Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki

Raccolta © Stella Nascosta

Casts: Akashi Seijuurou | Aomine Daiki | Kuroko Tetsuya

Genre | Rate : Romance | T

Idea: Alternate reality dimana Akashi, Aomine, dan Kuroko menjadi mahasiswa di satu universitas Amerika dan mereka memutuskan untuk tinggal bersama saja. Ketika Akashi menyadari bahwa kebiasaan pagi dari dua teman serumahnya itu sama sekali jauh dari cukup.

Sarapan

"Hanya itu?"

Pertanyaan Akashi dijawab dengan kedik bahu singkat, tanpa jeda untuk menghabiskan susu rasa pisang yang kini hanya tinggal separuh botol. Perlahan tuntas seiring dengan sudut yang semakin tegak dan mengantarkan mililiter demi mililiter susu ke lambung Aomine.

Akashi tidak bicara apapun setelah itu. Kelas akan dimulai setengah jam lagi dan ia baru selesai menata roti lapis untuk sarapannya. Ia tidak punya waktu untuk ramah tamah menawari rekan serumahnya sepiring sarapan yang layak.

Mereka sudah dewasa, 19 tahun tepatnya. Tidak perlu lagi diingatkan perkara makanan yang menjadi kebutuhan primer perseorangan, bukan?

"Selamat pagi, Akashi-kun, Aomine-kun." Penghuni ketiga rumah tersebut baru saja turun dari kamarnya. Rapi dengan kemeja abu dan celana bahan warna gelap, serta beberapa buku di tangannya, dan satu tas tersampir di bahu.

"Kelas pagi, Kuroko?" Tatapan Akashi mengikuti tiap gerik Kuroko yang terburu, namun masih sempat meluncurkan satu sikutan tajam ke perut Aomine yang sengaja mengacak rambutnya.

"Iya, dan aku nyaris terlambat." Kuroko mengambil susu kotak berukuran kecil dari kulkas, rasa vanila tentu saja, dan langsung bergegas keluar. "Aku berangkat."

"Hati-hati, Kuroko."

"Tetsu! Jangan pulang dulu nanti!"

Dua kalimat itu merupakan pengantar sebelum Kuroko menutup pintu di belakangnya dan segera berlari menuju universitas—yang hanya berjarak 200 meter dari rumah mereka.

"Kau mengomentariku yang hanya minum setengah liter susu untuk sarapan tapi membiarkan Tetsu lewat begitu saja dengan dua ratus mili?"

"Ia buru-buru."

"Kau pilih kasih, Akashi."

.

.

.

"Hanya itu?"

Kali ini giliran Kuroko yang menjadi korban pertanyaan Akashi; tertangkap basah meminum sekotak susu vanila berukuran dua ratus mililiter dan sudah hendak berlalu untuk menonton siaran pagi pertandingan NBA.

"Aku sudah kenyang, Akashi-kun," kilahnya, menepuk perut seolah itu akan membantunya lolos dari tatapan penuh ketidaksetujuan dari pria berambut merah itu.

"Kau membutuhkan nutrisi lebih dari dua ratus mililiter susu di pagi hari, Kuroko."

"Ini cukup," jawab Kuroko lugas, "dengan kandungan 9 vitamin dan 11 mineral serta sembilan puluh ka—"

"Jangan membaca komposisi kotak susu untuk mendebatku, Kuroko."

"Tapi Akashi-kun, aku ke—"

"Duduk dan akan kubuatkan kau omelet untuk sara—"

"Tetsu! Pertandingannya mulai!" Teriakan Aomine cukup untuk menjadi penyelamat Kuroko dari rencana makanan sehat dari Akashi.

Namun, apa yang Aomine katakan selanjutnya hanya membuat pria berambut merah itu semakin dalam kerut dahinya.

"Aku sudah pesan pizza untuk camilan, dengan ekstra keju. Kemari, Tetsu!"

Sungguh Akashi membenci Amerika dengan layanan antar 24 jam pizza-nya.

Sungguh.

.

.

.

Sepuluh hari tinggal bersama dengan Aomine dan Kuroko dan sepuluh hari pula Akashi menyaksikan lima ratus mililiter susu pisang dan dua ratus mililiter susu vanila menjadi pengganjal perut di tiap awal harinya.

