Destiny

Diclaimer: Masashi Kishimoto Rate: M SasuFemNaru

Warn: author newbie, typo(s), OOC, cerita aneh, dan lain-lain

Hujan baru turun dari langit. Airnya membasahi Sasuke yang sedang berdiri di samping truk-truk besar.

Tiba-tiba dari atas sebuah truk besar jatuh seorang laki-laki berambur hitam dengan mata yang sama persis dengan Sasuke. Dia terjatuh dengan kepala terlebih dahulu yang mengenai tanah. Darahnya mulai keluar dengan cepat.

Sasuke berlari menuju dia. Sasuke berlutut untuk menggendongnya.

"Sasuke, kenapa kau selalu merebut semua yang ku inginkan?" kata laki-laki itu.

Kemudian semuanya menjadi gelap. Orang yang hendak dia tolong pun tidak ada. Sasuke melihat ke sekeliling. Dia mencari orang tadi tapi sejauh mata mandang hanya ada kegelapan.

"ITACHI!" teriaknya.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Tiba-tiba Sasuke terbangun. Dia bukan berada di tempat itu lagi melainkan di depan ruang penyimpan alat kebersihan. Dia berbaring di lantai sedangkan kepalanya berada di atas pangkuan seseorang. Jas yang tadi dia pakai tidak ada. Lengan kanan kemejanya disingkap sehingga memperlihatkan lukanya yang sudah diperban. Darahnya masih terlihat merembes di perban itu.

Sasuke menghela nafas.'Mimpi itu lagi,'pikir Sasuke.

"Sensei, kau tidak apa-apa? Aku sudah mencoba menghentikan pendarahannya dan aku juga sudah membalutnya dengan perban."kata Naruko dengan nada cemas.

"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih,"kata Sasuke. Lalu dia bangun dari pangkuan Naruko. Sasuke masih merasa sedikit pusing saat terbangun jadi dia memegang kepalanya. "Dimana jas ku?"

"Ini,"kata Naruko sambil menyerahkan sebuah jas yang berlumuran darah. "Maaf sensei. Aku memakai jas mu untuk menghentikan pendarahannya,"kata Naruko dengan nada sangat menyesal.

"Tidak apa-apa. Kau kan sudah menyelamatkan aku," kata Sasuke sambil mengusap rambut Naruko.

Wajah Naruko seketika berubah menjadi merah saat itu.

Sasuke mengambil ponselnya dari dalam jasnya. ponselnya terdapat sedikit darah yang menempel.

Sasuke mendapat sebuah pesan di ponselnya dengan pengirimnya bernama Alpha. Dia lalu membuka pesan itu. Isinya adalah: "Kau harus memberiku penjelasan atas kegagalan ini."

Sasuke sekali lagi menghela nafas. Lalu dia masukan ponselnya ke saku celananya.

"Sensei, boleh aku tau sekarang jam berapa?" kata Naruko sedikit malu.

Sasuke melihat jam tangannya. "Sekarang jam setengah enam. Kenapa?"

"Setengah enam?!" tanpa Naruko sadari dia berteriak. "Bagaimana ini? Otou-san pasti marah padaku. Oka-san juga. Onii-san juga. Bagaimana ini?" kata Naruko bergumam sendiri.

"Kau mengkahwatirkan mereka? Kalau begitu hubungi mereka."

"Ponsel-ku tertinggal di rumah saat aku pergi sekolah."

"Pakai ponsel-ku saja," kata Sasuke sambil menyerahkan handphonenya tapi bukan yang dia pakai untuk berhubungan dengan Alpha, bosnya.

"Terima kasih sensei,"kata Naruko sambil mengambil ponsel-nya.

Naruko lalu menekan nomor telepon rumahnya.

"Halo, di sini dengan kediaman Namikaze, ada perlu apa?" kata yang seseorang di sana yang suaranya sangat familiar di telinga Naruko, Anko.

"Anko!" kata Naruko

"Naruko! Kamu ada dimana? Dari mana saja kamu kemarin? Kau tau semuanya mengkhawatirkanmu!"

Raut muka Naruko berubah menjadi sangat menyesal. "Maaf Anko. Aku ketiduran di sekolah saat mengerjakan PR."

"Ya sudahlah. Nanti aku suruh Kakashi untuk menjemputmu. Untung bukan ayahmu yang menjawab telepon. Ngomong-ngomong kamu menelopon menggunakan apa? Ponsel-mu kan ketinggalan di rumah."

