Gadis itu berlatih seorang diri di halaman tengah. Amarahnya memuncak. Sedihnya membara. Ia merutuki diri sendiri yang begitu lemah. Dalam tinjuan tangannya yang kokoh, air mata mengalir. Diskrepansi.
Setiap gerakan ia lakukan tanpa perhitungan, biar saja cakra menipis. Ia sungguh tidak peduli.
Bukankah taijutsu tidak menggunakan cakra?
Itu yang terlintas di otaknya.
Dari posisi kuda-kuda, tangan meninju udara, kaki menendang angin ia lakukan dengan asal. Tangannya mengambil kunai dengan cepat, melempar menuju target, meleset. Gadis itu menjerit frustasi.
Benar-benar menyedihkan. Selemah inikah hingga ia harus dibedakan?
Dengan gemetar ia berlatih lagi, kali ini Neji sudah datang untuk berlatih bersama.
"Hinata-sama, fokuslah."
Gadis itu mengangguk.
Serangan Neji bertubi-tubi, lelaki itu menyerang titik vital, Hinata menangkis. Saat ini ia hanya bisa bertahan. Menyerang rasanya susah. Tatapannya tidak fokus, pikirannya terkungkung medan statis.
Tangan Neji hendak menonjok ulu hati, Hinata berhasil menghindar namun kurang gesit. Pukulan keras dan menyakitkan mengenai perut kanan.
Hinata terjungkal ke belakang, darah muncrat dari mulut. Ia terbatuk. Kemudian bangkit lagi.
"Jangan lemah Neji-nii. Aku baik-baik saja."
Neji menghela napas, ia menurunkan tubuh berpose kuda-kuda menyerang.
Kali ini Hinata berlari lincah, membalik keadaan. Ia adalah penyerang, Neji bertahan. Belum lama Hinata melakukan penyerangan, Neji kembali beraksi untuk menyerangnya. Hinata tidak mau kalah.
Pukulan, tendangan lalu tangkis. Defense dan offense. Serang dan bertahan. Tangkis. Tangan Hinata sudah memar sejak ia terpental. Neji tidak menurunkan kekuatannya, ia menambah lagi.
Gadis itu benar-benar kritis energi. Cakra tak mencukupi. Tubuhnya dijangkit ngilu dan nyeri.
Hinata mendesis saat lagi-lagi darah keluar melalui mulut. Ia tak peduli jika ini hanya latihan harian. Baginya ini adalah pertarungan.
Di hadapan Hinata, Neji menghentikan serangan saat nonanya tidak kunjung melakukan pertahanan. Napasnya terengah. Nonanya begitu kurang baik. Neji berjalan mendekat hendak membantu Hinata berdiri. Tapi gadis itu sudah berdiri dengan sempoyongan.
"Maafkan aku Hinata-sama. Anda terluka, mari saya obati." Tawarnya prihatin.
Gadis itu menolak, mengabaikan pemuda bersurai coklat. Hinata berjalan tertatih, saat tubuhnya ambruk ia bangkit lalu berjalan pelan.
Hanabi berpangku tangan, ia amati bagaimana Neji begitu peduli. Tangannya saling mengkram kuat telapak tangan, kepalannya kian mengeras. Rahangnya mengeras dalam katupannya.
Ia bergejolak.
"Dia adalah calon pemimpin, Neji. Perhatianmu hanya akan membuatnya manja." Ucap Hanabi dari seberang.
Hanabi terduduk bersila di atas lantai, ia menyesap tehnya perlahan.
Neji diam saja menuruti keturunan souke Hyuuga.
"Maafkan saya Hanabi-sama." tutur Neji.
Hanabi mendengus, ia mempersiapkan diri. Kakinya menjejak tanah, tangannya merapikan baju latihannya. Langkahnya tegap, pandangannya lurus dan angkuh. Sangat Hyuuga sekali.
"Ayo kita latihan lagi."
"Ha'i."
Tanpa persiapan kuda-kuda seperti umumnya, Hanabi langsung menyerang. Inilah yang menyebabkan Hanabi terlihat berbeda dengan Hinata.
Hanabi berhasil menangkis semua serangan Neji, lelaki bersurai coklat sesekali terlihat hampir terkena pukulan Hanabi. Selain gesit, Hanabi memiliki motorik yang apik. Tidak heran bahwa sang ayah lebih memilihnya. Perkembangan Hanabi juga baik, sedikit demi sedikit meningkat.
