.
Police Underground
.
.
.
Disclaimer ® Masashi Kishimoto
Story Written by Lady Bloodie
Rate M for safe
Genre ® Romance, Crime, Supranatural, Action, Friendship, Hurt (?)
Pairing
[Naruto x Hinata] slight SuiKarin
.
.
.
Summary
Miras sudah jadi minuman pokoknya, narkoba bahkan seperti nasi baginya, darah bagai selimutnya, dan menghadiri pesta seks sudah biasa baginya. Namun, virginitas dari ujung rambut, hingga ujung kaki selalu terjaga. Dan Hinata tak mengerti, seorang wanita dan menawarinya untuk bekerja sebagai polisi. Oh, mungkin wanita itu overdosis heroin.
.
.
.
Warning
Typo(s), OOC, Lemon/Lime *maybe, Action story, AU type, Multichapter, DLDR, Mind to RnR?
.
.
.
.
.
Opening Song
Wagakki Band - Roku Chou nen to Ichiya Monogatari
.
.
.
.
Chapter 1
- Meeting Again -
.
Dentang jam berbunyi dua belas kali, bumi telah berada pada titik gelanya. Jalanan di perbatasan Tokyo tampak sepi dari kendaraan, maupun pejalan kaki. Inilah Distrik 13. Deretan bangunan kosong, seolah menambah kengerian di daerah ini. Belum lagi cerita-cerita yang beredar di tengah-tengah kemajuan teknologi. Membuat banyak orang tak ayal menyebut Distrik 13 sebagai distrik mati.
Namun, dari sekumpulan cerita mitos tersebut. Faktanya Distrik 13 merupakan distrik buangan. Tempat tinggal bagi mereka yang tersingkir dari persaingan di pusat kota. Tempat ini, merupakan pilihan terakhir mereka untuk melanjutkan hidup. Bekerja sebagai pelacur, pedagang miras, bandar narkoba sudah menjadi hal wajar di tempat ini一tentunya jangan sampai tertangkap basah oleh petugas kepolisian. Para pemerintah sengaja mengkosongkan Distrik ini dengan tujuan pribadi.
Di balik gemerlapnya lampu kota, kemiskinan menjadi raja di beberapa titik.
Lihatlah, beberapa orang yang tampak tertidur tanpa beralaskan apapun di teras toko, dengan beberapa botol miras di sekitar mereka一mereka bukan pengemis, maupun gelandangan. Dan beberapa wanita berpakaian tak pantas, yang menghiasi hampir di tiap celah antar bangunan. Terdengar sayup-sayup suara desahan, maupun jeritan di beberapa titik bangunan.
Meskipun sepi dari pengguna jalan. Bukan berarti tidak ada satupun orang yang akan melintasi wilayah Distrik ini. Terbukti dengan siluet sekelompok orang yang berjalan ditengah kegelapan. Jalan utama hanya diterangi beberapa lampu yang tampak redup, beberapa bahkan sudah terlihat rusak dan mati.
Mereka berjumlah 10 orang, dipimpin oleh seorang wanita berambut indigo di barisan terdepan, dan seorang wanita berambut biru keunguan yang bertindak sebagai navigator. Wanita berambut indigo itu hanya memakai bra hitam, celana yang hanya menutupi seperempat pahanya, dan sepatu boots sepanjang betis, serta sebuah jaket yang sengaja diikatkan di pinggangnya一untuk menutupi senjata cadangan miliknya. Tak lupa sebilah katana di tangan kanannya, dan sebuah tas kecil yang melingkar di pinggulnya. Dia adalah Hyuuga Hinata, pemimpin mafia Akatsuki.
Malam ini begitu dingin, dan mereka benar-benar menahan diri untuk tidak meminum alkohol. Setidaknya tidak untuk keadaan genting seperti sekarang. Para polisi mungkin sudah berhasil menemukan markas lama Akatsuki. Dan karena hal itu, mereka harus tetap sadar hingga mereka berhasil keluar dari wilayah Tokyo. Tujuan mereka adalah pergi ke wilayah terpencil untuk sementara, sekedar untuk beristirahat dari kejaran polisi maupun ancaman mafia lain. Dan tujuan mereka kali ini adalah, hutan cemara di wilayah Hamamatsu.
Sudah hampir lima jam mereka berjalan, meski beberapa kali beristirahat一barang semenit, dua menit. Namun mereka belum juga bisa keluar dari wilayah Tokyo. Hal itu dikarenakan mereka harus melewati jalan memutar一melalui lorong-lorong bangunan kota, demi menghindari keramaian. Mereka meninggalkan kendaraan mereka di markas lama一bahkan jubah Akatsuki mereka, agar para polisi tidak mudah melacak keberadaan mereka.