"Eeemm, saat aku bangun aku mencari seseorang di sekolah untuk dipinjami ponsel. Ternyata ada seorang guru yang mau mengambil berkasnya. Jadi aku meminjam ponsel darinya." Kata Naruko sambil mengarang cerita. Tidak mungkin kan kalau dia menceritakan yang sebenarnya ke keluarganya. Bisa-bisa dia tidak dibolehin sekolah lagi oleh ayahnya.

"Oke. Kau harus bilang terima kasih pada sensei mu itu. Kakashi akan pergi sebentar lagi. Jadi tunggu di depan gerbang sekolah. Jangan pergi kemana-mana!" setelah itu Anko langsung menutup telepon nya.

Naruko menghela nafas. Kajadian ini baru pertama kali dialami olehnya. Dan itu sangat mengerikan sekali. Apalagi, saat Red yang hampir saja membuka pintu ruang penyimpanan. Jika Red membukanya mungkin sekarang dia sudah tak bernyawa.

Naruko lalu menyerahkan ponsel milik Sasuke. "Terima kasih sensei."

Sasuke mengambil ponsel miliknya lalu menyimpannya di saku kemejanya.

"Anu sensei. Aku mau pulang ke rumah. Bagaimana denganmu sensei? Apa sensei masih sakit?"

"Aku baik-baik saja kok. Tenang saja. Habis ini aku mau pulang."

"Sensei bisa ikut denganku untuk pulang ke rumah. Aku dijemput."

"Tidak usah. Rumahku dekat dari sini. Oh ya, aku lupa siapa namamu?"

"Namaku Namikaze Naruko, sensei."

"Baiklah Naruko kejadian tadi malam lupakan saja. Anggap hal ini tidak pernah terjadi. Jangan kau beri tahu keluargamu tentang hal ini. Jangan pernah kamu keluar malam lagi." Wajah Sasuke menjadi serius. "Itu pun jika kau masih ingin hidup."

"Ba-baiklah."

"Aku akan antar kamu ke depan gerbang."

Naruko menarik lengan kemeja Sasuke. "Maaf sensei. Aku sangat menyusahkanmu."

"Tidak apa-apa. Yang penting kamu selamat."

Lalu mereka pergi ke depan gerbang sekolah.

"Naruko hati-hati ya. Aku pulang dulu,"kata Sasuke sambil berjalan menuju rumahnya.

"Ya sensei."

Naruko menanti kedatangan Kakashi di dekat pos satpam. Di pos itu tidak terdapat seorang pun karena sekarang hari Minggu dan di sekolah Naruko pada akhir pekan satpam boleh libur.

.

.

Belum sampai tiga puluh menit mobil yang dibawa Kakashi sampai di depan sekolah Naruko. Padahal perjalanan ke sekolah Naruko membutuhkan waktu 45 menit.

"Naru!" kata Kakashi.

"Kakashi!" kata Naruko menghampiri laki-laki bermasker yang baru keluar dari sebuah mobil.

Entah mengapa Kakashi selalu menggunakan masker. Bahkan di rumah pun dia masih saja mamakai maskernya. Naruko pernah dimarahinya karena pernah mencoba membuka maskernya.

"Naruko semua orang di rumah mengkhawatirkan mu. Ibumu sampai menelepon ke teman-temanmu."

Mendengar itu Naruko jadi merasa sangat bersalah. "Maafkan aku Kakashi."

Kakashi mengacak-ngacak rambut Naruko. Kakashi itu orangnya hanya berbicara yang penting-penting saja.

Kakashi lalu membukakan pintu mobil untuk Naruko di bagian belakang.

"Ukh!" kata Naruko ketika melangkahkan kakinya ke mobil. Kakinya yang terkilir masih terasa sakit.

"Ada apa?"tanya Kakashi sambil melihat ke arah kaki Naruko.

"Bukan apa-apa," kata Naruko untuk menghilangkan kekhawatiran Kakashi.

Dengan tiba-tiba Kakashi langsung menggendong Naruko ke jok belakang. Dan dia langsung melepas sepatu dan kaos kaki Naruko. Dilihatnya kaki Naruko yang terkilir membiru.

"Kakashi kau membuatku kaget!"

"Apa yang terjadi pada mu sampai membuat kakimu begini?" kata Kakashi sambil memegang kaki Naruko.

"A...aku hanya terpeleset. Aku memang ceroboh." Naruko jika berbohong suka tergagap.