Jika Hinata, kemampuan bertarungnya hanya sekitar 70% yang dikeluarkan. Tidak pernah maksimal. Cara bertarung Hinata meggunakan taktik, semacam rencana yang tersusun agar bisa mematikan lawan dengan telak. Kemampuannya mengalami fluktuasi. Karena itulah sang ayah cenderung mengabaikannya. Kemampuannya tidak jelas dan tidak terarah.
Saat Hanabi menonjoknya dari arah kanan, kaki Neji menyodornya. Ditambah dengan pukulan mahadahsyat. Alhasil, gadis yang tadi terlihat begitu angkuh kini terpental sampai membentur pohon.
Bruk
Dan terlihat lebih parah daripada Hinata. Hanabi terbatuk beberapa kali dengan darah yang banyak. Neji mengendalikan cakranya, ia mengatur napas.
"Maafkan saya, Hanabi-sama. Saya rasa latihannya cukup sampai di sini. Anda terluka."
Hanabi mendecih, "Aku tak selemah itu, Bunke. Ayo lawan aku!"
Uhuk!
Hanabi terbatuk lagi. Neji memutar matanya bosan.
"Kalian cepat bawa Hanabi-sama ke dalam, obati dia!" seru Neji kepada pelayan yang memandang ngeri ke halaman.
Mereka berlari dengan cepat, memapah Hanabi. Gadis bermanik pualam terlihat kecewa dan tidak terima. Awalnya ia menolak semua bantuan lalu saat tubuhnya ambruk lagi ia menyerah untuk dibopong. Tatapannya bertemu dengan Neji, begitu tajam. Hanabi tidak suka kalah. Bahkan sangat membencinya.
Mulutnya tiada henti mengumpat.
Hinata membersihkan diri, ia berendam cukup lama. Sambil berendam ia bermeditasi sedikit. Memperbaiki sel dan menormalkan cakranya yang kembang kempis.
Sekitar 15 menitan Hinata membuka mata. Tidak ada lebam-lebam di tubuhnya. Sudah memudar. Hinata sedikit lega. Kecuali bintik merah di lehernya.
Tidak bisa hilang saat Hinata menggosoknya keras, tidak hilang saat Hinata berusaha menyembuhkannya dengan cakra. Seperti segel, tapi entah sejak kapan Hinata tidak menyadarinya.
Mengambil jaket abu-abu ungunya. Ia menggunakan kaos tanpa lengan lalu ditutupi jaket. Hinata berdandan seperti biasa, rambutnya ia ikat pony tail.
Ia menepuk pipinya pelan di depan cermin. Epidermisnya memerah. Senyumnya merekah.
Ia menilik luar dari jendela, belum terlalu siang. Perutnya lapar, ia berjalan menuju dapur. Bento yang sudah ia siapkan tergeletak di dalam lemari. Ia ambil dua wadah dan membawanya dalam tas.
Saat melewati ruang keluarga, telihat Hanabi yang sedang mendesis kesakitan. Tonjokan Neji melukainya, ya? Ia berlalu tanpa berniat membantu. Sang ayah hanya mendelik tajam ke arahnya di koridor taman.
Biasanya Kiba dan Shino akan duduk bersantai di pinggir hutan, mengamati sungai seraya berteduh. Hinata sudah mengitari area itu, bahkan menggunakan byakugannya, tapi nihil. Tidak ada mereka di sana. Kira-kira kemana perginya ya?
Hinata berjalan menjauhi area tersebut, kakinya berjalan membawanya menuju pasar. Ia ingin makan buah.
Hinata membeli tiga apel merah dan dua jeruk, tidak lupa ia juga membeli asparagus setengah matang di kedai makanan. Kantung kecilnya nampak sedikit penuh.
Jika Kiba dan Shino tidak datang ke tempat biasa, maka ia akan menunggunya. Jadi, Hinata berniat kembali ke tepi sungai di pinggir hutan.
Ia urung, Kiba dan Shino berlari dan melompat-lompat di atap. Mungkinkah mereka ada misi? Tidak berniat mengganggu, Hinata berjalan cepat menuju tujuannya, lagipula udara kian memanas.
Sesampainya di sana, Kiba dan Shino sedang duduk berteduh. Kiba mengipas-ngipaskan bajunya, Shino terduduk kalem.
