Salma Aquamarine: terima kasih atas reviewnya!

Iin cka you-nii: terima kasih telah memperhatikan kesalahan-kesalahan saya, saya akan lebih baik lagi

Cielheart Ie'chan: terima kasih atas reviewnya!

Atas semua saran-saran di atas saya akan berusaha lebih baik lagi! Yosh! Saatnya chap 2 di mulai!

"tadi Hiruma masih bekerja merancang taktik, memang kenapa kalau tidak ada Hiruma, Anezaki? Apa keberadaan kami belum cukup?" kata Musashi tajam tapi pandangannya sedih

"a,ah! Bukan begitu Musashi biasanya kan Hiruma suka.. suka.." jawab Mamori yang kebingungan mencari alasan

"Ah! Suzuna juga tidak ada!" kata Mamori berusaha mengalihkan perhatian

"Ah! Iya! Aku lupa memberitahu Suzuna!" Sena langsung menyahut

"aku pulang duluan yaa!" teriak Sena yang sudah lari

Sena berlari dengan kecepatan 4,2 detiknya dan langsung menuju rumah Suzuna

"TING-TONG" bunyi bel yang di tekan oleh Sena

"Ckelek" suara pintu yang di buka oleh Suzuna

"l,lho? Kukira siapa ternyata Sena! A,ada apa Sena?" tanya Suzuna yang rasa malunya masih ada sampai sekarang

"a,anu tadi aku lupa memberitahu kamu kalau Mamo-nee sakit terus dirawat di rumah sakit Atterons" kata Sena yang ikut gugup

"APAAA MAMO-NEE SAKIT?" teriak Suzuna sampai mulutnya terbuka lebar sekali

"kencang sekali teriaknya" bisik Sena sambil menutup kuping yang bisa membuatnya budek permanen

"ada apa Suzuna? Kenapa teriak-teriak?" tanya ibu Suzuna

"eh,tidak ada apa-apa kok bu, temanku sakit jadi aku jenguk dulu ya bu! Aku berangkat!" kata Suzuna yang langsung ngacir, tapi balik lagi ke tempat Sena

"Sena, tempatnya di mana?" tanya Suzuna

"di Shibuya" jawab Sena yang cengo melihat kecepatan Suzuna yang tidak kalah dengan kecepatan Sena

"Thanks Sena! Ayo kita ke sana!" jawab Suzuna yang langsung menarik tangan Sena

Di lain tempat

"Hiruma, tadi Anezaki menanyakan keberadaanmu" kata Musashi yang sudah berada di ruang klub lagi

"Tch! Orang tua sialan ga usah ikut campur! Ini urusanku ga ada hubungannya denganmu!" jawab Hiruma

"jangan ge-er dulu aku menanyakan ini demi kebaikan Anezaki, sepertinya dia menyukaimu dan aku.. menyukai dia dan tidak akan membuatnya menangis atau terluka" kata Musashi tajam yang langsung to the point

"Argh.. sesukamu orang tua sialan.." jawab Hiruma sambil membuang muka dari Musashi

"BRAKK"

"Teman-teman! Aku beli kue 50 biji!" kata Kurita yang langsung nyelonong masuk

"lho? Kok suasananya ga enak begini?" tanya Kurita

"Tch! Ga ada apa- apa gendut sialan dari pada mengkhawatirkan suasana di mana yang lainnya?" jawab Hiruma yang masih memikirkan kata-kata Musashi

"tadi udah pada pulang, kata mereka semua, karena sudah malam mereka pulang cepat" jawab Kurita sambil menata kue-kue yang tadi dia beli

"kalau begitu untuk apa kue-kue itu?" tanya Hiruma sambil menodongkan senjatanya ke kue-kue itu

"ng.. ini untuk cemilan kita bertiga!" jawab Kurita sambil melindungi kuenya dari senjata Hiruma