"Hi-Hinata-shishou, bukankah lebih baik kita beristirahat? Setidaknya untuk beberapa jam," ucap Konan yang berjalan beriringan dengan sang Pimpinan.
Mendengar usulan dari salah satu orang kepercayaannya. Wanita bernama Hinata itu pun menghentikan langkahnya, sontak diikuti dengan para anggota yang mengekor di belakangnya. "Konan ... kupikir kau mengerti keadaan kita saat ini," jawab Hinata seraya memandang kosong ke arah depan.
"Yeah, kupikir Shishou juga mengerti keadaan kami. Kurasa Konan ada benarnya. Kami merasa lelah, dan butuh istirahat untuk beberapa jam ke depan. Terlebih persediaan peluru juga habis," celetuk seorang pria berambut abu-abu klimis, seraya menghembuskan asap dari rokok yang dihisapnya.
"..."
"Aku tahu beberapa tempat peristirahatan dan toko ilegal di sekitar sini. Mungkin sekitar lima ratus meter dari sini," ucap pria itu, kali ini memberikan penawaran.
Hinata hanya menghela napas. Sejujurnya Hinata pun merasa lelah一amat sangat. Namun, apa daya? Status mereka saat ini adalah buronan kelas kakap. "Baiklah, asal kita pergi sebelum matahari meninggi." Persetujuan Hinata membuat kelegaan tersendiri pada diri masing-masing anggota Akatsuki. Terutama Konan yang merasa kakinya sudah ingin lepas dari tempatnya.
"..."
"Hidan, tunjukkan jalannya," jawab Hinata.
Dan dengan persetujuan dari sang Ketua. Pria bernama Hidan itu pun menggantikan posisi Konan, ia seolah mengusir halus Konan dari posisinya sebagai navigator. Hidan menuntun semua anggota untuk masuk ke sebuah celah bangunan yang gelap dan berbau amis. Suara gagak seolah bagai pengiring perjalanan mereka di tengah kegelapan. Hingga tak lama kemudian, mereka berhasil mencapai ujung lorong dengan dua-tiga bangunan bercahaya yang cukup terang.
Seluas senyum terukir di wajah Hidan, kala mendapati tempat kelahirannya itu masih berdiri di sana一walau tak seramai dan sebaik sepuluh tahun lalu. Tempat ini dulunya adalah tempat kasino dan tempat prostitusi besar, bagai Las Vegas kedua一mewah dan berkelas. Namun semenjak fungsi Distrik 13 dipandahkan ke Distrik 9, di daerah timur Kota Tokyo. Tempat ini seketika menjadi sepi, walau masih tetap dibuka. Setidaknya untuk kalangan kelas bawah.
Puas bernostalgia, Hidan segera menggiring para anggota Akatsuki yang lain untuk masuk ke dalam salah satu bar dengan penginapan. Baru selangkah mereka memasuki bangunan berlantai tiga itu. Seketika seluruh perhatian para laki-laki di ruangan itu mengarah pada mereka一Terutama Hinata dan Konan. Beberapa wanita penggoda tampak mendekat, dan bergelayut manja di tubuh para anggota laki-laki dari Akatsuki. Tanpa mempedulikan para wanita yang menatapnya lapar, Hidan pun segera berjalan menuju meja bar, dan berbincang dengan bartender untuk menanyakan, 'apakah ada kamar yang tersisa'.
"Tuan, apa kau tidak berminat memesanku? Aku jamin, kau akan puas dengan menunggangiku." Seorang wanita penggoda yang bergelayut manja di lengan kekar Gaara, berusaha untuk menarik perhatian Gaara yang hanya berekspresi datar.
Gaara mendecih, dengan ekspresi datarnya. "Aku tidak tertarik dengan barang rongsokan." Hanya satu kalimat penolakan dari Gaara, dan wanita itu langsung pergi seraya mengumpat pelan. Tatapan Gaara beralih pada sosok Hinata yang berdiri di depannya. Ia kemudian berdehem kecil, seraya membuang pandangannya. 'Satu-satunya wanita yang ingin kutunggangi adalah Hinata-shishou,' lanjutnya dalam hati, dengan rona merah samar yang menghiasi pipinya.
PUK
Sebuah tepukan di bahu Gaara, cukup membuat dirinya terkejut. Gaara kemudian menoleh, dan mendapati sosok Deidara yang tersenyum jahil ke arahnya. Seketika itu, raut Gaara berubah kesal.
"Heh, doushite? Bukankah lebih baik kau mengatakannya langsung, daripada hanya memperhatikannya diam-diam? Aku yakin一ittai!" Deidara melemparkan tatapan tajam ke arah Gaara, kala rasa sakit menghantam puncak kepalanya.