"Kalian kenapa?"
Napas Kiba ngos-ngosan, "Kami habis menjalankan perintah dari Hokage."
"Aku bawa buah dan asparagus, ada bento juga. Kalian makanlah."
Kiba langsung menyambar kantung buah, Shino terbangun dan menguap pelan. Mereka duduk mengitari makanan. Dua bento jumbo dan buah-buahan.
Hinata mengupas apel, memotongnya menjadi empat bagian. Ia mengupas jeruk. Ia tersenyum, ternyata ia tidak lupa membeli lemon. Lemon ia potong jadi dua, Hinata memeras lemon di atas potongan apel. Tujuannya supaya si apel tidak beroksidasi dengan oksigen. Kiba menyomot dengan rakus, Shino memakan apelnya dengan pelan. Hinata mengambil dua potongan untuk ia makan.
"Sepertinya tadi kau sudah ke sini." Tanya Shino.
Hinata mengangguk, "Kukira kalian tidak datang, aku berniat di sini sendiri jika begitu. Tapi entah kenapa aku ingin makan buah, jadi aku pergi ke pasar."
"Eh, Hinata, bukannya kau suka buah. Dan, terimakasih makanannya." Cengir Kiba.
"Tadinya kami memang di sini, menunggumu. Tapi kemudian hokage memerintah kami menghadap. Jadi kami tinggal saja." Shino menjelaskan.
Hinata mafhum, tapi penasaran, "Hokage menyuruh kalian untuk apa? Apakah ada misi?"
Kiba dan Shino menggeleng bebarengan.
"Tidak, bukan misi." Sahut Kiba.
"Lalu apa? Mungkin aku bisa membantu."
Kiba asik makan, Shino berdehem, "Aku sendiri kurang begitu mengerti. Ia menyuruh kami mencari bunga tercantik. Kalau tidak salah dalam rangka lamaran."
Hinata terbatuk pelan, "Benarkah? Hokage akan menikah dengan siapa?"
Kiba dan Shino menggeleng. "Kami tidak tahu."
Hening
Mereka mendengarkan alam bernyanyi, jangkrik bermain. Sayup-sayup angin sepoi meramaikan. Hinata yang pada dasarnya lelah mulai mengantuk. Ia berjalan ke sungai, mengisi botolnya dengan air. Kemudian ia meminumnya untuk melepas dahaga. Sementara Shino dan Kiba, mereka sudah terbaring nyaman. Secepat itukah mereka tidur? Pasti perintah Hokage membuat mereka kelelahan.
Hinata merenggangkan tangan, mengeliat pelan. Rasanya begitu nyaman. Kantuk sudah tak bisa ia tahan. Ia memilih tidur di tengah-tengah mereka berdua.
Shikamaru membawa tumpukan dokumen, menggunung. Kertas-kertas itu menutupi jalannya. Dan parahnya tidak ada yang berniat membantu.
Ternyata menjaddi asisten hokage begitu melelahkan, pantas saja Shizune tersenyum lebar saat menyerahkan jabatannya ke Shikamaru beberapa bulan lalu.
Saat dirasa sudah berada di depan ruang hokage, kakinya menendang pintu hingga menimbulkan bunyi.
"Jangan merusak fasilitas, Shikamaru!" umpatan Hokage terdengar. Shikamaru hanya menggumam.
Ia menjatuhkan lembaran-lembaran kertas di atas meja Naruto.
"Kenapa banyak sekali? Kapan habisnya?" suara Hokage terdengar jengkel.
Shikamaru kalem menatap Naruto yang sedang terperangah dengan tambahan tugas, "Masih ada lagi. Salahmu sendiri ingin mengajukan lamaran."
Raut Naruto tampak berbeda, "Ck! Harusnya aku langsung menikah."
"Jangan menggunakan wewenang untuk keperluan pribadi, Naruto. Menikah memiliki prosedur yang panjang, apalagi kau itu Hokage."
Naruto terkikik, "Yah aku tahu, pasti prosedurnya sangat lama."
Shikamaru menghela napas, "Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin menikah? Semua orang tahu kalau kau hanya terpikat pada putri tunggal Haruno."
Kini giliran Naruto yang menghela napas, "Orang-orang menyebalkan. Tentu saja bukan dia."
"Lalu?"
