*Disclaimer*
Bungou Stray Dogs just by Asagiri Kafuka Harukawa Sango
Warn : Shonen-ai, pasti. Absurd, tentu. Gaje, wajib. OOC, tidak diragukan. Typo, itu khilaf.
Enjoy~
Seven Days Without You
—CHAPTER 1—
Pertanyaan
Sepi, itulah gambaran suasana dalam ruangan petak kecil di rumah salah seorang eksekutif muda Port Mafia, Dazai Osamu. Akibat tantangan konyol kekasihnya, dan diterima dengan tidak kalah konyol olehnya, dia dalam puncak kesuramannya.
Sekitar tiga hari lalu, kekasihnya, Nakahara Chuuya mengeluarkan semacam ultimatum yang berjangka tujuh hari. Alasannya? Tentu untuk mengalahkan kesombongan si Dazai —yang menurutnya— berharga namun kurang ajar ini. Kira kira begini yang dia katakan:
"Mulai besok hingga tujuh hari ke depan, tidak boleh berbicara, langsung ataupun telepon, tidak bertukar pesan, tidak bersentuhan, tidak berhubungan, dan tidak mencari kabar. Yang pertama melanggar adalah yang kalah."
Dan permainan bodoh itu mengakibatkan adanya seonggok daging bergemul dalam selimut krim di depan televisi empat puluh inci yang menyiarkan acara masak masak, yang tak lain adalah si eksekutif muda. Jika kau melihatnya, mungkin yang terlintas dalam benakmu adalah kalimat "Televisi sedang menonton Dazai Osamu."
Biasanya, dia akan berjalan keliling kota guna mencari ide dalam bunuh diri menyenangkan yang lebih menyenangkan lagi jika terwujud, dan paling menyenangkan jika dengan seorang gadis cantik, dan —tidak tau menjelaskannya— jika orang itu adalah Chuuya, Dazai rela melakukannya berkali kali walau ujungnya masuk neraka berkali kali juga.
Mari kembali ke cerita kita. Jadi hari ini hari yang cerah namun Dazai merasa sangat hampa. Baru hari ke tiga, dan Dazai sangat-sangat-SANGAT ingin melihat iris biru itu!
'Tuhan, tolong percepatlah tujuh hari seperti neraka ini.'
Begitu pikirnya, namun melihat seringai yakin dari Chuuya yang sedikit menyebalkan membuatnya bersikap kuat. Ia bangkit dari posisi teronggoknya tadi, duduk lalu melihat televisi yang acaranya sudah berganti menjadi sebuah talk show dengan bintang tamu —yang Dazai kenal dari keterangan di sudut layar barusan— adalah seorang penjaga museum kota sebelah, atau desa, entahlah.
Pria tua itu menjelaskan tentang sedikit pengetahuan mengenai plat dada petinggi petinggi Yahudi dulu. Sekejap Dazai terpaku pada petakan emas lima inci dengan dua belas permata yang berbeda beda. Seperti seluruh elemen bumi ada dalam benda kecil itu. Yang Dazai ketahui, rubi, safir, ametis, carnelian, lapis lazuli, onix, topaz beryl, jasper, akik, lalu entah apa lagi.
Plat itu dikirim ke Jepang dari Eropa untuk mengikuti pameran mulai malam ini hingga dua puluh empat jam ke depan. Dan Dazai berpikir, gila sekali orang yang memamerkan benda itu di televisi swasta.
Sebuah dering telepon berbunyi, lalu Dazai melihat layar handphone nya yang menampangkan nama Hirotsu-san di sana. Ia mengangkat panggilan yang mengitruksi agar ia segera ke markas.
Setibanya di markas, ia masuk dalam sebuah ruangan rapat khusus. Ia menelaah sembunyi seluruh ruangan bermeja oval dengan empat orang duduk pada bangku di tepinya, namun matanya tak melihat sosok yang ia cari, Chuuya. Ia mengabaikan dan kembali menjadi profesional. Lalu duduk di salah satu bangku dan mulai mendengar rincian misi.
"Aku menduga beberapa orang sudah mendengar berita tentang pameran di kota." Mori Ougai memulai rapat. Lalu beberapa orang mengangguk, termasuk Dazai yang secara kebetulan menonton acara televisi tadi.