Kakashi melihat wajah Naruko sebentar. Lalu dia pergi ke kursi kemudi sambil menutup pintu mobil bagian belakang.

"Nanti kau akan diobati oleh Anko di rumah." Kata Kakashi. Lalu dia menyalakan mobil dan pulang ke rumah.

Diperjalanan pulang Naruko sangat gelisah. Dia takut Kakashi atau Anko tau kalau dia berbohong. Tapi sepertinya Kakashi tidak mementingkannya.

.

.

Akhirnya mereka sampai di rumah. Kakashi menggendong Naruko sampai ke dalam rumah, padahal Naruko sudah memaksanya untuk menurunkannya. Saat berada di rumah dirinya langsung disambut dengan omelan Anko karena kakinya yang terkilir.

"Kenapa kau begitu ceroboh sampai kaki mu jadi begini, hah?" tanya Anko sambil membalut kaki Naruko dengan perban.

Naruko tidak bisa menjawab dan dia hanya menunduk ke bawah. Anko sangat menyeramkan jika sudah marah.

Anko melihat sedikit bercak darah bagian bawah rok Naruko. Dia menatap tajam pada bercak itu saat Naruko tidak melihatnya.

Lalu datang Minato dan Kushina. Dia langsung memeluk Naruko. "Naru aku mengkhawatirkan mu...! kemana kau semalam? Aku dan Kushina-chan semalaman menelopon teman-temanmu."

"Dia semalam ada di sekolah! Dia tertidur di sana lagi dan yang yang paling parah, ponsel-nya ketinggalan di rumah!" kata Anko sebelum Naruko sempat menjawab.

Pintu ruangan itu terbuka. Naruto datang dengan tergesa-gesa menuju Naruko dan mengguncang-guncangkannya. "Naru...! Kau membuat aku kesal! Aku semalaman pergi ke rumah teman-temanmu! Harusnya kau ga sekolah di sana kalau aku tau kau bakal kaya gini!"

Dengan wajah bersalah Naruko melihat keluarganya. "Maaf semuanya. Aku telah mengkhawatirkan kalian. Aku ini sangat ceroboh. Saking ceerobohnya aku sampai aku tertidur di sekolah dan terpeleset."

Mata Minato menjadi berkaca-kaca. "Oke aku akan memaafkanmu."

Wajah Naruko menjadi berbinar-binar penuh harap.

"Tapi setiap hari kau harus diantar Kakashi, sarapan bersama, dan setiap akhir pekan kau harus di rumah menemaniku bersama ibumu."

Naruko menatap pasrah ayahnya. "Tapi bagaimana kalau temanku mengajakku bermain?"

"Hmm... baiklah untuk akhir pekan aku akan sedikit bebaskan kamu. Ingat cuma sedikit. Sedikit."kata Minato dengan penekanan pada sedikit. "Sekarang kamu harus istirahat. Otou-san ga mau sampai kamu sakit Naru."

"Ya, baiklah."

"Naruto antar adikmu ke kamarnya, ya"

Kemudian Naruto menggendong Naruko ke kamarnya.

"Naru jangan mengulanginya lagi." Kata Naruto saat menuju ke kamar Naruko.

"Ya. Aku tau itu." Jawab Naruko. Dirinya sudah banyak diceramahi hari ini.

"Kau tau, Kyubinii-san kemarin malam pulang."

"Benarkah? Aku tidak melihatnya tadi."

"Ya dan dia sangat merindukanmu. Dia cuma di rumah bentar dan untungnya dia tidak tau kau menghilang. Kalau tidak dia pasti akan sangat marah."

Naruto berhenti di depan kamar Naruko untuk membuka pintunya. Lalu dia membaringkan Naruko di atas kasur.

"Kau membuat rumah ini penuh kehangatan. Kalau kau tidak ada aku akan sangat merindukanmu. Karena itu jangan buat aku kehilangan dirimu lagi." Kata Naruto sambil mencium kening Naruko kemudian mengacak-ngacak rambutnya. "Sekarang kamu harus istirahat."

"Baiklah nii-san." Kata Naruko. Kemudian dia tertidur.

Naruto keluar dari kamar itu. Dia mengepalkan tangannya.

'Harusnya tidak ku biarkan Naru masuk sekolah itu.'pikir Naruto.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Sasuke berjalan menuju apartemennya. Wajah pucat pasi dan penuh dengan keringat dingin. Dia berhenti di depan pintu apartemennya. Tangannya bergetar saat memgang gagang pintunya. Sasuke membuka pintunya tapi sebelum dia masuk dia sudah jatuh pingsan duluan.