"Kau pikir sendiri. Jika aku menikahi Sakura maka aku tidak perlu memintamu untuk membawa kumpulan kertas."
Shikamaru melirik dokumen yang ia bawa, biodata para gadis ninja Konoha. Dan ditumpukan paling atas ada biodata seorang Hyuuga. Tangannya tertarik untuk mengambilnya, namun kalah cepat dengan Naruto.
"Kau ambil dokumen lain, aku harus menyelesaikan dengan segera."
"Baiklah, Hokage-sama."
Shikamaru menghela napasnya, lagi. Naruto benar-benar membuatnya lelah. Dia kira mengambil dokumen itu mudah? Ia harus menemui ninja lain yang sudah diberi tugas untuk mengumpulkan biodata gadis-gadis. Shikamaru harus mengambilnya dari orang yang berbeda dengan jarak yang jauh pula. Setelah data terkumpul, ia harus menyortir lagi, menyusunnya berdasarkan abjad dan desa. Lalu mendatanya di buku besar. Minta tanda tangan Hokage. Membuat salinannya, lalu-
Argh, Shikamaru benar-benar lelah. Jika dokumen itu hanya satu ia akan melakukannya dengan penuh cinta. Tapi, dokumen itu isinya ribuan. Shikamaru mengumpat saat tangannya begitu pegal seusai menulis, hanya satu tangan yang ia gunakan. Rasanya ia ingin pinjam tangan gurita saat dokumen minta perhatian.
Lelaki beraut malas masuk lagi ke ruang arsip. Ia hendak mengambil dokumen yang tersisa, saat membaca profile salah seorang ninja dari desa Ame, ia jadi teringat profil Hyuuga. Entah Hyuuga yang mana, tapi ia benar-benar penasaran. Mungkin nanti setelah ia mengantarkan dokumen itu ia akan membaca lagi salinan yang ia tulis.
"Aku sudah mengantarkan semuanya. Benar-benar merepotkan."
Naruto terlihat begitu serius memilah-milah calon yang ia kumpulkan.
Shikamaru mendudukan diri di sofa, ia menguap lalu tidur. Saat terbangun, matahari sudah berganti tugas. Ternyata malam sudah menjelang. Tapi, Naruto masih betah duduk di singgasananya, pakaiannya masih seperti tadi siang.
"Kapan kau istirahat Naruto?"
Naruto hanya bergumam, tumpukan dokumen yang menggunung hanya tinggal sedikit. Mungkin sekitar 20 lembar.
"Tak kusangka kau pekerja keras juga." Ledek Shikamaru.
Saat lembaran di mejanya habis, lelaki bersurai kuning tersenyum. "Akhirnya selesai juga."
Shikamaru hanya melongo. Cepat juga. Tapi teliti atau tidak?
"Aku sudah menemukan 10 kandidat," Naruto menyerahkan berkasnya ke Shikamaru, "dan itu masih ada tahap selanjutnya."
Shikamaru menyernyitkan alis, "Ini hanya sembilan Naruto."
Naruto menyeringai, "Yang satunya ada padaku. Dia spesial."
"Terserahmu saja lah."
Shikamaru berlalu. Ruangan ia tutup rapat. Dengan tergesa ia berjalan menuju ruang arsip. Tak lama, orang-orang membawa dokumen yang selesai dipilah sesuai selera Naruto ke ruangannya. Shikamaru memeriksa semua dokumen selama satu jam. Dan entah kenapa, semua itu ada hubungannya dengan dua hari yang lalu saat memergoki Naruto.
Tidak ada data Hyuuga Hinata.
Shikamaru menyeringai, jadi data yang diambil Naruto hanya Hinata ya.
Jadi begitu rupanya.
Shikamaru pulang ke rumah, ia sudah mengunci ruang arsip. Dalam perjalanannya, Shikamaru mengamati awan. Tidak ada kumpulan Stratus di atas, hanya ada bintang yang terpasang di langit.
Perutnya lapar, ia mampir ke kedai ramen. Beruntung kedai ramen buka 24 jam, tidak membuatnya susah.
Bunyi lonceng tanda orang masuk memekakan telinga si rambut nanas, ia berjalan mencari bangku yang kosong. Kakinya melangkah menuju pojok.
Ia tak perlu memesan, Ayame sudah hafal kesukaannya. Jadi, dia hanya duduk menunggu sambil menyulut nikotin.