"BRAKK!" "Aku pulang duluan" kata Musashi

"kamu juga pulang sana gendut sialan!" kata Hiruma

"dan sesuai kata-kataku coba ambil dia kalo kamu bisa, orang tua sialan" jawab Hiruma

"Heh! Kamu meremehkanku Hiruma" jawab Musashi yang masih berada di ambang pintu

"kamu akan menyesal nanti..." jawab Musashi yang pergi meninggalkan ruang klub

"lho? Lho? Ada apa ini?" tanya Kurita bingung karena baru pertama kali Musashi dan Hiruma bertengkar serius

"Cih! Aku pulang duluan gendut sialan" kata Hiruma sambil menutup laptop yang ada di pangkuannya

"ah! Hiruma tunggu dulu!" kata Kurita yang sudah ada di atas Hiruma (nindihin Hiruma)

"Ukh.. sakit gendut sialan minggir dari atas tubuhku!" judes Hiruma yang melindungi laptopnya

"i,iya.." jawab Kurita yang langsung berdiri dan menaruh bungkusan-bungkusan belanjaan kue-kuenya

"i,ini Hiruma" kata Kurita sambil menyerahkan bungkusan kue sus Kariya kepada Hiruma

"Ng.. ini untuk apa?" tanya Hiruma sambil mengintip isi bungkusan itu

"ini untuk Mamori mungkin dia boleh makan kue yang dia suka ini" jawab Kurita

"Cih! Baiklah! Aku ambil!" kata Hiruma sambil merebut bungkusan itu

"baiklah gendut sialan aku pulang dulu!" kata Hiruma sambil meninggalkan ruang klub

Hiruma POV

'ckckck apa gendut sialan itu tau perasaanku terhadap manajer sialan?' batinku

'yah.. sekarang aku ke rumah sakit manajer sialan itu aja dulu'

Sesampaiku di sana aku melihat Sena dan Suzuna keluar pintu kamar Mamori dan aku langsung sembunyi di balik pintu yang bertuliskan "TANGGA DARURAT" aku juga mendengar percakapan mereka karena pintu "TANGGA DARURAT" itu tidak terlalu jauh dari kamar Mamori

'Tch! Ada apa tuh di antara cebol sialan dan cheer sialan itu?'

End of Hiruma POV

"sudahlah Suzuna jangan nangis begitu nanti juga Mamo-nee sembuh tadi kan ada dokter yang memeriksa Mamo-nee" kata Sena yang menenangkan Suzuna

"ta,tapi tadi Mamo-nee pingsan terus wajahnya pucat sekali" tangis Suzuna

"iya, udah yaa sekarang kan Mamo-nee baik-baik aja" sekali lagi Sena berusah menenangkan Suzuna

"i,iya aku pulang duluan aja y,ya" kata Suzuna yang sudah tenang tapi masih nangis

"eh? Ka,kamu mau pulang duluan?" tanya Sena

"iya.. maaf aku udah ngerepotin kamu Sena" jawab Suzuna yang hendak pergi

"ng.. tu,tunggu dulu!" kata Sena sambil memegang tangan Suzuna

"a,apa Sena?" tanya Suzuna

"aku anterin kamu sampai rumah ya?" kata Sena sambil menatap mata Suzuna yang berwarna biru tua

"e,eh tidak usah Sena" jawab Suzuna malu karena ditatap seperti itu

"aku tidak akan membiarkan seorang wanita yang hatinya sedang pedih berjalan sendirian di saat sore menjelang malam seperti ini karena wanita yang hatinya sedang pedih adalah wanita yang paling lemah, nanti kamu bisa kenapa-napa" kata Sena tajam dan ia mempererat pegangan tangannya terhadap Suzuna dan menatap mata Suzuna semakin dalam

"Se,sena..." kata Suzuna yang mengaggumi Sena

'wah, aku tidak tahu darimana aku mendapat kata-kata itu, kata-kata itu langsung keluar begitu saja dari mulutku' batin Sena