Hari kesebelas, Aomine dan Kuroko mendapati satu rak di kulkas kosong.

Hari kesebelas, tidak ada satu kotak ataupun satu botol susu di kulkas.

Hanya dua piring omelet tebal—yang kelak mereka tahu berisi potongan tomat, jamur, bayam, dan keju—dan sebuah notes kecil di pintu kulkas yang menjadi penggantinya.

Sarapan, panaskan di microwave. Roti ada di kulkas, panggang sebelum dimakan.

Seijuurou

.

Akashi pulang larut malam itu, ketika rumah sudah gelap dan dua penghuni lainnya sudah terlelap. Ia akan membuka kulkas ketika mendapati ada tulisan lain di notesnya tadi pagi.

Aomine-kun menggosongkan rotinya, Akashi-kun.

Kentangnya?

Tidak perlu nama untuk mengidentifikasi siapa menulis yang mana. Tulisan rapi milik Kuroko dan garis yang miring berantakan milik Aomine sudah menampilkan siapa yang saat itu memegang pena. Cukup untuk menarik sebuah senyum tipis di wajah lelah Akashi.

Namun, senyumannya berubah menjadi satu tawa kecil begitu mendapati apa yang tergolek diam di dalam kulkas.

Sekantong kentang.

.

.

.

Akashi membuat salad kentang di hari kedua belas, serta daging panggang dan jus kombinasi apel, jeruk, dan wortel—sesuatu yang sempat membuat Aomine mengernyit saat mendengarnya namun langsung meneguknya habis begitu cairan oranye itu menyentuh lidahnya.

"Akashi-kun, kau terlalu banyak mengambilkanku."

Ýang diprotes hanya tersenyum, tanpa tangannya bergerak untuk mengambil sebagian salad di piring Kuroko.

"Perlahan, Kuroko. Kau punya banyak waktu untuk menghabiskannya sebelum kelasnmu jam 10 mulai, nanti."

Diawali dengan kerut di dahi dan kerucut di bibir, pada akhirnya, dengan bantuan Aomine, Kuroko berhasil menghabiskan salad kentangnya, juga porsi dagingnya, serta segelas jus apel-jeruk-wortel.

"Aomine, kau menghabiskan hampir separuh porsi milik Kuroko."

"Kau lebih suka makannya tersisa kalau begitu?"

"Dengan nafsu makanmu yang seperti itu, nyaris mustahil akan ada makanan tersisa di meja makan, Aomine."

Aomine hanya diam, melirik ke langit-langit, sembari kembali menyesap jusnya.

.

.

Hari kelima belas dan Akashi melihat bagaimana Aomine menyelipkan selada dari piringnya ke piring Kuroko.

Serta bagaimana Kuroko mengurangi porsi makanannya dengan menaruhnya di piring Aomine.

Juga bagaimana punggung kedua orang di hadapannya yang langsung menegak begitu Akashi berdehem keras untuk menghentikan segala permainan saling-menyelipkan-makanan-ke-piring-orang-sebelahmu.

"Kenapa? Kau iri dan ingin bergabung, Akashi?"

"Ekstra selada untukmu mulai besok, Aomine."

.

Esoknya, Aomine mendapatkan dua per tiga bagian piringnya dipenuhi selada, dan seperenamnya tumis daging cincang dengan buncis.

.

.

.

Tiga puluh hari berlalu dan mereka sampai di satu hari minggu cerah dimana bahkan seorang Akashi Seijuurou pun merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Bukan karena ia pemalas, tentu. Ia baru tidur pukul lima pagi dan sekarang masih pukul delapan pagi. Ia pantas mendapatkan tidur lebih di hari liburnya, bukan?

Namun, keinginannya untuk tidur lama terputus ketika Aomine menyeruak begitu saja ke dalam kamarnya tanpa permisi dan membangunkannya dengan suara beratnya.

"Oi, Akashi. Tetsu membuat makanan. Kau harus lihat apa yang ia buat."

Akashi mungkin mengantuk, namun ia masih bisa mendengar frustasi yang tercermin jelas dalam suara teman serumahnya itu, sungguh.

"Kau hanya perlu memakannya, Aomine," balasnya, sembari merapatkan kembali selimutnya.

