Previous Chapter: Baru saja Sungmin melihat siaran televisi yang menyiarkan berita tentang pembunuh yang menjadi buron. Tapi tiba-tiba saja orang itu muncul di kamar Sungmin.
-KYUHYUN POV-
Aku merasa sudah berlari puluhan kilometer dan bersembunyi dari banyak orang yang kutemui di jalan. Aku lelah, tapi aku tetap meneruskan pelarianku. Hingga aku berada di sini. Di sebuah perumahan elit dengan rumah-rumah yang besar dan mewah.
Aku bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Mengatur napasku yang nyaris habis. Aku melihat di sudut mataku, seorang ahjumma baru saja keluar dari sebuah rumah besar sambil membawa plastik besar berisi sesuatu. Ahjumma itu berjalan ke arah tempat sampah dan membuang platik yang dibawanya ke dalam tempat sampah itu. Saat ia berbalik, seorang ahjumma lain yang kebetulan lewat menyapanya dan mengajaknya mengobrol.
Aku berjalan menyelinap ke arah sebuah pintu gerbang hitam, di mana ahjumma yang membuang sampah itu tadi keluar. Aku masuk ke dalam rumah itu. Melewati halaman dan garasinya yang kosong serta luas.
Ceklek.
Pintu itu terbuka. Aku sempat berpikir apakah harus masuk atau tidak. Saat kulihat ahjumma itu sudah kembali dengan tangan kosongnya. Aku tidak punya pilihan lain dan masuk ke dalam melalui pintu itu.
Ternyata sebuah dapur. Aku memasuki dapur yang bersih itu. Kulihat ahjumma itu sedang mengunci pintu gerbangnya dan berjalan mengarah ke sini. Aku panik bukan main. Aku tidak ingin ahjumma itu melihatku lalu berteriak-teriak. Aku memperhatikan rumah bergaya minimalis-Eropa itu, aku keluar dari dapur dan memsuki ruang makan, lalu ruang keluarga. Saat kulihat ada lantai dua, aku memutuskan untuk menaikinya karena ahjumma itu sudah semakin mendekat.
Hanya ada dua pintu di lantai dua dan satu lorong pendek yang membawaku pada sebuah pintu bercat putih di ujungnya. Pintu itu lagi-lagi tidak terkunci, aku membukanya dan masuk ke dalamnya. Sebuah kamar bernuansa putih dan hijau. Kamar yang rapi dan bersih. Sepertinya kamar seorang yeoja.
Aku memperhatikan sekeliling isi kamar. Tidak terlalu ada banyak barang di kamar ini. Hanya ada tempat tidur yang cukup besar dengan dua meja di masing-masing sisi kanan dan kirinya, lemari pakaian, sofa panjang, dan meja belajar dengan tumpukan buku. Aku mendekati meja belajar itu. Kebanyakan buku pelajaran senior high-school. Ada juga di antaranya beberapa buku fiksi.
Aku melongokkan kepala sedikit ke arah luar jendela. Sebuah sedan berwarna hitam berhenti di depan pintu gerbang. Kulihat seorang ahjussi keluar dari pintu pengemudi. Membuka gerbang dan masuk lagi ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mobil masuk melewati gerbang, menuju garasi yang ada di sebelah halaman.
"Sampai kapan?" tanyaku pelan. Entah pada siapa karena aku pun tidak tahu apa jawabannya.
Aku mengalihkan pandanganku karena tidak ada lagi yang dapat kulihat selain halaman dan jalanan. Mengedarkan lagi pandanganku ke seluruh isi kamar. Aku tertarik pada sebuah foto yang dipajang di meja kecil dekat tempat tidur. Foto itu adalah foto satu-satunya yang ada di kamar ini.
Tiga orang yeoja dengan seragam junior high school. Mereka berkuncir enam, juga memakai name tag yang terbuat dari kardus bertuliskan nama hewan. Aku mengira foto itu pasti diambil saat masa ospek sekolah. Yang paling kiri adalah yeoja berambut pendek dan lebih tinggi dari dua yeoja lainnya, memakai name tag bertuliskan Kera Pesek. Yang di sebelah kanan adalah yeoja berambut ikal yang paling pendek dan bertubuh paling tambun, nama yang tertera di papannya adalah Gajah Sipit. Dan yang di tengah, yeoja yang hanya tersenyum kecil dibading dua yeoja lain yang tertawa. Yeoja itu memakai kacamata. Bebek Culun namanya. Salah satu dari mereka pasti pemilik kamar ini.
"Burooon!"
