Latcho Drom

Aku masih mencintai seorang namja yang dua tahun lalu menikah dengan orang lain. Bisakah aku melupakannya?

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Do Kyungsoo.

Nama yang indah, seindah orangnya. Namja mungil bermata bulat dan memiliki senyum manis bak malaikat. Baekhyun merasa ia tak sebanding dengan Kyungsoo. Chanyeol sangat serasi dengan Kyungsoo saat mereka berdua berdiri berdampingan. Mata Baekhyun mulai berkaca-kaca, ia ingin pulang.

"Kantong plastik itu isinya tak seberapa banyak. Jangan mengeluh terus, kau tak capek terus bicara hah? Sejak berangkat hingga sampai di cafe kau mengomel terus." Goda Chanyeol yang diacuhkan Kyungsoo.

"Jongin-ssi, ini oleh-oleh dari kami. Semoga suka ya?"

Kyungsoo menyerahkan dua kantong plastik pada Jongin. Jongin menerimanya sambil tersenyum manis. Baekhyun tertegun karena biasanya senyum manis Jongin hanya akan ia tunjukkan dengan Soojung saja.

"Terima kasih, Kyungsoo-ssi."

"Kau tak berterima kasih padaku juga? Barang-barang itu kubeli dengan uangku."

Jongin tertawa keras sekali diikuti Chanyeol. Kyungsoo hanya menatap bingung dua namja tinggi itu.

Perasaan Baekhyun jadi tak karuan. Ia merasa sedih karena Chanyeol masih bisa tertawa saat Baekhyun tengah berusaha menahan sakit hatinya.

"Baiklah, terima kasih, Park Chanyeol. Oh iya, silahkan masuk. Lebih baik mengobrol sambil duduk kan?"

"Aku pamit pulang, Jongin-ah. Lain kali saja ya." Pamit Baekhyun pada Jongin yang ia sadari Chanyeol mulai menatapnya.

"Ada Chanyeol dan istrinya disini. Sebaiknya kita mengobrol sebentar, Baekhyun-ah."

Baekhyun menatap Jongin sengsara. Kyungsoo tersenyum geli menatap Baekhyun. Ia berfikir kalau Baekhyun orang yang menggemaskan. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo menepuk pelan pundak Baekhyun.

"Sebaiknya kita mengobrol sebentar, Baekhyun-ssi. Aku belum memiliki teman di Seoul. Kau sepetinya orang yang menyenangkan. Aku ingin bisa dekat denganmu."

Kyungsoo tersenyum dan menatap Baekhyun penuh harap. Baekhyun bisa melihat jika Kyungsoo orang yang baik. Jika Kyungsoo bukan istri Chanyeol, Baekhyun akan senang sekali berteman dengan Kyungsoo.

Baekhyun mencoba tersenyum meski hatinya remuk. Kyungsoo orang baik dan terlihat sabar, tak seperti Baekhyun yang cerewet dan terkadang tak sabaran.

"Baekhyun-ah, jangan pulang dulu. Kita baru bertemu setelah sekian lama." Kali ini Chanyeol yang bicara.

Baekhyun berusaha menahan diri untuk tak menatap Chanyeol. Hatinya makin tak karuan, ia semakin terluka.

Baekhyun pasrah saja ketika Jongin menggenggam jemari Baekhyun. Ia hanya menunduk mengikuti langkah Jongin.

"Duduklah."

Baekhyun masih berdiri sampai Chanyeol dan Kyungsoo duduk dimeja yang dipilih Jongin.

"Baek-ah, duduklah." Bisik Jongin sambil melirik Chanyeol dan Kyungsoo yang tengah melihat-lihat daftar menu makanan.

Baekhyun menghela nafas panjang lalu duduk. Kini ia menyesal kenapa ia asal duduk, Chanyeol duduk tepat didepannya.

"Kau mau pesan makan? Pilih apapun makanan kesukaanmu."

Baekhyun hanya menggeleng. Nafsu makannya mendadak hilang.

"Aku dan Kyungsoo pesan ini." Chanyeol menggeser catatan makanan yang dipesannya dengan Kyungsoo.

"Kau pesan apa?" Dengan sabar Jongin menanyai Baekhyun lagi yang masih menunduk.

"Aku tak ingin makan. Aku ingin bertemu Taeoh saja." Jawab Baekhyun asal.