"Disana, ada benda berharga yang tidak terlalu menarik minatku sebenarnya.." lalu sebuah proyektor menampilkan gambar sebuah benda indah. "..plat dada Yahudi. Aku ingin kalian menjaga seluruh barang barang pameran, terutama plat dada itu. Hanya itu. Ada pertanyaan?"
Seorang pria mengangkat tangan, "Boleh aku tau kenapa kita menjaganya? Bukankah lebih baik polisi atau Army Detective yang melakukannya?"
Semua orang tampak setuju dengan pernyataan itu. Karena menjaga sesuatu itu tidak terdengar cocok dengan mafia bukan? Mafia lebih klop dengan mencuri dibanding menjaga.
"Aa, benar juga sih." kata Mori. "Polisi sudah pasti diturunkan untuk mengawal pameran ini, dan Agensi juga akan bertindak jika terjadi sesuatu. Misi ini tidak lain tidak bukan adalah sebuah permintaan dari si pemilik plat itu. Seorang teman lama kita di Eropa yang percaya pada Mafia untuk mengamankan nya. Yah, sejujurnya aku juga malas memberi misi ini, tapi berhubung pemilik plat itu salah satu teman, agen senjata, dan anggota tidak resmi kita yang baik, tidak ada salahnya. Ada pertanyaan lagi?"
"Boleh aku tau siapa yang kira kira mengincar benda itu?" tanya seorang yang lain.
"Seluruh pencuri dunia mungkin." Mori menjawab langsung. "Begini, siapapun yang berniat menyentuh benda bersejarah ini harus disisihkan. Yang kalian lakukan hanya satu, memastikan benda ini pulang ke Eropa dengan kondisi sama seperti dia diantar ke Jepang. Itu saja. Rapat selesai. Silahkan atur strategi kalian masing masing."
-III-
Bintang itu tenggelam di balik lautan. Menyisakan sedikit samar samar emas di atas angkasa kebiruan. Sirine mobil polisi beralun berisik. Lampu lampu merah menyala berbaris rapi menyusuri jalan lebar melewati gapura besar di tepi kota.
Tujuan mereka adalah sebuah vila megah milik seorang konglomerat. Dan benar, vila itu seperti sebuah istana. Berada di atas bukit dengan sebagian kecil bagiannya melayang di atas laut yang ombaknya terus menyerang tebing tebing batu.
Rumah bergaya Victoria bercat biru gelap dengan aksen aksen rumit yang sangat menawan. Di halamannya yang luas, bejejer mobil mobil mewah yang langsung terlihat kalau pemiliknya adalah orang orang kaya. Lampu lampu menyala terang menghapus kesan angker yang bisa muncul jika bangunan itu tidak dipenuhi orang seperti saat ini.
Mobil polisi tadi diparkirkan di luar pagar batu, beberapa anggotanya sedang berpatroli dan memeriksa setiap tamu yang berbusana indah dan rapi. Di tengah kesibukan itu, terdapat beberapa oknum yang berkerja dibalik bayangan.
Sedikit menyedihkan dengan informasi yang disebarluaskan. Menurut berita umum, pameran diadakan di kota. Nyatanya, seluruh benda berharga dipamerkan di bangunan ini, malam ini.
Pameran di kota hanya menampilkan barang barang sejarah yang umum ditemukan seperti cawan cina, artefak, atau patung patung bersejarah. Benda benda mewah seperti mahkota, senjata, lukisan langka, perhiasan termasuk plat dada Yahudi di simpan di sini. Karena itulah tiga orang mafia yang mendapat misi sedang berjaga sembunyi sembunyi di sini.
Seorang sebagai polisi, seorang yang mengawasi di kejauhan dengan selusin pasukan mafia, lalu seorang lagi sebagai anggota panitia yang selalu berjaga di dekat plat dada itu. Dan Dazai, adalah orang yang menyamar sebagai polisi. Andai Chuuya melihat dia mengenakan seragam polisi ini— 'aku jamin dia akan luluh di depanku.' —batinnya pede.
Satu setengah jam lagi hingga acara ini ditutup oleh sebuah pesta kembang api. Tidak terjadi apa apa. Mereka seorang profesional yang tidak akan melewatkan apapun. Jika ada kesempatan mencuri, itu adalah saat kembang api diluncurkan.
