-BAEKHYUN-
Aku memasang earphone ke telingaku, memutar playlist pada Iphone yang telah kuberi judul "Rock N Roll" dan menyelipkannya ke dalam bra-ku, pin kunci kondominiumku juga tersimpan di sana sehingga tidak akan jatuh melalui belahan dadaku dan aku menutup pintu di belakangku. Aku memakai celana yoga hitam, tank top merah muda dan hoodie merah muda untuk menangkal udara dingin Seoul di musim dingin. Aku sudah melakukan peregangan, dan saatnya untuk berlari untuk menjernihkan pikiran.
Saat aku berlari menuruni tangga, alih-alih menaiku Lift aku tidak bisa menghentikan pikiranku tentang Chanyeol. Aku tahu bahwa omongannya hanya sekedar omongan dan dia tidak akan muncul untuk lari pagi bersamaku seperti janjinya. Tapi dadaku mengejang kembali mengingat kejadian itu, Dengan siapa dia bercanda tadi malam? Aku? Dan atas nama Tuhan, apa alasan dia menciumku seperti itu?
Lebih baik jika aku melupakan semua tentang ciuman itu dan fokus untuk mencari pekerjaan.
Aku berlari melalui lobi gedung dan melambaikan tangan pada Jinki si penjaga pintu, berbelok ke kiri menuju trotoar dan berangkat, terdengar pelan suara berat Adam Levine di telingaku, memintaku untuk memberinya waktu satu malam lagi.
Tidak masalah, Adam.
Tiba-tiba, ada suatu gerakan di sebelah kanan yang mengejutkanku, jantungku naik ke tenggorokan dan aku menjerit lalu tersandung. Sebuah Tangan yang kuat memegang lengan atasku, menjagaku agar tetap tegak, dan aku menatap ke mata Cokelat yang penuh humor milik seseorang itu.
"Sedang apa kau disini?" Aku terbata-bata dan menarik earbuds dari telingaku.
"Sudah kubilang aku akan menemanimu pagi ini kan?"
"Kupikir kau tidak akan muncul." aku menanggapi dan kembali berlari, menyelipkan earbuds di bra-ku. Kulirik dia ikut memperhatikan apa yang aku lakukan dan aku Yakin mulut Kotornya akan berkomentar.
"Sistem penyimpanan yang menarik. Mengalahkan Kantong Doraemon." Benar bukan? Lelaki itu tersenyum, secara terang-terangan menatap payudaraku meski sedikit merasa dilecehkan aku tidak bisa menahan tawa dengannya.
"Aku tidak bisa membawa tas saat aku sedang berlari, Chanyeol." Aku mengangkat bahu dan melirik dia dari sudut mataku. Benarkah apa yang kulihat ini? Bagaimana bisa, ia terlihat begitu menarik pada jam tujuh pagi?
Dia terlihat jauh lebih tinggi dibanding tinggiku yang hanya 160 cm, setidaknya 30 senti lebih tinggi. Dia memakai celana pendek basket, sepatu kets dan t-shirt berlengan panjang warna hitam dengan bagian dalam memakai t-shirt merah berlengan pendek. Aku sedikit kecewa karena hanya tato di tangannya yang terlihat.
Aku ingin menelusuri tato itu, dengan jari-jari dan lidahku.
Cukup!
Kami berlari dalam diam selama sekitar empat blok dari Apartemenku lalu menuju Taman yang letaknya Lumayan.
"Apa kau ingin tahu seberapa jauh aku akan berlari?" Aku bertanya padanya, senang bahwa aku hampir tidak terengah-engah.
"Lakukan saja aku akan mengikutimu, Tidak apa-apa" jawabnya. Dia juga nyaris tak terengah-engah.
Sialan.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena aku akan berlari sejauh yang kau mau."