"Siapa Taeoh?" Tanya Chanyeol tiba-tiba membuat Jongin tak jadi menjawab pertanyaan Baekhyun.

Entah kenapa Baekhyun merasa frustasi karena Chanyeol ternyata memperhatikan ucapannya.

"Anakku. Aku sudah cerita jika memiliki satu anak kan?"

"Jadi namanya Taeoh. Kau tak memberitahu nama anakmu."

"Apa anakmu masih bayi?" Kali ini Kyungsoo ikut bicara.

Baekhyun merasa canggung sekarang karena Jongin tengah menceritakan putranya pada pasangan suami istri didepannya ini. Tanpa mereka sadari, Baekhyun menulis satu dessert dan jus jeruk. Baekhyun memberikan pesanan mereka pada seorang pelayan yang kebetulan melewati meja tempat duduknya.

"Pasti lucu sekali. Apa dia ada disini, Jongin-ssi?" Tanya Kyungsoo antusias.

"Jika aku mengurus cafe, Taeoh bersama sepupuku."

"Sayang sekali." Tanpa sadar Kyungsoo memanyunkan bibirnya membuat Jongin terkekeh.

"Aku ingin tahu seperti apa wajah Taeoh. Apa kau tahu Taeoh, Baekhyun-ah?"

Baekhyun menghembuskan nafas pelan. Ingin sekali ia mengabaikan Chanyeol tapi tak tega.

"Iya aku tahu."

"Beritahu aku seperti apa Taeoh itu. Apa dia berkulit gelap seperti ayahnya?"

Baekhyun merasa sedikit balas dendam pada Jongin tidak apa-apa. Sedikit berdehem dia berpura-pura berpikir keras mengingat wajah Taeoh.

"Taeoh itu sangat lucu dan manis. Matanya bulat dan berpipi penuh. Wajahnya mirip Jongin tapi kulitnya tak segelap itu. Hanya hidungnya saja yang mirip dengannya."

Chanyeol tertawa keras sekali membuat Baekhyun tak bisa menyembunyikan tawanya. Sambil menatap Jongin, ia memberikan V sign pada Jongin.

"Terima kasih." Guman Jongin malas pada Baekhyun.

Chanyeol masih tertawa, Baekhyun juga tertawa meski tak sekeras Chanyeol. Sedangkan Kyungsoo hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya yang suka sekali membully orang.

"Ternyata kau sama saja dengan Chanyeol ya, Baekhyun-ssi. Astaga.." geli Kyungsoo sambil melihat suaminya yang tertawa seperti orang gila.

"Aku tak seperti itu kok." Elak Baekhyun masih tertawa.

"Ayaaaaaah...!"

Chanyeol dan Baekhyun menghentikan tawanya. Ada seorang anak kecil tengah berlari-lari kecil menuju meja mereka. Anak itu kira-kira berusia 2 tahunan. Sekilas ia tampak mirip Jongin.

"Hai jagoan." Jongin menangkap Taeoh yang memeluknya. Karena sambil duduk, Taeoh bisa memeluk dan membenamkan kepalanya didada bidang Jongin.

Baekhyun tersenyum melihat pemandangan itu. Melihat Jongin dipeluk oleh anaknya membuat Baekhyun ingin memiliki anak juga. Tanpa sadar ia melirik Chanyeol yang tengah menatap Taeoh. Baekhyun merutuki kebodohannya, bagaimana bisa ia berharap memiliki anak dengan Chanyeol.

"Lucu sekali." Takjub Kyungsoo dengan mata berbinar-binar.

Taeoh melepas pelukannya dari Jongin lalu menatap Kyungsoo. Dengan semangat Kyungsoo mendekati Taeoh dan berlutut agar sama tinggi dengan Taeoh.

"Kau Taeoh kan?" Tanya Kyungsoo dengan suara imut yang dibuat-dibuat.

Sambil tersenyum riang Taeoh mengangguk sampai-sampai poni depannya bergerak. Kyungsoo makin gemas melihatnya.

"Hai, Taeoh-ah. Aku Kyungsoo."

"Coo..." ulang Taeoh dengan suara cadelnya.

Baekhyun maupun Jongin terkejut saat Taeoh mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Biasanya dengan orang baru Taeoh tak seramah itu. Kadang tak jarang Taeoh memukul atau menangis. Tapi sekarang, Taeoh minta digendong Kyungsoo. Ini kejadian langka, begitu pikir Baekhyun.