Waktu waktu terlewati dengan perbincangan penuh semangat para tamu. Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan hanya tinggal menghitung mundur untuk menyaksikan letupan letupan indah di langit malam.
Dan yang benar saja! Saat semua orang sedang menikmati bunga api di balkon balkon panjang yang menghadap ke laut, terdengar tembakan yang tertutup suara kembang api.
Dazai tanggap dan berlari ke arah sumber suara, melihat pria memakai tuksedo mengarahkan pistol ke arah tubuh berdarah yang terbaring di sebelah kotak kaca plat dada itu.
"Dan ternyata itu benar benar Anda," Dazai mendekat santai. "Mudah diyakini pemain saxophone seorang yang lumpuh. Tapi tidak semua orang berpikir demikian."
"Jangan mendekat!" Seorang lagi datang membawa senapan yang dimodifikasi menjadi sebuah terompet. Ia mengacungkan mulut senjatanya ke arah kepala Dazai.
'Ini buruk' Dazai membatin. 'Sayang sekali.. Aku lebih baik melawan selusin batalion berbakat khusus dibanding dua orang bersenjata api. Kenapa Chuuya tidak ada di saat seperti ini?' ia nelangsa.
"Kau tidak berani melawan?" kata orang yang menodongnya. Lalu tertawa.
"Hentikan itu." Sebuah suara berwibawa terdengar bersama sosok tegap. "Lakukan tugas kalian, lalu kita pergi."
"Orang ini bagaimana?"
"Bunuh.." ia menjeda. "Lempakan ke laut."
"Wahhh... Kau mau melemparku ke laut?" kata Dazai ceria. "Hebat sekali. Kau sungguh baik memberiku kematian yang kuinginkan di tempat megah seperti ini, padahal kita belum kenal. Tapi yahh..."
"Dia gila. Singkirkan dia!"
Dazai melanjutkan, "Tapi yahh, saat ini aku tidak ingin mati sebelum bertemu pujaan hatiku empat hari lagi. Karena itu—" Dazai tersenyum. Lalu tiba tiba, dalam sekejap, seluruh senjata yang dipegang tiga orang musuh itu terbelah menjadi dua.
"Terimakasih Gin-kun." kata Dazai pada seorang wanita kelewat jantan yang datang entah dari mana. "Bagaimana di luar?"
"Kami sudah selesai. Hanya ini sisanya, Dazai-san."
"Begitu? Baguslah." senyum terpahat, lalu tatapan gelapnya menatap orang tegap yang ia duga sebagai bos. "Nah, Kau tidak keberatan memberitahu siapa yang memintamu? Aku rasa itu akan menjawab kenapa kau hanya memilih plat itu walau ada banyak barang di sini."
-III-
Pekerjaan selesai dan ini adalah hari ke sekian Dazai Osamu kembali menjadi seonggok daging berbalut selimut di depan tv yang sama seperti kemarin. Setelah cukup mengintograsi, Dazai mengirimnya pada seseorang entah siapa di markas untuk dieksekusi atau apalah yang layak didapatkan pencuri itu.
"Chuuyaaaaaaaa..." katanya menderita. Hampir gila karena rindu yang semakin menelannya.
Berdiri perlahan lalu pergi ke kamar mandi. Dalam lima belas menit, ia sudah menjadi pria bermartabat dengan aroma gentle yang —coba bayangkan sendiri— menguar dari tubuhnya.
Memakai pakaian informal, bukan seperti jas hitam yang biasa. Kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, ditutupi rompi rajutan abu abu, jeans gray panjang, dan sepatu kets darkblue, Dazai berinisiatif mengelilingi kota.
Beruntung jika ia tiba tiba bertemu Chuuya, yahh minimal berpapasan dengan gadis cantik saja sudah cukup. Begini begini Dazai adalah remaja delapan belas tahun yang pingin ini pingin itu.
Benar beruntung. Ada sedikit perseteruan yang membuat dia yang awalnya berjalan sendiri jadi berdua dengan seorang wanita cantik. Hanya kisah pertemuan pasaran dimana wanita itu sedang diganggu beberapa berandalan, dan Dazai datang layaknya pahlawan menyelamatkannya. Walau berujung sedikit sayatan agak parah di pipi bawahnya.
Wanita itu berambut coklat lembut sepunggung dengan kacamata merah yang membingkai sepasang manik jade nya. Kirako Haruno. Cantik, walau tidak secantik Chuuya— Oh, Dazai kembali merindu.
