Satu Kisah Ringan

Mommiji Aki

Disclaimer : Clamp School Detective itu buatan CLAMP

Saya hanya fans yang membuat cerita dengan meminjam tokohnya saja

Warning : hints shonen-ai, gaje, labil, membingungkan, gak jelas

Dibuat untuk memenuhi P-FFC 50 Sentences II

Don't Like Don't Read

2011


Hilang

"Gawat Suoh! Gawat!" Suoh yang baru saja datang ke ruang OSIS mengerut bingung. "Dokumen-dokumen yang menggunung itu mendadak hilang begitu saja. Ini kasus! Aku jadi tidak bisa mengerjakannya!" Seru Nokoru.

Suoh terdiam, kemudian melangkahkan kakinya mendekati meja Nokoru. Digesernya bangku kebesaran Nokoru ke samping, menginjak salah satu titik di lantai dan…

GREK

BRUK

…Semua dokumen-dokumen yang menghilang terjatuh dari langit-langit rahasia di atas sana. Suoh menoleh pada Nokoru dan memandang ketuanya datar. Nokoru salah tingkah.

"Eum… bagaimana bisa di sana ya~?"

Syarat

"Suoh, biarkan aku istirahat," keluh Nokoru yang sudah muali bosan memeriksa dokumen-dokumen yang menggunung.

"Dengan satu syarat," ucap Suoh. Nokoru sudah menegakkan badannya berharap syaratnya hanya hal mudah dan dia dapat segera kabur dari tumpukan menyebalkan itu.

"Selesaikan dulu dokumen-dokumen itu."

"Itu sih sama saja!"

Suara

"Disini ramai sekali, bagaimana kita menemukan Takamura-senpai, kaichou?" Akira menengok kiri-kanan untuk mencari sosok anak laki-laki berambut biru di tengah lautan manusia yang hadir dalam festival.

"Ah, kaichou?" Akira mengekori Nokoru yang tiba-tiba berjalan sendiri. Nokoru berhenti dan menoleh pada Akira.

"Itu dia," tunjuknya pada anak laki-laki yang sedang berbicara pada seorang gadis kecil.

"Hebat! Bagaimana kaichou bisa menemukan Takamura-senpai begitu mudah?" Tanya Akira kagum. Nokoru menunjukkan senyuman khas miliknya.

"Suara Suoh terlalu mudah didengar."

Aku

"Aku, kamu, aku, kamu, aku," Nokoru mencabuti mahkota bunga satu-persatu bersamaan dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya. Suoh yang melihatnya mengerutkan alis bingung bercampur heran. Didekatinya Akira yang juga sedang memperhatikan ketua mereka walau tidak terang-terangan.

"Kaichou kenapa?" Tanya Suoh langsung. Akira menggeleng pelan tanda dirinya juga tidak mengerti.

"…kamu… aku," mahkota bunga yang terakhir. "AKU! Aku. Suoh, Akira! Bunga ini bilang aku!" Sorak Nokoru heboh.

"Lalu memangnya kenapa?" Tanya Suoh bingung.

"…"

"A—aku juga lupa buat apa."

Kertas

"Selesai! Hah! Akhirnya terbebas dari kertas-kertas dokumen menyabalkan! Lihat Suoh, aku sudah menyelesaikannya!" Seru Nokoru girang dengan tangan yang melambai pada Suoh.

BRAK

"Ini kertas-kertas lainnya yang harus kau periksa dan tanda tangani," Nokoru langsung kempes saat Suoh meletakkan tumpukan kertas dokumen lainnya.

Jangan

"Hm… sebaiknya terima tidak ya…?"

"Apa yang diterima kaichou?" Tanya Akira mewakili rasa penasaran Suoh.

"Ini… surat ini mengatakan kalau aku sebaiknya datang ke taman pukul lima untuk rencana penculikanku yang ke seratusnya. Sebaiknya aku datang atau tidak ya?"

"JANGAN!"

Labirin

Sebagai seorang yang jenius, Imonoyama Nokoru bisa dengan mudah keluar dari labirin tersulit sekalipun. Tapi mungkin dia tak sejenius itu, karena dia hanya seorang anak SD biasa, yang masih bisa tersesat dalam labirin hatinya.

Lapar

"Kaichou, ini makan siangnya," Akira meletakkan nampan berisi makan siang untuk Nokoru.

"Hm. Taruh saja dulu, aku belum lapar," jawab Nokoru masih serius dengan berkasnya.

KRUUUUK

"…"

"…"

"…"

"Sebaiknya kaichou makan dulu."

Manis

Suoh memang tidak menyukai makanan manis, kecuali kudapan buatan Akira. Tapi menurut Nokoru, Suoh sendiri sudah lebih manis dibanding pemanis apapun.

