Summary : Alkisah pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda malang bernama Malayrela yang tinggal bersama mami tiri dan 3 orang saudara tirinya. Pemuda berambut hitam lurus dengan poni lempar ala-ala Andika Kangen Band itu selalu diperlakukan buruk oleh sang mami dan saudara tirinya. Ia dipaksa bekerja siang dan malam, mulai dari mencuci, memasak sampai membersihkan rumah. Bahkan, uang hasil jualan durennya pun dipalak oleh 3 saudara tirinya. Suatu hari ia berdoa ingin bisa menikah dengan seorang bangsawan supaya hidupnya tidak menderita lagi. Akankah doanya terkabul?

.

.

.

Sendal Rela : Sebuah Cerita Sepotong Sendal

"TERUS GUA MESTI APAAAAAAA….!?" Jerit Malay perih.

Lalu diapun memacu keledainya sekencang-kencangnya sambil menahan rasa sesak di dada. Rasanya ia ingin lari ke hutan lalu belok ke pantai. Namun apalah daya, di deket rumahnya ngga ada pantai, yang ada cuma sungai tempat dia biasa nyuci baju. Ah, andaikan ayahandanya masih hidup pasti nasibnya tak akan sesial ini.

Di tepi sungai iapun berdoa sambil menangis bercucuran air mata,

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Baim, Ya Allah…"

Eh salah, itu mah sinetron si Baim!

"Ayah, aku tak sanggup lagi, menerima derita ini, aku tak sanggup lagi, menerima semuanya…"

Pemuda itu sesekali menyeka air matanya.

"Tuhan semoga aku bisa menikah dengan bangsawan yang kaya raya sehingga aku tidak lagi diperlakukan seperti ini …" bisiknya lirih.

Lalu ia bertekad dalam hatinya untuk pergi ke istana kerajaan Hetalia. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan bangsawan kaya raya yang bisa mengeluarkannya dari penderitaan yang ia alami selama ini.

Di antara desiran angin semilir di tepi sungai. Di balik rerumputan hijau yang bergesekan dipermainkan sang angin. Di balik gumpalan awan putih yang berarak di langit. Somewhere, entah dimana, ada yang mendengarkan doa orang yang teraniaya.

-o0o-

Seminggu pun sudah berlalu. Saat yang dinanti-nanti itupun tiba. Mami Singapore dan 3 babi kecil -eh salah- anak kecil tapi belagu itu sedang heboh fitting gaun pesta. Mami Singapore tampil habis-habisan, gaunnya ala Victorian style yang roknya pake kurungan ayam jadi kelihatan menggembung, rambutnya disasak tinggi ala konde ibu-ibu pejabat, belum lagi make up nya yang menor abis itu. Malay yang ngeliatnya jadi pingin ketawa jungkir balik. Mirip ondel-ondel CFD Monas!

Begitu juga dengan 3 tuyul sontoloyo yang kapan hari ngerampok duit hasil dagang duren yang rencananya mau ditabung buat beli action figure Dragon Ball. Mereka dibikinin baju dengan model yang aneh bin ajaib. Lihat aja Laos si bocah paling kecil diantara mereka bertiga yang dibikinin baju model celana balon motif garis-garis. Lihat juga Myanmar yang pake baju model kerah rumbai-rumbai, mirip banget kayak badut Ancol. Apalagi si Cambodia desain bajunya kayak jubah tapi ukurannya kebesaran. Pokoknya mereka semua mirip orang mau ikutan lomba costplay deh!

"Malay jangan diem aja! Bantuin mami cepetan!" ujar sang mami tiri seraya menarik tubuh Malay untuk mendekat ke arahnya. Lalu iapun terkejut mendapati penampilan Malay yang tidak seperti biasanya.

"Kamu mau kemana, Malay!?"

Pemuda berambut hitam lurus dengan poni lempar ala-ala Andika Kangen Band itu tampil sangat rapi. Wajah buluknya yang biasanya dipenuhi kumis tipis berantakan itu sekarang terlihat kinclong bersih. Clean and shaved. Begitu juga rambutnya yang biasanya awut-awutan itu sekarang disisir rapi dengan poni lempar yang terlihat seperti boy band Korea. Si pemuda kampung yang dekil itu kini berubah menjadi cowok ganteng dan unyu-unyu.

"Ngga kemana-mana kok, Mi." jawab Malay pendek.

"Terus kenapa kamu pake baju rapih gitu!?" si mami jadi curiga.