Tak sengaja maniknya mengangkap siluet Hokage yang duduk di seberang. Dengan pelayanan ekstra dari pemiliki toko, mereka terlibat guyonan lama. Shikamaru hanya mengamati.
Tak lama lonceng berbunyi lagi, tim delapan masuk dan memilah duduk di belakang Naruto. Shikamaru di pojok kanan, mereka di pojok kiri. Sambil menunggu ramennya datang, ia mengintai semua ruangan.
Kiba masih membuat lelucon, Shino diam, Hinata tersipu. Mungkin karena rayuan Kiba yang super.
Sementara itu, Naruto yang sedang menyeruput minumannya nampak sedang melihat Hinata. Shikamaru mengambil konklusi Hinata tentu saja karena ia tahu bahwa Naruto tidak mungkin melirik laki-laki dengan rona merah di pipi. Kecuali dia gay. Dan Shikamaru tidak mendapati kelainan Naruto.
"Kenapa tidak bergabung dengan yang lain, Shikamaru?" Ayame menyodorkan ramen yang masih mengepul. Menaruh segelas minuman di samping mangkuk.
"Aku ingin makan dengan tenang, Ayame."
Gadis itu mengangguk, pamit.
Saat sedang asiknya makan, Shikamaru mendeteksi cakra yang aneh. Pemiliknya Naruto yang sedang-
Dia benar-benar memalukan. Bagaimana bisa di tempat umum ia bertindak seperti itu? Sebelum semua orang menatap curiga, Shikamaru berjalan membayar ramennya, ia menarik Naruto keluar kedai. Bersyukur objek yang sedang difantasikan sedang terlibat percakapan humoris.
Shikamaru masih menyeret Naruto, ia berniat membawa pulang pria kuning yang menjabat menjadi hokage. Kakinya mendobrak apartemen Naruto, pria bermanik sewarna batu safir seolah tersadar.
"Apa yang kau lakukan, Shikamaru?"
Shikamaru mendorong tubuh Naruto untuk masuk apartemennya sebelum semua penghuni keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pintu ia tutup, Naruto bersungut marah.
"Apa yang kau lakukan, hah!" bentak Naruto.
"Harusnya aku yang menanyakan itu, Tuan Hokage." Sergah Shikamaru, "Apa yang kau lakukan di tempat umum?"
Naruto bingung kemudian mendelik, "Jaga bicaramu, Shikamaru. Memang apa yang aku lakukan?"
Shikamaru menghela napas, "Tatapanmu sangat menjijikan kepada Hinata. Kau mau dicap sebagai Hokage mesum, heh?"
"Kau aneh, Shikamaru."
"Kau yang aneh, Naruto." Bantah Shikamaru, "Aku tahu Hinata begitu menggoda liurmu, tapi bisakah kau tidak tunjukan itu di tempat umum? Beruntung tidak ada yang sadar."
Naruto hanya tertawa, "Asistenku memang tanggap, kau hebat Shikamaru."
"Berhenti memujiku, aku sudah tahu kalau aku jenius." Selanya.
Naruto mengambil sesuatu di meja, sebuah pil. Shikamaru duduk di sofa kotor milik Naruto. Pil berwarna hitam sebesar kelereng. Laki-laki berkumis di pipi itu kemudian menenggaknya dengan segelas air mineral.
Shikamaru bingung, "Kau sakit Naruto?"
Naruto menyeringai, "Sangat sakit, hingga tidur tidak bisa nyenyak."
Alis Shikamaru menyatu dilanda kebingungan dobel. "Maksudmu?"
"Kau kurang peka ya," Naruto terkekeh, "selakanganku rasanya sakit."
"Dasar menjijikan. Aku heran ada hokage sepertimu." Cela Shikamaru.
Setelah Shikamaru pulang, Naruto duduk berdiam diri di ranjang. Pil yang ia minum satu bulan belakangan tidak bekerja optimal. Naruto gusar. Ia grasak-grusuk. Gelisah melandanya.
Dia terbaring mencoba untuk tidur, lalu memeluk guling agar bisa tenang. Nihil. Naruto berganti posisi dan merubah gaya. Semakin menyakitkan. Ugh, dia tidak suka ini. Jantungnya seolah meledak. Sementara di bawah sana meminta atensi yang belum ia dapat.
Naruto menarik dan melepas napas, tidak berhasil. Sial! Sial! Sial!