"Urusai," ujar Gaara dengan nada dingin, nan tajam.
Deidara hanya memajukan bibirnya seraya memegangi puncak kepalanya, yang menjadi korban penganiyayaan. "Dasar tsundere," cibirnya, dan beruntung Gaara tidak mendengarnya.
Tak lama kemudian, Hidan kembali dengan lima buah kunci di genggaman tangannya. Dengan seringai khasnya, ia menatap Hinata. Sedangkan yang ditatap hanya menatap kosong ke depan.
"Shishou, sebaiknya kita一"
"Apakah bangunan ini memiliki atap?" sela Hinata, sebelum Hidan berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Ya, tentu saja. Apakah Hinata-shishou ingin ke sana?" tanya Hidan yang dibarengi dengan raut heran di wajahnya. Apalagi ketika melihat Hinata menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan mengantar Shishou ke sana. Kalian pergilah dulu, aku akan menyusul nanti一ah, dan kamarnya berada di lantai tiga," kata Hidan lagi, seraya menyerahkan lima buah kunci pada Konan. Ia pun segera membimbing Hinata untuk mengikuti langkahnya. Namun, ketika hendak melangkah Konan mencekal tangannya. Sontak Hidan pun menoleh dengan raut penuh tanya.
"Kalau begitu aku akan menemani Shishou. Lagipula ini waktu yang tepat untuk melihat purnama, bukan?" ujar Konan penuh harap. Namun, jawaban Hinata mematahkan semua harapannya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin sendiri一untuk saat ini," ujar Hinata dan seketika cengkraman tangan Konan pada lengan Hidan pun melonggar, dan terlepas. "Kau istirahatlah ... kalian semua juga," kata Hinata lagi, seraya berjalan mengikuti langkah Hidan yang berada selangkah di depannya.
Konan hanya menunduk lesu, sesekali menatap punggung Hinata yang semakin menjauh dan kini menghilang di balik tikungan tangga. Konan tak bisa menolak permintaan Hinata, karena perintah Hinata adalah mutlak. Dan tentu saja, Konan beserta anggota lain akan mematuhi serta menghormati setiap perkataan yang diucapkan sang Ketua.
Beberapa saat setelah kepergian sang Ketua Akatsuki. Konan, bersama anggota lain memutuskan untuk menempati kamar yang sudah dipesankan Hidan di lantai tiga. Konan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja, setelah mereka meninggalkan lantai dasar dengan asap rokok dan bau alkohol yang menggoda一serta membiarkan sang Ketua berada seorang diri di atap.
Namun, tanpa Konan maupun anggota Akatsuki lain sadari. Salah seorang pria paruh baya tengah menyeringai, dengan sebatang rokok di mulutnya. Seringaiannya seolah memperlihatkan niatan buruk pria tersebut. Pria itu pun beranjak dari posisinya, tepat ketika siluet gerombolan orang tadi menghilang dari pandangan. Ia pun kemudian berjalan menuju satu-satunya tangga di sana.
'Sepertinya aku mendapat tangkapan bagus malam ini,' batinnya seraya semakin memperlebar seringaiannya.
-oOo-
KRIET
"Baiklah, Shishou. Kita sampai," kata Hidan begitu pintu terbuka, dan menampilkan tempat terbuka, dimana kau bisa menikmati semilir angin dan rembulan yang bercahaya keemasan. Tempat yang begitu tenang untuk merenung一sangat berbanding terbalik dengan yang di lantai dasar.
Tanpa perlu mendapat izin dari Hidan. Hinata pun segera melangkah maju beberapa langkah, sebelum kemudian berhenti di sana一tak ada niatan untuk mengubah posisinya. Ia hanya diam, bahkan setelah Hidan meninggalkannya beberapa menit lalu. Sampai terdengar lagi suara derit engsel pintu di belakangnya. Namun Hinata tetap tak bergeming. Hanya tarikan di salah satu sudut bibirnya, sebagai reaksinya.
"Kau mengikutiku sejak di lantai dasar, bahkan memperhatikanku. Apa tujuanmu?" tanya Hinata bernada dingin, namun terkesan sinis. Mungkin Hidan tak menyadari seseorang mengikuti mereka一lebih tepatnya mengikuti Hinata. Namun, Hinata memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap bau, getaran, dan suara.
Lelaki asing itu menyeringai, seraya berjalan mendekat. "Hyaa, rencanaku gagal rupanya."
"..."
"Tapi, kupikir kita bisa bersenang-senang di sini, Nona. Di sini sangat sepi dan juga dingin, kau tahu?" ujarnya santai, dengan seringai yang tak lepas dari wajahnya. Lelaki itu tak tahu, bahaya apa yang menantinya di depan一bahwa Shinigami bisa kapan saja mencabut nyawanya.