Mami Singapore meneliti setiap jengkal tampilan di tubuh Malay mulai dari ujung jempol sampe ujung rambut. Pemuda Asia itu mengenakan kemeja putih garis-garis biru dengan kerah diberdirikan dan 2 kancing baju atas yang terbuka seolah ingin menampilkan kulit sawo matang di baliknya. Kemeja putih itu ditambah syal panjang warna merah marun tua plus celana panjang model fit to body warna hitam dan sendal jepit butut merek Sueluw. Entah kenapa si bocah yang biasanya dekil dan kumel itu sekarang jadi terlihat charming, eh, kecuali sendal jepitnya ya.

"Ooh…ini, ini dulu baju milik ayah."

"Kamu mau ikutan pergi ke pesta dansa kerajaan, heh!?" tanya mami curiga.

"Iya, tapi tenang aja, Mi, saya ke kerajaan bukan ikutan acara ta'arufan kok. Saya cuma mau ngelamar kerja jadi anak magang. Siapa tahu ada lowongan." ujar Malay.

Mami Singapore mendelik sewot menatap Malay. Ia tidak percaya dengan ucapan anak tirinya itu. Bisa saja Malay berbohong. Kalau dia sampai datang ke acara pesta dansa, dengan penampilan yang charming seperti sekarang ini, bisa-bisa dia mengalahkan peluang 3 puteranya untuk merebut hati sang pangeran. Ini benar-benar sebuah ancaman yang serius bagi rencananya untuk menjodohkan pangeran dengan salah satu dari 3 anaknya.

"Kamu dilarang pergi!"

"Ta-tapi, Bukannya jelas diumumkan kalau semua rakyat diundang baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, tanpa melihat suku, agama, ras dan – " Malay jadi ngotot.

"MAMI BILANG KAMU NGGA BOLEH PERGI KE ISTANA!"

Malay tersentak.

"Kamu pergi ke istana dengan penampilan menyediahkan seperti itu!? Lihat sendal jepit butut itu! Ih, amit-amit! Yang ada kamu malah malu-maluin Mami tau!"

"Tapi Mami, baju ini ngga jelek-jelek amat kok, ya walaupun agak old- fashioned sih tapi– "

"POKOKNYA NGGA!"

Mami Singapore mendekati Malay. Begitu juga trio tuyul. Tangan sang mami menyentuh kemeja yang dikenakan Malay dan mengelusnya perlahan. Lalu tiba-tiba terdengar suara kain yang digunting. Rupanya sang mami diam-diam menggunting kemeja yang dikenakan Malay dan merobeknya dengan sadis.

"MA-MAMI..! JA-JANGAN!" jerit Malay panik seraya berusaha menghentikan sang mami. Namun kedua tangannya ditahan oleh 3 orang saudara tirinya. Dia berusaha meronta tapi tidak berhasil.

Sang mami dengan kejamnya terus menggunting pakaian yang dikenakan anak tirinya. Kali ini celana panjang yang dikenakan Malay yang jadi korban. Celana panjang hitam itu digunting lalu ditarik dengan paksa sampai sobek tak bersisa.

"Pakaian jelek ini tidak pantas dipakai ke istana! Memalukan! Lebih baik dirobek saja!" teriak sang mami sambil terus mengoyak pakaian Malay.

"Mami jangaaannnn! Ampuunnn…!" jerit Malay menyayat hati.

Terdengar tawa puas dari 3 saudara tiri Malay yang senang di atas penderitaan orang lain. Malay menangis sambil bersujud menutupi tubuhnya. Tak ada yang tersisa lagi di tubuhnya selain selembar syal merah marun yang melilit di lehernya, sepotong boxer yang meringkuk pasrah menutupi wilayah terlarangnya dan sepasang sendal jepit di kedua kakinya.

"Selamat tinggal Malay!" ejek Laos.

"Jaga rumah ya! Hahahahhaaaa…!" ujar Myanmar senang.

Sambil tertawa penuh kemenangan mereka berempat meluncur ke istana dengan menaiki kereta kuda istimewa meninggalkan Malay dalam keadaan mengenaskan. Pemuda malang itu menangis sejadi-jadinya sambil memanggil-manggil ayahnya.

"Ayah, aku udah ngga kuat lagi, aku ngga sanggup lagi…"

Dengan mata yang masih berderai air mata, Malay berlari ke belakang rumah. Lalu dengan sekuat tenaga ia melompat ke arah sumur. Sepertinya ia sudah tak kuat menjalani beban penderitaannya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Tiba-tiba sesosok tangan berkulit putih dan berbulu menangkap tubuh mungilnya.

"Oopppsss!"