Seseorang yang sudah duluan berada di apartemen Sasuke berjalan menuju Sasuke.

"Kau sudah gagal Sasuke," kata orang itu kepada Sasuke yang masih pingsan.

.

.

.

Sasuke terbangun. Dia melihat atap berwarna putih dan disinari lampu putih yang sangat terang. Dirinya bukan berada di apartemennya, tidak juga di sekolah tempat dia menyamar sebagai guru.

Dia melihat kesamping. Di tangan kirinya terdapat selang infus yang berisi darah. Dia kemudian bangun dari tempat tidurnya.

Seseorang datang keruangannya. Orang itu membawa kopi di tangannya. Dia sedikit kaget melihat Sasuke sudah bangun.

"Sasuke! Kau sudah bangun! Kau tau tidurmu itu lama sekali hahahaha!"kata orang itu.

"Suigetsu dimana aku? Sudah berapa lama aku tidur?"tanya Sasuke kepada orang itu.

Suigetsu meminum kopinya. "Kau berada di markas dan kau sudah tidur dua hari. Surat sakitmu sudah dikirim ke sekolah itu. Kabuto yang membawamu ke sini. Dan yang terburuk dia membawamu ke sini dengan wajah yang sangat jelek. Wajahnya seperti kakek-kakek keriput hahahaha!" Itulah cara Suigetsu mengungkapkan kalo orang sedang marah.

Organisasi mereka bernama Akatsuki. Akatsuki merupakan organisasi yang dibuat negara dengan tujuan menangkap penjahat-penjahat kelas kakap. Kadang mereka juga membunuh penjahat-penjahat itu seperti yang Sasuke coba lakukan pada Red karena menurut mereka penjahat itu bila ditangkap bisa saja melarikan diri.

Suigetsu meminumlagi kopinya. "Oh ya! Kau harus berterimakasih kepadaku. Aku sudah menjahit lukamu. Aku jadi kehilangan waktu luangku untuk melakukan itu."

Suigetsu merupakan dokter di markas itu. Dengan usianya yang sama dengan Sasuke, 22 tahun, dia lulus dari sekolah kedokteran. Walaupun Sasuke juga tidak kalah hebat karena dia lulus dari Harvard pada saat dia berumur 18 tahun.

Sasuke turun dari kasur.

"Hei Sasuke! Kamu itu baru bangun jangan dulu kemana-mana!"kata Suigetsu. Tapi Sasuke tidak menghiraukan perkataan dan mengganti bajunya dengan baju yang ada di kursi dekat kasurnya.

"Ya sudahlah! Kau keras kepala sekali."kata Suigetsu sambil mendengus.

Sasuke melepas selang infusnya yang tinggal sedikit lalu memberikannya kepada Suigetsu. Sebelum Sasuke pergi Suigetsu menarik lengannya dan menempelkan plester di lengan kirinya yang tadi dipasang infus. Setelah itu Sasuke pergi ke keluar ruang itu.

"Huh! Dasar workholic,"kata Suigetsu.

Sasuke berjalan ke arah sebuah ruangan besar. Di sana terdapat banyak kursi tetapi hanya terdapat satu orang yang berada di ruangan itu. Dia berada di kursi yang berada di ujung dan paling besar.

"Sekarang berikan laporan mu. Lebih tepatnya laporan kegagalanmu,"kata orang yang sedang duduk di sana. "Aku telah kehilangan kontak dengan agenku yang berada di Kurama karena kegagalanmu itu. Kemungkinan terburuk, dia telah dibunuh oleh Knight."

Sasuke menghela nafas. "Sebenarnya aku sudah berhasil kalau tidak ada gadis pengganggu itu, Pain. Atau harus ku sebut 'Alpha'." Jawab Sasuke.

"Siapa gadis itu?"

"Gadis itu tidak penting."

"Perkataanmu itu tidak menjawab pertanyaanku."

"Nama gadis itu Namikaze Naruko."

Pein sedikit tersenyum mendengar nama gadis yang disebutkan Sasuke tapi Sasuke tidak melihatnya karena jarak mereka yang jauh.

"Kau tau Sasuke, dengan kau bertemu dengan gadis itu kau itu sudah menambah daftar kegagalanmu. Gadis itu tau identitasmu dan kau melepaskannya begitu saja dengan semua rahasiamu."