Sakit itu kian menjadi, dengan gamang Naruto melangkah menuju kamar mandi. Ia nyalakan semua keran supaya berisik, tidak peduli jika sekarang sudah tengah malam. Dengan cepat Naruto melepas celana boksernya.
"Mungkin aku akan langsung menikah saja." Desisnya pelan.
Kiba nampak tersenyum sumringah, kacamata Shino nampak berkilau. Hinata yang sedang meluruskan kakinya nampak heran.
Mereka berdua mendekat.
"Kalian terlihat sangat senang, kenapa?" tanya Hinata.
Shino menjawabnya dengan senyuman, "Tugas yang kemarin dibatalkan."
"Iya, Hinata. Kami tidak perlu lagi mencari-cari hal aneh untuk Hokage. Kami bebas." sahut Kiba riang.
"Syukurlah, jadi kita bisa latihan serutin dulu lagi."
Keduanya mengangguk.
Hinata pulang setelah bertarung habis-habisan dengan kedua partnernya. Ia sedikit bangga, ada kemajuan dalam kemampuannya. Bahkan Shino dan Kiba terlihat sangat bangga dengan dirinya. Ya ampun, Hinata begitu senang. Sampai rasanya ingin meledak.
Pintu geser sedikit celah, Hinata melunturkan senyumnya. Dengan anggun ia melangkah masuk disambut pelayan rumah.
Ruang keluarga nampak tertutup, tidak biasanya. Mungkin ayah sedang kedatangan tamu.
Ia memanggil pelayan yang sedang menutup pintu depan, "Bi, apa ayah kedatangan tamu?"
"Iya Hinata-sama. Hiashi-sama kedatangan tamu penting."
"Apa yang mereka bicarakan, Bi?"
Pelayan menggeleng, kemudian dengan lirih ia berujar, "Saya dengar tentang lamaran."
Hinata terkejut, "Lamaran? Untuk siapa?"
Sang pelayan menggeleng, kemudian undur diri.
Terlihat Neji sedang berjalan ke arahnya, Hinata berlari kecil menghampiri. Mungkin Neji-nii tahu.
"Neji-nii, siapa yang sedang bertamu?"
Neji mengabaikan Hinata, ia bergegas menjauh. Hinata mengejar dan mencegah Neji dengan kuat.
"Katakan padaku, Neji-nii. Siapa yang sedang bertamu?"
Neji bersuara, "Orang penting di desa ini, Hinata-sama. Permisi, saya sibuk."
Hinata kekeuh mencegah Neji pergi, "Apa benar dia datang untuk lamaran?"
Neji membatu. Hinata menyipitkan mata curiga. Kemudian Neji melangkah lagi meninggalkan Hinata.
"Neji-nii aneh sekali." Gerutunya.
Dengan cepat Hinata mengambil pakaian hendak berlatih lagi. Meski lelah masih ada, tapi Hinata tidak bisa beristirahat. Dengan cekatan dia berlatih seorang diri. Ia ingin lebih kuat agar sang ayah bisa melihatnya sebagai anak. Bukan si lemah.
Tangannya terkepal hendak mengeluarkan jurus baru yang ia kembangkan tapi teringat jurusnya sedikit unik ia menghentikan laju cakra yang sedang berkumpul di telapak tangan.
Ia hanya melakukan pemanasan dengan jurus dasar. Memperdalam taijutsu dan menkordinir cakra miliknya. Dua itu saja sudah cukup membuat energinya terkuras habis.
Saat sedang mengambil napas, tiba-tiba sebuah kunai melesat ke arahnya. Dengan cepat Hinata menghindar. Kunai itu tertancap di dahan pohon. Lalu tak lama sebuah suriken mengincarnya, Hinata berkelit dari dahan menuju puncak pohon.
Siapa yang menyerangnya tiba-tiba?
Dengan tenang matanya menelisik, ia gunakan byakugannya. Hinata berpindah posisi saat ada sekelompok suriken dan kunai menargetkan dirinya.
Berhasil.
"Siapa yang menyerangku tiba-tiba?" gumamnya lirih.
Sial, ternyata ia lengah, bagaimana bisa di dalam manshion ada penyerangan. Satu kunai terakhir melesat dengan cepat ke arahnya, Hinata menangkisnya dengan kunai yang ia miliki.
Ctak!
Meleset, kunai itu tergeletak di sampingnya.