"Begitu?" balas Hinata dengan perkataan ambigu. "Tapi sayang sekali, aku tidak memesan seorang gigolo," ujarnya lagi.
Perlahan, diam-diam Hinata menarik keluar sebilah wakizashi dan tanto dari tempatnya, yang berada menggantung di tali tas pinggangnya一tersembunyi dibalik kain jaket yang sengaja Hinata ikatkan di pinggang. Hinata sengaja menitipkan katana miliknya secara sembunyi-sembunyi pada Konan. Hal ini untuk menghindari kecurigaan dari orang lain.
"Tidak, tidak ... tentu saja Nona tidak memesan gigolo. Ini hanya bagian dari bonus pemesanan kamar."
Suara itu semakin mendekat, bersamaan itu pula Hinata semakin mengeratkan genggaman pada dua senjata di masing-masing tangannya. Hinata tak punya pilihan lain, selain membunuh pria awam ini. Dan tepat ketika hembusan napas pria itu dirasakan punggungnya, Hinata segera melakukan salto udara untuk melompati bahu pria itu, dan bersamaan itu pula ia menghujamkan wakizashi miliknya ke leher pria itu.
SET
DUG
BRUK
Suara dua benda berat terjatuh, menjadi tanda berakhirnya kehidupan dari pria hidung belang itu. Hinata kemudian menghela napas berat, seraya mengibaskan wakizashi miliknya, untuk menghilangkan darah yang menempel di mata pedangnya.
Tidak perlu mata byakugan untuk membunuh seorang pria hidung belang berotak udang一pikir Hinata.
Keadaan seketika menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah Hinata di sana, dengan suara para gagak yang tiba-tiba berdatangan一seolah menunggu Hinata pergi, untuk mereka menyantap seonggok mayat di sana.
Namun, bukan itu yang para gagak itu tunggu.
Namun yang terjadi sedetik setelahnya, Hinata dikejutkan dengan suara tepuk tangan yang berasal dari arah samping kanannya. Hinata dengan rasa terkejutnya, segera mengaktifkan byakugan miliknya, dan menengok ke sumber suara. Hinata dibuat cukup terkejut ketika mendapati sesosok wanita, yang membawa pedang besar yang dikenal sebagai pedang zanbato. Selebihnya, Hinata tak tahu bagaimana ciri-ciri wanita itu, yang jelas ia seorang wanita dengan rambut panjang. Tidak seperti mata normal lainnya, byakugan hanya bisa menampilkan siluet, dan tidak secara jelas dan detil. Namun keuntungannya, byakugan mampu menampilkan gerakan lawan secara lambat.
"Sugoi, sugoi ... kau memang hebat seperti yang dibicarakan, Hinata-san!" Sosok itu akhirnya bersuara, namun masih dengan bertepuk tangan. "Tidak sia-sia, aku menjalankan misi ini," katanya lagi, dan kemudian menghentikan tepuk tangannya.
"Tikus lain?" ujar Hinata dengan nada sinis. Hinata mendecih lirih, seraya kembali menarik sudut bibirnya. Namun, di dalam dirinya, Hinata merasa heran一mempertanyakan dari mana wanita itu datang. Sebab Hinata tidak mendengar adanya langkah kaki, maupun bau seseorang yang berada di dekatnya selain mayat lelaki itu.
Atau mungkin sosok wanita itu tidak memiliki bau?一pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di dalam pikirannya.
"Etto ... lebih tepatnya, seseorang yang datang untuk menyelesaikan misinya. Dan apakah aku terlihat seperti tikus?" balas sosok wanita itu, yang diakhiri dengan pertanyaan polos. "Tidak, tidak ... aku yakin wujudku masih manusia. Walaupun aku bukan manusia." Wanita itu berkata lagi. Dan kali ini diakhiri dengan suara tawa di akhir.
Mendengar jawaban dari wanita asing di depannya. Seketika, Hinata beranggapan bahwa wanita aneh itu sedang mabuk karena frustasi dan ingin bunuh diri dengan zanbato itu, atau mungkin overdosis heroin dan menjadi arwah penasaran yang membawa zanbato. Baiklah, mungkin yang terakhir itu tidak lucu. Karena, sampai kapanpun, Hinata tidak mempercayai adanya arwah penasaran.
"Kau mabuk? Atau apa?" tanya Hinata kemudian, seraya mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja aku sadar, seratus persen. Dan aku kemari untuk membawamu bersamaku, ke markas Police Underground. Dunia seperti layaknya negeri dongeng, yang mana terdapat vampire, werewolf, ghoul, dan masih banyak lagi," jawab sosok wanita itu, dengan ucapan setengah sadar. Dan sekarang, seratus persen Hinata yakin, jika wanita itu sedang mabuk.