Kaku

"Lagi-lagi bersantai," keluh Suoh melihat ketuanya berpakai ala pantai dan duduk dengan santanya serasa berada di pantai. Nokoru mengibaskan tangannya cuek.

"Jangan terlalu kaku begitu, santai saja," Nokoru menunjuk beberapa tumpukan di dekatnya. "Lihat, sudah sebanyak ini yang selesai." Suoh menghela nafas kemudian menunjuk gunungan penuh dokumen.

"Dan itu yang belum selesai."

Darah

"UHUK UHUK!" Nokoru mendekap mulutnya yang terbatuk.

"Kaichou!" Akira segera menghampirinya dan mengelus punggung Nokoru.

"A—darah!" Ucap Nokoru begitu dilihatnya cairan merah di tangannya ketika menjauhkan tangannya dari mulutnya.

"Ka—kaichou," Akira juga syok melihat hal itu. "Kaichou! Jangan tinggalkan aku! Aku… aku tidak sanggup jika hidup tanpa kaichou!" Mohon Akira memegang kedua tangan Nokoru. Nokoru menggeleng pelan dan tersenyum lemah.

"Akira, jika kelak nanti sudah tiba waktuku, jangan tangisi kepergianku. Ini permohonan terakhirku," mata Akira berkaca-kaca.

"Ka—kaichou…"

"BERHENTI!" Teriak Suoh membuat dua orang yang sedang bersandiwara itu terbang. "Berhenti bermain dan kerjakan tugas kalian. Jangan gunakan saus untuk mainan, kaichou!"

Lelah

Suoh tersenyum puas mendapati berkas-berkas OSIS telah selesai. Anak laki-laki itu baru saja akan berterima kasih atas kerja keras Nokoru ketika dilihatnya ketuanya itu tertidur dengan menggunakan lengannya sebagai bantal.

Suoh tersenyum dan menggunakan jasnya sebagai selimut Nokoru. Membiarkan anak laki-laki itu tertidur setelah lelah bekerja.

"Selamat tidur."

Angin

"Angin hari ini kencang sekali," Nokoru merapikan rambutnya yang berantakan karena angin kencang yang tadi dia bilang.

"Ya. Jika maksudmu adalah angin dari kipas raksasa itu."

Pulang

Nokoru buru-buru membereskan barang-barangnya dan segera beranjak meninggalkan ruang OSIS. Suoh yang baru masuk dan melihat hal itu segera berdiri tepat di depan pintu—menghalangi jalan keluar Nokoru.

"Kau pikir kau mau kemana kaichou?" Tanya Suoh tenang.

"Pu—pulang," jawab Nokoru nyengir.

"Selesaikan dulu dokumen-dokumen itu baru pulang," tunjuk Suoh pada gunungan dokumen yang terbengkalai sejak kemarin.

Penumpang

"Wah, ramai sekali. Bagaimana kita bisa mendapat tempat untuk melihat bunga sakura?" Keluh Akira yang melihat seluruh taman penuh bunga sakura sudah dijejali oleh siswa-siswi lain.

"Ah, itu para pengurus OSIS SD!" Kehebohan para anak perempuan mulai terdengar kala salah satu dari mereka berteriak melihat kehadiran tiga anak laki-laki paling diincar.

"Yah, kita menumpang saja pada nona-nona di sini," Nokoru tersenyum senang kemudian melangkah mendekati salah satu dari mereka. Suoh dan Akira hanya mengekor saja.

Siapa

"Nah, Akira. Menolong para Lady juga salah satu tugas OSIS," petuah Nokoru pada juniornya itu. Akira hanya manut-manut saja.

"Termasuk menyelesaikan tugas kita dengan baik juga?" Tanya Akira.

"Benar. Menyelesaikan tugas dengan baik juga hal yang utama," kata Nokoru masih dengan lagak bak seorang guru besar. Suoh memutar matanya mendengar kalimat Nokoru itu.

"Lihat siapa yang bicara."

Lompat

"KYAAAA!" Nokoru, Suoh dan Akira menoleh bersamaan ke sumber teriakan yang berasal dari luar ruangan.

"Suara ini…" Suoh dan Akira segera bergegas keluar dan menghampiri suara itu.

GREK

Nokoru membuka jendela dan bersiap melompat dari ruangan lantai tiga itu. Suoh dan Akira membelalakkan mata takut.

"KAICHOU!" Teriak Suoh begitu melihat Nokoru melompat begitu saja dari jendela. Anak laki-laki itu merosot jatuh karena kakinya yang lemas.

Putih

"Suoh, menurutmu bagus mana? Bunga berwarna merah atau putih?" Tanya Nokoru di satu waktu senggang. Suoh mengertukan alisnya. Kali ini apa lagi?

"Sudah, jawab saja," paksa Nokoru.

"Merah?" Jawab Nokoru ragu-ragu.