Chanyeol tersenyum saat Kyungsoo dengan senang hati menggendong Taeoh. Ekspresi senang Chanyeol terlihat jelas juga oleh Baekhyun.

"Kau sangat menggemaskan, Taeoh-ah." Gemas Kyungsoo sambil menciumi pipi Taeoh, sedangkan Taeoh hanya terkikik geli.

Kyungsoo lalu duduk sambil memangku Taeoh. Taeoh tertawa nyaring dengan suara cemprengnya, entah apa yang dibisikkan Kyungsoo pada Taeoh.

"Sepertinya Kyungsoo menyukai anak kecil." Gumam Jongin pada Chanyeol.

"Bisa dibilang dia itu maniak anak kecil."

"Apa lagi yang kau tunggu? Buatlah satu."

"Aku tengah berusaha. Kami sampai ikut program hamil."

Jongin tertawa mendengar candaan Chanyeol tapi Baekhyun justru sebaliknya. Bisa melihat Chanyeol dari dekat memang menyenangkan tapi fakta Chanyeol sudah menikah dan belum memiliki anak membuat Baekhyun lebih resah. Membayangkan Chanyeol melakukan aktifitas suami istri dengan Kyungsoo membuat Baekhyun lebih sakit hati.

"Aku pulang sekarang ya."

"Kenapa buru-buru?" Tanya Chanyeol cepat.

Jongin menatap Baekhyun maklum. Ia merasa bersalah membawa Baekhyun ditengah-tengah Chanyeol dan Kyungsoo. Ia bisa memahami perasaan Baekhyun.

"Mau kuantar?" Tanya Jongin lembut.

"Tidak perlu, aku pulang sendiri. Aku pulang duluan ya, Park Chanyeol dan Kyungsoo." Pamit Baekhyun canggung.

Kyungsoo mendongak dari menciumi kening Taeoh.

"Kenapa buru-buru, Baekhyun-ssi?"

"Baek..." kali ini Taeoh ikut memanggil Baekhyun.

Baekhyun tersenyum. "Lain kali kita makan bersama lagi."

"Makanannya belum datang. Sebaiknya kau makan dulu baru pulang."

Entah hanya perasaan Baekhyun saja atau Baekhyun salah lihat. Chanyeol meyakinkan Baekhyun dengan sorot mata sedih. Sedih? Kenapa Chanyeol harus bersedih?

"Aku makan dirumah saja. Lagipula Taeoh makannya banyak jadi makanan sebanyak itu pasti cepat habis." Gurau Baekhyun lalu menghampiri Taeoh dipangkuan Kyungsoo.

"Aku pulang dulu ya, sayang. Jangan nakal."

Taeoh tersenyum lalu mencium pipi Baekhyun. Meski jarang bertemu tapi Taeoh sangat mengenal Baekhyun karena Jongin sering mengajak Taeoh saat menghabiskan waktu dengan Baekhyun.

"Hati-hati dijalan."

Baekhyun mengangguk pada Kyungsoo lalu melambaikan tangan pada Taeoh, Jongin dan Chanyeol.

"Sampaikan salamku pada ibumu."

"Akan kusampaikan, Jongin-ah. Ibu juga titip salam padamu jika kau sibuk kau bisa menitipkan Taeoh pada ibu karena Taemin tak selalu bisa menjaga Taeoh kan?"

Jongin mengangguk lemah karena Baekhyun benar. Jongin melirik Taemin yang sedari awal duduk didekat pintu masuk. Ia sedikit menjauh karena tak ingin mengganggu Jongin dan teman-temannya.

Setelah melambaikan tangan pada Taemin, Baekhyun mempercepat jalannya keluar dari cafe Jongin. Setelah menjauh dari cafe Jongin, Baekhyun bersandar pada tiang halte. Ia merasa sial hari ini.

"Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Dan kenapa perasaanku tak hilang? Kenapa perasaanku makin menggila untuknya?"

Satu lelehan air mata lolos dari mata indah Baekhyun. Dia terluka.

.

"Besok aku sudah harus mengerjakan proyek didaerah gangnam untuk membangun sebuah hotel dan pusat perberlanjaan. Ini benar-benar akan menguras energiku." Curhat Chanyeol sambil memainkan sedotan jus jeruk pesanan Baekhyun.

