Sirim's POV

Park Jihoon. Dia adalah sahabatku. Aku sudah mengenalnya cukup lama. Kira-kiranya sekitar 3 tahun yang lalu dimana kami masih kelas 8. Yap, berarti sekarang kami kelas 11.

Kami berdua memiliki sifat yang berbanding terbalik. Tapi justru itu membuat persahabatan kami unik.

Aku dan Jihoon juga memiliki persamaan yang membuat kami menjadi lebih dekat. Dance dan rasa masa bodoh kami terhadap hubungan asmara. Memang, kami tidak seperti remaja yang pada umumnya mementingkan persoalan itu. Jika para gadis mengobrol tentang gebetan atau pacar mereka, maka aku akan memilih untuk menghindar. Kalau si Jihoon sih gak tau. Tapi, kalau ditanya ia selalu bilang kalau pacarnya adalah game.

Tapi, kurasa ia sudah mulai memiliki rasa peduli soal percintaan. Walaupun tak begitu kelihatan sih. Ya masa bodohlah. Itu artinya aku terhindar dari godaan teman sekelas yang mengatakan kalau kami adalah sepasang kekasih.

Mendengar godaan itu memang cukup membuatku geli. Aku dan Jihoon? Yang benar saja. Tipeku bukan seperti dia. Aku menyukai laki-laki seperti sunbae-ku yang sudah menjadi alumni, Jang Moonbok. Ehehehe. Aneh ya tipeku.

"WOY, KANTIN GAK?"

Secara refleks, aku memukul kepalanya sampai ia mengaduh kesakitan. Siapa suruh teriak di jendela dekat bangkuku? Padahal cukup ngomong pelan saja aku sudah mendengarnya.

"Duh, kau ini!" ia mengelus kepalanya yang kupukul.

"Aku masih punya indera pendengaran yang baik kalau kau tahu, wahai Tuan Jihoon," ujarku. Ia tipe yang susah untuk mengalah. Ia pun memukul kembali kepalaku.

"Pembalasan." Jihoon memeletkan lidahnya. Ya Tuhan. Kenapa aku bisa memiliki sahabat kurang ajar seperti dia, sih?

"Jadi, mau ikut ke kantin gak?" tawarnya lagi. Aku mengiyakannya dan segera menghampiri Jihoon yang berada di luar kelas.

Semenjak ada Jihoon, bisa dibilang waktu istirahatku tidak hanya tidur di dalam kelas. Tentu saja karena ia selalu datang menghampiri dan selalu melarangku untuk menyendiri di kelas. Karena dia juga, aku bisa belajar bersosialisasi dengan baik dan punya banyak teman. Itu kenapa, orangtuaku menyukainya. Bukan orangtuaku saja, tapi semua orang. Ia seperti mengeluarkan energi positif. Begitulah kiranya.

Sirim's POV End)

TBC