yang tiba-tiba hinggap di dalam dadanya. Sesak yang tiba-tiba terasa pada setiap helaan nafasnya. Dan setiap ia bertanya pada dirinya sendiri, 'mengapa..?', hanya rasa sakit pula yang ia rasakan. Yang ia semakin rasakan.

Dan ia berharap semoga ini bukan akibat dari sisa-sisa perasaannya terdahulu.

"Pernikahanmu...?"

"Hn."

Mata Sakura yang menatap pemuda berambut gelap itu kini menunduk melihat korsase yang masih ia pegang. Menangis? Kenapa tidak bisa? Sakura sangat yakin ia sudah menangis. Hati yang sakit, nafas yang sesak, semua tanda-tanda menangis sudah ada. Tapi kenapa tidak ada satu tetes pun air mata yang jatuh...?

"Wow... Haha...," Sakura berkata dengan tatapan tetap pada korsase di tangannya, "Apa aku yang pertama tahu soal ini...?"

Sasuke menggumamkan iya.

"Kau mau aku membuatkan...," Sakura mengangkat korsasenya dengan satu tangan, "...korsase?"

"Hn. Kau mengerti maksudku, Sakura."

Gadis dengan rambut merah muda itu mengangkat wajahnya, tapi tetap menjauhi bertatapan dengan pemuda Uchiha. Otaknya seperti berhenti bekerja sebagaimana biasanya. Biasanya, begitu ada seseorang yang meminta bantuannya dalam hal pernikahan, otaknya akan segera mendata hal-hal yang akan ia lakukan untuk mewujudkan hari terbahagia di hidup kliennya. Seperti apa kedua mempelainya, apa tema pestanya, bagaimana susunan acaranya, dan yang paling penting adalah gaun untuk pengantin wanita. Tapi begitu ia mendengar permintaan tolong dari seorang Uchiha tertentu, sepertinya semua hanya menjadi kosong.

"Aku harus menyelesaikan pernikahan Ino dulu, setelah itu aku akan mengatur jadwal untuk...," Sakura memberanikan diri menatap Sasuke, "...pernikahanmu."

"Hn."

xoxoxoxox

"Kau masih mencintainya," Ino berkata sambil membolak-balik majalah yang ia baca.

"Oh tentu saja, Ino. Tentu saja aku masih mencintai orang yang bahkan tidak pernah kutemui selama entah-berapa-lama. Kau benar," Sakura menanggapi dengan sarkasme selagi berusaha merapikan ujung-ujung rok pada gaun putih yang ia buat untuk Ino.

"Sakura, seminggu setelah kau mendapat 'permintaan tolong'...," Ino membuat tanda kutip di udara dengan jari-jari lentiknya, "...dari Uchiha Sasuke, kau melarang semua orang menjengukmu, kau tidak menghubungi siapapun, kau bahkan tidak peduli dengan kerjamu. Memang itu bukan masalah untukku, tapi aku sahabatmu sejak kau masuk TK dengan pita merah besar di kepalamu yang memiliki dahi super-lebar, jadi- ya, aku tau ini kau yang sedang dalam masalah."

Sakura hanya terdiam. Bahkan setelah balasan 'kasar' Ino.

Ia harus mengakui bahwa Ino benar. Sesuatu tentang dirinya sedang dalam masalah. Ia harus tahu apa masalahnya. Atau ia tidak akan bisa mengerjakan pernikahan Ino, ataupun Sasuke, dengan benar.

"Aku butuh teh," Sakura beranjak ke dapurnya.

"Sangkalan!" Ino berseru dari bengkel kerja Sakura, "Kau sedang menyangkal perasaanmu sendiri!"

Sakura menggelengkan kepala, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang dikatakan sahabatnya itu tidak sepenuhnya benar. Ia tidak menyimpan perasaan apapun saat ini. Tidak untuk siapapun, juga tidak untuk Uchiha Sasuke. Tapi ia terus bertanya pada dirinya sendiri tentang rasa sakit itu.

"Ini konyol...," Sakura mengeluarkan teh dingin dari kulkas dan menuangkannya pada gelas besar favoritnya.

Dan bel rumah pintu depan rumahnya berbunyi.

"Ino? Bisa kau bukakan pintunya? Aku sedang membuat teh!" Sakura berseru dari dapur.

Beberapa menit kemudian ia mendengar suara pintu yang dibuka. Pasti seseorang yang ia tidak kenal, karena tidak terdengar pembicaraan atau tanda-tanda ia si tamu akan menyusul ke dapur.