Sasuke yang tidak bisa berkata apa-apa mengepalkan tangannya.

"Selanjutnya dengan Red. Apa yang terjadi padanya?"

"Aku berhasil kabur darinya dan dia menghentikan pengangkutan senjata setelah tau ada yang mengincarnya. Aku mendengar bahwa pengangkutannya baru setangahnya. Aku yakin dia pasti akan kembali lagi ke sana."

"Berarti tugasmu belum selesai. Sekarang kamu harus mencari tau dimana senjata itu disimpan dan gagalkan rencana Red untuk pengangkutan senjata berikutnya."

"Baiklah," kata Sasuke sambil berjalan keluar ruangan.

"Sasuke, kau juga harus mengurusi gadis itu." Kata Pain sebelum Sasuke keluar ruangan.

Pintu ruangan itu ditutup oleh Sasuke. Pain yang berada di ruang tertawa terbahak-bahak.

.

-DESTINY|AKIRA RENMEI-

.

Naruko melihat keluar jendela di ruang kelasnya. Pikirannya sedang melayang memikirkan Sasuke, sensei-nya yang menolongnya waktu itu. Ini adalah hari ketiga Sasuke tidak ada di sekolah. Naruko ingin sekali menanyakan tentangnya dan kejadian waktu itu. Dia setiap hari pergi melewati ruang guru untuk melihat Sasuke tapi orang itu tidak ada.

Tiba-tiba seseorang melempar kapur ke arah Naruko.

Naruko tersadar dari lamunannya. "Hei!" teriak Naruko.

"Harusnya aku yang bilang seperti itu kepadamu. Apa yang sedang kamu lakukan Namikaze?" kata orang yang melempar kapur itu.

Naruko melihat orang itu. Ternyata dia adalah Orochimaru yang sedang mengajar di kelasnya. Wajahnya berkerut dan tatapan tajamnya mengarah kepada Naruko. "Maaf sensei aku tadi sedang melamun."

"Kalau lain kali kamu melamun lagi aku keluatkan kamu dari kelasku!"

Lalu Orochimaru kembali melanjutkan pelajarannya.

Setelah beberapa lama akhirnya bel istirahat berbunyi. Orochimaru pun keluar dari kelas itu. Suasana kelas yang tegang akhirnya mencair.

"Naruko! Tadi itu kamu membuat aku mati-matian nahan ketawa. Untung saja ga kelepasan kalo ga Orochi-sensei bakal marah." Kata Tenten yang berada di sebelah bangkunya.

"Kamu akhir-akhir ini sering melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan, Naru?" tanya Sakura.

"Naru, apa kamu sedang memikirkan Sasuke-sensei?"kata Hinata malu-malu.

"Ti-tidak kok,"kata Naruko sedikit gagap.

"Sudahlah jangan malu-malu Naru. Kita semua tau itu sejak kamu pertama kali bertemu dengannya." Kata Teten.

Wajah Naruko seketika berubah menjadi merah.

"Kalau begitu kita bantu teman kita yang sedang kasmaran ini! Kita buatkan Naru surat cinta untuk sensei idaman Naru!" kata Tenten sambil mengajak Hinata membantunya.

"Jangan!" teriak Naruko. Sementara itu Sakura hanya menatap mereka sambil tertawa.

Tenten menutup telinganya. "Oke oke aku ga akan nulis surat itu."

Naruko menghela nafas. "Bagaimana kalau kita ke kantin?" Naruko mengalihkan pembicaraan.

"Maaf ya Naru aku ga bakal ke kantin soalnya aku mau mengerjakan PR ku. Aku lupa mengerjakannya. Dan satu lagi Naru bolehkan aku pinjam PR mu?"

"Ya sudahlah. Lain kali kau harus mengerjakan PR-mu sendiri," Naruko memberikan buku catatannya.

Saat Naruko pergi ke kantin bersama Sakura dan Hinata, Tenten menyimpan buku Naruko dan mengeluarkan kertas berwarna merah muda.

"Maaf Naru. Aku tadi cuma berbohong. Akan kuberikan surat ini pada sensei itu!"kata Tenten.

.

.

Bel masuk berbunyi. Mendengar itu Tenten langsung bergegas menuju guru. Di tengah jalan Tenten menabrak seseorang.

"Naru!"kata Tenten kaget.

"Tenten kamu mau kemana?"kata Naruko.

"Ke-ke kamar mandi." Tenten terburu-buru pergi namun saat dia pergi dia tak sengaja menjatuhkan surat cinta buatannya.