"Keluar kau pengecut!"teriaknya.
Sekelebat berwarna kuning mendekat, begitu cepat. Matanya susah menangkap. Ini, bukannya-
Grep!
Sebuah lengan memeluknya dari belakang, tangannya dikunci. Kunai sebagai tamengnya terlepas. Aroma citrus menguar dari tengguk. Tengguknya merinding saat sebuah benda kenyal menyentuhnya. Begitu dekat dan rapat. Hinata hampir sesak napas.
"Kurang gesit, Hinata. Kau harus banyak berlatih." Ucap pria itu, suaranya berat.
"Lepaskan aku! Beraninya sembunyi, dasar pengecut."
Dekapan itu terlepas, Hinata hampir terjungkal karena kakinya tersangkut kakinya sendiri.
Naruto tersenyum remeh, "Pengecut katamu, ayo kita tanding."
Hinata mengaktifkan kembali byakugannya, ia tak sempat menyerang, sementara Naruto dengan enteng menyerangnya dengan jurus-jurus kuatnya. Hinata kewalahan. Belum ada lima menit dia sudah kehilangan separuh cakra. Ia hanya bertahan, bagaimana bisa cakra menghilang?
Hinata menggeleng dalam duelnya, itu bisa dipikirkan nanti. Daripada melihat Naruto terus-terusan mengeluarkan seringaian yang tidak Hinata mengerti, gadis indigo ingin mencoba jurus yang baru ia kembangkan.
Cakra biru berganti menjadi indigo, gelap. Tubuh Hinata dikelilingi oleh pusaran warna, warna indigo berubah lagi menjadi hijau.
Naruto takjub dan terperangah.
Kemudian warna hijau itu memudar, menjadi transparan. Hinata sudah tidak ada di tempat.
"Apa kau mengajakku bertanding kecepatan, Hinata?"
Naruto mengambil ancang-ancang, bertahan dikombinasi menyerang. Tangannya tergerak ke belakang saat dirasa punggungnya terancam, Naruto menyeringai.
"Kau yang pengecut, Hinata. Tampakan wujudmu."
Kemudian tanpa terserang apapun tubuh Naruto terpental ke koridor manshion, semua orang berlari hendak membantu termasuk Hiashi. Namun Naruto mencegahnya.
Entah kenapa ia merasa begitu senang memiliki lawan sekuat ini.
Samar-samar suara Hinata keluar, "Aku tidak pengecut, Naruto-sama. Aku tidak suka diremehkan." Suara gadis itu seperti angin.
Senyum merekah, Naruto mengeluarkan ekor empatnya. Kemudian dengan cepat ia menangkis semua serangan Hinata.
"Kalau kau terus menyerang, nanti cakramu habis." Nasihat Naruto.
Seolah tak peduli, Hinata terus melancarkan serangannya. Tapi sayang, ekor kyuubi berhasil menangkapnya.
Kemudian dengan kasar Naruto membanting tubuh Hinata ke tanah.
"Akh!" jerit Hinata.
Naruto kembali menjadi manusia biasa, cakra ekor empat yang sempat ia keluarkan sudah menghilang. Di sana, Hiashi tampak mencengkram tangannya sendiri. Lalu menonjok pintu dengan keras. Lelaki tua itu meninggalkan halaman berlatih.
Sementara Neji tampak tersenyum terharu, Hinata sudah berkembang jauh dari ekspetasi. Ia menitikan air mata. Ingin rasanya ia berlari lalu memeluk soukenya itu dengan sekuat tenaga. Ia tak peduli jika nanti Hinata kehabisan napas. Tapi Neji benar-benar bangga.
Sementara Hanabi nampak jengkel dan iri. Usaha yang ia lakukan ternyata masih di bawah kakaknya itu. Hanabi mendecih lalu meninggalkan halaman, sama seperti sang ayah.
Raut Neji seketika berubah masam, ia kembali masuk ke dalam manshion.
Sementara itu, Hinata terbaring lemah. Cakranya terkuras habis. Minus. Tubuhnya amat teramat sakit seperti disayat belati. Ia meringkih pelan. Darah keluar dari mulutnya berkali-kali.
Naruto berjalan mendekat, tangan tannya yang kasar khas laki-laki membelai pipi Hinata. Ia amati penampilan Hinata. Berantakan tapi menggoda.