Mungkin gadis kecil dari SD di blok depan yang menjual kue, atau salesman.

Sakura meminum tehnya, menunggu Ino datang dan mengatakan kalau si tamu adalah gadis kecil penjual kue atau salesman yang sudah berhasil ia usir.

Kecuali kalau sales itu menawarkan parfum dengan wangi bunga-bungaan.

Tapi Ino tidak menghampirinya ke dapur.

Sakura berjalan ke arah pintu depan.

"Siapa yang datang..?"

Dan di sana berdiri seorang gadis dengan rambut coklat. Matanya terlihat sayu, namun tetap manis. Ino berdiri di depannya.

"Oh, Sakura. Ini ada gadis yang ingin melihat-lihat gaun buatanmu, namanya Matsuri," Ino memberi isyarat menunjuk gadis tadi.

"Selamat siang," gadis itu membungkukan badan memberi salam.

"Selamat siang," Sakura membalas dengan sedikit bungkukan badan, "Ayo silahkan ke sini."

Tiga gadis itu berjalan ke ruangan spesial rumah Haruno. Dan seperti reaksi gadis-gadis pada umumnya, Matsuri terlihat sangat kagum. Setelah mempersilahkan duduk, Sakura membuka pembicaraan.

"Maaf, bisa kau menulis di buku tamu dulu? Hanya untuk konfirmasi," Sakura menyodorkan sebuah buku berwarna salem dari meja kopi di depan sofa besarnya.

Matsuri mengiyakan dan segera menuliskan namanya di buku tamu.

"Aku dengar kau desainer gaun pengantin yang terkenal di kota ini, jadi aku datang untuk melihat-lihat rancanganmu. Aku akan segera menikah...," Matsuri berujar dengan senyum di bibirnya.

"Ya Tuhan, apa itu cincin dengan berlian sebesar pulau Jepang itu cincin tunanganmu?" Ino berseru ketika melihat cincin bertahtakan berlian berbentuk oval di jari manis Matsuri.

"Ino! Aduh maaf ya, dia memang agak berlebihan," Sakura meminta maaf atas kefrontalan sahabatnya. Tapi tidak bisa dipungkiri, cincin yang dipakai Matsuri memang terlihat mewah dan mencolok karena batu mulianya.

"Hahaha tidak apa...," Matsuri mengangkat tangannya untuk memperlihatkan cincin yang dimaksud Ino, "Ini memang cincin tunanganku. Aku kira juga terlalu berlebihan, tapi calon suamiku bilang, ini tidak seberapa dibandingkan besar cintanya."

"Wah, kau benar-benar beruntung! Maksudku, lihat cincin ini! Kau bisa memberi makan seluruh rakyat di pedesaan kecil hanya dengan uang hasil jual cincin ini," lagi-lagi Ino memberi komentar berlebihan dan ditanggapi dengan tawa Matsuri.

Sakura memperhatikan jari manis mungil Matsuri yang dihiasi cincin indah itu. Seandainya saja...-

Ah tidak. Saat ini ia harus membuang jauh pikiran seperti itu. Ia harus fokus pada klien-klien di hadapannya. Ia harus fokus pada profesinya. Pada impiannya.

"Jadi...," Sakura menengahi Ino dan Matsuri yang sedang mengira-ngira harga cincin itu, "Sudah punya konsep untuk gaun pernikahanmu, Matsuri-san?"

Matsuri menggeleng pelan, "Belum ada... Jujur, aku tidak mengira akan menikah secepat ini. Maksudku, lamaran dari tunanganku bisa terbilang mendadak."

Sakura tersenyum. Ia sudah biasa menanggapi klien yang seperti ini. Klien yang seperti 'kertas kosong'. Malahan ia bersyukur. Klien yang tidak mempunyai banyak permintaan lebih mudah dilayani ketimbang klien yang datang dengan list pesanan untuk pernikahannya.

"Aku punya beberapa desain baru, kau boleh melihat-lihat dulu. Atau mungkin kau mau mencoba yang sudah jadi?" Sakura berjalan ke arah rak tempat desain-desainnya disimpan rapi di sebuah folder.

"Sebenarnya aku ingin mencoba gaun yang itu...," Matsuri bangkit dan berjalan menghampiri sebuah gaun yang dipajang di sudut ruangan.