Aku panik mendengar suara seseorang yang berteriak dari lantai satu. Samar, tapi aku bisa mendengarnya. Setelah itu yang kudengar hanya suara tawa dan derap langkah yang kian mendekat ke kamar ini.
'Aku harus bersembunyi!' perintahku pada diriku sendiri. 'Tapi di mana?'
Aku melongok ke bawah tempat tidur. Terlalu mencolok kalau aku bersembunyi di sini, pasti akan cepat ketahuan. Aku melihat sebuah pintu di sudut ruangan ini. Sementara langkah itu terdengar semakin jelas. Aku tidak punya banyak waktu, aku langsung saja masuk ke dalam pintu itu.
Ternyata sebuah kamar mandi. Tubuhku menegang di balik pintu kamar mandi saat aku mendengar suara pintu di buka. Seseorang pasti sudah memasuki kamar. Kurasakan napasku berburu dengan debar jantungku sendiri.
Jantungku semakin berdebar kala pintu kamar mandi terbuka. Seorang yeoja berdiri memunggungiku. Tanpa aba-aba aku menarik kaos yang dipegangnya dan kugunakan untuk menyumpal mulutnya agar tidak berteriak. Aku juga menahan kedua tangannya dengan tanganku yang bebas.
Dia berusaha meronta, sedangkan aku menahannya lebih kuat agar dia tidak lepas dan kabur.
"Kalau kau berjanji tidak akan berteriak dan lari maka aku tidak akan menyakitimu," ujarku pelan.
Dia diam saja, tidak merespon.
"Berjanjilah," kataku meyakinkannya.
Dia menganggukkan kepalanya. Kukendurkan sedikit kedua tanganku karena dia sudah berjanji. Tapi dia malah menginjak kakiku. Aku sedikit meringis kesakitan.
Dia berusaha kabur dengan membuka pintu, segera saja kutahan pintu itu dengan kakiku. Kubalik dia dan kudorong pelan tubuhnya menyudut ke pintu. Kubekap mulutnya dan tangannya kembali kukunci.
Aku bisa melihat wajahnya yang ketakutan. Peluh yang membanjir di wajahnya. Dan matanya yang membesar saat mata kami beradu pandang.
Si Bebek Culun dalam foto.
Sungguh, aku sama sekali tidak berniat menakutinya apalagi menyakitinya.
-KYUHYUN POV END-
"Kau sudah berjanji tidak akan berteriak atau pun lari. Jangan coba-coba mengingkari janjimu. Percayalah, aku tidak akan menyakitimu," ujar Cho Kyuhyun. Nada bicaranya lebih terdengar seperti memohon daripada mengancam.
'Mana mungkin aku mempercayai pembunuh berdarah dingin sepertimu!' teriak Sungmin dalam hati.
"Apa kau tahu siapa aku?" tanya Kyuhyun.
'Tentu saja aku tahu. Kau si buron yang sedang dicari-cari itu kan!' Lagi-lagi Sungmin hanya bisa menjawab dalam hati.
"Kurasa kau sudah tahu siapa aku." Kyuhyun menjawab pertanyaannya sendiri karena Sungmin diam saja. "Tapi aku tidak seperti yang mereka bicarakan. Percayalah padaku," ujar Kyuhyun tetap berusaha meyakinkan Sungmin.
Sungmin berusaha untuk bicara meski tidak bisa. Kyuhyun menyadari bekapan tangannya pada mulut Sungmin yang sama sekali tidak berkurang.
"Kau ingin bicara sesuatu?" tanya Kyuhyun. Sungmin hanya menganggukkan kepalanya karena tidak bisa berbicara.
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan berteriak atau pun lari," Kyuhyun mengulangi lagi ucapannya.
Sungmin menatap Kyuhyun. Rambut Kyuhyun sedikit lebih panjang dari yang tadi dilihatnya di siaran berita televisi. Sungmin juga bisa melihat bahwa di sepanjang rahang Kyuhyun mulai tumbuh bulu-bulu halus.
'Mata itu. Ke mana perginya mata tajam pembunuh itu?' tanya Sungmin pada diri sendiri.
Mata Kyuhyun terlihat kuyu dan cekung dengan lingkaran hitam yang besar. Bagaimana tidak, Kyuhyun tidak tidur selama dua hari dalam masa pelariannya.
"Aku akan melepaskanmu kalau kau mau berjanji padaku."