"Oke." Aku menyeringai sambil melangkah, tubuhku terasa hangat dan siap untuk pergi. Dia dengan mudah mengimbangi kecepatanku. Aku tidak akan mengakui kepadanya untuk saat ini, tapi rasanya memang menyenangkan memiliki seseorang di sampingku ketika sedang lari pagi. Tak ada yang pernah tertarik untuk berlari denganku sebelumnya. Itu membuatku merasa lebih aman, meskipun kami tidak bicara, hanya bernapas dan berlari beriringan.
"Kau bisa pasang earplug kembali jika itu yang kau inginkan." Dia tersenyum ke arahku.
"Baiklah jika kau memaksa." Sistem keras kepala dalam diriku mulai nampak di Tujuh pagi ini. Dia tersenyum cerah melalui mulutnya yang tersengal pernapasannya sendiri, namun Aku hanya melambai ke arahnya dan terus berlari. Aku sedikit suka mendengarkan cara dia bernapas.
"Apa yang kau dengarkan?"
"Lagu Maroon5." Aku tersenyum padanya. Ada apa dengan orang ini sehingga membuatku merasa begitu nyaman?
"Penggemar Maroon5?" Dia bertanya.
"Ya."
"Siapa band favoritmu?" Dia bertanya dengan senyum penasaran.
Tentu saja XXX. pekikku girang dalam hati.
Aku tidak akan mengatakan padanya. Sebaliknya aku mengangkat bahu lagi dan mencoba memikirkan band lain. Sialan, terasa sulit ketika dia begitu dekat, aku bisa mencium baunya.
Bau tubuhnya fantastis.
"Aku suka semua jenis musik. Tidak ada yang spesial."
"Aku juga." Aku mendengar senyum dalam suaranya. "Kau benar, berlari pada pagi hari adalah hal yang sangat bagus."
"Aku tahu. Itu menyenangkan, bahkan aku tidak peduli meskipun sedang hujan. Apa kau siap untuk Berlari yang lebih cepat lagi?"
"Tentu saja, bukankah aku hanya mengikutimu?"
Aku menambah kecepatan sekali lagi, dan kami sekarang berlari lebih cepat. Napasku mulai cepat dan sulit untuk bicara, dan aku bisa mendengar hal yang sama darinya, jadi kami terdiam dan hanya menikmati berlari, bunyi derap langkah secara konstan dari kaki kami yang menghentak trotoar terdengar sempurna. Aku tidak peduli gerimis ringan mulai turun, dan pipi bahkan ujung hidungku terasa dingin. Aku menyeka hidungku dengan hoodie dan terus berlari.
Sudah tiga mil, aku mulai melambat, merasa terbakar dibagian pahaku.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya, kekhawatiran terlihat di wajahnya.
Mengapa dia begitu baik?
"Aku baik-baik saja, itu karena kupikir mungkin kau akan merasa lelah, Jadi aku berhenti." Aku berbohong. Aku akan mati sebelum aku menceritakan bahwa pahaku terasa terbakar.
"Tapi aku baik-baik saja" ia mengerutkan kening. Sial pria ini.
"Oke." Aku mengangkat bahu seolah olah aku baik-baik saja dan mengambil langkah lagi. Paha dan betisku menjerit protes, tapi aku menjaga wajahku tetap polos dan tetap berkonsentrasi pada pernapasan dan suara kaki kami.
Jika dia bisa melakukannya, aku juga bisa. Aku akan berlari dua mil lagi. Aku tidak boleh kalah. Atau dia akan merendahkanku.
Akhirnya, aku bernapas sambil mendesah lega ketika aku mulai melambat. Kakiku terasa sedikit elastis. Aku terbiasa berlari setiap pagi, tapi aku belum terlatih untuk maraton dalam waktu yang lama.
Tubuhku memperlihatkan kurangnya latihan.
Chanyeol memperlambat kecepatan larinya kearahku, dan membawaku ke sebuah taman dengan meja-meja piknik. Ia menuntunku ke meja terdekat.
"Duduklah di atas meja." ia memerintah, dengan suaranya yang keras.
Aku mengikuti perintahnya dan mengerutkan kening kearahnya. "Kenapa?" tanyaku Naif.