Entah kenapa, tiba-tiba moodnya berubah一mungkin juga karena wanita gila itu. Hinata tak lagi ingin berada di atap lebih lama, dan ia pun segera melangkah menuju pintu atap dengan byakugan yang masih aktif. Ia berpikir, berada di dalam ruangan lebih baik, dibanding harus satu tempat dengan orang yang setengah sadar dan mungkin sedikit tidak waras. Tidak, bukan berarti Hinata tidak pernah meminum alkohol. Tapi, setidaknya Hinata masih dalam batas wajar, jika mabuk.
Namun, hanya beberapa meter Hinata berjalan. Ia dikejutkan dengan pedang zanbato yang tiba-tiba mendarat di depannya. Sontak Hinata pun melompat mundur, dengan sikap waspada. Yang lebih membuatnya terkejut adalah, kenyataan bahwa sosok wanita asing itu yang menyerang dirinya dengan sebilah zanbato.
"Mengabaikan seseorang itu ... adalah dosa besar," ujar wanita asing itu, dan tidak digubris sedikitpun oleh Hinata.
Hinata hanya mendecih pelan, seraya memperlebar seringaiannya. Jika dilihat bagaimana cara sosok wanita itu bergerak. Hinata menyimpulkan, bahwa sosok wanita itu sangat piawai menggunakan pedang besar itu. Itu artinya, wanita itu bisa saja adalah suruhan dari pemerintahan, atau mungkin anggota dari kelompok mafia lain yang menjadi musuh Akatsuki.
Tapi, tunggu. Di zaman sekarang, jarang sekali ada mafia yang menggunakan pedang sebagai senjata. Apalagi memakai zanbato yang membutuhkan teknik khusus untuk menggunakannya. Seketika itu pula seringai di wajah Hinata luntur, ketika menyadari keanehan yang terjadi.
SET
KRAK
SET
DRASH
Berkali-kali Hinata berhasil menghindari serangan wanita asing itu, dan berkali-kali pula serangan itu menghantam permukaan lantai atap, dinding, bahkan tempat penampungan air一membuat tempat ini sedikit tergenang air.
Namun Hinata tak peduli, ia hanya mendecih setengah kesal. Kini posisi Hinata terpojok. Tiap kali ia hendak menyerang, wanita itu langsung menyerangnya. Ia juga tidak bisa menangkis serangan wanita itu一membuatnya harus menghindar dengan cepat, atau ia akan terbelah menjadi dua bagian.
"Heh, boleh juga kecepatanmu itu," ujar wanita asing itu, seraya mencabut zanbato miliknya yang tertancap di lantai atap. Ia kemudian menyeringai. "Tapi ...,"
"..."
"Apa kau akan selamanya menghindar一Hyuuga Hinata-san?!"
SET
DRASH
SET
TRANG
Sekali lagi serangan itu datang dengan cepat ke arah Hinata. Dan serangan yang terakhir hampir saja memotong perut Hinata, jika saja ia tidak dengan cepat menangkisnya dengan wakizashi dan tanto miliknya. Entah kenapa, Hinata merasa jika wanita asing ini tidak bersungguh-sungguh menyerangnya. Jika wanita itu bersungguh-sungguh melakukannya一tentu saja, sebilah zanbato itu akan dengan mudah menembus pertahanan miliknya.
"Kau tahu Hinata-san? Kau mempunyai mata yang bagus一mengerikan, namun memiliki sisi yang indah di baliknya. Apakah sisi indah itu adalah dirimu yang sebenarnya ... ne, Hinata-san?"
Hinata mendecih, ketika mendengar ucapan dari lawannya. "Kau bermaksud membunuhku, atau memujiku?" ujar Hinata terkesan saskartik.
"Etto ... sebenarnya tidak keduanya," jawab wanita asing itu, seraya mengarahkan pandangan ke arah langit.
Melihat lawannya yang lengah. Hinata pun dengan cepat segera membuat gerakan menendang, tepat pada perut lawannya. Setelahnya, ia menendang di area leher dan bahu milik lawannya一hingga terdengar bunyi patahan tulang. Hinata kemudian melompat mundur dan kembali memasang posisi siaga, seraya mengatur napas. Sepasang byakugan miliknya, bagai tatapan mata elang yang tak melepaskan pandang dari mangsanya.
'Satu menit lagi. Aku harus menyelesaikan ini,' batin Hinata ketika menyadari waktu pemakaian byakugan hampir habis.
Sedangkan wanita asing itu. Ia tampak berusaha bangkit dengan bertumpu pada zanbato miliknya yang tertancap di lantai atap. Sebelah tangannya tampak memegangi bagian perutnya yang terkena serangan. Namun, bukannya merintih kesakitan, wanita itu malah tersenyum.
