*Oke, akhirnya saya update juga fanfic ini. Selamat menunaikan ibadah puasa ya buat reader-tachi, dan spesial buat reader-tachi yang ngepump, puasa jangan jadi alasan buat absen ngepump atau ngepump jangan dibikin alesan bocor puasa, ya... Buat reader yang nanyain apakah Pump itu sama dengan DDR, Pump itu beda tipis sama DDR. Injekannya ada lima, timingnya jauh lebih longgar, dan lagunya kebanyakan K-Pop (dengan sentuhan musik Amerika Latin, tepatnya), hehehe. Seperti biasa... Kuroko no Basuke itu punya Fujimaki Tadatoshi, Pump it Up itu punya Andamiro, Los Malaventurados no Lloran itu punya Pxndx, ceritanya punya saia tapi. RnR please, minna? :3*


Stage 2: Sang Pecinta Malang yang Tak Berurai Airmata

...aku ingin berjumpa dengannya, berbisik di telinganya,
...karena jika ia tiada, arti hidupku pun menghilang...

Puente Hills, medio 2014.

Sang pebasket berkulit hitam itu pun mempelajari dua hal pada malam itu: mengobati patah hati, dan menguasai game favorit sang kekasih (yang sudah jadi mendiang) itu memang butuh waktu.

Kedua konklusi sederhana itu didapatnya secara tidak sengaja.

Syahdan, Aomine - yang karena permainan nasib kini berada di Amerika, mengikuti kamp pelatihan NBA - tiba-tiba diserang kesepian dan kebosanan (yah, sebenarnya memang dari awal ia sudah bosan bermain basket, sih. Namun kita tak sedang membicarakan hal itu kali ini). Seluruh saluran televisi telah ia coba lihat, dan tidak ada yang menarik perhatiannya. Berinternet? Ia kan gagap teknologi. Bermain basket? Tidak, terima kasih. Diluar jatah latihannya (yang sering ia lewatkan itu - tapi toh ia tetap bisa melewati pertandingan demi pertandingan dengan mulus), bahkan melihat sekilas bola basket pun ia ogah. Ada sedikit trauma di balik kemalasannya itu.

Kemalasan yang sama ia rasakan juga saat ia masih berada di Jepang. Penyebabnya? Salahnya sendiri. Ah, sudahlah.

Kemudian di waktu yang berdekatan, seorang kawan setimnya menjadi penyelamat kebosanannya.

"Oi, kita akan ke Round1. Mau ikut?", teriak sang kawan. "Kalau tidak, kau jaga kamp, ya."

"Round1? Tempat macam apa itu?", tanya Aomine kemudian. Wajarlah jika ia tak tahu apa-apa soal tempat dan jalan di Amerika sini, ini kan memang bukan habitatnya, bukan tempat tinggal aslinya. Maka jangankan ditanya tempat hiburan, disuruh berbelanja ke supermarket terdekat pun ia kadang masih tersesat.

"Ah, aku lupa kau pendatang disini. Round1 itu semacam tempat hiburan...", lanjut si kawan setim, sambil menceritakan betapa kerennya tempat tersebut, sampai Aomine yang sudah bosan pun dibuat semakin bosan dan akhirnya memutuskan untuk ikut pergi.

"Ya sudah, aku ikut," ujar Aomine dingin. Setelah beberapa menit bersiap, mereka pun berangkat. Tak cuma berdua, ternyata, ada beberapa orang anggota tim lainnya yang ikut.

Setibanya di sana, sang penembak brilian itu kini mematung di hadapan sebuah gedung remang-remang, seakan ingin masuk, namun ragu-ragu. Ia pun tak lagi peduli dengan tatapan kasihan dan pemikiran macam-macam teman-teman setimnya yang pergi bersamanya itu.

"Cih, salahkan teman-temanku yang membawaku ke sini" begitu pikirnya. Cukup wajar mengapa ia tak ingin hadir ke tempat ini.

Gedung yang ia datangi adalah Round #1 Puente Hills, arcade terbesar di daerah California. Sedangkan bagi Aomine, mendengar kata "arcade" saja sudah membuat kuduknya sedikit berdiri, apalagi masuk ke dalamnya. Sedikit tak logis kan, mengapa pria tangguh semacam dirinya ketakutan masuk arcade?

Mari kita kembali pada kejadian sekitar setahun lalu, beberapa hari sebelum ia memutuskan bertolak ke Amerika, (berusaha) meninggalkan teman-temannya, tim basketnya, dan seluruh kenangan yang ia miliki di Jepang. (Yah, boleh dikata ia sudah sukses melupakan semuanya, kecuali yang "satu itu").