"ayo! Aku antar kamu sampai rumah" kata Sena sambil menggenggam tangan Suzuna

"i,iya.." jawab Suzuna sambil melihat tangannya yang di genggam Sena

Di tempat Hiruma yang mengintip dari pintu "TANGGA DARURAT"

"Wah-wah ternyata mereka berdua pacaran toh! Gesit juga ya cebol sialan itu" bisik Hiruma ke dirinya sendiri

"yah.. aku ke kamar manajer sialan itu dulu" kata Hiruma sambil melangkah pergi dari tempatnya dan menuju kamar Mamori, tiba-tiba langkahnya terhenti karena terganggu oleh pikirannya

'tunggu.. tadi kayaknya Cheer sialan bilang Manajer sialan pingsan?' itulah pikiran Hiruma yang mengganjal sampai membuat ia berhenti tepat di depan pintu kamar Mamori dan menghalangi jalan keluar-masuk pintu itu

"CKELEK" suara pintu terbuka dan yang keluar dokter bersama Ibunya Mamori

"eh, ada temannya Mamori lagi, kenapa ga masuk?" tanya Ibu Mamori

"eh.. baru mau masuk kok bu" jawab Hiruma

"yasudah gih masuk sana, saya mau mengurus administrasinya jadi sekalian keluar sama dokter" kata Ibu Mamori

"ya, permisi nak" kata dokter itu setelah berabad-abad tidak ngomong

"i,iya" jawab Hiruma kaget karena baru mengetahui bahwa ia berada di depan pintu dan menghalangi jalan orang

("ckckck seperti orang bodoh saja kau Hiruma-kun" kata sang author

"DIAM KAU AUTHOR SIALAN!" judes Hiru..

"DUUUAAARRR!, BLAMM! , PRANG!, TARNG!" terjadi peperangan sengit "weits! Hiruma-kun aku baru mau tulis "judes Hiruma" kamu malah nge-Bazooka" jawab author yang kecapekan nangkis bazookanya Hiruma

"CUKUP AUTHOR SIALAN!" dan yang terakhir terjadi ini... "!" "KYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" yak! Lengkap sekali bunyi ledakan beserta jeritan author "Ukh.. Hi,Hiruma-kun ki,kita cukup dulu"

"kekeke akhirnya kau nyerah juga author sialan?"

"bu,bukan begitu! Maksudku kita sudah terlalu jauh menyelempeng dari jalur cerita" jelas author

"Ah! Betul juga nanti aku ga ketemu Mamo, eh maksudku manajer sialan itu!" "apa tuh~~ bilang Mamo?~" tapi mari kita selesaikan saja pertengkaran ga jelas ini!)

Setelah itu Ibu Mamori dan dokter telah pergi ke lantai bawah bagian administrasi

"CKELEK" suara pintu yang Hiruma buka (tadi pintunya ketutup)

"kekekeke ternyata komite disiplin bisa sakit begini.." goda Hiruma

"Hi,Hiruma-kun?" tanya Mamori dengan lemas

"kekeke ini gendut sialan tadi beliin kue sus kariya kesukaanmu" kata Hiruma sambil menyerahkan bungkusan yang tadi di bawa

"te,terima kasih Hiruma-kun" jawab Mamori mengambil bingkisan itu dari tangan Hiruma dan sempat memegang tangan Hiruma

"tanganmu panas sekali manajer sialan.." cemas Hiruma

"ah! Aku ga apa-apa kok! Lihat nih!" jawab Mamori sambil pura-pura sehat menggerakan tangannya kesana-kemari

"jangan pura-pura Mamori!" kata Hiruma sambil menggenggam tangannya dan menatap mata mamori yang berwarna hijau tosca

'Mamori? Hiruma-kun manggil aku kan manajer sialan, sekarang Mamori?' batin Mamori