Gaun itu bisa dibilang sederhana. Sebuah gaun strapless putih tulang yang berpotongan babydoll. Tube-nya berbahan satin, sedangkan roknya berbahan tule dan chiffon, cukup untuk membuatnya mengembang sekaligus lemah gemulai jika tersapu angin. Belt satin di bawah dada yang berwarna coklat berujung simpul pita manis di bagian punggungnya. Pita coklat muda itu panjang terulur hingga ujung gaun. Sederhana, tapi cukup untuk membuat seorang gadis terlihat seperti putri pada hari pernikahannya.

"Oh, maaf Nona, tapi itu tidak untuk dijual," Ino menanggapi.

"Benarkah? Kenapa? Maksudku, sayang sekali...," Matsuri mengelus pelan rok gaun itu.

Ino mengangguk dan melipat tangannya, "Ya, karena gaun itu-"

"Itu dijual!" Sakura berseru memotong Ino.

Ino melihat Sakura dengan mata terbelalak. Sedangkan Matsuri terlihat bingung atas pernyataan berbeda yang didengarnya.

"Itu tersedia untuk dijual," Sakura memastikan, "Mungkin ukurannya agak kebesaran untukmu, tapi aku bisa memperbaikinya."

Dengan perkataan Sakura itu, senyum Matsuri segera mengembang, "Begitu? Kalau begitu aku ingin mencobanya!"

"Kenapa tidak? Tunggu, aku akan melepasnya dari mannequin," Sakura balas tersenyum dan segera melepas gaun itu dari sudut pajangnya.

*beep beep beep~

"Oh, maaf, ini tunanganku. Permisi sebentar. Halo?" Matsuri berjalan keluar ruangan dengan ponsel di telinganya.

Sakura menghela nafas dan membawa gaunnya ke tirai yang memisahkan ruang ganti.

"Sakura! Apa kau gila?" Ino berbisik keras setelah memastikan Matsuri sudah berada di luar.

"Apa? Kenapa?" Sakura bertanya, tanpa sadar ikut berbisik.

"Jangan pura-pura bodoh! Itu gaun yang kau buat untuk dirimu sendiri! Gaun yang kau akan pakai di penikahanmu! Dan sekarang apa? Hah? Kau menjualnya pada gadis yang baru kau kenal?"

"Ino, Ino Ino Ino, dengar. Saat ini aku tidak punya pacar, atau siapapun yang terlihat akan melamarku dalam waktu dekat. Ya- mungkin ada Rock Lee yang membuka kelas beladiri di blok 4, tapi kau tahu aku tidak akan menikahinya meskipun ia melamarku malam ini!"

"Tapi itu gaunmu! Gaun yang kau buat dengan harapan pernikahan indahmu! Lagipula kenapa harus gadis itu?" Ino masih tidak percaya atas keputusan sahabatnya.

Sakura melihat ke pintu untuk memastikan Matsuri belum kembali dan berujar, "Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi di saat ia memilih gaun ini, aku merasa aku harus melepasnya. Percayalah Ino, aku tahu apa yang aku lakukan."

"Tapi-"

"Shh! Dia kembali!" Sakura tidak memberikan kesempatan untuk Ino membalas.

"Maaf aku lama, tunanganku menawarkan untuk menjemputku ke sini, ia bilang aku harus segera pulang...," Matsuri kembali masuk ke ruang di mana Sakura dan Ino berusaha menyembunyikan pembicaraan mereka tadi, "Ibu dan ayahnya sekarang ingin bertemu denganku, jadi aku harus segera pulang. Maaf merepotkan tapi mungkin aku akan mencoba gaunnya besok. Tidak apa-apa 'kan?"

Ino memutar mata, simpatinya untuk gadis itu hilang ketika tahu gaun sahabatnya begitu saja 'direbut' olehnya. Dan Sakura segera menyikut sahabatnya pelan, mengingatkan untuk tetap behave.

"Tentu tidak apa-apa, Matsuri-san! Aku akan ada di sini besok," Sakura tersenyum.

Matsuri pun tersenyum lega, "Terima kasih banyak, Sakura-san. Aku permisi dulu."

"Baiklah. Hati-hati di jalan," Sakura mengantar Matsuri hingga pintu depan, sedangkan Ino hanya mengomel pelan dan duduk di sofa besar. Ketika Sakura masih melambaikan tangan pada mobil Matsuri yang melaju, Ino meraih buku tamu dengan maksud melihat nama Matsuri di daftarnya.

"Oh tidak...," Ino tertegun melihat nama tamu Sakura tadi.