Ingatannya samar jika dipaksa mengingat kejadian itu, namun hal yang ia ingat adalah irama musik bernuansa metal dengan lirik berbahasa Spanyol (yang belakangan diketahui merupakan "isyarat"), dan bau amis serta lebam mayat si pirang tampan yang ia temukan membusuk di apartemennya. Si pirang bunuh diri, begitu konklusi polisi dan dokter yang memeriksanya. Ponselnya bersih dari catatan terakhir, pun jua tak ditemukan kertas mencurigakan apapun. Kunci satu-satunya adalah lagu yang diputar ulang terus-menerus di apartemennya itu.

Aomine mengenalinya.

Narcisista por Excelencia, lagu yang dimainkan Kise dua-tiga hari sebelumnya pada mesin Pump it Up di arcade, saat reuni rutin Kiseki no Sedai.

Ia pun kebingungan. Pertanda apa yang ia ingin sampaikan dengan lagu tersebut?

Apapun pesannya, ia pun menjadi trauma untuk sekedar menunjukkan batang hidungnya ke arcade sejak saat itu.

Kemudian, malam itu, layaknya luka yang terbuka kembali dan ditaburi garam, ingatan buruknya tentang arcade kembali menyeruak. Ia pun berpikir untuk pulang, namun sekali lagi ia diingatkan pada fakta menyedihkan bahwa ia buta arah. Jadi, mau tak mau ia pun mengikuti teman-temannya masuk ke gedung remang-remang itu. Mengibaskan kartu identitasnya untuk mendapatkan izin masuk, sejenak kemudian ia pun sudah berada di dalam.

"Sampai pukul 12 nanti, ya!", ujar si pengajak sejenak sebelum mereka berpencar.

"Cih. Tempatnya begini-begini saja, rupanya," teriak Aomine pada si kawan, yang sayangnya tidak mendengar karena sudah tenggelam pada permainan Street Fighter. Tiga orang temannya yang lain pun sudah menghilang entah kemana. Karena merasa ditinggalkan, Aomine pun kemudian berjalan-jalan mengitari arcade itu.

Sialnya, arcade itu memang berbentuk persis seperti arcade di Jepang sana. Mesin pengambil permen, mesin purikura, mesin permainan tinju, dan mesin-mesin bising memenuhi gedung dengan pencahayaan minimal itu. Tak lama berkeliling, ia pun menampar dirinya sendiri, berharap bahwa matanya tak memberinya ilusi visual dan otaknya tak sedang bermain-main dengan memorinya.

Ia melihat mesin yang sama seperti yang dimainkan oleh Kise di hari itu, mesin dengan suara musik keras, lampu berkelip, dan papan injakan lima arah. Bentuknya persis sama. Adegan yang persis sama pun tengah terjadi, seorang pemuda berparas blasteran Jepang dengan rambut hitam terlihat lincah memainkan mesin itu. Panah yang berhamburan di layar seirama dengan musik, lincah diinjaknya.

"Absolutely perfect!"

Sang pemain pun turun dari mesin, mengikat sepatunya, dan menghampiri raga Aomine yang tengah berdiri di sana (jiwanya sih nampak terjebak dalam paradoks nostalgia). Si pria berambut hitam itu pun kemudian menepuk bahu Aomine.

"Yo, lama tak berjumpa, Aomine."

Jiwa Aomine pun kembali pada raganya setelah disapa. Namun tetap saja, butuh beberapa saat baginya untuk mengenali si pemuda yang baru saja menyapanya ini.

"Himuro? Anggota tim Yosen, kan?", tanya Aomine. Pada awalnya, ia bingung mengapa Himuro bisa ada di tempat yang sama dengannya (bahkan hampir menanyakan hal itu padanya), namun setelah ingat bahwa habitat Himuro memang di Amerika, ia pun terdiam.

"Lebih tepatnya, mantan. Aku pulang ke Amerika selepas Winter Cup. Kau sendiri, mengapa bisa tiba di sini?", tanya Himuro, dengan nada layaknya menginterogasi sahabat lama yang terpisah sejak entah kapan lalu dipertemukan kembali secara tak sengaja.