Dia benar-benar tidak waras一begitu pikir Hinata.
"Omoshiroi, omoshiroi. Kau memang pantas bergabung dan dipuji, Hyuuga Hinata-san," ujar wanita itu. Wanita itu kemudian kembali mencabut zanbato miliknya, seraya menatap Hinata dengan raut jenaka.
Hal itu membuat Hinata semakin was-was, terlebih byakugan miliknya sudah mencapai batasnya. Dan benar saja, beberapa detik kemudian efek byakugan telah hilang. Membuat pandangan Hinata kembali menghitam. Namun, Hinata tak mau menyerah sampai di sana一meski tanpa byakugan.
"Are? Kau sudah kehabisan waktu rupanya. Apa kau yakin bisa mengalahkanku dengan keadaanmu tanpa byakugan ... ne, Hinata-san," ujar wanita itu dengan nada yang terkesan polos, namun juga memberi kesan sinis.
Hinata terkejut ketika mendengarkan perkataan wanita asing di depannya. Rahasia terbesar dari seorang Hyuuga Hinata, mulai diketahui orang luar. Hinata pun mendecih, sebelum akhirnya memperlihatkan seluas senyum angkuh miliknya. Ia kemudian berujar, "jadi ... kau sudah mengetahuinya ya?"
"..."
"Bukankah itu akan memudahkanmu untuk membunuh wanita buta sepertiku?" balas Hinata seraya tersenyum sinis. Berpikir, mungkin memang sudah waktunya Shinigami mengambil jiwanya. Namun, jawaban dari wanita itu selanjutnya, membuatnya cukup terkejut dan sedikit bersyukur.
"Iie, iie. Tentu saja tidak." Wanita itu menggeleng cepat, bersamaan dengan kata-kata penolakan yang keluar dari mulutnya一membuat Hinata terdiam seketika.
"..."
"Bukankah dari awal sudah kukatakan ... aku tidak bermaksud membunuhmu, Hinata-san. Aku hanya menjalankan misi, untuk merekrut dirimu, menjadi bagian dari kami一Police Underground," jelas wanita itu, kembali mengulang perkataannya di awal.
Hinata hanya mengangkat sebelah alisnya, seraya menahan tawa yang ingin meledak dari dirinya. "Apa kau一"
"Hinata-shishou, apa anda baik-baik saja?" Seketika itu pula mulut Hinata terkatup rapat. Suara Konan tanpa sadar memotong perkataan Hinata, bersamaan dengan suara langkah kaki yang mendekat.
Sedangkan wanita asing yang sempat menyerangnya itu hanya menutup mulutnya一seolah-olah tampak terkejut. "Ups, sepertinya pertemuan kita harus berhenti sampai di sini dulu," ujar wanita itu seraya bergerak mundur hingga mencapai tepi atap.
"Tu一"
"Jaa ne, Hinata-san," ujar wanita asing itu lagi, sebelum kemudian melompat dari sana一terjun menuju permukaan tanah.
Hinata membulatkan matanya. "Tu-Tunggu! Aku belum selesai bicara一Hei ...!" seru Hinata, seraya berjalan mendekati tepi atap. Ia mungkin tidak bisa melihat, namun ia bisa mendegar suara angin yang mengatakan bahwa一seseorang baru saja menjatuhkan diri dari tepi atap, menuju permukaan tanah.
Namun ketika hendak mencapai tepi, seseorang menarik bahunya一membuat langkahnya terhenti seketika. "Apa yang一"
"Shishou, apa yang anda lakukan? Anda tidak bermaksud untuk bunuh diri, kan?" ujar seorang pria dengan suara beratnya. Suara berat itu, Hinata mengenalinya. Suara itu milik Gaara, salah satu anggota kepercayaannya.
Hinata menaikkan sebelah alisnya. "Bunuh diri? Apa maksudmu?" tanya Hinata bingung, seraya memandang kosong ke arah depan. "Aku sedang mencari seorang wanita yang menyerangku tadi. Dia membawa zanbato dan baru saja melompat dari tepi atap," ujarnya lagi.
Perkataan Hinata lantas membuat para anggotanya saling melemparkan pandangan一bingung. Pasalnya mereka tak melihat adanya bekas pertarungan besar di sini. Jika memang Hinata baru saja bertarung dengan seseorang yang memakai zanbato, tentu tidak akan serapi ini. Namun kenyataannya, mereka hanya mendapati seonggok mayat laki-laki yang terpisah menjadi dua bagian. Dan yang menjadi alasan mereka datang adalah, suara tembakan peluru yang berasal dari atap一tempat Hinata berada.