"kalau kamu sudah sembuh ada yang ingin aku bicarakan.." kata Hiruma serius

"i,iya" jawab Mamori cepat

"ya sudah aku pulang dulu" kata Hiruma yang sedari tadi masih memegang genggamannya dan sekarang baru melepaskannya

"CKELEK" pintu yang terbuka bersamaan dengan kedatangan Ibunya Mamori

"lho? Temannya Mamori sudah mau pulang?" tanya Ibu Mamori

"iya bu" jawab Hiruma singkat dan langsung melangkah pergi dari ambang pintu itu

Mamori POV

'Hi,Hiruma-kun ingin bicara sesuatu denganku, ada apa ya?'

'ta,tadi juga dia bilang Mamori'

"tadi pacarmu ya Mamori?" tanya ibuku yang sudah masuk kedalam kamar

"eh? Bu,bukan kok bu!" jawabku gugup

'kan emang bukan'

"tadi dia panggil aku ibu bukan tante lho Mamori!" ibuku memberi tahu hal yang mungkin bisa menjadi pentunjuk

'tapi masa dia manggil ibu juga?'

"mungkin maksudnya Ibu Mamori" jawabku yah.. mungkin ini menyembunyikan sesuatu...

"hmm.. benar juga ya! Baiklah, kamu istirahat aja dulu tadi kan kamu pingsan" kata ibuku yang raut mukanya sudah mulai cemas lagi

End of Mamori POV

Di Rumah Sena

Sena POV

'a,aku janjian sama Suzuna apa aku bisa menyatakan perasaanku..?'

"eh? Tunggu bentar.." bisikku

"kayaknya ada yang lupa deh"

".." aku terdiam sejenak

"AH! AKU GA TAU HARINYA!" akhirnya aku berteriak

"ada apa Sena?" tanya ibuku di bawah

"tidak ada apa-apa kok bu!" aku menjawab begitu agar tidak di ganggu saat mau janjian yah.. karena ibuku.. oke! Stop omongin orang tua

"ya sudah! Bentar lagi turun ya Sena makan malam sudah siap!" ibuku memberi tahu

"iya!" aku menjawab

"fuh.. saatnya menelfon..?" aku masih menimbang-nimbang apakah aku harus menelfon? Tapi aku mencoba untuk menelfon, dan memencet contact Suzuna

CALL/NO

CALL

"..." aku menunggu jawaban

"hallo" kata suara dari seberang sana tepatnya Suzuna

"ya, Suzuna kita janjiannya kapan ya?" tanyaku langsung To The Point

"e,eh i,iya Sena hari Sabtu aja" jawab Suzuna

"Ok! Terimakasih Suzuna" kataku yang sudah berdegup kencang dadanya

"a,ah tunggu nanti kita SMSan ya" jawab Suzuna yang menurutku juga dia berdegup kencang dadanya

"i,iya bye Suzuna" kataku mengakhiri pembicaraan di telfon

"b,bye Sena" jawab Suzuna

"TUT, TUT,TUT" bunyi telfon ku yang sudah diputuskan

'hh.. hari Sabtu apa aku benar-benar bisa..?'

End of Sena POV

To be Contiuned

Muthiruma: Yak! Selesai juga chapter 2nya!

Sena: Mu-chan gimana nanti kisah selanjutnya?

Muthiruma: kekekeke! Itu semua ada di otakku!

Hiruma: apa kamu pke "kekekeke" punyaku segala?

Sena : sudah-sudah tidak usah beran..

"DUUUAAAARRR! BLAAAMM! DZIINGGG! DZINGGG!"

Hiruma : Tch! Ni author tangguh juga!

Muthiruma: iyalah! Aku udah sabuk kuning karate (tapi udah berhenti), dan sabuk putih taekwondo

"DUUUUSSHHH! PRAANNGG! Sss.. BUAAAAMMMM!"

Sena: ng.. mari kita akhiri acara ini mohon Reviewnya!