Kirako bilang dia hanya ingin berjalan jalan, sama dengan Dazai. Jadi keduanya memutuskan untuk melakukannya bersama. Ke taman, ke pantai, ke perpustakaan, dan ke museum. Wanita itu seperti mengetahui sesuatu dengan kompleks. Pengetahuannya sangat luas. Dazai merasa sedikit menghilangkan rindunya.
Yahh.. sedikit lupa akan rindunya jika saja sosok Chuuya yang selama beberapa hari menghilang tidak tampak sedang berbincang dengan senyuman bersama wanita. Wanita bersurai hitam pendek dengan kemeja putih dan rok hitam.
Dazai sedang berjalan dengan Kirako saat itu, lalu Chuuya dan wanita itu keluar dari pintu sebuah kafe. Sosok bersurai oranye berbicara akrab dengan wanita yang tentu lebih tinggi darinya, begitupun sebaliknya.
Panas membakar hati Dazai. Kata kata Kirako yang sedari tadi terucap tidak diindahkannya. Matanya hanya melihat dua sosok jauh di sebrang sana. Hingga di beberapa meter setelah Dazai dan Kirako berbelok, ia berkata "Aku lupa ada urusan. Aku pergi dulu, Kirako-san. Aku harap kita bisa berteman." katanya dengan senyum lalu pergi.
-III-
Dia membanting bantalnya. Memukul mukul tembok hingga beberapa tetes darah mengalir dari jari jarinya. Geraman kesal tersirat dengan kata kata "sialan!" yang terus terucap. Kakinya melemah hingga ia rubuh terduduk di tepi kasurnya yang empuk.
"Kenapa Chuuya? Apa yang kau lakukan?" nadanya sedih. Memuat sedikit kecewa mendalam di hatinya.
"Untuk apa kau melakukan ini? Menyebalkan! Apa yang kau lakukan selama ini? Sialan! Siapa wanita itu? Chuuya.." umpatnya.
Malam itu hujan turun dengan derasnya. Pohon pohon bergesekan dengan hebohnya. Dan kegundahan ingatannya tadi mengusik dengan mengganggunya. Lemari makan tidak tersentuh. Bahkan tidak muncul di benaknya. Lelaki itu hanya terus memandangi langit langit kamarnya yang luas.
Pikirannya berputar. Ia menggunakan seluruh kepintarannya hanya untuk mencari tahu satu hal.
'Untuk apa Chuuya memunculkan ide permainan tujuh hari ini?'
'Chuuya ingin sendiri.'
'Chuuya ingin belajar mandiri.'
'Chuuya ingin Dazai belajar mandiri.'
'Chuuya ingin kami belajar mandiri.'
'Chuuya ingin kami sedikit mengendurkan ikatan ini.'
'Chuuya ingin menjauh dari Dazai.'
'Chuuya ingin Dazai pergi.'
Air matanya jatuh.
'Itu hal yang paling tidak boleh terjadi. Dan tidak akan terjadi!'
Tangan berbalut perban itu mengusap titikan air di pelipisnya.
'Berpikir positif, Dazai. Chuuya bukan orang yang berpikir seperti itu. Dia hanya ingin mengalahkanku. Dia ingin menang dariku.' batinnya. 'Ya.. Kalau begitu baiklah. Aku bisa melakukannya.'
Sikap optimis mengalahkan rasa sedihnya. Dia membuang jauh jauh pikiran yang mencela dan mencurigai Chuuya. Ia percaya pada Chuuya. Kekasihnya itu tidak akan mengkhianatinya dan perasannya. Dia akan terus melanjutkan permainan ini. Tidak terpikir —atau pura pura tidak terpikir— untuk membuang segala gengsi dan kembali ke hidup membahagiakan dengan Chuuya seperti dulu.
-III-
'Setiap hari adalah hari sepi.' Pikir Dazai. Teman kencannya yang biasa, Chuuya tidak ada di sini. Dan dia hanya memakan es krim nya sendiri. Biasanya, Chuuya akan menikmati miliknya, dan Dazai akan mengganggunya. Tapi tidak sekarang.
"Dazai-san?" seorang wanita mendatanginya.
"Kirako-san." jawab Dazai. "Sendirian?"