"Apa maksudmu Shishou? Anda sedang mengigau?" ujar Hidan seraya menahan tawa. "Tidak ada bekas pertarungan besar di sini. Dan kalaupun ada seseorang memakai zanbato di zaman ini, dia pasti sudah gila," ujar Hidan lagi, membuat yang lain sukses tertawa一kecuali Konan dan Gaara.
"Aku serius," ucap Hinata setengah kesal. Jujur saja, Hinata merasa dongkol bukan main. Dirinya berani bersumpah, jika ia memang melawan wanita aneh, gila, sinting itu di sini. Oh, atau mungkin saja mata mereka mulai rabun karena penuaan dini.
"Sudahlah kalian semua! Tidak baik menertawakan seorang Pimpinan," celetuk Konan, dan seketika suara tawa itu berhenti. "Jika itu yang dikatakan Shishou. Bukankah sebaiknya kita memeriksa keadaan?"
"Tapi一"
"Terutama kau Hidan! Bisakah kau membedakan mana bercanda dan mana yang serius?" sela Konan, seraya menunjuk-nunjuk wajah Hidan.
Hidan tampak menggaruk tengkuknya. Entah ini sudah keberapa kali ia mendapat ceramah dari Konan. "Gomen, gomen. Tapi sungguh, aku tidak melihat apapun, Shishou," ujar Hidan.
"Mungkin sikap kami yang barusan, memang keterlaluan. Tapi kami memang tidak melihat adanya pertarungan dengan alat seberat zanbato," celetuk Sasori dengan senyum menawannya. "Kami kemari karena mendengar suara tembakan dari atap. Dan berkat lambatnya otak Hidan, yang baru sadar jika kalian tadi tengah diikuti," ucap Sasori lagi, dan sukses mendapat tatapan tak terima dari Hidan.
"Apa kau bilang?! Aku tidak lambat berpikir. Aku hanya一"
"Sumimasen, Shishou. Tapi kali ini aku setuju dengan si Otak Udang ini," ujar Konan menyela perkataan Hidan, seraya menunjuk ke arah Hidan. "Dan maafkan atas kelengahan kami, hingga membuat anda harus melakukannya sendiri," lanjut Konan lagi. Ia tampak tak mempedulikan tatapan tak terima dari Hidan, yang tertuju ke arahnya.
Mendengar penjelasan dari para anggotanya, menbuat Hinata memilih menghela napas pasrah dan berpikir一mungkin ini efek samping karena tidak meminum alkohol, sehingga membuat dirinya berhalusinasi.
"Baiklah, jam berapa sekarang?"
"Masih pukul dua pagi."
"Antarkan aku ke kamar, aku ingin beristirahat. Sekitar tiga jam lagi, kita harus meninggalkan tempat ini." Perkataan Hinata, terdengar bagai perintah di telinga para anggotanya. Membuat mereka tak punya pilihan selain mematuhinya.
"Wakarimashita, Shishou." Mereka berujar serempak, namun dalam volume suara yang berbeda-beda.
Konan segera menuntun Hinata untuk melangkah di sampingnya. Sedangkan yang lain, berjalan mengekor di belakang Konan dan Hinata. Mereka sama sekali tak menyadari, jika dua pasang mata tengah memperhatikan mereka dari atap gedung lain.
-oOo-
"Haah ... tadi itu hampir saja. Bukan begitu, Sui-chan?"
PLETAK
"I-Ittai! Kenapa kau malah memukul kepalaku? Kau bisa membuatku amnesia, kau tahu?!" rintih sosok wanita berambut merah sepinggang, seraya memegangi bagian kepalanya yang mendapat jitakan dari pria di hadapannya.
Sedangkan si pria yang dipanggilnya 'Sui-chan' itu, tampak menahan diri untuk tidak mengetuk kepala wanita di hadapannya一lagi. "Kau bisa saja membunuhnya tadi, Karin! Terlebih ... kau tidak akan amnesia hanya karena pukulan kecil di kepala."
Wanita yang dipanggil Karin itu malah terkekeh pelan, dan kembali mengalihkan pandang ke arah atap yang sempat menjadi tempat pertarungan antara dirinya dan targetnya一Hinata.
"Hyaah ... aku hanya bermaksud mengetesnya sedikit, tadi." Karin tersenyum diakhir kata. "Dan sekarang, aku mengerti mengapa Jendral begitu menginginkannya," ucapnya seraya mengangguk kecil一menyetujui perkataan sang pimpinan yang kembali terngiang di kepalanya.
Pria yang bernama Sui itu mendengus, ketika mendengar perkataan dari Karin. "Kau baru saja memuji wanita buta yang berhasil berjalan tanpa tongkat." Suigetsu berujar sinis, seraya mendecih lirih di akhir kalimatnya. "Aku benar-benar tak mengerti cara berpikirmu yang mirip dengan manusia一walaupun kau bukan manusia."