Matsuri. Uchiha Matsuri.

xoxoxoxox

Sakura harus menghindari tatapan Ino yang sangat sinis ketika mengetahui Matsuri adalah tunangan Sasuke. Terlihat sekali Sakura sangat syok ketika mengetahui kenyataan itu. Matsuri tidak mungkin menuliskan nama Uchiha dengan asal. Semua orang tahu kalau keluarga Uchiha tidak memiliki keturunan seorang gadis dengan nama Matsuri. Jadi Matsuri pasti pasangan salah satu dari dua pangeran Uchiha. Tidak mungkin Itachi karena ia baru saja menikah dengan gadis asing, dan sangat tidak mungkin Itachi menikah lagi. Berarti tinggal Sasuke.

Sakura bilang, dari awal ada sesuatu di dalam dirinya yang mengasihani Matsuri, dan mendorongnya pula untuk memberikan gaun impiannya.

Pada tunangan Sasuke.

"Aneh," Ino menggelengkan kepalanya, "Maksudku, kasihan? Sebenarnya siapa sih yang harus dikasihani di sini?"

"Sakura-san orang yang baik, aku rasa memang sifatnya yang seperti itu yang wajar 'kan?" tunangan Ino yang duduk di depan sebuah kanvas mengomentari.

"Hah! Orang yang baik!" Ino tersenyum sinis, "Terlalu baik, menurutku!"

Ino baru saja sampai di rumahnya setelah berkunjung untuk mengecek perkembangan gaunnya tadi siang. Sekarang ia malah dibuat kalap karena kelakuan sahabatnya yang ia nilai aneh.

"Kau tahu? Aku rasa seharusnya Sakura tidak mengiyakan permintaan si bodoh itu," Ino kembali berargumen, "Apa-apaan itu? Dia hanya menyakiti dirinya sendiri!"

Sang tunangan hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Tidak berkomentar apa-apa, hanya meneruskan aplikasi cat dari kuas di tangannya pada kanvas. Tapi senyum tunangan Ino berkata lain.

"Apa?" Ino bertanya, "Apa yang kau pikirkan?"

Tunangannya menggeleng lagi, "Tidak ada."

"Sai...?" Ino memberi nada peringatan.

Kali ini tawa kecil yang tunangannya ulang, "Aku hanya merasa kau menjadi pelupa saja."

"Pelupa? Pelupa soal apa?"

Sai berbalik menghadap Ino, "Kau masih ingat impian terbesar sahabatmu itu?"

Saat itu juga Ino tertegun. Tentu saja ia mengingat impian Sakura. Untuk membuat pernikahan yang indah untuk semua sahabatnya. Konyol dan naif memang, tapi yang punya impian itu Sakura. Sepertinya konyol dan naif memang bawaan lahirnya.

Ino menghela nafas, "Aku harap ia tidak menyakiti dirinya sendiri terlalu parah..."

Sai tersenyum dan mengelus pipi Ino, "Aku yakin Sakura-san tahu apa yang ia lakukan."

"Tapi, Sai...! Ini Sakura!" Ino membantah. Air mukanya berubah khawatir.

"Kalau aku, mungkin aku akan marah-marah dan menjambak rambut si bodoh itu sampai habis. Tapi ini Sakura... Ia selalu menyimpan semua bebannya sendirian. Bahkan di depanku ia bertingkah seakan semua baik-baik saja!" Ino berargumen dengan keyakinan penuh.

"Sayang...," Sai berpindah tempat duduk ke samping Ino dan menyenderkan kepala gadis pirang itu ke pundaknya, "Aku tahu kau sangat khawatir, tapi pengantin wanita yang stress bukanlah apa yang kita butuhkan saat ini."

Ino menghela nafas dan memejamkan mata, "Aku khawatir sekali..."

"Iya, aku mengerti. Tapi seperti yang aku bilang tadi, kita harus yakin dan percaya pada keputusan Sakura-san. Kau memang sahabatnya, tapi ia pasti mengenali dirinya sendiri dengan lebih baik 'kan?" Sai berusaha menenangkan gadis yang akan segera dinikahinya.

"Kadang aku merasa aku mengenal Sakura lebih dari ia mengenali dirinya sendiri," Ino berujar, "Tapi ya sudahlah... Aku harap dia bisa bertahan..."

-to be continue-

-"Wedding Dress" chapter 02 finished-

xoxoxoxox

Terima kasih untuk kritik dan sarannya di chapter pertama, di chapter kedua ini saya berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.

Sekali lagi, mohon kritik dan saran dari para pembaca :)

Terima kasih. Tertanda, Viviane S.