"Oh," hanya itu jawaban Aomine. Sejujurnya, ia bingung bagaimana harus mengobrol dengan Himuro. Selain karena ia tak mengenalnya diluar lapangan, Aomine memang sejak awal irit kata - kecuali pada orang-orang yang ia kenal dekat. Namun karena ia merasa ini pertemuan langka, bolehlah ia mencoba mengobrol, begitu pikirnya. Sayang sekali, belum sempat ia menjawab pertanyaan Himuro, ia sudah dibungkam.

"Ngomong-ngomong, aku turut berduka cita. Pasti sangat berat buatmu, ya," ujar Himuro dengan senyum simpatik. Aomine yang merasa heran kemudian bertanya.

"Hah, maksudmu? Lalu apa urusanmu?", tanyanya dengan nada tersinggung. Ia heran, mengapa orang yang baru saja bertemu dengannya langsung mengucapkan ucapan belasungkawa?

"Kise Ryota. Kiseki no Sedai pasti kehilangan salah satu anggota terbaiknya," lanjut Himuro kemudian. Himuro menepuk pundak Aomine, seraya melanjutkan kata-katanya. "Kudengar sudah lebih dari setahun, ya. Aku baru mengetahuinya belakangan ini, dari Kagami".

Aomine tersedak. Himuro menghentikan tepukan bahunya, kemudian memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

"Ah, sudahlah. Mau coba main?," tanya Himuro kemudian, menunjuk pada mesin Pump it Up yang barusan dimainkannya. "Kulihat tadi kau menatap mesin itu melulu".

"Tidak, terima kasih. Mesin itu mengingatkanku pada Ryota, selain itu, bukannya memalukan memainkan yang seperti itu di tempat umum?," balas Aomine, tak menyadari ia membocorkan tentang hubungannya dengan Kise yang lebih dari sekedar mantan teman setim. Himuro pun mengerti, namun tetap saja ia sedikit manyun karena ajakannya ditolak. Namun tak lama kemudian ia menemukan cara yang hampir bisa dipastikan ampuh untuk menarik minat Aomine bermain.

"Hm, jadi seorang Aomine Daiki bisa menolak tantangan dari teman lamanya, ya. Menarik," ujar Himuro, dengan nada menantang, nada yang biasa ia gunakan saat berbicara di lapangan. Mendengar hal itu, Aomine pun segera panas.

"Heh, yang bisa mengalahkanku, hanya aku sendiri," ujar Aomine. "Jadi, masih mau menantangku?", lanjutnya dengan bangga, seakan melupakan fakta bahwa ia baru sekali bermain Pump it Up, itu pun dengan level sangat rendah dan kejadiannya telah berlalu lebih dari setahun. Ia pun seakan lupa kenangan buruknya dengan mesin itu. Semuanya hanya karena tantangan picisan Himuro.

Himuro pun mengangguk puas, lalu tanpa banyak omong langsung menggesekkan kartunya dua kali pada mesin itu, yang dibalas dengan teriakan si mesin.

"Hit me! Hit me!"

Setelah itu, ia memberi isyarat pada Aomine untuk naik pada pad. Aomine pun sedikit dibuat heran, karena Himuro tidak "pura-pura bermain" seperti Kise dulu. Ia pun melihat nama "HIMURO" di bagian bawah layar sisi yang dimainkan Himuro.

"Kau nampak pro, sampai-sampai namamu sudah terpampang di mesin," ujar Aomine setengah bercanda (yang mungkin terdengar mengintimidasi, bagi orang-orang yang belum terbiasa dengannya).

"Ah, aku bermain dengan USB. Lain kali deh, kujelaskan," ujar Himuro enteng. "Sekarang, pilih 'Battle', kemudian 'Score Battle'", lanjutnya, setelah melihat Aomine yang sedikit kebingungan setelah naik pad.

Aomine pun menurut. Ia pun menginjak dua kali pad kuning itu, memilih pilihan yang diinstruksikan Himuro. Maklum, ia gagap teknologi. Setelah ia menginjak pad itu, potongan alunan musik klasik dengan aransemen rock pun mengalun.

"Sepuluh dolar, ya," desis Himuro sembari mencari lagu yang ingin dimainkannya. "Ronde pertama, aku yang pilih. Ronde kedua, kau yang pilih. Jika ada ronde ketiga, kita suit untuk menentukan siapa yang memilih," lanjut Himuro. Aomine pun mengangguk. Aturan yang simpel untuk pertandingan persahabatan, pikirnya.

Himuro pun menjatuhkan pilihan pada sebuah lagu dengan nuansa metal dan lirik yang terdengar mirip dengan lirik requiem kematian Kise di telinga Aomine.