Jongin mengalihkan tatapannya dari Taeoh dan Kyungsoo yang tengah bermain dimeja seberang. Dia menatap teman lamanya ini. Tak ada yang berubah dari Chanyeol. Dia tetap tampan dan humoris.

"Kau direktur sekarang, tak ada waktu untuk bersantai. Time is money."

Chanyeol mencibir. "Aku ingin istirahat sebentar. Proses pemindahanku kesini sangat rumit. Belum lagi aku yang harus bolak-balik naik pesawat Korea-Jepang. Itu sangat melelahkan, Jongin-ah."

"Kau bekerja keras untuk masa depanmu dengan Kyungsoo kan? Jadi berusahalah untuk tidak mengeluh."

"Masalahnya aku jadi tak bisa memberikan dia anak. Kondisi psikis juga mempengaruhi kualitas sperma, Kim Jongin. Kau pasti tidak tahu kan?"

Jongin terkekeh. Dia memang tak tahu soal kualitas sperma karena Taeoh ada saat ia melakukan pertama kali hubungan intim dengan mantan istrinya.

"Teruslah berusaha."

Chanyeol mengangguk singkat lalu mendesah panjang. Ekspresi wajahnya seperti orang yang bosan hidup.

"Kenapa lagi?" Bingung Jongin.

"Arsitekku mengundurkan diri. Padahal dia arsitek kepercayaan perusahaan induk. Dia merasa tak cocok bekerja dilingkungan Korea yang berbeda dengan Jepang. Aku bingung harus mencari arsitek terbaik disini tapi aku tak mengenal siapapun disini. Hanya kau yang kukenal."

"Tapi aku bukan arsitek." Jawab Jongin singkat.

"Aku tak memintamu menjadi arsitek untukku. Apa orang terdekatmu tak ada?"

"Aku tak punya."

Chanyeol mendesah panjang lagi. Ia mulai takut tak bisa menjalankan proyek besar ini tepat waktu.

"Jangan ceritakan hal ini pada Kyungsoo. Aku tak mau dia khawatir."

Jongin mengangguk.

"Ngomong-ngomong, Baekhyun bekerja dimana?"

"Dia dosen tetap di Kyunghee."

"Hebat sekali."

"Tapi dia belum menikah."

Chanyeol tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia benar-benar tak tahu jika Baekhyun masih melajang. Melihat Baekhyun yang semakin memesona dari terakhir yang ia lihat dulu, rasanya mustahil jika Baekhyun masih melajang.

"Aku serius."

"Tapi bagaimana bisa?"

Jongin ingin sekali memberitahu alasan Baekhyun masih melajang hingga sekarang. Tapi rasanya tak adil jika memberitahu pada orang yang bersangkutan.

"Mungkin belum saatnya menikah."

"Kupikir dia sudah menikah."

Jongin tersenyum. "Aku sudah mengenalkannya pada banyak namja. Tapi tak satupun ada yang cocok. Mungkin namja yang kukenalkan tak sebaik yang kukira."

Chanyeol terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu. Dan Jongin melihatnya. Tak mau berpikir macam-macam, ia memutuskan menghampiri Taeoh dan bergabung dengan Kyungsoo.

Jongin sempat melirik Chanyeol, ia bersyukur karena Chanyeol tengah memakan lahap makanannya.

.

"Aku pulang."

Heechul tengah membersihkan dapur saat Baekhyun duduk disofa dengan wajah kusut.

"Ada apa denganmu?" Tanya Heechul sambil melanjutkan aktifitasnya.

"Tidak ada apa-apa."

"Kupikir kau pulang malam ternyata tak sampai makan siang kau pulang. Jongin tak ada dicafe?"

"Dia ada."

"Lalu apa kau bertemu Taeoh?"

Pertanyaan Heechul membuat Baekhyun mengingat Kyungsoo lagi. Bagaimana cara Kyungsoo memperlakukan Taeoh dengan sayang membuatnya makin resah.

"Iya aku bertemu dengannya."

"Kenapa tak kau ajak kesini?"

"Dia tidak mau." Bohong Baekhyun. Lebih baik berbohong daripada mendapat omelan ibunya.

"Padahal aku merindukannya."

Baekhyun tersenyum masam. Ia tertohok tentunya, ibunya menginginkan cucu tapi Baekhyun belum bisa memberikannya.

"Aku kekamar dulu."