"Ya.. Tadinya bersama teman, tapi dia pergi begitu bertemu dengan kakak laki lakinya. Haha." jawab wanita bernama Kirako itu ceria. "Es krim nya enak?" tanya nya.
"Salah satu favorit ku. Cobalah. Aku menyarankan lemon mint."
Wanita itu tersenyum paham, lalu meminta seperti yang Dazai sarankan pada si penjual.
"Menyegarkan. Aku tidak tau jajanan kaki lima bisa seenak ini." kagum Kirako setelah mencicip sedikit es krim lembut bewarna tosca muda.
"Benar kan. Itu salah satu kesukaan kekasihku." sambung Dazai tak kalah ceria.
"Dazai-san punya kekasih?"
"Hmm.." Dazai mengangguk.
"Kalau kekasihmu melihat kita seperti ini—"
"Ahahah.. Kau terlalu memikirkannya Kirako-san. Chuuya, kekasihku itu bukan orang yang posesif. Kalau pun cemburu, terlihat manis. Sangat manis."
Kirako sedikit merona. Melihat seorang pria yang dengan senyum tulus berbicara tentang kekasihnya, ia merasa sedikit tersentuh.
"Kenapa kau tidak bersama kekasihmu hari ini?" tanyanya.
"Ceritanya panjang. Tapi kami tidak bertengkar atau apa. Emm.. Chuuya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan aku sedang berlibur."
Setelah kalimat itu selesai, sesuatu kembali merenggut perhatikan Dazai.
"Pasti orang itu sangat berharga bagimu yah Dazai-san?" Kirako berkata. Namun Dazai hanya terpaku ke arah sebrang jalan. "Dia pasti sangat bahagia memilikimu sebagai kekasihnya."
Percuma. Beberapa kalimat yang dilontarkan Kirako tidak disimak Dazai. Mata coklat itu hanya terpaku gamang melihat ke tempat yang sama.
Beberapa waktu lalu, tepat di mana Dazai mengakhiri kalimat terakhirnya. Matanya terpaku melihat Chuuya, dengan pakaian informal berjalan berdampingan dengan seorang wanita. Wanita yang sama seperti kemarin. Cantik dengan rambut hitak pendek. Masih dengan pakaian yang sama ditambah sebuah jas putih.
Mereka masuk ke sebuah toko, atau lebih tepatnya apotek. Melihat segala bukti, Dazai berkesimpulan kalau wanita itu adalah seorang dokter atau perawat. Dan Chuuya? Untuk apa dia ikut? Sehari bersama masih bisa dimengerti mungkin urusan pekerjaan. Tapi dua hari berturut turut? Tidak.
Malam itu seperti sebelumnya. Dazai hanya memandang langit langit. Apa yang dilihatnya siang itu terlalu buruk untuk bisa diterima akal sehatnya. Dazai bukan pencemburu, tapi apa? Semua berasal dari Chuuya dan kekasih yang mulai diragukannya itu memperlihatkan hal hal yang membuat Dazai semakin curiga.
Sudah terlalu hitam di dalam sini. Terlalu penuh dengan prasangka dan kecewa. Menyesakkan dengan kesuraman dan kesedihan. Menyakitkan karena dia tau kalau ia masih merindu.
'Lupakan.'
'Chuuya yang menginginkannya.'
'Aku mencintainya.'
'Tetap seperti itu.'
'Lupakan.'
'Aku menerimanya. 'Lakukan sesukamu', katakan saat permainan ini selesai.'
'Lupakan.'
Kali ini ia tak mengusap air matanya karena ia tidak menteskan setitikpun.
—TO BE CONTINUED—
Gaje gak? Sub judul sama cerita rada gak nyambung kan yah?
Tapi yahh,,, posting ini menggunakan sisa sisa kuota ku. Karena saat ini aku sedang krisis kuota dibarengi krisis moneter /napalucurhat?
Dan kalau ada ketidak-nyambungan di atas sana *tunjuk atas*,, itu karena gak di edit sebelum post. maafkan aku.. *sujud sujud*
Dan terima kasih atas luangan waktu kalian buat baca dan review,, readers tertjintah~~ muach *wing* *kiss* /najish.
Untuk kali ini, aku mohon review nya lagi yah.. Saran, pendapat, komentar kalian sangat membantu.. ^^
Dan terakhir,
See You ~ ~