Naruko mengambil surat itu. "Tenten! Suratmu terja—". Naruko berhenti bicara saat melihat namanya sebagai pengirim surat itu dan ditujukan kepada Sasuke.

Tenten langsung mengambil surat itu. Dengan cepat dia pergi dari hadapan Naruko ke ruang guru.

"Tenten tunggu! Jangan berikan itu kepadanya!" teriak Naruko sambil mengejar Tenten.

Tenten berlari ke ruang guru. Di sana tidak guru karena bel masuk sudah berbunyi. Tenten membuka laci meja Sasuke dan menyimpan surat itu. Saat dia menutup laci meja itu Naruko datang dan menghampirinya. Tenten tidak sadar jika Naruko sudah berada di belakangnya dan hendak membuka laci meja itu.

"Sedang apa kalian di sini?" kata seseorang dari belakang saat Naruko baru saja menyentuh laci meja itu.

Tenten dan Naruko langsung berbalik dan melihat wajah orang yang bertanya pada mereka, Sasuke.

"Sensei! Kita sedang mencari Sizune-sensei," kata Tenten menyembunyikan kekagetannya sambil menunjuk ke meja sebelah meja Sasuke yaitu meja Sizune.

"Sizune-sensei tadi sudah pergi. Kalian cepat pergi ke kelas. Bel sudah berbunyi."kata Sasuke.

"Baiklah sensei,"kata Tenten sambil berjalan keluar dari ruang guru. Naruko mengikutinya dari belakang.

Sebelum Naruko keluar Sasuke berbicara kepadanya. "Naruko selesai sekolah ada yang harus aku berbicarakan denganmu jadi jangan dulu pulang."

"Ya sensei," jawab Naruko.

.

.

Sepulang sekolah, Naruko menunggunya di kelas yang berada dekat ruang guru. Dia melihat Sasuke keluar dari ruang guru.

"Sensei!" kata Naruko.

Sasuke langsung menghampiri Naruko dan menarik tangannya. Sasuke membawa Naruko ke aula sekolah yang sudah tidak ada orang lagi.

"Apa kau memberi tahu kepada teman-teman mu tentang kejadian waktu itu?" tanya Sasuke.

Naruko mengelengkan kepalanya. "Aku takut membicarakankannya. Aku takut mereka diincar oleh orang itu."

"Tapi tak ada jaminan kalau kau tidak akan mengatakannya kan?"

"A-ku aku tidak tahu."

"Kalau kau tidak tahu, bagaimana kalau aku saja yang memberikan jaminannya?" Sasuke mengeluar pistolnya dari balik jasnya. Dia mengarahkannya kepada Naruko. "Bagaimana kalau kamu aku tembak jika kau memberi tahu kejadian itu kepada orang lain?"

Naruko tercengan mendengarnya. "Aku akan menerimanya. Tapi kau jangan membunuh penjahat itu. Dia bisa saja berubahkan?"

Sasuke mendekatkan mukanya ke depan muka Naruko. "Tidak mungkin. Aku tidak menyangka kau akan berbicara begitu setelah dia hampir saja membunuhmu."

"Tapi dia melepaskan kita saat itu, sensei!"

"Dia itu adalah penjahat yang telah membunuh banyak orang. Mungkin saja dia akan membunuhmu suatu saat nanti."

"Tapi tidak bisakah sensei—"

"Tidak. Aku tidak bisa untuk tidak membunuhnya."

Tanpa Naruko sadari dia meneteskan air mata. Lalu dia berlari kaluar dari aula dan keluar sekolah.

Sekarang Sasuke sendiri di aula. Dia menghela nafas lalu berjalan keluar dari aula itu.

Baik Naruko maupun Sasuke tidak menyadari percakapan mereka tadi di dengar oleh seseorang. Orang itu berada di ruang penyimpanan alat-alat olah raga. Setelah tidak ada seorang pun di sana dia keluar. Orang itu memakai seragam wanita SMA Konoha.

Orang itu berteriak sambil meninju dinding yang berada di sebelahnya. Di dinding itu terlihat bekas pukulannya karena dinding itu menjadi retak.

"Menyebalkan sekali pria itu!"kata orang itu

To Be Continue

.

.

.

Maaf ya aku lama update ._.v

Aku suka bingung milih kata-kata yang cocok jadi nya begini deh, update lama. Harap di maklumi

Aku masih mengharapkan komen dan kritikan kalian :D