Heechul mengomeli Baekhyun entah mengomeli apa. Suara Heechul teredam suara panci jatuh. Baekhyun mengunci pintu kamarnya lalu merebahkan tubuh dikasur. Ia merasa sangat lelah.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 dini hari tapi Chanyeol masih berkutat dengan laptopnya. Berkali-kali Kyungsoo mengingatkan Chanyeol untuk istirahat karena besok pagi Chanyeol mulai bekerja aktif di perusahaannya.

Jika bukan karena Taeoh yang tidur dirumah baru mereka, Kyungsoo pasti sudah memaki-maki Chanyeol. Setelah makan siang di cafe Jongin tadi, Taeoh merengek minta ikut dengan Kyungsoo. Tentu saja Jongin tak mengijinkan karena Kyungsoo dan Chanyeol pasti lelah setelah kemarin melakukan perjalanan jauh. Tapi Kyungsoo tak keberatan dan langsung menggendong Taeoh masuk kedalam mobil.

"Aku akan menjemput Taeoh besok pagi. Maafkan aku jika merepotkan kalian."

Chanyeol tersenyum sambil mengacungkan jari tengah pada Jongin, sedangkan Kyungsoo hanya tersenyum manis.

"Kau mau tidur jam berapa, Park Chanyeol? Kau juga butuh istirahat. Kalau kau sakit aku juga yang repot nanti."

Chanyeol melirik Kyungsoo sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.

"Urus saja Taeoh, Kyungsoo-ah. Sebentar lagi aku tidur."

"Taeoh sudah tidur sejam yang lalu. Ayo tidur sekarang. Jangan membantah!"

Chanyeol terkekeh lalu melepas kacamata bacanya. Dengan pandangan menggoda ia menatap Kyungsoo dari atas hingga bawah.

"Apa?"

"Kau mengajakku tidur memejamkan mata atau tidur melanjutkan program hamil kita?" Goda Chanyeol sambil mengusap pelan jemari Kyungsoo.

"Ada Taeoh. Bisa-bisa dia bangun nanti." Jawab Kyungsoo sambil merapikan rambut depan Chanyeol yang berantakan.

Chanyeol tersenyum lebar. "Kalau Taeoh pulang kita lanjutkan ya?"

Kyungsoo mengangguk lalu melepaskan tangan Chanyeol. Sekilas Chanyeol melihat pipi Kyungsoo merona.

"Dia manis sekali." Kagum Chanyeol pada istrinya itu.

"Besok aku harus segera menemukan arsitek baru."

Chanyeol menekan pelipisnya, ia benar-benar pusing dengan masalah arsitek ini.

.

Esok paginya suasana dirumah keluarga Baekhyun terdengar sangat berisik. Itu karena Baekhyun bangun kesiangan dan berakhir dengan adu mulut dengan ibunya.

"Ini semua karena ibu tak membangunkanku. Aku mengajar kelas pagi hari ini." Omel Baekhyun pada Heechul sambil buru-buru mengambil selembar roti.

"Enak saja menyalahkanku. Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tak bangun-bangun. Pintu kamar kau kunci lalu aku harus bagaimana hah? Mendobrak pintu itu? Kalau rusak siapa nanti yang beli pintu baru? Sangat jelas kau tak mungkin mau mengganti pintu kamar itu."

Baekhyun mendesah bosan, selalu saja seperti ini. Baekhyun mengatakan satu kata maka ibunya akan membalas dengan 100 kata. Seorang ibu selalu benar.

"Baiklah, ibu benar. Ibu memang selalu benar. Aku berangkat!" Kesal Baekhyun sambil setengah berlari keluar rumah.

"SARAPANMU BELUM HABIS, BAEKHYUN-AH!"

Meski Baekhyun sudah keluar dari rumah tapi teriakan ibunya masih terdengar. Bahkan beberapa tetangganya menoleh kearah rumahnya. Dahsyat sekali bukan teriakan ibunya?

"Dasar penyihir cerewet. Menyebalkan. Semoga saja tak telat. Kalo telat bisa-bisa gajiku dipotong." Omel Baekhyun semakin mempercepat larinya menuju halte.

Saat sampai halte ia bersyukur ada bis yang berhenti. Baekhyun dengan cepat masuk kedalam bis dan duduk dideretan belakang.

"Terima kasih, Tuhan. Gajiku tak akan dipotong." Senang Baekhyun.

Ponsel Baekhyun bergetar, ia mengeluarkannya dari saku celana. Ia mengernyit saat melihat nama salah satu mahasiswanya.