"Eh?" Seru Nokoru seketika. Tangannya yang berada di belakang punggung ditunjukkannya beserta sesuatu di tangannya. "Padahal aku sudah belikan bunga putih ini untukmu." Suoh melotot pada ketuanya.

Bicara

Akira melirik meja ketua OSIS yang ditempati oleh Nokoru kemudian beralih pada Suoh. Anak laki-laki paling muda di ruangan itu tersenyum gugup. Sudah sejak tadi tidak ada yang bersuara bahkan beanjak dari tempat masing-masing, membuatnya tidak nyaman.

"A—ano…" Nokoru dan Suoh sama-sama menoleh pada Akira. Nokoru mengangkat kedua alisnya bertanya 'ada apa?' tanpa suara sementara Suoh menggunakan sorot matanya untuk bertanya. "A—aku ingin bicara dari tadi, tapi…" Akira menunduk dan semburat merah tercetak di pipinya.

"A—aku ingin ke toilet, boleh?"

"Kalau itu bicara saja daritadi," Seru Nokoru dan Suoh bersamaan.

Latar

"Ah… minum teh di tengah-tengah bunga sakura yang berjatuhan begini memang bikin tenang, ya kan Akira?" Nokoru menghirup lagi tehnya. Akira mengangguk kemudian tersenyum pada ketuanya itu.

BRAK

"Suoh! Kau merusak latar untuk piknikku dan Akira!" Seru Nokoru meratapi latar taman bunga sakura yang susah payah dipesannya dari klub lukis. Alis Suoh berkedut kesal.

"Kalau hanya taman bunga sakura kenapa tidak keluar saja dari ruang OSIS!"

Bingung

"Hah…" Nokoru menghela nafas berat.

"Ada apa kaichou?" Tanya Akira setelah meletakkan secangkir teh di atas meja.

"Aku bingung, Akira," Akira memiringkan kepalanya ikut bingung. Tatapan mata Nokoru jatuh pada Suoh yang sibuk di mejanya. "Kenapa Suoh selalu saja memberikanku berkas-berkas merepotkan ini."

"ITU KAN MEMANG TUGASMU!"

Sakit

"Aduh—duh, pelan-pelan Suoh," keluh Nokoru karena perlakuan Suoh yang tak ada lembut-lembutnya itu. Alis Suoh berkedut kesal.

"Memangnya kau pikir ini salah siapa? Mengejutkan orang dengan melompat dari jendela lantai tiga ke bawah. Untunglah kau hanya tersangkut di pohon," omel Suoh masih dengan tangan yang bekerja mengoleskan obat merah pada luka-luka di badan ketuanya.

"Yah, tidak akan separah itu kan," Suoh sengaja menekan luka yang paling parah yang terletak di lengan Nokoru karena perkataannya.

"SAKIT!"

Jantung

BRUK

"Kaichou!" Suoh dan Akira menghampiri Nokoru yang tiba-tiba terjatuh dari kursi kebesarannya.

"Kaichou! Bertahanlah!" Seru Akira panic. Suoh sendiri memapah Nokoru kembali ke bangkunya perlahan. Nokoru meremas dada kirinya.

"Kaichou? Kenapa?" Tanya Suoh berusaha tenang.

"Suoh, A—akira. Aku… jantungku…" Suoh dan Akira harap-harap cemas. "Aku… biarkan aku bebas dari tumpukan berkas ini." Nokoru kembali terjatuh ke lantai setelah Suoh menendang kursinya terbalik.

Sendiri

Suoh agak kepayahan membawa berkas-berkas bertumpuk di tangannya. Tiba-tiba dia merasa cukup ringan ketika seseorang mengambil beberapa dan membantu membawanya. Suoh menoleh dan mendapati Nokoru tersenyum padanya.

"Aku tahu kau bisa membawanya sendiri, tapi melakukannya berdua tidak ada salahnya kan?"

Awan

"Sepertinya aku ingin kue buatan Akira sekarang ini," ujar Suoh yang mengagetkan Nokoru dan Akira.

"Su—Suoh? Bukankah kau tidak suka makanan manis?" Tanya Nokoru masih dengan rasa keterkejutannya. Suoh mengelus tengkuknya—yang bukan kebiasaannya.

"Aku melihat awan itu berbentuk kue dan kupikir mungkin aku ingin makan satu."

"SIAPA KAU DAN KAU APAKAN SUOH?"


selesai! akhirnya T^T

gak nyangka akhirnya saya ikutan chal 50 sentences dan selesai membuatnya sampai 50 tok!

sempet buntu disana-sini. jadi kalo ceritanya rada bener-bener bingung, jangan tanya. saya juga bingung #ditabok

well, well, segini aja deh. silahkan pm saya(?) ada yang kurang jelas atau ditanyakan