Los Malaventurados no Lloran, Single 16.

Aomine ingin menolak, tapi ia bisa apa? Ia kan sudah menyetujui aturannya. Sebelum bermain, Himuro terlihat mengatur beberapa pengaturan, dan Aomine pun menirunya (secara tidak sadar, ia memberi tribut pada kemampuan menyalin gerakan Kise, berharap itu bisa membuat permainannya mulus dan Kise merestui permainannya, terdengar bodoh memang).

Setelan telah dibuat. Keduanya memilih kecepatan 6.5 kali, dan modifier FD serta ball noteskin. Mereka pun memulai pertandingan itu tanpa banyak cakap lagi.

"Sé que esta en algún lugar mejor, dunde mu hay abuso..."

Sayangnya, baru beberapa detik Aomine bermain, ia menyadari bahwa dirinya kalah telak. Permainan ini memang tak sembarang permainan. Betapapun cepatnya kakinya bergerak, ia tetap tak bisa mencetak apapun diluar Bad dan Miss. Kontras dengan Himuro di sebelahnya, yang secara konstan mendapat Perfect dan Great tanpa kegagalan menginjak sekalipun.

Maka telah bisa ditebak hasil akhir dari ronde pertama ini. D lawan S. Aomine yang kelelahan dan tak tahu apapun soal lagu-lagu di mesin Pump it Up memilih lagu yang sama untuk kedua kalinya, dengan alibi "masih penasaran atas kekalahan yang barusan".

Lagu yang sama kembali dimainkan. Permainan Aomine pun sedikit membaik, Perfect demi Perfect ia dapatkan, namun tetap saja kebanyakan injakannya masih menghasilkan Miss. Setidaknya, hasil akhir C lawan SS tidak terlalu memalukan, batinnya.

Setelah ronde kedua berakhir, Aomine pun menarik nafas kelelahan, wajahnya pun nampak bingung karena ia tak terbiasa menangani kekalahan. Ia pun kemudian mengulurkan tangan pada dompetnya, mengambil selembar sepuluhan dolar, dan berniat memberikannya pada Himuro. Namun Himuro masih tak bergeming dari layar, melanjutkan permainannya.

Tak lama kemudian, Himuro pun menyelesaikan permainannya, menghampiri Aomine, dan menyalaminya. "Permainan yang bagus", bisik Himuro. "Kapan-kapan, mau main lagi?," tanyanya. Aomine yang masih kesal karena kekalahannya, memberikan 10 dolar janji taruhannya barusan dan mendesis.

"Cih, lain kali, aku yang menang."

Setelah permainan mereka berakhir, Himuro pun pamit pulang. Aomine kembali melanjutkan acara berkeliling arcade-nya, namun ia pun kemudian kembali ke tempat yang sama, mesin Pump it Up. Ya, nampaknya seperti berlatih basket, ia pun harus berlatih main mesin ini sendirian, begitu pikirnya.

Berbekal ingatan akan gerakan bodoh Kise sebelum bermain, ia pun dengan sukses membuka "Full Mode" untuk bermain lagu yang barusan ia mainkan bersama Himuro, dengan level yang juga sama. Hasilnya pun tak jauh berbeda dengan permainannya dengan Himuro barusan.

D. C. D. C. Ia pun heran sendiri mengapa orang semacam Kise atau Himuro bisa begitu cepatnya menggerakkan kaki, padahal mereka sama-sama pebasket. Masih penasaran, ia pun menggesekkan kredit keduanya di mesin itu. Masih dengan lagu yang sama, ia mencoba bermain. Tak disadarinya, teman-teman setimnya sudah berada di belakangnya.

"Aku tak menyangka kau bermain permainan macam begitu, Daiki," ujar salah satu kawannya. "Yuk, pulang"

Dengan berat hati Aomine pun mengakhiri permainannya untuk pulang bersama teman-teman setimnya. Inginnya sih ia tetap berada di Round#1 hingga tutup, berlatih memainkan mesin kesayangan mendiang kekasihnya itu, namun jika ia tetap di sana, bagaimana ia pulang ke kamp?

"Ngomong-ngomong, kau patah hati?," tanya Lucas, salah satu teman setim Aomine yang kebetulan mengerti bahasa Spanyol. "Lagu yang barusan kau mainkan itu adalah lagu penyesalan seorang kekasih yang ditinggal mati pasangannya, lho."

Lalu, Aomine pun tersedak untuk kesekian kalinya hari itu.


To Be Continued