"Lakukan saja... Kenapa kau melakukan itu?" Dia langsung menarik kaki kananku, jempol dan jari-jarinya mulai bekerja pada otot pahaku dan aku hampir tidak tahan untuk mengerang karena kesenangan.
Ya Tuhan dia memiliki tangan yang besar.
"Melakukan apa?"
"Kau jelas berlari lebih jauh dari biasanya. Kakimu gemetar."
"Aku baik-baik saja." Aku mengatur rahangku dan mencoba untuk menarik diri dari genggamannya, tapi dia mencondongkan tubuhnya dan menahan tangannya di pinggulku, wajahnya beberapa inci dariku dan sangat marah.
"Jangan pernah berbohong padaku, Sunshine. Aku tidak pernah menginginkanmu berlari sampai kakimu seperti ini lagi. Suatu hari kakimu hanya akan gemetar seperti ini jika Kau mengangkangiku." Ya Tuhan Mulut kotornya selalu membuatku bergairah. Dia tersenyum aneh.
Entah ada apa dengan wajahku yang jelas, mungkin Mulutku ternganga dan mataku melebar. Dia menatap Lurus ke arahku mebuatku berdebar dan kemudian melanjutkan pekerjaannya di kakiku, memanjakan dan memijatnya.
Kapan terakhir seseorang merawatku? Aku bahkan tidak ingat.
Jika kau mengangkangiku...
Oh, Sial.
Itu terdengar menggoda, itu tidak boleh terjadi.
Dia menggosok kakiku yang lain, dan aku mulai merasa lebih baik, aku menarik kakiku darinya dan berdiri.
"Terima kasih, aku baik-baik saja." Aku tidak bisa menatap matanya. Ini terlalu mudah untuk menyukai pria ini, menyerah pada sentuhan dan kebaikannya.
Dia akan segera menjadi keluargaku juga karena Luhan dan Minseok akan segera Menikah.
Kami masih bersama, kembali ke kondominium milikku. Kami berlari memotong arah, agar tak perlu berjalan jauh. Ketika kami melewati café favoritku, Chanyeol mencengkeram sikuku, menarikku untuk berhenti dan aku tidak dapat bergeming saat aku menarik diri.
Matanya terlihat memanas saat ia merengut ke arahku. Aku berdeham. Dia menatapku, sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu, tapi dia hanya mendesah.
"Ayo sarapan." Ia menunjuk ke kafe dan rasa kesalnya hilang. Aku tidak harus menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Tetapi memikirkan pulang ke rumah tidak ada pekerjaan dan benar-benar tidak ada yang bisa direncanakan untuk hari ini membuatku tidak bergairah.
"Oke."
Ia menuntun aku ke gerai dan kami duduk berseberangan satu sama lain.
"Kopi?" Pelayan bertanya sambil mendekati meja.
"Ya" Chanyeol menjawab singkat. Pelayan itu bergilir menatapku, meminta persetujuan pesanan yang sama dengan apa yang ia ucapkan tadi.
"Tidak, terima kasih." bisikku dan mengambil menu. "Jus jeruk saja."
"Apa kau baru saja mengatakan Tidak minum kopi?" Chanyeol bertanya setelah pelayan meninggalkan kami.
"Iya. Aku Tidak suka." Aku mengerutkan hidungku dengan kesal dan membaca menu, seolah-olah aku belum tahu apa yang kuinginkan. "Aku benci kopi."
"Kau menyadari bahwa kau tinggal di Kota Besar, kan?" Dia terkekeh dan menyesap kopi hitamnya. "Kupikir menikmati kopi adalah Wajib."
"Jangan bahas Minuman Hitam itu. Aku tidak pernah mencobanya. Aku menyukai kota ini tapi tidak dengan yang satu itu." Aku menutup menu dan duduk kembali di kursi dan tidak dapat menghindari lagi untuk memandangnya.
