Authors/notes : Persembahan dari tim panitia #AkaFuriDomestic untuk merayakan AkaFuri Day.

Disclaimer: Kuroko no Basket punya Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengambil keuntungan komersil atau materil apapun dari membuat fanfiksi ini.

Setting : AU/AR, tempat di negara sebuah negara di Amerika Serikat, California, Distrik Ojai.

Warning: MalexMale,fluffy, angsty, OC , OOC , established relationship, mention of mental disorder.


We proudly present our relay project Fanfiction

.

.

.

Hujan Halau Mentua

.

.

.


Kouki menyukai hujan. Akan rinai-rinai sang hujan yang menerpa segala yang tak terlindungi. Langit biru setelah awan kelabu kembali bersembunyi, tercemin pada kubangan-kubangan kecil di pinggir jalan. Menyisakan aroma perpaduan tanah serta pepohonan dengan air, terhirup dalam indra penciumannya.

Kouki menyenangi hujan, ketika genangan air jernih membentuk dalam lingkaran berkelok. Membawa gembira dalam hati dan ketika hujan mereda, memantulkan langit yang perlahan menampakkan cerahnya. Ia akan sengaja berdiri diam di pinggir genangan air, kadang sedikit berputar mencari posisi terbaik agar sang langit biru terpantul jelas pada cermin di akan melongok ke tengah kubangan. Dada berdebar oleh sensasi seakan terjun ke langit di bawah pandangannya—menegangkan sekaligus candu.

Dan ketika bayang dari helai-helai kemerahan ikut terpantul di samping bayangan dirinya, debar jantung ... semakin membuncah.


Telentang malas di atas karpet merah ruang tengah kediaman Akashi. Helaan napas terhembus, entah keberapa kali melarikan diri dari bibir Kouki. Lirikan mata tertambat pada jam dinding tak jauh darinya. Jarum jam menunjuk angka enam sore. Belahan jiwanya belum juga sampai ke rumah. Sibuk akan pekerjaan menumpuk.

Membolak-balik halaman buku yang ia tamatkan sedari satu jam sebelumnya, bibirnya maju satu sentimeter. Kening mengerut. Malas ia menggeser beban dari tempat rebahannya. Akhirnya tangan menggapai-gapai ke arah meja kecil di sampingnya. Sebelum menyerah, bangkit duduk. Buku diletakkan dengan aman ke atas sebelum jadi sasaran kedongkolan sesaat.

Layar televisi dibiarkan menampilkan hitamnya. Sengaja dimatikan, kebetulan tak ada acara menarik sore yang sedari tadi ia lahap pun hanya menyisakan remah pada wadahnya.

Akashi Kouki bosan.

Inginnya menelepon teman-temannya yang berada di belahan negara lain. Namun, perbedaan waktu yang cukup jauh menghalangi keinginannya, maksud tak mau mengganggu aktifitas mereka—yang mungkin sedang sibuk-sibuknya.

Ah, ada satu tempat yang mana ia penasaran akan isinya. Sudah ia incar dari pandangan pertama sehari lalu. Sentilan ingatan akan benda yang mengisi tempat itu, Kouki meraih ponselnya agak terburu. Hampir saja jatuh terpeleset dalam genggaman tangannya sendiri. Mengubah posisi menjadi telungkup. Dua kaki dinaikkan dan bergoyang. Kouki tersenyum sembari bersiul pelan sesekali. Mata cokelatnya melebar senang menelusuri gambar-gambar hasil pencarian di internet akan tempat yang ia tak sampai lima menit Kouki mengerang frustasi. Ia baru ingat satu hal. Seijuurou.

Hingga kini pun sang suami belum mengizinkannya berpergian sendiri tanpa pengawasan bertandang ke tempat idamannya, jarak yang lebih dekat pun sebisa mungkin dilarang pergi sendiri.

"Ugh, dasar Sei pelit! Memangnya aku calon pengantin apa pakai dipingit segala!" teriak Kouki sebal. Bangkit dan berjalan menuju jendela besar kediaman mereka. Pandangan beralih ke luar rumah, hari yang mulai senja terlihat meredup. Ditambah mendung mulai menyambangi langit oranye kelabu.