Mendengar komentar dari Suigetsu, Karin hanya tertawa lirih一membuat Suigetsu memandang heran ke arahnya. "Suatu saat kau akan mengerti. Hal-hal menarik di balik kelemahan dari tiap-tiap manusia," ujar Karin, seraya beranjak dari tempatnya dan berjalan meninggalkan tempatnya semula. Ia kemudian memilih bersandar di salah satu dinding pembatas yang masih berdiri, dan mulai memejamkan matanya.
Suigetsu hanya menghela napas kesal, sesaat setelah mendengar perkataan Karin. Dirinya tidak mengerti, mengapa Karin begitu memuji wanita buta bernama Hyuuga Hinata itu. Menurut Suigetsu, tidak ada yang menarik dari wanita buta itu.
Dan Suigetsu pun berpikir一bukankah masih banyak manusia lain yang lebih berpotensi menjadi Police Underground, dibanding seorang wanita buta pemilik byakugan?
Kadang Suigetsu benar-benar tidak mengerti cara berpikir sang Jendral一pemimpin organisasi Police Underground.
.
Police Underground
.
Matahari mulai menampakkan cahayanya di ufuk timur. Meski begitu, suasana malam masih menguasai Jepang一masih pukul setengah lima pagi. Namun, tampak sekelompok orang yang berjalan melewati jalan utama Distrik 13. Kejadian beberapa jam lalu, bagai angin lalu dibenak Hinata maupun para anggota Akatsuki yang lainnya. Hinata berpikir, bahwa wanita yang membawa zanbato itu hanya halusinasinya saja一mungkin efek karena tidak meminum alkohol seharian. Dan kini, sebentar lagi mereka akan mencapai kedamaian sesaat di hutan Hamamatsu. Setidaknya untuk beberapa minggu, bebas dari kejaran polisi dan ancaman dari mafia lain.
Namun, baru saja pemikiran indah itu terlintas di dalam benak mereka masing-masing. Mereka dikejutkan dengan suara tembakan ke udara dari arah belakang mereka. Sontak mereka pun berhenti, dan segera berbalik. Dan seketika itu pula para Anggota Akatsuki terkejut bukan main, kala mendapati belasan sosok yang berdiri beberapa meter dari tempat mereka berpijak. Mereka pun segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing, dan memasang sikap waspada.
"Y-Yakuza!" seru salah seorang anggota Akatsuki.
Mendengar kata 'Yakuza' yang keluar dari salah satu mulut anggotanya. Hinata pun menarik sebilah katana miliknya, dan maju satu langkah ke depan. Ia juga mengaktifkan byakugan miliknya, sehingga ia bisa kembali mendapat fungsi matanya一walau tak secara normal.
"Danzo," gumam Hinata lirih seraya memasang sikap siaga, dengan sebilah katana di tangan kanannya. Setelah sekian lama, sejak pertarungan terakhirnya dengan Yakuza. Hinata benar-benar tidak menyangka akan berhadapan lagi dengan Danzo一tangan kanan dari Pimpinan Tertinggi Yakuza.
"Yo!"
"..."
"Lama tidak berjumpa, ne ... Hinata-san," ujar Danzo dengan seluas seringai di wajahnya, seraya mengeluarkan dua buah revolver dari saku jasnya.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
.
.
Katana : pedang khas jepang, yang digunakan oleh para samurai.
Zanbato : pedang besar yang mampu melumpuhkam tentara berkuda sekalipun (pedangnya Suigetsu di anime asli)
Wakizashi : sejenis pedang seperti katana, tapi lebih pendek. (Biasanya memang dibuat senjata pendamping katana)
Tanto : pisau kecil khas Jepang, yang praktis untuk serangan jarak dekat.
.
.
A/N :
Hola.
Kalian udah pada tahu kan kekurangannya Hinata apa? Yap tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sebesar apapun kekuatan yang dimiliki seseorang pasti memiliki celah/kelemahan (saya ingin menyampaikan maksud itu lewat karakter Hinata yang memang saya buat buta).
Sebutan wanita itu karena umur bukan karna hal lain. Jadi jangan salah pahan. Rasanya aneh, Hinata yang udah 22 tahun tapi disebut gadis.
Maaf yang juga ngikutin fic lain :'3 saya sedang berusaha ngetik + ngedit disela-sela kesibukan akan tugas sekolah. Untuk selanjutnya mungkin yang bakal update itu, Let's Start The Game, sama Canterville (lagi OTW koreksi+edit)
Special thanks for followers, favers, and reviewers.
Akhir kata. Terima kasih.
Sign
Rald