Tubuhku protes dua kali. Hal ini tidak pantas terlihat olehnya. Rambutnya basah, tapi Rambut cokelatnya Tetap mempesona, jadi dia terlihat baik-baik saja. Dia terlihat santai dengan pakaian olahraga, tangannya yang bertato memegang mug seperti Pria biasa lain, Seolah mudah untuk melupakan bahwa dia seorang selebriti.
Dia hanya seorang pria.
Pelayan datang membawa jusku dan mengambil pesanan kami lalu pergi.
"Jadi." Dia bersandar ke belakang dengan sikunya di bagian belakang stan, dia akan memulai berbicara. "Kenapa kau tidak bekerja hari ini?"
Aku bertanya. "Bagaimana kau tahu aku tidak bekerja?"
"Semalam kau bilang bahwa kau tidak bekerja lagi. Kenapa?" Matanya menyipit, dan dia menatapku dengan seksama.
Tidak ada kebohongan.
"Aku dipecat." jawabku dan menyesap jus, berusaha untuk menghilangkan rasa tidak nyaman pada kata terakhir.
Dipecat.
Alisnya naik ke garis rambut karena kaget. "Kenapa?"
Aku mengangkat bahu dan menatap ke bawah pada jusku. Aku tidak ingin mengatakan hal ini kepadanya.
Dia mencondongkan tubuhnya dan meraih tanganku ke dalam genggamannya dan secara refleks aku tersentak kaget ketika disentuh.
Apa yang salah denganku?
"Kenapa kau tersentak setiap kali aku menyentuhmu?" Tanyanya dengan suara rendah.
"Aku tidak tahu." Bisikku dan menunduk.
"Lihat aku." Suaranya tidak menyisakan ruang untuk argumen, jadi aku melihat ke mata Cokelat tajamnya yang sedang marah. "Katakan padaku."
Aku mengangkat bahu lagi dan menggelengkan kepala. "Aku akan mengatakannya, tapi hanya beberapa."
"Oke, lanjutkan." Dia terus memegang tanganku dan menggosok ibu jarinya di atas punggung tanganku.
Ya Tuhan, ini terasa nyaman.
Dia tersenyum menenangkan, tapi tidak melepaskan tanganku.
Di mana makanan kami Ya Tuhan?
Bukan karena aku lapar, tapi aku benar-benar ingin memiliki tanganku kembali. Dia menjalankan ibu jarinya di atas buku-buku jariku lagi, mengirimkan sensasi geli. Aku menarik tanganku dan menjauh dari meja, mengambil jus. Tanganku kedinginan bukan karena jus dingin tapi karena kehilangan kontak dengannya.
Dia tersenyum lembut, dan aku mendapati diriku kembali tersenyum.
"Kau cantik ketika kau tersenyum, Baekki."
"Baekki?" Alisku terangkat sedikit.
"Oh? Kris sering memanggilmu begitu kan?"
"Cukup Orang aneh itu saja. Jangan ikut-ikutan memanggilku begitu. Terlalu kekanakan."
"Tapi wajahmu memang terlihat seperti anak-anak."
"Apa maksudmu?"
"Oh! Maaf, maksudku Kau terlihat Awet Muda."
"Um, baiklah terima kasih."
"Jadi... Ceritakan tentang pekerjaanmu." Lag-lagi ia menuntut dan duduk kembali ketika makanan kami datang. Kenapa dia gigih sekali ingin tahu?
Aku bersedekap dan memundurkan punggungku beberapa lama, lalu kembali kedepan lagi. "Aku sudah menjadi seorang editor di Majalah Seoul Word selama delapan tahun." Ujarku sambil menaburkan lada pada telur dadar milikku sebelum menggigitnya.
"Lumayan lama."
"Ya, karena aku menyukai pekerjaan semacam itu. Aku pandai dalam hal itu."
"Jadi apa yang terjadi?"
"Sekitar setahun yang lalu, bosku memintaku untuk menulis kisah Kris. Dia pikir karena Kris adalah saudaraku, aku harus bisa mendapatkan berita eksklusif tentangnya, pasangan barunya, lalu menyebarkannya di majalah."