"Ah, mendung lagi. Apa nanti malam akan turun hujan ...?" Membuka aplikasi SMS pada ponselnya, mengetik cepat pesan tertuju kepada sang suami.

"Cepatlah pulang, Sei ..."

Mengalihkan sorotan sepasang kristal sewarna tanah, tertumbuk pada halaman dengan rumput terawat. Rintik hujan pertama kala senja itu, satu per satu menjatuhkan diri ke permukaan bumi. Kedua sudut bibir pemuda berambut cokelat pun terangkat.


Seijuurou bersin. Menarik perhatian pegawai yang berada di dekatnya.

"Apa Anda baik-baik saja, Pak?" Salah satu karyawannya bertanya. Akashi melambaikan tangannya tegas.

"Aku tidak apa-apa."

Tangan meraih saku jas abu-abunya, dikeluarkan sapu tangan yang terlipat rapi dari hidung sembari mengalihkan pandangan pada jam tangan pemberian Kouki tahun lalu, pun Seijurou menghela napas lelah. Pekerjaannya akhir-akhir ini memakan waktu banyak. Maklumi saja, perusahaan yang dipimpin Seijuurou adalah perusahaan baru. Diresmikan sebelum setahun pernikahannya dengan Kouki. Perusahaan dengan langkahnya yang masih terseok-seok. Tetapi bukan Seijuurou namanya bila melarikan diri dari tantangan ayahnya. Ya, ultimatum dari sang ayah. Pengganti kata setuju atas penolakan Akashi Masaomi saat berita Seijuurou meminang Kouki sampai di telinganya.

Kemenangan kali ini adalah mutlak.

Getaran pada saku jas mengaburkan ingatan sang ayah. Menggeser kunci layar, tersenyum lembut ketika mata mengenal nama pengirim pesan yang hadir dalam ponselnya.

From : Kouki 3

[Sei, cepatlah pulang. Jangan lama-lama di kantor. Aku sudah siapkan sup tahu kesukaanmu. Beri tahu aku bila kau sudah keluar kantor. Akan kuhangatkan supnya. Ah, aku terdengar seperti Izuki-senpai. Kau tahu? :P

P.S: sepertinya akan hujan, hati-hatilah ~ ]

Seijuurou terkekeh pelan. Menyentuh layar ponsel yang terpampang untuk membalas pesan suami tersayang. Sudah terbayang hangatnya makanan favorit di udara dingin ini, dan juga, paling utama dan dinanti, kehangatan senyuman Kouki yang tak pernah lupa menyambutnya di rumah mereka.

From : Seijuurou3

[Aku selesai sebentar lagi. Tunggu aku, My Love.

P.S.: Aku lebih senang berjalan sepayung berdua denganmu daripada naik mobil. Chu ]


Hujan deras membasahi wilayah Ojai. Sepasang insan duduk bersantai di loveseat. Berbagi kehangatan sembari menikmati tayangan televisi malam hari. Mungkin pengecualian bagi Kouki yang sesekali melirik pria berambut merah di sampingnya dari tadi.

Memainkan ujung bantal sofa, Kouki memulai dengan ragu, "Sei, anu ... begini ..."

Mengalihkan pandangan dari layar televisi, memusatkan perhatian pada suaminya, Seijuurou tersenyum mengisyaratkan Kouki melanjutkan kalimatnya.

"Boleh tidak besok aku pergi ke Bart's Books?"

"Tidak boleh," balas Seijuurou langsung.

"Sei!" protes Kouki, "Aku bosan kalau di rumah terus, apalagi kalau pekerjaan rumah sudah beres semua," mengerucutkan bibirnya—Seijuurou kadang berpikir, Kouki mungkin lupa usianya sekarang sudah bukan anak sekolahan lagi. Pun Seijuurou tidak merugi, keimutan pria di sebelahnya makin bertambah. Maka ia biarkan keantikan sang suami.

"Kalau kau ke sana aku harus ikut, Kouki," tegas Seijuurou.

"Tapi kau kan kerja dan sering pulang malam akhir-akhir ini. Tidak mungkin aku membawamu ketika kau sudah lelah begitu," Kouki beragumen.