Sungmin akhirnya mengangguk pelan. Kyuhyun terlihat sedikit ragu. Tapi akhirnya dilepaskan juga tangannya yang membekap mulut Sungmin. Meski tubuh Kyuhyun tetap mengunci tubuh Sungmin dan satu tangannya tetap menahan kedua tangan Sungmin.
"Bi... Biarkan aku buang air kecil. Aku ingin... Ingin sekali buang air kecil," ujar Sungmin terbata.
Kyuhyun tertawa kecil mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sungmin. Lesung pipit terlihat di kedua pipinya.
Sungmin mempoutkan bibirnya. Wajahnya memerah antara menahan malu dan... Tentu saja menahan rasa ingin buang air kecilnya.
Kyuhyun mundur satu langkah. Ia mengambilkan kaos hijau Sungmin yang terjatuh di lantai dan memberikannya pada Sungmin. "Aku akan menunggumu di luar. Aku percaya padamu dan kuharap kau juga percaya padaku."
Kyuhyun menggeser posisi tubuh Sungmin lalu ia sendiri keluar dan menutup pintu kamar mandi dari luar.
"Gila, ini gila!" Ujar Sungmin tertahan. "Aku pasti sedang bermimpi," Sungmin menampar-nampar pelan pipinya. "Aish," ringis Sungmin saat pipinya terasa nyata bertemu dengan telapak tangannya.
Setelah memastikan pintu kamar mandi terkunci dan memakai kaosnya serta mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkannya, Sungmin terlihat sedang mondar-mandir.
"Ada pembunuh di kamarku. Di dalam kamar mandiku. Dia seorang buron, lalu memintaku percaya padanya, dan..." Sungmin mengusap wajahnya. Antara takut, bingung, dan putus asa karena tidak tahu harus berbuat apa. "... dan dia menungguku di luar pintu ini. Di kamarku!"
"Eottokhe?" Sungmin menggigiti ujung kuku ibu jari kanannya.
Sudah hampir setengah jam Sungmin berada di dalam kamar mandi. Dahinya berkerut pertanda ia sedang berpikir keras. Sungmin masih saja mondar-mandir seperti sebuah setrikaan. Sesekali Sungmin menggigiti kukunya atau memelintir ujung kaosnya.
Setelah mendapat keputusan, Sungmin akhirnya memberanikan diri untuk membuka kunci pintu kamar mandi. Lalu dibukanya pelan pintu itu.
Dilihatnya Cho Kyuhyun yang sedang duduk di kursi belajarnya. Kyuhyun menggeser kursi beroda itu ke dekat tempat tidur Sungmin. Lalu menepuk-nepuk ranjang Sungmin sebagai isyarat permintaan agar Sungmin bersedia duduk di situ. Sungmin terlihat ragu, meski akhirnya ia melangkah juga dan duduk di ranjangnya.
"Sudah berulang kali kubilang, aku tidak akan menyakitimu. Jangan tegang seperti itu," ujar Kyuhyun yang melihat tubuh Sungmin sekaku boneka kayu.
"Langsung saja katakan, maumu apa?" tanya Sungmin sambil tetap waspada.
"Begini, Agasshi Bebek..."
"Bebek?!" Sungmin memotong ucapan Kyuhyun. "Kau memanggilku apa?"
Kyuhyun tidak menjawab, ia mengarahkan dagunya ke arah meja kecil di mana terdapat foto Sungmin dan kedua sahabatnya. Sungmin mengikuti ke mana dagu Kyuhyun mengarah.
"Omo!" Sungmin langsung mengambilnya dan menyembunyikan foto itu di balik bantalnya. Ada namja yang tidak dikenalnya melihat fotonya dengan kunciran aneh dan nama yang aneh pula. Bagaimana pun itu sungguh memalukan.
"Lupakan foto tadi. Panggil aku Lee Sungmin saja dan cepat katakan apa maumu," ujar Lee Sungmin berusaha untuk tetap tidak terlihat takut atau pun panik.
"Ne, Agasshi Lee Sungmin," Kyuhyun menuruti keinginan Lee Sungmin. "Aku Cho Kyuhyun imnida. Aku... Kurasa kau sudah tahu siapa aku, pasti media sudah..."
"Langsung saja katakan maumu. Jangan berbelit-belit," Sungmin mulai merasa tidak nyaman.
"Baiklah," Kyuhyun mengambil napas sebagai jeda. "Izinkan aku tinggal di sini," ujar Kyuhyun cepat. Ia turun dari kursi belajar Sungmin dan berlutut di hadapan Sungmin.
"MWO?!"
TBC
Terima kasih sudah bersedia membaca dan review. :)