"Tapi kau bilang kau editor dan bukan reporter." Chanyeol menyela sambil mengerutkan kening.
"Eum tentu Tidak, tapi dia tetap memaksa ingin aku membuat pengecualian, karena dia tahu aku tidak akan membiarkan orang lain melakukannya juga." Aku meletakan garpu ke piring dan menyesap jus. "Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak akan melakukannya." Aku menggelengkan kepalaku saat aku teringat wajah marah dari bosku ketika aku mengatakan padanya bahwa aku tidak akan melakukan hal itu.
"Apa yang membuatmu berkata tidak?" Chanyeol bertanya.
"Kris adalah pribadi yang gigih dan tidak menaruh minat pada Gosip apapun. Aku tidak akan menempatkan berita tentang dia di majalahku. Selain itu ini penghinaan bagiku dengan memintaku menulis artikel tentang keluargaku, kupikir mungkin aku bisa menggantinya dengan berita yang lain tapi dia marah ketika aku mengatakan tidak." Aku cemberut dan kesal.
"Oke, lalu?" Dia bertanya sambil makan pancake-nya.
"Bagaimana bisa kau makan pancake dan tetap ramping?" Aku bertanya tanpa berpikir.
Dia tersenyum, tindikannya menangkap mataku. "Genetik."
"Bajingan Beruntung huh?" gumamku, terdengar dia tertawa geli dan aku hanya terdiam.
Ya Tuhan, dia menakjubkan ketika tertawa.
"Bagaimanapun juga meski dibentak, aku masih bisa bertahan. Tapi..." lanjutku, sadar diriku gemetar aku berhenti lagi. "Minggu lalu Bos ku menyerangku dengan kata-kata kotor karena aku tidak memberitahu dia sebelumnya bahwa aku juga mempunyai hubungan saudara dengan Luhan si Artis Brengsek itu."
"Bosmu lebih Brengsek." Chanyeol berbisik.
"Setuju..." Kami tertawa sebentar. "Kali ini Dia ingin aku menggunakan pengaruh hubunganku lagi, memberikan berita eksklusif untuk majalah, tapi aku menolaknya lagi." Aku menggelengkan kepala dan mendorong piringku, terlalu marah untuk makan. "Kau tahu Chanyeol, mereka adalah keluargaku Aku tidak akan pernah memanfaatkan mereka untuk memajukan karirku. Tidak akan."
"Aku paham. Lalu, Apa yang dia lakukan padamu setelah itu?" Dia bertanya pelan. Jari-jarinya mencengkeram erat cangkir kopinya dengan kemarahannya.
"Dia berteriak, menyebutku seorang banci –Pengecut-." Aku menyeringai ketika Chanyeol meraih tanganku lagi. "Saat itu mungkin dia tidak mengerti, jadi aku berkata 'Tidak, Youngmin, aku punya vagina. Aku mengerti kalau kau tidak tahu bedanya antara Banci dan bukan'..."
Chanyeol terbahak
"Bagus." Chanyeol lanjut terkekeh. "Aku yakin sekarang dia sudah tahu bedanya."
"Tidak, dia tidak akan pernah terpengaruh. Dia sungguh Dungu, Chanyeol." Chanyeol tertawa semakin Lebar. Aku tersenyum lalu menghela napas dan tanpa sadar menelusuri huruf pada jari Chanyeol. "Dia mengatakan bahwa aku bukan tim yang baik dan jika aku tidak bersedia memberikan hal lebih untuk Pemasukan uang majalah, maka aku tidak berhak berada di perusahaan itu lagi." Chanyeol berhenti tertawa dan rahangnya mengetat lagi.
Aku menggigit bibir, menelusuri tinta di tangannya. "Mungkin dia benar." bisikku. "Aku mencintai pekerjaan bodoh itu."
"Apa kata keluargamu?"
Tatapanku tersentak padanya dan perutku melilit menyakitkan. "Mereka tidak tahu. Tolong jangan katakan apa-apa."
"Kenapa?" Dia mengernyit.