From: Hoshi

Hari ini kelas kita masih digunakan, pak. Saya sudah mencari kelas lain tapi digunakan semua. Bagaimana pak? Apa materi hari ini digabung saja dengan materi minggu depan?

Baekhyun mendesah frustasi. Ia baru ingat kalau kelas yang digunakan hari ini masih direnovasi karena ada banyak retak didinding. Kepala program studi sudah memberitahunya agar mengosongkan jam kuliahnya hari ini.

"Bagaimana aku bisa lupa? Aku sampai buru-buru seperti ini. Menyebalkan." Kesal Baekhyun sambil membalas pesan mahasiswanya itu.

To: Hoshi

Iya hari ini tak ada kelas. Minggu depan saja

"Ya Tuhaaaaan..."

Perut Baekhyun berbunyi cukup nyaring. Ia meremas perutnya sambil meringis. Ya, Baekhyun lapar.

"Lapar sekali. Sebaiknya aku sarapan di cafe dekat kampus saja."

.

"Aku berangkat ya." Pamit Chanyeol sambil mencium kening Kyungsoo.

"Maafkan aku karena bangun kesiangan kau jadi tak sempat sarapan." Sesal Kyungsoo. Ia lelah karena harus mengurus Taeoh. Jadi ia tertidur dan tak mendengar dering alarmnya sama sekali.

"Tidak apa-apa. Aku makan di kantin kantor saja."

"Kantormu masih baru tak mungkin ada kantin."

Chanyeol nyengir karena ketahuan berbohong.

"Aku bisa makan di cafe dekat kampus Kyunghee."

"Tunggu saja sebentar, aku siapkan bekalmu. Daripada kau sarapan diluar kau bisa terlambat."

"Astaga, Kyungsoo. Aku direktur. Aku bisa masuk kapan saja aku mau."

Kyungsoo mencibir, sifat sok Chanyeol mulai keluar.

"Kau itu direktur. Seharusnya memberi contoh yang baik untuk karyawanmu."

"Iya iya. Cerewet sekali kau ini."

Taeoh menghampiri Kyungsoo lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan gemas Kyungsoo menggendong Taeoh lalu mencium pipinya.

"Paman berangkat dulu ya, Taeoh. Jangan nakal."

Taeoh menepuk pipi Chanyeol lalu mencium pipi Kyungsoo.

"Dia suka sekali mencium pipimu." Kesal Chanyeol.

"Dia masih balita. Kau cemburu dengan balita?"

Chanyeol memanyunkan bibirnya. Lagi-lagi Taeoh mencium pipi Kyungsoo, tak memberi Chanyeol kesempatan mencium pipi Kyungsoo.

"Selamat pagi."

Chanyeol, Kyungsoo dan Taeoh menoleh kearah pintu. Terlihat Jongin disana berpakaian rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Ia terlihat tampan.

"Selamat pagi, Jongin-ssi."

Jongin mengangguk pada Kyungsoo lalu mengambil Taeoh dari gendongan Kyungsoo.

"Selamat pagi, sayang."

Taeoh tersenyum senang saat Jongin mencium pipinya.

"Baiklah, aku berangkat dulu."

"Hati-hati dijalan, Chanyeol-ah. Terima kasih sudah menjaga Taeoh."

"Tak masalah. Sampai jumpa."

Chanyeol masuk kedalam mobil lalu perlahan menjauh dari rumahnya. Jongin membawa satu kantong plastik besar pada Kyungsoo yang berisi sayuran.

"Ini untukmu. Awalnya aku berencana membawakan makanan cepat saji tapi kupikir membelikan bahan mentahnya bisa membuatmu senang."

Kyungsoo menerima kantong plastik dan melihat isinya.

"Kebetulan sekali aku belum belanja. Pemberianmu ini bisa sampai tiga hari kedepan. Terima kasih."

"Aku teman yang perhatian bukan?"

Kyungsoo tertawa dan mengangguk.

"Kau langsung pulang?"

"Aku langsung pulang saja. Terima kasih sudah menjaga Taeoh. Kuharap ia tak merepotkanmu dan Chanyeol."

"Sama sekali tak merepotkan. Taeoh anak yang manis." Kyungsoo mencubit pelan pipi Taeoh.

"Aku dan Chanyeol tak keberatan menjaga Taeoh lagi."