Seijuurou tersenyum jahil, "Hmmm ... tapi selelah apapun aku, kalau Kouki me-recharge-ku, maka lelahku hilang semuanya. Bahkan aku bisa semangat sampai pa—" ucapan Seijuurou terputus oleh lemparan bantal sofa—yang dengan mudah dihindari Seijuurou—masih terkekeh geli dengan mata mengedip jenaka.

Melotot kesal ke arah suaminya, "Tidak ada jatah untukmu malam ini, Sei!"

Seijuurou membeku, "Kouki. Aku hanya bercanda. Yang tadi tidak serius, kan?" bergerak cepat bangkit dari duduknya, mengejar Kouki yang berjalan menghentak menuju kamar mereka.


"Kouki."

" ..."

"Kouki."

" ..."

"Kouki. Kouki. Kouki. Kou—"

"Aku dengar, Sei!" Kouki cemberut. Seijuurou tersenyum nakal.

"Masih kesal?"Seijuurou mendudukkan dirinya pada pinggir ranjang, meraih pundak Kouki menghadap padanya. Tangan turun menuju tangan yang lain. Jari jemari dieratkan satu sama lain. Sejuurou mengecup perlahan pipi Kouki, makna permintaan maaf. Pun puas akan bias merah menghiasi wajah Kouki.

Pandangan Kouki melunak. Curang sekali, ia tidak bisa marah lama-lama dengan suaminya ini.

Tak segera dijawab oleh penambat hatinya, Seijuurou merebahkan kepalanya pada pundak Kouki.

"Kau tahu alasanku tak membolehkanmu pergi sendirian," mengecup lembut leher Kouki.

Kouki mendesah nyaman, "tapi Sei, aku bosan terus menerus di rumah saja saat kau sedang bekerja dan toko buku itu sangat cantik. Bisa kau bayangkan buku-buku apa saja yang ada di sana. Aku ingin sekali mengeceknya," cerocos Kouki cepat membuat Seijuurou mengulum senyum.

"Besok," ujar pria berambut merah itu, "Besok aku akan menemani ke sana. Bagaimana kedengarannya?"

"Bukankah kau masih ada banyak pekerjaan?" Kouki bertanya cemas.

"Untuk suamiku tersayang, pekerjaanku tidak sebanding dengan setiap momen bersamamu. Aku akan mengambil cuti besok. Lagipula aku kan pemimpinnya," pandangan dua insan, dua warna bertumbuk pada pusatnya. Tawa renyah dua pria pun mengalun bagai lantunan musik malam.

"Um ... terima kasih, Suamiku," Kouki mempertemukan dua bibir mereka. Saling bertaut. Mencumbu. Memagut. Hingga tubuh yang sekarang setara menyandang nama Akashi, didorong, menempeli atas permukaan kasur lembut mereka.

"Sama-sama, My Love,"membelai sayang helaian rambut suaminya. Mendekatkan bibir ke telinga tambatan jiwanya.

"… dan Kouki. Aku kedinginan dan lelah. Tolong segera recharge diriku …."


Dingin pagi menusuk raga, hujan semalam masih menyisakan rintik-rintik halus. Kouki menguap, semakin merapat ke hangat di sebelahnya.

"Sudah pagi, Kouki," bisik suara yang tak kalah hangat dengan suhu tubuh yang dipancarkan dari orang yang sama.

"Sebentar lagi, Sei. Sebentar saja, Lagipuhooaem—la, ini salahmu," menarik selimut, mengeratkan tautan jemari di baliknya. Kouki terlelap sekali lagi.

Seijuurou terkekeh pelan, posisi badan diubah letak agar nyaman. Dikecup kening kekasihnya. Mengeratkan pelukan.

"Kurasa aku bisa menunggu."

Lagipula, hujan masih turun membasahi bumi.


Bab 2

.

Comfort

..

Suatu Hari, Berbagi Kehangatan dalam Dinginnya Hujan

...

Written by : Sinyhuu-tachi

To be continue


.

.

Thank you so much. Please read review our fanfiction. :')