"Ayolah, dua menit. Kantukmu itu pasti langsung lenyap, Akashi!" Belum menyerah, Aomine malah membuka lebar tirai yang melindungi kamar itu dari matahari pagi.

Itu cukup untuk membuat Akashi duduk di kasurnya, dengan mata terpicing tajam ke arah orang di hadapannya.

"Aku harap kau tidak membangunkanku untuk hal konyol, Aomine."

Apa yang menunggu Akashi di meja makan sungguh benar mengusir kantuknya. Sungguh. Siapa yang tidak akan bangun begitu saja melihat tiga piring yang masing-masing berisi empat telur rebus matang di atasnya.

"Rasanya kau pantas untuk memberiku satu penjelasan untuk ini, Kuroko." Tanpa sadar, Akashi memijat pelipisnya pelan. Nyeri kepala imajiner perlahan memakan tiap lapis otot kepala dan lehernya.

"Aku...membuat sarapan...?" Hanya itu yang bisa Kuroko tawarkan sebagai penjelasan. Kejujuran dengan imbas Aomine yang langsung meraih ponselnya untuk menelpon pesan antar pizza.

Hanya untuk mendapati Akashi segera menyita ponsel itu dan melemparkan satu tatapan peringatan kepada Aomine.

"Aku senang kau mulai sadar akan pentingnya makan pagi dalam keseharianmu, Kuroko. Akan tetapi, bukan satu lusin telur rebus." Akashi berjalan menuju kulkas dan membuka pintunya, mencari serangkaian bahan lain untuk ia olah bersama telur rebus yang sudah siap konsumsi itu.

"Aku hanya ingin membantumu, Akashi-kun," balasnya, jujur, "karena kita semua tinggal bersama, tidak ada salahnya untuk bergantian memasak."

Karena memang hanya Akashi yang memasak di rumah itu selama ini, sarapan dan makan malam, kadang-kadang.

"Kau bisa meminta bantuanku kalau memang tidak pernah memasak sebelumnya, Kuroko."

"Aku bisa memasak telur rebus."

"Aku mi instan."

"Itu bukan makanan, Aomine," potong Akashi cepat.

Akashi akan menutup kulkas ketika matanya menangkap deretan kotak dan botol familiar di rak kulkas dan senyum terbersit di bibirnya detik itu juga.

"Tidak sarapan susu lagi?" tanya Akashi, sembari membuka pintu kulkas lebih lebar untuk memperlihatkan deretan susu favorit dua orang di hadapannya itu.

Aomine dan Kuroko bertukar pandangan, seolah keheranan.

"Aku tidak lihat kalau rak itu sudah terisi lagi," jawab Aomine lalu mengambil sebotol susu rasa pisang yang sudah lama absen dari genggamannya.

"Kuroko?" Akashi mengambil satu kotak botol vanila dan menyodorkannya kepada pemuda berambut biru muda itu, hanya untuk mendapatkan gelengan kepala pelan darinya.

"Akashi-kun tidak bermaksud lari dari kewajiban untuk membuatkanku sarapan, kan?"

"Maksudmu, kewajiban untuk mengajarimu memasak?"

Senyum tipis, yang jarang terlihat, mampir di wajah Kuroko, bersamaan dengan satu anggukan singkat dan tawa kecilnya.

"Itu juga perlu, Akashi-kun."

Tiga puluh hari, dan Akashi berhasil melenyapkan satu iritan yang sering kali membuatnya jengah di pagi hari.

.

"Oi, kalian mau sampai kapan senyum berpandangan seperti orang kasmaran seperti itu? Aku sudah lapar, Akashi!"

"Kau mengganggu, Aomine-kun.


A/N : Happy New Year 2015! Here we go with eggs and breakfast and domestic Akashi, Kuroko, and Aomine as a housemates. Nope, they're not engaged in any romantic relationship at this chapter! Hahaha!

Also, I hope you will enjoy Raccolta with our ace, captain, and phantom sixth man in various themes and prompts and AU! Oh! You may ask for a prompt too! It will be lovely~

Nothing left to say about in here, but again, happy new year! Wish you all blessing of New Year and let's have another round of joyful year! See you at the next chapter! Comments would be lovely and very appreciated! :D