"Karena, mereka tidak boleh khawatir tentangku, dan aku tidak ingin mereka merasa berkewajiban untuk membantuku. Aku baik-baik saja. Aku akan mencari jalan keluar. Aku memiliki tawaran pekerjaan di kota-kota lain, tapi aku tidak ingin pindah jauh dari keluargaku. Terdengar Bodoh, ya?"
Dia menaruh tangannya di atas tanganku dan mencengkeram erat. "Tidak bodoh, terdengar masuk akal karena Ini adalah rumahmu, kampung halamanmu. Aku pun merindukan tempat ini setelah bertahun-tahun."
"Kenapa kau pulang kesini? Maksudku, Bandmu bermarkas di Jeju kan?" Aku bertanya, menikmati dirinya seperti ini. Sialan, Dia begitu mudah diajak bicara. Mungkin terlalu mudah. Mungkin aku tidak harus begitu banyak bicara ketika dengannya, dan alasan lainnya adalah aku tidak bisa bicara dengan keluargaku tentang hal ini.
Mereka akan panik setengah mati.
"Aku merindukan Minseok. Dan Juga lelah setelah berada di jalan selama bertahun-tahun. Aku butuh istirahat."
"Berapa lama kau Tur?" Aku bertanya dan menyeruput jusku.
Dia tertawa penuh humor. "Kami sudah melakukan tur lebih dari lima tahun tanpa henti. Tiga tur terakhir berlangsung selama tiga tahun."
"Tiga tahun perjalanan?"
"Ya."
"Tidak heran kau lelah."
Dia mengangguk dan tersenyum, matanya tiba-tiba terlihat lelah. Sangat lelah. Tapi dia cepat-cepat menghabiskan sisa sarapannya dan mengajakku beranjak.
"Kau siap?" Dia bertanya.
Tidak yakin.
"Tentu." Dia menarikku keluar dari stan, membayar cek dan membimbingku berjalan ke trotoar dan menuju rumah.
"Bagaimana kakimu?" Dia bertanya dengan santai saat kita berjalan menyusuri trotoar yang sudah ramai. Kota ini bangun.
"Lebih baik, terima kasih."
"Tapi Aku bersungguh-sungguh, jangan lakukan hal itu lagi."
"Akan kuingat tapi Aku akan tetap melakukan apapun yang kuinginkan." balasku.
"Wanita keras kepala." gumamnya dan melotot ke arahku. Aku tidak bisa menahan tawa.
"Oh? aku belum pernah mendengar yang satu itu sebelumnya. Orang-orang biasanya memanggilku 'Hebat'." Aku mengedipkan mataku padanya.
"Sok pintar." Komentarnya.
Kami mendekati pintu depan kondominiumku.
Ini bisa terasa aneh.
Dia menarikku ke dalam pelukannya, lengannya membungkus dengan kuat di sekelilingku dan menarikku ke dalam dadanya dan mengayunku maju mundur untuk sesaat. Aku merasakan dia mencium kepalaku dan mengerutkan kening.
Apa sebenarnya ini?
"Sampai jumpa besok pagi." bisiknya dan menarik diri, mata Cokelatnya yang lembut dan senyum di bibirnya. Apa ini artinya dia akan sering-sering menemaniku lari pagi?
"Apa kau yakin tidak memiliki band favorit?" Tiba-tiba dia bertanya penuh harap sambil berjalan menuju mobilnya.
Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Yeah...RHCP cukup bagus." Jawabku Asal.
"Tapi ini Seoul, Bukan California Sweatheart."
"Siapa suruh kau menanyakannya."
"Oh. Kau membunuhku." Dia menyilangkan kedua tangan di depan dada seolah-olah tersakiti. Konyol.
Kami tertawa bersamaan.
"Pulanglah." kataku sambil tersenyum saat membuka pintu lobi dan melihat dia kembali saat ia masuk ke dalam mobilnya. Dia mengedipkan mata dan melambaikan tangan saat ia berlalu.
Aku dalam masalah besar.
.
.
.
TBC