Jongin tersenyum. "Aku jadi tak enak hati."

"Kita kan teman. Kau temannya Chanyeol jadi kau temanku juga."

Jongin mengangguk.

"Apa kau sudah sarapan? Aku membuat nasi goreng kimchi tapi Chanyeol tak sempat memakannnya."

"Aku sarapan di cafe saja."

"Sudah ayo. Kau tak boleh menolak, sarapanlah disini." Paksa Kyungsoo sambil menyeret lengan Jongin.

"Baiklah.".

.

Chanyeol memasuki cafe yang dekat dengan kantornya. Ia baru menyadari kalau kantornya dekat dengan Universitas Kyunghee. Chanyeol memilih duduk dimeja ditengah-tengah ruangan. Seorang pelayan menghampirinya dan Chanyeol menyebutkan pesanannya. Susu rasa pisang dan steak daging.

"Memang masih terlalu pagi untuk memakan steak daging tapi aku ingin sekali makan itu." Gumam Chanyeol sedikit geli dengan kelakuannya.

Tak lama kemudian pesanan Chanyeol datang. Ia senang sekali karena memang sangat lapar.

"Hah?" Kaget Chanyeol saat melihat makanan yang tak sesuai dengan pesanannya.

"Aku memesan susu pisang dan steak daging. Kenapa yang datang malah jus stroberi dan pizza?"

Chanyeol mengedarkan pandangan keseluruh cafe mencari pelayan yang bisa ia mintai tolong. Ia menemukan satu pelayan, Chanyeol mengangkat tangannya dan...

"Permisi, makanannya tak sesuai dengan pesananku. Bisakah kau kemari?"

Chanyeol tertegun. Suaranya tak asing, begitu pikir Chanyeol. Meski tak berteriak, orang itu suaranya sangat melengking. Arah suara itu terdengar jelas dari belakangnya.

Pelayan itu melewatinya, ia tak menoleh kebelakang ataupun memanggil pelayan itu. Ia ingin memastikan apa orang itu yang membawa sarapannya.

"Ada yang bisa saya bantu, nona?"

"Ternyata perempuan, pantas saja suaranya melengking begitu. Tapi suaranya tak asing." Maklum Chanyeol pelan.

"Ini bukan makanan yang aku pesan. Aku memasan jus stroberi dan pizza bukan susu dan steak daging."

Chanyeol menyeringai karena sarapannya dibawa oleh 'gadis' itu. Chanyeol menoleh kebelakang dan sedikit terkejut. Orang yang membawa sarapannya ternyata Byun Baekhyun.

"Maafkan kami, nona. Kami akan mengganti pesanan anda." Sesal pelayan itu dengan rasa bersalah.

"Tidak perlu. Makanan nona ini ada disini."

Baekhyun terkejut melihat Chanyeol tiba-tiba berdiri disebelah pelayan. Dan lebih terkejut lagi saat melihat pesanannya ada digenggaman kedua tangan Chanyeol.

"Chan... Chanyeol?" Gugup Baekhyun.

Chanyeol tersenyum lalu memberi isyarat pada pelayan untuk pergi. Setelah pelayan itu meninggalkan mereka, tanpa seijin Baekhyun Chanyeol duduk didepan Baekhyun.

"Selamat pagi, nona Baekhyun" goda Chanyeol.

Baekhyun memaksakan diri tersenyum. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Chanyeol disini. Ia belum mempersiapkan apapun untuk melawan degup jantungnya yang lagi-lagi menggila sampai-sampai ia tak menyadari jika Chanyeol baru saja memanggilnya nona.

"Selamat pagi." Jawab Baekhyun pelan.

"Sarapan kita tertukar. Yang kau bawa itu pesananku."

Chanyeol menggeser pesanan Baekhyun lalu mengambil pesanan miliknya.

"Kita sama-sama aneh kan? Sarapan dengan steak daging dan pizza."

Chanyeol tertawa dan Baekhyun hanya tersenyum samar.

"Aku sedang ingin makan pizza."

"Aku juga sedang ingin makan steak daging."

"Kenapa kau sarapan disini?"

Baekhyun penasaran kenapa Chanyeol sarapan disini. Jika Chanyeol tak sarapan disini juga maka ia tak perlu bertemu dengan Chanyeol.

"Aku belum sarapan. Dan kantorku dekat dari sini."

"Kantormu?"