Tangan besar itu menariknya dan membawanya ke dalam dekapan hangat. Malay terkejut saat mendapati tubuhnya dipeluk dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Sebuah ciuman?

"Hah!?"

Lalu tiba-tiba ia merasakan bokongnya digrepe-grepe,

"A-apa, apa-apaan!?" batinnya ketakutan.

Pemuda Asia itu meronta-ronta dan berusaha melepaskan diri dari dekapan seseorang yang bertubuh tinggi besar yang barusan mencium bibirnya tanpa ijin.

"To-tolooong, ada maniak! Tukang perkosa! Penjahat kelamin!" jerit Malay sambil terus berusaha melepaskan diri.

"Ssssttt…jangan berisik!" ujar sosok misterius itu.

Ketika akhirnya berhasil melepaskan diri, Malay berlari sekencang-kencangnya. Namun malang, kakinya tersandung sobekan kain celana panjangnya yang menjuntai. Tubuh mungil itupun sukses jatuh ngusruk di rerumputan.

Dengan terseok-seok, Malay berusaha bangkit dan berlari dari si penjahat kelamin misterius yang wajahnya belum sempat dilihatnya itu.

"Wanjir! Udah baju gue dirobek-robek, masa diperkosa juga!? Duh gusti, sue amat gue jadi peran utama di fanfict nya Azayaka Freak!" batin Malay menderita.

"Ssstt, jangan takut, aku ini papa peri!" terdengar suara dari si sosok misterius.

"Hah!? Apa!? Mimi peri!?" Malay terkejut sewaktu sosok misterius itu mulai menampakkkan diri.

Samar-samar Malay melihat penampakan seorang pemuda bule dengan tubuh tinggi besar berambut pirang dikuncir ke belakang. Pemuda itu berkumis dan berjenggot tipis. Ia mengenakan kemeja dan celana berwarna putih serta memegang sebuah tongkat bersinar terang. Lalu, oh apa itu, pemuda bule itu memiliki sayap yang juga berwarna putih.

"Jangan-jangan ini gue udah mati diperkosa maniak…" batin Malay.

Ia menyangka bertemu malaikat di surga.

"Salam kenal, aku France, papa perimu!" ujar si pemuda bule.

Malay masih belum percaya dengan penglihatannya.

"Papa peri?" ujarnya bertanya-tanya.

Si pemuda bule mengangguk.

"Jadi tadi gue diperkosa Papa peri gitu?"

"Iih, siapa yang berbuat asusila! Aku kan cuma menolongmu supaya jangan lompat ke dalam sumur!"

"Nolong sih nolong tapi ngga perlu berbuat tidak senonoh juga keleus! Buktinya tadi ada yang cium bibir en grepe-grepe pantat gue, siap tuh!?" sembur Malay keki.

"Aduh mon cher, kamu jangan marah ya, soalnya kamu gemesin banget sih! Apalagi cuma pake boxer, syal sama sendal jepit gitu!" si pemuda bule yang mengaku papa peri itu tertawa genit.

Damn, Malay baru inget kalau dia cuma dibalut pakaian minimalis! Buru-buru dia menutupi bagian bawah tubuhnya itu dengan syalnya untuk menghindar dari pandangan penuh syahwat si papa peri genit itu.

"Ssst, ngga perlu ditutupin, pemandangannya indah banget!" bisik papa peri.

Lalu melayanglah sendal jepit dan mendarat dengan sukses di jidat papa peri.

"Aduh mon cher, ternyata kamu suka main kasar! Huhuuuu…" ujar papa peri manja sambil elus-elus jidatnya yang benjol.

.

.

.

"Jadi, kamu mau pergi ke pesta dansa istana?" tanya papa peri.

Malay mengangguk sedih, "tapi pakaianku yang paling bagus dirobek-robek mami."

"Duh kasian, sini papa peluk..." papa peri langsung memeluk dan membelai rambut Malay.

Papa peri modus nih kayaknya!

"Papa peri punya hadiah buat kamu karena selama ini kamu selalu menjadi anak yang baik, tabah dan tidak pernah menyerah, sesuai keinginan almarhum ayahmu."

"Apa itu Papa peri?"

"Kamu akan pergi ke pesta dansa untuk bertemu dengan sang pangeran."

Malay terkejut, "Ya-yang bener!? Ciyus!? Mi apah?" ujarnya setengah tak percaya.

"Mi goreng, mi rebus, mi yabi!" samber papa peri.

.

.

.

Akankah Malay berhasil pergi ke pesta dansa dan bertemu dengan pangeran Netherlands yang tampan?

Nantikanlah episode selanjutnya!

~TBC~