Baju latihan yang Hinata kenakan tersingkap di bagian dada, memperlihatkan sesuatu di sebelah sana.
"Mari kuobati, Hinata." Seringainya terbit.
Tubuh Hinata ia bopong, kemudian dengan teleportasi seperti milik ayahnya ia pergi.
Sementara itu dengan brutal Naruto melecuti pakaian Hinata yang tengah terbaring pingsan di ranjangnya. Dari mulai luar sampai dalaman. Gadis itu bugil dan Naruto semakin menjerit.
Sementara di dalam sana, Kyuubi mendesis minta dipuaskan.
Semakin besar sudah hasrat Naruto. Lelaki kuning itu merangkak, mengungkung Hinata yang berada di bawahya.
Mengecup kening, kelopak mata, menjilat pipi dan melumat bibir. Belum puas, ia menggerakan lidahnya menuju leher penuh keringat. Ia sesap kulit dibagian sana dengan kuat menimbulkan ruam merah keunguan mencolok. Ia tersenyum, ternyata bintik merah yang sebelumnya belum hilang. Kenapa Naruto mengklaim bintik itu miliknya? Mudah saja, malam sebelumnya ia menyapa gadis itu di dalam lelapnya. Kemudian dengan diam-diam ia menitipkan cindramata di leher Hinata.
Gadis itu tidak melenguh, alisnya bertaut sedikit. Menggemaskan sekali calon pengantinnya ini.
Untung dia sudah diterima menjadi calon menantu, jika tidak maka ia akan membawa lari Hinata. Memang gila, tapi ia tak bisa menolaknya.
Sambil berdesis tak sabaran Naruto meninggalkan bekas di seluruh tubuh Hinata, sampai bagian yang paling intim sekalipun.
Baju ia tanggalkan, celana panjang ia tanggalkan. Saat hendak menanggalkan bokser hijau yang ia kenakan, pintu apartemennya digedor.
"Ck! Siapa yang berani-beraninya menggangguku!" umpatnya jengkel.
Hendak mengabaikan, pintu diketuk lebih nyaring. Naruto menjambak rambutnya kesetanan. Ia mengumpati orang yang mengganggunya.
Dengan asal ia mengenakan kembali celananya, tanpa ia kancing dengan baik, tanpa ia kaitkan agar tertutup. Orang lain yang melihat mungkin akan tergoda melihat penampilan sang hokage.
Berjalan hendak membuka pintu ia berbalik saat mengingat Hinata tak mengenakan apapun. Ia menaikan selimut, melempar pakaian Hinata ke dalam kamar mandi.
Raut wajah masam bukanlah sesuatu yang baik untuk ditunjukan, tapi orang yang dengan seenak udelnya mengganggu acara barokahnyalah yang pantas dicekal sebagai tersangka.
Dengan ogah-ogahan Naruto membuka pintu, kemudian matanya membulat. Terkejut? Iya. Merinding? Sedikit.
Seperti tikus ketemu kucing, Naruto meneguk ludahnya sendiri.
"T-tsunade baachan?"
NB: terimakasih tidak pernah lupa untuk saya haturkan. Walau hanya dibaca tanpa review tak mengapa. Karena berniat menghibur bukan meminta upah. Tapi jika diberi saya juga tidak menolak.
Minta kritik dan saran adalah suatu kewajiban bagi saya. Semoga alurnya ga berantakan. Saya sangat senang jika ada yang memberikan review yang teliti. Misal, plotnya muter-muter. Saya rasanya mau meledak, terbang gitu ke tembok. Seneng banget. Berasa dapat guru baru.
Oke lupakan cuap-cuapan saya.
Balesan review udah saya PM untuk yang login. Yang belum saya balas di sini.
Ana: maaf pairnya SasuHina
Mikyu: ini SasuHina fic. Penyebab Naruto masih belum saya keluarkan. Sifatnya menyimpang.
FCFM: ini SasuHina fic. Nanti Sasuke saya munculkan di chapter selanjutnya. Terimakasih pujiannya, cerita saya belum sekeren itu.
Thanks to: Mell Hinaga Kuran, Sasuhina69, hiru nesaan, Reza Juliana322, SaHiGa, oortaka, Lavender No Mei, AiEmerald, Kim Sohyun, CheftyClouds, Ayu498, Luckyi, Ana, Mikyu, FCFM salam kenal, Shiro