Chanyeol mengangguk. "Iya, kudengar dari Jongin kau mengajar di Universitas Kyunghee ya?"

Baekhyun mengangguk, sedikit merutuki Jongin kenapa memberitahu pekerjaannya pada Chanyeol.

"Mungkin kita akan sering bertemu karena tempat kerja kita dekat."

Baekhyun mengangguk sekali lalu berusaha fokus dengan sarapannya. Ia menggigit pelan pizzanya. Rasa pizza yang enak membuat degup jantungnya sedikit berkurang.

Chanyeol minum susu pisang, mendesah karena nikmatnya rasa susu pisang ini. Tanpa sadar ia menatap Baekhyun intens. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Ia terus menatap Baekhyun dan mulai teringat sesuatu.

"Kau masih jago menggambar, Baekhyun-ah?"

Baekhyun berhenti mengunyah pizza. "Apa?"

"Apa kau masih jago menggambar? Seingatku dulu kau jago menggambar."

Baekhyun berusaha menutupi rona pipinya. Ia mengambil tisu lalu membersihkan mulutnya yang sebenarnya tak kotor.

"Masih. Kenapa?"

"Aku butuh arsitek karena arsitekku memutuskan mengundurkan diri dan kembali ke Jepang. Kau memang bukan arsitek tapi gambaranmu bagus dan rapi. Kurasa itu sama saja."

Baekhyun melongo. "Apa? Kau bercanda?"

Chanyeol jadi salah tingkah. "Aku tak kenal siapapun disini jadi tak ada yang bisa kupercaya. Untuk membuka lowongan kerjapun akan butuh waktu lama. Proyek ini harus segera kuselesaikan. Aku pikir mengajakmu kerja sama bukan ide yang buruk."

Baekhyun menatap Chanyeol tak percaya. Ia bukan arsitek, bagaimana bisa?

"Kau hanya menggambar desainnya saja. Kau tak perlu menjelaskan apapun. Gambar saja pola sesuai dengan perintahku. Bagaimana?"

"Tapi..."

"Kumohon." Mohon Chanyeol sambil menggenggam jemari Baekhyun.

Baekhyun terdiam. Ia menikmati sentuhan jemari besar Chanyeol. Ia begitu merindukan sentuhan Chanyeol. Tanpa sadar Baekhyun mengangguk membuat Chanyeol tersenyum lega.

"Terima kasih, Baekhyun-ah. Kita bisa mulai kerja sama besok. Aku akan mengirim perincian gambar proyek padamu. Kau ada email?"

Baekhyun tak bisa berpikir jernih karena jemari Chanyeol masih menggenggamnya. Yang ia dengar hanya email saja.

"A... aku punya. Ta... tapi aku lupa emailku. Kau catat saja emailmu nanti aku akan buat email baru."

Chanyeol mengangguk setuju dan reflek melepas genggamannya dari jemari Baekhyun untuk menulis emailnya. Baekhyun tanpa sadar memanyunkan bibirnya. Ia ingin Chanyeol terus menyentuhnya.

"Ini emailku. Jangan sampai hilang ya."

Baekhyun menerima secarik kertas dari Chanyeol. Ia membaca email Chanyeol dan terkejut.

"Park dobi?" Gumam Baekhyun pelan.

"Kenapa?" Bingung Chanyeol.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sedih dan haru.

"Kau masih menggunakan email ini?"

Chanyeol tersenyum canggung. Email yang ia gunakan adalah pemberian Baekhyun.

"Iya."

Chanyeol menunduk lalu memakan sarapannya. Mata Baekhyun berkaca-kaca. Email ini adalah pemberiannya delapan tahun yang lalu untuk tugas informatika disekolah. Delapan tahun Chanyeol masih menggunakan email ini. Tanpa sadar Baekhyun menangis. Baekhyun menghapus kasar air matanya dan kenangannya saat bersama Chanyeol dulu berputar bak film diotaknya.

.

.

TBC

.

Sebenernya mau bikin ff ini sampai 2chap aja tapi dipikir2 kepanjangan banget -_-

Ff ini ga panjang kok cuma 4chap aja.

Ada yang bisa nebak ga episode selanjutnya apa?

Yup bener! #alay ketularan dora :v

Chap selanjutnya flashback saat chanbaek masih mesra2an

Review saran masih aku terima kok

Yang kemarin minta line sori dek aku gak punya line T.T ndeso emang T.T